Anda di halaman 1dari 14

TUGAS RANGKUMAN FARMAKOEKONOMI

Disusun Oleh :

Anisa Ashfahany 3351201176

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
2020
BAB I
PENDAHULUAN

UUD 1945 menjamin bahwa setiap penduduk Indonesia berhak mendapatkan


pelayanan kesehatan yang optimal sesuai dengan kebutuhan, tanpa memandang
kemampuan membayar. Sebagai anggota dari komunitas peradaban dunia, Indonesia
juga memiliki tanggung jawab untuk mencapai target Millennium Development
Goals (MDGs) 2000–2015.
Dengan pencapaian target MDGs, diharapkan terjadi peningkatan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Adanya peningkatan biaya pelayanan
kesehatan yang tidak dapat diimbangi dengan peningkatan anggaran membuat
pencapaian target MDGs bahkan upaya pembangunan kesehatan secara umum
menghadapi kendala. Guna mencapai hasil terbaik dengan biaya terendah ini perlu
digunakan kaidah farmakoekonomi sebagai alat bantu.
Istilah-istilah dalam kajian Farmakoekonomi:
1. Analisis biaya (AB—cost analysis, CA) adalah metode atau cara untuk menghitung
besarnya pengorbanan (biaya, cost) dalam unit moneter (rupiah), baik yang langsung
(direct cost) maupun tidak langsung (indirect cost), untuk mencapai tujuan.
2. Analisis (kajian) biaya sakit (ABS—cost of illness evaluation, COI) dimaksudkan
untuk memperkirakan biaya yang disebabkan oleh suatu penyakit pada sebuah
populasi.
3. Analisis efektivitas-biaya (AEB—cost-effectiveness analysis, CEA) adalah teknik
analisis ekonomi untuk membandingkan biaya dan hasil (outcomes) relatif dari dua
atau lebih intervensi kesehatan. Pada AEB, hasil diukur dalam unit non-moneter,
seperti jumlah kematian yang dapat dicegah atau penurunan mm Hg tekanan darah
diastolik.
4. Analisis manfaat-biaya (AMB—cost-benefit analysis, CBA) adalah teknik untuk
menghitung rasio antara biaya intervensi kesehatan dan manfaat (benefit) yang
diperoleh, dimana outcome (manfaat) diukur dengan unit moneter (rupiah).
5. Analisis minimalisasi-biaya (AMiB—cost-minimization analysis, CMA ) adalah
teknik analisis ekonomi untuk membandingkan dua pilihan (opsi, option) intervensi
atau lebih yang memberikan hasil (outcomes) kesehatan setara untuk
mengidentifikasi pilihan yang menawarkan biaya lebih rendah.
6. Analisis sensitivitas (sensitivity analysis) adalah teknik analisis yang digunakan
untuk mengukur ketidakpastian (uncertainty) dari berbagai data yang digunakan
maupun dihasilkan dalam kajian farmakoekonomi.
7. Analisis utilitas-biaya (AUB—cost-utility analysis, CUA) adalah teknik analisis
ekonomi untuk menilai “utilitas (daya guna)” atau kepuasan atas kualitas hidup yang
diperoleh dari suatu intervensi kesehatan. Kegunaan diukur dalam jumlah tahun
dalam keadaan sehat sempurna, bebas dari kecacatan, yang dapat dinikmati umumnya
diekspresikan dalam qualityadjusted life years (QALY), atau ‘jumlah tahun
berkualitas yang disesuaikan’.
8. Didominasi (dominated) adalah suatu obat (atau pelayanan kesehatan) yang
menawarkan efektivitas (effectiveness) lebih rendah dan biayanya lebih tinggi
sehingga secara signifikan memberikan efektivitas-biaya yang rendah.
9. Dominan (dominant) adalah obat (atau pelayanan kesehatan) yang menawarkan
efektivitas (effectiveness) lebih tinggi dengan biaya lebih rendah sehingga secara
signifikan memberikan efektivitas-biaya yang tinggi.
10. Efektivitas (effectiveness) mengacu pada kemampuan suatu intervensi kesehatan
dari praktek klinis rutin dalam mencapai perbaikan kesehatan. Suatu intervensi
kesehatan dikatakan efektif bila memberikan hasil yang diharapkan (expected
outcomes).
11. Efikasi (efficacy, kemanjuran) mengacu pada kemampuan suatu intervensi
kesehatan, umumnya obat, di bawah kondisi optimal dalam menghasilkan perubahan
