Laporan Mini Project
Laporan Mini Project
DOKTER PENDAMPING :
DISUSUN OLEH :
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan laporan mini project
Program Internsip Dokter Indonesia ini. Laporan Mini Project ini dibuat sebagai
persyaratan penulis dalam mengikuti Program Internsip Dokter Indonesia di UPTD
Puskesmas Medan Denai periode September - Desember 2021 dengan judul
“Evaluasi Pelaksanaan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) pada
Masa Pandemi Covid-19 di Puskesmas Medan Denai”.
Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang ikut membantu dalam kelancaran pembuatan mini project ini. Terima
kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr. Syamsul A Nst Sp.OG yang
telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan program internsip di
Puskesmas Medan Denai, terima kasih juga peneliti ucapkan kepada dr. Budi
Ikhsan selaku Kepala Puskemas UPTD Medan Denai dan dr. Nur Fadliana selaku
dokter pendamping Internsip yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam
proses penulisan mini project ini. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada
seluruh staf pegawai dan dokter Puskesmas Medan Denai yang juga telah
membantu dalam penulisan mini project ini.
Peneliti menyadari bahwa laporan mini project ini masih belum sempurna
dari segi isi maupun sistematika penulisan. Oleh karena itu, peneliti mengharapkan
masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi penyempurnaan laporan
mini project ini. Semoga laporan mini project dapat berguna bagi kita semua.
Peneliti
DAFTAR ISI
Bab I Pendahuluan
i
2.5.6 Pemulasaraan Jenazah .................................................................... 14
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, penyakit kronis didominasi
oleh penyakit hipertensi dan diabetes melitus (DM). Fakta menunjukkan bahwa
prevalensi hipertensi naik dari 25,8% pada tahun 2013 menjadi 34,1% pada tahun
2018. Kondisi ini mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang per tahun, demikian
pula dengan diabetes, prevalensi penyakit ini naik dari 6,9% menjadi 8,5% per
tahun 2018. Kondisi ini juga membuat harapan hidup berkurang 5 hingga 10 tahun.5
Peningkatan penyakit tidak menular berdampak negatif pada ekonomi dan
produktifitas bangsa. Hipertensi dan Diabetes melitus merupakan penyakit yang
memerlukan pembiayaan yang relatif mahal apabila tidak dikelola dengan baik,
penyakit tersebut merupakan penyakit kronis yang akan diperberat apabila terjadi
komplikasi. Hipertensi dalam jangka waktu yang lama (persisten) dapat
menimbulkan berbagai kerusakan seperti pada jantung, otak (stroke), dan pada
ginjal bila tidak ditangani dengan cepat untuk mendapatkan pengobatan yang
memadai. Sumardiyono & Wijayanti.6 Sedangkan penderita diabetes melitus dapat
menimbulkan komplikasi serius seperti retinopati diabetik, amputasi, penyakit
jantung, gagal jantung, stroke dan peripheral arterial disease sampai berujung pada
kematian. Diabetes tidak dapat disembuhkan, namun dapat dikendalikan.7
Pengertian evaluasi adalah proses mencari keterangan (menyelidiki)
mengenai tampilan suatu program.8 Evaluasi juga dimaksudkan untuk
mendapatkan informasi yang relevan guna pengambilan keputusan.9 Evaluasi
bertujuan untuk mengetahui apakah program pengelolaan penyakit kronis yang
telah dilaksanakan, sudah mencapai sasaran yang diharapkan atau tidak. Evaluasi
merupakan tahapan yang berkaitan erat dengan kegiatan monitoring, karena
kegiatan evaluasi dapat menggunakan data yang disediakan melalui kegiatan
monitoring. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana kondisi objek
evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Evaluasi baru bisa
dilakukan jika program itu telah berjalan setidaknya dalam suatu periode (tahapan),
sesuai dengan tahapan rancangan dan jenis program yang dibuat dalam perencanaan
dan dilaksanakan.10
Menurut Kementrian Kesehatan RI Nomor 1116/MENKES/SK/VIII/2003
tentang pedoman penyelenggaraan sistem surveilans epidemiologi kesehatan, 4
evaluasi diukur berdasarkan indikator input, proses, dan output. Manajemen Sistem
2
adalah keterkaitan antara input, proses, dan output. Input akan mempengaruhi
proses, begitu pula proses akan mempengaruhi output.11
Coronavirus Disease 19 (COVID-19) merupakan penyakit yang disebabkan
oleh Novel Coronavirus (2019-nCoV) atau yang kini dinamakan SARS-CoV-2
yang merupakan virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada
manusia. Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan
pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas hingga pada kasus yang
berat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal dan bahkan
kematian. Manifestasi klinisnya muncul dalam 2 hari hingga 14 hari setelah terjadi
pajanan. Hingga saat ini masih diyakini bahwa transmisi penularan COVID-19
adalah melalui droplet dan kontak langsung, kecuali bila ada tindakan medis yang
memicu terjadinya aerosol (misalnya resusitasi jantung paru, pemeriksaan gigi
seperti penggunaan scaler ultrasonik dan high speed air driven, pemeriksaan hidung
dan tenggorokan, pemakaian nebulizer dan pengambilan swab) dimana dapat
memicu terjadinya resiko penularan melalui airborne.12
COVID-19 telah dinyatakan sebagai pandemi dunia oleh WHO (WHO,
2020). Secara nasional melalui Keputusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana Nomor 9A Tahun 2020 yang diperbarui melalui Keputusan nomor 13 A
Tahun 2020 telah ditetapkan Status Keadaan Tertentu Darurat Bencana Wabah
Penyakit Akibat Virus Corona di Indonesia.12
Puskesmas merupakan garda terdepan dalam memutus mata rantai
penularan COVID-19 karena berada di setiap kecamatan dan memiliki konsep
wilayah. Dalam kondisi pandemi COVID-19 ini, Puskesmas perlu melakukan
berbagai upaya dalam penanganan pencegahan dan pembatasan penularan infeksi.
