100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
6K tayangan13 halaman

Takhsis Dan Mukhasis

Teks tersebut membahas tentang takhsis dan mukhasis. Takhsis adalah membatasi jumlah sesuatu yang bersifat umum, sedangkan mukhasis adalah dalil yang menjadi dasar dilakukannya takhsis. Teks tersebut menjelaskan pengertian dan contoh takhsis dan mukhasis berdasarkan ayat Al-Qur'an serta membedakan jenis-jenis mukhasis.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
6K tayangan13 halaman

Takhsis Dan Mukhasis

Teks tersebut membahas tentang takhsis dan mukhasis. Takhsis adalah membatasi jumlah sesuatu yang bersifat umum, sedangkan mukhasis adalah dalil yang menjadi dasar dilakukannya takhsis. Teks tersebut menjelaskan pengertian dan contoh takhsis dan mukhasis berdasarkan ayat Al-Qur'an serta membedakan jenis-jenis mukhasis.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan
makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa'atnya di akhirat nanti.

Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami mampu
untuk menyelesaikan pembuatan makalah ini. Kami tentu menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat
kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, kami mengharapkan
kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila
terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah mendukung serta membantu kami selama proses penyelesaian
makalah ini.

Demikianlah yang dapat kami haturkan, kami berharap supaya makalah yang
telah kami buat ini mampu memberikan manfaat kepada setiap pembacanya.

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................... 1

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 3

A. Latar Belakang.................................................................................................. 3

B. Rumusan Permasalahan ................................................................................ 5

C. Tujuan ................................................................................................................ 5

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 4

A. Pengertian Takhsis dan Mukhasis ........................................................ 4

1. Pembagian Mukhasis ...................................................................................... 5

2. Syarat-syarat sahnya Istina .......................................................................... 5

3. Istina dari kalimat ingkar dan kalimat pasif ............................................ 6

4. Istina dengan waw'athaf ......................................................................... 6

5. Syaraf ......................................................................... 7

6. Sifat .................................................................................................................... 7

7. Ghayah .............................................................................................................. 8

8. Badal .................................................................................................................. 9

9. Mukhasis Munfasil ......................................................................................... 9

10. Pelaksanaan Takhsis .................................................................................... 9

BAB III PENUTUP ............................................................................. 12

A. Kesimpulan ............................................................................. 12

B. Saran ............................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 13

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
telah diketahui sumber ajaran islam, baik Al- Qur’an maupun sunnah adalah
sumber ajaran yang berbahasa arab. Oleh karena itu,untuk memahami
hukum-hukum yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah harus benar-
benarmemahami gaya bahasa (uslub) yang ada dalam bahasa arabdan cara
penunjukkan nashk kepada artinya.Para ulama ahli ushul fiqh mengarahka
perhatian mereka kepada penelitian terhadap uslub-uslub dan ibarat-ibarat
bahasa arab yang lazim digunakan untukmemahami nash-nash syariat secara
benar sesuai pemahaman orang arab sendiri yang nash itu diturunkan dalam
bahasa mereka. Oleh karena itu, maka diperlukan adanya pembelajaran yang
dapat memberian pemahaman tentang uslub-uslub bahasa arab untuk
memahami sumber hukum islamdengan benar.Para ushuliyyin menetapkan
bahwa, perhubungan lafadz dengan maknamempunyai beberapa segi yang
harus dibahas. Mereka membagi lafadz dalamhubungannya kepada beberapa
bagian, yang diantaraanya yaitu pembagian tentang “lafadz dari segi
kandungan prngrtiannya; yang dalam makalah ini akan membahas tentang
khas dan takhsis.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Khas dan Takhsis?
2. Apa saja pengertian Khas dan takhsis?
3. Apa saja pembagian Khas dan takhsis?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui khas dan takhsis.
2. Untuk mengetahui pengertian Khas dan takhsis.
3. Untuk mengetahui pembagian Khas dan takhsis dan contohnya.

