0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan37 halaman

Mini Project Kusta - PKM Tabaringan

Skrining kusta dilakukan pada 51 siswa MI DDI Gusung di Kecamatan Ujung Tanah. Hasilnya menunjukkan 3 siswa memiliki bercak dicurigai sebagai kusta, namun tidak terkonfirmasi. Tindak lanjut dan pemantauan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan37 halaman

Mini Project Kusta - PKM Tabaringan

Skrining kusta dilakukan pada 51 siswa MI DDI Gusung di Kecamatan Ujung Tanah. Hasilnya menunjukkan 3 siswa memiliki bercak dicurigai sebagai kusta, namun tidak terkonfirmasi. Tindak lanjut dan pemantauan lebih lanjut perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT MINI PROJECT

ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS NOVEMBER 2023


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

SKRINING KUSTA PADA SISWA KELAS IV, V, DAN VI MADRASAH


IBTIDAIYAH (MI) DDI GUSUNG, KEC. UJUNG TANAH

DISUSUN OLEH:
Muh. Urip Syahrul
Nurul Mughnii
Nurul Asy'ariyah Ramli
Lilian Stella Pakan
A. Mulya Annisa

PEMBIMBING:
drg. A. Erny Nurdin, M.Kes (Supervisor)
dr. Rudianto Joto, M.Kes (Kepala Puskesmas Tabaringan)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


DEPARTEMEN IKM-IKK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
2023
HALAMAN PENGESAHAN

Yang tersebut di bawah ini :

Muh. Urip Syahrul C014212191


Nurul Mughnii C014212199

Nurul Asy'ariyah Ramli C014212206


Lilian Stella Pakan C014212204
A. Mulya Annisa C014212227

Adalah benar telah menyelesaikan tugas Mini Project dengan judul “Skrining Kusta Pada
Siswa Kelas IV, V, Dan VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI Gusung, Kec. Ujung Tanah”
pada Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin.

Makassar, November 2023

Supervisor Pembimbing Kepala Puskesmas

drg. A. Erny Nurdin, M.Kes dr. Rudianto Joto, M.Kes

2
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................................... 2

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. 3

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................. 4

DAFTAR TABEL ...................................................................................................................... 5

Abstrak ....................................................................................................................................... 6

I. PENDAHULUAN .............................................................................................................. 8

II. PROFIL PUSKESMAS TABARINGAN ........................................................................ 11

III. STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM) PUSKESMAS TABARINGAN ........... 17

IV. METODE .......................................................................................................................... 18

V. HASIL dan PEMBAHASAN ........................................................................................... 19

VI. POHON AKAR MASALAH ............................................................................................ 26

VII. RENCANA TINDAK LANJUT ....................................................................................... 27

VIII. REFLEKSI ...................................................................................................................... 25

IX. KESIMPULAN ............................................................................................................... 27

X. SARAN ............................................................................................................................ 29

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 30

LAMPIRAN ............................................................................................................................. 31

3
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas ............................................................................... 11


Gambar 2 Penjelasan Mengenai Kusta .................................................................................... 31
Gambar 3 Pemeriksaan Skrining Kusta ................................................................................... 31

4
DAFTAR TABEL

Table 1 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tabaringan................................................. 13


Table 2 karakteristik responden ............................................................................................... 19
Table 3 Karakteristik berdasarkan jenis kelamin ..................................................................... 20
Table 4 Karakteristik berdasarkan kelas .................................................................................. 20
Table 5 Hasil skrining bercak kusta ......................................................................................... 21
Table 6 Hasil skrining bercak berdasarkan jenis kelamin ....................................................... 21
Table 7 Hasil skrining bercak berdasarkan kelas ..................................................................... 22
Table 8 Rencana Tindak Lanjut ............................................................................................... 30

5
SKRINING KUSTA PADA SISWA KELAS IV, V, DAN VI MADRASAH
IBTIDAIYAH (MI) DDI GUSUNG, KEC. UJUNG TANAH

Muh. Urip Syahrul1, Nurul Mughnii1, Nurul Asy'ariyah Ramli1, Lilian Stella Pakan1, A.
Mulya Annisa1, Rudianto Joto2
1) Departemen Ilmu Kedokteran Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia
2) Puskesmas Tabaringan, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan

Abstrak

Latar Belakang : Kusta merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di
Indonesia dan menempati urutan ke 3 di dunia dengan jumlah kasus baru terbanyak di tahun
2020. Indonesia merupakan negara dengan beban kusta yang tinggi dengan penemuan kasus
baru yang statis selama 20 tahun terakhir. Pada tahun 2021, Indonesia masih dalam proses
mencapai eliminasi tingkat nasional dengan prevalensi 0,45 per 10.00 penduduk. Sebab 6
provinsi yang belum mencapai eliminasi, yaitu provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku,
Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Ada 12.230 kasus terdaftar dengan angka penemuan
kasus baru 4,03 per 100.000 penduduk, dan kasus baru sebanyak 10.976 orang.
Mycobacterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) penyebab kusta atau Morbus
Hansen (MH) bersifat obligat intraseluler menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain
seperti mukosa saluran nafas atas, hati, sumsum tulang, kecuali susunan saraf pusat. Cara
penularan M. leprae masih belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan melalui kontak
langsung penderita kusta ke orang lain melalui inhalasi dan kontak kulit. Penyakit kusta
merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks.
Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas hingga masalah sosial,
ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Adanya stigma sosial terhadap kusta
yang cukup tinggi di masyarakat dan tenaga kesehatan menghambat penemuan kasus dan
tatalaksana kusta, masyarakat belum mengetahui gejala awal penyakit kusta, sebagian besar
pemegang program pengendalian kusta bukan dokter, dan tatalaksana kusta secara
komprehensif (termasuk pencegahan kecacatan) belum optimal, secara klinis penyakit kusta
banyak menyerupai penyakit kulit lainnya sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang.

