Anda di halaman 1dari 10

Resume Manajemen

Risiko BAB 4

Gita Prajna Paramita


201750003
Chapter 4 Manajemen Risiko Pasar Modal

Manajemen Risiko Industri Pasar Modal

Penerapan manajemen risiko yang efektif dan dapat mengelola risiko pada perusahaan sekuritas,
manajer investasi, emiten, Self-Regulation Organization (SRO) dan Bursa Efek akan membantu
tidak hanya stabilitas pasar modal tetapi juga stabilitas pada sistem keuangan Indonesia.
Manajemen risiko pasar modal memiliki empat fungsi penting:

i. Untuk melindungi perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia


terhadap risiko pasar, risiko kredit, risiko likuiditas, risiko operasional, dan risiko hukum.
ii. Untuk melindungi industry pasar modal Indonesia dan ekonomi nasional dari risiko
sistemik.
iii. Untuk melindungi nasabah perusahaan dari kerugian besar seperti gagal bayar
perusahaan, penyalahgunaan, penipuan, fraud, dan lainnya.
iv. Untuk melindungi perusahaan penunjang dan perusahaan terkait dengan pasar modal
terhadap risiko.

Ada beberapa risiko yang dihadapi dalam industri pasar modal diantaranya adalah :

1. Risiko Pasar
 Melekat pada setiap investasi di pasar modal yang merupakan risiko yang
ditanggung investor, dimana investasi dapat mengalami kerugian bagi investor
maupun perusahaan sekuritas yang diperkirakan akibat dari fluktuasi harga pasar.
Risiko pasar mencakup dampak perubahan harga saham dan tingkat suku bunga,
nilai tukar mata uang, harga komoditas, risiko dividen, dan lain-lain.
2. Risiko Kredit
 Kerugian akibat salah satu pihak dalam kontrak tidak dapat memenuhi
kewajibannya atau gagal bayar maupun risiko dimana debitur tidak dapat
melunasi hutangnya.
3. Risiko Likuiditas
 Risiko tidak dapat secara cepat menjual asset atau surat berharga sesuai dengan
harga yang diharapkan atau harga yang wajar sehingga mengalami kerugian.
4. Risiko Operasional
 Risiko dimana terdapat kegiatan operasional perusahaan yang tidak benar dari
perdagangan dan business process serta sistem manajemen yang mengakibatkan
kerugian keuangan. Termasuk dalam risiko ini adalah kecurangan (fraudulent),
kegagalan manajemen, perdagangan tidak sah, penipuan dalam perdagangan,
lemahnya atau tidak memadainya sistem pengendalian internal dan prosedur
operasional.
5. Risiko Sistemik
 Terdapat gangguan dalam sistem penyelesaian yang bisa menyebabkan terjadinya
efek domino di seluruh pasar keuangan sehingga membangkrutkan satu demi satu
lembaga keuangan atau terjadi krisis kepercayaan di kalangan investor sehingga
menciptakan kondisi panic selling di pasar keuangan.

Tipe Investor dalam melakukan investasi di pasar modal

1. Risk seeker
 Investor yang suka terhadap risiko dimana imbal hasil yang diharapkan (expected
return) tinggi sesuai dengan risiko yang akan ditanggung. Biasanya investor ini
bersifat agresif dan spekulatif dalam mengambil keputusan investasi.
2. Risk neutrality
 Investor ini netral terhadap risiko artinya imbal hasil investasi yang diharapkan
tidak terlalu tinggi ekuivalen dengan tingkat risiko yang diterima. Biasanya
investor ini bersifat moderat dalam mengambil keputusan investasi dan banyak
investasi di pendapatan tetap.
3. Risk averter
 Investor yang tidak berani menerima risiko sehingga imbal hasil yang diharapkan
juga rendah. Biasanya investor ini cenderung investasi di pasar uang seperti
deposito.
Penerapan Manajemen Risiko Pasar Modal

Tujuannya adalah untuk memaksimalkan dan mengamankan aset serta modal akibat kerugian
investasi dengan meminimalkan eksposur yang memiliki potensi risiko yang dapat secara
mendadak merugikan sumber daya perusahaan.Hal ini secara umum dapat mencakup manajemen
dan pengendalian strategi yang komprehensif terhadap risiko. Mencakup kebijakan dan prosedur
untuk mencapai strategi, pengukuran risiko, serta kepatuhan, pemantauan, dan pelaporan.

