MAKALAH
“PERANG DIPONEGORO”
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Islam Masa
Kolonial
Dosen Pengampu: Ibu Zuhrotul Latifah, S.Ag., M.Hum.
Disusun Oleh:
1. Titania 19101020117
2. Ahmad Faryansyah 19101020118
3. Ibnu Galih Madini 19101020119
4. Hasif bin Khalid 19101020121
PROGRAM STUDI SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2020
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah swt. yang telah memberukan rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
“Perang Diponegoro” ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
Ibu Zuhrotul Latifah, S.Ag., M.Hum pada mata kuliah Sejarah Dunia. Selain itu,
makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang “Perang
Diponegoro” bagi para pembaca dan juga penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Zuhrotul Latifah, S.Ag.,
M.Hum selaku dosen mata kuliah Sejarah Islam Indonesia Masa Kolonial yang
telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan
kepada kami.
Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi kebaikan makalah
kami.
Yogyakarta, 03 November 2020
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1
A. Latar Belakang.......................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan....................................................................................................2
BAB II PERANG DIPONEGORO.................................................................................3
A. Latar Belakang Perang Diponegoro........................................................................4
B. Jalannya Perang Diponegoro..................................................................................5
C. Akhir Perang Diponegoro.......................................................................................8
D. Akibat-Akibat Perang Diponegoro.........................................................................9
BAB III PENUTUP........................................................................................................11
A. Kesimpulan..........................................................................................................11
Lampiran........................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................14
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setelah kekalahannya dalam peperangan era Nepoleon di Eropa,
pemerintah Belanda yang berada dalam kesukitan ekonomi berusaha menutup
kekosongan kas mereka dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah
jajahannya, termasuk di Hindia Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan
monopoli usaha dan perdagangan untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-
pajak dan praktek monopoli tersebut amat mencekik rakyat Indonesia yang
ketika itu sudah sangat menderita.
Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda
mulai berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di
antaranya adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV
wafat, kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3
tahun, diangkat menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya,
pemerintahan kerajaan dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang
mudah dipengaruhi dan tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap
mengangkat seseorang yang tidak sesuai dengan pilihan atau adat keraton.
Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah belanda yang awalnya
memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat
Muntilan, mengubah rencananya dan membelokkan jalan itu melewati
Tegalrejo. Rupanya di salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari
leluhur Pangeran Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro
tersinggung dan memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Ia
kemudian memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok tersebut
bahkan yang sudah jatuh sekalipun. Karena kesal, Pengeran Diponegoro
mengganti patok-patok tersebut dengan tombak.
Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro
karena dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman
1
beliau. Terdesak, pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan
diri menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan
meneruskan ke arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima
kilometer arah barat dari Kota Bantu. Sementara itu, Belanda yang tidak
berhasil menangkap pangeran Diponegoro membakar habis kediaman
pangeran.
Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah Goa
yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai
basisnya. Pangeran menempati Goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung,
yang juga menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu
Ratnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya
wafat) dan mengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur. Setelah
penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung 5
tahun lamanya. Rakyat Pribumi bersatu dalam semangat “sadumuk bathuk,
sanyari bumi ditohi takan pati” sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai
mati. selama perang, sebanyak 15 sari 19 pangeran bergabung dengan
Diponegoro. Perjuangan Diponegoro di bantu Kyai Maja yang juga menjadi
pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam Perang Jawa ini Pangeran
Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden
Temenggung Prawirodigdoyo bupati Gagasan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa latar belakang terjadinya Perang Diponegoro?
2. Bagaimana jalannya Perang Diponegoro?
3. Bagaimana akhir Perang Diponegoro?
4. Apa akibat dari Perang Diponegoro?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui latar belakang terjadinya Perang Diponegoro.
