Pengendalian Risiko Diabetes di Kariangau
Pengendalian Risiko Diabetes di Kariangau
Pendamping:
dr. Nitra Ayu Utami
Disusun Oleh:
dr. Hieronimus Indra Wirakusuma
dr. Roi Dihita Rajaguguk
dr. Kristina Yuniasih
dr. Rika Stefani Tjahjono
dr. Panji Dwi Utomo
dr. I Made Tirta Saputra
PUSKESMAS KARIANGAU
KELURAHAN KARIANGAU KECAMATAN BALIKPAPAN BARAT
Pendamping
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji serta syukur kehadirat Allah SWT karena berkat petunjuk,
karunia, dan rahmat-Nya jualah sehingga tugas mandiri yang berjudul Pengendalian Faktor
Resiko Pada Pasien Dengan Diabetes Mellitus Pada Wilayah RT 01/02 Kariangau Desember
2013 Februari 2014 dapat terselesaikan.
Penulisan laporan ini dibuat guna melengkapi tugas Dokter Internship di Puskesmas
Kariangau. Tentunya kami berharap pembuatan laporan ini berfungsi sebagai apa yang telah
disebut di atas. Namun, besar harapan penulis ini juga dapat bermanfaat bagi puskesmas,
dalam hal ini Puskesmas Kariangau dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan,
meningkatnya mutu Puskesmas, sehingga dapat menjadi puskesmas unggulan di wilayah
Kota Balikpapan. Penulisan laporan ini tiada akan pernah terselesaikan tanpa dukungan
berbagai pihak. Untuk itu dengan segenap ketulusan hati, penulis menghaturkan terima kasih
dan penghargaan sebesar-besarnya kepada :
1. Bp. Yogik Wahyudianto,Ssi,Apt selaku kepala Puskesmas dan pembimbing
selama berada di Puskesmas Kariangau.
2. dr. Nitra Ayu Utami sebagai pendamping, atas segala ketulusan dan kerelaannya
mendampingi kita semua.
3. dr. Nur Ayu Hasanah dan seluruh Tim Dokter Puskesmas Kariangau.
4. Ibu Siti Rohidah selaku Kepala Tata Usaha Puskesmas Kariangau
5. Ibu Aka dan Bp. Imam yang membantu kami dalam pengumpulan sampel
6. Bapak, ibu perawat, bidan dan seluruh karyawan Puskesmas Kariangau yang telah
sudi meluangkan waktunya untuk membantu penyusunan laporan dan membagi
ilmunya kepada kami selama menjalani Kepaniteraan di Puskesmas Kariangau
7. Kedua orang tua dan keluarga yang tidak henti-hentinya memberikan dukungan
moril dan materiil selama mengikuti program Dokter Intership.
Semoga semua pihak yang telah disebutkan tadi mendapat anugerah yang berlimpah
dari ALLAH SWT atas segala kebaikan yang diberikan kepada penulis.
Kami menyadari bahwa hasil evaluasi yang dituangkan dalam laporan ini masih jauh
dari kesempuranaan, kami berharap laporan kritik dan saran yang dapat membangun dan
bermanfaat untuk kami dan kemajuan pelayanan Puskesmas Kariangau.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
WHO melaporkan bahwa 60% penyebab kematian semua umur di dunia karena
penyakit tidak menular dan Diabetes Melitus berada di peringkat ke 6 sebagai penyebab
kematian. Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes, dan 4% meninggal sebelum
usia 70 tahun. (Konsensus Nasional DM tahun 2012)
Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
(Dirjen
P2PL)
Kemenkes
RI,
Prof.dr.Tjandra
Yoga
Aditama,
Sp.P
penyakit DM maka kualitas hidup mereka tidak menurun. Sampel yang diambil adalah
orang yang menderita DM dari wilayah RT 01/02 Kariangau berdasarkan data-data yang
telah ada di Kelurahan Kariangau karena wilayah RT 01/02 sangat dekat dengan
Puskesmas Pembantu Kariangau sehingga lebih mudah dalam mengontrol penderita DM
tersebut.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas didapatkan rumusan masalah yaitu:
1. Apa saja faktor- faktor yang dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah
pada penderita DM khususnya di wilayah RT 01/02 Kelurahan Kariangau?
2. Apa saja alternatif pemecahan masalah untuk menanggulangi peningkatan kadar
gula darah pada penderita DM di RT 01/02 Kelurahan Kariangau?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui, mempelajari, dan mengevaluasi tentang Penyakit DM di RT 01/02,
Kelurahan Kariangau, Kota Balikpapan tahun 2013
2. Tujuan Khusus
Mencari pemecahan masalah mengenai kadar gula darah yang tidak terkontrol pada
penderita DM di RT 01/02, Kelurahan Kariangau, Kota Balikpapan.
