TUGAS KE- 2
PENDEKATAN DALAM KONSELING
“Konseling Psikoanalisis Klasik (KOPSAK) Lanjutan”
Dosen Pembina: Lisa Putriani, [Link], Kons
DISUSUN OLEH:
NAMA : FARHAN MUHTADI
NIM : 18006259
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
Tujuan Konseling
Perkembangan Kepribadian Salah Konseling Psikoanalisis
Klasik (KOPSAK) Tujuan konseling menurut
Suai
Lanjutan psikoanalisis klasik (Prayitno: 2005,
Akibat dari ketidakefektifan
44) adalah:
kerja id ego, dan super ego akan
1. Membawa ke kesadaran dorongan-
menimbulkan kecemasan pada diri
dorongan yang ditekan
individu, karena mungkin ada yang Teknik Konseling (kesadaran) yang mengakibatkan
direpresi, dan yang direpresi itu setiap
1. Asosiasi Bebas: alat untuk mengungkapkan bahan – kecamasan
kali ingin muncul kedalam kesadaran. bahan yang terdesak atau yang berada dalam
2. Memberikan kesempatan kepada
ketidaksaran klien.
2. Analisis Mimpi: mimpi dapat diungkapkan kesan – klien menghadapi situasi yang
kesan yang direpresi dan mimpi merupakan selama ini ia gagal mengatasinya
pemuasan keinginan – keinginan yang tidak dapat
dicapai dalam kenyataan.
3. Transferensi:pengalihan objek perasaan pada orang
lain, dalam hal ini klien mengarahkan apa yang
dirasakan dan dimauinya kepada konselor, yang
selama ini tidak dapat dilakukannya.
4. Penafsiran: mendorong ego klien untuk
mensimulasikan bahan – bahan baru dan
mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar
lebih lanjut.
Konseling Psikoanalisis Klasik (KOPSAK) Lanjutan
A. Perkembangan Kepribadian Salah Suai
Menurut teori KOPSAK, pribadi menyimpang berasal/ bermasalah
adalah jika terdapat dinamika yang tidak efektif antara Id, Ego, dan Super
Ego. Dimungkinkan ego selalu mengikuti dorongan – dorongannya dan
mengabaikan tuntutan moral atau ego selalu mempertahankan kata hatinya
menyalurkan keinginan atau kebutuhan dan juga proses belajar yang tidak
benar pada masa kanak – kanak.
Akibat dari ketidakefektifan kerja id ego, dan super ego akan
menimbulkan kecemasan pada diri individu, karena mungkin ada yang
direpresi, dan yang direpresi itu setiap kali ingin muncul kedalam
kesadaran.
Proses belajar pada masa kanak – kanak atau yang tidak benar,
misalnya anak terlalu banyak mendapat tekanan atau diindoktrinasi dengan
nilai – nilai yang amat kaku, dapat mempengaruhi perkembangan
kepribadian, karena hal demikian konflik – konflik dalam diri sendiri
(Taufik, 2012: 36).
B. Tujuan Konseling
Tujuan konseling menurut psikoanalisis klasik (Prayitno: 2005, 44)
adalah:
1. Membawa ke kesadaran dorongan-dorongan yang ditekan (kesadaran)
yang mengakibatkan kecamasan
2. Memberikan kesempatan kepada klien menghadapi situasi yang
selama ini ia gagal mengatasinya
Menurut Baker (dalam Eko Darminto, 2007:31) tujuan konseling
psikoanalisa antara lain:
1. Meningkatkan kesadaran dan kontrol ego terhadap impuls-impuls dan
berbagai bentuk dorongan naluriah yang tidak rasional, serta menekan
kecemasan.
2. Memperkaya sifat dan macam mekanisme pertahanan ego sehingga
lebih efektif, lebih matang, dan lebih dapat diterima.
3. Mengembangkan perspektif yang lebih berlandasakan
pada assessment realitas yang jelas dan akurat yang mendorong
penyesuaian.
4. Mengembangkan kemampuan untuk membentuk hubungan yang akrab
dan sehat dengan cara yang menghargai hak-hak pribadi dan orang
lain.
5. Menurunkan sifat perfeksionis, rigid (kaku), dan punitive
(menghukum).
C. Teknik Konseling
1. Asosiasi Bebas
Asosiasi bebas merupakan alat untuk mengungkapkan bahan –
bahan yang terdesak atau yang berada dalam ketidaksaran klien.
Apabila klien bersedia mengatakan apapun yang terlintas dalam
ingatannya tentang orang lain, maka klien itu secara intuitif akan
mampu menembus penolakannya dan akan menemukan sikap – sikap
yang melandasi penolakannya itu.