Regulator

Beberapa prinsip yang harus dipenuhi agar tidak menimbulkan kejadian risiko dalam proses
bisnis antara lain :

▰ Tanggung jawab yang jelas


▰ Independen dan Akuntabilitas
▰ Payung Hukum dan Sumber Daya
▰ Proses Pengaturan Jelas dan Konsisten
▰ Memantau Kinerja Pegawai

Pegawai dari regulator harus memperhatikan standar profesional dan memiliki kompetensi serta
memberikan panduan yang jelas tentang:

▰ Menghindari konflik kepentingan


▰ Menggunakan informasi yang diperoleh selama melaksanakan kekuasaan dan
pelaksanaan tugas secara baik dan benar
▰ Ketaatan terhadap kerahasiaan dan perlindungan data pribadi
▰ Taat prosedur dan Compliance

Self-Regulation Organization (SRO)

 Melengkapi regulator dalam mencapai tujuan dari regulasi pasar modal.


 Merespon lebih cepat dan fleksible terhadap perubahan kondisi pasar.
 Tindakan SRO dibatasi oleh kontrak dan aturan yang berlaku.
A. Ortorisasi dan pengawasan.
Regulator bekerjasama dengan SRO untuk memenuhi standar sebelum
menginzikan perusahaan untuk menjalankan kewenangannya.
Regulator memantau SRO untuk mengatasi potensi terjadinya konflik
kepentingan.

Untuk meminimalkan terjadinya risiko maka SRO:

 Memiliki kapasitas untuk melaksanakan tujuan yang mengatur dengan peraturan dan
aturan SRO.
 Memperlakukan semua anggota SRO secara adil dan konsisten.
 Mengembangkan aturan yang dirancang.
 Menyerahkan aturan kepada regulator untuk diperiksa.
 Bekerjasama dengan regulator dan SRO untuk menyelediki dan menegakan hukum
peraturan yang berlaku.
 Menjamin representasi yang adil dari anggota dalam pemilihan direksi dan
administrasi jurusan.
 Menghindari aturan yang menciptakan situasti yang tidak kompetitif.

Emiten

▰ Manajemen risiko Emiten

▻ Memastikan perlindungan investor dan pasar secara wajar.


▻ Mengungkapkan risiko dan informasi penting lainnya harus dipublikasikan secara
transparan.
▻ Profile dan bisnis perusahaan
▻ Tugas dan tanggung jawab direksi dan pejabat
▻ Regulasi terkait tawaran untuk pengambilahlian dan transaksi lain yang
mempengaruhi perubahan kendali.
▻ Hukum tentang penerbitan surat berharga dan kepailitan
▻ Keterbukaan informasi kepada pemegang saham dan pengukapan
kepimilikan saham.
▰ Pengukapan Informasi Secara Tepat waktu
▻ Investor harus mendapatkan informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan
investasi informasi secara terus menerus
▰ Informasi mengenai pengendalian usaha
▻ Menjaga perlakuan yang adil dan merata dari pemegang saham, regulasi harus
memerlukan pengukapan kepemilikan manajemen surat berharga dan orang-orang
yang memegang kepemilikan menguntungkan subtansial dalam sebuah
perusahaan.
▰ Standar akuntasi dan audit
▻ Meminimalkan risiko pada saat investasi efek.

Perantara Pedagang

Pada umumnya berhubungan dalam mendistribusikan surat berharga (efek) dan memberikan
informasi relevan dengan perdagangan efek

Risiko dari perantara pedagang:

o Ketidakmampuan perusahaan yang dapat menyebabkan kegagalan eksekusi karena


kegagalan penyelesaian.
o Pelanggaran kewajiban (penyalagunaan dana klien/manipulasi, penyimpanan
perdagangan, penipuan).
o Kebangkrutan perantara (hilangnya uang/surat berharga/peluang, serta kepercayaan
pasar).

Kriteria dalam peraturan perantara pedagang

 Perizinan dan pengawasan


 Kecukupan modal
 Pelaksana aturan bisnis dan persyaratan kehati-hatian
 Gagal bayar
 Pengawasan perantara pedagang

Perizinan dan pengawasan

• Proses perizinan harus disetujui otoritas perizinan.


