Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam
hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan.
Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam
kelompok kecil.Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan
kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati
& menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah
impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah
tugas manusia.

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding makhluk


Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan
untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan
kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan
baik.Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social
manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya
manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak
untuk memimpin dirinya sendiri.

Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok


& lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang
relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam
mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.

23
I.2 RUMUSAN MASALAH.

Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang
penulis dapatkan. Permasalahan tsb antara lain :

 Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin?


 Adakah teori – teori untuk menjadi pemimpin yang baik?
 Apa itu kepemimpinan dalam demokrasi?

I.3 TUJUAN PENULISAN.

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah

 Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan


khususnya tentang kepemimpinan dalam demokrasi

23
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 HAKIKAT KEPEMIMPINAN.

Dalam kehidupan sehari – hari, baik di lingkungan keluarga,


organisasi, perusahaan sampai dengan pemerintahan sering kita dengar
sebutan pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan. Ketiga kata tersebut
memang memiliki hubungan yang berkaitan satu dengan lainnya.

Beberapa ahli berpandapat tentang Pemimpin, beberapa diantaranya :

 Menurut Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan, Pemimpin adalah seseorang


dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk
mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan.
 Menurut Robert Tanembaum, Pemimpin adalah mereka yang
menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan,
mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian
pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan.
 Menurut Prof. Maccoby, Pemimpin pertama-tama harus seorang yang
mampu menumbuhkan dan mengembangkan segala yang terbaik dalam
diri para bawahannya. Pemimpin yang baik untuk masa kini adalah orang
yang religius, dalam artian menerima kepercayaan etnis dan moral dari
berbagai agama secara kumulatif, kendatipun ia sendiri mungkin menolak
ketentuan gaib dan ide ketuhanan yang berlainan.
 Menurut Lao Tzu, Pemimpin yang baik adalah seorang yang membantu
mengembangkan orang lain, sehingga akhirnya mereka tidak lagi
memerlukan pemimpinnya itu.

23
 Menurut Davis and Filley, Pemimpin adalah seseorang yang menduduki
suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan
memimpin.
 Sedangakn menurut Pancasila, Pemimpin harus bersikap sebagai
pengasuh yang mendorong, menuntun, dan membimbing asuhannya.
Dengan kata lain, beberapa asas utama dari kepemimpinan Pancasila
adalah :

 Ing Ngarsa Sung Tuladha : Pemimpin harus mampu dengan sifat dan
perbuatannya menjadikan dirinya pola anutan dan ikutan bagi orang –
orang yang dipimpinnya.
 Ing Madya Mangun Karsa : Pemimpin harus mampu
membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang –
orang yang dibimbingnya.
 Tut Wuri Handayani : Pemimpin harus mampu mendorong orang –
orang yang diasuhnya berani berjalan di depan dan sanggup
bertanggung jawab.

Seorang pemimpin boleh berprestasi tinggi untuk dirinya sendiri, tetapi


itu tidak memadai apabila ia tidak berhasil menumbuhkan dan
mengembangkan segala yang terbaik dalam diri para bawahannya. Dari begitu
banyak definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa :
Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap,
dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.

Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan


memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama.
Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan
organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan,
mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Sedangkan
kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mau
melakukan pap yang diinginkan pihak lainnya.”The art of influencing and

23
directing meaninsuch away to abatain their willing obedience, confidence,
respect, and loyal cooperation in order to accomplish the mission”.

Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan menggerakkan


orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan,
respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual
22-100.

Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk


mau melakukan apa yang diinginkan pihak lainnya. Ketiga kata yaitu
pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan yang dijelaskan sebelumnya
tersebut memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk
menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi
banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria
yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah
itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya, atau kewenangannya
yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun
gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi tidak dapat dibantah


merupakan sesuatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan
organisasi yang bersangkutan. Pada dasarnya fungsi kepemimpinan memiliki
2 aspek yaitu :

 Fungsi administrasi, yakni mengadakan formulasi kebijaksanakan


administrasi dan menyediakan fasilitasnya.
 Fungsi sebagai Top Manajemen, yakni mengadakan planning,
organizing, staffing, directing, commanding, controling, dsb.