3
BAB II
PEMBAHASN
TAKHSIS, DAN MUKHASIS

A. Pengertian takhsis dan mukhasis


Taksis ialah menyebutkan sebagian benda dari yang umm atau
mengeluarkan satu-satuan materi dari yang umum, sedangkan satuan lainya
belum atau tidak disebutkan.dengan demikian, keumumanya masih berlaku
bagi satuan yang tersisa.
Mukhasis ialah dalil dalil yang menjai dasar atau hujjah di keluarkanya
satuan dari yang umum  kaitanya dengan khas,taksis dan mukhasis, Hanafi
menjelaskan melaui satu contoh sebagaimna tertuang dalam sutrat AL-A’raf
ayat 32


Artinya:
“Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah
dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang
mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi
orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja)
di hari kiamat[536]." Demikianlah Kami”menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-
ora. ng yang mengetahui. (Q.S AL-A’raf  32)

Maksudnya: perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu


dapat dinikmati di dunia ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang
yang tidak beriman, sedangkan  di akhirat nanti adalah semata-mata untuk
orang-orang yang beriman saja.
Dalam penjelasan ayat diatas semua perhiasan bpoleh
dipakai,perhiasan tersebut meliputi cncin emas,pakaian, intan, kalung, dan
lain-lain masing masing disebut satuan satuanya (afrad al-aam). Cinci emas
kemudian dikeluarkan dari ketentuan ayat 32 AL-A,raf tersebut, sebab tidak
boleh di pakai oleh kaum laki-laki. Ini dinamakan taksis. Pengeluaran ini
berdasarkan pada hadits . karna membatasi keumuman ayat tersebut (sebab
tidak meliputi cincin emas), haditnya dinamai mukhasis. Karana hanya
mengenai satu hal saja, yaitu cincin emas, hadis itu di sebut khas

4
Dengan  contoh diatas, secara definitf, lafal khas adalah suatu lafaz h yang di
pasangkan pada satu arti yang sudah diketahuai dan menunggal. Atau lafaz
yang di pasangkan pada satu arti yang mandiri yang terhindar dari
makna musytarakatau makna-makna lainya.
Dengan demikian,  thaksis  ialah membatasi jumlah Al-‘aam (taqlil). Berbeda
dengan nasakh, karna ialah nasakh membatalkan hukum yang telah ada di
ganti dengan hukum yang baru, (tabdil) thaksis atau mukhasis bis dengan
khata kata Al-Qur’an dan hadis, dalil-dali syara’ berupa ijmak’,qiyas dan dalil
akal. Nasakh (nasik) hanya bisa dengan kata-kata.
Thaksis hanya masuk pada dalil yang umum. Nasakh bisa  masuk pada  dalili
umum maupun dalil khusus. Dengan perkataan lain, yang di-thaksis-kan
hanya dalil umum, dalil khusus tidak bisa , dsedangkan mnasakh yang
dibatalkan umum maupun dalil khusus dalil yang umumnya
Thaksis masuk kepada hukum berita-berita. Nasakh hanya masuk kepada
hukum saja, sebab membatalkan berita berari dusta.

1. Pembagian mukhasis
Mukasis dibagi 2
a.  Mukhasis muttasil, yaitu mukhasis yang tidak dapat berdiri sendiri tetapi
sepertinya selalu berhubungan dengan dalil;
b.  Mukhasis munfasil, yaitu munfsil yang dapat berdiri sendiri. Yang termasuk
mukhasis munfasil adalah:
1.  Istisna muttasil
2.  Syarat
3.  Sifat
4.  Ghayah
5.  Badal ba,dhu min kull (sebagian sebagai pengganti keseluruhan)
Yang termasuk mukhasis munfassil ialah:
a.   Peraturan-peraturan syariat yang umum;
b.  ‘urf (adat kebiasaan)
c.   Nash-nash hukum syara’ ,yaitu Al-Qur’an, hadis, ijma’ dan qiyas.