Memberikan masukan dan saran kepada Puskesmas dan Puskesmas Pembantu untuk
mengatasi masalah penyakit DM di RT 01/02, Kelurahan Kariangau, Kota
Balikpapan.
D. Batasan Pengkajian
1. Batasan Judul
Laporan kegiatan dengan judul Pengendalian Faktor Resiko Pada Pasien Dengan
Diabetes Mellitus wilayah RT 01/02 Kariangau Desember 2013 Februari 2014
mempunyai batasan pengertian judul sebagai berikut:
a. Rencana
Adalah rancangan segala sesuatu yang akan dikerjakan
b. Peningkatan
Adalah upaya untuk menambah tingkat, derajat, kualitas
c. Cakupan
Jangkauan suatu hal.
d. Program
Adalah rancangan mengenai asas serta usaha yang akan dijalankan.
e. Wilayah RT 01/02 Kariangau
Merupakan salah satu Kelurahan yang terletak di Kecamatan Balikpapan Barat, Kota
Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur
f. Desember 2013- Februari 2014
Adalah periode waktu dilaksanakannya pemantauan kadar gula darah pasien
diabetes mellitus di wilayah RT 01/02 Kariangau
2. Batasan Operasional
b. Lingkup waktu
c. Lingkup sasaran
d. Lingkup metode
e. Lingkup materi
: Evaluasi
E. Manfaat
1. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada
instansi terkait dan dapat dijadikan sebagai dokumentasi ilmiah untuk memperbaiki
status kesehatan khususnya di Puskesmas Pembantu yang berada dilingkungan RT
01/02, Kelurahan Kariangau, Kota Balikpapan.
2. Bagi Masyarakat
a) Masyarakat dapat mengetahui penyakit DM lebih lanjut dan dapat mencegah
komplikasi yang timbul dari penyakit DM
b) Masyarakat mampu mempraktekan pola hidup sehat untuk penderita DM
c) Masyarakat mau memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia secara
optimal dengan cara mengontrol kadar gula darah secara rutin
3. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan mengenai penyakit DM dan permasalahannya serta cara
pemecahan masalah kesehatan tersebut di masyarakat dengan pendekatan sistem.
F. Metodologi
Pengumpulan data dilakukan di RT 01/02, Kelurahan Kariangau, Kota Balikpapan
pada tanggal 28 Januari dan 7 Februari 2014 , diambil 25 orang yang menderita DM yang
bertempat tinggal di RT 01/02, Kelurahan Kariangau, Kota Balikpapan..
Jenis data yang diambil adalah data primer yang didapatkan dengan cara wawancara,
pemeriksaan kadar gula darah dalam tubuh, pengobatan, pencatatan, dan pengamatan
terlibat, sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan puskesmas tahun 2013 yang ada
di Petugas kesehatan Puskesmas Kariangau.
Data kemudian diolah untuk diidentifikasi penyebab masalahnya melalui pendekatan
sistem, kemudian melakukan konfirmasi dengan petugas puskesmas untuk menemukan
penyebab masalah yang paling mungkin. Langkah selanjutnya mencari alternatif
pemecahan masalah dari penyebab yang paling mungkin. Kemudian memprioritaskan
alternatif pemecahanan masalah dengan kriteria matriks.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
DIABETES MELITUS
A. Defnisi
Diabetes melitus merupakan penyakit endokrin akibat defek dalam sekresi dan kerja
insulin atau keduanya sehingga terjadi defisiensi insulin dimana tubuh mengeluarkan
terlalu sedikit insulin atau insulin yang dikeluarkan resisten sehingga mengakibatkan
kelainan metabolisme kronis berupa hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan
metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan komplikasi kronik pada sistem
tubuh. 1
B. Klasifikasi2
Diabetes mellitus dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.
Diabetes melitus tipe 1, yakni diabetes mellitus yang disebabkan oleh kurangnya
produksi insulin oleh pankreas.
2.
Diabetes melitus tipe 2, yang disebabkan oleh resistensi insulin, sehingga penggunaan
insulin oleh tubuh menjadi tidak efektif.
3.
Selain tipe-tipe diabetes melitus, terdapat pula keadaan yang disebut prediabetes. Kadar
glukosa darah seorang pasien prediabetes akan lebih tinggi dari nilai normal, namun belum
cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes melitus. Yang termasuk dalam keadaan
prediabetes adalah Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) dan Glukosa Darah Puasa
Terganggu (GDPT).
