LAPORAN PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) STIMULUS PERSEPSI
PADA PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN (RPK)
DI RUANG PERAWATAN JIWA SUBADRA RS DR H MARZOEKI
MAHDI BOGOR
Di Susun Oleh :
ALDA NOVENDRA 1114901200319
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DARUL AZHAR
BATULICIN
2021
PROPOSAL
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK PADA PASIEN RESIKO PERILAKU
KEKERASAN
A. Latar Belakang
Kesehatan jiwa menurut WHO (World Health Organization) adalah
ketika seseorang tersebut merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi
tantangan hidup serta dapat menerima orang lain sebagaimana seharusnya
serta mempunyai sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain. Kesehatan
jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik,
mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari
kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif,
dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Kondisi
perkembangan yang tidak sesuai pada individu disebut gangguan jiwa (UU
No.18 tahun 2014).
Gangguan jiwa menurut American Psychiatric Association (APA)
adalah sindrom atau pola psikologis atau pola perilaku yang penting secara
klinis, yang terjadi pada individu dan sindrom itu dihubungkan dengan
adanya distress (misalnya, gejala nyeri, menyakitkan) atau disabilitas
(ketidakmampuan pada salah satu bagian atau beberapa fungsi penting) atau
disertai peningkatan resiko secara bermagna untuk mati, sakit,
ketidakmampuan, atau kehilangan kebebasan (APA, 1994 dalam Prabowo,
2014).
Perilaku kekerasan yang merupakan salah satu bentuk gangguan mental
emosional dapat beresiko mencederai orang lain dan lingkungan disekitar
karena ketidakmampuan seseorang mengendalikan amarah secara konstruktif
(Dinno, 2017).
Menurut World Health Organization (WHO), jumlah penderita
gangguan jiwa diseluruh dunia mencapai hampir 450 juta orang, dimana
sepertiganya berdomisili di negara-negara berkembang. Hal ini diperkuat
dengan data dan fakta bahwa hampir separuh populasi dunia tinggal di negara
dimana satu orang psikiater melayani 200.000 orang. Perkembangan
kebudayaan masyarakat banyak membawa perubahan dalam segi kehidupan
manusia. Setiap perubahan situasi kehidupan baik positif maupun negatif
dapat mempengaruhi keseimbangan fisik, mental, dan psikososial seperti
bencana dan konflik yang dialami sehingga berdampak sangat besar terhadap
kesehatan jiwa seseorang yang berarti akan meningkatkan jumlah pasien
gangguan jiwa (Keliat, 2011).
Terapi aktifitas kelompok (TAK) stimulasi persepsi adalah terapi yang
menggunakan aktivitas sebagai stimulus dan terkait dengan pengalaman dan
atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok. Hasil diskusi kelompok
dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian masalah.
Pada terapi aktivitas simulasi persepsi ini klien dilatih mempersepsikan
stimulus yang di sediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemapuan
persepsi klien dievaluasi dan di tinggkatkan pada tiap sesi, dengan proses ini
diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi
adaptif. Terapi aktivitas kelompok ini memberi hasil : kelompok
menunjukkan loyalitas dan tanggung jawab bersama, menunjukan partisipasi
aktis semua anggotanya, menunjukan terjadinya komukasi antara anggota dan
bukan hanya antara ketua dan anggota (Keliat, 2014).
B. Resiko Perilaku Kekerasan
1. Definisi RPK
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik
terhadap diri sendiri, maupun orang lain, disertai dengan amuk dan gaduh
gelisah yang tak terkontrol. Perilaku kekerasan adalah tingkah laku
individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu lain
yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut (Purba dkk,
2008 & terkontrol (Farida Kusumawati, 2011).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang membahayakan secara fisik, baik kepada diri
sendiri, maupun orang lain (Yosep, 2009).
2. Etiologi RPK
Menurut Farida Kusumawati (2011) faktor penyebab yang
mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan, adalah sebagai berikut :
1. Faktor Predisposisi
a. Teori Psikologis
1) Tedapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu
tujuan mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif
yang memotivasi perilaku kekerasan.
