0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan45 halaman

Isi (BAB 1-5) FIX

Visi Indonesia 2020 dan dampak globalisasi membahas tujuan pembangunan Indonesia pada tahun 2020 yang mencakup aspek ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Dokumen juga membahas tantangan akibat pengaruh budaya asing yang masuk di era globalisasi sehingga perlu memperkuat pendidikan kewarganegaraan berbasis Pancasila.

Diunggah oleh

Afifah Kartikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
150 tayangan45 halaman

Isi (BAB 1-5) FIX

Visi Indonesia 2020 dan dampak globalisasi membahas tujuan pembangunan Indonesia pada tahun 2020 yang mencakup aspek ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Dokumen juga membahas tantangan akibat pengaruh budaya asing yang masuk di era globalisasi sehingga perlu memperkuat pendidikan kewarganegaraan berbasis Pancasila.

Diunggah oleh

Afifah Kartikasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah materi perkuliahan
yang menyangkut pemahaman tentang persatuan dan kesatuan, kesadaran warga
Negara dalam bernegara yang meliputi filsafat Pancasila sebagai dasar filsafat
bangsa dan Negara, identitas nasional, demokrasi Indonesia, Negara dan
konstitusi, rule of law, geopolitik dan geostrategi Indonesia, hak dan kewajiban
warga Negara dalam berbangsa dan bernegara, serta pendidikan Bela Negara.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2012 tentang
Pendidikan Tinggi yang belum lama disahkan, serta surat keputusan Direktur
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Nomor
43/DIKTI/Kep/2006 tentang rambu-rambu pelaksanaan kelompok mata kuliah
Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi, secara eksplisit menyebutkan
bahwa terkait dengan kurikulum nasional setiap perguruan tinggi wajib
menyelenggarakan mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan, Agama dan
Bahasa Indonesia.
Apabila dilakukan jejak pendapat dikalangan mahasiswa biasanya mereka
cenderung tidak menyukai empat mata kuliah yang dikenal sebagai Mata Kuliah
Kepribadian (MPK) ini. Beberapa alasannya adalah pertama, mata kuliah ini
bukan mata kuliah sesuai dengan bidang studi mereka, kedua, materinya tidak up
to date, hanya mengulang apa yang pernah mereka dapatkan di jenjang
pendidikan sebelumnya, ketiga, metode pembelajarannya yang tidak variatif dan
inovatif sehingga menimbulkan kebosanan.
Alasan yang pertama perlu diberikan penjelasan kepada mahasiswa bahwa
mempelajari ilmu sesuai dengan bidangnya saja tidaklah cukup untuk bekal
ketika mereka lulus kuliah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lebih dari

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
1
60% keberhasilan seseorang tidak ditentukan pada penguasaan bidang ilmunya,
namun pada kepribadiannya. Dengan menyadari pentingnya kepribadian ini
diharapkan mahasiswa lebih tertarik pada mata kuliah ini.
Dengan adanya penyempurnaan kurikulum mata kuliah pengembangan
kepribadian tersebut maka pendidikan kewarganegaraan memiliki paradigma
baru, yaitu Pendidikan Kewarganegaraan berbasis Pancasila. Kiranya akan
menjadi sangat relevan jikalau pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi
dewasa ini sebagai sisntesis antara pendidikan kewarganegaraan, pendidikan
demokrasi, serta pendidikan bermasyarakat yang berdasarkan Filsafat Pancasila,
serta mengandung muatan identitas nasional Indonesia (Mansoer, 2005).
Oleh karena itu, dengan pendidikan kewarganegaraan diharapkan
intelektual Indonesia memiliki dasar kepribadian sebagai warga Negara yang
demokrasi, religious, berkemanusiaan, dan berkeadaban. Pendidikan
Kewarganegaraan di perguruan tinggi sebagai kelompok MPK diharapkan dapat
mengemban tugas menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme pada
generasi muda. Melalui pengasuhan Pendidikan Kewarganegaraan di perguruan
tinggi yang substansi kajian dan materi instruksionalnya menunjang dan relevan
dengan pembangunan masyarakat demokratik berkeadaban, diharapkan
mahasiswa akan tumbuh menjadi ilmuwan atau profesional, berdaya saing secara
internasio maupun nasional, warganegara Indonesia yang memilikirasa
kebangsaan dan cinta tanah air.
B. Permasalahan dan Identifikasi Masalah
Nasionalisme adalah paham atau ajaran untuk mencintai bangsa dan
negaranya sendiri dan secara bersama-sama mencapai, mempertahankan dan
mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa, itulah
yang disebut dengan semangat kebangsaan. Rasa kebangsaaan yang dimaksud
adalah rasa saling memiliki suatu bangsa itu dapat menjadi dasar semangat
masyarakat Indonesia dalam berjuang, bahkan rasa kebangsaan tersebut telah

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
2
menghantarkan bangsa Indonesia untuk mencapai cita-citanya yaitu
kemerdekaan.
Salah satu permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini
adalah memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi
muda. Hal ini disebabkan banyaknya pengaruh budaya asing yang banyak masuk
di negara kita, akibatnya banyak generasi muda yang melupakan budaya sendiri
karena menganggap bahwa budaya asing merupakan budaya yang lebih modern
dibanding budaya bangsa sendiri.
Berbagai permasalahan yang timbul akibat rasa nasionalisme dan
kebangsaan yang memudar banyak terjadi belakangan ini, banyak generasi muda
atau pemuda yang mengalami disorientasi, dislokasi dan terlibat pada suatu
kepentingan yang hanya mementingkan diri pribadi atau sekelompok tertentu
dengan mengatasnamakan rakyat sebagai alasan dalam kegiatanya.
Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan hasil kesepakatan
bapak pendiri bangsa ketika negara Indonesia didirikan, dan hingga sekarang di
era globalisasi, negara Indonesia tetap berpegang teguh kepada Pancasila sebagai
dasar negara. Sebagai dasar negara, Pancasila harus menjadi acuan negara dalam
menghadapi berbagai tantangan global dunia yang terus berkembang. Di era
globalisasi ini peran Pancasila tentulah sangat penting untuk tetap menjaga
eksistensi kepribadian bangsa Indonesia karena dengan adanya globalisasi,
batasan-batasan diantara negara seakan tak terlihat, sehingga berbagai
kebudayaan asing dapat masuk dengan mudah ke masyarakat. Berbagai hal yang
timbul dari dampak globalisasi. Tentunya globalisasi itu akan menjadi hal yang
positif karena dapat menambah wawasan dan mempererat hubungan antar bangsa
dan negara di dunia, sedangkan hal negatif dari dampak globalisasi dapat
merusak moral bangsa dan eksistensi kebudayaan Indonesia. Dengan
berlandaskan Pancasila diharapkan pengaruh budaya asing bisa disaring sehingga
generasi muda bisa menjadi generasi yang benar-benar cinta pada tanah air
Indonesia apapun keadaanya.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
3
C. Tujuan Diskusi Kelompok
1. Berupaya untuk mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu
dharma kedua.
2. Berupaya untuk memahami tujuan Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi.
3. Kami berupaya untuk memahami pola pikir pembahasan materi yang
merupakan general education yang sangat diperlukan untuk membangun
karakter nasional (National Character Building).
4. Berupaya untuk mampu menjelaskan landasan Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan.
5. Berupaya untuk memahami dan menerapkan pola pikir, pola sikap, dan pola
tindakan berdasarkan kompetensi PPKn.
6. Berupaya untuk memahami, menjelaskan dan mengaplikasikan secara positif
visi 2020 Indonesia dan globalisasi dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
7. Berupaya untuk saling menghargai terjadinya perbedaan pendapat antar
kelompok diskusi maupun antar individu peserta diskusi.
D. Metode Diskusi Kelompok

Metode Diskusi Kelompok yang kami gunakan dalam makalah ini ada 4 yaitu :

1. Metode Inquiry
Inquiry berarti pertanyaan, atau pemeriksaan, penyelidikan (Trianto,
2007:135). David L. Haury dalam artikelnya Teaching Science Through
Inquiry (dalam Sutrisno : 2008) mengutip definisi yang diberikan oleh Alfred
Novak : inquiry merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia
untuk menjelaskan secara rasional fenomena-fenomena yang memancing rasa
ingin tahu. Dengan kata lain, inquiry berkaitan dengan aktivitas dan
keterampilan akitf yang fokus pada pencarian pengetahuan atau pemahaman
untuk memuaskan rasa ingin tahu.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
4
2. Metode Ceramah
Metode ini dilakukan di dalam kelas dengan cara mendengarkan paparan
langsung dari dosen dan mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan
materi penyusunan makalah ini.
3. Metode Tanya Jawab
Metode ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan terhadap
materi yang kurang mengerti kepada dosen pengampu mata kuliah yang
bersangkutan.
4. Metode Brainstorming
Metode Brainstorming adalah teknik memberikan pendapat atau ide/gagasan
didalam suatu diskusi kelompok untuk ditanggapi (didukung, dilengkapi,
dikurangi, atau tidak disepakati) oleh anggota diskusi lain. Teknik ini hanya
untuk menghasilkan gagasan yang digunakan untuk mencoba mengatasi
segala hambatanm danm kritik. Kegiatan ini mendorong munculnya banyak
gagasan.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
5
BAB II

VISI INDONESIA 2020 DAN GLOBALISASI


A. Visi Indonesia 2020
Dalam upaya mewujudkan cita-cita reformasi untuk menyelesaikan
masalah bangsa dan negara, Majelis Permusyawaratan Rakyat R.I. No.
V/MPR/2001 tentang Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional menugasi
Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat R.I. untuk merumuskan Etika
Kehidupan Berbangsa dan Visi Indonesia Masa Depan. Untuk lebih menjelaskan
upaya pencapaian cita-cita luhur bangsa, perlu dirumuskan sebuah visi antara
yang disebut Visi Indonesia 2020. Visi Indonesia 2020 mencakup seluruh aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara dangan memperhatikan tantangan yang
dihadapi saat ini dan masa yang akan datang, serta memperhitungkan
kecenderungan terlaksananya secara terukur pada tahun 2020.

Adapun visi tersebut, yang sesuai dengan Ketetapan Majelis


Permusyawaratan Rakyat RI No.VII/MPR/2001 tanggal 9 November 2001
tentang Visi Indonesia Masa Depan, terdiri dari 3 visi sebagai berikut.

1. visi ideal, yaitu cita-cita luhur sebagaimana termaktub dalan Pembukaan


Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945;

2. visi antara yaitu visi Indonesia 2020 yang berlaku sampai dengan tahun
2020;

3. visi lima tahunan sebagaimana termaktub dalam Garis-garis Besar Haluan


Negera.

Visi Indonesia 2020 dirumuskan dengan maksud menjadi pedoman untuk


mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
6
Pembukaan Undang-undang Dasar Negara R.I. Tahun 1945. Visi Indonesia 2020
dirumuskan dengan tujuan agar menjadi sumber inspirasi, motivasi, kreativitas
serta arah kebijakan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara
sampai dengan tahun 2020.

Visi Indonesia 2020 adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang


religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri serta baik
dan bersih dalam penyelenggaraan negara.Untuk mengukur tingkat keberhasikan
perwujudan Visi Indonesia 2020 diperlukan indikator-indikator utama sebagai
berikut :

1. Religius
a. terwujudnya masyarakat yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia
sehingga ajaran agama, khususnya yang bersifat universal dan nilai-
nilai luhur budaya terutama kejujuran, dihayati dan diamalkan dalam
berilaku keseharian;
b. terwujudnya toleransi antar dan antara umat beragama;
c. terwujudnya penghormatan terhadap martabat kemanuasiaan.
2. Manusiawi
a. terwujudnya masyarakat yang menghargai nilai-nilai kemanuasiaan
yang adil dan beradab;
b. terwujudnya hubungan harmonis antar manusia Indonesia tanpa
membedakan latar belakang budaya, suku, ras, agama dan lain-lain;
c. berkembangnya dinamika kehidupan bermasyarakat ke arah
peningkatan harkat dan martabat manusia;
d. terwujudnya keseimbangan antara hak dan kewajiban dalam perilaku
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Bersatu
a. meningkatnya semangat persatuan dan kerukunan bangsa;

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
7
b. meningkatnya toleransi, kepedulian dan tanggung jawab sosial;
c. berkembangnya bidaya dan perilaku sportif serta menghargai dan
menerima perbedaan dalam kemajemukan;
d. berkembangnya semangat anti kekerasan;
e. berkembangnya dialog secara wajar dan saling menghormati antar
kelompok dalam masyarakat.
4. Demokratis
a. terwujudnya keseimbangan kekuasaan antara lembaga penyelenggara
negara dan hubungan kekuasaan antara pemerintahan nasional dan
daerah;
b. menguatnya partisipasi politik sebagai perwujudan kedaulatan rakyat
melalui pemilihan umum jujur, adil dan langsung, umum, bebas dan
rahasia, efektifitas peran dan fungsi partai politik dan kontrol sosial
masyarakat yang semakin meluas;
c. berkembangnya organisasi sosial, organisasi kemasyarakatan dan
organisasi politik yang bersifat tebuka;
d. terwujudnya mekanisme kontrol di dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara;
e. berkembangnya budaya demokrasi, transparasi, akuntabilitas, jujur,
sportif, menghargai perbedaan;
f. berkembangnya sistem kepemimpinan yang egaliter dan rasional.
5. Adil
a. tegaknya hukum yang berkeadilan tanpa diskriminasi;
b. terwujudnya institusi dan aparat hukum yang bersih dan profesional;
c. terwujudnya penegakan hak asasi manusia;
d. terwujudnya keadilan gender;
e. terwujudnya budaya penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum;

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
8
f. terwujudnya keadilan dalam distribusi pendapatan, sumberdaya
ekonomi dan penguasaan aset ekonomi, serta hilangnya praktek
monopoli;
g. tersedianya peluang yang lebih besar bagi kelompok ekonomi kecil,
penduduk miskin dan tertinggal.
6. Sejahtera
a. meluasnya kesempatan kerja dan meningkatnya pendapatan penduduk
sehingga bangsa Indonesia menjadi sejahtera dan mandiri;
b. meningkatnya angka partisipasi murni anak usia sekolah;
c. terpenuhinya sistem pelayanan umum, bagi seluruh lapiran masyarakat
termasuk pelayanan kepada penyandang cacat dan usia lanjut, seperti
pelayanan transportasi, komunikasi, penyediaan energi dan air bersih;
d. tercapainya hak atas hidup sehat bagi seluruh lapiran masyarakat
melalui sistem kesehatan yang dapat menjamin terlindunginya
masyarakat dari berbagai resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
dan tersediannya pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan
merata;
e. meningkatnya indeks pengembangan manusia (human development
index), yang menggambarkan keadaan ekonomi, pendidikan dan
kesehatan secara terpadu;
f. terwujudnya keamanan dan rasa aman dalam masyarakat.
7. Maju
a. meningkatnya kemampuan bangsa dalam pergaulan antar bangsa;
b. meningkatknya kualitas SDM sehingga mampu bekerja sama dan
bersaing dalam era global;
c. meningkatnya kualitas pendidikan sehingga menghasilkan tenaga;
d. meningkatkan disiplin dan etos kerja;
e. meningkatnya penguasaan ilmu pengetahuan dan pengembangan
teknologi serta pembudayaannya dalam masyarakat;

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
9
f. teraktualisasikannya keragaman budaya Indonesia.

8. Mandiri
a. memiliki kemampuan dan ketangguhan dalam menyelenggarakan
kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah-tengah pergaulan antar
bangsa agar sejajar dengan bangsa-banga lain;
b. terwujudnya politik luar negari yang berkepribadian dan bebas aktif;
c. terwujudnya ekonomi Indonesia yuang bertumpu pada kemampuan
serta potensi bangsa dan negara termasuk menyelesaikan hutang lua
negari;
d. memiliki keprribadian bangsa dan identitas budaya Indonesia yang
berakar dari potensi budaya daerah.
9. Baik dan Bersih dalam penyelenggaraan Negara.
a. terwujudnya penyelenggaraan negara yang profesional, transparan,
akuntabel, memiliki kreadibilitas dan bebas KKN;
b. terbentuknya penyelenggaraan negara yang peka dan tanggap terhadap
kepentingan dan aspirasi rakyat di seluruh eilayah negara termasuk
derah terpencil dan perbatasan;
c. berkembangnya transparansi dalam budaya dan perilaku serta aktivitas
politik dan pemerintah.

 Dalam mewujudkan Visi Indonesia 2020, bangsa dan negara menghadapi


tantangan keadaan dan perubahan saat ini dan masa depan, baik dari dalam
maupun luar negeri, yaitu sebagai berikut.

1. Pemantapan persatuan bangsa dan kesatuan negera.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
10
Kemajuan suku, ras, agama dan budaya merupakan kekayaan bangsa
yang harus diterima dan dihormati. Pengelolaan kemajemukan bangsa
secara baik merupakan tantangan dalam mempertahankan integrasi dan
intergritas bangsa. Penyebaran penduduk yang tidak merata dan
pengelolaan otonomi daerah yang menggunakan konsep negara kepulauan
sesuai dengan Wawasan Nusantara merupakan tantangan pembangunan
daerah dalam lingkup Negara Kesatuan R.I. Disamping itu pengaruh
globalisasi juga merupakan tantangan bagi pemantapan persatuan bangsa
dan kesatuan negara.

2. Sistem hukum yang adil

Semua warga negara berkedudukan sama di depan hukum dan berhak


mendapatkan keadilan. Hukum ditegakkan untuk keadilan dan bukan untuk
kepentingan kekuasaan ataupun kelompok kepentingan tertentu. Tantangan
untuk menegakkan keadilan adalah terwujudnya aturan hukum yang adil
serta institusi hukum dan aparat penegak hukum yang jujur, profesional,
dan tidak terpengaruh oleh penguasa. Supremasi hukum ditegakkan untuk
menjamin kepastian hukum, keadilan dan pembelaan hak asasi manusia.

3. Sistem politik yang demokratis

Tantangan sistem politik yang demokratis adalah terwujudnya


kedaulatan di tangan rakyat, partisipasi rakyat yang tinggi dalam kehidupan
politik, partai politik yang aspiratif dan efektif, pemilihan umum yang
berkualitas. Sistem politik yang demokratis ditopang oleh budaya politik
yang sehat, yaitu sportivitas, menghargai perbedaan, santun dalam perilaku,
mengutamakan kedamaian dan anti kekerasan dalam berbagai bentuk.
Semua itu diharapkan melahirkan kepemimpinan nasional yang demikratis,
kuat dan efektif.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
11
4. Sistem ekonomi yang adil dan produktif

Tantangan sistem ekonomu yang adil dan produktif adalah


terwujudnya ekonomi yang berpihak pada rakyat serta terjaminnya sistem
insentif ekonomi yang adil dan mandiri. Sistem ekonomi tersebut berbasis
pada kegiatan rakyat yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal
dan berkesinambungan terutama yang bersumber dari pertanian, kehutanan
dan kalautan. Untuk merealisasikan sistem ekonomi tersebut diperlukan
sumber daya manusia yang kompeten dan mekanisme ekonomi yang
menyerap tenaga kerja. Di samping itu negara mengembangkan ekonomi
dengan mengolah sumber daya alam dan industri lainnya termasuk industri
jasa.

5. Sistem sosial budaya yang beradab

Tantangan terwujudnya sistem sosial yang beradab adalah terpelihara


dan teraktualisasinya nilai-nilai universal yang diajarkan setiap agama dan
nilai-nilai lihur budaya bangsa sehingga terwujud kebebasan untuk
berekspresi dalam rangka pencerahan, penghayatan dan pengamalan agama
serta keragaman budaya. Sisterm sosial yang beradab mengutamakan
terwujudnya masyarakatn yang mempunyai rasa saling percaya dan saling
penyayangi, baik terhadap sesama masyarakat maupun antara masyarakat
dengan institusi publik. Peningkatan kualitas kehidupan masyarakat
mencakup peningkatan mutu pendidikan penghasilan rakyat, rasa aman dan
unsur-unsur kesejahteraan rakyat lainnya.

6. Sumber daya manusia yang bermutu

Tangangan dalam pengembangan sumber daya manusia bermutu


adalah terwujudnya sistem pendidikan yang berkualitas yang mampu

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
12
melahirkan sumber daya manusia yang andal dan berakhlak mulia, yang
mampu bekerja sama dan bersaing di era globalisasi dengan tetap
mencintai tanah air. Sumber daya manusia yang bermutu tersebut memiliki
keimanan dan ketakwaan serta menguasai ilmu, pengetahuan dan
teknologi, memiliki etos kerja dan mampu membangun budaya kerja yang
produktif dan berkepribadian.

7. Globalisasi

Tantangan menghadapi globalisasi adalah mempertahankan


eksistensi dan intergritas bangsa dan negara serta memanfaatkan epluang
untuk memajuan bangsa dan negara. Untuk menghadapi globalisasi
diperlukan kemampuan sumber daya manusia dan kelembagaan, baik di
sektor negara maupun di sektor swasta.

Indonesia sebagai negara berkembang, yang mengalami krisis multidimensi


dalam tiga tahun terakhir ini, termasuk kelompok negara kedua tersebut banyak
dipertanyakan para ahli ekonomi dan ahli ekonomi-politik (political economy)
mengenai kemampuan untuk bersaing dalam perdagangan bebas. Dalam
hubungan ini, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: “Apakah Indonesia
benar-benar siap dan mampu memperoleh manfaat dari perdagangan bebas
tersebut?” Ataukah sebaliknya, Indonesia justru akan menjadi sasaran yang
mudah bagi negara-negara lain untuk menguasai ekonomi Indonesia melalui
kegiatan perdagangan bebasnya.
Di lingkungan ASEAN sendiri, ada visi 2020 yang disusun pada pertemuan
informal para Kepala Negara ASEAN di Kuala Lumpur tanggal 15 Desember
1997 yang kemudian ditindak lanjuti dengan pertemuan di Hanoi yang
menghasilkan Hanoi Plan of Action (HPA). Visi 2020 termasuk Hanoi Plan of
Action tersebut berisi antara lain: kondisi yang ingin diwujudkan di beberapa

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
13
bidang, seperti orientasi ke luar, hidup berdampingan secara damai dan
menciptakan perdamian internasional. Beberapa agenda kegiatan yang akan
dilaksanakan untuk merealisasikan Visi 2020 adalah dengan meningkatkan
kualitas sumber daya manusia, ekonomi, lingkungan hidup, sosial, teknologi, hak
cipta intelektual, keamanan dan perdamaian, serta turisme melalui serangkaian
aksi bersama dalam bentuk hubungan kerjasama yang baik dan saling
menguntungkan (win and win solution atau non zero-sum game). Semua anggota
ASEAN, termasuk Indonesia, terikat pada ASEAN Vision 2020: Hanoi Plan of
Action yang berisi serangkaian rencana tindak (Action Plan) untuk mewujudkan
ASEAN (negara-negara ASEAN) yang maju tersebut pada tahun 2020. Kembali
pada pertanyaan dalam paragraf sebelumnya, “Apakah Indonesia siap berperan
aktif untuk mewujudkan Visi 2020 tersebut?” Agar dapat berperan aktif, maka
kondisi sosial dan ekonomi Indonesia pun harus sesuai dengan rencana tindak
ASEAN 2020 (Hanoi Plan of Action). Selain itu, kesiapan Indonesia tersebut
tidak hanya dikaitkan dengan ASEAN Vision 2020 tetapi juga dalam
menghadapi APEC dan WTO serta rezim-rezim ekonomi-politik internasional
dan regional lainnya.

1.1 Visi Dan Tujuan Pembangunan Bangsa Indonesia


Menurut TAP MPR RI No. VII/MPR/2009 tanggal 9 November 2001, visi
adalah wawasan ke dapan yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu. Visi
bersifat kearifan intuitif yang menyentuh hati dan menggerakkan jiwa untuk
berbuat. Visi tersebut merupakan sumber inspirasi, motivasi dan kreativitas yang
mengarahkan proses penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara
menuju masa depan yang dicita- citakan. Penyelenggaraan kehidupan berbangsa
dan bernegara diorientasikan ke arah perwujudan visi tersebut karena pada
hakekatnya hal itu merupakan penegasan cita-cita bersama seluruh rakyat. Bagi
bangsa Indonesia, Visi Indonesia didasari dan diilhami oleh cita-cita luhur yang

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
14
telah digariskan para pendiri negara sebagaimana termaktub dalam Pembukaan
Undang- undang Dasar Negara R.I. Tahun 1945.
Visi Indonesia 2020 menurut TAP MPR RI No.VII/MPR/2001 tanggal 9
November 2001 adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang religius,
manusiawi, bersatu, demokratis, adil, sejahtera, maju, mandiri, serta baik dan
bersih dalam penyelenggaraan negara.

1.2. Perkembangan Global

Era globalisasi yang ditandai dengan liberalisasi perdagangan dan investasi


sudah tidak dapat dibendung lagi. Berbagai negara, baik negara maju maupun
negara berkembang, sudah mulai bersiap-siap menghadapi situasi yang disebut
sebagai The Boderless World oleh futurolog Keniche Ohmae. Kecenderungan ini
mengakibatkan pasar menjadi berkembang begitu bebas tanpa ada satu orang pun
yang dapat memastikan apa yang akan terjadi. Sebagai implikasi langsung,
perkembangan global yang demikian akan mempengaruhi perekonomian
Indonesia dalam jangka panjang dan mengingat sifat perekonomian Indonesia
yang semakin terbuka. Dengan berbagai perkembangan global terakhir, dapat
dikatakan bahwa 20 – 30 tahun ke depan akan merupakan masa-masa yang
bergejolak. Perekonomian dunia akan mengalami perubahan yang dahsyat yang
didorong oleh teknologi dan globalisasi. Setiap negara dipaksa untuk melakukan
perubahan basis keunggulan kompetitifnya. Dengan demikian, suatu negara
dapat memanfaatkan perubahan-perubahan tersebut apabila kebijakan jangka
panjangnya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan nasional. Untuk itu,
rencana perspektif jangka panjang perlu disusun berdasarkan kemungkinan
pembangunan di dalam lingkungan internal dan eksternal. Selanjutnya, upaya
perwujudan sasaran tersebut harus diarahkan kepada perkembangan global pada
tahun 2020 sebagaimana diidentifikasaikan di bawah ini.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
15
1.3 Ekonomi Global dan Geopolitik
Kekuatan globalisasi dan revolusi teknologi (terutama telematika) akan
menyatu, dan pada tahun 2020 interdependensi perekonomian dunia akan
menjadi lebih nyata. Akan tetapi, kecenderungan terhadap sistem otokrasi tetap
tidak akan pudar.
Akan terbentuk regionalisasi dari ekonomi global dengan peningkatan
keterkaitan antara perdagangan antar regional dan keuangan. Negara-negara
Eropah akan mendekati bentuk negara Eropah Serikat (The United States of
Europe), demikian juga negara-negara Amerika Latin, negara-negara Asia Timur
dan Tenggara. Negara- negara Afrika akan lebih meningkatkan kerjasama antar
mereka, namun akan tetap terpisah-pisah ke dalam beberapa bagian dalam kurun
waktu 20-30 tahun mendatang, walaupun secara formal telah diumumkan adanya
transformasi dari Organisasi Persatuan Afrika ke Uni Afrika.
Kekuatan regionalisasi akan memperlambat langkah penciptaan
perekonomian dunia tanpa batas apabila terbentuknya serikat-serikat tersebut di
atas didorong oleh keinginan untuk melindungi negara-negara anggota dari
negara-negara bukan anggota. Dalam 20 atau 30 tahun mendatang, perekonomian
dunia akan menjadi tiga pilar, yakni: Amerika Serikat termasuk negara-negara
Amerika lainnya, Uni Eropa, dan kawasan Asia-Pasifik (termasuk Cina dan
India). Perdagangan antar regional akan menjadi lebih penting pada fase ini.
Meningkatnya ekonomi regional akan meningkatkan mobilitas tenaga
kerja. Mobilitas tersebut akan berdampak pada budaya dan hubungan antar ras,
juga akan menjadi pemicu potensial terjadinya konflik antar etnis dan
peningkatan munculnya kelompok-kelompok ekstrim tertentu.
Dampak negatif dari globalisasi dan revolusi telematika, seperti
ketimpangan regional dan antar penduduk, krisis identitas, urbanisasi yang tidak
berkesinambungan dapat memperburuk keadaan dalam 20 atau 30 tahun
mendatang. Munculnya konsep kesejahteraan makro dan kesengsaraan mikro
akan memperburuk isu-isu yang berkaitan dengan bidang sosial. Hal ini

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
16
mendorong terjadinya peningkatan konflik sosial, lebih memunculkan
pertentangan antar warga, baik dalam intern negara maupun antar negara di
dalam satu kawasan.
Terjadi perubahan perjanjian keamanan global. Amerika Serikat akan
berkonsentrasi pada benua Amerika dan beberapa strategi lainnya dalam
perjanjian-perjanjian keamanan regional. Sedangkan negara-negara Eropa dan
Asia akan memainkan peranan yang besar dalam wilayahnya sendiri sebagai
tanggapan atas budaya regional dari terjadinya konflik antar etnis dan sosial.
Rusia tetap keberatan terhadap langkah Amerika Serikat untuk memiliki
peluru ken- dali pertahanan. Konsekuensi geopolitik terhadap keakraban antara
Sino-Rusia dan Korea Utara tidak begitu jelas. Akan tetapi, keterlibatan Rusia
dalam perkumpulan negara-negara kaya (G-8), dan peningkatan peran Cina
dalam perdagangan internasional dapat mencegah terjadinya pertentangan ras
yang luas. Namun, kemungkinan poros ekonomi baru antara Rusia, Cina dan
Korea Utara akan muncul.Kawasan Timur Tengah tidak dapat terus-menerus
berperang.
Isu-isu HAM dan lingkungan hidup akan meningkat dan akan semakin
menarik.

