SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP)
Pokok Bahasan : KB Jangka Panjang
Sub Pokok Bahasan : KIE KB AKDR (AKDR)
Penyaji : Difa Nadila Utami
Hari dan tanggal Pelaksanaan : Februari 2021
Waktu : 10.00 WIB
Tempat : Puskesmas Batealit
A. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah mendapatkan penyuluhan pasangan usia subur diharapkan tahu,
mengerti, dan memahami tentang KB AKDR sehingga dapat memantapkan
pilihan sesuai kebutuhan.
B. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah dilakukan penyuluhan selama 1 x 10 menit pasangan usia subur
diharapkan dapat menjelaskan tentang:
A. Pengertian KB AKDR
B. Prosedur pemasangan dan pasca AKDR
C. Indikasi dan Kontraindikasi pemasangan AKDR
D. Keuntungan dan Kerugian AKDR
E. Efek samping AKDR
F. Waktu pemasangan AKDR
C. SASARAN DAN TARGET
Sasaran ditujukan pada pasangan usia reproduktif.
Target ditujukan pada kelompok ibu post partum
D. STRATEGI PELAKSANAAN
Hari dan Tanggal Pelaksanaan : Februari 2021
Waktu : 10.00 WIB
Tempat : Puskesmas Batealit
E. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
No. Acara Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Sasaran Media
1. Memperkenalkan 1. Menyambut
diri salam dan
2. Menjelaskan tujuan mendengarkan
dari penyuluhan 2. Mendengarkan
3. Melakukan kontrak 3. Mendengarkan
1. Pembukaan 1 menit Buku KIA
waktu 4. Mendengarkan
4. Menyebutkan materi
penyuluhan yang
akan diberikan
5. Membagi leaflet
2. Penyuluhan 8 menit
1. Menggali 1. Mendengarkan Buku KIA
pengetahuan/ 2. Memperhatikan
pengalaman ibu 3. Bertanya
2. Menjelaskan 4. Menjawab
tentang:
● Pengertia
n KB AKDR
● Prosedur
pemasangan dan
pasca AKDR
● Indikasi
dan
Kontraindikasi
pemasangan
AKDR
● Keuntung
an dan Kerugian
AKDR
● Efek
samping AKDR
● Waktu
pemasangan
AKDR
3. Melakukan tanya
jawab kepada
peserta
penyuluhan.
1. Menyatakan 1. Mendengarkan
kegiatan telah selesai 2. Menjawab
3. Penutup 1 menit -
2. Mengucapkan terima salam
kasih
3. Mengucapkan salam.
F. METODE
Metoda yang digunakan adalah: Ceramah menggunakan media Power Point dan
diskusi / tanya jawab
G. MEDIA
Media yang digunakan adalah Buku KIA
H. MATERI
1. Pengertian KB AKDR
2. Prosedur pemasangan dan pasca AKDR
3. Indikasi dan Kontraindikasi pemasangan AKDR
4. Keuntungan dan Kerugian AKDR
5. Efek samping AKDR
6. Waktu pemasangan AKDR
I. EVALUASI HASIL
a. Kegiatan berjalan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
b. Adanya pemahaman dari KB AKDR.
c. Setelah diberikan penyuluhan kesehatan pentingnya menggunakan KB
peserta mampu melakukan:
Prosedur : Post Test
Bentuk : Lisan
Jenis : Tanya Jawab
1. Apa yang dimaksud dengan KB AKDR?
2. Apa saja kerugian dan keuntungan KB AKDR?
3. Bagaimana cara pengecekan KB AKDR secara mandiri ?
4. Apa saja efek samping dari KB AKDR?
LAMPIRAN MATERI :
ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM
1. Pengertian Kontrasepsi AKDR
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan yang bersifat sementara
atau menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat, secara mekanis,
menggunakan alat atau dengan operasi. (Saifuddin, 2014).
IUD (Intra Uterine devices) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) adalah
alat kecil terdiri dari bahan plastik yang lentur yang dimasukan kedalam rongga
rahim, yang harus diganti jika sudah digunakan selama periode tertentu.
Jadi Alat Kontrasepsi AKDR merupakan alat yang dimasukan kedalam rahim
yang bersifat sementara yang terbuat dari plastik yang lentur dan ada pula yang dililit
tembaga yang berntuknya bermacam-macam.
2. Jenis-jenis AKDR
Alat Masa Bentuk
Penggunaan
Multiload 3 tahun Batang tegak lurus dengan panjang 3,6
cm ;250mm2 lilitan tembaga mengelilingi
batang.
Multiload 3 tahun Batang tegak lurus dengan panjang 2,5
CU250 Pendek cm;250 mm2 lilitan tembaga mengelilingi
batang.
Multiload 5 tahun 375mm2 lilitan tembaga mengelilingi
CU375 batang.