2. Mengetahui jalannya Perang Diponegoro,
3. Mengetahui akhir Perang Diponegoro.
4. Mengetahui akibat dari Perang Diponegoro.
2
BAB II
PERANG DIPONEGORO
Pangeran Diponegoro adalah anak dari Sri Sultan Hamengkubuwono III,
yang mana beliau adalah raja ketiga di Kesultanan Yogyakarta. Pahlawan yag
kelak memimpin Perang Diponegoro atau Perang Jawa ini lahir pada tanggal 11
November 1785 di Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Mustahar. Ibundanya
adalah seorang selir yang bernama R.A. Mangkarawati, yang berasal dari Pacitan.
Selain dipanggil dengan Mustahar. Semasa kecilnya, Pangeran Diponegoro juga
dipanggil dengan nama Bendoro Raden Mas Ontowiryo.1
Menyadari kedudukannya yang hanya anak dari seorang selir bukan
seorang permaisuri raja, maka Pangeran Diponegoro menolak keinginan ayahnya
untuk menjadikan dirinya sebagai penerusnya. Karena biasanya, dilingkungan
kebangsawanan, yang pantas menjadi penerus raja adalah anak yang berasal dari
permaisuri. Selama hidupnya Pangeran Diponegoro pernah menikah dengan 9
orang wanita, yakni R.A. Retno Madubrangta, R.A. Supadmi, R.A. Retnadewati,
R.Ay. Citrawati, R.A. Maduretno, R.Ay. Ratnaningsih, R.A. Retnakumala, R.Ay.
Ratnaningrum, dan Syarifah Fatimah Wajo.
Masa kanak-kanak dan remaja Pangeran Diponegoro, banyak dihabiskan
di luar istana, yaitu di desa Tegalrejo. Dibawah asuhan Ratu Ageng, istri dari Sri
Sultan Hamengkubuwono I yang dikenal agamis, sehingga Pangeran Diponegoro
mendapatkan pendidikan yang sangat baik. Hal ini juga yang menyebabkan
Pangeran Diponegoro mudah bergaul dengan siapapun dan berbagai kalangan
apapun. Tetapi ia sering bergaul dengan para santri dan ulama.
Watak inilah yang membuat Pangeran Diponegoro dianggap sebagai tokoh
bangsawan yang memiliki kerendahan hati kepada seluruh rakyatnya. Hal inilah
yang membuat berbagai kalangan merasa tak sungkan untuk bergaul dengan
putera raja yang baik ini dan ia juga dikenal sebagai sosok yang dermawan.
https://sejarahlengkap.com/tokoh/biografi-pangeran-diponegoro, diakses tanggal 01
1
November 2020
3
Hal serupa Peter Carey dalam bukunya yang berjudul “Asal-usul Perang
Jawa: Pemberontakan Sepoy dan Lukisan Raden Saleh” Carey menjelaskan
bahwa kebiasaan Pangeran Diponegoro berbeda dengan bangsawan muda di
Keraton Yogyakarta, Pangeran Diponegoro jarang sekali muncul di istana. Ia
hanya hadir ke istana pada saat acara grebeg atau upacara perayaan Islam yang
sering dilakukan Kerajaan Mataram dari tahun ke tahun.2
A. Latar Belakang Perang Diponegoro
Periode kemunduran Keraton Yogyakarta di bawah pemerintahan
Hamengkubuwono II membawa dampak yang sangat besar bagi perubahan
budaya dan politik pemerintahan di Jawa. Setelah meninggalnya
Hamengkubuwono I, Keraton Yogyakarta mengalami banyak pertikaian
terutama akibat campur tangan Belanda dalam urusan kerajaan. Misalnya,
Hamengkubuwono II banyak mengganti pejabat lama dengan pejabat yang
disenangi saja. Patih Danuredja I (1755-1799) digantikan dengan Danuredja II
(1799-1811) dan membawa pertikaian dengan Pangeran Natakusuma (1760-
1829) yang mempunyai pengaruh besar di keraton.3
Belanda juga melalui Gubernur Jenderal H. W. Daendels memaksa
Hamengkubuwono II untuk turun tahta dan digantikan putranya pada awal
Januari 1811. Pangeran Adipati Anom, yang kelak bergelar Sri Sultan
Hamengkubuwono III atau Sultan Raja. Namun, pada masa pendudukan
Inggris di bawah Gubernur Jenderal Raffles, Hamengkubuwono II kembali ke
tahtanya, walaupun kelak ia akan diasingkan.