II.2 TEORI KEPEMIMPINAN.

Memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk


mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat

23
dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktifitas organisasi
secara keseluruhan. Dalam karya tulis ini akan dibahas tentang teori dan gaya
kepemimpinan.

Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar


nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi.
Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :

1. Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory ).

Analisis ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari


pemusatanperhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama
kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu
dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The
Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari
aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat
kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai
melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik,
mental, dan kepribadian.

Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap


keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :

 Kecerdasan.
 Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial.
 Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi.
 Sikap Hubungan Kemanusiaan.

2. Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi.

Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori


ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal.

23
 Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang
pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh
gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi
masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
 Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin
yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat ,
bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana
pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.

Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana
seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan
terhadap hasil yang tinggi pula.

3. Teori Kewibawaan Pemimpin.

Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan


kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat
mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok
sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh
pemimpin.

4. Teori Kepemimpinan Situasi.

Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan


harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan
bawahan.

5. Teori Kelompok.

Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran


yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.Dari adanya berbagai teori
kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu
akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni

23
pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap
filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang
pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam
mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda –
beda atas dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang
tertentu. Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang
positif dan negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya
mereka memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi
ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis)
berartitelah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika
pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia
menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat
menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi
menimbulkan kerugian manusiawi. Selain gaya kepemimpinan di atas masih
terdapat gaya lainnya.

6. Otokratis.

Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan


dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Kekuasaan sangat
dominan digunakan. Memusatkan kekuasaan dan pengambilan keputusan bagi
dirinya sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi pegawai sehingga
mau melakukan apa saja yang diperintahkan. Kepemimpinan ini pada
umumnya negatif, yang berdasarkan atas ancaman dan hukuman. Meskipun
demikian, ada juga beberapa manfaatnya antaranya memungkinkan
pengambilan keputusan dengan cepat serta memungkinkan pendayagunaan
pegawai yang kurang kompeten.

7. Partisipasif.

Lebih banyak mendesentrelisasikan wewenang yang dimilikinya sehingga


keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak.

23
8. Demokrasi.

Ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan


pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan
pemimpin yang demokrasis cenderung bermoral tinggi dapat bekerjasama,
mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.

9. Kendali Bebas.

Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap bawahan, struktur


organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif. Yaitu Pemimpin
menghindari kuasa dan tanggung – jawab, kemudian menggantungkannya
kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi
masalahnya sendiri.

Dilihat dari orientasi si pemimpin, terdapat dua gaya kepemimpinan


yang diterapkan, yaitu gaya konsideral dan struktur, atau dikenal juga sebagai
orientasi pegawai dan orientasi tugas. Beberapa hasil penelitian para ahli
menunjukkan bahwa prestasi dan kepuasan kerja pegawai dapat ditingkatkan
apabila konsiderasi merupakan gaya kepemimpinan yang dominan.
Sebaliknya, para pemimpin yang berorientasi tugas yang terstruktur, percaya
bahwa mereka memperoleh hasil dengan tetap membuat orang – orang sibuk
dan mendesak mereka untuk berproduksi.

Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi konsiderasi,tidak


selamanya merupakan pemimpinyan terbaik.fiedler telah mengembakan
suatumodel pengecualian dari ketiga gaya kepemimpinan diatas,yakni model
kepemimpinankontigennis.model ini nyatakan bahwa gaya kepemimpinan
yang paling sesuai bergantung pada situasi dimana pemimpin bekerja.dengan
teorinya ini fiedler ingin menunjukkan bahwa keefektifan ditunjukkan oleh
interaksi antara orientasi pegawai dengan 3 variabel yang berkaitan dengan
pengikut, tugas dan organisasi. Ketiga variabel itu adalah hubungan antara
pemimpin dengan anngota (Leader – member rolations), struktur tugas (task

23
strukture), dan kuasa posisi pemimpin (Leader position power). Variabel
pertama ditentukan oleh pengakuan atau penerimaan (akseptabilitas)
pemimpin oleh pengikut, variabel kedua mencerminkan kadar diperlukannya
cara spesifik untuk melakukan pekerjaan, variabel ketiga menggambarkan
kuasa organisasi yang melekat pada posisi pemimpin.

Model kontingensi Fieldler ini serupa dengan gaya kepemimpinan


situasional dari Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan situasional
ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya
kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan (muturity)
pengikutnya.perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk
mengetahui kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai
individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai
kelompok , pengikut dapat menemukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki
pemimpin.

Menurut Hersey dan Blanchard (dalam Ludlow dan Panton,1996 : 18


dst), masing – masing gaya kepemimpinan ini hanya memadai dalam situasi
yang tepat meskipun disadari bahwa setiap orang memiliki gaya yang
disukainya sendiri dan sering merasa sulit untuk mengubahnya meskipun
perlu.

Banyak studi yang sudah dilakukan untuk melihat gaya kepemimpinan


seseorang. Salah satunya yang terkenal adalah yang dikemukakan oleh
Blanchard, yang mengemukakan 4 gaya dari sebuah kepemimpinan. Gaya
kepemimpinan ini dipengaruhi oleh bagaimana cara seorang pemimpin
memberikan perintah, dan sisi lain adalah cara mereka membantu
bawahannya. Keempat gaya tersebut adalah

10. Directing.

Gaya tepat apabila kita dihadapkan dengan tugas yang rumit dan staf kita
belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk mengerjakan tugas tersebut.

23
Atau apabila anda berada di bawah tekanan waktu penyelesaian. Kita
menjelaskan apa yang perlu dan apa yang harus dikerjakan. Dalam situasi
demikian, biasanya terjadi over-communicating (penjelasan berlebihan yang
dapat menimbulkan kebingungan dan pembuangan waktu). Dalam proses
pengambilan keputusan, pemimpin memberikan aturan –aturan dan proses
yang detil kepada bawahan. Pelaksanaan di lapangan harus menyesuaikan
dengan detil yang sudah dikerjakan.

11. Coaching.

Pemimpin tidak hanya memberikan detil proses dan aturan kepada


bawahan tapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu diambil,
mendukung proses perkembangannya, dan juga menerima barbagai masukan
dari bawahan. Gaya yang tepat apabila staf kita telah lebih termotivasi dan
berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Disini kita perlu memberikan
kesempatan kepada mereka untuk mengerti tentang tugasnya, dengan
meluangkan waktu membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan
mereka.

12. Supporting.

Sebuah gaya dimana pemimpin memfasiliasi dan membantu upaya


bawahannya dalam melakukan tugas. Dalam hal ini, pemimpin tidak
memberikan arahan secara detail, tetapi tanggung jawab dan proses
pengambilan keputusan dibagi bersama dengan bawahan. Gaya ini akan
berhasil apabila karyawan telah mengenal teknik – teknik yang dituntut dan
telah mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan anda. Dalam hal ini
kita perlumeluangkan waktu untuk berbincang – bincang, untuk lebih
melibatkan mereka dalam penganbilan keputusan kerja, serta mendengarkan
saran – saran mereka mengenai peningkatan kinerja.

23
13. Delegating.

Sebuah gaya dimana seorang pemimpin mendelegasikan seluruh


wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan. Gaya Delegating akan
berjalan baik apabila staf kita sepenuhnya telah paham dan efisien dalm
pekerjaan, sehingga kita dapat melepas mereka menjalankan tugas atau
pekerjaan itu atas kemampuan dan inisiatifnya sendiri.