Flexi-T300 5 tahun 300 mm2 lilitan tempat mengelilingi
batang.
Nova T 300 5 tahun 380mm2 lilitan kawat tembaga dengan inti
perak mengelilingi batang.
T safe 380 A 8 tahun 380mm2 lilitan mengelilingi batang dan
cincin tembaga mengelilingi tiap ujung
masing-masing lengan.
GyneFix 5 tahun AKDR tanpa bingkai dengan 6 tabung
tembaga dengan panjang masing-masing
5mm dan diameter 2,2mm dengan total
330 mm2 lilitan tembaga mengelilingi
batang dan lengan.
3. Penjelaan Metode
Sebuah AKDR dimasukan melalui saluran serviks dan dipasang dalam uterus.
AKDR memiliki benang yang menggantung turun kedalam vagina. Yang dapat
diperiksa oleh wanita guna memastikan alat tersebut pada posisi yang benar. AKDR
mencegah kehamilan dengan merusak kemampuan hidup sperma dan ovum melalui
perubahan tuba falopi dan cairan uterus, ada reaksi terhadap benda asing disertai
peningkatan leukosit. Kondisi ini mngurangi kesempatan ovum dan sperma bertemu
dan menghambat pembuahan. Tembaga pada AKDR bersifat toksik terhadap
sperma dan ovum.( Saifuddin, 2014).
a. Cara Kerja
1) Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi.
2) Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
3) AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun
AKDR membuat sperma sulit masuk kedalam alat reproduksi perempuan
dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.
4) Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.
4. Prosedur Pemasangan
Sebelum pemasangan, dipastikan wanita dalam masa menstruasi terakhir untuk
menyingkirkan kemungkinan kehamilan dan test kehamilan bila dibutuhkan.
Wanita harus mengosongkan kandung kemih karena akan membuat pemasangan
lebih mudah meraba uterus pada abdomen dan lebih nyaman bagi wanita. Selama
pemasangan AKDR/AKDR, klien anda mungkin menggenggam tangannya dan
membuat dirinya merasa nyaman. Sebelum dipasang pemeriksaan bimanual sangat
diperlukan untuk memastikan ukuran, posisi dan arah uterus dan huna memeriksa
bahwa tidak ada nyeri tekan.
Keterampilan dan pengalaman pemasangan akan membantu mengurangi
masalah efek samping. Namun bila wanita ingin mendapat anestesi lokal guna
mengurangi nyeri atau pernah mengalami pengalaman masa lalui, amak AKDR
dapat dipasang dengan memberikan gel lidokain atau blok paraservikal.
(Notoatmodjo, 2010).
Pemasangan AKDR dilakukan dengan suatu “tehnik tanpa sentuhan” sehingga
harus menggunakan sepasang sarung tangan bersih setelah pemeriksaan bimanual.
Spekulum steril dimasukan kedalam vagina dan letak serviks dicari, spekulum ini
dibersihkan dengan bol kapan steril dan larutan antiseptik. Sonde uterus dimasukan
kedalam uterus melalui saluran serviks untuk mengukur panjang, arah, dan potensi
uterus. Tindakan ini dapat menyebabkan kram seperti nyeri menstruasi yang
seharusnya berkurang saat sonde uterus dikeluarkan. Serviks dapat distabilkan
dengan korsep allis atau tenakulum sehingga AKDR dapat dipasang lebih mudah,
hal ini dapat menyebabkan rasa tidak nyaman karena serviks sangta peka.
Selanjutnya AKDR dimasukan melalui canalis secvikasli kedalam uiterus. Benang
AKDR dipendekan saat telah berada diposisinya dan dilipat keatas kebelakang
serviks. Apabila ada masalah dengan pemasangan, klienharus dirujuk ke spesialis
AKDR. (Notoatmodjo, 2010).
Setelah pemasangan, anda harus menganjurkan klien berbaring terlentang dan
beristirahat. Analgetik dibutuhkan selama nyeri menstruasi. Handuk santasi harus
digunakan sejak awal guna mengurangi resiko infeksi. Klien dapat mengalami
pendarahan, ini adalah waktu yang baik untuk mengingatkan tentang masalah awal
dan kapan harus kembali. Anda harus mengajariklien anda cara memeriksa benang
AKDR dan menganjurkan klien untuk melakukan hal ini setiap menstruasi.
(Notoarmodjo, 2010).
5. Pasca Pemasangan
Setelah pemasangan AKDR, wanita harus dianjurkan datang kembali lebih awal
dari janji pertemuan 4-6 minggu bila mereka mengalami tanda-tanda infeksi, karena
20 hari pertama setelah pemasangan adalah masa infeksi paling tinggi. Apabila klien
menderita neyri abdomen bawah atau pireksia, ia harus kembali lebih awal.
