Mini Project Kusta - PKM Tabaringan
Mini Project Kusta - PKM Tabaringan
DISUSUN OLEH:
Muh. Urip Syahrul
Nurul Mughnii
Nurul Asy'ariyah Ramli
Lilian Stella Pakan
A. Mulya Annisa
PEMBIMBING:
drg. A. Erny Nurdin, M.Kes (Supervisor)
dr. Rudianto Joto, M.Kes (Kepala Puskesmas Tabaringan)
Adalah benar telah menyelesaikan tugas Mini Project dengan judul “Skrining Kusta Pada
Siswa Kelas IV, V, Dan VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) DDI Gusung, Kec. Ujung Tanah”
pada Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin.
2
DAFTAR ISI
Abstrak ....................................................................................................................................... 6
I. PENDAHULUAN .............................................................................................................. 8
X. SARAN ............................................................................................................................ 29
LAMPIRAN ............................................................................................................................. 31
3
DAFTAR GAMBAR
4
DAFTAR TABEL
5
SKRINING KUSTA PADA SISWA KELAS IV, V, DAN VI MADRASAH
IBTIDAIYAH (MI) DDI GUSUNG, KEC. UJUNG TANAH
Muh. Urip Syahrul1, Nurul Mughnii1, Nurul Asy'ariyah Ramli1, Lilian Stella Pakan1, A.
Mulya Annisa1, Rudianto Joto2
1) Departemen Ilmu Kedokteran Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Indonesia
2) Puskesmas Tabaringan, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar, Sulawesi Selatan
Abstrak
Latar Belakang : Kusta merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di
Indonesia dan menempati urutan ke 3 di dunia dengan jumlah kasus baru terbanyak di tahun
2020. Indonesia merupakan negara dengan beban kusta yang tinggi dengan penemuan kasus
baru yang statis selama 20 tahun terakhir. Pada tahun 2021, Indonesia masih dalam proses
mencapai eliminasi tingkat nasional dengan prevalensi 0,45 per 10.00 penduduk. Sebab 6
provinsi yang belum mencapai eliminasi, yaitu provinsi Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku,
Maluku Utara, Papua dan Papua Barat. Ada 12.230 kasus terdaftar dengan angka penemuan
kasus baru 4,03 per 100.000 penduduk, dan kasus baru sebanyak 10.976 orang.
Mycobacterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) penyebab kusta atau Morbus
Hansen (MH) bersifat obligat intraseluler menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain
seperti mukosa saluran nafas atas, hati, sumsum tulang, kecuali susunan saraf pusat. Cara
penularan M. leprae masih belum diketahui dengan pasti, namun diperkirakan melalui kontak
langsung penderita kusta ke orang lain melalui inhalasi dan kontak kulit. Penyakit kusta
merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks.
Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas hingga masalah sosial,
ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Adanya stigma sosial terhadap kusta
yang cukup tinggi di masyarakat dan tenaga kesehatan menghambat penemuan kasus dan
tatalaksana kusta, masyarakat belum mengetahui gejala awal penyakit kusta, sebagian besar
pemegang program pengendalian kusta bukan dokter, dan tatalaksana kusta secara
komprehensif (termasuk pencegahan kecacatan) belum optimal, secara klinis penyakit kusta
banyak menyerupai penyakit kulit lainnya sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang.
6
Metode : Penelitian ini dilakukan dengna metode deskriptif kuantitatif. Penelitian
menggunakan data primer dan sekunder, data primer diperoleh dari siswa yang menghadiri
kegiatan skrining bercak pada November 2023 di MI DDI Gusung. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari data penderita kusta pada bagian penyakit menular di Puskemas Tabaringan.
Hasil : Dari data yang didapatkan pada skrining bercak kusta yang dilakukan bulan
November 2023 pada 51 siswa kelas IV, V, dan VI MI DDI Gusung . Didapatkan sebanyak 2
orang (3,92%) siswa laki-laki kelas IV memiliki bercak yang dicurigai sebagai kusta dengan
0 yang terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan kapas. Pada siswa kelas VI
didapatkan 1 orang (1.29%) siswa perempuan yang memiliki bercak yang dicurigai sebagai
kusta dengan 0 yang terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan kapas. Sedangkan
pada siswa kelas IV baik laki-laki maupun Perempuan tidak ditemukan adanya siswa yang
memiliki bercak dicurigai sebagai kusta.