Meskipun saat ini hal tersebut menjadi prioritas, bukan berarti Puskesmas dapat
meninggalkan pelayanan lain yang menjadi fungsi Puskesmas yaitu melaksanakan
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP)
tingkat pertama seperti yang ditetapkan dalam Permenkes Nomor 43 Tahun 2019
tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.12
Melihat kondisi seperti sekarang bahwa Pandemi Covid-19 dapat
mempengaruhi pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas, diantaranya memiliki
perubahan alur pelayanan, penerapan skrining serta terdapat penurunan jumlah
3
pasien / pengunjung yang datang di Puskesmas.13 Berdasarkan latar belakang di
atas, peneliti tertarik untuk mengambil topik mengenai Evaluasi Program
Pengelolan Penyakit Kronis pada Masa Pandemi di Puskesmas Medan Denai, untuk
mengetahui apakah pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis di
Puskesmas Medan Denai selama masa pandemi covid-19 sudah berjalan sesuai
dengan yang diharapkan atau belum, berdasarkan pedoman dan target yang
ditetapkan.
4
pelaksanaan kegiatan Prolanis menjadi lebih baik khususnya dalam masa
pandemi covid-19.
b. Bagi peserta prolanis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bacaan agar
pengetahuan pasien prolanis mengenai penyakit hipertensi dan diabetes
melitus dapat bertambah sehingga pasien prolanis dapat lebih memahami
hal-hal yang harus dilakukan untuk mengontrol penyakit yang diderita agar
penyakit tidak menjadi lebih parah.
c. Bagi peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan ilmu
pengetahuan tentang Prolanis, serta penelitian ini dapat menjadi sumber
informasi dan rujukan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang
berhubungan dengan penelitian yang telah dilakukan.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
6
obatan untuk terapi 30 hari, dan dua pencatatan laporan perkembangan status
kesehatan yaitu Medical Record disimpan oleh FKTP dan buku monitoring status
kesehatan peserta yang dibawa oleh peserta.2 Pencatatan yang dilakukan meliputi
perkembangan status kesehatan peserta, pencatatan Indeks Massa Tubuh, Tekanan
Darah, Gula Darah Puasa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang diagnostik,
pemberian obat-obatan serta catatan lain terkait pelayanan kesehatan bagi peserta.
Konsultasi medis dilakukan agar tenaga medis dapat memantau kesehatan
peserta dan memastikan obat-obatan yang mereka konsumsi secara rutin belum
memerlukan perubahan dosis atau pergantian obat. Jika dalam pemeriksaan oleh
dokter ditemukan beberapa gejala yang memerlukan perubahan dosis atau
pergantian obat maka puskesmas dapat segera melakukan rujukan ke fasilitas
tingkat lanjutan untuk dilakuakan pemeriksaan lanjutan dan mendapat tindakan
lanjutan sesuai kondisi penyakit peserta Prolanis.14
2) Edukasi/Aktivitas kelompok
Edukasi kesehatan adalah suatu kegiatan aktivitas klub yang bertujuan
untuk meningkatkan pengetahuan dalam upaya memulihkan dan mencegah
timbulnya kembali penyakit serta meningkatkan status kesehatan bagi peserta
Prolanis. Sasaran dari kegiatan ini yaitu, terbentuknya kelompok peserta (Klub)
Prolanis minimal satu Faskes Pengelola satu Klub dan frekuansi dilaksanakan
edukasi rutin minimal satu kali dalam sebulan.2
Materi edukasi kesehatan pada pasien DM dan Hipertensi bervariasi.
