Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MAKALAH INDIVIDU

" DETERMINAN PERILAKU KESEHATAN "

DISUSUN OLEH :
NAMA : FIRDA AZIZAH
NIM. : A1C219076
KELAS : B (S1.KEPERAWATAN)

UNIVERSITAS MEGAREZKY MAKASSAR


BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Derajat kesehatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu perilaku, lingkungan,pelayanan
kesehatan dan keturunan. Diantara faktor – faktor tersebut pengaruh perilaku terhadap status
kesehatan , baik kesehatan individu maupunkelompok sangatlah besar. Salah satu usaha yang sangat
penting di dalam upaya merubah perilaku adalah dengan melakukan kegiatanbpendidikan kesehatan
atau yang biasa dikenal dengan penyuluhan. Sejauh mana kegiatan tersebut bisa merubah perilaku
masyarakat akan sangat dipengaruhi oleh faktor – faktor lain yang ikut berperan dan saling
berkaitandalam proses perubahan perilaku itu sendiri.
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang bersangkutan.
Jadi perilaku manuasia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itusendiri. Oleh sebab itu
perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, berpakaian
dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir,persepsi dan emosi juga merupakan
perilaku manusia.Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus
yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan.

2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan perilaku kesehatan?
2. Apa faktor – faktor penentu perilaku?
3. Bagaimana upaya perubahan perilaku kesehatan?
4. Apa saja teori – teori perilaku kesehatan dan perubahannya?

3. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. untuk memenuhi tugas sosiologi
2. untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat
3. untuk memotivasi pembaca agar menerapkan hidup bersi

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
Perilaku
Perilaku dari pandangan biologis merupakan suatu kegiatan atau aktifitas organisme yang
bersangkutan. Jadi perilaku manuasia pada hakekatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri.
Oleh sebab itu perilaku manusia mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara,
berpakaian dan lain sebagainya. Bahkan kegiatan internal seperti berpikir, persepsi dan emosi juga
merupakan perilaku manusia. Skinner ( 1933 ) mengemukakan bahwa perilaku merupakan hubungan
antara perangsang (stimulus) dan respon. Ia membedakan adanya dua stimulus :
1) Respondent response atau reflektife response ialah respon yang ditimbulkan oleh rangsangan
tertentu. Perangsang semacam ini disebut elicting stimuli karena menimbulkan respon yang relatif tetap
misalnya makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur, cahaya yang kuat menyebabkan mata tertutup ,
menangis karena sedih, muka merah karena marah dan lain sebagainya.

2) Operant response atau instrumental response ialah respon yang timbul dan berkembangnya diikuti
oleh perangsang tertentu . Perangsang semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforcer karena
perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. Oleh sebab itu
perangsang ini mengikuti atau memperkuat perilaku yang sudah dilakukan.Sebagai contoh apabila
seorang anak belajar atau sudah melakukan suatu perbuatan kemudian dia memperoleh hadiah maka
dia akan lebih giat belajar atau lebih baik lagi melakukan perbuatan tersebut. Dengan kata lain respon
yang diberikannya akan lebih intensif dan kuat.Di dalam kehidupan sehari – hari respon yang pertama
sangat terbatas keberadaanya hal ini disebabkan hubungan yang pasti antara stimulus dan respon
sehingga kemungkinan untuk memodifikasinya sangat kecil, bahkan hampir tidak mungkin. Sebaliknya
respon yang kedua merupakan bagian besar daripada perilaku manusia dan kemungkinan untuk
memodifikasinya sangat besar.

Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Secara lebih rinci
perilaku kesehatan mencakup :
1) Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana manusia merespon baik secara
pasif maupun aktif sehubungan dengan sakit dan penyakit. Perilaku ini dengan sendirinya berhubungan
dengan tingkat pencegahan penyakit
a) Perilaku sehubungan dengan peningkatan dan pemeliharaan kesehatan misalnya makan makanan
bergizi, dan olahraga.
b) Perilaku pencegahan penyakit misalnya memakai kelambu untuk mencegah malaria, pemberian
imunisasi. Termasuk juga perilaku untuk tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
c) Perilaku sehubungan dengan pencarian pengobatan misalnya usaha mengobati penyakitnya sendiri,
pengobatan di fasilitas kesehatan atau pengobatan ke fasilitas kesehatan tradisional.
d) Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari penyakit misalnya melakukan
diet, melakukan anjuran dokter selama masa pemulihan.
2) Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. Perilaku ini mencakup respon terhadap fasilitas
pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat – obat.

3) Perilaku terhadap makanan. Perilaku ini mencakup pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek
terhadap makanan serta unsur – unsur yang terkandung di dalamnya., pengelolaan makanan dan lain
sebagainya sehubungan dengan tubuh kita.
4) Perilaku terhadap lingkungan sehat adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai salah satu
determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas lingkup kesehatan Lingkungan.itu sendiri.
Dari batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikan menjadi 3 kelompok:
1) Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintenance)
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit
dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebab itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini
terdiri dari 3 aspek :
a) Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan
bilamana telah sembuh dari penyakit.
b) Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.
c) Perilaku gizi (makanan dan minuman).
2) Perilaku Pencarian dan Penggunaan Sistem atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau Seringbdisebut
Perilaku Pencarian pengobatan (Heath Seeking Behavior). Adalah menyangkut upaya atau tindakan
seseorang pada saat menderita dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati
sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
3) Perilaku Kesehatan Lingkungan

Adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan
bagaimana, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Seorang ahli lain (Becker,
1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini.
a) Perilaku hidup sehat
Adalah perilaku –perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk
mempertahankan dan meningkatikan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antar lain :
(1) Menu seimbang
(2) Olahraga teratur
(3) Tidak merokok
(4) Tidak minum-minuman keras dan narkoba
(5) Istirahat yang cukup

(6) Mengendalian stress


(7) Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan
b) Perilaku Sakit
Mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap sakit, pengetahuan
tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya, dsb.
c) Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
Perilaku ini mencakup:
(1) Tindakan untuk memperoleh kesembuhan
(2) Mengenal/mengetahui fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang layak.
(3) Mengetahui hak (misalnya: hak memperoleh perawatan, dan pelayanan kesehatan).
2. faktor – faktor penentu perilaku
kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh dua hal pokok yaitu faktor perilaku dan di luar
perilaku. Selanjutnya perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
1) Faktor pembawa ( predisposing factor ) didalamnya termasuk pengetahuan, sikap, kepercayaan,
keyakinan, nilai – nilai dan lain sebagainya
2) Faktor pendukung ( enabling factor ) yang terwujut dalam lingkungan fisik, sumber daya, tersedia atau
tidak tersedianya fasilitas dan sarana kesehatan.
3) Faktor pendorong ( reinforcing factor ) yang terwujut di dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan
maupun petugas lain , teman, tokoh yang semuanya bisa menjadi kelompok referensibdari perilaku
masyarakat.