2) Berdasarkan penggunaan mekanisme koping individu dan
masa kecil yang tidak menyenangkan
3) Frustasi
4) Kekerasan dalam rumah atau keluarga.
2. Faktor Sosial Budaya
Seseorang akan berespons terhadap peningkatan emosionalnya
secara agresif sesuai dengan respons yang dipelajarinya. Sesuai
dengan teori menurut Bandura bahwa agresif tidak berbeda dengan
respon-respons yang lain. Faktor ini dapat dipelajari melalu
observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan
maka semakin besar kemungkinan terjadi. Budaya juga dapat
mempengaruhi perilaku kekerasan. Adanya norma dapat membantu
mendefinisikan ekspresi marah yang dapat diterima dan yang tidak
dapat diterima.
3. Faktor Biologis
Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya pemberian
stimulus elektris ringan pada hipotalamus (pada system limbik)
ternyata menimbulkan perilaku agresif, dimana jika terjadi
kerusakan fungsi limbik (untuk emosi dan perilaku), lobus frontal
(untuk pemikiran rasional), dan lobus temporal (untuk intreprestasi
indra penciuman dan memori) akan menimbulkan mata terbuka
lebar, pupil berdilatasi, dan hendak menyerang objek yang ada
disekitarnya.
4. Faktor Presipitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam,
baik berupa injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep diri.
Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah sebagi
berikut :
1. Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan,
kehidupan yang penuh dengan agresif, dan masa lalu yang tidak
menyenangkan.
2. Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang
berarti, konflik, merasa terancam baik internal dari
permasalahan diri klien sendiri maupun eksternal dari
lingkungan.
3. Lingkunan : panas, padat, bising, dll
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala perilaku kekerasan menurut Yosep (2009)
adalah sebagai berikut :
a. Fisik
1) Muka merah dan tegang
2) Mata melotot/ pandangan tajam
3) Tangan mengepal
4) Rahang mengatup
5) Postur tubuh kaku
6) Jalan mondar-mandir
b. Verbal
1) Bicara kasar
2) Suara tinggi, membentak atau berteriak
3) Mengancam secara verbal atau fisik
4) Mengumpat dengan kata-kata kotor
5) Suara keras
6) Ketus
c. Perilaku
1) Melempar atau memukul benda/orang lain
2) Menyerang orang lain
3) Melukai diri sendiri/orang lain
4) Merusak lingkungan
5) Mengamuk/agresif
d. Emosi
1) Tidak adekuat
2) Tidak aman dan nyaman
3) Rasa terganggu
4) Dendam dan jengkel
5) Tidak berdaya
6) Bermusuhan
7) Mengamuk
8) Ingin berkelahi
9) Menyalahkan dan menuntut.
e. Intelektual
1) Mendominasi
2) Cerewet
3) Kasar
4) Berdebat
5) Meremehkan
6) Sarkasme
f. Spiritual
1) Merasa diri berkuasa
2) Merasa diri benar
3) Mengkritik pendapat orang lain
4) Menyinggung perasaan orang lain
5) Tidak perduli dan kasar.
g. Sosial
1) Menarik diri
2) Pengasingan
3) Penolakan
4) Kekerasan
5) Ejekan
6) Sindiran.
h. Perhatian
1) Bolos
2) Mencuri
3) Melarikan diri
4) Penyimpangan seksual
4. Faktor Predesposisi
a. Faktor Predisposisi
Hal-hal yang dapat mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan,
meliputi :
1) Faktor Biologis
Hal yang dikaji pada faktor biologis meliputi adanya faktor
herediter yaitu adanya anggota keluarga yang sering
memperlihatkan atau melakukan perilaku kekerasan, adanya
anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, adanya
riwayat penyakit atau trauma kepala, dan riwayat penggunaan
NAPZA (narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya).
Sedangkan menurut Sutejo (2017) dari faktor-faktor tersebut
masih ada teoroi-teori yang menjelaskan tiap faktor.
a) Teori dorongan naluri (Instinctual drive theory)
Teori ini menyatakan bahwa perilaku kekerasan
disebabkan oleh suatu dorongan kebutuhan dasar yang
kuat. Penelitian neurobiologi mendapatkan bahwa
adanya pemberian stimulus elektris ringan pada
hipotalamus (yang berada di tengah sistem limbik)
binatang ternyata menimbulkan perilaku agresif.
b) Teori psikomatik (Psycomatic theory)
Pengalaman marah dapat diakibatkan oleh respon
psikologi terhadap stimulus eskternal maupun internal.
Sehingga sistem limbik memiliki peran sebagai pusat
untuk mengekspresikan mauun menghambat rasa marah.
2) Faktor Psikologi
a) Frustation aggresion theory
Menerjemahkan bahwa bila usaha seseorang untuk
mencapai suatu tujuan mengalami hambatan maka akan
timbul dorongan agresif yang pada gilirannya akan
memotivasi perilaku yang dirancang untuk melukai orang
atau objek. Hal ini dapat terjadi apabila keinginan
individu untuk mencapai sesuatu gagal atau terhambat.
keadaan frustasi dapat mendorong individu untuk
berperilaku agresif karena perasaan frustasi akan
berkurang melalui perilaku kekerasan.
b) Teori Perilaku (Behaviororal theory)
Kemarahan merupakan bagian dari proses belajar. Hal ini
dapat dicapai apabila tersedia fasilitas atau situasi yang
mendukung. Reinforcement yang diterima saat
melakukan kesalahan sering menimbulkan kekerasan di
dalam maupun di luar rumah.
c) Teori Eksistensi (Existential theory)
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah bertindak
sesuai perilaku. Apabila kebutuhan tersebut tidak
dipenuhi melalui perilaku konstruktif, maka individu akan
memenuhi kebutuhannya melalui perilaku destruktif.
3) Faktor Sosial Budaya
Teori lingkungan sosial (social environment theory)
menyatakan bahwa lingkungan sosial sangat mempengaruhi
sikap individu dalam mengekspresikan marah. Norma budaya
dapat mendukung individu untuk berespon asertif atau
agresif. Perilaku kekerasan dapat dipelajari secara langsung
melalui proses sosialisasi (Social learning theory). Social
learning theory menerjemahkan bahwa agresi tidak berbeda
dengan respon-respon yang lain. Agresi dapat dipelajari
melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering
mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan
untuk terjadi. Sehingga seseorang akan berespon terhadap
keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan
respon yang dipelajarinya. Pembelajaran tersebut bisa
internal maupun eksternal. Contoh internal : orang yang
mengalami keterbangkitan seksual karena menonton film
erotis menjadi lebih agresif dibandingkan mereka yang tidak
menonton film tersebut; seorang anak yang marah karena
tidak boleh beli es krim kemudian ibunya memberinya es
agar si anak berhenti marah, anak tersebut akan belajar
bahwa bila ia marah maka ia akan mendapatkan apa yang ia
inginkan. Contoh eksternal : seorang anak menunjukan
perilaku agresif setelah melihat seorang dewasa
mengekspresikan berbagai bentuk perilaku agresif terhadap
sebuah boneka. Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku
kekerasan. Adanya norma dapat membantu mendefinisikan
ekspresi agresif mana yang dapat diterima atau tidak dapat
diterima. Sehingga dapat membantu individu untuk
mengekspresikan marah dengan cara yang aserif.
5. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi perilaku kekerasan pada setiap individu
bersifat unik, berbeda satu orang dengan yang lain. Faktor ini
berhubungan dengan pengaruh stresor yang mencetuskan perilaku
kekerasan bagi setiap individu. Stresor tersebut dapat merupakan
penyebab yang berasal dari dalam maupun dari luar individu. Stresor
dari dalam berupa kehilangan relasi atau hubungan dengan orang yang
dicintai atau berarti seperti kehilangan keluarga, sahabat yag dicintai,
kehilangan rasa cinta, kekhawatiran terhadap penyakit, fisik dan lain-
lain. Sedangkan stresor dari luar berupa serangan fisik, 16 kehilangan,
kematian, lingkungan yang terlalu rebut, kritikan yang mengarah pada
penghinaan, mengarah tindakan kekerasan.