6
Metode : Penelitian ini dilakukan dengna metode deskriptif kuantitatif. Penelitian
menggunakan data primer dan sekunder, data primer diperoleh dari siswa yang menghadiri
kegiatan skrining bercak pada November 2023 di MI DDI Gusung. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari data penderita kusta pada bagian penyakit menular di Puskemas Tabaringan.

Hasil : Dari data yang didapatkan pada skrining bercak kusta yang dilakukan bulan
November 2023 pada 51 siswa kelas IV, V, dan VI MI DDI Gusung . Didapatkan sebanyak 2
orang (3,92%) siswa laki-laki kelas IV memiliki bercak yang dicurigai sebagai kusta dengan
0 yang terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan kapas. Pada siswa kelas VI
didapatkan 1 orang (1.29%) siswa perempuan yang memiliki bercak yang dicurigai sebagai
kusta dengan 0 yang terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan kapas. Sedangkan
pada siswa kelas IV baik laki-laki maupun Perempuan tidak ditemukan adanya siswa yang
memiliki bercak dicurigai sebagai kusta.

Kesimpulan : Pada skrining didapatkan bercak yang dicurigai sebagai kusta, namun tidak
terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan kapas. Tetapi perlu dilakukan tindak
lanjut dan pemantauan lebih lama agar dapat diberikan profilaksis kusta sehingga dapat
mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Kata Kunci : Kusta, Siswa MI DDI Gusung, Puskesmas Tabaringan

7
I. PENDAHULUAN

Mycobacterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) penyebab kusta atau
Morbus Hansen (MH) bersifat obligat intraseluler menyerang saraf perifer, kulit, dan
organ lain seperti mukosa saluran nafas atas, hati, sumsum tulang, kecuali susunan
saraf pusat. Cara penularan M. leprae masih belum diketahui dengan pasti, namun
diperkirakan melalui kontak langsung penderita kusta ke orang lain melalui inhalasi
dan kontak kulit. Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang
menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya
dari segi medis tetapi meluas hingga masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan
ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara-negara yang
sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut untuk
memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan
kesejahteraan sosial serta ekonomi pada masyarakat. 1

Kusta merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia


dan menempati urutan ke 3 di dunia dengan jumlah kasus baru terbanyak di tahun
2020. Indonesia merupakan negara dengan beban kusta yang tinggi dengan penemuan
kasus baru yang statis selama 20 tahun terakhir. Pada tahun 2021, Indonesia masih
dalam proses mencapai eliminasi tingkat nasional dengan prevalensi 0,45 per 10.00
penduduk. Sebab 6 provinsi yang belum mencapai eliminasi, yaitu provinsi Sulawesi
Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Ada 12.230 kasus
terdaftar dengan angka penemuan kasus baru 4,03 per 100.000 penduduk, dan kasus
baru sebanyak 10.976 orang.2

Tahun 2021, WHO mengeluarkan “Global leprosy strategy 2021–2030:


"Towards zero leprosy" dikembangkan melalui proses musyawarah yang luas dengan
semua pemimpin besar selama tahun 2019 dan 2020. Strategi ini berkontribusi dalam
mencapai Tujuan Pengendalian Kusta. Strategi ini disusun berdasarkan empat pilar: (i)
mengimplementasikan strategi terpadu untuk mencapai eliminasi kusta di seluruh
negara endemis; (ii) meningkatkan pencegahan kusta bersamaan dengan deteksi kasus
aktif terpadu; (iii) mengelola kusta dan komplikasinya serta mencegah kecacatan baru;
dan (iv) mengurangi stigma dan memastikan hak asasi manusia dihormati. Pemutusan

8
penularan dan eliminasi penyakit merupakan inti dari Strategi ini, yaitu dari angka
prevalensi <1/10.000 penduduk menjadi tidak ada (nol) kasus (Zero Leprosy).
Indikator ini tidak berdiri sendiri, namun menyatu dalam pencapaiannya: Zero
Leprosy, Zero Disability, dan Zero Stigma. Pemerintah Indonesia dan global
mempunyai tujuan yang sejalan untuk menuntaskan penyakit ini dengan melaksanakan
program eliminasi kusta. Zero disability ditunjukkan dengan capaian indikator kusta
tanpa cacat (Disabilitas tingkat nol).2