Menganjurkan wanita pantang koitus selama 48 jam merupakan tindakan yang tepat
sehingga lendir serviks dapat kembali normal, yang membantu memberi perlindungan
dari infeksi yang lebih berat.
6. Efektifitas
AKDR sangat efektif,(efektifitasnya 92-94%) dan tidak perlu diingat setiap hari
seperti halnya pil. Tipe multiload dapat dipakai sampai 3 tahun, Nova T dan Copper
T 200 (CuT-200) dapat dipakai 3-5 tahun, Cu T380 A dapat dipakai 8 tahun.
Kegagalan rata-rata 0,8 kehamilan per 100 pemakai wanita pada tahun pertama
pemakaian.
7. Indikasi
Prinsip pemasangan adalah menempatkan AKDR setinggi mungkin dalam
rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu
mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari
setelah bersalin dan pada akhir haid. Yang boleh menggunakan AKDR adalah :
1) Usia reproduktif
2) Keadaan multi para
3) Mengiginkan kontrasepsi jangka panjang
4) Perempuan menyususi yang menginginkan kontrasepsi jangka panjang
5) Setelah melahirkan dan sedang menyusui
6) Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
7) Resiko rendah dari IMS
8) Tidak menghendaki metoda hormonal
9) Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
10) Tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi hormonal
11) Gemuk ataupun kurus
Pemasangan AKDR dapat di lakukan oleh dokter ataupun bidan yang telah di
latih secara khusus. Pemeriksaan secara berkala harus di lakukan setelah pemasangan
1 minggu, lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya di
lakukan setiap 6 bulan sekali.
AKDR dapat di gunakan pada ibu dalam segala kemungkinan keadaan misalnya
:
● Perokok
● Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya
infeksi
● Sedang memakai anti biotik atau anti kejang
● Gemuk ataupun kurus
● Sedang menyusui
Begitu juga dalam keadaan seperti di bawah ini dapat menggunakan KB
AKDR :
● Penderita tumor jinak payudara
● Penderita kanker payudara
● Pusing-pusing atau sakit kepala
● Tekanan darah tinggi
● Varises di tungkai atau di vulva
● Penderita penyakit jantung
● Pernah menderita stroke
● Penderita diabetes
● Menderita penyakit hati
● Malaria
8. Kontraindikasi
Yang tidak di perkenankan menggunakan AKDR adalah:
1) Belum pernah melahirkan
2) Hamil atau di duga hamil
3) Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak
normal dari alat kemaluan, perdarahan di leher rahim dan kanker rahim
4) Perdarahan vagina yang tidak di ketahui
5) Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis,serviksitis)
6) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering mengalami abortus
septik
7) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat
mempengaruhi kavum uteri
8) Penyakit trofoblas yang ganas
9) Di ketahui menderita TBC pelvik
10) Kanker alat genital
11) Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
12) Miom submokosum
13) Sering ganti pasangan (Notoadmodjo: 2010)
9. Keuntungan
Efektif dengan proteksi jangka panjang
1) AKDR dapat epektif segera setelah pemasangan
2) Dapat di gunakan setelah menopouse (1 tahun atau lebih setelah haid
terakhir)
3) Tidak ada interakdi dengan obat-obat
Tidak mengganggu hubungan suami istri
1) Tidak berpengaruh terhadap ASI
2) Kesuburan kembali setelah AKDR di angkat
3) Epek sampingnya sangat kecil
4) Memiliki epek sistemik yang sangat kecil
10. Kerugian
1) Menoragie
2) Dismenorea
3) Sedikit peningkatan resiko kehamilan ektopik apabila ada kegagalan
AKDR
4) Peningkatan resiko infeksi radang panggul
5) AKDR terlepas keluar
6) Perforasi uteru, usus dan kandung kemih
7) Malposisi AKDR
8) Kehamilan yang di sebabkan oleh pengeluaran perforasi atau malposisi
11. Efek samping dan komplikasi
Efek samping umum terjadi:
1) Perubahan siklus haid (umum pada 3 bulan pertama dan akan berkurang
setelah 3 bulan )
2) Haid lebih lam dan banyak
3) Perdarahan (spotting) antar menstruasi
4) Saat haid lebih sakit
Komplikasi lain:
1) Merasa sakit dan kejang selama 3sampai 5 hari setelah pemasangan,
perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yang memungkinkan
penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila
pemasangan benar).
2) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
3) Tidak baik di gunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering
berganti pasangan Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan
dengan IMS memakai AKDR,PRP dapat memicu infertilitas Prosedur
medis termasuk pemeriksaan pelvik di perlukan dalam pemasangan AKDR
4) Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangn
AKDR, biasanya menghilang dalam 1-2 hari. Hal yang perlu klien
perhatikan:
a. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri, petugas terlatih
yang dapat melepas
b. Mungkin AKDR dapat keluar dari uterus tanpa di ketahui (sering
terjadi apabila AKDR di pasang segera setelah melahirkan )
c. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR
mencegah kehamilan
d. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke
waktu
12. Waktu pemasangan
1) 2-4 hari setelah melahirkan
2) 40 hari setelah melahirkan
3) Setelah terjadinya keguguran
4) Hari ke 3 haid sampai hari ke 10 di hitung dari hari pertama haid
5) Menggantikan metode KB lainnya
6) Pada akhir masa menstruasi karena servik agak terbuka pada waktu ini
setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu hari apabila tidak ada
gejala infeksi)
13. Keadaan yang memerlukan perhatian khusus
Keadaan Anjuran
Amenorea periksa apakah sedang hamil, apabila tidak, jangan lepas
AKDR, lakukan konseling dan selidiki penyebab
amenorea apabila di kehendak. Apabila hamil jelaskan dan
sarankan untuk melepas AKDR apabila talinya terlihat,
atau kehamilan lebih dari 3 minggu. Apabila benang tidak
terlihat atau kehamilan lebih dari 13 minggu, AKDR
jangan d lepaskan. Apabila klien sedang hamil dan ingin
mempertahankan kehamilannya tanpa melepas AKDR,
jelaskan kemungkinan adanya resiko kegagalan kehamilan
dan infeksi serta perkembangan harus lebih di amati dan
diperhatikan
Kram Pikirkan kemungkinan terjadi infeksi dan beri pengobatan
yang sesuai. Jika tidak parah dan tidak di temukan
penyebabnya,cukup beri analgetik saja. Jika penyebabnya
tidak dapat di temukan dan menderita kram berat, cabut
AKDR kemudian ganti AKDR baru, atau cari metode
kontrasepsi lain
Benang hitam Periksa apakah klien hamil. Bila tidak hamil dan AKDR
masih di tempat, tidak ada tindakan yang perlu di lakukan.
Menderita nyeri Paling sering di temukan pada AKDR yang mengandung
kepala atau migrain progestin. Bila sakitnya berat, rujuk klien dan cabut
AKDR, keluhan ringan berikan analgetik
Penyakit jantung sebaiknya jangan di beri AKDR yang mengandung
progestin karena progestin mempengaruhi lipid dan
vasokontriksi
Stroke/riwayat stroke Sebaiknya jang di beri AKDR yang mengandung
progestin
Nyeri haid hebat Dapat di sebabkan oleh AKDR klien perlu di rujuk.
Umumnya terjadi pada permulaan pemakaian
Riwayat kehamilan Jelaskan pada klien tanda-tanda kehamilan ektopik dan
ektopik bila ada segera mencari pertolongan di rumah sakit
Gejala penyakit katup Berikan anti biotik saat insersi AKDR bila anemia (hb<9),
jantung ganti dengan metode kontrasepsi lain
14. Pemantauan dan petunjuk bagi klien
Klien hendaknya di berikan pendidikan mengenai manfaat dan resiko AKDR.
Bila terjadi ekspulsi AKDR dapat kembali di pasang. Pemeriksaan AKDR di
lakukan setiap bulan atau bila terdapat keluhan (nyeri, perdarahan, demam, dsb):
1) Kembali memeriksa diri setelah 4-6 minggu pemasangan AKDR
2) Selama bulan pertama mempergunakan AKDR periksalah benang
AKDR secara rutin setelah haid
3) Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa keberadaan
benang setelah haid apabila mengalami;
o Kram/kejang di perut bagian bawah
o Perdarahan (spotting) di antara haid atau setelah senggama
o Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak
nyaman selama melakukan hubungan seksual
4) Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi dapat
dilakukan lebih awal apabila di inginkan
5) Kembali ke klinik apabila
o Tidak dapat meraba benang AKDR
o Merasakan bagian benang keras di AKDR
o AKDR terlepas
o Siklus terganggu/ meleset
o Tarjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan
o Adanya infeksi
PENUTUP
Alat kontrasepsi dalam rahim ( AKDR) merupakan alat kontrasepsi yang di
pasang dalam rahim yang relatif lebih epektif bila di bandingkan dengan metode pil,
suntik, dan kondom. Alat kontrasepsi dalam rahim terbuat dari pelastik elastik, dililit
tembaga atau campuran tembaga dengan perak.
Dengan adanya satuan acara penyuluhan ini masyarakat dapat lebih mengerti
mengenai alat kontrasepsi AKDR baik dari manfaatnya maupun keefektipannya.
DAFTAR PUSTAKA
Hartono, Hanfi. 2013. Keluarga Berencana dan Kotrasepsi. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
Notoatmodjo, Soekidjo.2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rinka
Cipta.
Saifuddin. 2014. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo.