Anda di halaman 1dari 16

TUGAS

KOMUNIKASI KEPERAWATAN II
MAKALAH/PAPER
SIMULASI KOMUNIKASI TERAUPETIK PADA ANAK

DI SUSUN OLEH KELOMPOK 1

1.ALNIC LAHALLO (12114201190011)


2.ABETSINA.T.LESSIL (12114201190001)
3.ANGEL LESNUSSA (12114201190015)
4.CHARLES.M.SYAHAILATUA (12114201190039)
5.BRIAN.E.Y.SYARANAMUAL (12114201190036)
6.APRILIA TANATE (12114201190002)
7.CLEOPATRISIA.B.ULATE (12114201190048)
8.ANSORI BENAMEN (12114201190020)
9.ERMA.Y.KADMAERUBUN (12114201190024)
10.CLAUDIA PELETIMU (Tidak Aktif)

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA MALUKU


PRODGI KEPERAWATAN
FAKULTAS KESEHATAN
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang maha kuasa. yang mana berkat rahmatnya kami selaku
kelompok 1 dapat menyusun makalah ini dengan lancar.
Makalah ini merupakan makalah tentang “Simulasi Komunikasi Terapeutik Anak”.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnanan dan banyak
kekurangannya, untuk itu kami mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun
guna kesempurnaan makalah ini. Akhirnya makalah ini dapat memberikan pemikiran serta
kelancaran tugas kami selanjutnya dan dapat berguna bagi semua pihak Amin.

Ambon 15 November 2020

Kelompok 1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar 
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan 
1.1    latar Belakang 
1.2    Rumusan Masalah 
1.3    Tujuan 
1.4    Manfaat 
Bab II Tinjauan Pustaka 
2.1  Perkembangan Komunikasi Pada Bayi dan Anak 
2.2 Bentuk Komunikasi Prabicara
2.3 Peran Bicara Dalam Komunikasi 
2.4  Teknik Komunikasi Dengan Bayi dan Anak :
Tekhnik Verbal dan Non Verbal .
2.5 Penerapan Strategi Pelaksanaan Komunikasi Terapeutik
Pada Bayi dan Anak
Bab III Penutup 
3.1 Kesimpulan 
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Sebagaimana dapat dilihat, kelangsungan hidup anak membutuhkan kerja sama antar
individu dalam berbagai tingkat struktur sosial, keluarga, komunitas, dan sistem kesehatan
untuk mengubah praktik-praktik mereka yang berkaitan dengan kesehatan anak. Agar
memiliki dampak, maka praktik ini perlu dilakukan dengan benar dan mengikuti
perkembangan zaman. Hal ini karena, setiap anak dilahirkan dengan membawa potensi
kelebihan dan kekurangan. Ia adalah sosok pribadi mandiri dengan warna potensi khas dari
mereka sendiri.

Oleh sebab itu, dalam proses komunikasi dengan anak harus memperhatikan prinsip, strategi,
dan hambatan dalam berkomunikasi. Dari uraian tersebut diatas penulis membuat makalah
dengan judul Komunikasi Terapeutik Pada Anak.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Apakah yang dimaksud dengan komunikasi terapeutik pada anak?

Apakah prinsip komunikasi pada anak?

Apa saja komunikasi terapeutik pada anak sesuai tahap perkembangan?

Bagaimanakah strategi atau tekhnik dalam berkomunikasi pada anak?

Apa saja hambatan yang terjadi pada saat berkomunikasi pada anak?

1.3 TUJUAN

Mengetahui pengertian komunikasi terapeutik pada anak.

Mengetahui prinsip-prinsip komunikasi terapeutik pada anak.

Mengetahui komunikasi terapeutik pada anak sesuai tahap perkembangan.

Mengetahui strategi dalam berkomunikasi pada anak.