yang menguntungkan atau efek terapetika yang diinginkan.
12. Efisien (efficient) mengacu pada kecilnya biaya yang harus dikeluarkan untuk
mendapatkan hasil yang diinginkan.
13. Formularium adalah daftar obat dalam nama generik berdasarkan kelas terapi.
Formularium disusun dengan memasukkan rentang obat yang mencukupi, yang
memungkinkan dokter, dokter gigi, dan, kalau diizinkan oleh peraturan
perundangundangan, praktisi lain untuk meresepkan obat yang sesuai dengan kondisi
penyakit.
14. Hasil (outcomes) pengobatan adalah hasil yang diperoleh dari suatu intervensi
kesehatan sebaliknya, tidak dilakukannya intervensi kesehatan yang secara langsung
mempengaruhi panjang usia (mortalitas) atau kualitas hidup seseorang, sekelompok
orang, atau sebuah populasi.
15. Intervensi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kesehatan (misalnya,
melalui pemberian obat atau perawatan kesehatan) dan perilaku kesehatan yang baik
seperti olahraga atau menghindari perilaku kesehatan yang buruk antara lain
merokok, menggunakan obat-obatan terlarang, mengkonsumsi alkohol secara
berlebihan.
16. Jumlah tahun kehidupan berkualitas yang disesuaikan (JTKDquality- adjusted life
years, QALY) adalah suatu hasil yang diharapkan dari suatu intervensi kesehatan
yang terkait erat dengan besaran kualitas hidup. QALY dapat dikatakan sebagai
jumlah tahun pertambahan usia dikalikan dengan kualitas hidup yang dapat dinikmati.
Atau dengan kata lain, pertambahan usia (dalam tahun) sebagai hasil intervensi
disesuaikan nilainya dengan kualitas hidup yang diperoleh.
17. Kemauan untuk membayar (Willingness to pay, WTP), adalah suatu teknik untuk
mengukur nilai manfaat kesehatan dengan secara langsung menunjukkan preferensi
individual yang diwakili oleh populasi sampel dari masyarakat umum yang diminta
menjawab pertanyaan berapa banyak mereka bersedia membayar untuk memperoleh
manfaat atau menghindari halhal tertentu.
18. Pengambilan kebijakan (decision-making) adalah proses pengambilan keputusan
yang selektif secara intelektual ketika dihadapkan pada beberapa alternatif kompleks
yang memiliki sejumlah variabel, dan biasanya menentukan arah tindakan atau ide.
19. Penilaian teknologi kesehatan (PTK—health technology assessment, HTA)
adalah metode kajian multidisipliner yang sistematik, transparan, tidak bias, dan
berdasarkan bukti ilmiah kuat guna memberikan masukan (input) tentang implikasi
medis, ekonomi, sosial, dan etis dari hal-hal yang terkait dengan pengembangan,
difusi, dan penerapan teknologi kesehatan biasanya obat, alat kesehatan, atau
prosedur klinis/ pembedahan. Bagi pembuat keputusan, PTK dimaksudkan untuk
memberikan informasi objektif yang dapat digunakan dalam formulasi kebijakan
kesehatan yang aman, efektif, terfokus pada pasien, dan memberikan nilai terbaik
(best value for money).
20. Penyesuaian nilai (discounting) adalah metode yang digunakan untuk
menyesuaikan biaya dan manfaat di masa depan dengan nilai saat ini.
21. Rasio inkremental efektivitas-biaya (RIEB—incremental costeffectiveness ratio,
ICER) adalah suatu ukuran biaya tambahan untuk setiap perubahan satu unit
efektivitas-biaya.
22. Tukaran (trade-off) adalah kondisi dimana perlunya dilakukan pemilihan antara
intervensi/strategi yang tersedia, karena masing – masing intervensi/strategi memiliki
biaya dan hasil pengobatan (outcome) yang sebanding.
23. Utilitas (daya guna – utility), adalah tingkat kepuasan yang diperoleh pasien
setelah mendapatkan suatu intervensi kesehatan, misalnya setelah mendapatkan
pengobatan kanker atau penyakit jantung. Unit utilitas yang digunakan biasanya
adalah QALY (Quality-adjusted life years), atau JTKD.
BAB II
TINJAUAN TEORI FARMAKOEKONOMI

2.1. Prespektif Penilaian


Perspektif penilaian merupakan hal penting dalam Kajian Farmakoekonomi,
karena perspektif yang dipilih menentukan komponen biaya yang harus disertakan.
Seperti yang telah disampaikan, penilaian dalam kajian ini dapat dilakukan dari tiga
perspektif yang berbeda, yaitu:
1. Perspektif masyarakat (societal).
Contoh: penghitungan biaya intervensi kesehatan, seperti program penurunan
konsumsi rokok, untuk memperkirakan potensi peningkatan produktivitas
ekonomi (PDB, produk domestik bruto) atau penghematan biaya pelayanan
kesehatan secara nasional dari intervensi kesehatan tersebut.
2. Perspektif kelembagaan (institutional).
Contoh: penghitungan efektivitas-biaya pengobatan untuk penyusunan
Formularium Rumah Sakit. Contoh lain, di tingkat pusat, penghitungan AEB
untuk penyusunan DOEN dan Formularium Nasional.
3. Perspektif individu (individual perspective).
Cntoh: penghitungan biaya perawatan kesehatan untuk mencapai kualitas hidup
tertentu sehingga pasien dapat menilai suatu intervensi kesehatan cukup bernilai
atau tidak dibanding kebutuhan lainnya (termasuk hiburan).
Di Indonesia sendiri kajian farmakoekonomi yang dilakukan oleh Pemerintah
Pusat (Kemenkes), Pemerintah Daerah (Dinas Kesehatan Provinsi/ Kabupaten/Kota)
dan asuransi kesehatan semesta (BPJS kesehatan), lebih banyak mengambil
perspektif penyedia pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan riil
masyarakat. Untuk seleksi obat dalam perencanaan, misalnya, titik tolak awalnya
adalah pola epidemiologis penyakit di daerah terkait.
2.2. Hasil Pengobatan
Kajian farmakoekonomi senantiasa mempertimbangkan dua sisi, yaitu biaya
(cost) dan hasil pengobatan (outcome). Dan biaya selalu dikaitkan dengan efektivitas,
utilitas atau manfaat dari pengobatan/ pelayanan yang diberikan.
Efektivitas merujuk pada kemampuan suatu obat dalam memberikan
peningkatan kesehatan (outcomes) kepada pasien. Semakin kecil jumlah biaya yang
harus dibayarkan untuk suatu hasil kesehatan yang diinginkan, semakin tinggi nilai
efektivitas-biaya suatu obat.
Utilitas merujuk pada tambahan usia (dalam tahun) yang dapat dinikmati
dalam keadaan sehat sempurna oleh pasien karena menggunakan suatu obat. Semakin
kecil jumlah rupiah yang harus dibayar untuk mendapatkan tambahan JTKD (kualitas
hidup yang lebih baik setiap tahun karena tambahan obat), semakin tinggi utilitas-
biaya suatu obat.
Sementara itu, manfaat (benefit) merujuk pada nilai kepuasan yang diperoleh
pasien dari penggunaan suatu obat. Semakin tinggi willingness to pay relatif (nilai
rupiah yang rela dibayarkan untuk mendapat kepuasan tersebut) terhadap harga riil
obat (cost), semakin layak obat tersebut dipilih.

2.3. Biaya
Dalam proses produksi atau pemberian pelayanan kesehatan, biaya dapat
dibedakan menjadi sebagai berikut:
1. Biaya rerata dan biaya marjinal
Biaya rerata adalah jumlah biaya per unit hasil yang diperoleh, sementara biaya
marjinal adalah perubahan biaya atas penambahan atau pengurangan unit hasil yang
diperoleh (Bootman et al., 2005).
2. Biaya tetap dan biaya variabel
Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah dengan perubahan
kuantitas atau volume produk atau layanan yang diberikan dalam jangka pendek
(umumnya dalam rentang waktu 1 tahun atau kurang), misalnya gaji karyawan dan
depresiasi aset. Sementara itu, biaya variabel berubah seiring perubahan hasil yang
diperoleh, seperti komisi penjualan dan biaya penjualan obat (Bootman et al., 2005).
3. Biaya tambahan (ancillary cost)
Biaya tambahan adalah biaya atas pemberian tambahan pelayanan pada suatu
prosedur medis, misalnya jasa laboratorium, skrining sinar-X, dan anestesi. (Berger et
al.,2003).
4. Biaya total
Biaya total adalah biaya keseluruhan yang harus dikeluarkan untuk memproduksi
serangkaian pelayanan kesehatan.
Secara umum, biaya yang terkait dengan perawatan kesehatan dapat
dibedakan sebagai berikut:
1. Biaya langsung
Biaya langsung adalah biaya yang terkait langsung dengan perawatan kesehatan.
2. Biaya tidak langsung
Biaya tidak langsung adalah sejumlah biaya yang terkait dengan hilangnya
produktivitas akibat menderita suatu penyakit, termasuk biaya transportasi, biaya
hilangnya produktivitas, biaya pendamping (anggota keluarga yang menemani
pasien) (Bootman et al., 2005).
3. Biaya nirwujud (intangible cost)
Biaya nirwujud adalah biaya-biaya yang sulit diukur dalam unit moneter, namun
sering kali terlihat dalam pengukuran kualitas hidup, misalnya rasa sakit dan rasa
cemas yang diderita pasien dan/atau keluarganya.
4. Biaya terhindarkan (averted cost, avoided cost)
Biaya terhindarkan adalah potensi pengeluaran yang dapat dihindarkan karena
penggunaan suatu intervensi kesehatan (Berger et al., 2003).
2.4. Metode Kajian Farmakoekonomi
Pada kajian farmakoekonomi dikenal empat metode analisis, yaitu:

1. Analisis minimalisasi biaya (AmiB) dengan karakteristik analisis: efek dua


intervensi sama (atau setara), valuasi/ biaya dalam rupiah.
2. Analisis efektivitas biaya (AEB) dengan karakteristik analisis: efek dari satu
intervensi lebih tinggi, hasil pengobatan diukur dalam unit alamiah/indikator
kesehatan, valuasi/biaya dalam rupiah.
3. Analisis utilitas-biaya (AUB) dengan karakteristik analisis: Efek dari satu
intervensi lebih tinggi, hasil pengobatan dalam quality-adjusted life years
(QALY), valuasi/biaya dalam rupiah.
4. Analisis manfaat-biaya (AMB) dengan karakteristik analisis: Efek dari satu
intervensi lebih tinggi, hasil pengobatan dinyatakan dalam rupiah, valuasi/biaya
dalam rupiah.
BAB III
PENERAPAN KAJIAN FARMAKOEKONOMI DI INDONESIA

Penerapan kajian farmakoekonomi di instansi pemerintah dalam kaitannya


dengan pelayanan kesehatan dapat dilakukan di tingkat Nasional (Kementerian
Kesehatan), Daerah (Dinas Kesehatan Provinsi/ Kab/Kota), dan fasilitas pelayanan
kesehatan (Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya).

1. Tingkat Nasional (Kementerian Kesehatan)


Kajian farmakoekonomi dapat digunakan dalam penyusunan Daftar Obat
Esensial Nasional (DOEN), Formularium Program Jamkesmas, Formularium
Nasional, obat program, asuransi kesehatan, dan lain-lain;
2. Tingkat Daerah (Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota)
Kajian farmakoekonomi dapat digunakan dalam pemilihan obat yang akan
digunakan di Puskesmas;
3. Tingkat Fasilitas Pelayanan (rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan
lainnya)
Di fasilitas pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, kajian farmakoekonomi
dapat digunakan dalam penyusunan Formularium Rumah Sakit dan pemilihan
obat dalam pengobatan. Formularium ini memegang peran penting dalam
pengobatan yang rasional.

3.1. Langkah-langkah Pelaksanaan Kajian Farmakoekonomi


3.1.1. Tahap Persiapan
3.1.2. Tahap Analisis
1. Identifikasi masalah dan menentukan tujuan
2. Identifikasi alternatif pemecahan masalah
3. Identifikasi besarnya efektivitas pilihan pengobatan
4. Identifikasi biaya
5. Melakukan analisis minimalisasi-biaya (AMiB)
6. Melakukan analisis efektivitas-biaya (AEB)
7. Interpretasi Hasil

