0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan49 halaman

Pembekuan dan Pemasaran Gurita di Medan

Dokumen tersebut membahas tentang gurita (Octopus vulgaris) yang merupakan hewan moluska dari kelas Cephalopoda. Gurita memiliki 8 lengan dan hidup di habitat terumbu karang. Dokumen juga menjelaskan klasifikasi, morfologi, dan peran ekologis gurita.

Diunggah oleh

Hariynsyahh
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
156 tayangan49 halaman

Pembekuan dan Pemasaran Gurita di Medan

Dokumen tersebut membahas tentang gurita (Octopus vulgaris) yang merupakan hewan moluska dari kelas Cephalopoda. Gurita memiliki 8 lengan dan hidup di habitat terumbu karang. Dokumen juga menjelaskan klasifikasi, morfologi, dan peran ekologis gurita.

Diunggah oleh

Hariynsyahh
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gurita adalah hewan moluska dari spesies cephalipoda dengan terumbu karang sebagai
habitat utama. Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup sepertiga dari total spesies kelas
Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut Octopus (Yunani: delapan kaki) yang
sering hanya mengacu pada hewan dari genus Octopus. Gurita (Octopus sp.) merupakan
hewan yang hidup hampir di seluruh laut, dari laut tropis sampai kutub utara dan selatan.
Hewan ini sudah lama di kenal oleh masyarakat Indonesia terutama yang
bermukim di pantai, tetapi belum begitu banyak masyarakat yang memanfaatkannya
dengan baik dan berkesinambungan. Adapun daerah yang memanfaatkan hewan air ini
diantaranya adalah masyarakat di di pulau Natuna, Jepang, Spanyol, Italia, Filipina, dan
pesisir pantai Timur India. Adapun di Indonesia ini jarang sekali yang memanfaatkan gurita,
karena bentuk dari gurita sendiri yang tidak menarik. Oleh karena itu pembahasan ini semoga
dapat menjadi acuan bagi prosedur pengolahan gurita yang baik dan berkesinambungan
khususnya untuk di pengolahan Berbagai cara pengawetan untuk mempertahankan mutu
produk telah banyak dilakukan, tetapi tidak mampu mempertahankan sifat – sifat gurita yang
alami. Salah satu cara mengawetkan gurita dapat dilakukan dengan sistem pendinginan dan
pembekuan
Perikanan di Indonesia memiliki kedudukan yang sangat penting baik dari segi
ekonomi, sosial, budaya, dan wawasan nusantara. Indonesia termasuk 10 besar eksportir
gurita global dengan volume ekspor Indonesia sekitar 19 ribu ton per tahun dengan nilai rata-
rata USD 98 juta/tahun, yang diekspor ke Italia, Amerika Serikat dan China (Suriani 2020).
Dalam pelaksanaan aktivitas-aktivitas pemasaran, perusahaaan harus
dihadapkan dengan perantara atau yang biasa disebut midleman. Dan dalam
penyaluran pemasaran perusahaan harus mempunyai strategi-srategi yang tepat agar
dalam penawaran produknya ke pasar berjalan dengan lancar dan sesuaidengan
apa yang diharapkan perusahaan. Modal merupakan sarana atau bekal untuk melaksanakan
usaha (Gilarso, 2009). Menurut Amirullah dan Haris (2005), modal dalam pengertian ini
dapat diinterprestasikan sebagai sejumlah uang yang digunakan dalam menjalankan
kegiatan-kegiatan usaha, yang menjadi persoalan di sini bukanlah penting tidaknya modal,
karena keberadaanya memang sangat diperlukan, akan tetapi bagaimana mengelola modal
secara optimal sehingga usaha yang dijalankan dapat berjalan lancar. Dalam keterbatasan

11
modal, usaha akan sulit untuk mengakses pasar, kesulitan akses pasar ini. terjadi karena
kurangnya keahlian dalam bidang pemasaran. Pemasaran adalah suatu proses sosial dan
manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan
dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang
lain (Kotler dan Amstrong, 2001)

Pembekuan adalah salah satu cara pengolahan hasil perikanan yang bertujuan
untuk mengawetkan makanan berdasarkan atas penghambatan pertumbuhan mikroorganisme,
menahan reaksi-reaksi kimia dan aktivitas enzim enzim (Nuryani,2006). Pembekuan
adalah suatu unit operasi dengan cara pengurangan suhu makanan di bawah titik pembekuan
dan bagian air mengalami perubahan membentuk kristal-kristal es. Pembekuan dapat
menjadikan makanan tetap awet selama kondisi penyimpanan memenuhi syarat (Dwiari et
al., 2008). Pada pembekuan udang yang sangat penting untuk diperhatikan adalah suhu ruang
pembekuan. Pembekuan produk udang pada suhu-180C merupakan standar suhu pusat
dalam industri pembekuan udang (Saulina, 2009).
Pembekuan gurita merupakan proses penanganan gurita secara modern yang paling
lazim digunakan, sebab selain tidak merubah penampilan dan tekstur, gurita juga memiliki
daya awet yang lama yaitu mencapai 2 sampai 3 tahun, sehingga waktu pengiriman
yang lama sekitar 1-2 bulan dengan kontainer berpendingin hingga mencapai konsumen
tidak mempengaruhi kualitas produk (Hapsoro, 2013).
Saluran pemasaran merupakan salah satu elemen yang sangan penting dalam
pemasaran. Suatu perusahaan perlu melaksanakan fungsi pemasaran dikarenakan pemasaran
merupakan salah satu proses pada perusahaan dalam penyetokan barang atau penawar
produknya ke pasar. Dan pemasaran dapat diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang
berusaha melancarkan dan mempermudah penyampaian barang dan jasa kepada konsumen
senghingga penggunanya sesuai dengan yang diperlukan (jenis, jumlah, harga, tempat dan
saat dibutuhkan).
Saluran pemasaran untuk suatu barang adalah saluran yang digunakan oleh
produsen untuk men yalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsu men
atau pemakai in du stri . Proses pemasaran meru pakan akt ivitas pemasaran yang mampu
menciptakan nilai tambah produk melalui fungsi-fungsi pemasaran yang dapat
merelisasikan kegunaan atau utilitas bentuk, tempat, waktu, kepemilikan dan
perlancar arus saluran pemasaran (marketing channel flow) secara fisik dan non-fisik.

12
Pemasaran merupakan hal yang paling penting dalam menjalankan sebuah usaha
perikanan. Kemampuan dalam memasarkan barang yang dihasilkan akan dapat
menambah aset dalam upaya meningkatkan dan mengembangkan usaha. Pemasaran hasil
produksi suatu usaha dalam memperoleh keuntungan yang maksimal akan tergantung
pada pola dan saluran pemasaran. Sebuah usaha yang produktivitasnya bagus akan gagal jika
pemasarannya tidak baik. Salah satu aspek pemasaran yang perlu diperhatikan dalam upaya
meningkatkan arus barang dari produsen ke konsumen adalah efisiensi pemasaran, karena
melalui efisiensi pemasaran selain terlihat perbedaan harga yang diterima nelayan sampai
barang tersebut dibayar oleh konsumen akhir, juga kelayakan pendapatan yang diterima
nelayan maupun lembaga yang terlibat dalam aktivitas pemasaran.
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries, Kota Medan Provinsi
Sumatera Utara merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam penanganan
gurita dalam bentuk pembekuan, pengalengan ikan tuna dan utuh yang mana
bahan baku gurita di peroleh dari hasil tangkapan di Samudera Hindia. Untuk itu
penulis tertarik untuk melakukan Kerja Praktik Akhir di PT. Medan Tropical Canning And
Frozen Industries agar dapat mengetahui proses-proses pemasaran dan penanganan
Pembekuan gurita serta dapat mengetahui prospek pengembangan, pengaruh suhu
pembekuan dan waktu penyimpanan terhadap mutu organoleptik gurita beku dan juga
permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan tersebut serta pemecahannya.
1.2 Tujuan
Adapun Tujuan penulis melakukan praktik akhir “Pembekuan Dan Distribusi
Pemasaran Produk Gurita (Octopus vulgaris) Di Medan Tropical Canning And Frozen
Industries Medan Sumatera Utara ” adalah sebagai berikut :
1. Dari pelaksanaan Kerja Praktik Akhir (KPA) adalah untuk menganalisis
distribusi pemasaran yang dilakukan di PT. Medan Tropical Canning.And
Frozen Industries.
2. Untuk mengetahui alur proses pengolahan gurita (Octopus vulgaris) beku Di PT.
Medan Tropical Canning And Frozen Industries Medan Sumatera Utara.