Mendapatkan informasi tentang hambatan yang terjadi pada saat berkomunikasi pada anak.
BAB II

PEMBAHASAN

 DEFINISI

Komunikasi adalah kontak atau hubungan atau penyampaian berita atau penerimaan
berita yang dilakukan oleh 2 orang atau lebih yang memungkinkan pesan atau berita itu bisa
diterima atau dipahami. (kamus penerbit Gita Media Press. Kenangan dari TIM PRIMA
PENA). Komunikasi terapeutik adalah hubungan interpersonal perawat-klien (anak)
merupakan proses belajar bersama dalam rangka memperbaiki pengalaman emosional klien.
(Stuart G. W. 1998). Secara umum komunikasi kesehatan merupakan upaya sistematis yang
secara positif mempengaruhi praktek-praktek kesehatan populasi besar. Sasaran utama
komunikasi kesehatan adalah melakukan perbaikan kesehatan yang berkaitan dengan praktek
dan pada gilirannya status kesehatan. Komunikasi kesehatan yang efektif merupakan suatu
kombinasi antara seni dan ilmu.

Pendekatan komunikasi kesehatan diturunkan dari disiplin ilmu meliputi pemasaran sosial,
antropologi, analisis prilaku, periklanan, komunikasi pendidikan, serta ilmu-ilmu sosial yang
lain. Hal ini saling melengkapi, saling tukar menukar, prinsip dan tekhnik umum satu sama
lain sehingga masing-masing memberikan sumbangan yang unik bagi metodeologi
komunikasi kesehatan.

 PRINSIP –PRINSIP KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ANAK

Menurut Carl Rogers Ada 15 prinsip komunikasi terapeutik :

1. Perawat harus mengenal dirinya sendiri yang berarti menghayati, memahami dirinya
sendiri, serta nilai yang dianut.
2. Komunikasi harus ditandai dengan sikap saling menerima, percaya, dan menghargai.
3. Perawata harus memahami dan menghayati nilai yang dianut oleh klien.
4. Perawat harus menyadari pentingnya kebutuhan klien baik fisik maupun mental.
5. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan klien bebas berkembang
tanpa rasa takut.
6. Perawat harus menciptakan suasana yang memungkinkan klien memiliki motivasi
untuk mengubah dirinya baik sikap, tingkah lakunya sehingga makin matang, dan
dapat memecahkan masalah yang dihadapi.
7. Perawata harus mampu menguasai perasaan sendiri secara bertahap untuk mengetahui
dan mengatasi perasaan gembira, sedih, marah, keberhasilan, maupun frustasi.
8. Mampu menentukan batas waktu yang sesuai dan dapat mempertahankan
konsistensinya.
9. Memahami betul arti empati sebagai tindakan yang terapeutik dan sebaliknya simpati
bukan tindakan terapeutik.
10. Kejujuran dan komunikasi terbuka merupakan dasar hubungan komunikasi terapeutik.
11. Mampu berperan sebagai role model.
12. Disarankan untuk mengekspresikan perasaan bila dianggap mengganggu.
13. Altruisme, mendapatkan kepuasan dengan menolong orang lain secara manusiawi.
14. Berpegang pada etika.
15. Bertanggungjawab dalam dua dimensi yaitu tanggungjawab terhadap diri sendiri atas
tindakan yang dilakukan dan tanggungjawab terhadap orang lain.

 KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA ANAK SESUAI TAHAP


PERKEMBANGAN

1. Masa bayi

Bayi belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan kata-kata. Oleh karena
itu, komunikasi dengan bayi lebih banyak menggunakan komunikasi nonverbal. Pada saat
lapar, haus, basah, dan perasaan tidak nyaman lainnya, bayi hanya bisa mengekspresikannya
dengan cara menangis. Walaupun demikian, sebenarnya bayi dapat merespon terhadap
tingkah laku orang dewasa yang berkomunikasi dengannya secara nonverbal, misalnya
memberikan sentuhan, mendekap, menggendong, dan berbicara dengan lemah lembut.

Ada beberapa respon nonverbal yang biasa ditunjukkan bayi, misalnya menggerakkan badan,
tangan, dan kaki. Hal ini terutama terjadi pada bayi usia kurang dari 6 bulan sebagai cara
menarik perhatian orang. Stranger anxietyatau cemas dengan orang asing yang tidak
dikenalnya adalah ciri prilaku pada bayi usia lebih dari 6 bulan, dan perhatiannya berpusat
pada dirinya dan ibunya. Oleh karena itu, perhatikan saat berkomunikasi dengannya. Jangan
langsung ingin menggendong atau memangkunya karena bayi akan merasa takut. Lakukan
komunikasi terlebih dahulu dengan ibunya dan atau dengan mainan yang dipegangnya.
Tunjukkan bahwa kita ingin membina hubungan yang baik dengannya dan ibunya.