Campur tangan inilah, yang membuat salah satu putra Sri Sultan
Hamengkubuwono III, Raden Mas Ontowiryo atau yang lebih dikenal dengan
Pangeran Diponegoro keluar dari keraton dan mengangkat senjata.
Dikarenakan Belanda yang terlalu ikut campur dalam masalah intern keraton
yang menurutnya berlawanan dengan hukum adat dan agama. Belum lagi
dengan adanya beberapa orang bangsawan istana dan perjabat Belanda yang
2
https://www.harapanrakyat.com/2020/08/biografi-pangeran-diponegoro/, diakses
tanggal 02 November 2020
3
Peter Carey. The Origin of Java War. a.b. Asal Usul Perang Jawa. (Jakarta: Pustaka
Aztec. 1986). Hal. 35.
4
bersikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Ketidakpuasan ini membawa
Pangeran Diponegoro keluar dari keraton dan tinggal di Tegalrejo. Sementara
di dalam keraton, dibentuk sebuah dewan perwalian raja, dikarenakan Sultan
Jarot atau Hamengkubuwono IV masih belum cukup baligh untuk
memerintah.
Dalam buku Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro, Peter Carey
menjelasakan bahwa Perang Diponegoro atau Perang Jawa dengan menyebut
penyebabnya yang agak berbeda dalam versi yang selama ini diceritakan. Di
dalam banyak tulisan, Perang Diponegoro atau Perang Jawa disebabkan oleh
marahnya Pangeran Diponegoro karena tanahnya di Tegalrejo dipasang patok
untuk dibangun jalan. Padahal menurutnya tidak hanya itu saja penyebabnya.
Dalam penelusurannya, Peter Carey menemukan beberapa penyebab lain,
antara lain:
1. Pihak keraton mulai meninggalkan kebudayaan Jawanyam
Hamengkubuwono IV begitu suka mengenakan pakaian ala militer Eropa
dibandingkan dengan baju kebesaran kesultanan. Moral para penghuni
keraton juga semakin turun seiring seringnya bergaul dengan orang-orang
Belanda.
2. Keraton yang tidak peduli dengan kesengsaraan rakyat. Akses rakyat
terhadap bisnis pohon jati juga mati dengan dibuatnya aturan terhadap
penebangan pohon jati di wilayah mancanegara, yakni Madiun dan
Sukawati.
3. Berubahnya aturan sewa lahan. Belanda mengubah aturan sewa lahan,
dengan tidak lagi mengizinkan orang asing menyewa lahan-lahan yang
dulunya dikerkan rakyat. Namun, keraton pula yang harus membayar ganti
rugi yang ditentukan sepihak oleh Belanda kepada para penyewa.
Akibatnya, keraton nyaris bangkrut.4
B. Jalannya Perang Diponegoro
Pada pertengahan bulan Mei 1825, Smissaert memutuskan untuk
memperbaiki jalan-jalan kecil di sekitar Yogyakarta. Namun, pembangunan
4
https://museumberjalan.id/sebuah/takdir-riwayat-pangeran-diponegoro-1785-1855/,
diakses tanggal 04 November 2020.