• Otoritas perizinan harus memiliki kekuatan untuk menolak aplikasi yang tidak
memenuhi standar yang ditentukan. Otoritas perizinan juga harus memiliki kekuatan
untuk menarik atau menangguhkan lisensi atau meminta lisensi setiap kali kriteria
entri tidak terpenuhi. Perubahan kontrol atau bahan harus diketahui oleh pejabat yang
mendorong untuk menentukan apa yang harus dilakukan.
• Regulator harus meyakinkan untuk menarik lisensi atau otorisasi dimana hasil
pengawasan kepada para pedagang gagal untuk memenuhi persyaratan yang sesuai
peraturan. Hal ini mendukung perusahaan yang mendukung kepentingan atas
keberlangsungan perusahaan.
• Kebutuhan kecukupan modal harus menjadi keharusan dan menjadi subjek pelaporan
berkala kepada regulator atau SRO. Posisi keuangan perantara harus diaudit secara
teratur oleh auditor independen.
• Regulator harus memastikan bahwa masyarakat memiliki akses ke informasi yang
relevan mengenai lisensi perantara pedagang, seperti kategori lisensi yang dimiliki,
ruang lingkup kegiatan yang sah, identitas manajemen senior dan mereka yang
berwenang untuk bertindak atas nama perantara.

Kecukupan modal

• Memastikan bahwa perusahaan dapat mempertahankan sumber daya keuangan yang


memadai untuk memenuhi komitmen bisnis dan melakukan mitigasi risiko bisnis.
• Mengacu pada sifat dan jumlah usaha yang dilakukan oleh perusahaan.

Pelaksanaan aturan bisnis dan persyaratan sehati-hatian

Perantara pedagang harus memenuhi dan mematuhi ketentuan sebagai berikut:

 Integritas
 Persyaratan kontrak
 Informasi tentang pelanggan
 Informasi untuk pelanggan
 Aset pelanggan
 Perilaku pasar
 Kontrol operasional
 Konflik kepentingan

Gagal bayar

 Regulator harus berusaha untuk meminimalkan kerusakan dan kerugian investor yang
disebabkan oleh kegagalan bayar perantara pedagang secara fleksibel.
 Karena gagal bayar sifatnya tidak bisa ditebak dan mungkin memiliki konsekuensi
sistemik.

Pengawasan perantara pedagang

Pengawasan yang perlu dilakukan:

 Melakukan inspeksi – memeriksa buku, cat, dan operasi bisnis perantara pedagang,
dimana regulator setelahnya akan memastikan kepatuhan dengan semua persyaratan yang
relevan dan tanpa dugaan pelanggaran etik.
 Melakukan investigasi dan penegakan peraturan – dicatat dalam dokumen kasus yang
dicurigai atau pelanggaran.
 Disiplin dan pencabutan izin – dilakukan oleh SRO dengan pengawasan peraturan secara
adil dan cepat.
 Keluhan – harus ada mekanisme yng efisien dan efektif untuk penyelesaian pengaduan
investor
Glossary:
 Kaji Ulang: kegiatan yang dilakukan untuk menentukan keseuaian, kecukupan, dan
efektivitas untuk mencapai tujuan.
 Pelaporan Risiko: bentuk komunikasi untuk menginformasikan kepada para pemangku
kepentingan internal dan ekternal dengan memberikan informasi mengenai keadaan saat ini
risiko dan manajemen.
 Register Risiko: catatan informasi tentang risiko yang terlah di identifikasi.
 Retensi Risiko: risiko yang ditanggung sendiri untuk menerima manfaat potensi
keuntungan atau beban kerugian dari risiko tertentu.
 Risiko Residual: risiko yang tersisa setelah perlakuan risiko.
 Ketahanan: kemampuan kapasitas adaptasi dari sebuah perusahaan di lingkungan
kompleks dan berubah.
 Selera Risiko: perusahaan bersedia menanggung sejumlah jenis risiko.
 Toleransi Risiko: kesiapan stakeholder untuk menanggung batas risiko setelah dilakukan
perlakukan risiko.
 Penghindaran Risiko: sikap untuk menghindari risiko.
 Penerimaan Risiko: keputusan untuk mengambil risiko tertentu.
 Audit Manajemen Risiko: proses dokumentasi dan indenpenden serta sistematis untuk
memperoleh bukti dan mengvaluasinya secara objektif untuk menentukan sejauh mana
kerangka kerja manajemen risiko yang memadai dan efektif.
Contoh