II.3 Kepemimpinan dalam Demokrasi

Salah satu pondasi dasar dari pandangan dan pemikiran demokrasi adalah
kemajemukan dan menghargai perbedaan. Selain itu, Demokrasi juga
dipandang sebagai nilai bersama suatu bangsa dalam membangun sistem
pemerintahan negara yang bersumber dari rakyat. Dengan kata lain, demokrasi
menjadi sebuah pre-skripsi yang bermuatan nilai moral dan menjadi sebuah
norma. Keberhasilan suatu bangsa dan suatu negara tidak hanya diukur dari
neraca perekonomian, tingkat kesejahteraan dan pendidikan, tetapi juga diukur
melalui seberapa jauh suatu bangsa dan negara melaksanakan demokrasi
dengan bentuk tertentu dari demokrasi yang dianggap sebagai bentuk ideal
sebagai patokan ukuran keberhasilan pelaksanaan demokrasi.

Untuk memahami demokrasi, ada dua pendekatan yang sering


digunakan para ilmuwan politik. Pertama, secara normatif dimana demokrasi
dipahami sebagai sesuatu yang secara ideal hendak dilakukan atau
diselenggarakan oleh suatu negara (demokrasi diartikan sebagai tujuan atau
resep tentang bagaimana demokrasi itu seharusnya). Pengertian umum ini
dapat dilihat dari ungkapan bahwa demokrasi itu adalah pemerintahan oleh
rakyat dari rakyat dan untuk rakyat.

Kedua, secara empiris dimana demokrasi berkenaan dengan


perwujudannya dalam kehidupan politik praktis dan sistem politik yang ada.
Banyak teori tentang demokrasi itu berada pada tingkat normatif, sementara
literatur tentang demokratisasi dicirikan oleh pendekatan empiris. Kriteria-

23
kriteria untuk melihat sebuah bentuk pemerintahan demokratis atau tidak
bersumber pada pendekatan empiris ini. Walaupun penerapan demokrasi di
beberapa tempat melahirkan bentuk demokrasi yang beragam, akan tetapi ada
kriteria universal yang berlaku bagi semua tempat yang melaksanakan
demokrasi.

Kriteria universal untuk mengukur demokrasi itu dapat dibagi menjadi


lima (Afan Gaffar, 2000: 7) yaitu:

1. Akuntabilitas.

Setiap pemegang jabatan yang dipilih oleh rakyat harus dapat


mempertanggungjawabkan kebijaksanaan yang hendak dan telah
ditempuhnya.

2. Rotasi kekuasaan.

Dalam demokrasi peluang akan terjadinya rotasi kekuasaan harus ada dan
dilakukan secara teratur serta damai. Tidak hanya satu orang yang selalu
memegang jabatan sementara peluang orang lain tertutup sama sekali.

3. Rekrutmen politik terbuka.

Untuk memungkinkan terjadinya rotasi kekuasaan, diperlukan adanya


suatu sistem rekrutmen politik yang terbuka. Artinya setiap orang yang
memenuhi syarat untuk mengisi suatu jabatan politik dengan dipilih oleh
rakyat mempunyai peluang yang sama dalam melakukan kompetisi untuk
mengisi jabatan tersebut

4. Pemilihan umum.

Dalam suatu negara demokrasi pemilu dilakukan secara teratur dan setiap
warga negara yang sudah cukup dewasa mempunyai hak untuk dipilih serta
memilih tanpa ada rasa takut atau paksaan dari orang lain.

23
5. Menikmati hak-hak dasar.

Setiap warga masyarakat dapat menikmati hak-hak dasar mereka secara


bebas, termasuk didalamnya adalah hak untuk menyatakan pendapat, hak
untuk menikmati kebebasan pers, dan hak untuk berkumpul dan berserikat.