6. Sumber Koping
a. Aset ekonomi
b. Kemampuan dan keahlian
c. Tehnik defensif
d. Sumber social
e. Motivasi
f. Kesehatan dan energi
g. Kepercayaan
h. Kemampuan memecahkan masalah
i. Kemapuan social
j. Sumber social dan material
k. Pengetahuan
l. Stabilitas budaya
7. Mekanisme Koping
Secara umum mekanisme koping yang sering digunakan antara
lain mekanisme pertahanan ego seperti displacement, sublimasi,
proyeksi, depresi, denial, dan reaksi formasi.
8. Akibat Masalah
Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakan-
tindakan berbahaya bagi dirinya, orang lain maupun lingkungannya,
seperti menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar
rumah, dll. Sehingga klien dengan perilaku kekerasan beresiko untuk
mencidera diri orang lain dan lingkungan.
9. Pohon Masalah
Perilaku Kekerasan
Regimen terapeutik Harga diri rendah Peubahan Persepsi
interaktif kronis Sensori : Halusinasi
Koping keluarga Berduka disfungsional Isolasi social : menarik diri
tidak efektif
Sumber : Fitria (2009)
10. Penatalaksanaan
Klien yang mengalami gangguan jiwa mengamuk ada 2 yaitu :
a. Medis
1. Nozinan, yaitu sebagai pengontrol prilaku psikososial.
2. Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan perilaku merusak
diri.
3. Thrihexiphenidil, yaitu mengontrol perilaku merusak diri dan
menenangkan hiperaktivitas.
4. ECT (Elektro Convulsive Therapy), yaitu menenangkan klien
bila mengarah pada keadaan amuk.
b. Penatalaksanaan keperawatan
1. Psikoterapeutik
2. Lingkungan terapeutik
3. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
4. Pendidikan kesehatan
C. Proses Pelaksanaan TAK
1. Tujuan
Pasien mampu mengidentifikasi penyebab, tanda dan gejala, dan
akibat perilaku kekerasan
Pasien mampu melakukan kontrol perilaku kekerasan dengan fisik:
tarik nafas dalam dan pukul kasur dan bantal
Pasien mengetahui tentang obat yang diminum (8 benar obat, jenis,
warna, bentuk, guna, dosis, frekuensi, kontinuitas minum obat,
akibat jika obat tidak diminum sesuai program, akibat putus obat)
Pasien mampu melakukan kontrol perilaku kekerasan dengan verbal
(mengungkapkan, meminta, dan menolak dengan benar).
Pasien mampu melakukan kontrol perilaku kekerasan dengan
spiritual
2. Uraian Tugas Tim Terapis
b. Uraian Tugas Tim Leader
1) Leader
Uraian tugas:
a) Mengkoordinasi seluruh kegiatan
b) Memimpin jalannya terapi kelompok
c) Memimpin diskusi
d) Memimpin jalannya terapi aktifitas kelompok.
e) Menjelaskan tujuan pelaksanaan terapi aktifitas kelompok.
f) Menjelaskan peraturan kegiatan terapi aktifitas kelompok
sebelum kegiatan dimulai.
g) Mampu memberi motivasi anggota untuk aktif dalam
kelompok.
2) Co Leader
Uraian Tugas :
a) Membantu leader memimpin jalannya diskusi.
b) Membantu leader dalam melaksanakan kegiatan
c) Membantu mengkoordinir kegiatan.
d) Mengidentifikasi strategi yang digunakan leader.
e) Menyampaikan informasi dari fasilitator kepada leader tentang
aktifitas klien.
f) Mengatur posisi kelompok dalam lingkungan untuk
melaksanakan kegiatan
g) Memotivasi peserta dalam aktivitas kelompok.
h) Memotivasi peserta dalam ekspresi perasaan setelah kegiatan
i) Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.
j) Mengingatkan leader tentang waktu.
3) Observer
Uraian tugas:
a) Mengamati semua proses kegiatan yang berkaitan dengan
waktu, tempat dan jalannya acara
b) Melaporkan hasil pengamatan pada leader dan semua anggota
kelompok dengan evaluasi kelompok
c) Mencatat perilaku verbal dan non verbal klien selama kegiatan
berlangsung pada kertas buram yang menempel di dinding.
4) Fasilitator
Uraian tugas:
a) Mempersiapkan alat TAK
b) Membagikan peralatan yang diperlukan selama TAK yaitu
name tag, spidol dan bola.
c) Mengarahkan anggota kelompok saat TAK, time keeper, dan
menentukan peserta yang belum dapat giliran.
d) Memfasilitasi klien yang kurang aktif.
1. Jadwal
Pelaksanaan kegiatan terapi aktivitas kelompok pada pasien dengan
resiko perilaku kekerasan, yaitu :
Sesi 1
a. Hari/Tanggal : senin, 19 April 2021
b. Waktu : 10.00 – 10.30 WITA
c. Alokasi waktu : Perkenalan dan pengarahan (5 menit)
Terapi kelompok (20 menit)
Penutup (5 menit)
d. Tempat : Ruangan Perawatan Jiwa Subadra
2. Setting Tempat
Keterangan
Pasien Leader Clinical Instructur
Co Leader Observer
Fasilitator = 1 orang (mahasiwa)
a) Leader = 1 orang (Mahasiswa)
b) Co Leader = 1 orang (Mahasiswa)
c) Observer /Fasilitator = 1 orang (Mahasiswa)
d) Peserta = 3 orang (Pasien)
e) Pembimbing = 1 orang (Clinical Instructure)
5. Alat
Papan nama sejumlah klien dan perawat yang ikut TAK
Buku catatan dan pulpen
Bola kertas, kertas HVS
Kertas karton dan sepidol
Snack
6. Metode
Dinamika kelompok
Diskusi dan tanya jawab
Roleplay dan Simulasi
7. Langkah Kegiatan
Persiapan
Memilih klien sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan
Membuat kontrak dengan klien
Mempersiapkan alat yang diperlukan beserta tempat untukkegiatan
Fase Orientasi
Salam terapeutik, salam dari terapis kepada klien
Evaluasi / validasi, menanyakan perasaan klien
Kontrak: terapis menjelaskan tujuan kegiatan, terapis menjelaskan
aturan main yaitu jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok
harus meminta ijin terlebih dahulu, lama kegiatan 30 menit, setiap
klien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir kegiatan.
SESI 1 : Mengenal Perilaku Kekerasan yang Biasa Dilakukan dan Mencegah
Perilaku Kekerasan Melalui Kegiatan Fisik
1. Fase Kerja
a. Terapis membagikan papan nama untuk masing-masing klien
b. Terapis meminta masing-masing klien memperkenalkan diri secara
berurutan, searah jarum jam dimulai dari terapis, meliputi
menyebutkan: nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi
c. Terapis menjelaskan dengan menyalakan musik, kemudian bola
dijalankan dari tangan ke tangan klien. Pasien yang memegang bola
terakhir ketika musik berhenti, maka dia akan menceritakan perilaku
kekerasan yang dilakukan dan cara mengontrol dengan latihan fisik.
d. Terapis memberikan pujian saat klien telah mampu menceritakan
perilaku kekerasan yang dilakukan dan cara mengontrol dengan
latihan fisik. Kegiatan ini diulang sampai semua peserta mendapat
giliran
e. Mendiskusikan penyebab marah
f. Mendiskusikan tanda dan gejala yang dirasakan klien saat terpapar
oleh penyebab sebelum perilaku kekerasan
g. Mendiskusikan perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien
(verbal, merusak lingkungan, menciderai/memukul orang lain,
memukul diri sendiri)
h. Mendiskusikan akibat perilaku kekerasan yang pernah dilakukan klien
i. Mendiskusikan cara mengontrol perilaku kekerasan: fisik obat, verbal
dan spiritual
j. Melatih cara mengontrol perilaku kekerasan dengan nafas dalam dan
pukul kasur dan bantal
k. Menanyakan perasaan klien setelah selesai terapi
l. Mendiskusikan dampak perilaku kekerasan
m. Memberikan pujian pada peran klien
n. Mengupayakan semua klien untuk terlibat
o. Memberikan kesimpulan penyebab; tanda dan gejala; perilaku
kekerasan; akibat perilaku kekerasan
p. Menanyakan kesediaan klien untuk mempelajari cara baru yang sehat
menghadapi kemarahan.
2. Fase Terminasi
a. Evaluasi
Subjektif
o Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
o Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
Objektif
o Pasien menyebutkan perilaku kekerasan yang dilakukan,
penyebab, tanda dan gejala serta akibat perilaku kekerasan
yang dilakukan
o Pasien dapat melakukan tarik nafas dalam dan pukul kasur
dan bantal untuk mengontrol perilaku kekerasan.
b. Tindak lanjut
Terapis menganjurkan klien melatih tarik nafas dalam dan
memukul kasur dan bantal
Terapis menganjurkan klien menggunakan cara yang telah
dipelajari jika stimulus penyebab kekerasan muncul dengan
memasukkan pada jadwal kegiatan klien.
c. Kontrak yang akan datang
Membuat kesepakatan tentang kegiatan TAK yang akan datang
Menyepakati tempat dan waktu
3. Evaluasi
a. Evaluasi input
Tim berjumlah 3 orang dengan 1 Leader, 1 Co Leader, 1 sebagai
Observer dan Fasilitator.
Lingkungan nyaman
b. Evaluasi Proses
Leader berada di samping pasien dan menjelaskan peraturan
permainan dengan jelas.
Co Leader menempatkan diri di samping pasien dan memfasilitasi
serta memberi motivasi pasien
Fasilitator menyiapkan alat dan bahan, menjalankan musik untuk
TAK dan memfasilitasi pasien yang belum mendapat giliran
Observer menempatkan diri di samping barisan pasien untuk
mengawasi jalannya kegiatan.
Minimal 3 orang pasien dapat mengikuti kegiatan dari awal
sampai selesai.
Minimal 2 orang pasien aktif mengikuti kegiatan, maksimal 1
orang yang keluar.
c. Evaluasi Hasil
80% pasien dapat menyebutkan perilaku kekerasan yang
dilakukan, penyebab, tanda dan gejala serta akibat perilaku
kekerasan
80% pasien dapat menggunakan cara yang telah dipelajari jika
stimulus penyebab kekerasan muncul dan memperagakannya.
Lembar Penilaian Observasi
Sesi I
Identifikasi perilaku kekerasan
Memberi Pendapat Tentang
No Nama
Perilaku Kekerasan Tanda dan
. Klien Penyebeb Akibat PK
Gejala
Menyebutkan kegiatan fisik Mendemostrasikan kegiatan
No
Nama Klien yang dapat dilakukan untuk fisik yang dapat mengontrol
.
mengontrol PK PK
Petunjuk: Berilah tanda ( ) pada kolom sesuai kemampuan klien saat mengikuti
TAK
No Perilaku kekerasan Tanda dan gejala Penyebab Akibat PK
.
Petunjuk: Isi sesuai jawaban yang diberikan klien pada kolom saat mengikuti
TAK
DAFTAR PUSTAKA
Fitria, Nita. (2009). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan
dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan untuk 7 Diagnosis
Keperawatan Jiwa Berat. Jakarta: Salemba Medika.
Keliat, Budi Anna. 2014. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta:
EGC.
Kusumawati, Farida dan Hartono, Yudi. (2011). Buku Ajar Keperawatan Jiwa.
Jakarta: Salemba Medika.
Keliat, Budi Anna. 2014. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok.
Jakarta:EGC.
Nita Fitria. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan untuk 7 Diagnosis
Keperawatan Jiwa Berat. Jakarta: Salemba Medika.
Hawari, Dadang., 2001. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa
Skizofrenia.Jakarta : Balai Penerbit Fakultas kedokteran Universitas
Indonesia.
Purba, et al. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah
Psikososialdan Gangguan Jiwa. Medan: USU Press.
Yosep, Iyus. (2009). Keperawatan Jiwa. Cetakan kedua (Edisi Revisi). Bandung:
PT Refrika Aditama.