Kasus Garuda Indonesia


Maskapai penerbangan Garuda Indonesia tak cukup kuat mengencangkan sabuk pengamannya
dalam menghadapi goncangan krisis, imbas dari kasus “menu makanan” yang mewabah dalam
beberapa terakhir. Sejak kasus yang melibatkan YouTuber Rius Vernandes itu bergulir, maskapai plat
merah ini mendapat sorotan publik. Garuda Indonesia dinilai gagal memberikan respons yang layak
dan tepat untuk mempertahankan reputasinya sebagai maskapai yang ramah dan bersahabat.

Masalah berawal dari unggahan Rius di akun Instagramnya, pada Sabtu (13/7). Unggahan tersebut
menyoroti menu makanan yang ditulis tangan dan dibagikan di kelas bisnis Garuda Indonesia. Tak
butuh waktu lama, unggahan itu langsung viral. Standar pelayanan maskapai bersangkutan pun
menjadi sorotan.

Garuda Indonesia buru-buru membuat pembelaan, mengatakan bahwa menu yang ditulis tangan itu
adalah catatan pribadi awak penerbangan, bukan untuk penumpang. Lebih lanjut, Rius bahkan
dituding memotret tanpa izin.

Bola krisis bergulir. Klarifikasi Garuda Indonesia dibuat dengan mengabaikan fakta yang terjadi di
lapangan. Berdasarkan bukti video yang kemudian diunggah kembali oleh Rius di akun YouTubenya,
menu tersebut kenyataannya memang dibagikan kepada beberapa penumpang kelas bisnis.

Alih-alih memperbaiki reputasinya, Garuda Indonesia justru kehilangan kepercayaan publik dengan
membuat klarifikasi yang bertentangan dengan fakta di lapangan. Dalam hal manajemen krisis,
memberikan respon yang transparan dan sungguh-sungguh jauh lebih efektif untuk memulihkan
keadaan. Mencoba menyembunyikan atau membela diri atas kekeliruan yang terjadi hanya akan
memperparah krisis.

Terlebih di era digital, manajemen krisis dihadapkan pada tantangan keterbukaan informasi. Sikap
perusahaan yang tertutup dan menyembunyikan masalah yang sebenarnya hanya akan memicu
sentimen negatif publik.

Merujuk pada The Situational Crisis Communication Theory (SCCT) oleh Timothy Coombs (2007),
kasus yang dihadapi Garuda sejatinya tergolong accident minimal crisis responsibility atau krisis
dengan tanggung jawab minimum yang terjadi karena insiden, biasa disebabkan human error.

Namun, ibarat bola salju, kasus ini bergulir semakin besar dan justru diakibatkan oleh kesalahan
penanganan krisis pihak maskapai sendiri. Alih-alih menerima permohonan maaf dari pihak
maskapai, sang YouTuber justru dilaporkan oleh anggota Serikat Karyawan Garuda Indonesia
(Sekarga) atas tuduhan pencemaran nama baik perusahaan. Di hari yang sama, Garuda Indonesia
juga mengeluarkan imbauan bagi penumpangnya untuk tidak mengambil foto dan video selama di
dalam pesawat.

Kritik pun kian membanjir. Langkah yang diambil Garuda Indonesia justru membalik citranya menjadi
maskapai yang anti kritik.

Di satu sisi, Garuda Indonesia terbilang lambat dalam menyadari kekeliruannya dalam menangani
krisis ini. Meski Sekarga akhirnya resmi berdamai dengan Rius dan mencabut laporan, kasus ini
terlanjur membesar dan menimbulkan kehebohan. Imbasnya, harga saham Garuda Indonesia pun
turun. Sebagaimana diberitakan media, harga saham Garuda Indonesia turun hingga 2,37% atau 10
poin pasca kasus ini.
Dalam masalah ini, kasus ini terjadi dikarenankan kelalaian dari pegawai maskapai pernebangan
Garuda Indonesia. Dikarenakan kepanikan yang diciptakan human error dan kesalahan penangan
dari maskapai sendiri, menyebabkan terjadinya risiko yang memiliki dampak yang besar yang
berpengaruh besar kepada reputasi maskapai tersebut.