Kesimpulan : Pada skrining didapatkan bercak yang dicurigai sebagai kusta, namun tidak
terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan kapas. Tetapi perlu dilakukan tindak
lanjut dan pemantauan lebih lama agar dapat diberikan profilaksis kusta sehingga dapat
mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut.
Kata Kunci : Kusta, Siswa MI DDI Gusung, Puskesmas Tabaringan
7
I. PENDAHULUAN
Mycobacterium leprae merupakan basil tahan asam (BTA) penyebab kusta atau
Morbus Hansen (MH) bersifat obligat intraseluler menyerang saraf perifer, kulit, dan
organ lain seperti mukosa saluran nafas atas, hati, sumsum tulang, kecuali susunan
saraf pusat. Cara penularan M. leprae masih belum diketahui dengan pasti, namun
diperkirakan melalui kontak langsung penderita kusta ke orang lain melalui inhalasi
dan kontak kulit. Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang
menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya
dari segi medis tetapi meluas hingga masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan
ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara-negara yang
sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara tersebut untuk
memberikan pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan
kesejahteraan sosial serta ekonomi pada masyarakat. 1
8
penularan dan eliminasi penyakit merupakan inti dari Strategi ini, yaitu dari angka
prevalensi <1/10.000 penduduk menjadi tidak ada (nol) kasus (Zero Leprosy).
Indikator ini tidak berdiri sendiri, namun menyatu dalam pencapaiannya: Zero
Leprosy, Zero Disability, dan Zero Stigma. Pemerintah Indonesia dan global
mempunyai tujuan yang sejalan untuk menuntaskan penyakit ini dengan melaksanakan
program eliminasi kusta. Zero disability ditunjukkan dengan capaian indikator kusta
tanpa cacat (Disabilitas tingkat nol).2
Proporsi kasus kusta yang ditemukan tanpa cacat sebesar 83,6% dan proporsi
kasus kusta cacat tingkat 2 sebesar 6,13 % Proporsi kusta anak di antara kasus kusta
baru sebesar 10,33%. Penderita kusta yang telah menyelesaikan pengobatan tepat
waktu Release From Treatment (RFT) adalah 90%. Kasus kusta banyak ditemukan di
wilayah Timur dan berbagai indikator menunjukkan masih tingginya penularan kasus
kusta di Indonesia khususnya di wilayah Indonesia Timur. 2 Pencapaian Eliminasi
Kusta pada suatu wilayah provinsi tidak selalu berbanding lurus terhadap pencapaian
Eliminasi Kusta di kabupaten/kota pada wilayah provinsi yang telah mencapai
Eliminasi Kusta tersebut. Hal ini disebabkan masih terdapat kantong-kantong Kusta
pada kabupaten/kota di provinsi tersebut karena penularan Kusta setempat masih tinggi
dan adanya stigma terhadap Kusta. Beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan
Penanggulangan Kusta yang belum optimal antara lain: Masyarakat belum sepenuhnya
mendapatkan informasi tentang Kusta dan mempunyai asumsi bahwa Kusta tidak dapat
disembuhkan karena melihat disabilitas yang ditimbulkan; kurangnya kemampuan
petugas Puskesmas dalam deteksi dini dan tata laksana Penderita Kusta; manajemen
MDT yang belum baik; kurangnya keterlibatan lintas program dan lintas sektor dalam
Penanggulangan Kusta; stigma dan diskriminasi masih tinggi, dan besarnya masalah
penanggulangan penyakit lain misalnya Tuberkulosis dan Human Immunodeficiency
Virus (HIV). Hal ini berpengaruh kepada kurangnya perhatian terhadap
Penanggulangan Kusta.3
Adanya stigma sosial terhadap kusta yang cukup tinggi di masyarakat dan
tenaga kesehatan menghambat penemuan kasus dan tatalaksana kusta, masyarakat
belum mengetahui gejala awal penyakit kusta, sebagian besar pemegang program
pengendalian kusta bukan dokter, dan tatalaksana kusta secara komprehensif (termasuk
9
pencegahan kecacatan) belum optimal, secara klinis penyakit kusta banyak menyerupai
penyakit kulit lainnya sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang. Sedangkan
fasilitas pemeriksaan penunjang untuk penegakkan diagnosis belum tersedia di semua
fasilitas pelayanan kesehatan perjalanan penyakit kusta yang sangat panjang sehingga
reaksi yang timbul setelah pengobatan tidak terpantau, belum adanya keseragaman
dalam penatalaksanaan kusta.