13
1.3 Manfaat
manfaat dari penulisan laporan Kerja Praktik Akhir (KPA) yaitu agar dapat :
1. Secara umun manfaat praktik kerja akhir (KPA) ini adalah untuk mendapatkan
keterampilan dan pengetahuan mengenai pengolahan produk dan saluran
pemasaran pembekuan gurita.
2. Secara khusus praktik ini dapat menambah wawasan penulis mengenai kinerja
usaha berskala besar di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries
Medan Sumatera Utara.

14
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan morfologi gurita (Octopus vulgaris)


a. Klasifikasi gurita (Octopus vulgaris)
Octopus vulgaris dapat ditemukan di dunia luas di perairan tropical dan
perairan semitropical. Disana terdapat banyak spesies dan tinjauan taxonomi dari
variasi pada spesies ini. Terumbu karang di samudra sebagai habitat utama. Menurut
Leach ( 1818) mengklasifikasikan (Octopus vulgaris) sebagai berikut:

Kingdom : Animalia
Filum : Mollusca
Kelas :Cephalopoda
Famili :Octopodidae
Genus : Octopus
Spesies : Octopus vulgaris

Gambar 1 Morfologi gurita (Octopus vulgaris)

a. Morfologi gurita (Octopus vulgaris)


Gurita (Octopus vulgaris) adalah hewan moluska dari kelas Cephalopoda
(kaki hewan terletak di kepala). Gurita terdiri dari 289 spesies yang mencakup
sepertiga dari total spesies kelas Cephalopoda. Gurita dalam bahasa Inggris disebut
Octopus (Yunani: Ὀκτάπους, delapan kaki). Octopus vulgaris memiliki 8 lengan
dengan alat penghisap berupa bulatan-bulatan cekung pada lengan yang digunakan
untuk bergerak di dasar laut dan menangkap mangsa. O. vulgaris tidak memiliki
cangkang sebagai pelindung di bagian luar, hanya paruh yang merupakan bagian
terkeras dari tubuh O. vulgaris yang digunakan sebagai rahang untuk membunuh
mangsa dan menggigitnya menjadi bagian-bagian kecil. Selubung bagian perut tubuh
15
O. vulgaris disebut mantel yang terbuat dari otot dan terlihat seperti kantung. O.
vulgaris memiliki tiga buah jantung yang terdiri dari dua buah jantung untuk
memompa darah ke dua buah insang dan sebuah jantung untuk memompa darah ke
seluruh bagian tubuh. O. vulgaris bernafas dengan menyedot air ke dalam rongga
mantel melalui kedua buah insang dan disemburkan keluar melalui tabung siphon.
Gurita memiliki peran ekologis penting baik sebagai predator maupun mangsa dan
tergolong komoditas perikanan ekonomis penting karena mengandung gizi yang cukup
tinggi dan menduduki urutan ke tiga di dalam dunia perikanan setelah ikan dan udang
(Toha, et al. 2015).
Tabel 1. Komposisi Kimia Gurita (Octopus v)
Senyawa Kandungan (%)
Kadar Air 81
Kadar Protein 13
Kadar Abu 1,6
Kadar Lemak 1,5
Oksigen (Unsur-unsur Organik) 7,5
Hidrogen 1,0
Karbon 9,5
Nitrogen 2,5
Sumber : Irawan (1995)

Tabel. 2 Kandungan gizi pada gurita (Octopus vulgaris)

kalori 164 Kaloori dari 3,2

Total lemak 2.1 g 3,2

Lemak jenuh 0.5 g 2,2


kolesterol 96 mg 32

Sodium 459.9 g 1.4

Total karbohidrat 4.4 g 19.1


Serat 0 g o

Gula 0 g 4.1

Protein 29.8 g 59.6


Vitamin A 6% Vitamin c 13.3

Kalsium 10.6% Zat besi 53.0

Besi 9,5 mg 53%


Vitamin B 6 0.6 mg 32%
Fosfort 279 mg 28%

16
2.1 Prinsip pembekuan
Prinsip dasar pembekuan gurita adalah menghilangkan panas dari produk dengan
kecepatan tinggi dalam waktu yang lebih singkat, sehingga produk tidak mengalami
perubahan mutu yang berarti dalam mencapai suhu rendah penyimpanan dan
mengawetkan ikan dalam jangka waktu yang panjang selama penyimpanan beku dan
distribusi Pada dasarnya pembekuan sama dengan pendinginan yang dimaksudkan
untuk mengawetkan sifat-sifat alami produk yang dibekukan. Pembekuan mengubah
hampir seluruh kandungan air pada produk yang dibekukan menjadi es. Keadaan
beku menyebabkan bakteri dan enzim terhambat kegiatannya, sehingga daya awet
produk yang dibekukan lebih besar dibandingkan dengan produk yang hanya di
dinginkan (Murniati dan Sunarman,2002)
2.2 Pembekuan
a. Definisi Pembekuan
Pembekuan adalah suatu usaha untuk mengurangi kadar air produk bahan pangan
sampai serendah mungkin. Pada umumnya produk perikanan memiliki kandungan
air sekitar 70-80% sehingga sangat cocok bagi kehidupan dan perkembangan berbagai
mikroorganisme yang dapat merusak dan menurunkan mutu produk perikanan tersebut.
Pengawetan dilakukan agar terjadi keseimbangan antara tekanan uap air murni pada
suhu yang sama. Keadaan yang demikian biasanya disebut juga dengan Aw (Activity of
water). Beberapa ahli mengemukakan bahwa Aw merupakan kelembapan relatif (%RH)
dimana bahan makanan tidak akan kehilangan air (Kanna, 2005).
Seperti halnya proses pendinginan, proses pembekuan juga bertujuan
mengawetkan sifat-sifat alami gurita dengan cara menghambat aktivitas bakteri maupun
aktivitas enzim. Selama proses pembekuan berlangsung, terjadi pemindahan panas dari
tubuh ikan yang di dalam tubuh gurita yang bersuhu lebih tinggi ke refrigerant
yang bersuhu rendah. Dengan demikian kandungan air ini terdapat di dalam sel
jaringan dan ruang antar sel (Afrianto dkk, 2011).
b. Air Blast Freezer (ABF)
Air Blast Freezer (ABF) adalah sebuah lorong dengan udara dingin
yang disirkulasikan ke sekitar produk yang akan dibekukan dengan bantuan kipas angin
setelah udara tersebut melewati evaporator. Air Blast Freezer digunakan untuk
pembekuan produk perikanan yang sudah dikemas dan diletakan dalam pan-pan
tertutup. Pembekuan produk perikanan dengan air blast freezer tergantung
kecepatannya, makin cepat makin cepat dingin. Kelemahan pembekuan dengan air

17
blast freezer adalah terjadinya proses pengeringan pada produk perikanan yang tidak
dikemas. Namun pembekuan dengan air blast freezer juga mengandung kelebihan
yakni dapat digunakan untuk produk perikanan segala ukuran dan jenis secara bersama.
Untuk meningkatkan kapasitas dan efisien unit pembekuan ini dilengkapi dengan alat
otomatis, sehingga produk perikanan yang sudah beku secara otomatis keluar dari
freezer. Teknik pedinginan Air Blast Frezer bersifat ekonomis dan sangat fleksibel
karena dapat membekukan produk atau bahan pangan dengan berbagai ukuran dan
bentuk (Estiasih dan Ahmad 2009). Penggunaan metode Air Blast Freezing yaitu
dengan mengunakan udara dingin dengan kisaran suhu -30 sampai -40 oC dengan laju
aliran 1,5,0 m/detik. Laju aliran udara yang tinggi dapat meningkatkan koefisien pindah
panas mesin Air Blast Freezer dengan sistem batch, alat ini dilengkapi dengan rak-rak
untuk meletakkan bahan yang akan dibekukan sedangkan sistem kontinyu, bahan atau
produk pangan yang akan dibekukan diletakkan dalam troli yang mempuyai rak atau
mengunakan konveyor. (MycomW versi 2016) Mesin Air Blast Freezer (ABF) adalah
salah satu alat pembeku makanan dalam dunia refrigerasi. Dalam perancangan Air Blast
Freezer ini, tahapan yang paling menentukan adalah saat perhitungan beban kalor yang
akan menjadi acuan bagi perancang dalam pemilihan kompresor.
1) Air
Air yang dipakai sebagai bahan penolong untuk kegiatan di unit
pengolahan memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai dengan ketentuan tentang
syarat untuk pengawasan kuaitas air minum (SNI 01-4104.3-2006).