BAB IV
INSTRUMEN KAJIAN FARMAKOEKONOMI

A. Validasi
1. Berbasis apakah struktur model yang digunakan untuk analisis? Apakah model
tersebut melakukan pembandingan yang sesuai?
Jawab: Analisis utilitas-biaya (AUB—cost-utility analysis, CUA). Ya.
1. - Apa strategi pengobatan yang dibandingkan dalam analisis? Apakah ada
strategi pengobatan penting lain yang tidak disertakan dalam analisis? Jika ada,
jelaskan!
Jawab: Tidak ada.
- Apakah kemungkinan hasil yang bisa terjadi karena pilihan intervensi
digambarkan? Jika “ya”, apakah merefleksikan semua hasil pengobatan yang
potensial (potential outcome) dari setiap intervensi tersebut?
Jawab: Tidak jelas.
- Perspektif apa yang digunakan ketika menghitung biaya? (pasien, asuransi,
pemerintah, masyarakat, atau lainnya).
Jawab: Prespektif Penilaian yang terdiri dari prespektif masyarakat (societal),
prespektif kelembagaan (institutional) dan prespektif individu (prespectiv
individual)
- Berapa lama preferensi waktu yang digunakan?
Jawab: Preferensi waktu yang digunakan adalah dalam rentang waktu beberapa
tahun.
2. Apakah kemungkinan hasil pengobatan (probabilitas) diukur secara tepat?
Peneliti perlu melakukan estimasi secara akurat kemungkinan (likelihood) setiap
kemungkinan hasil pengobatan pada pilihan pengobatan. Kemungkinan
(probabilitas) hasil pengobatan sedapat mungkin harus didasarkan pada bukti
ilmiah. Hal berikut yang perlu dipertimbangkan:
• Lihat kualitas data yang digunakan oleh peneliti untuk menghitung perkiraan
efektivitas.
Jawab: Ya.
Apa tipe data yang digunakan untuk menetapkan efektivitas setiap pilihan
pengobatan (RCT, systematic review, atau lainnya)?
Data dari hasil pengobatan diukur dalam unit alamiah/indikator kesehatan,
valuasi/biaya dalam rupiah.
Apakah data terlihat sesuai?
Jawab: Ya.
3. Apakah komponen biaya diukur secara tepat? Peneliti perlu melakukan estimasi
secara akurat biaya yang digunakan pada setiap pilihan pengobatan, melalui
perkiraan biaya dari setiap hasil pengobatan yang mungkin terjadi. Tipe data apa
yang digunakan untuk menetapkan biaya yang akan dianalisis?
Jawab: Data dari perhitungan penyesuaian nilai.
- Apakah data tersebut sesuai?
Ya.
4. Apakah dilakukan analisis tambahan untuk mengantisipasi ketidakpastian dalam
analisis?
Hal-hal berikut yang perlu dipertimbangkan:
• Apakah dilakukan analisis sensitivitas? Analisis sensitivitas merupakan metode
utama untuk mengatasi ketidakpastian dalam analisis. Pada analisis ini, peneliti
akan mengulangi data analisis setelah mengubah nilai beberapa variabel untuk
melihat dampak jika variabel tersebut diubah terhadap hasil secara keseluruhan.
Hal ini dilakukan terutama untuk variabel yang estimasinya dilakukan
berdasarkan data dengan kualitas buruk, atau variabel yang kemungkinan
berbeda disetiap setting atau dipengaruhi oleh dampak internesi yang lain. Lihat
analisis sensitivitas berdasarkan prevalensi penyakit dan perbedaan estimasi
efikasi dari setiap pilihan obat.
Jawab: Ya.
- Apakah analisis sensitivitas melibatkan semua kemungkinan ketidakpastian
yang terjadi?
Jawab: Ya.

B. HASIL
1. Bagaimana menghitung biaya inkremental dan hasil pengobatan inkremental dari
setiap pilihan pengobatan?
Ini adalah hasil utama. Lihat keseluruhan hasil dan bagaimana hal tersebut
ditampilkan. Lihat apakah model yang digunakan tepat dalam analisis
sensitivitas. Hal ini menunjukkan bahwa variasi dari variabel yang utama tidak
secara esensial mengubah hasil secara keseluruhan.
Apakah hasil secara keseluruhan (estimasi biaya) berubah secara esensial setelah
dilakukan analisis sentivitas?
Jawab: Tidak jelas.

C. PENERAPAN (APPLICABILITY)
1. Apakah manfaat dari pengobatan lebih besar dibandingkan risiko
dan biaya yang dikeluarkan?
Hal-hal berikut yang perlu dipertimbangkan:
• Berapa besar manfaat atau risiko yang ditimbulkan?
• Apakah biaya yang diestimasi sesuai dengan biaya pada situasi
dan kondisi lokal
Jawab: Ya.
2. Apakah hasil bisa diterapkan pada pasien saya?
Hal-hal berikut yang perlu dipertimbangkan:
• Kondisi dan karakteristik pasien.
• Bagaimana penanganan penyakit tersebut?
• Tarif/biaya
• Utilitas (utility), apakah merefleksikan nilai dari populasi yang
akan diterapkan?
• Bagaimana pasien menggunakan sumber daya kesehatan?
• Kemudahan akses terhadap sumber daya?
Jawab: Ya.
Akankah analisis ini mengubah cara menangani pasien saya?
Mengapa/mengapa tidak? Jelaskan.
Jawab: Tidak.