10
II. PROFIL PUSKESMAS TABARINGAN
11
Tabaringan Distribusi penduduk tersebar di lima wilayah kelurahan pada tahun
2021 yaitu:
1. Kelurahan Tabaringan, 4783 penduduk
12
Epidemiolog 1
Sanitarian 1
Apoteker 1
Laboran 1
Pekarya 2
Perawat Gigi 1
Staf laskar pelayanan publik 2
Magang 3
Supir 2
Total 30
Table 1 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Tabaringan
VISI : “ Terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu menuju Makassar sehat dan
kuat untuk semua ’’
MISI :
13
1. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak
- Pembinaan UKGS
4. Imunisasi
14
7. Upaya Kesehatan Lingkungan
- Pemeriksaan damiu
- Pengawasan lokasi SB
- Pembinaan KGM
- SMD
- Pembinaan PHBS
- Penyuluhan TB
- Pemantauan pengobatan TB
- Penyuluhan HIV/AIDS
- Pemeriksaan jentik/abatesisasi
15
11. Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular
- Pembinaan posbindu
- Penyuluhan narkoba
- Kesehatan olahraga
- Pembinaan kadarsi
- Puskesmas Keliling
16
III. STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM) PUSKESMAS TABARINGAN
Capaian
Tahun Targt
No. Kegiatan Sasaran Realisasi 2023
2023 (%)
1. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil 286 172 60,14 100%
17
IV. METODE
4.4 Populasi
Populasi penelitian adalah siswa MI DDI Gusung kelas IV, V, dan IV yang
berjumlah total 81 orang.
18
V. HASIL dan PEMBAHASAN
A. HASIL
Berdasarkan skrining yang telah dilakukan pada 51 siswa di MI DDI gusung
pada November 2023 didapatkan karakteristik siswa yang mengikuti skrining sebagai
berikut :
JENIS KELAMIN
NO KELAS JUMLAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN
1. KELAS IV 7 9 16
2. KELAS V 11 15 26
3. KELAS VI 4 5 9
TOTAL 22 29 51
Pada tabel 2 didapatkan dari 51 orang siswa yang mengikuti skrining bercak,
terdapat 16 orang siswa kelas IV yang terdiri atas 7 laki-laki dan 9 perempuan. Siswa
kelas V sebanyak 26 oarng yang terbagi atas 11 laki-laki dan 15 perempuan. Siswa
kelas VI sebanyak 9 orang yang terbagi atas 4 laki-laki dan 5 perempuan.
1. LAKI-LAKI 22 43.14%
2. PEREMPUAN 29 56,86%
TOTAL 51 100%
19
Table 3 Karakteristikberdasarkan jenis kelamin
1. KELAS IV 16 31,37%
2. KELAS V 26 50,98%
3. KELAS VI 9 17,64%
TOTAL 51 100%
KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
LAKI-
PEREMPUAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
LAKI
1. KELAS IV 0 0 0 0
2. KELAS V 2 0 0 0
3. KELAS VI 0 1 0 0
20
JUMLAH 2 1 0 0
KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
JUMLAH % JUMLAH %
1. LAKI-LAKI 2 3,92% 0 0
2. PEREMPUAN 1 1.29% 0 0
21
5.2.2 Hasil Skrining Bercak Kusta Berdasarkan Kelas
KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
JUMLAH % JUMLAH %
1. KELAS IV 0 0 0 0
2. KELAS V 2 3.92% 0 0
3. KELAS VI 1 1.29% 0 0
Pada tabel 7 didapatkan dari 51 siswa MI DDI Gusung yang mengikuti skrining,
pada kelas IV tidak ditemukan siswa yang memiliki bercak dicurigai sebagai kusta,
sedangkan pada kelas V terdapat 2 orang (3,92%) siswa yang yang memiliki bercak
dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui tes sensibilitas
menggunakan kapas. Siswa Kelas VI terdapat 1 orang (1,29%) yang memiliki bercak
dicurigai sebagai kusta dan 0 yang terkonfirmasi sebagai kusta melalui tes sensibilitas
menggunakan kapas.