2. Syarat-syarat syahnya istisna


Menurut hanafi, ada dua syarat syahnya istisna yaitu:

5
a.   Dalam mengucapkan istisna, antara mutasna dan minhu harus bertemu.
Bentuk berhenti sebentar, pertanyaan orang lain dan dan ke daan lain yang
menurut kebiasaan tidak memutuskan pembicaraan, tidak dianggap
membatalkan sahnya istisna.
b.  Mutasna tidak menghabiskan mutasna minhu. Pengecualian yang
menghbiskan adalah batal. Misalnya, “aku punya uang sejuta kecuali sejuta”

3. istisna dari kalimat ingkar dan kalimat positif


Istisna dari kalimat ingkar (nafi) menjadi positif. Contoh: tidak ada tuhan
kecuali Allah. Tidak adatuhan adalah kalimat ingkar, pengecualianya di
tetapkan (istisna) menetapkan adanya tuhan yaitu Allah.

4. istisna dengan waw ‘athaf


Penurut pendapat imam syafi’i, imam malik dan imam ahmad istisnya
sesudah beberapa jumlah yang bersambung-sambung, istisna itu kembali
kepada semua jumlah.
Golongan hanafiah mengatakan bahwa istisna itu kembali pada jumlah yang
teakhir. Menurut imam syaukani: kalu tidak ada halangan baik dari lafazh itu
sendiri maupun dari dalil-dalil lainya, pengecualian (istisna) itu kembali
kepada seluruh jumlah sebelumnya.
Contoh dalam surat An-Nur ayat 4-5:
    
   
     
        
     
     
 Artinya:
 dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat
zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah
mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu
terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang
yang fasik.(Q.S An-Nur: 4-5)

Pengecualian (istisnga) tersebut bisa kembali kepada orang-orang fasik saja


(jumlah terakhir). Bisa kembali juga kepada orang-orang fasik dan persaksian
mereka (seluruh jumlah). Kalau kembali kepad jumlah yang terakhir,

6
meskipun sudah taubat orang yang menuduh tersebut teap tidak bisa menjadi
saksi.

5.      Syarat
Syarat di bagi dua:
a.   Syarat tunggal, seperti jika telah wudu’ kamu bersih dari najis.
b.   Syarat berbilang, yaitu suatu hal yang harus menyatu, jika kamu rajin belajar
gdan bekerja, kamu akan pintar, jika kamu beriman dan beramal saleh, kamu
akan masuk surga. Atau masing-masing dapat berdiri sendiri.misalnya, kalau
berwudhu dan mandi janaban harus memsksi niat.
Contoh syarat, di antaranya dalam Al-Qur,an surat An-Nisa’ ayat 11
      
       
     
Artinya:
“Kalau perempuan itu lebih baik dari dua orang, maka mereka mendapat dua
pertiga dari peninggalan. Jika seseorang itu seseorang saja, maka ia mendapat
seperdua.” (Q.S An-Nisa’ :11)

Dalam surat berbilang yang tidak dapat berdiri sendiri, masyrut baru
berwujud dengan wujudnya syarat-syarat keseluruhanya. Dalam syarat yang
berdiri sendiri, masyrut dengan hanya salah-satu dari syarat syarat yang
disebutkan.

6. sifat
Sifat di sebut di belakang dengan satu lafazh atau beberapa lafazh.
Contoh dalam surah An-Nisa’ ayat 25:
     
 
:Artinya
“ Ia kawin dengan hamba sahaya, yaitu yaitu perempuan yang beriman “
)Q.S An-Nisa’ 25(

Kata fatahayat adalah kata umum yang dapat meliputi yang beriman atau     
yang tidak beriman. Dengan adanya sifat al-mukminat (beriman), hamba
sahaya yang tidak beriman tidak termasuk di dalamnya. Adakalanya kata-kata
itu saling berhubungan dan ada kalanya tidak berhubungan. Jika

7
berhubungan, sifat itu kembali kepada mausuf dan dalm keadaan tidak
berhubungan, sifat itu kembali kepada yang terakhir. Contoh
pertama:Terjadi iktilaf dalam hal kembalinya sifat, sebagai mana dalm surat
:An-Nisa’ayat 23
    
    
    