Dalam segala bentuk pemerintahan, demokrasi tentunya merupakan suatu


bentuk yang paling baik, atau paling tidak ia memiliki kelemahan paling
sedikit dibandingkan bentuk pemerintahan lainnya. Bentuk pemerintahan yang
demokratislah yang menjadi substansi dari reformasi dan menjadi kehendak
segenap rakyat Indonesia, termasuk pula model kepemimpinan yang hendak
diselenggarakan didalamnya. Persoalannya, di tengah derasnya arus
demokratisasi ala barat saat ini, bagaimana sebetulnya konsep kepemimpinan
yang berlandaskan pada nilai-nilai demokrasi yang bersumber dari nilai dan
norma yang dianut oleh Bangsa Indonesia? Penjabaran dari konsep ini
nantinya diharapkan akan memberikan pemahaman yang komprehensif
tentang kepemimpinan Indonesia di era demokrasi. 10 tahun telah berjalan
sejak reformasi semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara digulirkan,
dinamika kehidupan sosial dan politik bangsa saat ini kembali memanas,
seiring Pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan di tahun 2009
mendatang.

Pasang surut nilai kepercayaan masyarakat terhadap tatanan politik yang


ada dan kepemimpinan yang diselenggarakan terus terjadi. Salah satu
sumbernya adalah dimana konstelasi sosial politik yang dilahirkan selama ini,
dirasakan masih jauh dari harapan masyarakat secara luas. Malah tak jarang
masyarakat dihadapkan pada suatu kondisi yang serba sulit. Infrastruktur dan
regulasi yang masih semrawut, degradasi moralitas, sistem politik yang tidak
stabil, dan sebagainya adalah kondisi-kondisi yang dihadapi masyarakat saat
ini. Karena itu, wajar apabila kemudian masyarakat menuntut perlunya
perbaikan dan perubahan yang lebih mendasar dan berkepentingan bagi semua
orang.

23
Salah satu yang membuat ‘cedera’ bangsa Indonesia saat ini belum sembuh
secara total diantaranya adalah masyarakat belum menemukan “satria
piningit” (pemimpin) yang mampu membawa masyarakat ke arah yang lebih
berarti. Persoalan mendasar dari fenomena tersebut adalah terjadinya
degradasi kepercayaan (trusting leader) terhadap pemimpin negara. Alasan
sederhana yang dikemukakan adalah pemimpin yang pernah lahir dan
sebelumnya dipercaya rakyat, tidak mampu mengangkat kehidupan bangsa
dan negara ke arah yang lebih baik. Bahkan dalam pandangan sebagian rakyat
Indonesia, justru pemimpin-pemimpin yang ada semakin membawa
keterpurukan yang sudah terjadi sebelumnya.

Secara sederhana, pemimpin bisa diartikan sebagai seseorang yang


dipercaya oleh para pengikutnya (konstituen) untuk mengatasi persoalan yang
menyangkut kepentingan orang banyak, memiliki responsibility yang tinggi,
memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, bermoral, tangguh dan berani
menghadapi tantangan apapun, disayangi dan disenangi oleh para
pengikutnya, dan mampu membawa lembaga atau institusi yang dia pimpin
menuju perubahan yang konstruktif. Manifestasi dari seorang pemimpin
adalah dia tidak hanya seorang manajer yang handal, namun juga seorang
perencana yang baik, melakukan proses kerja secara maksimal dan mampu
menunjukkan hasil yang memuaskan banyak pihak. Dan yang terpenting
adalah memiliki banyak cara untuk menghadapi persoalan yang timbul.
Karena itu, bila dihubungkan dengan sosok pemimpin Indonesia saat ini,
kemampuan-kemampuan seperti di atas sepenuhnya belum dimiliki.

Konsepsi dan logika kepemimpinan di era demokrasi Indonesia sekarang


mungkin sangat beragam. Hal ini disebabkan konstruksi pemikiran (logika)
tentang pemimpin yang dibangun selama ini juga bervariasi antara satu
dengan lainnya. Hal tersebut juga tidak terlepas dari pengaruh budaya dari
masyarakat atas model kepemimpinan yang mereka pandang. Model
kepemimpinan masyarakat Jawa berbeda dengan model kepemimpin
masyarakat Sumatera, juga berbeda dengan model kepemimpin masyarakat di

23
daerah lainnya. Di Jawa, misalnya, mereka menganggap kepemimpinan
merupakan proses yang sakral dan tunggal. Karena itu, model yang dibentuk
lebih didasarkan pada trah dan hubungan keluarga. Anggapan bahwa
pemimpin dilahirkan oleh keluarga pemimpin tetap mendominasi ranah
berpikir masyarakat. Konsepsi seperti demikian bisa kita lihat dalam model
kepemimpinan yang dijalankan mantan Presiden Suharto beberapa tahun yang
lalu.

Hal ini bertentangan dengan konsepsi model kepemimpinan demokrasi


yang mensyaratkan adanya sirkulasi kepemimpinan. Setiap orang memiliki
peluang yang sama untuk menjadi pemimpin. Dalam konsepsi kepemimpinan
demokrasi, logika yang dipakai sebagian besar adalah pengetahuan dan
keluasaan wawasan, dan bukan berdasarkan trah dan hubungan kekeluargaan.

Sayangnya, kecenderungan masyarakat Indonesia masih menganggap


persoalan kepemimpinan merupakan ranah yang hanya bisa dimasuki oleh
sebagian kecil orang. Dalam kepercayaannya, mereka merupakan orang-orang
pilihan dari Sang Maha Pencipta, dan dilahirkan untuk menjadi seorang
pemimpin dalam masyarakat. Persoalan simbolisasi juga merupakan satu hal
yang penting bagi kepercayaan yang dianut masyarakat. Simbol-simbol yang
dibawa oleh seorang pemimpin sangat berbeda dengan simbol yang dibawa
masyarakat awam.

Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang


pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang
kooperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral
tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan
diri sendiri (Rivai, 2006).

Menurut Robbins dan Coulter (2002), gaya kepemimpinan demokratis


mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan
dalam pengambilan keputusan, mendelegasikan kekuasaan, mendorong

23
partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan
yang ingin dicapai, dan memandang umpan balik sebagai suatu kesempatan
untuk melatih karyawan (p. 460). Jerris (1999) menyatakan bahwa gaya
kepemimpinan yang menghargai kemampuan karyawan untuk
mendistribusikan knowledge dan kreativitas untuk meningkatkan servis,
mengembangkan usaha, dan menghasilkan banyak keuntungan dapat menjadi
motivator bagi karyawan dalam bekerja. Ciri-ciri gaya kepemimpinan
demokratis (Sukanto, 1987) :

1) Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan


diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.
2) Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan
kelompok dibuat, dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis
pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat
dipilih.
3) Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan
pembagian tugas ditentukan oleh kelompok.

Lebih lanjut ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Handoko dan


Reksohadiprodjo, 1997) :

1) Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.


2) Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas.
3) Pemimpin adalah obyektif atau fact-minded dalam pujian dan
kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa
dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan.

23
II.4 STUDI KASUS

Pada tanggal 22 Mei 1998, Presiden Indonesia yang ketiga B.J Habibie
membentuk kabinet baru yang dinamakan Kabinet Reformasi Pembangunan.
Kabinet itu terdiri atas 16 orang menteri, dan para menteri itu diambil dari unsure-
unsur militer (ABRI), Golkar, PPP, dan PDI.

Dalam Bidang ekonomi, pemerintahan Habibie berusaha keras untuk


melakukan perbaikan. Ada beberapa hal yang dilakukan oleh pemerintahan
Habibie untuk memperbaiki perekonomian Indonesia diantaranya:

 Merekapitulasi perbankan
 Merekonstruksi perekonomian Indonesia
 Melikuidasi beberapa bank bermasalah
 Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat hingga di
bawah Rp.10.000,-
 Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang di syaratkan oleh IMF

Presiden Habibie sebagai pembuka sejarah perjalanan bangsa pada era


reformasi mengupayakan pelaksanaan politik Indonesia dalam kondisi yang
transparan serta merencanakan pelaksanaan pemilihan umum yang langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Pemilihan umum yang akan diselenggarakan
di bawah pemerintahan Presiden Habibie merupakan pemilihan umum yang telah
bersifat demokratis. Habibie juga membebaskan beberapa narapidana politik yang
ditahan pada zaman pemerintahan Soeharto. Kemudian, Presiden Habibie juga
mencabut larangan berdirinya serikat-serikat buruh independen. Hal-hal yang
dilakukan pada masa pemerintahan Habibie:

1. Bidang Ekonomi

Untuk menyelesaikan krisis moneter dan perbaikan ekonomi Indonesia, BJ


Habibie melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

23
a. Melakukan restrukturisasi dan rekapitulasi perbankan melalui
pembentukan BPPN dan unit pengelola Aset Negara.
b. Melikuidasi beberapa Bank yang Bermasalah.
c. Menaikkan nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga dibawah Rp.
10.000,00
d. Membentuk lembaga pemantau dan penyelesaian utang luar negeri.
e. Mengimplementasikan reformasi ekonomi yang disyaratkan IMF.
f. Mengesahkan UU No. 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli
dan Persaingan yang Tidak Sehat.
g. Mengesahkan UU No. 8 1999 tentang Perlindungan Konsimen

2. Bidang Politik

a. Member kebebasan pada rakyat untuk menyalurkan aspirasinya sehingga


banyak bermunculan partai-partai politik baru yakni sebanyak 48 partai
politik.
b. Membebaskan narapidana politik seperti Sri Bintang Pamungkas dan
Mochtar Pakpahan.
c. Mencabut Larangan berdirinya serikat-serikat buruh Independen
d. Membentuk tiga UU yang demokratis yaitu:

1) UU No. 2 tahun 1999 tentang Partai Politik


2) UU No. 3 tahun 1999 tentang Pemilu
3) UU No. 4 tahun 1999 tentang Susduk DPR?MPR

e. Menetapkan 12 Ketetapan MPR dan ada 4 ketetapan yang mencerminkan


jawaban dari tuntutan reformasi yaitu:

1) Tap MPR No. VIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap No.


IV/MPR/1983 tentang referendum.
2) Tap MPR No. XVIII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No.
II/MPR/1978 tentang Pancasila sebagai azas tunggal.

23
3) Tap MPR No. XII/MPR/1998, tentang pencabutan Tap MPR No.
V/MPR/1978 tentang Presiden mendapat mandate dari MPR untuk
memiliki hak-hak dan kebijakan diluar batas perundang-undangan
4) Tap MPR No. XIII/MPR/1998, tentang Pembatasan masa jabatan
Presiden dan Wakil Presiden maksimal hanya dua kali periode.

3. Bidang Pers

Dilakukan pencabutan pembredelan pers dan penyederhanaan permohonan


SIUPP untuk memberikan kebebasan terhadap pers, sehingga muncul
berbagai macam media massa cetak, baik surat kabar maupun majalah.

4. Bidang Hukum

Pada masa Pemerintahan Presiden BJ Habibie dilakukan reformasi di


bidang hukum, Reformasi hukum itu disesuaikan dengan aspirasi yang
berkembang dimasyarakat. Tindakan yang dilakukan oleh Presiden
Habibie untuk mereformasi hukum mendapatkan sambutan baik dari
berbagai kalangan masyarakat, karena reformasi hukum yang
dilakukannya mengarah kepada tatanan hukum yang di

23
BAB III

PENUTUP

III.1 KESIMPULAN.

Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang


tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan
suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya
memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan
yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat – sifatnya,
atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh
terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin


bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya.
Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk
memperbaiki orang lain.Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang
diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam

23
diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the
inside out).

23