1.4 Ekonomi Regional dan Geopolitik


Apabila Asia tumbuh pada tingkat yang diproyeksikan sebelum terjadinya
krisis pada tahun 1997-1998, maka pada tahun 2025, kontribusi Asia dalam
pendapatan dunia, yang dinyatakan dalam satuan purchasing power parity, akan
meningkat sekitar 57 persen. Namun sementara itu, kemampuan negara-negara
Asia yang kaya untuk mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara industri
maju masih tergolong lambat. Negara-negara maju Asia akan menghadapi
peningkatan persaingan dari negara- negara baru. Perdagangan antar regional
diramalkan berlipat ganda.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
17
Cina diramalkan akan menjadi negara dengan perekonomian yang terkuat
pada tahun 2020, menjadi negara yang lebih terbuka, berorientasi pasar dan
mungkin akan lebih demokratis. Dengan otonomi regional, Taiwan mungkin
akan menjadi bagian dari kebesaran Cina.
India diharapkan akan menjadi raksasa ekonomi. Ekspor akan memainkan
peranan yang vital di India dan pertumbuhan Cina, keduanya diharapkan akan
bergantung kepada pertumbuhan pasar internal masing-masing pada tingkat yang
lebih besar dibandingkan Jepang atau Macan-macan Asia lainnya. Baik India dan
Cina akan menjadi negara tujuan utama bagi PMA (Foreign Direct Investment).
Dengan melejitnya Cina dan India, peranan Jepang sebagai motor
pertumbuhan regional akan berkurang. Unifikasi Korea dalam 10 atau 20 tahun
mendatang mungkin terwujud. Hal ini akan menghilangkan ancaman keamanan
regional yang mungkin akan membawa kepada revisi yang signifikan dari
kebijakan Amerika Serikat terhadap kawasan ini.
Sementara itu, negara ASEAN diharapkan akan semakin meluas dan
mendalam. India mungkin akan menjadi anggota baru ASEAN dan hubungannya
dengan Cina mungkin akan semakin mendalam pula. Konflik Kashmir dan
konflik etnis di Sri Lanka mungkin akan terselesaikan dalam kurun waktu 10
atau 15 tahun mendatang. Hal ini mungkin akan mengakibatkan blok
perdagangan regional SAARC akan berkembang menjadi beberapa uni ekonomi.

1.5. Peranan Negara


Kebebasan bertindak pemerintahan nasional suatu negara akan berkurang
sebagai akibat dari adanya pengaruh kekuatan-kekuatan komersial (keuangan
internasional dan multinasional) dan lembaga-lembaga supra-nasional (Bank
Dunia, IMF, dll). Peran negara diharapkan dapat ditingkatkan melalui
pengembangan seperangkat peraturan yang mengutamakan prinsip kehati-hatian
dan pengembangan kelembagaan.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
18
Ada keyakinan tentang akan munculnya merkantilisme baru, yakni, akan
banyak negara yang meningkatkan perhatiannya pada teknologi intensif yang
canggih untuk bidang pabrikan. Hal ini dapat dilaksanakan melalui
pengembangan strategi kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta, termasuk
universitas dan lembaga- lembaga penelitian lainnya.
Peran masyarakat madani dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan
pemerintah juga mungkin akan meningkat. Kemajuan telematika akan
menyebabkan peningkatan demokrasi langsung atau partisipasi yang
dilaksanakan melalui referendum.

1.6. Masyarakat dan Ekonomi


Dalam 10 sampai 20 tahun mendatang, peningkatan kehancuran bidang-
bidang kreatif meningkat tajam. Hal ini tampak jelas dari jatuh-bangunnya
perusahaan-perusahaan dot.com. Sejumlah skenario (baik positif maupun negatif)
akan muncul, yaitu:
 Skenario negatif:
a. Akan ada sejumlah pergerakan sosial yang berlangsung tanpa henti
dimana setiap pergerakan sosial itu akan berusaha mengejar agendanya masing-
masing. Hal ini akan memperlemah posisi negara melalui kegiatan anarki.
b. Akan ada kemunduran mendasar dan meningkatnya konflik sosial/etnis.
c. Tekanan-tekanan tersebut akan mengikis dukungan sosial,
mengakibatkan pihak- pihak yang dirugikan akan kekurangan alternatif lainnya.
d. Tingginya ketidakpastian dalam pekerjaan yang muncul karena adanya
tekanan- tekanan ekonomi dari globalisasi dan persaingan.
 Skenario positif:
a. Perekonomian yang berlandaskan pada ilmu pengetahuan akan menjadi
lebih kooperatif dibandingkan dengan kompetitif atau konfrontasi. Kemungkinan
ini muncul dari fakta bahwa ilmu pengetahuan secara alamiah adalah barang

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
19
publik dan tanpa pesaing. Nilai dari ilmu pengetahuan tersebut akan meningkat
apabila dibagikan.
b. Perilaku perusahaan yang kooperatif akan mengurangi ketidakpastian
pekerjaan dimana suatu perusahaan tidak dapat bersaing hanya dengan
memangkas biaya karyawannya. Akan tetapi, perusahaan akan meningkatkan
kemampuan daya saingnya melalui peningkatan produktivitas dengan
penggunaan telematika dan hubungan industrial yang kooperatif.
c. Kegiatan masyarakat madani dan kemungkinan partisipasi aktif
masyarakat melalui referendum sebagai akibat kemajuan telematika akan
meningkatkan penyelenggaraan perusahaan dan negara yang baik.
 Skenario konsekuensi yang tidak diketahui:
a. Kekuatan dari media digital yang canggih akan menyerap budaya
popular untuk mengubah persepsi dan pikiran manusia dalam skala besar.
b. Peningkatan yang besar dalam konsumsi global, termasuk waktu luang,
mengakibatkan transformasi besar dalam kegiatan-kegiatan sosial dan ekonomi
menjadi dapat lebih terorganisasikan.
c. Masyarakat mungkin akan mengutamakan kehidupan yang mudah dan
berkualitas pada keluarga dan komunitasnya. Konsep keluarga mungkin akan
berubah dimana akan lebih banyak yang hidup berdasarkan pada hukum secara
defacto, namun tidak memiliki hubungan yang langgeng.
Secara keseluruhan, akan ada peningkatan stress karena adanya kekuatan-
kekuatan revolusioner dari telematika dan globalisasi, serta pasar bebas. Hal ini
akan menjadi gangguan sosial yang potensial sampai suatu ideologi baru
mengenai sistem sosial dan ekonomi untuk abad ke-21 tercipta.
 Organisasi Perusahaan dan Industrial
1. Akan ada penurunan dalam produksi massal. Perusahaan-perusahaan
akan lebih memfokuskan pada pasar-pasar kecil dan produk-produk yang dapat
dihasilkan dalam waktu singkat. Ukuran perusahaan akan menjadi kecil, namun

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
20
cepat tanggap dalam mengantisipasi perubahan cepat yang terjadi seperti
misalnya dalam cita rasa dan pembagian saham. Perusahaan-perusahaan besar
akan mengurangi anak-anak perusahaannya yang tidak terkait dengan bisnis
utamanya.
2. Menghilangnya sistem perekonomian yang berdasarkan perintah, gaya
manajemen hirarki suatu perusahaan akan berkurang. Sebaliknya Keterlibatan
langsung karyawan dalam produksi akan meningkatkan desain dan metode
produksi.
3. Perusahaan-perusahaan yang memiliki kategori industri yang besar akan
berkelompok melalui strategi kerjasama dengan perusahaan-perusahaan sejenis
lainnya.
4. Perusahaan-perusahaan akan semakin tergantung kepada tenaga kerja
yang fleksibel dan yang memiliki kemampuan.
5. Perusahaan-perusahaan akan berada dalam tekanan yang meningkat
terhadap pilihan antara memaksimalkan keuntungan atau tingkat pengembalian
kepada para pemegang sahamnya, dan juga harus melayani beragam kepentingan
para pihak terkait lainnya (stakeholders), yaitu: karyawan, pelanggan, masyarakat
lokal, penyalur, dan pedagang (dealers).
6. Meningkatnya partisipasi wanita dalam tenaga kerja, maka perusahaan-
perusahaan harus mampu menciptakan lingkungan kerja nyaman serta sistem
hubungan industrial yang memungkinkan karyawannya menggabungkan antara
keluarga dan pekerjaan.
1.7. Perkembangan Regional
Perkembangan terakhir negara-negara ASEAN di Asia Tenggara sebagian
besar telah dapat menanggulangi krisis ekonomi dan keuangan yang melanda
mereka di tahun 1997 dan 1998, kecuali Indonesia. Berikut ini akan diulas
perkembangan terakhir ASEAN yang dibagi ke dalam lima pokok bahasan;
yaitu:
1. Dialog Politik dan Keamanan;