Edukasi pada pasien dengan diabetes melitus dibedakan menjadi tingkat awal dan
tingkat lanjutan. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan pasien yang
berbeda karena beberapa faktor misalnya pengetahuan. Materi pada tingkat awal
maupun pada tingkat lanjutan antara lain : perjalanan penyakit DM, Pengendalian
dan pemantauan diabetes secara terus menerus, perawatan diabetes dan risikonya,
perencanaan farmakologi dan non farmakologi, interaksi antara makanan, aktivitas
fisik, penggunaan obat, mengenal gejala dan penanganan pada hipoglikemia dan
hiperglikemia, perawatan kaki serta pemanfaatan pelayanan kesehatatan.15 Edukasi
pasien hipertensi dilakukan dengan penyuluhan mengenai hipertensi yang meliputi
pengenalan hipertensi, penyebab hipertensi, tanda dan gejala hipertensi, komplikasi
hipertensi, penanganan hipertensi, gizi untuk pencegahan dan penanggulangan
7
hipertensi, dan anjuran untuk mengikuti prolanis secara rutin untuk memantau
tekanan darah.16
Pemberian edukasi merupakan salah satu upaya preventif yang dilakukan
oleh puskesmas untuk penderita penyakit kronis yang bertujuan untuk memberi
pengetahuan lebih mendalam tentang penyakit hipertensi dan diabetes, sehingga
dapat mencegah timbulnya komplikasi penyakit baru.14
3) Reminder SMS Gateway
Reminder SMS Gateway adalah kegiatan memotivasi peserta untuk
melakukan kunjungan rutin dan disiplin kontrol bulanan kepada Faskes Pengelola
melalui peringatan jadwal konsultasi ke Faskes Pengelola tersebut.2 Reminder sms
gateway berfungsi mengingatkan peserta prolanis beberapa hari sebelum pelaksaan
senam dan penyuluhan, bila ada yang tidak aktif petugas tetap memberikan
motivasi lewat sms.17
Kegiatan Reminder sms gateaway dengan pencatatan nomor telepon
peserta, mengaktifkan jejaring komunikasi (JARKOM) antar peserta dan
puskesmas, dan evaluasi keaktifan peserta dalam JARKOM tersebut serta
kemampuan peserta dalam memahami isi jarkom yang diberikan. Dengan
terbentuknya JARKOM diharapkan peserta Prolanis mampu mengakses informasi
seputar kegiatan Prolanis yang akan dilaksanakan baik itu konsultasi medis, jadwal
pengambilan obat dan aktivitas kelompok yang dilakukan setiap peserta.18
Langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan remider ini adalah:
(a) melakukan mencatatan nomor handphone peserta Prolanis atau Keluarga
peserta;
(b) memasukkan data nomor handphone peserta kedalam aplikasi SMS Gateway;
(c) melakukan pengumpulan data kunjungan per peserta per fasilitas kesehatan
pengelola;
(d) mengumpulkan data jadwal kunjungan per peserta per fasilitas
kesehatan pengelola;
(e) lalu melakukan monitoring aktivitas reminder serta follow up peserta yang
menerima reminder; (f) melakukan analisa data berdasarkan jumlah peserta yang
mendapat reminder dengan jumlah kunjungan;
(g) membuat laporan kepada Kantor Divisi Regional.2
8
4) Home Visit
Home visit adalah suatu kegiatan pelayanan kesehatan dengan mengunjungi rumah
peserta untuk pemberian informasi /pendidikan kesehatan diri dan lingkungan bagi
peserta Prolanis dan keluarganya. Syarat kegiatan Home visit/Kunjungan rumah
yaitu pada penderita yang baru terdaftar, penderita yang tidak hadir pada kegiatan
Prolanis 3 bulan berturut-turut, dan peserta yang baru selesai di opname, kemudian
hasil dari kunjungan rumah dicatat dibuku pemantauan kesehatan dan dilaporkan
kepada pihak puskesmas dan BPJS Kesehatan.2 Dengan kegiatan home visit
dilakukan dapat mengajarkan cara penanganan penyakit hipertensi seperti relaksasi
otot progresif yang dimana masyarakat dapat mengetahui tindakan yang tepat untuk
penanganan penyakit hipertensi.19
Kegiatan kunjungan rumah diyakini adalah metode yang efektif untuk
manajemen diabetes karena dengan melakukan kujungan rumah sehingga
mempengaruhi kontrol glikemik, manajemen diabetes, serta kunjungan rumah
memperbaiki kualitas hidup, high-density lipoprotein, low-density lipoprotein, total
triglycerides dan self-managemen.20
9
2.5 Pelayanan Kesehatan Puskesmas pada Masa Pandemi Covid-19
Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di puskesmas pada masa adaptasi
kebiasaan baru, maka sesuai dengan peraturan pemerintah tentang penyelenggaraan
Pelayanan Kesehatan Melalui Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi
dalam rangka Pencegahan Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).
Puskesmas menyampaikan informasi terkait pembatasan atau penundaan pelayanan
kesehatan untuk mengurangi risiko penularan COVID-19. Informasi tersebut dapat
disampaikan secara tertulis menggunakan media cetak atau media komunikasi
lainnya. Puskesmas juga dapat memanfaatkan teknologi informasi seperti
pendaftaran daring sebagai bentuk pembatasan pelayanan.12
10
dengan APD lengkap sesuai dengan pedoman karena memicu terjadinya
aerosol.
d. Surat keterangan sehat dapat dikeluarkan berdasarkan hasil pemeriksaan
kondisi pasien secara umum pada saat pemeriksaan dilakukan. Surat
keterangan bebas COVID-19 tidak dapat dikeluarkan mengingat adanya
orang yang terinfeksi COVID-19 tapi tidak bergejala serta konfirmasi
COVID-19 melalui RT-PCR tidak dapat dilakukan di Puskesmas.
e. Pada kasus pasien dengan penyakit kardiovaskuler seperti gagal jantung,
hipertensi, atau penyakit jantung iskemik, pemberian terapi antagonis
RAAS dapat dilanjutkan untuk pasien yang terindikasi menerima
pengobatan tersebut sesuai rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis
Kardiovaskuler Indonesia (PERKI). Pada kasus pasien dengan penyakit
kardiovaskular yang terinfeksi COVID-19, keputusan terkait obat-obatan
perlu dikaji secara individual, dengan mempertimbangkan status
hemodinamik dan presentasi klinis pasien
2. Pelayanan dengan tempat tidur atau rawat inap dan persalinan
a. Pelayanan rawat inap diprioritaskan pada kasus-kasus non COVID-19.