Artinya:
“diharamkan ibu istrimu dan anak istrimu yang ada dalam pemeliharaanmu
dari dari istrimu yng telah kamu campuri”
( Q.S. An-Nisa’:23)

Ada perbdaan persepsi, apakah mausuf-nya hanya kalimat “istrimu


yang terakhir” atau berikut perkataan istrimu yang pertama.
Menurut jumhur ulama, kalau manusuf-nya hanya perkataan istrimu yng
terakhir, mertua perempuan menjadi haram (muhrim) apabila sudah
mengawini anaknya. Jadi,perkawinan saja sudah cukup menyebabkan haram,
karna syarat bercampur (terhadap istri) hanya menjadi syarat haramnya anak
tiri. Adapun juga mausuf-nya kedua perkaaan istrimu yang ada pada ayat
tersebut, mertua belum menjadi haram dengan mengawini anaknya, sebagai
mana pendapat diatas, tetapi baru haram kalu sudah mncampurinya.
Jika demikian, haramnya seorang perempuan (mertua) karna mengawini
anaknya atau karna mengawinini dan mencampurinya?
Pendapat pertama dinyatakan oleh jumhur ulama sebagi pendapat yang
palingrajih.

7.   Ghayah
Ialah penghabisan suatu yang mengaharuska sesuatau yng tetapnya(ghayah) 
tidak adanya hukum bagi sesudahnya. Adapun mughayah ialah  lafazh yang
jatuh ssudah  gayah. Ghayah ada dua, yaitu hatta (sehinnga) dan ila(sampai).
Misalnya:
“ tidak ada dosa bagimu berbuat sesuatu sehingga kamu mendurhakai”.
Kalimat sebelum kata sehingga, memberi pengertian, bahwa semua perbuatan
tidak dilarang. Kata “sehingga” men-thaksis-kan keumumanya kalimatse
belumnya. Sebab dengan adanya perhitungan ini, tidak brlaku hukum yang
umum, yaitu tidak adanya dposa. Hal itu dapat diartikan”berdosa” jika
melakukan perbuatan yang durhaka.

8
Ghayah harus mask kepada mughayah-nya dalam hal yang sejenis, misalnya
surat Al-Ma’idah ayat 6:
    
     
Artinya:
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat,
Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku”
(Al-Maidah : 6)

    Karna lengan dan siku satu jenis yaitu sama-sama tangan tangan di basuh
sampai dengan siku-sikunya
Ghayah juga dapat masuk kepada mughayah yang tidak sejenis, contohnya
dalam surah AL-Baqarah ayat 187:
       
   Artinya:
“kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam”
(Qs.Al-Baqarah:187)

 Puasa dengan malam bukan hal yang sejenis, tetapi keduanya menyatu untuk
menjelaskan maksud tertentu.

8.  Badal
Dalam ilmu nahwu badal  (pengganti) yang biasa men-thaksis-kan hanya
badal badhi minkullin. Contohnya dalm surah Ali-Imran, ayat 97 :

Artinya:
“Wajib atas manusia mengerjakan haji kaarna Allah, yaitu orang-orang yang
mampu di jalanya.”(Q.S Ali-Imran:97)

Kata an-nas adala kull (semua manusia), artinya siapapun juga terkena


kewajiban haji. Manistatha’a (yang kuasa) adalah sebagian (ba’du) dari
kese;uruhan manusia, dan menggantikan an-nas. Dengan adanya penggantian
ini, tidak setiap orang di wajibkan haji, tetapi hanya yng mampu.

9.      Mukhasis Munfasil

Mukhasil munfasil berkaitan dengan dasar hukum, artiny


berbagai taklif yang tidak ada pengecualinya, sebagaimana taklif  berlakunya

9
beban hukum untuk semua mukallaf. Dengan demikian, anak kecil, orang gila,
dan orang yang sedang tidur tidak terkena  taklif  karna bkan mukallaf .
Berkaitan juga dengan ‘urf (kebiasaan), karena terkadang kebiasaan dapat
men-takhsis-kan nash-nash yang umum.