5
jalan yang awalnya dari Yogyakarta ke Magelang melewati Muntilan
dibelokkan melewati pagar sebelah timur Tegalrejo. Pada salah satu sektor,
patok-patok jalan yang dipasang orang-orang kepatihan melintasi makam
leluhur Pangeran Diponegoro. Patih Danurejo tidak memberitahu keputusan
Smissaert sehingga Diponegoro baru mengetahui setelah patok-patok
dipasang. Perseteruan terjadi antara para petani penggarap lahan dengan anak
buah Patih Danurejo sehingga memuncak pada bulan Juli. Patok-patok yang
telah dicabut kembali dipasang sehingga Pangeran Diponegoro menyuruh
mengganti patok-patok dengan tombak sebagai pernyataan perang5.
Pada hari Rabu, 20 Juli 1825, pihak istana mengutus dua bupati keraton
senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran
Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo sebelum perang pecah. Meskipun
kediaman Diponegoro jatuh dan dibakar, pangeran dan sebagian besar
pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di Tegalrejo. 6
Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat
hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah
selatan hingga keesokan harinya tiba di Goa Selarong yang terletak lima
kilometer arah barat dari Kota Bantul. Pangeran Diponegoro kemudian
menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor,
Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. Pangeran menempati goa
sebelah barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat
pertapaannya, sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia
menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati
Goa Putri di sebelah Timur.
Penyerangan di Tegalrejo memulai perang Diponegoro yang berlangsung
selama lima tahun. Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan
petani hingga golongan priyayi yang menyumbangkan uang dan barang-
barang berharga lainnya sebagai dana perang, dengan semangat "Sadumuk
bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; "sejari kepala sejengkal tanah dibela
5
Peter Carey. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855). Penerjemah:
Bambang Murtianto. Editor: Mulyawan Karim. (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2014)
6
Ibid
6
sampai mati". Sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro.
Bahkan Diponegoro juga berhasil memobilisasi para bandit profesional yang
sebelumnya ditakuti oleh penduduk pedesaan, meskipun hal ini menjadi
kontroversi tersendiri.7 Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Mojo yang juga
menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. Dalam perang jawa ini Pangeran
Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden
Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.
Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri,
kavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan
dalam pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit.
Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa.
Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah
dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah
itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-
jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong
keperluan perang. Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan
di dasar jurang. Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara
peperangan sedang berkecamuk. Para telik sandi dan kurir bekerja keras
mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun
strategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan
waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama, karena taktik dan
strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-
bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerja sama dengan
alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur
Belanda akan melakukan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding,
karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat.
Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak
tampak", melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa
pasukan mereka. Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan
7
Ibid
7
mengonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator
mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan
menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat
yang berjuang di bawah komando Pangeran Diponegoro. Namun pejuang
pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro
dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit.
Pada tahun 1829, Kyai Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap.
Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah
Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28
Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di
Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan
diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Oleh karena itu,
Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian
dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8
Januari 1855.
Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa.
Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia
sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000
orang Jawa.8 Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut
separuhnya.
Karena bagi sebagian orang Keraton Yogyakarta Diponegoro dianggap
pemberontak, konon keturunan Diponegoro tidak diperbolehkan lagi masuk ke
keraton hingga Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi
keturunan Diponegoro dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang
dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk
keraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan
diusir.
8
M.C. Ricklefs: A History of modern Indonesia since 1300, Hal. 117.
8
C. Akhir Perang Diponegoro
Pada tahun 1827 pemerintah Belanda menerapkan suatu strategi untuk
menangkap Pangeran Diponegoro. Pemerintah Belanda menerapkan strategi
Benteng Stelsel yakni menjepit musuh sekaligus dapat mengendalikan wilayah
yang dikuasai, strategi ini banyak menghabiskan biaya. Namun, memberi
dampak yang signifikan pada pengerahan tenaga kerja paksa yang banyak
terutama untuk membangun infrastruktur dalam mendukung strategi tersebut.
Tahun 1828, Kiai Mojo salah satu pendukung Pengeran Diponegoro
berhasil ditangkap dan diasingkan ke Minahasa sampai beliau wafat. Setahun
setelah ditangkapnya Kiai Mojo, pendukung Pangeran Diponegoro yang lain
juga menyerah, yakni Sentot Prawirodirjo yang berakhir dengan penangkapan.