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
21
2. Integrasi dan Kerja Sama Ekonomi;
3. Pembangunan Sosial dan Sumber Daya Manusia;
4. Masalah-masalah Transnasional; serta
5. Hubungan Eksternal ASEAN.
Dialog Politik dan Keamanan: Berkaitan dengan politik dan keamanan ini
telah dikembangkan Forum Regional ASEAN (FRA), FRA meliputi 10 negara
anggota ASEAN plus 10 negara partner dialog negara-negara ASEAN yaitu
Australia, Kanada, China, Masyarakat Eropa, India, Jepang, Korea Utara,
Selandia Baru, Rusia, Amerika Serikat, Papua Nugini; dan Mongolia. Seluruh
anggota ARF telah menyokong partisipasi Korea Utara sejak dimulainya
pertemuan ARF ke 7 yang diadakan pada 27 Juli 2000. ARF terus berlanjut
sebagai sebuah kekuatan untuk perdamaian dan stabilitas dalam wilayah Asia
Pasifik. ASEAN telah menegaskan kembali komitmennya untuk memperkuat
peranannya sebagai kekuatan pendorong utama dari proses ARF. ASEAN
diadakan di Manila bersama-sama dengan China, Jepang, dan Korea
mengeluarkan Pernyataan Bersama dan Kerjasama Negara-negara Asia Timur.
ASEAN mendukung pelaksanaan kebijakan Indonesia - Portugal berkaitan
dengan Timor Timur dan Kesepakatan antara PBB dan pemerintahan Indonesia
dan Portugal tanggal 5 Mei 1999 yang berkenaan dengan hubungan konsultasi
yang bersifat populer dari Timor Timur yang diadakan pada 30 Agustus 1999.
Beberapa anggota negara-negara ASEAN telah ikut andil dalam International
Force for East Timor (INTERFET) dan UN Transitional Adminsitration in East
Timor (UNTAET).
 Integrasi dan Kerjasama Ekonomi: difokuskan pada bidang-bidang:
- Perdagangan: Negara-negara anggota ASEAN setuju menghilangkan
segala macam hambatan impor pada tahun 2010, rencana awalnya adalah tahun
2015. Anggota asli (Brunei; Indonesia; Malaysia; Philipina; Singapore dan
Thailand) menandatangani persetujuan skim Common Effective Preferential

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
22
Tariff (CEPT) untuk AFTA. Anggota- anggota baru (Kamboja; Laos; Myanmar;
dan Vietnam) telah menyetujui untuk menghilangkan seluruh hambatan tarif
pada tahun 2015, dengan beberapa komoditi sensitif tetap mengikuti tanggal awal
yang telah ditetapkan yaitu 2018.
- Kepabeanan: Kerjasama kepabeanan di ASEAN ditujukan untuk
mengembangkan jasa kepabeanan yang setara dengan tingkat dunia dengan cara
memfasilitasi perdagangan dan investasi dalam kawasan ini.
- Jasa-jasa: ASEAN telah menyetujui seperangkat parameter untuk
menuntun liberalisasi dalam perdagangan jasa. Dalam jangka pendek (1999-
2001), ASEAN setuju untuk membuat komitmen dalam beberapa subsektor
dibawah General Agreement on Trade in Services (GATS) atau ASEAN
Framework Agreement on Services (AFAS).
- Hubungan Perdagangan Eksternal: ASEAN terus melakukan kajian untuk
melakukan perdagangan bebas dengan Australia dan Selandia Baru dalam bentuk
mekanisme AFTA-ANZCERTA. AFTA-CER-FTA akan menciptakan sebuah
pasar dengan mengkombinasikan GDP sebesar lebih dari US$ 1 trilliun; dan total
perdagangan sebesar US$ 740 miliar. Dengan kombinasi perdagangan ini
membuat ASEAN+Australia+Selandia Baru akan menjadi serikat perdagangan
ketiga yang terbesar setelah Masyarakat Eropa dan Amerika Serikat.
- Industri: Dibawah skema Kerjasama Industri ASEAN (ASEAN Industrial
Cooperation, AICO), produk terkait yang beroperasi dalam perusahaan-
perusahan pada anggota negara-negara ASEAN dengan segera akan menikmati
tariff hanya 0-5%. Dengan adanya kemajuan baru-baru dalam skim AICO ini,
termasuk melepaskan persyaratan 30% dari kepemilikan nasional untuk seluruh
perusahaan yang akan menjadi anggota AICO, yang diterima antara 1 January
1999 hingga 31 Desember 2000. Persetujuan dari pengelolaan AICO ini
diperkirakan akan menghasilkan US$ 534 miliar dalam transaksi perdagangan
dalam setiap tahunnya.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
23
- Investasi: ASEAN telah melaksanakan bentuk kesepakatan dalam ASEAN
Investment Area (AIA) yang telah ditandatangani tanggal 7 Oktober 1998 di
Manila. ASEAN telah menyelesaikan Temporary Exclusion List dan Sensitive
List untuk barang- barang manufaktur, dan akan membuat Temporary Exclusion
List dan Sensitive List tersebut untuk barang-barang pertanian; perikanan;
pertambangan dan kehutanan. Dalam upaya untuk mendukung promosi investasi;
ASEAN telah menerbitkan the first ASEAN Investment Report and "Investing in
ASEAN: A Guide for Foreign Investors” pada bulan November 1999. Selain itu,
ASEAN juga mempublikasikan peta lokasi investasi di ASEAN dan brosur
promosi investasi di kawasan ASEAN. Dalam rangka melakukan promosi
investasi ini, Misi Negara-negara ASEAN yang mengurusi investasi dikirim ke
Jepang; USA dan Eropa.
- e-ASEAN: ASEAN telah mengembangkan Gugus Tugas e-ASEAN, yang
terdiri dari perwakilan pemerintah dan swasta, dalam mekanisme kerjasama
untuk memfasilitasi perkembangan dari pasar elektronik di ASEAN. Mekanisme
ini memfokuskan untuk mendorong dan memfasilitasi pertumbuhan yang berasal
dari e- commerce. ASEAN berinisiatif melakukan konsultasi dengan sektor
swasta untuk menyelidiki rencana jangka pendek dan panjang untuk membangun
Infrastruktur Informasi ASEAN (IIA). Gugus tugas IIA ini memformulasikan
rencana-rencana untuk mempercepat pembangunan e-commerce didalam
masing-masing kawasan tersebut.
- Pembangunan Infrastruktur: Agenda dari pembangunan infrastruktur
ASEAN antara lain Jaringan Jalan Layang ASEAN (ASEAN Highway Network);
Hubungan Kereta antara Singapore-Kunning (the Singapore-Kunning Rail Link),
Jaringan Energi Antar Negara ASEAN (the trans-ASEAN energy network) yang
terdiri dari Jaringan Energi untuk negara-negara ASEAN (the ASEAN Power
Grid) dan Proyek Pipa Saluran antara negara-negara ASEAN (Trans-ASEAN
Pipeline Projects), dan Informasi Infrastruktur di negara-negara ASEAN
(ASEAN Information Infrastructure). Kerjasama dalam bidang ini ditentukan

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
24
oleh Rencana Mekanisme Tranportasi di antara negera-negara ASEAN (ASEAN
Transport Cooperation Framework Plan) di tahun 1999-2004 dan Rencana
Tindak untuk Kerjasama Energi untuk negara-negara ASEAN ( the ASEAN Plan
of Action for Energy Cooperation) di tahun 1999-2004.
 Pembangunan Sosial dan Sumber Daya Manusia:

- ASEAN berupaya terus untuk menempatkan prioritas yang tinggi dalam


kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi, perencanaan sumber daya manusia,
pendidikan, kesejahteran sosial, dan pemberantasan kemiskinan.

- lmu Pengetahuan dan Teknologi: ASEAN perlu mengadakan pengembangan


The ASEAN Science and Technology Information Network (ASTNET) sebagai
dari komponen e-ASEAN, dan perlu penguatan unit ilmu pengetahuan dan
teknologi pada Sekertariat ASEAN di Jakarta, Indonesia.
- Perencanaan Sumber Daya Manusia: Para menteri memperbaharui
komitmen dan penentuan untuk memperkuat bidang sosial ASEAN dengan
mempromosikan potensi penuh dan martabat pekerja; mengajukan masalah-
masalah penting berkaitan dengan ketenagakerjaan; dan memperhatikan masalah
integrasi ekonomi regional, perdagangan, liberalisasi, dan globalisasi.
-. Pemberantasan Kemiskinan: ASEAN mengidentifikasikan model terbaik
dari metodologi penilaian sosial; aturan perlindungan sosial; dan jaring
pengaman sosial diantara negara-negara ASEAN. Anggota ASEAN yang
menangani Rural Development and Poverty Eradication, telah mencatat
pentingnya meningkatkan kerjasama antara pemerintahan, masyarakat, swasta,
dan LSM dalam upaya untuk mengetengahkan isu- isu kemiskinan.
 Masalah-masalah Transnasional:

ASEAN perlu meningkatkan komitmen untuk maju dalam kerjasama ASEAN


berkaitan dengan masalah-masalah transnasional, antara lain: lingkungan;
kesewenang-wenangan; kriminal; obat-obatan dan narkotika.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
25
- Lingkungan: Untuk mendukung rencana Hanoi, ASEAN menggunakan
rencana strategi dalam lingkungan (SPAE) yang meliputi: (a). Masalah
Pembakaran Tanah dan Hutan; (b) Konservasi Sumberdaya Alam; (c)
Lingkungan Pesisir dan Kelautan; (d) Masalah-Masalah Lingkungan
Internasional; (e). Masalah-masalah Aktivitas Lingkungan Lainnya. Tahun
lingkungan ASEAN 2000 diluncurkan dengan tema: Our Heritage; Our Future
dengan tujuan: (a) Menaikkan kesadaran terhadap isu- isu lingkungan; (b)
Menciptakan informasi dan masyarakat yang sensitif terhadap lingkungan untuk
pencapaian tujuan dari pembangunan berkelanjutan; (c) Menyoroti kesuksesan
ASEAN dalam bidang lingkungan; (d) Mempromosikan hubungan antara
pemerintah dan swasta; dan selanjutnya mengaktifan keterlibatan kelompok-
kelompok besar dalam memprakarsai lingkungan.
- Transboundary Haze: Transboundary Haze Pollution yang muncul dari
kebakaran tanah dan hutan merupakan hal yang mencolok dan masalah yang
sangat menekan lingkungan di negara-negara anggota ASEAN. Timbulnya
kebakaran dalam sekala besar yang menyebabkan polusi sering dibentuk dengan
sengaja oleh petani kecil dan perusahaan pertanian besar.
- Transnational Crime: Anggota ASEAN berusaha melakukan kerja sama
dalam pemberantasan transnational crime yang semakin berkembang, bervariasi,
dan terorganisasi. Bentuk kerjsa samanya meliputi mengembangkan mekanisme
untuk tukar informasi; kerjasama dalam masalah perundangan dan hukum,
pengembangan kapasitas kelembagaan, pelatihan dan kerjasama ekstra regional.
- Obat-obatan dan Narkotika: Berkaitan dengan masalah obat-obatan dan
narkotika, anggota ASEAN sepakat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan;
antara lain: (a). Pelatihan dalam operasi pengelolaan dan pengawasan untuk para
pengawas; (b). Pelatihan manajemen keuangan untuk para pengawas; (c).
Mempertinggi kesadaran masyarakat; (d). Memberdayakan kaum muda untuk
anti terhadap obat terlarang dan penyalahgunaan zat-zat kimia; (e). Memajukan
aktivitas pengawasan obat terlarang dalam lingkungan kerja.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
26
 Hubungan Eksternal ASEAN Partner dialog ASEAN dengan
negara-negara lain yang telah dilaksanakan adalah:

Kerjasama dengan negara-negara di Asia Timur; Australia; Kanada; China;


Masyarakat Eropa; India; Jepang; Korea Utara; Selandia Baru; Rusia; dan
Amerika Serikat.