Proporsi kasus kusta yang ditemukan tanpa cacat sebesar 83,6% dan proporsi
kasus kusta cacat tingkat 2 sebesar 6,13 % Proporsi kusta anak di antara kasus kusta
baru sebesar 10,33%. Penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan tepat
waktu Release From Treatment (RFT) adalah 90%. Kasus kusta banyak ditemukan di
wilayah Timur dan berbagai indikator menunjukkan masih tingginya penularan kasus
kusta di Indonesia khususnya di wilayah Indonesia Timur. 2 Pencapaian Eliminasi
Kusta pada suatu wilayah provinsi tidak selalu berbanding lurus terhadap pencapaian
Eliminasi Kusta di kabupaten/kota pada wilayah provinsi yang telah mencapai
Eliminasi Kusta tersebut. Hal ini disebabkan masih terdapat kantong-kantong Kusta
pada kabupaten/kota di provinsi tersebut karena penularan Kusta setempat masih tinggi
dan adanya stigma terhadap Kusta. Beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan
Penanggulangan Kusta yang belum optimal antara lain: Masyarakat belum sepenuhnya
mendapatkan informasi tentang Kusta dan mempunyai asumsi bahwa Kusta tidak dapat
disembuhkan karena melihat disabilitas yang ditimbulkan; kurangnya kemampuan
petugas Puskesmas dalam deteksi dini dan tata laksana Penderita Kusta; manajemen
MDT yang belum baik; kurangnya keterlibatan lintas program dan lintas sektor dalam
Penanggulangan Kusta; stigma dan diskriminasi masih tinggi, dan besarnya masalah
penanggulangan penyakit lain misalnya Tuberkulosis dan Human Immunodeficiency
Virus (HIV). Hal ini berpengaruh kepada kurangnya perhatian terhadap
Penanggulangan Kusta.3

Adanya stigma sosial terhadap kusta yang cukup tinggi di masyarakat dan
tenaga kesehatan menghambat penemuan kasus dan tatalaksana kusta, masyarakat
belum mengetahui gejala awal penyakit kusta, sebagian besar pemegang program
pengendalian kusta bukan dokter, dan tatalaksana kusta secara komprehensif (termasuk

9
pencegahan kecacatan) belum optimal, secara klinis penyakit kusta banyak menyerupai
penyakit kulit lainnya sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang. Sedangkan
fasilitas pemeriksaan penunjang untuk penegakkan diagnosis belum tersedia di semua
fasilitas pelayanan kesehatan perjalanan penyakit kusta yang sangat panjang sehingga
reaksi yang timbul setelah pengobatan tidak terpantau, belum adanya keseragaman
dalam penatalaksanaan kusta.

Berdasarkan masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan skrining kusta


pada siswa kelas IV, V dan VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI Gusung, Kec. Ujung
Tanah.

10
II. PROFIL PUSKESMAS TABARINGAN

Puskesmas Tabaringan merupakan salah satu puskesmas rawat jalan di Kota


Makassar. Terletak di Jalan Tinumbu Lr. 154 No.2, Kelurahan Tabaringan, Kecamatan
Ujung Tanah, Kota Makassar. Dengan luas wilayah kerja 2,35 km2 danjumlah
penduduk sebanyak 15.300 jiwa.

Sumber : Google Maps

Ket : Puskesmas Tabaringan

Gambar 1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas

11
Tabaringan Distribusi penduduk tersebar di lima wilayah kelurahan pada tahun
2021 yaitu:
1. Kelurahan Tabaringan, 4783 penduduk

2. Kelurahan Totaka, 2879 penduduk

3. Kelurahan Tamalabba, 3420 penduduk

4. Kelurahan Ujung Tanah, 1262 penduduk

5. Kelurahan Gusung, 2956 penduduk

Jumlah Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Tabaringan sebanyak 17


Posyandu, yang terbagi atas:
1. Kelurahan Tabaringan : 5 Posyandu

2. Kelurahan Totaka : 3 Posyandu

3. Kelurahan Tamalabba : 4 Posyandu

4. Kelurahan Ujung Tanah : 2 Posyandu

5. Kelurahan Gusung : 3 Posyandu


Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam
penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan harapan dapat meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat. Sumber daya kesehatan meliputi tenaga kesehatan,
saranakesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
Jumlah tenaga kesehatan yang terdapat di Puskesmas Tabaringan padatahun
2023 sebanyak 30 orang yang terdiri dari :
Tenaga Kesehatan Jumlah (n)
Kepala Puskesmas 1
Dokter Umum 2
Dokter gigi 1
Perawat 5
Bidan 6
Gizi 1

12
Epidemiolog 1
Sanitarian 1
Apoteker 1
Laboran 1
Pekarya 2
Perawat Gigi 1
Staf laskar pelayanan publik 2
Magang 3
Supir 2
Total 30
Table 1 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tabaringan

Puskesmas Tabaringan mempunyai Visi dan Misi, yaitu :

VISI : “ Terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu menuju Makassar sehat dan
kuat untuk semua ’’

MISI :

1. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu


danmerata
2. Mendorong kemandirian masyarakat untuk berperan aktif dalam
pembangunan kesehatan
3. Meningkatkan kualitas SDM puskesmas
Kegiatan puskesmas adalah suatu upaya yang bertujuan untuk memberikan
pelayanan kesehatan secara merata kepada seluruh lapisan masyarkat, sebagai salah
satu upaya untuk meningkatkan status kesehatan penduduk, khususnya pada ibu hamil,
balita, ibu bersalin, dan ibu menyusui. Salah satu bentuk penjabaran dari strategi
pembangunan jangka panjang untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal
dilaksanakan melalui Panca Karsa Husada yang meliputi :

Program Pokok Pelayanan Puskesmas

Setiap puskesmas memiliki program-program kesehatan yang disusun untuk


dilaksanakan sebagai target untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di tingkat
primer. Adapun program pokok pelayanan pada Puskesmas Tabaringan yaitu:

13
1. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak

- Sweeping ibu hamil

- Pemantauan ibu hamil berisiko tinggi

- Pembinaan kelas ibu hamil dan balita

- Kunjungan rumah PUS yang tidak ber-KB atau Drop Out

- Kunjungan rumah ibu nifas

- Pemantauan kesehatan neonatus termasuk neonatus risiko tinggi

- Pemberian PMT penyuluhan

2. Upaya Kesehatan Balita dan Pra Sekolah

- Pemantauan kesehatan anak balita dan pra-sekolah (PemberianVit A)

- Sweeping anak gizi buruk

- Pemberian PMT pemulihan

3. Upaya Kesehatan Anak Sekolah

- Pembinaan UKS/Dokter kecil

- Pembinaan UKGS

- Penjaringan peserta didik (kelas 1,7,10)

- Pemberian TTD untuk remaja putri

- Penyuluhan PHBS di sekolah, kespro, dan napza

4. Imunisasi

- Imunisasi berkala dan sweeping imunisasi

- BIAS anak sekolah

5. Upaya Kesehatan Usia Reproduksi

- Penyuluhan reproduksi (Kesehatan, Gangguan (PMS), dan metode


pemeriksaan)
6. Upaya Kesehatan Lanjut Usia
- Pelayanan di posyandu usila
- Senam prolanis

14
7. Upaya Kesehatan Lingkungan

- Inspeksi sarana air bersih / pengambilan sampel

- Pemeriksaan damiu

- STBM, TTU, dan TPM

- Pengawasan lokasi SB

8. Upaya Promosi Kesehatan dan Pelibatan Masyarakat

- Refreshing kader puskesmas

- Pembinaan KGM

- SMD

- MMD dan lintas sektor

- Pembinaan PHBS

- Pendataan keluarga sehat

9. Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung

- Penyuluhan TB

- Penemuan kasus TB baru

- Pemeriksaan kontak serumah

- Pemantauan pengobatan TB

- Penyuluhan HIV/AIDS

- Penemuan bercak putih mati rasa

10. Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor

- Penyuluhan malaria dan DBD

- Pemeriksaan dini kasus berpotensi KLB

- Pembagian obat kecacingan pada anak sekolah

- Pemeriksaan jentik/abatesisasi

- Pemeriksaan feses pada anak sekolah

15
11. Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular

- Pembinaan posbindu

- Penyuluhan kawasan bebas rokok

12. Upaya Pencegahan dan Pengendalian Masalah Keswa dan Napza

- Penyuluhan narkoba

- Penyuluhan kesehatan jiwa

- Kunjungan rumah penderita jiwa

- Penyuluhan kesehatan kerja dan pertemuan nelayan pekerja

- Kesehatan olahraga

- Pembinaan kadarsi

- Sosialisasi/pembinaan lorong sehat

13. Program Pelayanan Kesehatan Khusus

- Pelayanan Home care puskesmas

- Pembinaan PHBS dan Data Keluarga Sehat (PIS PK)

- Pelayanan USG dan EKG (telemedicine)

- Puskesmas Keliling

16
III. STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM) PUSKESMAS TABARINGAN

Capaian
Tahun Targt
No. Kegiatan Sasaran Realisasi 2023
2023 (%)
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil 286 172 60,14 100%

2. Pelayanan Kesehatan Ibu Bersalin 274 171 62,41 100%

3. Pelayanan Kesehatan Bayi Baru Lahir 149 144 96,64 100%

4. Pelayanan Kesehatan Balita 1.014 695 68,54 100%


Pelayanan Kesehatan Pada Usia
5. Pendidikan Dasar 1.460 1.195 81,85 100%

6. Pelayanan Kesehatan Pada Usia 10.081 9.518 94,42 100%


Produktif
7. Pelayanan Kesehatan Pada Usia 1.378 996 72,28 100%
Lanjut
8. Pelayanan Kesehatan Penderita 3.298 813 24,65 100%
Hipertensi
Pelayanan Kesehatan Penderita
9. Diabetes Mellitus 269 308 114,50 100%
Pelayanan Kesehatan Orang
10. Dengan Gangguan Jiwa Berat 35 35 100,00 100%

11. Pelayanan Kesehatan Orang Dengan 835 622 74,49 100%


TB
Pelayanan Kesehatan Orang
12. Dengan Resiko Terinfeksi HIV 441 306 63,39 100%
Table 2 Standar Pelayananan Minimum Puskesmas Tabaringan Tahun 2023

17
IV. METODE

4.1 METODE PENELITIAN


Penelitian ini dilakukan dengna metode deskriptif kuantitatif.

4.2 WAKTU PENELITIAN


Waktu penelitian diklaksanakan pada bulan November 2023.

4.3 Lokasi Penelitian


Penelitian dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI Gusung, Kec. Ujung
Tanah, Kota Makassar.

4.4 Populasi
Populasi penelitian adalah siswa MI DDI Gusung kelas IV, V, dan IV yang
berjumlah total 81 orang.

4.5 Sampel Penelitian


Sampel peneltian adalah siswa MI DDI Gusung yang menghadiri skrining
bercak, yaitu sebanyak 51 siswa.