Pemberian pelayanan rawat inap kasus non COVID-19 harus
memperhatikan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dan
physical distancing.
b. Pelayanan rawat inap pada kasus terkait COVID-19 dilakukan berdasarkan
ketentuan yang berlaku sesuai dengan standar pelayanan kasus COVID-19,
dengan mempertimbangkan ketersediaan sumber daya (SDM, sarana,
prasarana, alat kesehatan, BMHP, APD dan pembiayaan) dan persetujuan
dinas kesehatan daerah kabupaten/kota setempat.
c. Persalinan normal tetap dapat dilakukan di Puskesmas bagi ibu hamil
dengan status bukan ODP, PDP atau terkonfirmasi COVID-19 sesuai
kondisi kebidanan menggunakan APD sesuai pedoman. Ibu hamil berisiko
atau berstatus ODP, PDP atau terkonfirmasi COVID-19 dilakukan rujukan
secara terencana untuk bersalin di Fasyankes rujukan.
3. Pelayanan gawat darurat
11
Pelayanan gawat darurat tetap dilaksanakan sesuai standar pelayanan yang
berlaku dengan memperketat proses triase dan memperhatikan prinsip PPI. Apabila
tidak dapat ditentukan bahwa pasien memiliki potensi COVID-19 maka pasien
diperlakukan sebagai kasus COVID-19.12
12
3. Petugas farmasi berkoordinasi dengan program terkait melakukan penyesuaian
kebutuhan obat dan BMHP termasuk APD dan Desinfektan serta bahan untuk
pemeriksaan laboratorium COVID-19 (rapid test, kontainer steril, swab dacron atau
flocked swab dan Virus Transport Medium (VTM).
4. Untuk pelayanan farmasi bagi lansia, pasien PTM, dan penyakit kronis lainnya,
obat dapat diberikan untuk jangka waktu lebih dari 1 bulan, hal ini mengacu pada
Surat Edaran Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS No. 14 Tahun 2020
tentang Pelayanan Kesehatan bagi Peserta JKN Selama Masa Pencegahan COVID-
19.12
13
2. Standar pelayanan:
a. Puskesmas menempatkan pasien yang akan dirujuk pada ruang isolasi
tersendiri yang terpisah.
b. Mendapat persetujuan dari pasien dan/atau keluarganya.
c. Melakukan pertolongan pertama atau stabilisasi pra rujukan.
d. Melakukan komunikasi dengan penerima rujukan melalui pemanfaatan
aplikasi SISRUTE dan memastikan bahwa penerima rujukan dapat
menerima (tersedia sarana dan prasarana serta kompetensi dan tersedia
tenaga kesehatan). Rujukan Suspek PDP melalui Sisrute mengacu pada user
manual sebagaimana lampiran buku Juknis ini.
e. Membuat surat pengantar rujukan dan resume klinis rangkap dua.
f. Transportasi untuk rujukan sesuai dengan kondisi pasien dan ketersediaan
sarana transportasi.
g. Pasien yang memerlukan asuhan medis terus menerus didampingi oleh
tenaga Kesehatan yang kompeten dan membawa formulir monitoring
khusus untuk kasus COVID-19 sesuai dengan Pedoman.
h. Pemantauan rujukan balik.
3. Rujukan dilaksanakan dengan menerapkan PPI, termasuk desinfeksi ambulans.12
14
BAB III
METODE PENELITIAN
15
3.5 Definisi Operasional
1. Masukan (input) adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat
melaksanakan Prolanis dengan baik.
a. SDM adalah seluruh tenaga kesehatan atau petugas Puskesmas Medan Denai
yang bertugas dalam kegiatan Prolanis.
b. Sarana dan prasarana adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mendukung
pelaksanaan Prolanis di Puskesmas Medan Denai.
c. Pendanaan adalah dana yang digunakan untuk melaksanakan Prolanis
di Puskesmas Medan Denai.
2. Proses (Process) adalah pelaksanaan aktivitas Prolanis sesuai dengan buku
panduan Prolanis yang terdiri dari 6 kegiatan yaitu: konsultasi medis peserta
Prolanis, edukasi kelompok peserta Prolanis, home visit, reminder, aktifitas klub,
dan pemantauan status kesehatan di Puskesmas Medan Denai.
3. Keluaran (output) adalah efektivitas pelaksanaan Prolanis di Puskesmas Medan
Denai berdasarkan RPPB (Rasio Peserta Prolanis Rutin Berkunjung).
4. Dokumentasi adalah fakta-fakta data yang tersimpan di dalam bahan yang
berbentuk dokumentasi di Puskesmas Medan Denai.
5. Pengamatan (observasi) adalah kegiatan mengamati pengimplemetasian atau
pelaksanaan program Pengelolaan Penyakit Kronis di Puskesmas Medan Denai.
16
Penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat atau bagan. Yang
paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam kualitatif adalah dengan teks
yang bersifat naratif. Berdasarkan data yang terkumpul dan setelah dianalisis maka
data disajikan secara mendetail dalam bentuk naratif dan matriks sehingga dapat
memberikan gambaran secara mendalam mengenai partisipasi peserta megikuti
program PROLANIS yang dilaksanakan di Puskesmas Medan Denai.
3. Penarikan kesimpulan.
Langkah selanjutnya setelah penyajian data adalah penarikan kesimpulan.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah
bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap
pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada
tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten, saat peneliti
kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan
merupakan kesimpulan yang kredibel (Sugiyono, 2016). Dalam penelitian ini
penarikan kesimpulan dilakukan untuk mendukung dalam menjawab pertanyaan
penelitian ini.
17
BAB IV
HASIL PENELITIAN
18
Gambar 4.1 Wilayah Kerja Puskesmas Medan Denai
19
4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan
Penelitian ini melibatkan 9 informan yang dianggap representatif terhadap
obyek masalah dalam penelitian. Daftar informan dapat dilihat pada tabel 1
sebagai berikut :
Kode Jenis Umur Pendidikan Jabatan
Informan Kelamin terakhir
I1 P 28 S1 Ners PIC Prolanis di FKTP
I2 L 43 S1 Kedokteran Kepala Puskesmas
Umum
I3 P 42 S1 Kedokteran Penanggungjawab
Umum Prolanis di FKTP
I4 P 37 S1 Pelaksana Prolanis di
Keperawatan FKTP
I5 P 42 S1 Pelaksana Olahraga
Keperawatan Prolanis di FKTP
I6 P 57 SMP Peserta Prolanis
I7 L 59 SLTA Peserta Prolanis
I8 P 43 SMA Bukan Peserta Prolanis
I9 L 35 SMA Bukan Peserta Prolanis
20
pemeriksaan kimia darah serta urin rutin setiap satu kali dalam enam bulan. Peserta
Prolanis yang terdaftar di Puskesmas Medan Denai sampai dengan awal tahun 2020
ada 35 orang. Namun sejak masa pandemi covid-19 2020, seluruh kegiatan prolanis
diberhentikan sementara karena tingginya angka kejadian covid-19 sehingga Dinas
Kesehatan Kota Medan mengeluarkan arahan untuk memberhentikan sementara
seluruh kegiatan UKM Puskesmas.
4.2.1 Input
Hasil wawancara tentang SDM diketahui bahwa ketersediaan SDM untuk
prolanis sudah baik. Informan menyatakan bahwa tenaga pelaksana prolanis sudah
mencukupi baik secara kuantitas maupun kualitas. Informan mengatakan bahwa
petugas pelaksana prolanis terdiri dari dokter, perawat, analis lab, dan gizi.
Pelaksana prolanis di Puskesmas Medan Denai memahami pengertian dan tujuan
prolanis. Tiap petugas mempunyai kompetensi sesuai kualifikasi masing-masing.
Menurut informan triangulasi belum semua tenaga pelaksana prolanis di FKTP
mendapatkan pelatihan prolanis dari BPJS Kesehatan, karena pelatihan diberikan
sebagai reward kepada FKTP yang berprestasi. Informan lain menyatakan bahwa
ada tenaga yang ditunjuk untuk melaksanakan kegiatan Prolanis. Hal ini
dibuktikan dengan tersedianya SK petugas Prolanis yang ditetapkan oleh Kepala
Puskesmas.
Hal ini sudah sesuai dengan Permenkes RI No. 43 Tahun 2016 bahwa
pelayanan kesehatan penyandang DM dan hipertensi diberikan sesuai
kewenangannya oleh sekurang-kurangnya terdiri dari dokter, perawat, bidan,
nutrisionis/tenaga gizi.21 Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan merupakan
elemen yang sangat penting dan berpengaruh terhadap peningkatan seluruh aspek
dalam sistem pelayanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat. SDM
pelaksana prolanis dinilai sudah mempunyai kompetensi yang baik karena tenaga
kesehatan tersebut mempunyai sertifikat pendidikan dan pelatihan yang pernah
diikuti sesuai kompetensi masing-masing petugas. Hal ini sesuai dengan penelitian
terdahulu yang dilakukan Mardotillah (2016) bahwa jika dilihat dari sisi
kecukupan jumlah sumber daya manusia pada petugas pelaksana Prolanis di FKTP
yang mengimplementasikan Prolanis dinilai sudah cukup. Petugas pelaksana
21
Prolanis rata-rata terdiri dari 4-5 orang petugas yang terdiri dari dokter pelaksana,
perawat, petugas laboratorium dan petugas kesehatan tambahan.22
Komponen pendanaan merupakan salah satu unsur yang menunjang
keberlangsungan pelaksanaan program atau kegiatan. Berdasarkan hasil penelitian,
sumber dana pada pelaksanaan Prolanis berasal dari BPJS Kesehatan. Dana tersebut
dialokasikan untuk pengadaan obat, bahan habis pakai, alat kesehatan dan subsidi
kegiatan prolanis. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan informan
utama, dana kegiatan prolanis tersebut nantinya akan diganti oleh BPJS Kesehatan
setelah laporan kegiatan prolanis diverifikasi oleh BPJS Kesehatan. Puskesmas
Medan Denai menyediakan konsumsi untuk peserta prolanis. Hasil observasi
didapatkan bahwa konsumsi diwujudkan dalam bentuk roti dan teh. Jumlah
konsumsi yang dipesan sesuai jumlah peserta terdaftar ditambah petugas. Penelitian
yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada pelaksanaan Prolanis, pemeriksaan
kimia darah dan urin rutin untuk peserta prolanis dilakukan oleh jejaring
Laboratorium Prodia. Selama pandemi covid-19, pemeriksaan laboratorium ini
baru mulai dilakukan kembali sejak tahun 2021, yaitu sebanyak dua kali. Informan
menyatakan bahwa pada komponen money, dana yang dibayarkan oleh BPJS
Kesehatan sering kurang, sehingga petugas puskemas swadaya untuk menambah
kekurangan biaya tersebut. Informan juga mengatakan bahwa ada atau tidak ada
dana dari BPJS Kesehatan, kegiatan prolanis tetap dilakukan agar penderita HT dan
DM dapat terpantau kesehatannya. Jadi ketersediaan anggaran dirasa telah
mencukupi.
Hal ini sependapat dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Latifah
& Maryati (2018). Hambatan yang sering dirasakan adalah keterlambatan dalam
pelaporan sehingga menyebabkan realisasi anggaran oleh BPJS terhambat. Apabila
dilihat secara mekanisme sistem, input yang kurang cepat dapat menganggu
kelancaran pelaksanaan kegiatan tersebut.23
Adapun dalam metode, ketersediaan SOP, berdasarkan hasil wawancara,
sudah dibuatkan SOP tentang pelaksanaan prolanis di Puskesmas Medan Denai.
Informan mengatakan bahwa setiap akan memulai program kegiatan, dibuat SK,
KAK, dan SOP terlebih dahulu. Kegiatan penyuluhan tentang prolanis di
puskesmas sebelum masa pandemi telah rutin dilaksanakan, yaitu satu bulan sekali
22
setiap hari Jumat. Informan peserta prolanis mengatakan merasa senang dengan
materi-materi penyuluhan yang disampaikan karena menambah pengetahuan
peserta prolanis tentang penyakit kronis. Namun kegiatan penyuluhan ini
diberhentikan sementara selama masa pandemi karena arahan dari Dinas Kesehatan
Kota Medan dan adanya rasa takut peserta prolanis terpapar covid-19 karena
mayoritas peserta prolanis adalah lansia yang rentan dan belum adanya vaksin di
awal masa pandemi. Informan triangulasi yang didapat dari penderita DM tetapi
bukan anggota prolanis mengatakan bahwa mereka belum pernah mendapatkan
sosialisasi tentang kegiatan prolanis di puskesmas. Informan utama menyarankan
agar sosialisasi dan penyuluhan diperbanyak lagi, terutama di posbindu, posyandu,
ruang tunggu, dan sebagainya. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Meiriana, dkk (2019) Bentuk komitmen petugas pengelola program
prolanis yaitu mempunyai SK pengelola program prolanis, mempunyai data peserta
prolanis, penjadwalan pelayanan prolanis, dan selalu mengingatkan pasien.24
Ketersediaan sarana prasarana juga termasuk input dalam penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukan sarana dan prasarana yang dibutuhkan terkait
pelaksanaan Prolanis sebelum masa pandemi covid-19 sudah cukup baik. Informan
menyebutkan bahwa peralatan kesehatan yang dibutuhkan untuk pemeriksaan
sudah cukup, obat-obatan dan ATK juga cukup. Sound system portable, laptop,
LCD, pointer, printer, berfungsi baik juga. Informan juga mengatakan bahwa
sebelum masa pandemi covid-19, pelaksanaan prolanis dilaksanakan di halaman
belakang Puskesmas Medan Denai. Namun selama masa pandemi covid-19,
pelayanan pengobatan di Puskesmas Medan Denai dipindahkan keluar Gedung
Puskesmas, yaitu di halaman depan Puskesmas, sehingga halaman depan yang
sebelumnya berfungsi sebagai lapangan parkir kendaraan bermotor sudah
dialihfungsikan menjadi tempat pelayanan pengobatan, dan lapangan parkir
kendaraan bermotor dipindahkan ke halaman belakang belakang yang sebelumnya
dipakai untuk kegiatan prolanis. Hal ini sependapat dengan hasil penelitian
terdahulu Mardotillah (2016) bahwa tidak memadainya ruangan khusus untuk
kegiatan Prolanis.22 Sejalan juga dengan penelitian terdahulu Assupina et al (2013)
bahwa analisis dari segi sarana diketahui masih terjadi kendala pada penyediaan
sarana dan tempat untuk pelaksanaan aktivitas klub.25
23
Adapun ketersediaan sarana prasarana yang berupa buku pemantauan
kesehatan untuk peserta sudah dibagikan sebelum masa pandemi covid-19. Peserta
prolanis menyimpan hasilnya untuk memantau kesehatannya. Peralatan (machine)
digunakan untuk mendukung kelancaran kegiatan program pengelolaan penyakit di
puskesmas. Peralatan yang tersedia seperti tensimeter, stetoskop, timbangan injak
dewasa, sound system, laptop, pointer, LCD dan microtoise. Peralatan tersebut juga
tersedia dalam jumlah yang cukup dan layak untuk digunakan. Hasil ini sejalan
dengan penelitian Sitohang (2015). Ketersediaan sarana dan prasarana yang cukup
dengan kualitas yang baik, sangat dibutuhkan setiap organisasi dimanapun dalam
menyelenggarakan kegiatannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.26
4.2.2 Process
Perencanaan (Plan) tentang uraian kegiatan, target, sasaran, sumber dana,
publikasi jadwal dan tempat sebelum masa pandemi covid-19 sudah dilakukan
dengan baik. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan informan utama yang
menyebutkan bahwa sebelum kegiatan prolanis dimulai, diadakan pertemuan untuk
berdiskusi serta berkoordinasi dengan prodia dan pelaksana. Dalam pertemuan ini
membahas tentang waktu, tempat, pendanaan, penunjukan nara sumber, dan
instruktur senam.
Puskesmas Medan Denai mengganti tools kegiatan reminder SMS
gateway/pengingat dengan group media sosial whatsapp. Kegiatan ini
mempermudah komunikasi antara penanggungjawab dan pelaksana prolanis
dengan peserta. Untuk peserta yang tidak mempunyai akses whatsapp, maka
komunikasi tetap dilakuakan melalui sms. Hal ini sependapat dengan hasil
penelitian terdahulu Pratiwi (2017) bahwa apabila ada informasi penting yang harus
disampaikan kepada peserta Prolanis, PIC Prolanis menggunakan media elektronik,
yaitu grup whatsapp yang beranggotakan peserta Prolanis dan kader.27
Pelaksanaan (Do) kegiatan prolanis yang meliputi pemantauan kesehatan,
senam, penyuluhan, konsultasi medis, pengobatan, dan home visit sudah dilakukan
semua oleh petugas, dan peserta juga mengikuti dengan baik. Hasil observasi
penelitian menyebutkan bahwa peserta yang datang didaftar, mengisi daftar hadir,
kemudian dilakukan penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan,
24
pengukuran tekanan darah, pemeriksaan lab, konsultasi, senam, penyuluhan, serta
pengobatan. Namun seejak pandemi covid-19 pada tahun 2020, kegiatan prolanis
berupa senam dan penyuluhan diberhentikan sementara.
Pemeriksaan (Check) atau evaluasi terhadap pelaksanaan prolanis di
Puskesmas Medan Denai pada masa pandemi covid-19 telah dilakukan. Tujuan
evaluasi untuk menilai keberhasilan pelaksanaan program Prolanis di puskesmas.
Sejak tahun 2021, Dinas Keshatan Kota Medan sudah memperbolehkan untuk
dimulainya kembali kegiatan prolanis dengan mematuhi protokol kesehatan.
Kegiatan prolanis yang pertama diadakan untuk wilayah kerja Puskesmas Medan
Denai adalah pemeriksaan kimia darah dan urin rutin pada bulan Februari dan
Agustus 2021. Melihat angka penderita Covid-19 yang sudah menurun pada bulan
September 2021, peserta prolanis mulai meminta untuk diadakannya kembali
serangkaian kegiatan prolanis, sehingga sejak bulan Oktober 2021 direncakan
untuk dimulainya kembali kegiatan senam dan penyuluhan kepada peserta prolanis.
Tindak lanjut (Action) terhadap kondisi prolanis di masa pandemi adalah
dimulainya kembali kegiatan prolanis berupa senam kebugaran jasmani, senam
jantung sehat, dan penyuluhan mengenai penyakit kronis, dan pemantauan
kesehatan prolanis secara rutin mulai bulan Oktober 2021 dengan mematuhi
prokotol kesehatan dan kegiatan direncanakan untuk dilakukan setiap satu bulan
sekali.
25
penyakit DM dan HT. Informan yang lain juga menyebutkan bahwa dengan
mengikuti prolanis, pengetahuan peserta prolanis jadi bertambah, sehingga
mengetahui bagaimana cara agar hidup tetap lebih sehat dengan cara mengatur pola
makan dan pola hidupnya.