1.8. Keadaan Dan Perkembangan Ekonomi Nasional


Krisis ekonomi telah mengangkat ke permukaan beberapa kelemahan
penyelenggaraan perekonomian nasional. Berbagai distorsi yang terjadi pada
masa lalu telah melemahkan ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi
krisis, menimbulkan berbagai bentuk kesenjangan sosial, dan menghambat
kemampuan untuk mengatasi krisis dengan cepat. Kurang meratanya penyebaran
pelaksanaan pembangunan telah menimbulkan kesenjangan pertumbuhan antar
daerah, antara perkotaan dan perdesaan, antarkawasan seperti kawasan barat dan
kawasan timur Indonesia, maupun antargolongan masyarakat sehingga gejolak
sosial menjadi sangat mudah terjadi. Dengan berbagai langkah stabilisasi dan
reformasi ekonomi memasuki awal tahun 2000, perekonomian Indonesia dilanda
optimisme pemulihan ekonomi yang cukup tinggi. Proses pemulihan ekonomi
yang telah mulai nampak sejak triwulan III tahun 1999 terus berlangsung.
Pertumbuhan ekonomi membantu menciptakan lapangan kerja bagi
tambahan angkatan kerja dan pengangguran terbuka. Meskipun demikian
pertumbuhan ekonomi belum didukung oleh pulihnya kepercayaan masyarakat.
Sejumlah permasalahan mendasar dan faktor ketidakpastian masih berlanjut dan
menjadi kendala bagi proses pemulihan ekonomi yang lebih cepat dan
berkelanjutan. Dukungan investasi swasta masih terbatas, antara lain karena
gangguan keamanan dan ketertiban serta gejolak politik, ekspansi kredit
perbankan yang terbatas, dan kemajuan dalam proses restrukturisasi perusahaan
dan utang luar negeri swasta yang belum secepat yang diharapkan. Di samping
itu, ancaman terhadap kesinambungan anggaran negara (fiscal sustainability)

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
27
menambah unsur ketidakpastian terhadap stabilitas ekonomi. Berbagai
permasalahan mendasar dan ketidakpastian tersebut meningkatkan tekanan
terhadap nilai tukar Rupiah dan laju inflasi.
Sebagai negara berkembang yang berpendapatan menengah bawah,
Indonesia mau tidak mau harus mengejar berbagai ketertinggalan untuk berperan
aktif dalam globalisasi perdagangan yang selanjutnya mampu tampil bersaing
dengan negara lain. Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai perjanjian
internasional seperti ASEAN, WTO, dan APEC merupakan salah satu wujud
komitmen terhadap peran aktif dalam perkebangan dunia. Untuk itu dibutuhkan
kesiapan menghadapi pelaksanaan kesepakatan-kesepakatan internasional
tersebut, sehingga dapat mengambil manfaat dari peluang yang ada dan
menhindari dampak negatif dari globalisasi.
Sejauh ini dirasakan kesiapan Indonesia sangat tertinggal dibanding negara
pesaing utama di kawasan regional. Beberapa indikator yang menggambarkan
masih rendahnya daya saing Indonesia adalah dari hasil survey World
Competitiveness Report 2001 yang dilakukan oleh World Economic Forum
(WEF) menyebutkan bahwa Indoneisa diantara 75 negara menduduki peringkat
ke 64 Indesks Daya saing Pertumbuhan (Growth Competitiveness Index/GCI).
Sementara itu, berdasarkan Indeks daya saing terkini (Current Competitiveness
Index/CCI) menduduki peringkat ke 55. Dibandingkan dengan enam negara
ASEAN, pada tahun 2001, Indonesia menduduki peringkat ke 6 untuk GCI dan
peringkat ke 5 untuk CCI. Disamping itu, kalau dilihat dari negara-negara
anggota APEC yang disurvey WEF tersebut, diantara 19 negara anggota APEC,
Indonesia menempati peringkat 19 untuk GCI dan peringkat ke 16 untuk CCI.
Hal tersebut menunjukkan bahwa saat ini daya saing Indonesia sangat rendah.
Selain itu, dalam hal kemampuan teknologi, kapasitas lembaga-lembaga
publik termasuk transparansi, KKN dan koordinasi kelembagaan, situasi
ekonomi makro, daya dukung infrastruktur fisik, kapasitas corporate governance
dan kepastian hukum serta usaha maka kemampuan Indonesia relatif rendah.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
28
Hanya dalam hal tarif , Indonesia cukup rendah dan kompetitif dibanding dengan
engara ASEAN lainnya.
Dengan menggunakan alat analisis Computable General Equilibrium maka
diperoleh hasil kuantitatif dari dampak kerjasama ekonomi bilateral dan regional
masing- masing negara, termasuk Indonesia. Kerjasama bilateral dan regional ini
adalah sebagai berikut: (1) Kerja sama ekonomi antara Jepang dengan 4 negara
ASEAN (JAS); (2) Kerja sama ekonomi antara Jepang dengan NAFTA (JN); (3)
Kerja sama Jepang dengan Singapura (JS) yang merupakan partner dagang
terbesar ke 2 dan 3 Indonesia saat ini; (4) Kerja sama ekonomi antara Jepang,
Singapura, Korea, Cina termasuk Hongkong (JSKC), (5) Kerja sama ekonomi
antara Jepang, Singapura, Korea, China termasuk Hongkong dan NAFTA
(JSKCN), (6) Kerja sama ekonomi Jepang, Singapura, Korea, China termasuk
Hongkong, 4 negara anggota ASEAN (JSKCAS); AFTA; APEC. Hasil dari
simulasi menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi membaik dengan adanya
kerja sama ekonomi dibandingkan dengan kerja sama bilateral. Sedangkan
pengaruh dari Free Trade Arragements (FTAs) terhadap pertumbuhan GDP,
memperlihatkan bahwa masing-masing negara dipengaruhi oleh terjadinya trade
diversion dan pengaruh secara berturutan terhadap akumulasi modal. Hasil dari
simulasi ini juga memperlihatkan bahwa dengan tidak ikut kerja sama ekonomi,
maka hal ini sangat tidak menguntungkan.

Dengan Visi Indonesia 2020 diharapkan secara bertahap akan dapat


mewujudkan cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat adil dan makmur
yang diberkati Tuhan Yang Maha Esa.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
29
B. Globalisasi

1.1 Pengaruh Globalisasi

Nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia dalam perjuangan fisik


merebut, untuk mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan telah mengalami
pasang surut sesuai dengan dinamika kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara. Hal itu disebabkan oleh pengaruh globalisasi yang membuka
sekat-sekat primordialisme dan nasionalisme menjadi transnasionalisme.

Globalisasi yang dipicu oleh Transportasi, Telekomunikasi, dan Trade


(3T). Transportasi/turisme telah memunculkan pasar/citra global,
telekomunikasi di bawah pengaruh televise, internet, musik, dan pers,
sedangkan trade berupa perjanjian dagang global. 3T telah membuat dunia
menjadi tanpa batas wilayah, kebudayaan, ekonomi, politik, keamanan
pertahanan, dan kepentingan karena negara-negara maju memasuki dan
memengaruhi wilayah negara-negara lain, terutama negara berkembang.
Kondisi ini akan memunculkan berbagai konflik kepentingan, baik antara
negara maju dan negara maju, negara maju dan negara berkembang, antara
negara berkembang dan negara berkembang.

Globalisasi dimungkinkan oleh adanya perkembangan iptek, terutama


bidang teknologi informatika yang sangat pesat sehingga dunia menjadi
sangat transparan. Tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang luput dari
pengamatan penduduk dunia. Kondisi ini menciptakan struktur baru dalam
berbangsa dan bernegara menjadi struktur kehidupan global yang mau tidak
mau akan berpengaruh dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak WNI.

Isu global yang meliputi demokratisasi, lingkungan hidup, dan hak asasi
manusia (HAM) membuat warga dunia mempunyai kepentingan yang sama

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
30
dan berbeda terhadap tiga hal tersebut. Warga dunia membentuk lembaga
internasional kampong global (Global Village), yaitu lembaga untuk
menangani masalah demokratisasi, lingkungan hidup, dan HAM yang terjadi
di dunia.

Globalisasi membuat warga dunia dihadapkan pada global paradox,


yaitu visi/misi/kondisi yang saling berlawanan di antara warga dunia.
Misalnya, antara budaya lokal dan budaya global, modern dan tradisional,
jangka pendek dan jangka panjang, kompetisi dan kesempatan, ledakan iptek
dan manusia, dan material dan spiritual, keakuratan dan kecepatan melawan
alon-alon asal kelakon. Perkembangan global paradox ini memunculkan
gerakan globalisasi, yaitu gerakan mendunia dengan mengangkat unsur lokal
atau etnis dari setiap daerah, bukan negara. Misalnya, Bali banyak diambil
sebagai komoditas global tanpa memperhitungkan Indonesia.