B. PEMBAHASAN
22
Pada tahun 2022 berdasarkan data yang dikeluarkan oleh P2PM jumlah
penderita kusta tipe PB dan MB serta penemuan kasus baru untuk provinsi Sulawesi
Selatan ditemukan sebanyak 74 orang penderita kusta tipe PB, 539 orang tipe MB,
dan penemuan kasus baru (tipe PB+MB) sebanyak 613. Sedangkan untu penderita
kusta tang RTF (Release From Treatment) sebanyak 72 orang.2
KONFIRMASI (TES
DICURIGAI
SENSIBILITAS)
NO KELAS
LAKI-LAKI PEREMPUAN LAKI-LAKI PEREMPUAN
1. KELAS IV 0 0 0 0
2. KELAS V 2 (3,92%) 0 0 0
3. KELAS VI 0 1 (1.29%) 0 0
Dari data yang didapatkan pada skrining bercak kusta yang dilakukan bulan
November 2023 pada 51 siswa kelas IV, V, dan VI MI DDI Gusung . Didapatkan
sebanyak 2 orang (3,92%) siswa laki-laki kelas IV memiliki bercak yang dicurigai
sebagai kusta dengan 0 yang terkonfirmasi melalui tes sensibilitas menggunakan
kapas. Pada siswa kelas VI didapatkan 1 orang (1.29%) siswa perempuan yang
memiliki bercak yang dicurigai sebagai kusta dengan 0 yang terkonfirmasi melalui tes
sensibilitas menggunakan kapas. Sedangkan pada siswa kelas IV baik laki-laki
maupun Perempuan tidak ditemukan adanya siswa yang memiliki bercak dicurigai
sebagai kusta.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Tati Masliah (2019) tentang Penemuan
Dini Kusta Pada Anak Sekolah Dasar, didapatkan dari 8 orang responden yang
diambil menggunkan metode purposive sampling ditemukan adanya 2 orag siswa
23
yang memiliki bercak dicurigai sebagai kusta namun tidak tidak ada yang selanjutnya
terkonfirmasi setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk diagnosis dini. 3
Pada tahun 2021 dalam rangka memperingati Hari Kusta Sedunia, Direktorat
Jendral Pencegahan dan Pengendalian penyakit menyebutkan per tanggal 13 januari
2021 kasus baru kusta pada anak mencapai angka 9.14% dimana angka ini belum
mencapai target pemerintah yaitu dibawah 5%. Masih tingginya angka kasus baru
pada anak menjadi bukti masih berlangsungnya penularan dan adanya keterlambatan
dalam penemuan kasus baru. Kasus pada anak menjadi perhatian penuh karena masih
dalam masa pertumbuhan dan usia sekolah sehingga beresiko lebih tinggi untuk
menularkan pada teman-teman dan akan berdampak pada kehidupan social anak di
lingkungannya.4
24
melakukan skrining untuk penjaringan awal pada siswa sekolah dasar yang dilakukan
oleh kader puskesmas.4,6
25
VI. POHON AKAR MASALAH
26
VII. RENCANA TINDAK LANJUT
27
• Kurangnya Pembuatan media Banner, Masyarakat di Bagian Setiap 1 Mengoptimalkan
pengetahuan untuk edukasi brosur/leaflet, lingkungan Promosi tahun sosialisasi untuk
masayarakat kesehatan kepada dan video untuk kerja Kesehatan sekali meningkatkan
mengenai masyarakat penyuluhan Puskesmas Penyakit pengetahuan
penyakit kusta mengenai penyakit Tabaringan Kusta masyarakat
dan komplikasi kusta dan Puskesmas mengenai
yang dapat komplikasi yang Tabaringan penyakit kusta
terjadi dapat terjadi dan komplikasi
yang dapat
terjadi
28
2. Kurangnya Tenaga promosi Menambah tenaga Penambahan Tenaga Bagian Setiap 1 Mengoptimalkan
tenaga kesehatan yang promosi kesehatan tenaga promosi promosi Promosi tahun tenaga promosi
promosi kurang untuk dan kader yang kesehatan dan kesehatan dan Kesehatan sekali kesehatan dan
kesehatan ikut fokus utamanya kader kader Penyakit kader dalam
dalam upaya berpartisipasi meningkatkan Kusta upaya
meningkatkan dalam pengetahuan Puskesmas meningkatkan
pengetahuan memberikan masyarakat Tabaringan pengetahuan