2. Masa balita ( 1 sampai 5 Tahun )

Karakteristik anak usia balita ( terutama anak usia dibawah 3 tahun / toddler) merupakan
sangat egosentris. Selain itu anak juga mempunyai perasaan takut pada ketidak tahuannya
sehingga anak perlu diberitahu tentang apa yang akan terjadi padanya. Misalnya pada saat
akan diukur suhu, anak akan merasa takut melihat alat yang akan ditempelkan pada tubuhnya.
Oleh karena tiu, jelaskan bagaimana anak akan merasakannya. Beri kesempatan padanya
untuk memegang thermometer sampai dia yakin bahwa alat tersebut tidak berbahaya
untuknya. Dari aspek bahasa, anak belum mampu berbicara secara fasih. Oleh karena itu saat
menjelaskan gunakan kata-kata sederhana, singkat, dan gunakan istilah yang dikenalnya.
Posisi tubuh yang baik saat bicara dengannya adalah jongkok, duduk di kursi kecil, atau
berlutut sehingga pandangan mata kita akan sejajar dengannya.

Satu hal yang akan mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan dalam berkomunikasi
adalah dengan memberikan pujian atas apa yang telah dicapainya atau ditunjukkannya
terhadap perawat dan orangtuanya. Perawat sudah harus konsisten dalam berkomunikasi
secara verbal maupun nonverbal. Jadi jangan tertawa atau tersenyum saat melakukan
tindakan yang menimbulkan rasa nyeri pada anak misalnya diambil darah, dipasang infus,
dan lain-lain.

3. Anak usia ( 5 – 8 Tahun)

Anak usia ini sangat peka terhadap stimulus yang dirasakannya akan mengancam keutuhan
tubuhnya. Oleh karena itu, apabila perawat akan melakukan suatu tindakan ia akan bertanya
apa yang dilakukan, untuk apa, dan bagaimana cara dilakukan? Anak membutuhkan
penjelasan atas pertanyaannya. Gunakan bahasa yang dapat dimengerti anak dan berikan
contoh yang jelas sesuai dengan kemampuan kognitifnya.
4 Anak usia (8 – 12 Tahun )

Anak usia sekolah sudah lebih mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Perbendaharaan
kata sudah lebih banyak dikuasai dan anak sudah mampu berpikir secara konkret. Apabila
akan melakukan tindakan, perawat dapat menjelaskan dengan mendemonstrasikan pada
mainan anak. Misalnya bagaimana perawat akan menyuntik diperagakan terlebih dahulu pada
bonekanya.

4. Anak usia remaja

Fase remaja adalah masa transisi atau peralihan dari akhir masa kanak-kanak menuju masa
dewasa. Dengan demikian, pola piker dan tingkah lakunya merupakan peralihan dari anak-
anak menjadi orang dewasa juga. Anak harus diberi kesempatan untuk belajar memecahkan
masalah secara positif apabila anak merasa cemas atau stress, jelaskan bahwa ia dapat
memecahkan masalah tersebut.

 TEKNIK KOMUNIKASI DENGAN BAYI DAN ANAK : TEKHNIK VERBAL


DAN NON VERBAL

1.        Teknik Verbal


a)        Melalui orang atau pihak ketiga
Khususnya mengahadapi anak usia bayi dan todler, hindari berkomunikasi secara langsung
pada anak, melainkan gunakan pihak ketiga yaitu dengan cara berbicara terlebih dahulu
dengan orang tuanya yang sedang berapa disampingnya, mengomentari pakaian yang sedang
dikenakanya. Hal ini pada dasarnya adalah untuk menanamkan rasa percaya anak pada
perawatan terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan yang menjadi tujuan.
 (Yupi Supartini, 2004 : 86)
         
b)        Bercerita sebagai alat komunikasi
Dengan bercerita kita bisa menyampaikan pesan tertentu pada anak misalnya, bercerita
tentang anak pintar dan saleh yang sedang sakit yang mematuhi nasihat orang tua dan
perawat sehingga diberi kesembuhan oleh ALLAH Yang Mahaesa. Jadi, ini cerita harus
disesuaikan dengan kondisi anak dan pesan yang ingin kita sampaikan kepada anak. selama
bercerita gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti anak. penggunaan gambar-
gambar yang menarik dan lucu saat bercerita akan membuat penyampaian cerita lebih
menarik bagi anak sehingga pesan yang ingin disampaikan dapat diterima anak secara efektif.
(Yupi Supartini, 2002 : 86-87)

c)        Fasilitasi anak untuk berespons


Satu hal yang penting yang harus diingat, selama berkomunikasi jangan menimbulkan kesan
bahwa hanya kita yang dominan berbicara pada anak, tetapi fasilitasi juga anak untuk
berespons terhadap pesan yang kita sampaiakan. Dengarkan ungkapanya dengan baik, tetapi
hati-hati dalam merefleksikan ungkapan yang negatif. Misalnya, saat anak bicara, “saya mau
pulang, saya tidak ada suka tinggal di rumah sakit “. Untuk merespons perkataan anak seperti
ini katakan, “ tentu saja kamu akan pulang jika... supaya kamu senang berada dirumah sakit
bagaimana kalau kita buat permainan yang lain setiap harinya. Suster akan merencanakanya
kalau kamu setuju.
(Yupi Supartini, 2002 : 87) 

d)       Meminta anak untuk menyebutkan keinginanya


Untuk mengetahui apa yang sedang dikeluhkan anak, minta anak untuk menyebutkan
keinginanya. Katakan apabila suster menawarkan pilihan keinginan, apa yang paling
diinginkan anak saat itu. Keinginan yang diungkapkanya akan meningkatkan perasaan dan
pikirannya saat itu sehingga dapat mengetahui masalah dan potensial yang dapat terjadi pada
anak. (Yupi Supartini, 2002 : 87)   
                                          
e)        Biblioterapi
Buku atau majalah dapat juga digunakan untuk membantu anak mengekspresikan pikiran dan
perasaanya. Bantu anak mengekspresikan perasanya dengan menceritakan isi buku atau
majalah. Untuk itu perawat harus tahu terlebih dahulu ini dari buku atau majalah tersebut dan
simpulkan pesan yang ada didalamnya sebelum bercerita pada anak.
(Yupi Supartini, 2002 : 87)

f)         Pilihan pro dan kontra


Cara lain untuk mengetahui perasaan dan pikiran anak adalah dengan mengajukan satu
situasi, biarkan anak menyimak dengan baik, kemudian mintalah anak untuk memulihkan hal
yang positif dan negatif memuat pendapatnya dari situasi tersebut. (Yupi Supartini, 2002 :
88) 
    
g)        Penggunaan skala peringkat
Skala peringkat digunakan untuk mengkaji kondisi tertentu, misalnya mengkaji intensitas
nyeri. Skala peringkat dapat berkisar antara 0 pada satu titik ekstrim dan 10 pada satu titik
ekstrim lainya. Nilai tingkat nyeri 1 sampai lima. Kemudian kita tentukan kondisi anak
berada pada angka berapa saat mengungkapkan perasaan sedih, nyeri, dan cemas tersebut.
0 diartikan sebagai perasaan skala tidak nyeri
1-2 diartikan sebagai skala nyeri ringan
Lebih dari 3-7 diartikan sebagai skala nyeri sedang
Lebih dari 7- 9 diartikan nyeri yang sangat berat
Lebih dari 9-10 diartikan nyeri yang sangat hebat
 (Yupi Supartini, 2002 : 88)

2.        Teknik Non Verbal

a)        Menulis
Menulis adalah pendekatan komunikai yang secara efektif tiadak saja dilakukan pada anak
tetapi juga pada remaja.

Perwat dapat memulai komunikasi dengan anak dengan cara memeriksa atau menyelidiki
tentang tulisan dan mungkin juga meminta untuk membaca beberapa bagian. Dengan menulis
perawat dapat mengetahui apa yang dipikirkan anak dan bagaimana perasaan anak.

b)        Menggambar
Teknik ini dilakukan dengan cara meminta anak untuk menggambarkan sesuatu terkait
dengan dirinya, misalnya perasaan, apa yang dipikirkan, keinginan.

Pengembangan dari teknik menggambar ini adalah anak dapat menggambarkan keluarganya
dan dilakukan secara bersama antara keluarga (ibu/ayah) dengan anak.

c)        Kontak mata, postur dan jarak fisik


Pembicaraan atau komunikasi akan teras lancar dan efektif jika kitan sejajar. Saat
berkomunikasi dengan anak, sikap ini dapat dilakukan dengan cara membungkuk atau
merendahkan posisi kita sejajar dengan anak. dengan posisi sejajar akan memungkinkan kita
dapat memungkinkan kontak mata dengan anak dan mendengarkan secara jelas apa yang
dikomunikasikan anak.

d)       Ungkapan marah


Anak mengungkapakan perasaan marahnya dan dengarkanlah dengan baik dan penuh
perhatian apa yang menyebabkan ia merasa jengkel dan marah. Untuk memberikan
ketenangan anak pada saat marah, duduklah dekat dia, pegang tangannya atau pundaknya
atau peluklah dia.

e)        Sentuhan
Adalah kontak fisik yang dilakukan dengan cara memegang sebagian tangan atau bagian
tubuh anak misalnya pundak, usapan di kepala, berjabat tangan atau pelukan, bertujuan untuk
memberikan perhatian dan penguatan terhadap komunikasi yang dilakukan antara anak dan
orang tua. (Kemenkes, 2013)

 HAMBATAN KOMUNIKASI PADA ANAK

1. Hambatan Psikologis

Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi pada anak.


misalnya ketika ada bencana alam seperti gempa pasti komunikasi untuk anak – anak akan
terlihat panik karena ketakutan.

2. Hambatan Sosio Antro Psikologis

Proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional (situational context). Ini berarti
bahwa komunikator harus memperhatikan situasi ketika komunikasi dilangsungkan.
Misalnya:

 Pada hambatan sosiologis


 Pada hambatan antropologis
 Pada hambatan psikologis

3. Hambatan Semantic
Jika hambatan sosiologis, antropologis, psikologis terdapat pada pihak komunikan, maka
hambatan semantic terdapat pada dari komunikator. Misalnya adanya perbedaan makna dan
pengertian pada kata –  kata yang pengucapannya kurang dimengerti pada anak – anak.

4. Hambatan mekanis

Dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi pada anak.
Contohnya anak – anak menonton televisi seperti menonton kartun, jadi ana –  anak bisa
mengenal dunia luar.

5. Hambatan ekologis

Yang terjadi disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya


komunikasi. Misalnya ketika ada hujan dan disertai petir pasti anak-anak akan terlihat takut
mendengar suara petir. Di situasi itulah komunikasi yang tidak menyenangkan ketika dapat di
atasi kormunikator dengan menghindarkannya jauh sebelum atau dengan mengatasi pada saat
ia sedang berkomunikasi.

 PENERAPAN STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK


PADA BAYI DAN ANAK

1.        Penerapan komunikasi pada bayi (0-1 tahun)

Bayi terlahir dengan kemampuan menangis karena dengan cara itu mereka berkomunikasi.
Bayi menyampaikan keinginanya melalui komunikasi non verbal. Bayi akan tampak tenang
dan merasa nyaman dan aman jika ada kontak fisik yang dekat terutama dengan orang yang
dikenalnya (ibu). Tangisan bayi itu adalah cara bayi memberitahukan bahwa ada sesuatu
yang tidak enak dia rasakan, lapar, popok basah, kedinginan,lelah dan lain-lain.
(Kemenkes, 2013 :14-15)
2.        Penerapan komunikasi pada kelompok todler (1-3 tahun) dan prasekolah (3-6
tahun)

Pada usia ini, anak sudah mampu berkomunikasi secara verbal maupun non verbal. Ciri khas
kelompok ini adalah egosentris, dimana mereka melihat segala sesuatu hanya berhubungan
dengan dirinya sendiri dan melihat segala sesuatu dengan sudut pandangnya sendiri.