2) Es
Es yang digunakan dibuat dari air yang memenuhi persyaratan sesuai SNI
7968:2014, Es untuk penanganan ikan Bagian 1: Spesifikasi. Dalam
penggunaannya, es ditangani dan disimpan di tempat yang bersih agar terhindar dari
kontaminasi. Es yang dipakai harus memenuihi persyaratan sesuai sesuai SNI
7968: 2014. Dalam penggunaannya, es harus ditangani dan disimpan di tempat yang
bersih agar terhindar dari kontaminasi. Penilaian mutu es terutama didasarkan atas
kemurnian dan kejernihannya.
Pada umumnya es dikatakan bagus jika padat, bening, dan kering (tidak meleleh).
Sebaliknya, es tidak bagus jika tidak padat, berwarna putih, rongga- rongga yang berisi
udara, atau kotoran lain. Dikatakan tidak baik karena sangat cepat mencair. Air yang
tidak murni menyebabkan es yang dihasilkan tidak baik (Adawyah, 2007).

18
2.3. Pemasaran
2.3.1 Definisi Pemasaran

Pemasaran menurut Sunyoto (2013), “Pemasaran adalah suatu system


keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditunjukkan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat
memuaskan kebutuhan kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial”.
Pemasaran merupakan suatu mata rantai penting dalam kegiatan
perikanan. Usaha pemasaran dapat berperan dalam pembentukan harga, penyerapan
produksi, tumbuhnya industri perikanan dan peningkatan pelaku pemasaran.
Kelancaran pemasaran ikan tidak terlepas dari kegiatan dan keberadaan pedagang
perantara.

2.4 Saluran pemasaran


Thamrin dan Francis, (2012) menyatakan bahwa saluran pemasaran adalah
sekumpulan organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses penyediaan
suatu produk ataupun pelayanan untuk digunakan atau dikosumsi. Saluran
pemasaran atau saluran distribusi merupakan serangkaian organisasi yang terkait di
dalam suatu kegiatan yang digunakan untuk meyalurkan produk serta status
pemiliknya dari produsen ke konsumen. Saluran pemasaran dapat dibandingkan
dengan pipa saluran dimana air mengalir dari sumberdaya kebatasan akhirnya.
Saluran pemasaran memungkinkan arus barang dari produsen, melalui perantara, untuk
pembeli. Beberapa perantara benar-benar membeli barang dari penjual, menyimpanya,
dan menjualnya kepada pembeli.
Rahim dan Hastuti (2007) mengatakan bahwa proses penyaluran produk
sampai ke tangan konsumen akhir dapat menggunakan saluran yang panjang ataupun
pendek sesuai dengan kebijaksanaan saluran produksi yang ingin dilaksanakan
perusahaan, dengan demikian saluran distribusi dibagi menjadi dua yaitu:
a. Saluran distribusi langsung (direct chanel of distribution) yaitu barang atau jasa
dari produsen sampai ke konsumen akhir dan tidak melalui perantara.
b. Saluran distribusi tidak langsung (indirect chanel of distribution) yaitu
penyaluran barang atau jasa dari produsen sampai ke konsumen akhir melalui
perantara.

2.5 Lembaga Pemasaran

19
Menurut Ilahude (2013) lembaga pemasaran adalah suatu badan usaha
atau individu yang menyalurkan jasa dan komoditas dari produsen untuk
konsumen akhir memiliki hubungan dengan badan usaha ataupun individu lain.
Tugas lembaga pemasaran adalah melaksanakan fungsi pemasaran dan memenuhi
keinginan konsumen seoptimal mungkin. Lembaga-lembaga yang ikut serta dalam
proses pemasaran ini dapat didefinisikan sebagai berikut:
a. Tengkulak (Pedagang Pengumpul) merupakan lembaga pemasaran yang
terhubung secara langsung dengan petani, tengkulak ini menjalankan transaksi
dengan petani secara tunai, ijin maupun kontrak pembelian.

b. Pedagang besar adalah pedagang yang selain melakukan proses pengumpulan


komoditi dari pedagang-pedagang pengumpul, pedagang besar juga melakukan
proses penyebaran (distribusi) ke agen penjualan maupun pengecer.
c. Agen penjual, produk pertanian yang belum ataupun sudah mengalami proses
pengotambak ditingkat pedagang besar harus didistribusikan kepada agen
penjual maupun pengecer.
d. Pengecer, adalah lembaga pemasaran yang berhubungan langsung dengan
konsumen.
Pengecer merupakan ujung tombak dari sebuah proses produksi yang komersil;
kelanjutan proses produksi yang dilaksanakan oleh semua lembaga pemasaran
bergantung pada aktivitas pengecer dalam menjual produk kepada konsumen.
2.6. Saluran Tataniaga Perikanan
Sebuah produk perikanan, untuk sampai ke tangan konsumen mengalami
suatu proses perjalanan atau alur penyaluran yang akan melewati beberapa
komponen distribusi atau saluran ( Kurnia, S.H dan Deni, A, 2020 ). Secara umum alur
distribusi produk perikanan dari produsan sampai ke tangan konsumen terjadi
melalui tiga cara yaitu secara langsung, semi langsung dan tidak langsung.
2.6.1 Penyaluran Langsung
Penyaluran secara langsung, dengan cara ini produksi perikanan tidak
mempergunakan pedagang perantara. Produsen langsung menjual produknya ke
konsumen. Cara ini biasa nya dilakukan oleh nelayan dan petani ikan dalam skala kecil.

Produsen konsumen

2.6.2 Penyaluran semi-langsung


20
Pengusaha/produksi menyalurkan hasil produksinya ke tangan pedagang eceran.
Kemudian dari tangan pedagang eceran, komoditas perikanan disalurkan ke konsumen.

Produsen pengecer konsumen

2.6.3. Penyaluran Tidak Langsung


Distibusi ini sangat dipengaruhi oleh jarak produsen ke konsumen maka
semakin panjang dan rumit jalur tata niaga yang harus dilalui. Dengan demikian,
harga di tingkat konsumen pun akan semakin mahal. Dalam penyaluran tidak
langsung, dikenal beberapa tipe sebagai berikut:

1) Tipe a
Produsen Pengepul Pedagang besar

Pengecer konsumen

2.) Tipe b

Produsen Pelelangan Pedagang besar

Pengecer konsumen

3.) Tipe c

Produsen Exportir

Pasar khusus konsumen

4.) Tipe d

Produsen Pengepul Pedagang besar

Pasar khusus konsumen

21
BAB 3. METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan Kerja Praktik Akhir ini akan dilaksanakan pada tanggal 1 Maret -
30 Juni 2021 di PT.Medan Tropical Canning And Frozen Industries Jl. KL Yos Sudarso
KM 10,5 Kawasan industri medan, JL. Pulau Kangean No.1, MABAR, Kec.Medan Deli,
Kota Medan, Sumatera Utara 20242.

Gambar 2. Peta wilayah PT. Medan Tropical


Canning And Frozen Industries
Sumber: Google maps

3.2 Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan dapat dalam Kerja Praktik Akhir ini adalah
sebagai berikut:
Tabel 2. Alat yang digunakan
No Alat Fungsi
1. Jas lab Untuk melindungi produk dari
kontaminasi tubuh
2. Apron Untuk melindungi jas agar tidak basah
3. masker Untuk melindungi kontaminasi dari
mulut
4. Topi ninja Untuk me
lindungi produk dari rambut jatuh
5. Sarung tangan Untuk melindungi produk dari
kontaminasi langsung pada kulit
6. Boots Untuk melindungi kaki dari air produksi
7. Fyber Box Untuk penampungan bahan baku
8. Pisau Untuk penyiangan gurita
9. Keranjang Untuk wadah penampungan gurita
10. Meja proses Untuk mempermudah proses produksi
11. Air Blast Freezer (ABF) Untuk membekukan gurita
12. Troli Untuk mempermudah memindahkan
barang
Sumber : Google PT.Medan Tropical Canning
22
Tabel 2. Bahan yang digunakan
No Bahan Uraian
1. Bahan Baku Bahan baku adalah bahan utama yang
gurita (Octopus vulgaris) digunakan dalam pembuatan produk
(dalam proses produksi) dan memiliki
persentase yang relatif besar
dibandingkan bahan-bahan lainnya.
Kualitas bahan baku yang digunakan
sangat menentukan kualitas produk yang
akan dihasilkan. Bahan baku yang
digunakan pada pembekuan di PT.
Medan Tropical Canning And Frozen
Industries adalah Gurita( Octopus
vulgaris ).
2. Air dan Es adalah bahan yang digunakan untuk
membantu proses produksi, tetapi tidak
terdapat dalam produk akhir. Adapun
bahan penolong yang digunakan adalah
air bersih dan Es.
3. Bahan tambahan Bahan tambahan merupakan bahan yang
tidak ikut dalam proses produksi, tetapi
ditambahkan ke produk pada saat atau
setelah proses produksi, untuk
meningkatkan citra produk kepada
konsumen, serta untuk melindungi
produk dalam transportasi.

Sumber : Google PT.Medan Tropical Canning

23
3.3 Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini terdiri dari data sekunder,
primer dan kuantitatif.
1) Data Primer
Data primer adalah data-data yang diambil langsung, diperoleh dari sumbernya
dengan menggunakan cara:
a. Observasi
Obeservasi merupakan pengamatan yang dilakukan secara langsung dengan
menjadi bagian kelompok perusahaan agar dapat mengamati semua bentuk proses
yang dilakukan seperti, mengamati proses saluran pemasaran, pemasaran pada setiap
proses mengalirnya barang dari produsen ke konsumen dan mengamati alur proses
pembekuan gurita di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries Medan Sumatera
Utara.
b. Wawancara
Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan data dengan proses tanya
jawab. Wawancara dilakukan dengan melakukan tanya jawab kepada pihak perusahaan
dan karyawan khususnya mengenai saluran pemasaran di PT. Medan Tropical Canning
and Frozen Industries Medan Sumatera Utara Selain itu wawancara juga dilaksanakan
untuk mengetahui sejarah perusahaan, Visi dan Misi perusahaan, jumlah karyawan, proses
pengolahan.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara pengumpulan data dengan cara mengambil gambar
atau objek pada kegiatan yang diamati.
d. Partisipasi Aktif
Kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan adalah mengikuti beberapa kegiatan
dalam pengolahan gurita beku dan saluran pemasaran di PT. Medan Tropical Canning And
Frozen Industries Medan Sumatera Utara.
2) Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang didapatkan dari beberapa sumber yang telah
tersusun dalam bentuk dokumen, data ini biasanya diperoleh dari materi kuliah, literature,
dan instansi yang terkait.

24
3.4 Metode pengolahan data
1) Data kualitatif
Data yang dipergunakan untuk informasi yang bersifat menerangkan dalam
bentuk uraian, maka data tersebut tidak dapat diwujudkan dalam bentuk angka-
angka melainkan bentuk suatu penjelasan yang menggambarkan keadaan, proses, dan
peristiwa tertentu. Pada penulisan tugas akhir ini penulis menjelaskan dan
menggambarkan mengenai keadaan perusahaan, proses gurita beku,
2) Data Kuantitatif
Data kuantitatif berupa data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung sebagai
variabel angka atau bilang. Pada penulisan tugas akhir ini melakukan metode
pengolahan data berupa perhitungan terhadap margin pemasaran dan juga efisiensi
pemasaran dengan menggunakan rumus yang telah ditentukan dan didapat dari jurnal
atau literatur.
3.4 Metode Penyajian Data
Penyajian data merupakan salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hasil
penelitian yang telah dilakukan agar data yang telah dikumpulkan dapat dipahami dan
dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Data hasil pengamatan observasi
pada proses pengolahan dan mengenai saluran pemasaran disajikan dalam bentuk
deskriptif disertai penjelasan setiap alur proses.

25
3.4 Prosedur Kerja pengambilan data
Prosedur kerja yang dilakukan oleh penulis dalam melakukan kerja prkatik akhir
(KPA) adalah sebagai berikut :

Mulai studi

literatur

wawancara

mengidentifikasi

Dokumentasi

Observasi

Data deskriptif

Pengambilan
kesimpulan

Gambar 3. Diagram Alir Prosedur

26
BAB 4 HASIL PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Umum Perusahaan


4.1.1 Sejarah Perusahaan
PT. Medan Canning And Frozen Industries (PT. MTC) didirikan pada tahun 1984
berdasarkan akte pendirian No. 153 tanggal 31 Januari 1984 dibuat oleh Notaris Aniswar
Yanis, S.H. di Medan dengan nama PT. Medan Canning & Frozen
Industries bergerak di bidang Usaha Industri Pengolahan Hasil Perikanan untuk ekspor.
Sebelumnya, pada tahun 1980-1984 pendiri aktif melakukan ekspor daging kepiting
mentah melalui pesawat udara ke Penang Malaysia untuk bahan baku industri
pengalengan Tropical Canning And Frozen Industries SDN-BHD Bukit Martajam Penang
Malaysia.
Pada tahun 1984 waktu pendirian PT. MTC, dengan modal kerja yang sangat
terbatas perusahaan hanya menyewa 4 lokal bangunan Standard Building milik PT. KIM,
dengan pemasangan mesin dan peralatan produksi pabrik pengalengan secara sederhana
dari barang-barang dan mesin-mesin peralatan bekas pakai dari industri
pengalengan Tropical Canning SDN-BHD Penang Malaysia. Produksi percobaan bulan
Juni 1985 dan produksi komersil bulan Juli/Agustus 1985 dengan jumlah tenaga kerja 150
orang dan ekspor perdana hasil produksi kepiting dalam kaleng (Canned Crabmeat)
di bulan Oktober 1985 hanya sebanyak 1 kontainer perbulan sampai dengan bulan Mei
1986 diekspor tanpa merek ke Malaysia kemudian dari Malaysia diekspor ke Amerika
Serikat dan Kanada dengan merek Tropical Brand. Tahun 1987 dengan peningkatan
ekspor ke Amerika Serikat dan Kanada PT. MTC memperoleh sertifikat izin
masuk produk Canned Crabmeat ke Amerika Serikat dan Kanada berdasarkan sertifikasi
Food and Drug Administration (FDA) No. 08669.
Tahun 2000 diadakan perluasan pembangunan pabrik pembekuan udang dan pabrik
es batangan dengan kemudahan fasilitas pembebasan bea masuk impor, perusahaan
memasukkan mesin-mesin dan peralatan produksi yang bermutu untuk industri
pengolahan hasil perikanan ditempatkan di lokasi pabrik baru di Kawasan Industri Medan
areal tanah seluas 3,2 Ha, dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 1200 orang setiap hari
dengan realisasi ekspor sebanyak 15-20 kontainer setiap bulan ke manca Negara.
Usaha strategi kedepan, perusahaan selalu melakukan kunjungan ke luar negeri seperti Uni
Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Belanda guna mengadakan temu bisnis dan pendekatan
yang akrab dengan buyer indentor di luar negeri dan memperbanyak pembuatan iklan-

27
iklan dan promosi didalam dan di luar negeri serta mengundang buyer indentor untuk
mengadakan kunjungan inspeksi secara rutin di Unit Pengolahan Produksi PT.
MTC dan dengan inspeksi tersebut terjamin produk ekspor pesanan pembeli ke luar
negeri.
4.1.2 Ruang Lingkup Bidang Usaha
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries merupakan perusahaan yang
bergerak dalam bidang manufaktur pengolahan hasil laut. Bidang usaha ini
diklasifikasikan berdasarkan prosesnya terbagi atas dua, yaitu Canning dan frozen.
Canning merupakan proses dimana bahan hasil laut diolah menjadi makanan dalam
kaleng sedangkan frozen merupakan proses pembekuan bahan hasil laut yang tujuan
akhirnya akan diekspor untuk diproses lebih lanjut. Bahan hasil laut yang diolah pada
perusahaan ini adalah cumi, sotong, gurita, kepah, ikan tuna, kepiting, udang, dan buah
(cocktail).
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries memasarkan produknya ke
luar dan dalam negeri dengan variasi brand yang ditampilkan seperti Vinisi untuk
dalam negeri, sedangkan untuk luar negeri seperti Creuettes, Thon, Crab Meat, Gelsha,
dan lain sebagainya. Perusahaan ini memasarkan produknya untuk dalam negeri dengan
menggunakan bantuan jasa distributor sedangkan untuk produk luar negeri menggunakan
agen besar.
4.1.3 Lokasi Perusahaan
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries terletak di Kawasan Industri
Medan 1 (KIM 1) Jalan Yos Sudarso KM. 10,5 Medan, Sumatera Utara dengan luas areal
lahan seluas 3,2 Ha.
4.1.4 Daerah Pemasaran
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries merupakan perusahaan berskala
internasional yang selalu menjaga kualitas produk yang akan diekspornya.
Adapun daerah pemasaran produk PT. Medan Tropical Canning & Frozen Industries ke
berbagai negara seperti Korea, Amerika, Italia, Spanyol, Australia, Prancis, dan
lain-lain.

Untuk daerah lokal, pabrik ini mencakup wilayah Sumatera dan Jawa. Perusahaan
ini menerapkan sistem produksi make to stock untuk memenuhi permintaan konsumen.
Produk makanan kaleng seperti cumi-cumi, sotong, kepah, dan gurita lebih diutamakan
sebagai produk ekspor ke luar negeri sedangkan untuk produk seperti ikan
tuna, kepiting, dan cocktail dijual dalam wilayah dalam negeri.
28
4.1.5 Organisasi dan Manajemen
A. Struktur Organisasi Perusahaan
Organisasi merupakan sekumpulan orang yang mempunyai tujuan tertentu dan di
antara mereka dilakukan pembagian tugas untuk pencapaian tujuan tersebut. Tujuan
tersebut sering dituangkan dalam sebuah wadah yakni visi. Orang-orang dalam suatu
organisasi, seberapa besarpun organisasi itu, pasti memiliki tujuan bersama yang ingin
dicapai. Tujuan yang ingin dicapai tidak dapat dilakukan secara individual. Sehingga
membentuklah organisasi. Struktur organisasi suatu perusahaan memperlihatkan gambaran
mengenai pembagian tugas serta tanggung jawab kepada individu maupun bagian-
bagian dalam suatu organisasi dari urutan tertinggi menuju urutan yang paling rendah.
Dengan adanya struktur organisasi yang jelas, maka akan terlihat adanya pembagian
pekerjaan secara tegas dan formal diantara bagian-bagian dalam organisasi dan juga
diperoleh gambaran yang jelas antara wewenang dan tanggung jawab dalam
mekanisme kerja suatu organisasi.
Bentuk struktur organisasi yang digunakan pada PT. Medan Tropical Canning &
Frozen Industries adalah bentuk lini dan fungsional dimana merupakan campuran
struktur organisasi lini dan struktur organisasi fungsional. Pada struktur organisasi di PT.
Medan Tropical Canning And Frozen Industries, komisaris membawahi direktur utama
dan direktur utama membawahi direktur operasional. Direktur operasional
membawahi beberapa departemen dan pimpinan departemen tersebut membawahi pekerja.
Struktur organisasi PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries dapat dilihat pada
Gambar.

Gambar 4. Struktur Organisasi pada PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries

29
B. Jumlah Tenaga Kerja
Tenaga kerja di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries Medan
Sumatera Utara digolongkan menjadi dua jenis yang terdiri dari:
1. Tenaga kerja tetap yaitu tenaga kerja yang mendapat upah/gaji tetap
setiap bulannya sesuai dengan jabatan dan pekerjannya.
2. Tenaga kerja tidak tetap (tenaga kerja borongan) yaitu tenaga kerja yang
upah/gajinya dibayar oleh kontraktor yang mempekerjakannya.
Jumlah dari seluruh tenaga kerja di PT. Medan Tropical Canning And
Frozen Industries Medan Sumatera Utara mencapai 1200 orang. Untuk mengetahui
rincian tenaga kerja tersebut secara lebih lengkap, dapat dilihat pada Tabel...

Tabel 3. Jabatan dan Jumlah Tenaga Kerja PT. Medan Tropical Canning And
Frozen Industries
Jabatan Pria (Orang) Wanita (Orang) Jumlah (Orang)
Managing Director 1 1
Vice Managing Director 1 1
Secretary 1 1
Manager 9 3 1
Human 15 2
Resources 1 2 1
Procurement 20 5
Workshop 39 10 3
Production 4 21 2
Financial & Accounting 10 2 0
Purchasing
Export & Import 10 43 10
1
Supervisor 20 1 4
Cleaning 7 5 3
Service 6 4 5
Security Tot 143 2
1057 1
12
al Tropical Canning & Frozen Industries
Sumber: PT. Medan 00
B. Jam Kerja
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries Medan Sumatera Utara
menetapkan hari kerja efektifnya dimulai dari hari senin sampai hari sabtu dengan jam
kerja sebanyak delapan jam per hari. Apabila seorang pekerja bekerja di luar dari
jam kerja tersebut, maka akan dihitung sebagai jam kerja lembur. Untuk keterangan
lebih rinci mengenai jam kerja di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries
baik bagi tenaga kerja tetap maupun tenaga kerja borongan dapat dilihat pada
Tabel

30
Tabel 4. Jam Kerja pada PT. Medan Tropical Canning & Frozen Industries
No. Waktu Keterangan
1 Pukul 08.00 – 12.00 WIB Kerja Aktif
2 Pukul 12.00 – 13.00 WIB Istirahat
3 Pukul 13.00 – 17.00 WIB Kerja Aktif
Sumber: PT. Medan Tropical Canning & Frozen Industries

C. Sistem Pengupahan dan Fasilitas Lainnya


PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries hanya menetapkan sistem
pengupahan tenaga kerja tetap dengan pembayaran pada awal bulan. Besar upah tenaga
kerja ditentukan sesuai dengan jabatan, keahlian, dan prestasi kerjanya. Dengan memenuhi
peraturan dan ketentuan pemerintah, PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries
memberikan upah minimum sesuai dengan batas UMR (Upah Minimum Regional).
Upah/gaji yang diterima oleh tenaga kerja di perusahaan ini terdiri dari upah/gaji
pokok, tunjangan jabatan, uang transport, uang makan, premi, dan lainnya Upah lembur
juga diberikan kepada pekerja yang bekerja di luar jam kerja efektif. Selain tunjangan-
tunjangan yang dijelaskan di atas, pekerja pada perusahaan ini juga memperoleh tunjangan
lain, yaitu:
1. Tunjangan Hari Raya (THR)
Yaitu tunjangan yang diberikan untuk menyambut hari raya berupa tambahan satu
bulan gaji bagi karyawan yang telah bekerja lebih dari satu tahun di perusahaan ini.
2. Tunjangan selama sakit
Yaitu tunjangan yang diberikan kepada tenaga kerja yang menjalani
perawatan karena sakit dan tidak dapat bekerja. Tunjangan ini hanya diberikan kepada
pekerja yang telah bekerja lebih dari dua tahun di perusahaan ini.
3. Tunjangan insentif
Yaitu tunjangan berupa upah tambahan yang diberikan kepada pekerja yang
mempunyai prestasi baik dalam melakukan pekerjaannya. Tunjangan ini diberikan untuk
meningkatkan motivasi para pekerja.
Setiap tenaga kerja pada perusahaan ini juga mengikuti program :
1. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)
Yaitu suatu bentuk asuransi yang dibuat oleh pemerintah untuk melindungi tenaga kerja
2. Cuti

31
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries memberikan kesempatan
kepada pekerjanya untuk mengambil cuti selama 12 hari kerja setiap tahunnya. Untuk
kelancaran
proses produksi, pihak perusahaan mengatur jadwal cuti dan jumlah karyawan
yang cuti. Jika kesempatan cuti tidak digunakan karyawan, dapat diakumulasikan
ke tahun berikutnya sehingga kesempatan cuti menjadi lebih panjang.
4.2 Proses pengolahan Gurita Beku (O.Vulgaris)
Bahan baku gurita (o.vulgaris) berasal dari aceh, yang kemudian diproses
menjadi gurita beku di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries yang
meliputi beberapa rangkaian tahapan proses yang terdiri dari penerimaan bahan
baku sampai proses pemuatan ekspor.
Tahapan Persiapan bahan terdiri dari proses penerimaan bahan
baku,Penampungan sementara, penyortiran, Penimbangan I, Pengopekan, Penimbangan
II, Tumbling, Pencucian, penyusunan, pembekuan, metal detector, pengemasan,
penyimpanan, pemuatan ekspor/stuffing. Berikut ini merupakan proses pengolahan
Gurita beku di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries :
4.2.1 Penerimaan bahan baku
Bahan baku gurita yang diterima di perusahaan jenis O. Cyeanea, Vulgaris dan
Giant dalam bentuk utuh segar dan beku. Bahan baku diterima di unit pengolahan harus
ditangani secara cermat, bersih dengan suhu 50 C dan selanjutnya disortir menurut
mutu dan ukuran dengan tujuan untuk memperoleh mutu, jenis dan ukuran yang
tepat dan sesuai dengan persyaratan serta mencegah kontaminasi bakteri patogen dan
parasit serta dekomposisi.
Proses penanganan bahan baku disesuaikan dengan kondisi bahan baku yang
diterima, untuk bahan baku beku mengalami proses penyimpanan dingin dan untuk
bahan baku beku mengalami proses thawing. Untuk pengadaan bahan baku suplier
mendatangkan bahan baku dari Gudang nelayan .Bahan baku berupa gurita didatangkan
dari daerah Aceh dengan menggunakan truck dan mobil pick up. Bahan baku diangkut
dengan menggunakan fish box yang diberi es dan air dengan suhu 4oC. Kemudian
dilakukan pengecekan organoleptik:

32
Tabel 5 Organoleptik gurita segar (Octopus vulgaris)
No Parameter Ciri ciri
1 kenampakan Tentakel pendek dan utuh
2 warna Kulit cenderung berwarna terang (Putih Ke
abu abuan)
3 Tekstur Tentakel lebih padat dan kompak dan berlendir
4 Aroma Segar, berbau khas gurita

4.2.2 Penampungan Sementara


Proses penampungan sementara menggunakan chilbox dengan tujuan
mewadahi bahan baku yang diterima dari supllayer,selain itu juga pada tahapan ini
juga ditambahkan es dengan tujuan untuk menjaga rantai dingin bahan baku sebelum
dilakukan proses produksi.
4.2.3 Penyotiran
Gurita yang telah disimpan dipenampungan sementara kemudian dibongkar dan
ditiriskan, kemudan diangkut ke meja sortir untuk penyortiran ukuran dan mutu.
Tujuan penyortiran ini adalah memperoleh Gurita dalam bentuk atau kualitas yang
baik dan ukuran yang seragam. Pemisahan ukuran pada bahan baku akan menjaga
mutu bahan baku tetap baik, dengan bahan baku bermutu baik akan dapat
dihasilkan produk pangan dengan mutu yang relatif sama (Afrianto, 2011).
Penyortiran dilakukan dengan pemisahan grade (kelas) dan size (ukuran), untuk
membedakan standar kualitas dari masing-masing produk untuk diproses ketahap
selanjutnya sebagai berikut:

Tabel 6. Grade pada gurita (Octopus vulgaris)

No Grade (kelas)
1 A Bagus hampir sempurna
2 B standart
3 C Reknoli (bahan yang mengalami penurunan suhu
akan di proses ulang dalam bentuk blok)

Tabel 7. Size pada gurita (Octopus vulgaris)

No Size (ukuran)
1 100-300 Gram/pcs
2 300-500 Gram/pcs
3 500-1000 Gram/pcs
4 1000-1500 Gram/pcs
5 1500-2000 Gram/pcs
6 2000 up

33
4.2.4 Penimbangan I
Proses penimbangan I dilakukan di ruang penerimaan bahan baku, Gurita
yang sudah dilakukan pemisahan ukuran dan kelas dikelompokan ke dalam satu
wadah diletakan di atas timbangan dan dilakukan pencatatan berat gurita. Tujuan
penimbangan I untuk mendapatkan berat bahan baku gurita yang diterima. Penimbangan
dilakukan dengan keranjang plastik dengan kapasitas 35 kg per keranjangnya. Kapasitas
yang dimiliki oleh timbangan digital itu sendiri adalah 60 kg.

4.2.5 Pengopekan
Proses penyiangan menggunakan pisau stainlees berukuran kecil
penyiangan dilakukan secara cepat, bersih dan hati-hati guna meminimalisir kerusakan
pada gurita, Pengopekan dilakukan dengan cara membuang mata, gigi, isi perut dan
cairan hitam dengan cepat, hati – hati dan mempertahankan rantai dingin dengan tujuan
untuk mendapatkan bahan baku Gurita yang bebas mata, gigi, isi perut dan cairan hitam
(sumi).
4.2.5 Penimbangan II
Penimbangan II adalah tahapan penimbangan dimana Gurita yang telah disortasi
kemudian ditimbang dengan menggunakan timbangan digital dengan kapasitas 6 kg.
Gurita ditimbang dengan menggunakan basket, dimana setiap basket berisi 4,5 kg
Gurita. Pada proses ini bertujuan untuk mendapatkan berat prodak setelah
dilakukan proses pengopekan guna mengetahui rendemen.
4.2.6 Tumbling
Pada proses ini tumbling gurita bertujuan untuk menjadi flower, gurita yang telah
dibersihkan dimasukkan ke dalam alat Tumbler, pada saat gurita mengalami proses
tumbling, yaitu gurita diputar untuk menghisap atau mengurangi kadar air pada gurita
menjadi 5-6 % sehingga gurita yang dihasilkan akan menyusut dan memiliki kenampakan
yang kenyal dan mudah dibentuk. Lama putaran yang dilakukan bervariasi, dimulai
dari 15-20 menit tergantung dari kualitas gurita yang diolah. Semakin rendah kualitas
gurita maka semakin lama waktu perputaran yang dibutuhkan. Sebelum perputaran
dilakukan diberikan penambahan kadar garam sebanyak 3% dari berat bahan baku yang
dimasukkan. Kadar garam tidak boleh melebihi dari 5 %.
4.2.7 Pencucian
Pencucian gurita yang telah selesai di tumbling dicuci menggunakan air es,
kemudian disikat bersih guna menghilangkan kotoran yang terdapat pada tentakel gurita.
34
Pada tahap ini juga dilakukan pengawasan mutu berupa pengecekan suhu pusat gurita di
bawah 5ºC.
4.2.8 Penyusunan
Setelah dilakukan pencucian selanjutnya dilakukan penyusunan. Proses ini dilakukan
di ruang proses dengan menyusunnya di pan yang berukuran 32 x 10 cm yang tiap pannya
berisi 4,5 kg gurita. Tetapi sebelum ditata dalam pan Gurita untuk semua ukuran di
masukkan kedalam polyback jenis polyetyline (PE) yang berukuran 50 x 37 cm, dan
diberi tali kode untuk membedakan buyer. Penyusunan cukup dilakukan dengan
penyusunan bentuk flower / IQF dengan menggunakan piring stainlees dengan berbagai
jenis ukuran. Perlakuan ini bertujuan agar produk mudah dilepas dari pan dan mencegah
produk agar tidak lengket dengan longpan saat proses pengemasan dan produk tidak
mudah tercecer.
4.2.9 Pembekuan

Gurita yang telah diproses dan disusun di atas rak selanjutnya akan dibekukan.
Metode yang dilakukan di pabrik ini ialah air blash freezer (ABF). Media yang digunakan
pada ABF ini adalah amonia cair. terdapat dua air blash freezer (ABF) yang terdapat di
PT medan tropical Canning dan frozen industries, yaitu air blash freezer (ABF) A dan B.
Di dalam ABF bahan diberikan hembusan udara dingin dengan suhu -38ºC selama 6-8
jam sehingga produk akan membeku.
Pada saat penyimpanan produk di ABF, dilakukan pengawasan mutu berupa
pengecekan suhu pusat produk setiap 2 jam sekali serta suhu ruangannya dengan
menggunakan termometer dan temptale. Pada produk gurita jenis flower, sebelum gurita
dimasukkan ke dalam air blash freezer (ABF), mesin harus dihidupkan terlebih dahulu
selama 1 jam agar suhu ruangannya menjadi dingin sehingga saat produk dimasukkan,
air yang berada dalam tubuh gurita tidak keluar dan akan membeku dengan cepat.
4.2.10 Pendeteksi logam
Gurita beku yang telah melewati tahap ABF kemudian akan dilewati pada alat
metal detector. Fungsi dari alat ini adalah untuk medeteksi kemungkinan adanya cemaran
logam pada produk yang telah dibekukan. Logam yang dideteksi berapa alumunium, besi,
dan stainless steel. Setiap bahan harus melewati metal detector satu persatu. Jika
ditemukan cemaran logam pada produk, maka alat akan berbunyi dan produk
segera dipisahkan dan ditolak.
Cara mengkalibrasikan alat ini ialah dengan menggunakan tiga buah metal
fragment standart atau chip yang masing masing logam Al (Ø 3.0 mm), Fe (Ø 1,5
35
mm) dan stainless steel (Ø 3.0 mm) yang dilewatkan pada metal detector. Apabila chip
dilewatkan, alat pendeteksinya berhenti, maka alat tersebut dalam keadaan bagus.
4.2.11 Pengemasan
Setelah gurita beku lolos dari deteksi metal detector, selanjutnya gurita akan
dikemas kedalam plastik polybag dan dimasukkan ke dalam MC (Master carton). Dalam
MC memuat ±15 kg gurita beku atau sesuai dengan permintaan buyer. Pengepakan harus
dilakukan dengan cepat untuk mencegah produk akan mencair. Produk beku yang
dimasukkan ke dalam polybag harus benar benar ditiriskan airnya. Setelah itu MC juga
diberikan label sebagai identitas produk yang di kemas. Label tersebut berisi informasi
mengenai jenis produk, asal negara, approval number tanggal kadaluarsa dan nama
perusahaan.
Kemudian MC yang berisi gurita ditutup dan direkatkan menggunakan lakban.
Setelah itu diikat dengan menggunakan strapping band. Proses strapping band ini
dilakukan dengan menggunakan strapping machine, yang merekat langsung secara
otomatis. Berat setiap MC yang sudah berisikan gurita akan dicek kembali guna untuk
mengecek kesesuaian isi dengan informasi yang tertera di label.
4.2.12 Penyimpanan Beku
Gurita yang sudah dikemas biasanya perlu beberapa hari untuk dapat diekspor oleh
karena itu, gurita ini akan dimasukkan ke penyimpanan beku terlebih dahulu. Gurita akan
disimpan ke dalam cold storage dengan suhu -18ºc sampai gurita siap diekspor. Cold
storage akan mengalami take down (mati) otomatis jika suhunya sudah mencapai suhu
pusat. cold storage berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang baik berupa raw
material maupun finished good (barang siap ekspor) dengan mempertahankan suhu
produk agar tetap beku.

4.2.13 Pemuatan Ekspor/ Stuffing


Pemuatan ekspor/stuffing dilakukan dengan cara memasukkan produk dalam
kemasan dan dimuat secara cepat, cermat, saniter dan higenis, kemudian dimuat dalam
alat transportasi yang terlindung dari penyebab atau menurunkan mutu. Tujuannya untuk
mendapatkan produk yang aman dikonsumsi dan terjaga dari bahaya dan kerusakan.

36
4.3 Saluran Pemasaran
4.3.1 Saluran pemasaran Produk
Tabel 7. Proses Pemasaran Produk Gurita Beku
Jenis Tujuan Pemasaran Jalur Pemasaran Keterangan
No
Pemasaran
1 Ekspor german,Jepang,Canada, LAUT Untuk jalur laut
Eropa,Hongkong,Korea, pengangkutan
1
Malaysia,China,dan produk gurita
Singapura. Beku
menggunakan
kapal dengan
container bersuhu
dingin -22-25oC.
lokal Medan, tebing tinggi Darat Untuk jalur darat
2 Kisaran,batu bara, kendaraan yang
Belawan, digunakan truk
yang bermuatan 3
ton dengan
Dilengkapi
Termoking
berusuhu ruang -
18-20o C.

Hasil tangkapan gurita nelayan berubah-ubah minggu harinya, sekitar 3 ton kg


sampai 2 ton, namun pernah juga tidak dapat sama sekali. Nelayan menjual hasil tangkapan
gurita langsung ke pabrik Kisaran harga jual guritaa yaitu Rp 50.000/kg baik itu ukuran
kecil maupun ukuran besar. Jika gurita sudah tidak segar/ busuk akan dikembalikan ke
nelayan. Produk yang dihasilkan oleh PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries
di pasarkan ke luar Indonesia. Produk Yang diproduksi oleh PT. Medan Tropical Canning
And Frozen Industries merupakan produk gurita yang mudah mengalami kerusakan,
sehingga sistem rantai dingin selama proses pemasaran perlu diperhatikan. Metode
distribusi yang digunakan adalah FIFO (First In First Out). FIFO yaitu produk yang
pertama kali disimpan adalah produk yang pertama kali dipasarkan. Prinsip ini berguna
untuk mencegah penurunan kualitas produk karena penyimpanan yang terlalu lama.

37
Produk diangkut menggunakan truk countainer menuju ke pelabuhan.
countainer yang digunakan untuk mengangkut produk dilengkapi dengan mesin
pendingin yang diatur pada kisaran suhu -22 oC hingga -25 oC. Proses pengirim yang
harus dilakukan dengan waktu yang relatif cepat. Pengiriman yang dilakukan PT. Medan
Tropical Canning And Frozen Industries setiap bulan sekitar 1 sampai 2 countainer
tergantung permintaan buyer. Rantai dingin pada setiap proses selalu dipertahankan
untuk meningkatkan mutu produk gurita beku. Rantai dingin dipertahankan dengan cara
menjaga suhu di bawah 5 oC. Rantai dingin di PT. Medan Tropical Canning And Frozen
Industries telah diterapkan dari proses penerimaan bahan baku sampai proses pengiriman
produk akhir gurita beku.
Produk gurita beku yang dihasilkan oleh PT. Medan Tropical Canning And
Frozen Industries dikirim ke negara seperti german, Jepang, Singapura, Malaysia, dan
Australia. Adapun untuk ke negera eropa di kirim ke Amerika, Canada, Rusia, dan Cina
sebagai negara yang sangat berpengaruh dalam bidang ekspor perdagangan Internasional

4.3.1 Saluran Pemasaran di PT. Medan Tropical Canning


Diagaram Alir 2. Saluran Pemasaran Gurita Beku Dalam Bentuk (IQF) Individual Quick Freezer

1. Secara semi langsung

Produsen pengecer konsumen

2. Secara tidak langsung


Menggunakan tipe B

Produsen pelelangan pedagang besar pengecer

konsumen

38
Hasil observasi yang dilakukan di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries
ada dua pola saluran pemasaran untuk yang pertama saluran pemasaran secara semi
langsung. yaitu produsen atau perusahaan secara semi langsung mengirim produk gurita
beku ke beberapa negara seperti german jepang kanada dan malaysia. Dengan pola saluran
pemasaran secara semi langsung. Konsumen langsung memesan ke produsen berapa banyak
gurita beku yang konsumen butuhkan, dan pihak marketing langsung memberi tugas
kepada QA/QC untuk bertanggung jawab atas alur proses pembuatan gurita beku. Setelah
selesai proses berlangsung dilakukan pengiriman export ke negera yang memesan gurita.
Pola saluran pemasaran yang kedua ini pemasaran secara tidak langsung,
saluran ini dilakukan oleh produsen atau perusahaan yang memasarkan gurita beku ke
reseller lalu menjualnya kembali ke pasar khusus setelah itu menjual ke pasar untuk
mereka jual kepada konsumen akhir.
Dalam skala pembagian kuota untuk yang ekspor dan impor merupakan tanggung
jawab oleh marketing yang dalam hal ini dikerjakan oleh satu orang khusus untuk
melaksanakan pelaporan setiap bulan sebagai bukti adanya produk yang telah dilakukan
pemasaran oleh pihak marketing dan pasar khusus yang melakukan transaksi perdagangan
dalam skala ekspor, maka dari itu praktik kerja lapang ini dapat menjadi kajian untuk
mengetahui sejauh mana pembagian yang dilakukan oleh pihak perusahaan. Produksi
masih belum dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat karena perusahaan lebih fokus ke
ekspor dari pada disalurkan ke lokal dan sekitar lingkungan perusahaan
Saluran pemasaran produk menggunakan transportasi darat yaitu berupa mobil
truk countainer yang dilengkapi dengan suhu pendingin sedangkan untuk yang lokal
perusahaan menggunakan mobil truk counteiner yang dilengkapi dengan mesin pendingin
berupa termoking untuk daerah kota Medan. Adapun sebelum dipasarkan sopir pengirim
barang yang menerima berkas berupa kwitansi yang berisi jenis produk, berat produk,
dan tujuan yang akan dikirim sebagai barang bukti pengiriman kepada konsumen
selanjutnya sopir dan karyawan pengirim barang dapat mengirim ke tempat konsumen,
untuk yang ekspor karyawan dan sopir truk menuju ke pelabuhan barang yang
berada di plaju setelah itu produk dibongkar dan dimasukan ke kapal pengangkutan untuk
disusun sesuai urutan produk yang akan dipasarkan. Selama perjalanan produk dalam
container yang telah diatur dengan suhu dingin -20o C dengan adanya karyawan yang
mengecek setiap satu jam sekali hingga produk sampai pada negara tujuan. Setelah
sampai ke pelabuhan negara yang telah menjadi tujuan maka di pelabuhan kapal dapat
dibongkar untuk mengangkut produk ke mobil pengangkutan dengan berkas yang telah
39
menjadi barang bukti pengiriman hingga produk sampai ke konsumen yang menjadi pasar
langsung, sebelum diterima produk dan berkas diperiksa oleh konsumen apabila telah
memenuhi syarat pemesanan maka produk dapat diterima dan dapat langsung diproduksi
oleh konsumen yang telah menjadi pelanggan perusahan dari PT. Medan Tropical Canning
And Frozen Industries sebagai produksi produk Gurita beku.

Produk yang tidak sesuai dengan pesanan pelanggan dapat dikembalikan atau
dikomplein oleh bagian marketing pasar khusus yang telah memenuhi pesanan dari
produksi PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries dalam jangka waktu yang
telah disepakati oleh kedua belah pihak perusahaan yang dalam hal ini melakukan
perdagangan internasional dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh pemerintah yang
berlaku oleh setiap para produksi khususnya dalam bidang ekspor barang.

Usaha produksi Gurita beku di PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries
setiap tahun mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam ekspor produk gurita beku
skala besar di berbagai negara yang telah kerjasama dengan PT. Medan Tropical Canning
And Frozen Industries, transaksi yang dilakukan antar pihak penjual dan pembeli
merupakan kesepakatan yang harus dilalui dengan berbagai manajemen seperti surat berkas
sebagai tanda pemesanan, BRC sebagai bukti bahwa perusahaan telah memenuhi standar
usaha dalam melakukan transaksi pemasaran produk, dan grate atau kualitas produk
yang diperdagangkan agar sesuai dengan pasar yang membutuhkan produk yang
diinginkan oleh masyarakat sebagai pelaku kosumen.

pemasaran gurita beku sudah diterapkan dari awal berdirinya perusahaan dengan
demikian seiring berkembangnya perusahaan maka saluran pemasaran yang diterapkan
dari secara langsung hingga sekarang menjadi dua pemasaran yang telah diterapkan di
PT. Medan Tropical Canning And Frozen Industries, dari dua saluran pemasaran yang
diterapkan lebih efisiensi saluran pemasaran secara tidak langsung karena sangat
menguntungkan bagi pihak perusahaan. Semakin panjang rantai pemasaran yang diterapkan
maka semakin mahal harga produk gurita beku yang dipasarkan hingga sampai ke
konsumen, maka dari itu saluran pemasaran yang lebih efisien bagi pihak perusahaan yaitu
distribusi secara tidak langsung.

Adapun faktor yang mempengaruhi harga produk semakin mahal yaitu jalur pemasaran
yang digunakan selama proses saluran pemasaran jarak tempuh dan alat transportasi sebagai
pengangkut produk gurita beku hingga sampai ke tempat tujuan akhir untuk diproduksi
serta disalurkan ke konsumen.

40
Diagram Saluran Pemasaran PT.Medan Tropical Canning And Frozen Industries

ORDER BUYER

MARKETING

PRODUKSI QA/QC

PENGIRIMAN

EXPORT LOKAL

RESELLER

JEPANG GERMAN

KONSUMEN

Gambar 5 . Saluran permasaran produk gurita beku

41
BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dan saran pada kerja praktik akhir ini adalah
1. Hasil kajian menunjukan bahwa di PT. Medan Tropical Canning And Frozen
Industries ada dua pola saluran untuk yang pertama: Pola saluran pemasaran tingkat
2 (produsen-pengecer-konsumen) pola saluran pemasaran ini sama dengan saluran
pemasaran secara semi langsung, Untuk pola saluran kedua yaitu pola saluran secara
semi tidak langsung yaitu produsen atau perusahaan secara semi tidak langsung
memasarkan produk ke perantara seperti pasar dan lain - lain
2. Alur proses dari gurit beku pada PT. Medan Tropical Canning And Frozen
Industries yaitu: Penerimaan bahan baku, penampungan sementara, penyortiran,
penimbangan1, pengopekan, penimbangan2, tambling, pencucian, penyusunan,
pembekuan, pendeteksi logam, penyimpanan beku, pemuatan expor/ stuffing

5.2 Saran
1. Saran dari kerja praktik akhir ini adalah sebaik nya produk produk yang berada dalam
cold storage secepat nya di pasarkan. Di karenakan produk akan mengalami
kerusakan akibat penurunan suhu disaat penyimpanan yang terlalu lama dan akan
mengakibat kan kerugian pada perusahaan
2. Pemeriksaan kualitas perlengkapan pekerja secara berkala, terutama sepatu boots dan
sarung tangan pekerja yang mudah mengalami lubang yang akan menyebabkan
kontaminasi. Dan di saat proses produksi berlangsung sebaik nya rantai es nya harus
terjaga dikarenakan bahan baku gutita cepat mengalami kerusakan

42
DAFTAR PUSTAKA

[BSN] Badan Standarisasi Nasional. SNI CAC/ RCB 1:2011.Rekomendasi nasional kode
praktis-Prinsip umum haigine pangan
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2011. SNI 01-6941.1.2011. Syarat Mutu
[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2006. SNI 01-2729.3-2006. Ikan Segar Bagian
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. SNI 7968: 2014. ES untuk penanganan ikan.
Adawyah R. 2007 Pengolahan dan Pengawetan Ikan, Bumi Aksara. Jakarta.
Afrianto 2011. Pengawetan dan Penggolahan Ikan.Cetakan ke-17.
Kanisius.Yogyakarta. Afabeta.
Ahmadi, K. dan Estiasih, T. 2009. Teknologi Pengolahan Pangan. Bumi Aksara.Jakarta.
Amirullah, dan Haris Budiyono. 2005. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Anonim. [22 Maret 2021]
Arifin, M. (2010). Strategi Belajar Mengajar Kimia. Common Textbook
(EdisiAzzaino, 1983. Pengantar tataniaga pertanian. Departemen Ilmu-
ilmu Sosial Ekonomi Anonim, Siklus Refrigerasi, Jakarta
Bahan Baku Gurita. Badan Standarisasi Nasional : Jakarta.3: Penanganan dan
Pengolahan. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.
Ciptono, Fand y. dan Budiarto, Teguh. (2007). Pemasaran Internasional (1th ed.)
David, Fred R. (2011). Strategic Management : Consepts and Cases. Edition
13thPearson Education
Dwiari et al., (2008). Teknologi Pangan Jilid 1. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan Direktorat Jendral Menajemen Pendidikan. Departemen Pendidikan
Nasional.
Estiasih dan Ahmad (2009). Teknik pedinginan Air Blast Frezer. bumi Aksara, Jakarta
Gilarso, T. 2009. Pengantar Ilmu Ekonomi Bagian Mikro. Jilid 2. Jakarta: Penerbit
Kanisinus.
Hadiwiyanto, S. (2012). Hasil-hasil Olahan Susu, Ikan, Daging, danTelur.
PenerbitLiberti, Jakarta.
Hendrawan, A. (2016). Analisis Distribusi Pemasaran. Akademi Maritim Nusantara.
Ilyas, 1993 Proses Pembekuan Gurita Masakasar Sulawesi Selatan
Jain, Subhash C. (2001). Manajemen Pemasaran Internasional (5th ed., Jilid
1).Jakarta: Erlangga. Anggota IKAPI. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Anggota
IKAPI.Sugiono.

43
Kodrat, David Sukardi. (2009). Manajemen Strategi: Membangun Keunggulan
Bersaing Era Global di Indonesia Berbasis Kewirausahaan. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Kurnia, S.H dan Deni, A, 2020. Tata Niaga Dan Pemasaran Hasil Perikanan, Jakarta
pusat, Badan Riset Sumber Daya Perikanan.

Lubis E, Eko S. W, Nirmalanti M. (2010). Penanganan selama transportasi terhadap


hasil tangkapan didarat di pelabuhan perikanan samudera nizam zachman:
aspek biologi dan teknis. Jurnal mangrove dan pesisir, X(1): 17.

Murniati dan Sunarman,2002 Proses Pembekuan Gurita Masakasar Sulawesi Selatan


Saulina, (2009) Pengendalian Mutu Pada Proses Pembekuan Udang Menggunakan Studi
Kasus Depertemen Teknologi Hasil Perikanan Pakultas Perikanan Dan Ilmu
Kelautan Statistical Proses Control (SPC) di PT. Lola Mina Jakarta Utara. Skripsi.
Institut Pertanian Bogor. 96 hal.
Simamora, Henry. (2007). Manajemen Pemasaran Internasional. (2th ed., Jilid 1).
Sugi yono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sugi yono. (2010). Metode Penelitian Bisnis: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan

Sugi yono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung
Suryana. (2011). Kewirausahaan: Pedoman Praktis: Kiat dan Proses Menuju Sukses.
Suryani, 2020 Volume Ekspor Indonesia Per Tahun Dengan Nilai Rata-Rata USD
98 juta/tahun, Yang Diekspor ke Italia, Amerika Serikat dan China.
Susanto, AB. (2005). World Class Family Business. Jakarta: Mizan.
Tampubolon, Manahan P. (2004). Manajemen Operasional. (1thed.,
2004).Jakarta:Ghalia Indonesia.
Terry, George R. dan Rue, Leslie W. (2012). Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: Bumi
Aksara.
Thamrin dan Francis. 2012. Manajemen Pemasaran. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Tjiptono, Fandy. (2008). Strategi pemasaran pada ikan beku
Toha, A.H.A., Jeni. Widodo, N. Hakim, L. dan Sumirto, S.B. 2015. Gurita Octopus
cyanea Raja Ampa. Kons. Biod Raja Ampat 4(8): 4-8. Yogyakarta: BPFE-
Yogyakarta. Anggota IKAPI.

44
LAMPIRAN

45
1. Identitas responden

Lembar kuesioner

Nama : siswoyo

Umur : 40 tahun

Jabatan : Maneger

2. Keadaaan umum perusahaan


Tahun berapa perusahaan berdiri ?
Berapa gaji kariawan perbulan ?
Berapa jumlah kariawan ?

3. Proses produksi
Bahan baku apa yang digunakan ?
Dari daerah mana berasal bahan baku ?
Berapa kadar garam bahan baku ?
Berapa suhu ABF pada prusahaan ?
Berapa suhu coldstorage pada perusahaan ?

4. Pemasaran
Bahan baku dijual dalam bentuk ?
Ke negara mana saja di pasar kan (expor) ?
Ke daerah mana saja kah dipasarkan (lokal) ?
Menggunakan saluran panjang atau pendek ?

46
Lampiran. Sertifikat badan karantina ikan pengendalian mutu keamanan hasil perikanan

47
Penerimaan bahan baku penampungan sementara

penyortiran timbangan 1

Pengopekan tambling

48
Timbangan 2 pembekuan

Deteksi logam penyimpanan beku

stuffing

49

Anda mungkin juga menyukai