Dari faktor – faktor di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang
kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dari orang yangbbersangkutan.
Disamping itu ketersediaan fasilitas kesehatan dan perilaku petugas kesehatan juga mendukung dan
memperkuat terbentuknya perilaku. Seseorang yang tidak mau mengimunisasikan anaknya , dapat
disebabkan karena dia memang belum tahu manfaat imunisasi (predisposing factor ),.atau karena jarak
posyandu dan puskesmas yang jauh dari rumahnya (enabling factor ) sebab lain bisa jadi karena tokoh
masyarakat di wilayahnya tidak mau mengimunisasikan anaknya ( reinforcing factor ).
Model di atas dengan jelas menggambarkan bahwa terjadinya perilaku secara umum tergantung faktor
intern ( dari dalam individu ) dan faktor ekstern (dari luar individu ) yang saling memperkuat . Maka
sudah selayaknya kalau kita ingin merubah perilaku kita harus memperhatikan faktor – faktor tersebut
di atas.
3. Upaya Perubahan Perilaku Kesehatan
Hal yang penting di dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku.
Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan kesehatan atau penyuluhan kesehatan
sebagai penunjang program kesehatan lainnya. Perubahan yang dimaksud bukan hanya sekedar covert
behaviour tapi juga overt behaviour. Di dalam program program kesehatan, agar diperoleh perubahan
perilaku yang sesuai dengan norma – norma kesehatan diperlukan usaha usaha yang konkrit dan
positip. Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku bisa dikelompokkan menjadi tiga
bagian :
1) Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan
Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran sehingga ia mau melakukanbperilaku yang
diharapkan. Misalnya dengan peraturan – peraturan / undang – undang yang harus dipatuhi oleh
masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama
karena perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri. Sebagai contoh adanya perubahan di
masyarakat untuk menata rumahnya dengan membuat pagar rumah pada saat akan ada lomba desa
tetapi begitu lomba / penilaian selesai banyak pagar yang kurang terawat.
2) Pemberian informasi
Adanya informasi tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan , cara menghindari
penyakit dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selanjutnya diharapkan
pengetahuan tadi menimbulkan kesadaran masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang
berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan memakan waktu lama
tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng.
3) Diskusi partisipatif
Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana penyampaian informasi kesehatan bukan
hanya searah tetapi dilakukan secara partisipatif. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya
penerima yang pasif tapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam diskusi tentang informasi yang
diterimanya. Cara ini memakan waktu yang lebih lama dibanding cara kedua ataupunpertama akan
tetapi pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan lebih mantap dan mendalam sehingga
perilaku mereka juga akan lebih mantap. Apapun cara yang dilakukan harus jelas bahwa perubahan
perilaku akan terjadi ketika ada partisipasi sukarela dari masyarakat, pemaksaan, propaganda politis
yang mengancam akan tidak banyak berguna untuk mewujutkan perubahan yang langgeng.
4. Teori – Teori Perilaku Kesehatan dan Perubahanya
Teori – Teori perilaku kesehatan
1. Perilaku manusia merupakan resultan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal
2. Faktor determinan perilaku manusia luas, namun beberapa ahli mencoba merumuskan teori
terbentuknya perilaku manusia
3. Teori perilaku manusia yang akan kita bahas kali ini adalh : Teori ABC, Reason Action,
“PRECED-PROCEED”, Behavior intention, Thoughs and Feeling.
a) Teori ABC (Sulzer, Azaroff, Mayer : 1977 )
Menurut teori ini perilau manusia merupakan sutu proses sekaligus hasil interaksi antara : Antecedent
Behavior Consequences
1. Antecedent : trigger, bisa alamiah ataupun man made
2. Behavior : reaksi terhadap antecedent
3. Consequences : bisa positif( menerima), atau negatif ( menolak )
Contoh: Penyuluhan di Posyandu tentang bagaimana agar anak mau makan banyak, salah satunya
dengan membuat tampilan makanan menarik (A), Ibu membuat tampilan makanan semenarik mungkin
( B ), Anak mau makan banyak ( C )
b) Teori “REATION ACTION” (FESBEIN &AJZEN :1980 )
Teori ini menekankan pentingnya “intention”/niat sebagai faktor penentu perilakubNiat itu sendiri
ditentukan oleh :
1. sikap
2. norma subjektif

3. pengendalian perilaku
Contoh : Seorang ibu yang mau mengimunisasikan anaknya didasari niat, dimana niat itu ditentukan
oleh sikap ibu yang setuju dengan imunisasi, keyakinan ibu akan perilaku yang diambil dan sudah siap
bila anaknya panas setelah diimunisasi.
c) Teori PRECED-PROCEED ( Lawrence Green : 1991 )
Perilaku kesehatan ditentukan oleh faktor : Predisposing factors, terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai Enabling factors, tersedianya atau tidak tersedianya fasilitas Reinforcing
factors, terwujud dalambsikap dan perilaku petugas kesehatan atau dari kelompok referensi dari
perilaku masyarakat
Contoh : Seorang bapak mau membangun WC yang sebelumnya masih BAB di sungai karena :
1. Ia tahu BAB di jamban lebih sehat( Pf)
2. Ia punya bahan bangunan untuk memebangun WC( Ef )
3. Ada surat edaran dari Pak Lurah agar setiap kelurga mempunyai WC ( Rf)
Secara matematis : B = f ( Pf, Ef, Rf )
d) Teori BEHAVIOR INTENTION( Snehendu Kar : 1980 )
Menurut teori ini, perilaku kesehatan merupakan fungsi dari :
1. Behavior intention

2. Social support
3. Accessibility to information
4. Personal autonomy
5. Action situation
B = f ( BI, SS, AI, PA, AS )
Contoh:Seorang ibu melahirkan di dukun yang belum mengikuti pelatihan asuhan persalinan normal,
bukan di tenaga medis terlatih, mungkin dikarenakan

1. Tidak ada niat melahirkan di bidan(BI)


2. Tidak ada tetangganya yang melahirkan di bidan(SC)
3. Tidak mendapat informasi persalinan yang sehat(AI)
4. Tidak bebas menentukan, takut mertua(PA)
5. Kondisi jauh dari puskemas(AS)
e) Teori “THOUGHT AND FEELING” ( WHO:1984)
Menurut teori ini perilaku kesehatan seseorang ditentukan oleh :
1. Thoughts and feeling
2. Personal reference
3. Resources
4. Culture
B = f ( TF, PR, R, C )
Contoh :
Seorang ibu habis melahirkan tidak mau menyusui anaknya, karena dia punya keyakinan
kalaubpayudaranya akan hilang keindahannya bila menyusui (TF), atau karena artis yang
diidolakannyantidak menyusui sehingga dia mengikuti (PR), atau karena harus bekerja, tidak ada waktu
untuknmenyusui (R), atau karena kebudayaan di daerah ibu tersebut lebih keren kalau memberi susun
formula daripada ASI, makin mahal harga susu maka status sosial makin naik (C).
Teori – Teori Perubahan Perilaku Kesehatan

Teori perubahan perilaku kesehatan ini penting dalam promosi kesehatan yang bertujuan “behavior
change”
Perubahan perilaku ini diarahkan untuk :
1. mengubah perilaku negatif ( tidak sehat ) menjadi perilaku positif ( sesuai dengan nilai-nilain
kesehatan )
2. pembentukan atau pengembangan perilaku sehat
3. memelihara perilaku yang sudah positif
Teori-teori yang akan kita bahas adalah : Teori SOR, Festinger, Fungsi, Kurt Lewin.

Teori Perubahan Perilaku Kesehatan


Menurut teori ini, penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada
kualitasnrangsang( stimulus ) yang berkomunikasi dengan organisme. Perilaku dapat berubah hanya
apabila stimulus yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula (mampu meyakinkan).
Karena itu kualitas dari sumber komunikasi sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku,
misalnya gaya bicara, kredibilitas pemimpin kelompok, dsb
a) Dissonance Theory (Festinger : 1957)
Ada suatu keadaan cognitive dissonance yang merupakan ketidakseimbangan psikologis, yang diliputi
oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali.Dissonance tejadi karena
dalam diri individu terdapat elemen kognisi yang bertentangan, pengetahuan, pendapat atau keyakinan.
Apabila terjadi penyesuaian secara kognitif, akan ada perubahan sikap yang berujung perubahan
perlaku.
Contoh :Orang yang merokok merasa resah, dia tahu bahaya merokok tapi merasa bukan laki-laki kalau
tidak merokok (dissonance). Akhirnya dia memutuskan kalau kejantanan seseorang bukan hanya dari
merokok, tapi dari banyak hal.Akhirnya dia memutuskan berhenti merokok (consonance).
b) Teori Fungsi (Katz : 1960)
Meurut teori ini perilaku mempunyai fungsi :
1. instrumental
2. defence mechanism
3. penerima objek dan pemberi arti
4. nilai ekspresif
Perubahan perilaku individu tergantung kebutuhan Stimulus yang dapat memberi perubahan perilaku
individu adalah stimulus yang dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut.
c) Teori Kurt Lewin (1970)
Menurut Kurt Lewin, perilaku manusia adalah suatu keadaan seimbang antara driving forces (kekuatan-
kekuatan pendorong) dan restrining forces (kekuatan-kekuatan penahan). Perilaku dapat berubah
apabila terjadi ketidak seimbangan antara kedua kekuatan tersebut. Ada tiga kemungkinan terjadinya
perubahan perilaku :
1. Kekuatan pendorong, kekuatan penahan tetap perilaku baru
Contoh : seseorang yang punya saudara dengan penyakit kusta sebelumnya tidak mau memeriksakan
saudaranya karena malu dikira penyakit keturunan, dapat berubah perilakunya untuk memeriksakan
saudaranya ke puskesmas karena adanya penyuluhan dari petugas kesehatan terdekat tentang
pentingnya deteksi dini kusta.
2. Kekuatan penahan, pendorong tetap perilaku baru
Misalnya pada contoh di atas , dengan memberi pengertian bahwa kusta bukan penyakit keturunan,
maka kekuatan penahan akan melemah dan terjad perubahan perilaku.
3. Kekuatan penahan, pendorong, perubahan perilaku.
Misalnya pada contoh di atas dua-duanya dilakukan.

Anda mungkin juga menyukai