C. Etiologi2
Diabetes Tipe 1 dipercaya sebagai penyakit autoimun, di mana sistem imun tubuh
sendiri secara spesifik menyerang dan merusak sel-sel penghasil insulin yang terdapat
pada pankreas. Belum diketahui hal apa yang memicu terjadinya kejadian autoimun ini,
namun bukti-bukti yang ada menunjukkan bahwa faktor genetik dan faktor lingkungan
seperti infeksi virus tertentu berperan dalam prosesnya. Walaupun diabetes tipe 1
berhubungan dengan faktor genetik, namun faktor genetik lebih banyak berperan pada
kejadian diabetes tipe 2.
Diabetes tipe 2 diduga disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Banyak pasien diabetes tipe 2 memiliki anggota keluarga yang juga menderita diabetes
tipe 2 atau masalah kesehatan lain yang berhubungan dengan diabetes, misalnya kolesterol
darah yang tinggi, tekanan darah tinggi (hipertensi) atau obesitas. Keturunan ras Hispanik,
Afrika dan Asia memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menderita diabetes tipe 2.
Sedangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi risiko menderita diabetes tipe 2 adalah
makanan dan aktivitas fisik kita sehari-hari.
Berikut ini adalah faktor-faktor risiko mayor seseorang untuk menderita diabetes tipe 2.
1.Riwayat
keluarga inti menderita diabetes tipe 2 (orang tua atau kakak atau adik)
2.Tekanan
3.Dislipidemia:
(GDPT)
5.Riwayat
8.Obesitas
atau berat badan berlebih (berat badan 120% dari berat badan ideal)
9.Usia tua,
10. Riwayat
insulin
Diabetes gestasional disebabkan oleh perubahan hormonal yang terjadi selama
kehamilan. Peningkatan kadar beberapa hormon yang dihasilkan plasenta membuat sel-sel
tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin (resistensi insulin). Karena plasenta terus
berkembang selama kehamilan, produksi hormonnya juga semakin banyak dan
memperberat resistensi insulin yang telah terjadi. Biasanya, pankreas pada ibu hamil dapat
menghasilkan insulin yang lebih banyak (sampai 3x jumlah normal) untuk mengatasi
resistensi insulin yang terjadi. Namun, jika jumlah insulin yang dihasilkan tetap tidak
cukup, kadar glukosa darah akan meningkat dan menyebabkan diabetes gestasional.
Kebanyakan wanita yang menderita diabetes gestasional akan memiliki kadar gula darah
normal setelah melahirkan bayinya. Namun, mereka memiliki risiko yang lebih tinggi
untuk menderita diabetes gestasional pada saat kehamilan berikutnya dan untuk menderita
diabetes tipe 2 di kemudian hari.
D. Patofisiologi
Penyakit diabetes membuat gangguan/komplikasi melalui kerusakan pada pembuluh
darah di seluruh tubuh, disebut angiopati diabetik. Penyakit ini berjalan kronis dan terbagi
dua yaitu gangguan pada pembuluh darah besar (makrovaskular) disebut makroangiopati,
dan pada pembuluh darah halus (mikrovaskular) disebut mikroangiopati. Bila yang terkena
pembuluh darah di otak timbul stroke, bila pada mata terjadi kebutaan, pada jantung
penyakit jantung koroner yang dapat berakibat serangan jantung/infark jantung, pada
ginjal menjadi penyakit ginjal kronik sampai gagal ginjal tahap akhir sehingga harus cuci
darah atau transplantasi. Bila pada kaki timbul luka yang sukar sembuh sampai menjadi
busuk (gangren). Selain itu bila saraf yang terkena timbul neuropati diabetik, sehingga ada
bagian yang tidak berasa apa-apa/mati rasa, sekalipun tertusuk jarum /paku atau terkena
benda panas3.
Kelainan tungkai bawah karena diabetes disebabkan adanya gangguan pembuluh darah,
gangguan saraf, dan adanya infeksi. Pada gangguan pembuluh darah, kaki bisa terasa
sakit, jika diraba terasa dingin, jika ada luka sukar sembuh karena aliran darah ke bagian
tersebut sudah berkurang. Pemeriksaan nadi pada kaki sukar diraba, kulit tampak pucat
atau kebiru-biruan, kemudian pada akhirnya dapat menjadi gangren/jaringan busuk,
kemudian terinfeksi dan kuman tumbuh subur, hal ini akan membahayakan pasien karena
infeksi bisa menjalar ke seluruh tubuh (sepsis). Bila terjadi gangguan saraf, disebut
neuropati diabetik dapat timbul gangguan rasa (sensorik) baal, kurang berasa sampai mati
rasa. Selain itu gangguan motorik, timbul kelemahan otot, otot mengecil, kram otot,
mudah lelah. Kaki yang tidak berasa akan berbahaya karena bila menginjak benda tajam
tidak akan dirasa padahal telah timbul luka, ditambah dengan mudahnya terjadi infeksi.
Kalau sudah gangren, kaki harus dipotong di atas bagian yang membusuk tersebut 3.
Gangren diabetik merupakan dampak jangka lama arteriosclerosis dan emboli trombus
kecil. Angiopati diabetik hampir selalu juga mengakibatkan neuropati perifer. Neuropati
diabetik ini berupa gangguan motorik, sensorik dan autonom yang masing-masing
memegang peranan pada terjadinya luka kaki. Paralisis otot kaki menyebabkan terjadinya
perubahan keseimbangan di sendi kaki, perubahan cara berjalan, dan akan menimbulkan
titik tekan baru pada telapak kaki sehingga terjadi kalus pada tempat itu 4.
Gangguan sensorik menyebabkan mati rasa setempat dan hilangnya perlindungan
terhadap trauma sehingga penderita mengalami cedera tanpa disadari. Akibatnya, kalus
dapat berubah menjadi ulkus yang bila disertai dengan infeksi berkembang menjadi
selulitis dan berakhir dengan gangren4.
Gangguan saraf autonom mengakibatkan hilangnya sekresi kulit sehingga kulit kering
dan mudah mengalami luka yang sukar sembuh. Infeksi dan luka ini sukar sembuh dan
mudah mengalami nekrosis akibat dari tiga faktor. Faktor pertama adalah angiopati
arteriol yang menyebabkan perfusi jaringan kaki kurang baik sehingga mekanisme radang
jadi tidak efektif. Faktor kedua adalah lingkungan gula darah yang subur untuk
perkembangan bakteri patogen. Faktor ketiga terbukanya pintas arteri-vena di subkutis,
aliran nutrien akan memintas tempat infeksi di kulit 5.
E. Gambaran Klinis
Pada awalnya, pasien sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes
melitus, bahkan sampai bertahun-tahun kemudian. Namun, harus dicurigai adanya
diabetes melitus jika seseorang mengalami keluhan klasik diabetes melitus berupa :
1. poliuria (banyak berkemih)
2. polidipsia (rasa haus sehingga jadi banyak minum)
3. polifagia (banyak makan karena perasaan lapar terus-menerus)
4. penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
Jika keluhan di atas dialami oleh seseorang, untuk memperkuat diagnosis dapat
diperiksa keluhan tambahan diabetes melitus berupa :
1. lemas, mudah lelah, kesemutan, gatal
2. penglihatan kabur
3. penyembuhan luka yang buruk
4. disfungsi ereksi pada pasien pria
5. gatal pada kelamin pasien wanita
Diagnosis DM tidak boleh didasarkan atas ditemukannya glukosa pada urin saja.
Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan kadar glukosa darah dari pembuluh darah vena.
Sedangkan untuk melihat dan mengontrol hasil terapi dapat dilakukan dengan memeriksa
kadar glukosa darah kapiler dengan glukometer.
Seseorang didiagnosis menderita DM (diabetes melitus) jika ia mengalami satu atau
lebih kriteria di bawah ini:
1. Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma sewaktu 200 mg/dL
2. Mengalami gejala klasik DM dan kadar glukosa plasma puasa 126 mg/dL
3. Kadar gula plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) 200 mg/dL
4. Pemeriksaan HbA1C 6.5%
Keteragan :
Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari
tanpa memperhatikan waktu makan terakhir pasien.
Puasa artinya pasien tidak mendapat kalori tambahan minimal selama 8 jam.
Sewaktu
(mg/dL)
Puasa (mg/dL)
Plasma vena
Darah kapiler
Bukan DM
Belum
DM
<100
<90
pasti DM
100 - 199
90 199
200
200
Plasma vena
<100
100 125
126
Darah kapiler
<90
90 99
100
Sumber: Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2 di
Indonesia PERKENI tahun 2011
F. Komplikasi4
1. Komplikasi Akut
Keadaan yang termasuk dalam komplikasi akut DM adalah ketoasidosis diabetik
(KAD) dan Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH). Pada dua keadaan ini kadar
glukosa darah sangat tinggi (pada KAD 300-600 mg/dL, pada SHH 600-1200 mg/dL),
dan pasien biasanya tidak sadarkan diri. Karena angka kematiannya tinggi, pasien harus
segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan yang memadai.
Keadaan hipoglikemia juga termasuk dalam komplikasi akut DM, di mana terjadi
penurunan kadar glukosa darah sampai < 60 mg/dL. Pasien DM yang tidak sadarkan
diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Hal-hal yang dapat
menyebabkan terjadinya hipoglikemia misalnya pasien meminum obat terlalu banyak
(paling sering golongan sulfonilurea) atau menyuntik insulin terlalu banyak, atau pasien
tidak makan setelah minum obat atau menyuntik insulin.
Tujuan tatalaksana pasien diabetes melitus tipe 2 adalah menurunkan kadar glukosa
darah
menjadi
normal
atau
mendekati
normal,
sehingga mencegah
terjadinya
BB
BBR = -------- x 100% (BB: Kg, TB: cm)
TB 100
Kriteria:
Kurus (underweight)
Normal (ideal)
: BBR 90 110%
Gemuk (overweight)
Obesitas
Contoh Kasus:
Seorang ibu berusia 45 tahun mempunyai tinggi badan 160 cm dan berat badan
65 kg, selama 15 tahun terakhir menderita DM dengan aktivitas biasa.
BB
65
160-100
Jadi kebutuhan energi per hari seorang ibu tadi adalah = 65 x 30 kalori = 1950
kalori/hari
b. Berhenti merokok
Pasien DM tipe 2 yang merokok akan meningkatkan risiko terjadinya
komplikasi diabetes yaitu penyakit jantung koroner, stroke dan gangguan
sirkulasi darah pada anggota gerak. Hal ini terjadi karena rokok merusak
struktur pembuluh darah. Oleh karena itu pasien DM sangat dianjurkan untuk
berhenti merokok2.
2. Sarana pengendalian secara farmakologis pada diabetes melitus dapat berupa :
a. pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO)7
Tabel 2. Jenis Obat Hipoglikemik Oral yang tersedia di Indonesia.8
NAMA
GENERIK
DOSIS
Lama
Frekuensi
Harian
Kerja
(Kali)
(mg)
BIGUANID
Inhibitor
(jam)
50
24-36
Tolbutamid
500-2000
6-12
2-3
Glibenklamid
2.5-20
2.5
12-24
1-2
Glipizid
5-20
10-16
1-2
Glikazid
80-240
40
10-20
1-2
Glikuidon
Metformin
Acarbose
30-120
250-3000
150-300
15
15
50
10-20
6-8
-
1-3
1-3
1-3
Glukosidase
b. Pemberian Insulin.
Pasien DM dianjurkan untuk berkonsultasi secara rutin ke dokter untuk
mengontrol hasil pengobatan. Jika kadar glukosa darah belum mencapai angka
yang diharapkan, maka dokter akan menyesuaikan dosis obat atau insulin yang
diberikan. Selain itu, pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara
mandiri oleh pasien dengan menggunakan glukometer. Pasien dapat mencatat
hasil pemeriksaannya dan memberikannya kepada dokter saat berkonsultasi.
Jika kadar glukosa darah sudah menjadi atau mendekati nilai normal dengan
meminum obat atau insulin, pasien harus tetap meminum OHO atau memakai
insulin sesuai dosis yang telah diberikan oleh dokter dan kembali
berkonsultasi sesuai jadwal yang telah ditentukan8.
BAB III
DATA UMUM KELURAHAN KARIANGAU, BALIKPAPAN BARAT DAN
GAMBARAN PROFIL RESPONDEN
A. Keadaan Geografis
1. Letak Wilayah, Keadaan Geografi, dan Cuaca
Balikpapan merupakan kota perdagangan, jasa, dan industri karena
letak
geografisnya sangat strategis dari aspek lalu lintas perkonomian dan perhubungan bagi
2. Batas Wilayah
Wilayah Kelurahan Kariangau dibatasi oleh:
-
3. Luas Wilayah
Luas Wilayah Kelurahan Kariangau berdasarkan statistik tahun 2012 adalah 170.146
km2
B. Keadaan Penduduk
1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk di Kelurahan Karianagu tahun 2012 berdasarkan data dari Kantor
Kelurahan Kariangau tahun 2012, adalah 4.187 jiwa, dengan jumlah 1.054 kepala
keluarga. Jumlah penduduk di RT 01 Kelurahan Kariangau342 jiwa, dengan jumlah
123 kepala keluarga. Sedangkan penduduk di RT 02 Kelurahan Kariangau 481 jiwa,
dengan jumlah 147 kepala keluarga
Perkembangan penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat dari perkembangan ratio
jenis kelamin, yaitu perbandingan penduduk laki-laki dengan penduduk perempuan.
Untuk seks ratio penduduk kelurahan Kariangau dimana jumlah penduduk laki-laki
sebanyak
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
01
210 jiwa
132 jiwa
342 jiwa
02
258 jiwa
223 jiwa
481 jiwa
TOTAL
823 jiwa
4. Komposisi penduduk
Untuk penduduk umur 0-14 tahun di Keluraha Kariangau adalah sebanyak 1.357 jiwa,
untuk kelompok umur 15-64 tahun di Kelurahan Kariangau adalah sebanyak 2746 jiwa,
untuk kelompok umur > 64 tahun di Kelurahan Kariangaut 84jiwa.
RT 01 dan RT 02
menderita DM. Rata-rata usia responden antara 40-75 tahun. Tingkat pendidikan
responden rata-rata adalah sekolah dasar. Pekerjaan responden rata-rata adalah ibu rumah
tangga. Rata-rata responden tidak memiliki penghasilan karena responden merupakan
lansia yang bergantung pada penghasila dari anaknya.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Persen
(%)
20.8
70.85
4.16
4.16
100
5
17
1
1
24
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (70.85%) berpendidikan
SD. Sedangkan 5 responden (20.8) tidak bersekolah.
Tabel 2. Distribusi Pekerjaan Responden
Pekerjaan
Karyawan
Wiraswasta
Ibu Rumah Tangga
Nelayan
Jumlah
1
4
18
1
24
Persen
(%)
4.16
16.68
75
4.16
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (75%) berkerja sebagai
ibu rumah tangga.
Tabel 3. Distribusi Jumlah Pendapatan
Pendapatan
Tidak berpenghasilan
< Rp 500.000
Rp. 500.000 Rp 1.500.000
> Rp 1.500.000
Jumlah
10
1
6
7
24
Persen
(%)
41.67
4.16
25
29.17
100
Dari data di atas terlihat hampir dari setengah (41.67 %) responden tidak
berpenghasilan. Sedangkan lebih dari seperempat (29.17%) responden memiliki penghasilan
lebih dari Rp. 1.500.000,- setiap bulannya.
Tabel 4. Pengetahuan Responden Terhadap Penyakit Diabetes
Pengetahuan Tentang
Pengertian Diabetes
Persen (%)
Tahu
4.16
Tidak tahu
23
95.84
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa hampir seluruh responden (95.84%) tidak mengetahui
tentang pengertian penyakit diabetes melitus.
Persen (%)
Tahu
16.67
Tidak tahu
20
83.33
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa hampir seluruh responden (83.33%) tidak mengetahui
tentang peyebab penyakit diabetes melitus.
Persen (%)
Tahu
29.17
Tidak tahu
17
70.83
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (70.83%) tahu bahwa
penyakit diabetes melitus disebabkan karena keturunan
Persen (%)
Ya
37.5
Tidak
15
62.5
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (62.5%) tidak memiliki
anggota keluarga yang menderita penyakit diabetes melitus.
Persen (%)
Ya
16
66.67
Tidak
33.33
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (66.67%) gemar
mengkonsumsi minuman manis.
Persen (%)
Ya
10
41.67
Tidak
14
58.33
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (58.33%) tidak
berolahraga selama lebih dari 30 menit secara rutin.
Persen (%)
Ya
17
70.83
Tidak
29.17
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (70.83%) secara rutin
memeriksakan gula darah ke puskesmas.
Persen (%)
Ya
15
62.5
Tidak
37.5
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (62.5%) melakukan
pengobatan diabetes melitus ke puskesmas
Tabel 12. Distribusi Tempat Berobat Responden
Tempat Berobat Responden
Persen (%)
Puskesmas Pembantu
16
41.03
Puskesmas
14
35.90
Rumah Sakit
23.07
Alternatif / Herbal
Jumlah
39
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari seperempat responden (41.03%) memilih
untuk berobat di Puskesmas Pembantu
Tabel 14. Pengetahuan Responden Tentang Bahaya Diabetes
Persen (%)
Ya
10
41.67
Tidak
14
58.33
Jumlah
24
100
Dari data diatas terlihat bahwa lebih dari setengah responden (58.33%) tidak
mengetahui tentang bahaya penyakit diabetes melitus.
Tabel 15. Kadar Gula Darah dan Kolesterol Responden
*Penderita DM lama sudah memakai insulin namun sudah tidak dikonsumsi lg.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Nama
Gula Darah
Ny. Nurmiah
Ny. Hindong
Ny. Sadariah
Ny. Haminoung
Tn. Haling
Ny. Saiyah
Ny. Jumriah
Ny. Siti Ramlah
Tn. Kai Nane
Ny. Banong
Ny. Tima
Ny. Hj. Rahibinah
Ny. Marwah
Ny. Hj. Askiah
Ny. Kumala*
Ny. Hj. Hanikah
Ny. Siti Nane
Ny. Nurziah
Ny. Samsiah
Ny. Aisyah
Tn. Ampo
Ny. Ondeng
Tn. Umar
Ny. Sugiati
1
93
126
129
126
86
220
118
117
291
138
98
79
184
239
93
116
291
532
175
344
68
301
290
286
2
72
115
168
114
95
136
88
94
117
84
100
126
89
434
251
164
456
513
315
390
103
305
270
232
3
109
59
111
147
165
149
190
115
151
111
95
86
95
109
405
146
207
417
260
380
98
409
268
482
Kolesterol
379
116
150
145
182
166
166
149
157
174
169
119
190
158
241
327
167
345
210
160
226
211
131
166
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Nama
Ny. Nurmiah
Ny. Hindong
Ny. Sadariah
Ny. Haminoung
Tn. Haling
Ny. Saiyah
Ny. Jumriah
Ny. Siti Ramlah
Tn. Kai Nane
Ny. Banong
Ny. Tima
Ny. Hj. Rahibinah
Ny. Marwah
Ny. Hj. Askiah
Ny. Kumala
Ny. Hj. Hanikah
Ny. Siti Nane
Ny. Nurziah
Ny. Samsiah
Ny. Aisyah
Tn. Ampo
Ny. Omdeng
Tn. Umar
Ny. Sugiati
Tinggi
Badan
(cm)
156
151
152
149
172
160
148
146
147
149
144
154
158
146
142
152
147
155
155
155
142
157
155
157
Berat
Badan
(kg)
68
62
45
49
61
94
89
55
48
60
50
75
85
45
55
50
43
56
46
66
55
60
66
66
Index Masa
Tubuh
Lingkar
Perut (cm)
Hasil IMT
27,94
27,19
19,47
22,07
20,61
36,71
40,63
25,80
22,21
27,02
24,11
31,62
34,04
21,11
27,27
21,64
19,89
23,30
19,14
27,47
27,27
24,34
27,47
26,77
90
72
84
76
84
109
117
73
62
89
87
97
103
81
95
75
76
79
76
93
95
85
90
107
Obesitas
Obesitas
Normal
Normal
Normal
Obesitas
Obesitas
Pre Obesitas
Normal
Obesitas
Pre Obesitas
Obesitas
Obesitas
Normal
Obesitas
Normal
Normal
Normal
Normal
Obesitas
Obesitas
Pre Obesitas
Obesitas
Obesitas
Nama
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Ny. Nurmiah
Ny. Hindong
Ny. Sadariah
Ny. Haminoung
Tn. Haling
Ny. Saiyah
Ny. Jumriah
Ny. Siti Ramlah
Tn. Kai Nane
Ny. Banong
Ny. Tima
Ny. Hj. Rahibinah
Ny. Marwah
Ny. Hj. Askiah
1
110/80
140/80
140/70
130/80
90/70
130/90
100/80
100/80
160/90
120/100
140/80
100/70
140/90
130/80
3
160/100
140/80
150/90
130/70
90/70
140/90
150/90
130/80
140/80
140/80
140/80
130/90
150/90
140/70
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
Ny. Kumala
Ny. Hj. Hanikah
Ny. Siti Nane
Ny. Nurziah
Ny. Samsiah
Ny. Aisyah
Tn. Ampo
Ny. Omdeng
Tn. Umar
Ny. Sugiati
200/110
130/90
160/90
100/60
120/80
160/90
150/100
130/80
140/100
140/80
150/100
170/110
130/70
140/90
130/80
140/100
120/80
140/80
140/100
130/90
BAB V
ANALISIS DATA
140/90
170/110
130/60
130/80
150/80
150/90
140/90
140/80
140/90
160/70
Persentase
Berhasil
21
87%
Tidak Berhasil
13%
Berdasarkan data di atas, didapatkan 87% kadar gula darah sampel berhasil
dikendalikan, sedangkan 13% tidak berhasil dikendalikan, karena beberapa faktor. Pada
sampel 1 kenaikan gula darah diakibatkan karena sampel tidak rutin mengkonsumsi OHO.
Pada sampel 2 diakibatkan karena gemar mengkonsumsi makanan/minuman yang manis.
Pada sampel 3 diakibatkan karena sampel tidak rutin berolahraga.
Tabel 19. Keberhasilan Pengendalian Tekanan Darah
Jumlah
Persentase
Berhasil
20
83,33%
Tidak Berhasil
16,67%
Pada tabel 3, didapatkan bahwa responden RT 01-02 Kelurahan Kariangau yang tidak
berpenghasilan adalah 10 orang (41,67%) karena hampir sebagian responden merupakan
lansia yang sudah tidak bekerja dan kini hanya menggantungkan diri pada penghasilan anakanaknya. Responden yang berpenghasilan sebesar < Rp 500.000, yakni sebanyak 1 orang
(4,16%). Berpenghasilan Rp. 500.000 Rp. 1.500.000 sebanyak 6 orang (25%).
Berpenghasilan > Rp 1.500.000 sebanyak 7 orang (29,17%).
Pada tabel 4, terlihat bahwa sebagian besar responden tidak mengetahui pengertian
Diabetes Melitus, yakni sebanyak 23 orang ( 95,84%). Banyak masyarakat yang tidak
mengetahui ini karena sosialisasi Diabetes Melitus dari dinas kesehatan setempat masih
kurang baik apalagi di daerah tersebut terdapat banyak responden dengan tingkat pendidikan
rendah.
Pada tabel 5, terlihat bahwa sebagian besar responden tidak mengetahui penyebab
Diabetes Melitus, yakni sebanyak 20 orang (83,33%). Banyak masyarakat yang tidak
mengetahui ini karena sosialisasi Diabetes Melitus dari dinas kesehatan setempat masih
kurang baik apalagi di daerah tersebut terdapat banyak responden dengan tingkat pendidikan
rendah.
Pada tabel 6, terlihat bahwa sebagian besar responden tidak mengetahui apakah
penyakit Diabetes Melitus salah satunya disebabkan oleh faktor genetik, yakni sebanyak 17
orang (70,83%). Dari tabel diatas banyak masyarakat yang tidak mengetahui ini karena
sosialisasi Diabetes Melitus dari dinas kesehatan setempat masih kurang baik apalagi di
daerah tersebut terdapat banyak responden dengan tingkat pendidikan rendah.
Pada tabel 7, mengenai adanya hubungan keluarga antara responden dengan penderita
Diabetes Melitus, ternyata menurut 15 responden (62,5%) tidak memiliki anggota keluarga
yang menderita Diabetes Melitus. Sedangkan responden yang memiliki anggota keluarga
yang menderita Diabetes Melitus adalah sebanyak 9 orang (37,5%).
Pada Tabel 8, mengenai kebiasaan responden mengkonsumsi minuman manis,
ternyata 16 responden (66,67%) gemar mengkonsumsi minuman manis. Menurut literatur,
(58,33%) tidak mengetahui bahaya dari penyakit Diabetes Melitus. Dari tabel diatas banyak
masyarakat yang tidak mengetahui ini karena sosialisasi Diabetes Melitus dari dinas
kesehatan setempat masih kurang baik apalagi di daerah tersebut terdapat banyak responden
dengan tingkat pendidikan rendah.
Berdasarkan data pada Tabel 15. Mengenai Kadar Gula Darah dan Kolesterol Responden,
maka didapatkan grafik seperti berikut :
Persen (%)
15
62.5
29.2
Resiko >30%
8.3
Jumlah
24
100
BAB VI
Berikan statin
Cek teratur tiap 3 bulan
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sesuai dengan perumusan masalah didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Faktor resiko yang menyebabkan kadar gula darah responden menjadi tidak
terkontrol karena tingkat pengetahuan responden terhadap pengertian,
penyebab dan bahaya dari penyakit diabetes melitus yang rendah, kebiasaan
mengkonsumsi makanan yang manis dan kurangnya aktifitas fisik.
2. Alternatif pemecahan masalah untuk mengurangi kadar gula darah yang tidak
terkontrol adalah dengan melakukan konseling individu secara intensif dan
pemberian obat-obatan untuk mengontrol kadar gula darah sesuai dengan carta
resiko mederita penyakit jantung dan pembuluh darah 10 tahun kedepan.
B. SARAN
1. Bagi Peneliti
Memperbaiki cara melakukan penelitian terutama pada metodologi dan
epidemiologi penelitian.
2. Bagi masyarakat
BAB VII
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Diunduh
dari:
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ppt%20Diet
8.
Noer,
Prof.dr.H.M.
Sjaifoellah,
Ilmu
Penyakit
Endokrin
dan
Metabolik, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Balai Penerbit FKUI, Jakarta,
2004.
Hal
571-705.