1.2. Perang Global/Perang Modern

Ancaman lain dalam globalisasi adalah perang modern sebagai upaya


pembelokkan jati diri bangsa. Perang, yang merupakan strategi negara yang
lebih besar untuk mempertahankan hegonominya, bukan lagi hanya menjadi
dominasi militer, tetapi juga melibatkan seluruh kekuatan bangsa. Perang
modern diartikan sebagai penguasaan sebuah negara (dalang) terhadap negara
(sasaran) melalui penetrasi dengan menciptakan dan memanfaatkan
kerawanan negara sasaran pada berbagai aspek kehidupan, dengan titik berat
penggunaan cara-cara nonfisik inkonvensional dan selanjutnya cara fisik
dengan menggerakkan kekuatan militer invasi bila opini menguntungkan
negara dalang.

Substansi perang modern dapat dilihat dari upaya dan taktis yang
dilakukan negara melalui cara-cara nonfisik, yakni merebut hati, pikiran, dan

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
31
kemauan rakyat negara sasaran, eksploitasi, menciptakan sel-sel perlawanan
di negara sasaran, perang urat syaraf, invasi militer. Jika pada tahap awal
negara sasaran telah kalah, tahap berikutnya tidak perlu lagi
dilakukan.Indikasi perang modern yang harus diwaspadai adalah sebagai
berikut.

a. Perang dilaksanakan dengan cara nonmiliter yang berdampak pada


adanya provokasi dan opini negatif negara sasaran pada dunia
internasional.
b. Targetnya adalah seluruh sendi kehidupan.
Ideologi
Mengedepankan individualistik yang bertentangan dengan Pancasila,
Politik
Rivalitas kepentingan partai politik, benturan antar elit, ketidakpuasan
terhadap pimpinan,
Ekonomi
Rusaknya tatanan ekonomi akibat barang selundupan terutama produk
pertanian yang menghancurkan sandi ekonomi Indonesia yang agraris,
provokasi buruh, intervensi bantuan.
Sosial budaya
Pers bebas, narkoba, banjir informasi, kemiskinan, pengangguran; yang
hakekatnya menghancurkan generasi muda,
Hankam
Adu domba untuk melemahkan militer, embargo alat militer, ancaman
bom dan teroris.
c. Perubahan gaya hidup sebagai tujuan perang modern tampak dari
melemahnya budaya bangsa:
 Gaya hidup yang konsumtif,
 Kurang cinta terhadap produk bangsa sendiri,

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
32
 Gaya hidup malas dengan memenuhi kebutuhan secara instan dengan
berubahnya nilai sosial budaya melalui film, fashion, food, friction
(F4), dan
 Gaya hidup mewah yang melenakan sehingga kurang waspada.
d. Sasaran kultur dan struktur kehidupan bangsa dialihkan pada kultur dan
struktur negara dalang;
 Melalui HAM, menjadi kebebasan tanpa batas dan norma,
 Kesadaran demokrasi yang luas sering disalahartikan,
 Isu lingkungan hidup dengan alasan Asia Tenggara sebagai paru-paru
dunia dijadikan alasan dalam pengawasan kelestariannya,
 Ilmu pengetahuan dan teknologi, bangsa dibuat tergantung pada
bangsa dalang, menjadi sasaran cuci otak sehingga menyuburkan
indivualis dan materialis,
 Isu terorisme, sebagai negara yang warganya mayoritas Islam, negara
dalang mempunyai alasan untuk mengawasi Indonesia.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
33
BAB III
HAKEKAT DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN
KEWARGANEGARAAN
A. Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan adalah proses perubahan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak
ke arah yang dikehendaki. Konsep pendidikan di perguruan tinggi internasional
cenderung bersifat manusiawi, realistik, egaliter, demokratis, dan religious.
Pendekatan pendidikan, seperti yang dicetuskan dalam deklarasi UNESCO
(1998) bahwa pendidikan diwujudkan dalam pilar learning to know, learning to
do,learning to be, learning to live together. Hal ini sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional, yaitu mewujudkan pribadi anggota masyarakat madani yang
bercirikan demokratis, kepastian hukum, egaliter, penghargaan tinggi terhadap
human dignity, kemajuan budaya dan bangsa dalam suatu kesatuan, dan
religious.
Pendidikan (UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas) adalah suatu usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilih
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.
MPK adalah mata kuliah yang menjadi sumber nilai dan pedoman bagi
penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
34
mengembangkan kepribadiannya. MPK terdiri atas mata kuliah yang relevan
dengan tujuan pengayaan wawasan, pendalaman intensitas pemahaman dan
penghayatan MPK inti. Di perguruan tinggi, MPK merupakan mata kuliah wajib,
hal ini termaktub dalam Pasal 37/UU Sisdiknas (2003), yaitu kurikulum
pendidikan tinggi wajib memuat Pendidikan Agama, Pendidikan
Kewarganegaraan, dan Bahasa.
Hakekat Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan membekali dan
memantapkan mahasiswa dengan pengetahuan dan kemampuan dasar hubungan
warga negara Indonesia yang Pancasilais dengan negara dan sesama warga
negara. Dengan kemampuan dasar, diharapkan mahasiswa mampu menerapkan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, memiliki kepribadian yang
mantap, berpikir kritis, bersikap rasional, etis, estetis, dan dinamis; berpandangan
luas; bersikap demokratis dan berkeadaban.
B. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Kewarganegaraan
Visi
Menjadi sumber nilai dan pedoman penyelenggaraan dan pengembangan
program studi dalam mengantarkan mahasiswa memantapkan kepribadiannya
sebagai manusia Indonesia seutuhnya.
Misi
Membantu mahasiswa memantapkan kepribadiannya agar secara konsisten
mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila, rasa kebangsaan, dan cinta tanah
air sepanjang hayat dalam menguasai, menerapkan, dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni dengan rasa tanggung jawab.
Tujuan
1) Menguasai kemampuan berpikir, bersikap rasional, dan dinamis,
berpandangan luas sebagai manusia intelektual, serta mengantarkan
mahasiswa selaku WNI yang memiliki
 wawasan kesadaran bernegara untuk bela negara dengan perilaku cinta
tanah air,

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
35
 wawasan kebangsaan, kesadaran berbangsa demi ketahanan nasional,
dan
 pola pikir, sikap yang komprehensif integral pada seluruh aspek
kehidupan nasional.
2) Mendidik mahasiswa memiliki motivasi bahwa pendidikan
kewarganegaraan yang diberikan berkaitan erat dengan peranan dan
kedudukan serta kepentingan mereka sebagai individu, anggota keluarga,
anggota masyarakat, dan sebagai WNI yang terdidik serta bertekad dan
bersedia untuk mewujudkannya.
3) Memberikan pemahaman akan hubungan antara warga negara dan
negaranya, harus terus ditingkatkan agar mahasiswa dapat menjawab
tantangan masa depan sehingga memiliki etos bela negara dalam profesi
masing-masing. Perguruan tinggi sebagai institusi ilmiah juga harus dapat
mengembangkan ilmu dan teknologi (iptek) untuk mencetak kader
pemimpin bangsa yang diharapkan dapat berperan dalam pembangunan.
4) Memberikan pemahaman filosofi dan bahasan Wawasan Nusantara dan
Ketahanan Nasional.
C. Kompetensi Pendidikan Kewarganegaraan
Standar kompetensi yang wajib dikuasai mahasiswa ialah mampu berpikir
rasional, berpikir dewasa dan dinamis, berpandangan luas dan bersikap
demokratis yang berkeadaban sebagai warga negara Indonesia. Dengan berbekal
kemmapuan intelektual ini diharapkan mahasiswa mampu melaksanakan proses
belajar sepanjang hayat, menjadi ilmuwan dan profesional yang berkepribadian
dan menjunjung nilai-nilai falsafah bangsa dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Kompetensi dasar yang diharapkan: mahasiswa menjadi ilmuwan yang
memiliki rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air, demokratis yang berkeadaban
menjadi warga negara yang memiliki daya saing; berdisiplin, dan berpartisipasi

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
36
aktif dalam membangun kehidupan yang damai berdasarkan sistem nilai
Pancasila.
Pendidikan kewarganegaraan yang berhasil akan membuahkan sikap
mental yang cerdas, penuh rasa tanggung jawab dari peserta didik. Sikap tersebut
antara lain
a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghayati
nilai-nilai falsafah bangsa;
b. Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara;
c. Rasional, dinamis, dan sadar akan hak dan kewajiban sebagai WNI;
d. Bersifat profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara;
e. Aktif memanfaatkan IPTEK serta seni untuk kepentingan kemanusiaan,
bangsa, dan bernegara.
Tabel: Keterkaitan Kompetensi Profesi dan Kurikulum

Kompetensi Kurikulum Unesco Kurikulum Nasional


Pengetahuan Learning to know Keilmuwan dan Keterampilan (MKK)
dan Learning to do Keahlian Berkarya (MKB)
Keterampilan
Learning to be Perilaku Berkarya (MPK)
Perilaku
Pengembangan Kepribadian (MPK)
Learning to live Pengembangan Kepribadian (MPK)
Kompetensi
together Berkehidupan Bermasyarakat (MBB)

D. Penyelenggaraan Pendidikan Kewarganegaraan


1. Pendidikan Kewarganegaraan Formal

Ancaman yang dihadapi pada orde Reformasi lebih mengarahkan pada


tantangan nonfisik dan gejolak social yang diwujudkan dalam bentuk rela
Negara dalam berbagai aspek kehidupan, dan tidak terlepas dari pengaruh
lingkungan strategis dari luar maupun dalam, langsung maupun tidak

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
37
langsung. Untuk itulah bangsa Indonesia harus menyusun rumusan/konsep
bela Negara yang dikaitkan dengan lingkungan strategis yaitu pemahaman
tentang wilayah Negara yang berada dalam kesatuan dan persatuan,
pemahaman tentang ketahanan nasionnal dalam mempertahankan keutuhan
bangsa dan Negara Indonesia. Konsep bela Negara ini terdapat sejak 1973,
pada Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973 tentang Garis-garis Besar
Haluan Negara (GBHN), yaitu Wawasan Nusantara dan Ketahanan
Nasional.