26
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Selama masa pandemi covid-19 tahun 2020, pelaksanaan kegiatan prolanis
di Puskesmas Medan Denai ditiadakan. Hal ini dikarenakan beberapa hal yaitu
tingginya angka covid-19 pada tahun 2020 sehingga terdapat arahan dari Dinas
Kesehatan Kota Medan untuk meniadakan kegiatan prolanis dan adanya rasa takut
peserta prolanis untuk berkumpul melakukan kegiatan karena mayoritas peserta
prolanis adalah lansia yang rentan. Kegiatan prolanis mulai dilaksanakan kembali
pada tahun 2021 yaitu dimulai dengan kegiatan pemeriksaan kimia darah dan urin
rutin pada bulan Februari dan Agustus 2021. Seiring dengan menurunnya jumlah
kasus covid-19 dan tingginya capaian vaksin covid-19 pada peserta prolanis, mulai
bulan Oktober 2021 kembali kegiatan rutin prolanis mulai diadakan kembali, yaitu
berupa senam kebugaran jasmani, senam jantung sehat, dan penyuluhan terkait
materi penyakit kronis, yang direncanakan dilakukan setiap satu bulan sekali.
Puskesmas Medan Denai mengganti tools kegiatan reminder SMS
gateway/pengingat dengan group media sosial whatsapp.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan serta manfaat yang ingin
dicapai dalam penelitian ini maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Bagi Puskesmas Medan Denai
a. Diharapkan agar Puskesmas Medan Denai meningkatkan sosialisasi tentang
kegiatan prolanis kepada masyarakat, agar jumlah peserta terdaftar menjadi
meningkat.
b. Diharapkan agar Puskesmas Medan Denai dapat konsisten untuk
mengadakan kembali kegiatan prolanis di masa pandemi dengan tetap
memperhatikan protokol kesehatan.
2. Bagi BPJS Kesehatan
Diharapkan pihak BPJS Kesehatan melakukan upaya pengawasan secara
langsung terhadap pelaksanaan program pengelolaan penyakit kronis di FKTP,
27
guna meningkatkan pelayanan Prolanis dan diharapkan BPJS Kesehatan dapat
melakukan pembayaran biaya kegiatan prolanis dengan lancar.
3. Bagi peserta prolanis
Diharapkan bagi peserta prolanis agar lebih memiliki kesadaran akan pentingnya
kegiatan ini karena pihak Puskesmas telah memfasilitasi kegiatan ini guna
meningkatkan status kesehatan peserta penyakit kronis
4. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi dan data untuk penelitian
selanjutnya terkait tentang inovasi pengembangan kegiatan program
pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) BPJS Kesehatan
28
DAFTAR PUSTAKA
29
17. Sugiastuti, Sri, R. R. B., Putro, & Gurendro. 2019. Analisis Manajemen
Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Hipertensi Di Klinik
Pratama Dinalya Utama 84. Jurnal Manajerial Bisnis, 2(2), 169–178.
18. Musfirah Ahmad. 2018. Korelasi Antara Pelaksanaan Prolanis dengan
Pengendalian Kadar Gula Darah Penderita DM Tipe 2 Di Puskesmas
Antang dan Pampang Kota Makassar. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 12, 339–
345.
19. Asriadi, A., Mulyono, S., & Khasanah, U. 2020. Prolanis terhadap Self
Management Lansia dengan Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Somba
Opu Kabupaten Gowa. JHeS (Journal of Health Studies), 4(2), 19–25.
https://doi.org/10.31101/jhes.1656.
20. Han, L., Ma, Y., Wei, S., Tian, J., Yang, X., Shen, X., Zhang, J., & Shi, Y.
2017. Are home visits an effective method for diabetes management? A
quantitative systematic review and meta-analysis. Journal of Diabetes
Investigation, 8(5), 701–708. https://doi.org/10.1111/jdi.12630.
21. Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Repubik Indonesia
No. 43 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan
22. Mardotillah, A. A. 2016. Implementasi Pelaksanaan Program Pengelolaan
Penyakit Kronis (Prolanis) di BPJS Kesehatan Kantor Cabang Jakarta
Timur Tahun 2016. Skripsi : Program Sarjana Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia
23. Latifah, I & Maryati, S. 2018. Analisis Pelaksanaan Program Pengelolaan
Penyakit Kronis (Prolanis) Bpjs Kesehatan Pada Pasien Hipertensi Di
Uptd Puskesmas Tegal Gundil Kota Bogor. Jurnal Kesehatan Masyarakat,
volume 6, nomor 2. Bogor : Fakultas Ilmu Kesehatan, Program Studi
Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Manajemen Pelayanan Kesehatan,
Universitas Ibn Khaldun Bogor.
24. Meiriana, A, Trisnantoro L & Padmawati, R, S. 2019. Implementasi
Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Pada Penyakit
Hipertensi Di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta. Jurnal Ilmu Kesehatan
Masyarakat, volume 8, nomor 2. Yogyakarta : Fakultas Kedokteran,
Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada.
25. Assupina, et al. 2013. Analisis Implementasi Program Pengelolaan
Penyakit Kronis (Prolanis) Pada Dokter Keluarga PT ASKES di Kota
Palembang Tahun 2013. Skripsi. Palembang: Universitas Sriwijaya
26. Sitohang, R. S. 2015. Implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun
2010 Tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah pada Pemerintah
Kabupaten Dairi. Jurnal Administrasi Publik, Vol. 6 (2): 132-153, USU.
27. Pratiwi, N. L. P. A. 2017. Gambaran Pelaksanaan Program Pengelolaan
Penyakit Kronis Di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) Wilayah
Kerja BPJS Kesehatan Kota Bogor Tahun 2017. Skripsi. Depok: Program
Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
30