masyarakat promosi terhadap penyakit masyarakat
terhadap kesehatan kusta terhadap
penyakit kusta penyakit kusta
29
3. Stigma • Kurangnya Edukasi Edukasi, Masyarakat di Bagian Setiap 1 Meningkatkan
negatif pengetahuan masyarakat tentang banner, lingkungan Promosi bulan pengetahuan
tentang masyarakat fakta atau mitos brosur/leaflet, kerja Kesehatan sekali masyarakat
penyakit kusta tentang kusta penyakit kusta dan video saat Puskesmas Penyakit mengenai
yang beredar dalam penyuluhan Tabaringan Kusta kebenaran
di masyarakat menanggapi Puskesmas penyakit kusta
misinformasi Tabaringan
yang beredar
• Anggapan
bahwa penyakit
kusta adalah
“Kutukan
Tuhan”, “Tidak
dapat diobati”,
dan “Sebabkan
Kecacatan”
30
VIII. REFLEKSI
Selain pemberian terapi secara obat, kami juga diberikan kesempatan untuk
memberikan penyuluhan tentang hipertensi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Kegiatan ini membuat kami belajar bagaimana cara memberikan edukasi yang baik dan
benar kepada masyarakat baik di tingkat individu maupun kelompok.
Selain bertugas di dalam Puskesmas, kami juga mengikuti kegiatan luar seperti:
posyandu balita, posyandu remaja dan posyandu lansia kunjungan rumah, penyuluhan
keliling, dan skrining kusta sehingga kami dapat turun langsung melihat berbagai kondisi
di masyarakat dan berkesempatan melakukan edukasi langsung secara lebih dekat dan
belajar cara berkomunikasi yang baik dengan masyarakat.
Dalam keseharian kami bertugas bersama tenaga profesi kesehatan lainnya, hal ini
menjadi gambaran dan pengalaman saat nantinya menjadi dokter umum dalam hal
bekerja sama antar tenaga kesehatan. Kami juga berkesempatan untuk melihat bagaimana
manajemen puskesmas dan berpartisipasi dalam program-progam yang dijalankan
puskemas.
Besar harapan kami agar ilmu-ilmu yang kami dapatkan selama kami di
Puskesmas Tabaringan dapat kami gunakan setelah kami menjadi seorang dokter.
Kerjasama kami dengan tenaga profesi kesehatan lainnya memberikan kami gambaran
25
bagaimana rasanya bekerjasama dalam suasana puskesmas khususnya dan suasana
perawatan kesehatan secara umumnya.
26
IX. KESIMPULAN
Kusta atau Morbus Hansen (MH) adalah penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae yang merupakan basil tahan asam (BTA) yang bersifat obligat
intraseluler, bakteri ini dapat menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti
mukosa saluran nafas atas, hati, sumsum tulang, kecuali susunan saraf pusat. Kusta
merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan menempati
urutan ke 3 di dunia dengan jumlah kasus baru terbanyak di tahun 2020.
Dalam penelitian ini, didapatkan gambaran bahwa masih ditemukannya pasien kusta
di wilayah kerja Puskesmas Tabaringan yang masih harus ditinjau lebih lanjut. Karena
apabila tidak dilakukan skrining lebih lanjut ke beberapa daerah lainnya, hal ini
27
kemungkinan dapat berkontribusi terhadap peningkatan angka kejadian kusta di wilayah
kerja Puskesmas Tabaringan dan memungkinkan sudah ditemukannya komplikasi dari
kejadian kusta di masyarakat.
28
X. SARAN
1. Untuk Peneliti
Dari hasil penelitian ini hanya dilakukan skrining kusta di satu sekolah
saja, diharapkan untuk memperluas jumlah sampel sehingga memudahkan untuk
mencegah penyebaran dan komplikasi terhadap kejadian kusta. Serta perlunya
dilakukan peninjauan lebih lanjut terhadap sampel yang dicurigai merupakan
pasien kusta di tempat penelitian.
4. Untuk Masyarakat
29
DAFTAR PUSTAKA
30
LAMPIRAN
31