10.  Pelaksanaan Thaksis

Ada beberapa macam  kelimanya yaitu:


a.   Takhsis Al-Qur’an oleh Al-Quran
b.   Takhsis Al-Qur’an oleh  Hadis;
c.   Takhsis Hadis oleh Al-Qur’an;
d.   Takhsis Hadis oleh Hadis;
e.    Takhsis dengan ijma’, sebagaimana semua di panggil untuk melaksanakan
shalat jum’at dan ijma’ ulama menyatakan, kecuali perempuan.
f.     Takhsis dengan qiyas; contoh:

   
     
       
    
  
   

Artinya:
“perempuan yang berzina dan laki-laki yang bezina, hendaklah didera
masing-masing dengan seratus dera.”  (Q.S An-Nur: 2)

Budak perempuan (amah) di-takhsis, karna jika berjina dideranya hanya


setengahnya yaitu 50 dera, berdasarkan surah An-Nisa ayat 25:
    
     

Artinya:
“Apabila mereka (budak perempuan)melakukan kejahatan (berzina), maka di
atasnya seperdua siksa perempuan yang merdeka.”

10
Budak laki-laki (abdun) hukumanya disamakan (diqiyaskan) dengan budak
perempuan (amah), yaitu 50 dera juga. Jadi, men-takhsis-kan ayat tersebut
( An-Nur 25):

    
    
   

Artinya:
“ di hari itu, Allah akan memberi mereka Balasan yag setimpal menurut
semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang
menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).”

Tentang budak laki- laki bukan dengan sesuatu atau hadis, tetapi
mempersamakanya (qiyas) terhadap budak perempuan yang sudah ada
ketentuanya dalam ayat bersamngkutan.

g.  Takhsis dengan pendapat sahabat. Talam masalah takhsis dengan pendapat


sahabat  terjadi ikhtilaf . golongan hanfiah dan malikiyah memperbolehkan,
sebagai man seorang pencuri yang harus di potong tanganya, tetapi umar bin
Khatab tidak melakukan sebagai mana alasan (pada musim panceklik, orang
yang kaya yang dicuri menimbun harta, atau pencuri tersebut sedang
kelaparan ingin mempertahankan hidupnya atau mempertahankan
keluarganya dari kematian dari kelaparan. Oleh karna itu pencuri tersebut
dikenai ta’zir.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Salah satu unsur penting yang digunakan sebagai pendekatan dalam

mengkaji Islam adalah Ilmu Ushul Fiqh, yaitu ilmu yang mempelajari kaidah-

kaidah yang dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum-hukum syari’at

yang bersifat amaliyah yang diperoleh melalui dalil-dalil yang rinci. Melalui

kaidah-kaidah Ushul Fiqh akan diketahui nash-nash syara’ dan hukum-hukum

yang ditunjukkannya. Diantara kaidah-kaidah Ushul Fiqh yang penting

diketahui adalah Istinbath dari segi kebahasaan. Salah satu dari kaidah-

kaidah ushul fiqh adalah lafadz takhshish adalah penjelasan sebagian lafadz

‘am bukan seluruhnya. Atau dengan kata lain, menjelaskan sebagian dari

satuan-satuan yang dicakup oleh lafadz ‘am dengan dalil. 

B. Saran

12
Diharapkan dengan adanya makalah ini mengenai materi pengertian

Takhsis dan Mukhasis semua siswa dapat mengerti, memahami, dan

membedakan mengenai Takhshis dan Mukhasis. Serta dapat diterapkan

dalam kehidupan sehari-hari apa saja yang termasuk Takhshis dan Mukhasis.

Daftar Pustaka

Nazar Bakry. Fiqh & Ushul Fiqh. 2003. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

H. Amir Starifudin. Ushul Fiqh jilid 2. Jakarta: PT LOGOS Wacana Ilmu.

Satria Effendi. Ushul Fiqh.2008. Jakarta: Penerbit Kencana.

Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fikih Kaidah Hukum Islam. 2003. Jakarta:

Pustaka Amani.

13

Anda mungkin juga menyukai