4.6 Instrumen penelitian


Penelitian menggunakan data primer dan sekunder, data primer diperoleh dari
siswa yang menghadiri kegiatan skrining bercak pada November 2023 di MI DDI
Gusung. Sedangkan data sekunder diperoleh dari data penderita kusta pada bagian
penyakit menular di Puskemas Tabaringan.

18
V. HASIL dan PEMBAHASAN

A. HASIL
Berdasarkan skrining yang telah dilakukan pada 51 siswa di MI DDI gusung
pada November 2023 didapatkan karakteristik siswa yang mengikuti skrining sebagai
berikut :

5.1 Karakteristik Responden

JENIS KELAMIN
NO KELAS JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN

1. KELAS IV 7 9 16

2. KELAS V 11 15 26

3. KELAS VI 4 5 9

TOTAL 22 29 51

Table 2 karakteristik responden

Pada tabel 2 didapatkan dari 51 orang siswa yang mengikuti skrining bercak,
terdapat 16 orang siswa kelas IV yang terdiri atas 7 laki-laki dan 9 perempuan. Siswa
kelas V sebanyak 26 oarng yang terbagi atas 11 laki-laki dan 15 perempuan. Siswa
kelas VI sebanyak 9 orang yang terbagi atas 4 laki-laki dan 5 perempuan.

5.1.1 Karakteristik Berdasarkan Jenis Kelamin

NO JENIS KELAMIN JUMLAH PERSENTASE

1. LAKI-LAKI 22 43.14%

2. PEREMPUAN 29 56,86%

TOTAL 51 100%

19
Table 3 Karakteristikberdasarkan jenis kelamin

Pada tabel 3 didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang mengikuti


skrining dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, terdapat 22 (43.14%) laki-laki
dan 29 (56,84%) Perempuan.

5.1.2 Karakteristik Berdasarkan Kelas

NO JENIS KELAMIN JUMLAH PERSENTASE

1. KELAS IV 16 31,37%

2. KELAS V 26 50,98%

3. KELAS VI 9 17,64%

TOTAL 51 100%

Table 4 Karakteristikberdasarkan kelas

Pada tabel 4 didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang mengikuti


skrining dikelompokkan berdasarkan kelas, terdapat 16 (31,37%) siswa kelas IV, 26
(50,98%) siswa kelas V, dan 9 (17,64%) siswa kelas VI.

5.2. Hasil Skrining Bercak Kusta

KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
LAKI-
PEREMPUAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
LAKI
1. KELAS IV 0 0 0 0

2. KELAS V 2 0 0 0

3. KELAS VI 0 1 0 0

20
JUMLAH 2 1 0 0

Table 5 Hasil skrining bercak kusta

Pada tabel 5 didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang mengikuti


skrining terdapat 2 siswa laki-laki kelas V yang memiliki bercak dicurigai sebagai
kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui tes sensibilitas menggunakan
kapas. Sedangkan pada siswa kelas VI didapatkan 1 siswa Perempuan yang memiliki
bercak dicurgai sebagai kusta dengan 0 yang terkonfirmasi melalui tes sensibilitas
enggunakan kapas.

5.2.1 Hasil Skrining Bercak Kusta Berdasarkan Jenis Kelamin

KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
JUMLAH % JUMLAH %

1. LAKI-LAKI 2 3,92% 0 0

2. PEREMPUAN 1 1.29% 0 0

Table 6 Hasil skrining bercak berdasarkan jenis kelamin

Pada tabel 6 didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang mengikuti


skrining terdapat 2 orang (3,92%) siswa laki-laki yang yang memiliki bercak dicurigai
sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui tes sensibilitas
menggunakan kapas. Sedangkan pada siswa Perempuan terdapat 1 orang (1,29%)
yang memiliki bercak dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta
melalui tes sensibilitas menggunakan kapas.

21
5.2.2 Hasil Skrining Bercak Kusta Berdasarkan Kelas

KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
JUMLAH % JUMLAH %

1. KELAS IV 0 0 0 0

2. KELAS V 2 3.92% 0 0

3. KELAS VI 1 1.29% 0 0

Table 7 Hasil skrining bercak berdasarkan kelas

Pada tabel 7 didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang mengikuti skrining,
pada kelas IV tidak ditemukan siswa yang memiliki bercak dicurigai sebagai kusta,
sedangkan pada kelas V terdapat 2 orang (3,92%) siswa yang yang memiliki bercak
dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui tes sensibilitas
menggunakan kapas. Siswa Kelas VI terdapat 1 orang (1,29%) yang memiliki bercak
dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui tes sensibilitas
menggunakan kapas.

B. PEMBAHASAN

Kusta merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di


Indonesia dan menempati urutan ke 3 di dunia dengan jumlah kasus baru terbanyak di
tahun 2020. Indonesia merupakan negara dengan beban kusta yang tinggi dengan
penemuan kasus baru yang statis selama 20 tahun terakhir. Pada tahun 2021,
Indonesia masih dalam proses mencapai eliminasi tingkat nasional dengan prevalensi
0,45 per 10.00 penduduk. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh P2PM pada tahun
2022 ditemukan adanya Ada 12.230 kasus terdaftar dengan angka penemuan kasus
baru 4,03 per 100.000 penduduk, dan kasus baru sebanyak 10.976 orang. Proporsi
kasus kusta yang ditemukan tanpa cacat sebesar 83,6% dan proporsi kasus kusta cacat
tingkat 2 sebesar 6,13 % Proporsi kusta anak di antara kasus kusta baru sebesar
10,33%. 2

22
Pada tahun 2022 berdasarkan data yang dikeluarkan oleh P2PM jumlah
penderita kusta tipe PB dan MB serta penemuan kasus baru untuk provinsi Sulawesi
Selatan ditemukan sebanyak 74 orang penderita kusta tipe PB, 539 orang tipe MB,
dan penemuan kasus baru (tipe PB+MB) sebanyak 613. Sedangkan untu penderita
kusta tang RTF (Release From Treatment) sebanyak 72 orang.2

Menurut data sekunder yang didapatkan dari Puskesmas Tabaringan, pada


tahun 2022 dari 14.774 penduduk dari 5 kelurahan yang menjadi wilayah kerja
Puskesmas, terdapat 1 pasien (0.006%) kusta tipe jenis MB yang bertempat tinggal di
Kelurahan Ujung Tanah.

KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI PEREMPUAN

1. KELAS IV 0 0 0 0

2. KELAS V 2 (3,92%) 0 0 0

3. KELAS VI 0 1 (1.29%) 0 0

JUMLAH 2 (3,92%) 1 (1.29%) 0 0

Dari data yang didapatkan pada skrining bercak kusta yang dilakukan bulan
November 2023 pada 51 siswa kelas IV, V, dan VI MI DDI Gusung . Didapatkan
sebanyak 2 orang (3,92%) siswa laki-laki kelas IV memiliki bercak yang dicurigai
sebagai kusta dengan 0 yang terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan
kapas. Pada siswa kelas VI didapatkan 1 orang (1.29%) siswa perempuan yang
memiliki bercak yang dicurigai sebagai kusta dengan 0 yang terkonfirmasi melalui tes
sensibilitas menggunakan kapas. Sedangkan pada siswa kelas IV baik laki-laki
maupun Perempuan tidak ditemukan adanya siswa yang memiliki bercak dicurigai
sebagai kusta.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Tati Masliah (2019) tentang Penemuan
Dini Kusta Pada Anak Sekolah Dasar, didapatkan dari 8 orang responden yang
diambil menggunkan metode purposive sampling ditemukan adanya 2 orag siswa

23
yang memiliki bercak dicurigai sebagai kusta namun tidak tidak ada yang selanjutnya
terkonfirmasi setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk diagnosis dini. 3

Pada tahun 2021 dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia, Direktorat
Jendral Pencegahan dan Pengendalian penyakit menyebutkan per tanggal 13 januari
2021 kasus baru kusta pada anak mencapai angka 9.14% dimana angka ini belum
mencapai target pemerintah yaitu dibawah 5%. Masih tingginya angka kasus baru
pada anak menjadi bukti masih berlangsungnya penularan dan adanya keterlambatan
dalam penemuan kasus baru. Kasus pada anak menjadi perhatian penuh karena masih
dalam masa pertumbuhan dan usia sekolah sehingga beresiko lebih tinggi untuk
menularkan pada teman-teman dan akan berdampak pada kehidupan social anak di
lingkungannya.4

Permenkes (2019), menjelaskan bahwa Pusat Kesehatan Masyarakat yang


selanjutnya disebut Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan kesehatan perseorangan tingkat
pertama. Dimana kegiatan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk
mencapai derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya. Merujuk deskripsi
tersebut Puskesmas mempunyai tugas menyelenggarakan kegiatan kesehatan dalam
upaya promotif dan preventif. Salah satu upaya preventif dalam kasus kusta adalah
dengan melakukan kegiatan skrining untuk menjaring kasus kusta pada anak. Dengan
ditemukannya secara dini kasus kusta pada anak, maka anak segera mendapat
pengobatan, mencegah komplikasi lebih lanjut, dan anak dapat melaksanakan
tugasnya di sekolah tanpa ada rasa malu dan tidak mendapat stigma negatif. 5

Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian penyakit pada Hari Kusta


Sedunia menegaskan Sebagai wujud komitmen Indonesia dalam mencapai target-
target di tingkat global, Indonesia menetapkan target pencapaian eliminasi pada
tingkat kabupaten/kota pada tahun 2024 yang tertuang dalam Permenkes No.11 Tahun
2019 tentang Penanggulangan Kusta. Dalam Peraturan tersebut juga tercakup empat
strategi utama pengendalian kusta meliputi penguatan advokasi dan koordinasi lintas
program dan lintas sektor; penguatan peran serta masyarakat dan organisasi
kemasyarakatan; penyediaan sumber daya yang mencukupi dalam penanggulangan
kusta; serta penguatan sistem surveilans serta pemantauan dan evaluasi kegiatan
penanggulangan kusta. Dimana salah satu Upaya awal yang dilakukan adalah dengan

24
melakukan skrining untuk penjaringan awal pada siswa sekolah dasar yang dilakukan
oleh kader puskesmas.4,6

25
VI. POHON AKAR MASALAH

Masih ditemukan kasus Kusta di wilayah


kerja Puskesmas Tabaringan (Akibat)

Rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap


penyakit kusta (Sebab/Masalah Utama)

Manusia Metode Lingkungan

Kurangnya pengetahuan Kurangnya media


masayarakat mengenai Stigma negatif
yang dapat
penyakit kusta dan tentang penyakit digunakan untuk
komplikasi yang dapat kusta yang beredar di
edukasi kesehatan
terjadi masyarakat
mengenai kusta
kepada masyarakat
Kurangnya tenaga
promosi kesehatan
dalam upaya
meningkatkan
pengetahuan masyarakat
terhadap penyakit kusta

26
VII. RENCANA TINDAK LANJUT

No Masalah Penyebab Rencana Kegiatan Indikator Sasaran Pelaksanaan Waktu Tujuan


1. Kurangnya Kurangnya Edukasi mengenai Edukasi, banner, Masyarakat di Bagian Setiap 1 Meningkatkan
pengetahuan sosialisasi kepada penyakit kusta dan brosur/leaflet, dan lingkungan Promosi bulan pengetahuan
masayarakat masyarakat komplikasi yang video saat kerja Kesehatan sekali masyarakat
mengenai mengenai penyakit dapat terjadi penyuluhan Puskesmas Penyakit mengenai
penyakit kusta kusta dan Tabaringan Kusta penyakit kusta
dan komplikasi komplikasi yang Puskesmas dan komplikasi
yang dapat dapat terjadi Tabaringan yang dapat terjadi
terjadi

27
• Kurangnya Pembuatan media Banner, Masyarakat di Bagian Setiap 1 Mengoptimalkan
pengetahuan untuk edukasi brosur/leaflet, lingkungan Promosi tahun sosialisasi untuk
masayarakat kesehatan kepada dan video untuk kerja Kesehatan sekali meningkatkan
mengenai masyarakat penyuluhan Puskesmas Penyakit pengetahuan
penyakit kusta mengenai penyakit Tabaringan Kusta masyarakat
dan komplikasi kusta dan Puskesmas mengenai
yang dapat komplikasi yang Tabaringan penyakit kusta
terjadi dapat terjadi dan komplikasi
yang dapat
terjadi

28
2. Kurangnya Tenaga promosi Menambah tenaga Penambahan Tenaga Bagian Setiap 1 Mengoptimalkan
tenaga kesehatan yang promosi kesehatan tenaga promosi promosi Promosi tahun tenaga promosi
promosi kurang untuk dan kader yang kesehatan dan kesehatan dan Kesehatan sekali kesehatan dan
kesehatan ikut fokus utamanya kader kader Penyakit kader dalam
dalam upaya berpartisipasi meningkatkan Kusta upaya
meningkatkan dalam pengetahuan Puskesmas meningkatkan
pengetahuan memberikan masyarakat Tabaringan pengetahuan
masyarakat promosi terhadap penyakit masyarakat
terhadap kesehatan kusta terhadap
penyakit kusta penyakit kusta

29
3. Stigma • Kurangnya Edukasi Edukasi, Masyarakat di Bagian Setiap 1 Meningkatkan
negatif pengetahuan masyarakat tentang banner, lingkungan Promosi bulan pengetahuan
tentang masyarakat fakta atau mitos brosur/leaflet, kerja Kesehatan sekali masyarakat
penyakit kusta tentang kusta penyakit kusta dan video saat Puskesmas Penyakit mengenai
yang beredar dalam penyuluhan Tabaringan Kusta kebenaran
di masyarakat menanggapi Puskesmas penyakit kusta
misinformasi Tabaringan
yang beredar
• Anggapan
bahwa penyakit
kusta adalah
“Kutukan
Tuhan”, “Tidak
dapat diobati”,
dan “Sebabkan
Kecacatan”

Table 8 Rencana Tindak Lanjut

30
VIII. REFLEKSI

Selama stase di Puskesmas Tabaringan, kami mendapatkan banyak kasus


kompetensi 4A yang merupakan kompetensi dokter umum. Sangat berbeda dengan kasus
yang kami dapatkan selama kami bertugas di Rumah Sakit yang sudah memiliki berbagai
komplikasi penyakit dan kasus rujukan yang bukan merupakan kompetensi kami sebagai
dokter umum nantinya . Bertugas di Puskesmas membuat kami lebih mudah memahami
dan turut serta mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung melakukan
tindakan dibawah pengawasan dokter dan staf medis lainnya seperti anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan lanjutan serta tata laksana yang tepat. Dokter-dokter dan
staf di puskesmas sangat membantu kami untuk mempertajam skill dan ilmu dalam
bidang ini.

Selain pemberian terapi secara obat, kami juga diberikan kesempatan untuk
memberikan penyuluhan tentang hipertensi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Kegiatan ini membuat kami belajar bagaimana cara memberikan edukasi yang baik dan
benar kepada masyarakat baik di tingkat individu maupun kelompok.

Selain bertugas di dalam Puskesmas, kami juga mengikuti kegiatan luar seperti:
posyandu balita, posyandu remaja dan posyandu lansia kunjungan rumah, penyuluhan
keliling, dan skrining kusta sehingga kami dapat turun langsung melihat berbagai kondisi
di masyarakat dan berkesempatan melakukan edukasi langsung secara lebih dekat dan
belajar cara berkomunikasi yang baik dengan masyarakat.

Dalam keseharian kami bertugas bersama tenaga profesi kesehatan lainnya, hal ini
menjadi gambaran dan pengalaman saat nantinya menjadi dokter umum dalam hal
bekerja sama antar tenaga kesehatan. Kami juga berkesempatan untuk melihat bagaimana
manajemen puskesmas dan berpartisipasi dalam program-progam yang dijalankan
puskemas.

Besar harapan kami agar ilmu-ilmu yang kami dapatkan selama kami di
Puskesmas Tabaringan dapat kami gunakan setelah kami menjadi seorang dokter.
Kerjasama kami dengan tenaga profesi kesehatan lainnya memberikan kami gambaran

25
bagaimana rasanya bekerjasama dalam suasana puskesmas khususnya dan suasana
perawatan kesehatan secara umumnya.

26
IX. KESIMPULAN

Kusta atau Morbus Hansen (MH) adalah penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae yang merupakan basil tahan asam (BTA) yang bersifat obligat
intraseluler, bakteri ini dapat menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti
mukosa saluran nafas atas, hati, sumsum tulang, kecuali susunan saraf pusat. Kusta
merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan menempati
urutan ke 3 di dunia dengan jumlah kasus baru terbanyak di tahun 2020.

Di wilayah kerja Puskesmas Tabaringan sendiri saat dilakukan skrining kusta di


Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI Gusung, Kec. Ujung Tanah yang dilaksanakan pada bulan
November 2023 terdapat 3 orang yang dicurigai merupakan pasien kusta. Berdasarkan
data yang diperoleh dari hasil skrining kusta, dibagi menjadi dua karakteristik yaitu
berdasarkan jenis kelamin (laki-laki & perempuan) dan berdasarkan kelas (IV, V, dan
VI).

Berdasarkan jenis kelamin, didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang


mengikuti skrining terdapat 2 orang (3,92%) siswa laki-laki yang yang memiliki bercak
dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui tes sensibilitas
menggunakan kapas. Sedangkan pada siswa perempuan terdapat 1 orang (1,29%) yang
memiliki bercak dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui
tes sensibilitas menggunakan kapas.

Sedangkan berdasarkan kelas, didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang


mengikuti skrining, pada kelas IV tidak ditemukan siswa yang memiliki bercak dicurigai
sebagai kusta, sedangkan pada kelas V terdapat 2 orang (3,92%) siswa yang yang
memiliki bercak dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui
tes sensibilitas menggunakan kapas. Siswa Kelas VI terdapat 1 orang (1,29%) yang
memiliki bercak dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui
tes sensibilitas menggunakan kapas.

Dalam penelitian ini, didapatkan gambaran bahwa masih ditemukannya pasien kusta
di wilayah kerja Puskesmas Tabaringan yang masih harus ditinjau lebih lanjut. Karena
apabila tidak dilakukan skrining lebih lanjut ke beberapa daerah lainnya, hal ini

27
kemungkinan dapat berkontribusi terhadap peningkatan angka kejadian kusta di wilayah
kerja Puskesmas Tabaringan dan memungkinkan sudah ditemukannya komplikasi dari
kejadian kusta di masyarakat.

28
X. SARAN

1. Untuk Peneliti

Dari hasil penelitian ini hanya dilakukan skrining kusta di satu sekolah
saja, diharapkan untuk memperluas jumlah sampel sehingga memudahkan untuk
mencegah penyebaran dan komplikasi terhadap kejadian kusta. Serta perlunya
dilakukan peninjauan lebih lanjut terhadap sampel yang dicurigai merupakan
pasien kusta di tempat penelitian.

2. Untuk Pihak Puskesmas dan Kader Kusta

Dapat memaksimalkan promosi kesehatan dalam upaya meningkatan


pengetahuan masyarakat tentang kusta dan pentingnya deteksi dini terhadap kusta
untuk mencegah penyebaran secara luas dan terjadinya komplikasi.

3. Untuk Institut Kesehatan (Dinas Kesehatan Kota Makassar)

Mempermudah masyarakat dalam mengakses fasilitas kesehatan dan agar


dapat mengupayakan dilakukannya skrining kusta secara menyeluruh kepada
seluruh petugas kesehatan dan masyarakat.

4. Untuk Masyarakat

Diharapkan kepada masyarakat untuk tidak mengucilkan orang-orang


yang dicurigai ataupun terkonfirmasi terkena penyakit kusta. Serta, melakukan
deteksi dini apabila diri sendiri ataupun orang di sekitar yang memiliki bercak
putih yang dicurigai merupakan kusta. Sehingga dapat menurunkan risiko
terjadinya komplikasi dan angka kejadian kusta di masyarakat.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Darmawan H, Dermatologi dan Venereologi Fakultas Kedokteran Universitas


Sriwijaya D, Sakit Umum Pusat Moh Hoesin Palembang R. Sumber Dan Cara
Penularan Mycobacterium Leprae. Vol 2.; 2020.
2. Direktorat Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit. Laporan Kinerja
2022. Jakarta: Cipta Press: 2022
3. Mastiah, T, (2014), Penemuan Dini Kusta Pada Anak Sekolah Dasar, JURNAL
MKMI, Desember 2014, hal 205-210
4. Direktorat Jendral Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit. Prevalensi Kusta
Pada Anak, Periksa Kontak Dan Obati. Jakarta: Cipta Press: 2021.
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019
Tentang PUskesmas
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2019
Tentang Penanggulangan Kusta

30
LAMPIRAN

Gambar 2 Penjelasan Mengenai Kusta

Gambar 3 Pemeriksaan Skrining Kusta

31

Anda mungkin juga menyukai