Sesuai dengan perkembangan periode dan muatan Wawasan Nusantara


dan Ketahanan Nasional tersebut, semua produk hukum dalam sistem
pendidikan kewarganegaraan yang cenderung melibatkan kemampuan fisik
tidak berlaku lagi. Sebagai penggantinya ialah UU Nomor 20/1982 tentang
pokok-pokok pertahanan keamanan Negara, yang memunculkan
penyelenggaraan Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) di
lingkungan permukiman, pendidikan, dan pekerjaan. Dalam lingkungan
pendidikan, PPBN diberikan dalam bentuk mata pelajaran dari mulai tingkat
Taman Kanak-kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi. PPBN dalam UU
Nomor 2 tahun 1989 dan UU Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas) direlisasikan dalam kurikulum wajib
disemua jenjang dan jalur pendidikan dengan nama pendidikan
Kewarganegaraan.

Pendidikan kewarrganegaraan mulai diselenggarakan pada tahun


1973/1974 merupakan kurikulum nasional dalam bentuk pendidikan tahap
awal yang diselenggarakan ditingkat pendidikan dasar dan mencegah dan
tahap lanjut berbentuk Pendidikan Kewiraan di Pendidikan tinggi ( PT ).

Materi pendidikan ini juga berkembang sesuai dengan dinamika


kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai berikut :

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
38
a. Awal tahun 1979 bernama Pendidikan Kewiraan, materi disusun oleh
lembaga Pertahanan nasional ( Lemhannas ) dan Dirjen Dikti yang
berintikan wawasan nusantara, ketahanan nasional, politik dan strategi
nasional, politik dan strategi pertahanan keamanan, sistem keamanan
rakyat semesta.
b. Tahun 1985 terdapat penambahan materi, yaitu pengantar meliputi
pengetahuan pendidikan kewiraan dan hubungannya dengan mata kuliah
lain.
c. Tahun 1995 nama mata kuliah berubah menjadi Pendidikan
Kewarganegaraan, dengan materi yang kurang lebih sama.
d. Tahun 2001 terdapat tambahan materi, yaitu hak asasi manusia,
demokrasi, otonomi daerah, lingkungan hidup, bela Negara, wawasan
nusantara, ketahanan nasional, politik dan strategi nasional.
e. Tahun 2002 keputusan Dirjen Dikti nomor 38/DIKTI/Kep/2002, dengan
materi demokrasi, HAM, hak dan kewajiban warga negara, bela Negara,
otonomi daerah, wawasan nusantara, ketahanan nasional, politik dan
strategi nasional.
f. Tahun 2006 keputusan Dirjen Dikti nomor 43/DIKTI/Kep/2006, dengan
materi filsafat pancasila, identitas nasional, politik dan strategi,
demokrasi Indonesia, HAM, dan rule of law, hak dan kewajiban warga
Negara Indonesia, geopolitik Indonesia, geostragi Indonesia.

Arah mata kuliah pengembangan kepribadian adalah sebagai berikut :

a. Wawasan spiritual, sebagai landasan etik, moral, religious yang


mendasari pengembangan profesi.
b. Wawasan akademis sebagai sumber instrumen bagi pembaruan dan
pencerahan dalam rangka pengembangan sumbe daya manusia.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
39
c. Wawasan kebangsaan, yang menumbuhkan kesadaran nasionalisme
sehingga dalam pergaulan antar bangsa tetap mengedepankan jati diri
dan ideologinya sendiri.
d. Wawasan mondial, yang menyadarkan bahwa dalam proses dislektika
senantiasa berhadapan dengan perubahan yang yang harus dapat
dijadikan peluang untuk kerja.
2. Pendidikan Kewarganegaraan Non Formal
Yang dimaksud pendidikan nonformal ialah pendidikan di luar
persekolahan. Keikutsertaan setiap warga negara dalam pendidikan
kewarganegaran ini merupakan salah satu wujud dari hak dan kewajiban
dalam bela negara. Pendidikan tidak hanya di lingkup sekolah (formal) tetapi
mencakup lingkup yang lebih luas, misalnya juga di lingkungan masyarakat
dan pekerjaan. Masyarakat dapat berperan aktif menyumbangkan berbagai
pemikiran sesuai dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat selama
tidak bertentangan dengan Pancasila dan perundang-undangan yang berlaku.
Pendidikan ini bertujuan mewujudkan warga negara sadar bela negara,
cinta tanah air, sadar hak dan kewajiban, dan sadar mengembangkan jati diri
dan negara. Isi pendidikan meliputi nilai-nilai cinta tanah air, kesadaran
berbangsa dan bernegara, keyakinan ideologi Pancasila, nilai-nilai
demokrasi; HAM; dan lingkungan hidup, kerelaan berkorban untuk
masyarakat; bangsa; dan negara, dan kemampuan awal bela negara.
Pendidikan kewarganegaraan nonformal dapat diselenggarkan oleh
1) Pendidikan kedinasan oleh deparemen, nondepartemen, dalam rangka
rekrutmen dana tau kenaikan jabatan,
2) Pendidikan di lingkungan perusahaan (minimal memiliki 500 karyawan)
dalam rangka rekrutmen dan atau kenaikan jabatan,
3) Pendidikan lingkungan organisasi kemasyarakatan, kepramukaan, dan
partai politik yang berkaitan dengan pendidikan dasar kepemimpinan
maupun penjenjangan kader,

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
40
4) Pendidikan informal di lingkungan keluarga, masyarakat, dan lingkungan
kerja melalui kepamongan dalam sikap dan perilaku,
5) Pendidikan keagamaan, yang diselenggarakan oleh pemeluk agama
tertentu dalam menyikapi kemajemukan bangsa,
6) Pendidikan layanan khusus, pendidikan bagi peserta didik di daerah
terpencil, terbelakang, bencana alam dan sosial, dan tidak mampu dari
segi ekonomi, dan
7) Pewarganegaraan, pendidikan bagi orang asing untuk memperoleh
kewarganegaraan Republik Indonesia

BAB IV
PENUTUP

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
41
A. Kesimpulan
Pendidikan Kewarganegaraan mengajarkan bagaimana seseorang menjadi
warga negara yang lebih bertanggung jawab karena kewarganegaraan itu tidak
dapat diwariskan begitu saja melainkan harus dipelajari dan di alami oleh
masing-masing orang.Apalagi negara kita sedang menuju menjadi negara yang
demokratis, maka secara tidak langsung warga negaranya harus lebih aktif dan
partisipatif.Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa harus memepelajarinya, agar
kita bisa menjadi garda terdepan dalam melindungi negara. Garda kokoh yang
akan terus dan terus melindungi Negara walaupun akan banyak aral merintang di
depan.
Oleh sebab itulah mahasiswa harus mempelajari Pendidikan
Kewarganegaraan dan sangat penting manfaatnya, di masa depan harus segera
dilakukan perubahan secara mendasar konsep, orientasi, materi, metode dan
evaluasi pembelajarannya. Tujuannya adalah agar membangun kesadaran akan
hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan mampu menggunakan sebaik-
baiknya dengan cara demokratis dan juga terdidik.
B. Saran
Mungkin inilah yang diwacanakan pada penulisan kelompok ini meskipun
penulisan ini jauh dari sempurna minimal kita mengimplementasikan tulisan ini.
Masih banyak kesalahan dari penulisan kelompok kami, kami harap bisa
bermanfaat untuk kita semua dan kami juga butuh saran/kritikan agar bisa
menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik daripada masa sebelum,nya.
Kami juga mengucapkan terimakasih atas dosen pembimbing mata kuliah Bapak
Drs. Bambang Budi Utomo, M. Pd, yang telah memberi kami tugas kelompok
demi kebaikan diri kita sendiri dan untuk negara dan bangsa.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
42
DAFTAR PUSTAKA

Kaelan, Zubaidi Achmad. 2012. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan


Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.
Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat RI. 2001. “Visi Indonesia Masa Depan”.
http://www.kemendag.go.id/files/regulasi/2001/11/MPRVII.html. Diakses pada
tanggal 1 Oktober 2015.
Lemhannas RI. 2000. “Pendidikan Kewarganegaraan”. Diktat SUSCADOSWAR.
XLIV Lemhannas RI.
Mansoer, H. Hamdan. 2006. “Acuan Pembelajaran Mata Kuliah Pendidikan
Kewarganegaraan”. Makalah Pelatihan Dosen Kewarganegaraan. Jakarta:
Dirjen Dikti.
Rahayu , Minto. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan “Perjuangan Menghidupi Jati
Diri Bangsa”. Jakarta: Grasindo.
Lukum, Roni. Peran Idiologi Pancasila Dalam Kebijakan Politik Luar Negeri
Indonesia Sebagai Solusi Menghadapi Pengaruh Globalisasi. Universitas
Negeri Gorontalo.
Direktorat Neraca Pembayaran dan Kerjasama Ekonomi Internasional. Visi Indonesia
2020. http://www.bappenas.go.id. Diakses pada tanggal 29 September 2015.

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
43
LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Penyusunan Materi Diskusi Kelompok

Waktu Penyusunan
Materi September Oktober
I II III IV I II III IV
Latar Belakang 
Permasalahan dan Identifikasi

Masalah
Tujuan Diskusi Kelompok 
Metode Diskusi Kelompok 
Visi Indonesia 2020 
Pengaruh Globalisasi 
Perang Global 
Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan 
Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan

Kewarganegaraan
Kompetensi Pendidikan

Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan Formal 
Pendidikan Kewarganegaraan

Nonformal
Kesimpulan dan saran 

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
44
Lampiran 2. Nama Anggota Kelompok

No
Nama NIM
.
1. Fithriyyah I1011151001
2. Ignasius Agung Mulia I1011151008
3. Tasya Ayulga Setya I1011151010
4. Prihan Fakri (Ketua) I1011151018
5. Muhammad Faisal Haris I1011151024
6. Lia Pramita I1011151026
7. Lala Utami I1011151032
8. Afifah Kartikasari I1011151043
9. Rodiah I1011151066

Dasar Penyelenggaraan Perkuliahan


Pendidikan Kewarganegaraan
45

Anda mungkin juga menyukai