Contoh penerapan komunikasi dalam perawatan :


a)        Memberitahu apa yang terjadi pada diri anak
b)        Memberikan kesempatan pada anak untuk menyentuh alat pemeriksaan yang akan
digunakan
c)        Nada suara rendah dan bicara lambat. Jika tidak menjawab harus diulang lebih jelas
dengan
           pengarahan yang sederhana
d)       Hindarkan sikap mendesak untuk dijawab seperti kata-kata “jawab dong”
e)        Mengalihkan aktifitas saat komunikasi misalnya dengan memberikan mainan saat
komunikasi
f)         Menghindari konfrontasi langsung
g)        Jangan sentuh anak tanpa disetujui dari anak
h)        Bersalam dengan anak saat memulai interaksi, karena bersalaman dengan anak
merupakan cara
            untuk menghilangkan perasaan cemas
i)          Mengajak anak menggambar, menulis atau bercerita untuk menggali perasaan dan
fikiran anak.
           (Kemenkes, 2013 :15-16)

3.        Komunikasi pada usia sekolah  (7-11 tahun)

Pada masa anak akan banyak mencari tahu terhadap hal-hal baru dan akan belajar
menyelesaikan masalah yang dihadapinya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya, berani
mengajukan pendapat dan melakukan klarifikasi yang tidak jelas baginya.
Contoh penerapan komunikasi dalam keperawatan
a)        Memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak dengan menggunakan kata-kata
sederhana
           yang spesifik
b)        Menjelaskan sesuatu yang ingin diketahui anak
c)        Pada usia ini keingintahuan pada aspek fungsional dan prosedural dari objek tertentu
sangat tinggi,
           maka jelaskan arti, fungsi dan prosedurnya
d)       Jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak tidak mampu
berkomunikasi
           secara afektif.
(Kemenkes, 2013 :17) 
BAB III

PENUTUP

  KESIMPULAN

Komunikasi terapeutik pada anak dapat disimpulkan bahwa komunikasi pada anak
merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan diri kita dengan anak. Secara
umum pengertian komunikasi anak merupakan proses pertukaran informasi yang
disampaikan oleh anak kepada orang lain dengan harapan orang yang diajak dalam
pertukaran informasi tersebut maupun memenuhi kebutuhannya. Dalam tinjauan ilmu
keperawatan anak, anak merupakan seseorang yang membutuhkan suatu perhatian dan kasih
sayang, sebagai kebutuhan khusus anak yang dapat dipenuhi dengan cara komunikasi baik
secara verbal maupun non verbal yang dapat menumbuhkan kepercayaan pada anak sehingga
tujuan komunikasi dapat tercapai.

 SARAN

Diharapkan mahasiswa dapat memahami makalah ini bisa memberikan masukan bagi
perawat terutama perawat yang bekerja pada ruang keperawatan anak, sehingga kami
menyarankan agar teman – teman perawat membaca dan memahami isi makalah ini sehingga
menjadi bekal bila berinteraksi dengan anak sesuai perkembangan anak dan mengatasi
hambatan pada saat berkomunikasi kepada anak. Dan kami mohon maaf sebanyak-banyaknya
makalah ini sangat jauh dari kata sempurna untuk itu kami meminta kritik dan sarannya agar
makalah ini menjadi lebih baik kedepannya.

 
DAFTAR PUSTAKA

 D, S. G. (2008). Psikologi Perkembangan Anak dan . Jakarta: Gunung Mulia.


Ermawati, D. (2009). Buku Saku Komunikasi Keperawatan. Jakarta: Trans Info Media.
RI, K. (2013). Komunikasi Dalam Keperawatan Modul 2. Jakarta: Badan PPSDM Kesehatan.
Supartini, Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.
http://bnetpwj.blogspot.co.id/2016/09/makalah-komunikasi-terapeutik-pada-bayi.html

Anda mungkin juga menyukai