Dan diasingkan ke Bengkulu sampai akhir hayatnya.
Meskipun terdesak, Pangeran Diponegoro bersama dengan pendukung
fanatiknya terus melakukan perlawanan meski pemerintah Belanda
menjanjikan uang sebesar 20.000 ringgit bagi siapa saja yang berhasil
menangkapnya hidup atau mati. Jenderal De Kock sebagai panglima tertinggi
pasukan Belanda terus berupaya membujuk Pangeran Diponegoro agar mau
berunding dengan Belanda. Akhirnya Pangeran Diponegoro menerima
tawaran tersebut, yang dilaksanakan tanggal 28 Maret 1830.9
Namun ketika proses perundingan berlangsung, Belanda secara licik
menangkap Pangeran Diponegoro atas Perintah Jenderal De Kock. Kemudian
Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia, untuk selanjutnya dibawa lagi ke
Manado, setelah sampai di Manado, Ia dipindahkan ke Makassar. Dan
akhirnya pada tanggal 8 Januari 1855 Pangeran Diponegoro wafat di
Makassar. Setelah penangakan Pangeran Diponegoro ini maka tidak ada lagi
perlawanan untuk Belanda.
D. Akibat-akibat Perang Diponegoro
Setelah selesai Perang Diponegoro, yang mana Perang Diponegoro ini
berlangsung selama 5 tahun, yang dimulai dari tahun 1825 dan berakhir pada
tahun 1830. Perang Diponegoro ini menyebabkan, antara lain:
https://www.dosenpendidikan.co.id/perang-diponegoro/#ftoc-heading-7, diakses tanggal
9
04 November 2020
9
1. Berkurangnya wilayah kekuasaan Keraton Yogyakarta dan Kasunanan
Surakarta.
2. Belanda mendapatkan beberapa wilayah Keraton Yogyakarta dan
Kasunanan Surakarta.
3. Banyak menguras kas Belanda.
BAB III
PENUTUP
10
A. Kesimpulan
Perang Diponegoro adalah perang yang berlangsung selama tahun 1825-
1830 di daerah Jawa. Dalam perang ini melibatkan Pemerintah Belanda
dengan Pribumi yang di pimpin oleh Pangeran Diponegoro. Perang ini
dilatarbelakangi karena pihak Belanda mematok tanah makam leluhur,
merosotnya moral bangsawan keraton, kesengsaraan rakyat yang tidak
dipedulikan oleh keraton, dan berubahnya aturan sewa tanah. Perang ini
berakhir setelah ditangkapnya Pangeran Diponegorodi Keresidenan Kedu,
Magelang setelah dijebak. Perang ini mengakibatkan wilayah Keraton
Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta berkurang, dan Terkurasnya kas
Belanda.
Lampiran
11
Gambar Pangeran Diponegoro Muda
Sketsa A.M.Th. Bik di Stadhuis Batavia, akhir April 1830
Gambar Pengangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang Oleh Radén Salem Syarif Bustaman, 1857
12
Gambar penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang, 28 Maret 1830 leh Nicolaas Pieneman
DAFTAR PUSTAKA
Buku
13
Carey, Peter. 1986. The Origin of Java War. a.b. Asal Usul Perang Jawa.
Jakarta: Pustaka Aztec.
Carey, Peter. 2014. Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855).
Penerjemah: Bambang Murtianto. Editor: Mulyawan Karim. Jakarta:
Penerbit Kompas.
Internet
https://sejarahlengkap.com/tokoh/biografi-pangeran-diponegoro
https://www.harapanrakyat.com/2020/08/biografi-pangeran-diponegoro
https://museumberjalan.id/sebuah/takdir-riwayat-pangeran-diponegoro-
1785-1855/
https://www.dosenpendidikan.co.id/perang-diponegoro/#ftoc-heading-7
14