Melalui asosiasi bebas menurut Taufik (2012: 19) dapat dipanggil
kembali pengalaman – pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi
– emosi yang berkaitan dengan situasi traumatic di masa lampau.
Pelepasan emosi – emosi yang tertahan selama ini disebut jugan
dengan katarsis.
Tugas konselor selama proses asosiasi bebas berlangsung adalah
mengenali bahan – bahan yang direpresi dan dikurung dalam
ketidaksadaran klien. Dalam hal ini, konselor dapat menafsirkan bahan
– bahan itu dan menyampaikannya pada klien serta membimbingnya
untuk memahami.
Cara melakukan asosiasi bebas menurut Rochman Natawijaya
(dalam Taufik, 2012: 38) misalnya dengan mempersilahkan klien
untuk tidur berbaring, kemudian diajak klien dan memberikan
kesempatan sebebas – bebasnya untuk menceritakan tentang apa saja
yang dirasakan, kemudian mengajak klien dan memberikan
kesempatan sebebas – bebasnya untuk menceritakan tentang apa saja
yang dirasakan, yang dialaminya dimasa lalu dan keinginan –
keinginan yang direpresinya. Dalam hal ini reaksi konselor terus
mengajak klien untuk mengemukakan lebih lanjut tentang apa yang
dirasakannya.
2. Analisis Mimpi
Bagi pendekatan psikoanalisis, mimpi dianggap penting karena
mimpi selalu melalui mimpi dapat diungkapkan kesan – kesan yang
direpresi dan mimpi merupakan pemuasan keinginan – keinginan yang
tidak dapat dicapai dalam kenyataan.
Perlu diperhatikan bahwa menurut Rochman Natawijaya (dalam
Taufik, 2012: 39) bahwa mimpi itu memiliki isi yang bersifat
ternyatakan dan disadari, dan juga bersifat laten atau [Link]
yang dinyatakan adalah mimpi sebagai tampak pada diri orang yang
mimpi itu, sedangkan yang laten terdiri dari motif – motif tersamar dan
tidak disadari yang menunjukkan makna tersembunyi dari mimpi itu.
Karena mimpi merupakan kunci yang membukakan apa – apa yang
terkurung di dalam ketaksadaran, maka tujuan analisis mimpi itu
adalah untuk mencari isi yang laten dibawah yang ternyatakan dan
secara berangsung – angsur menemukan konflik – konflik terdesak.
Selanjutnya tugas konselor dalam aalisis mimpi adalah
menyingkap makna – makna yang disamarkan dengan mempelajari
symbol – symbol yang terdapat pada isi manifest mimpi. Setelah itu,
konselor dapat menafsirkan isi mimpi yang dikemukakan klien
terhadap kesan – kesasnnya pada seseorang dan dapat juga
menghubungkan apa yang dialaminya dalam mimpi dengan yang
pernah dialaminya dalam kehidupa masa kecilnya.
3. Transferensi (pengalihan)
Transferensi maksudnya adalah pengalihan objek perasaan pada
orang lain, dalam hal ini klien mengarahkan apa yang dirasakan dan
dimauinya kepada konselor, yang selama ini tidak dapat dilakukannya.
Dalam proses transferensi ini, si klien menghayati kembali perasaan –
perasaan tersebut pada konselor. Perasaan dimaksud bisa yang bersifat
positif ataupun perasaan negative, misalnya cinta dan benci.
Melalui transferensi ini memungkinkan klien mampu memperoleh
pemahaman atas sifat dari fiksasi – fiksasi dan depresi – depresinya,
dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap
kehidupannya sekarang.
4. Penafsiran
Penafsiran digunakan oleh konselor menurut Taufik (2012: 42)
agar klien mampu menggunakan fikiran dan memfungsikan kembali
kerja ego dan super egonya. Penafsiran dirancang agar klien sedikit
demi sedikit dapat menghadapi kenyataan.
Fungsi penafsiran adalah mendorong ego klien untuk
mensimulasikan bahan – bahan baru dan mempercepat proses
penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran konselor
menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangnya bahan – bahan yang
tidak disadari pihak klien
Daftar Pustaka
Eko Darminto. 2007. Teori-teori Konseling: Teori dan Praktik Konseling dari
Berbagai Orientasi Teoritik dan Pendekatan. Surabaya: Unesa University Press.
Prayitno. 2005. Konseling Pancawaskita. Padang : Universitas Negeri Padang.
Taufik. 2012. Model – Model Konseling. Padang: Jurusan Bimbingan Konseling
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang.
Pertanyaan
Objektif
1. Akibat terjadinya ketidakefektifan antara Id, Ego, dan Super Ego; membuat
seseorang mengalami…
a. Kesenangan
b. Kefrustasian
c. Kecemasan
d. Kebahagian
2. Teknik konseling yang membuat klien menggunakan pikirannya dan
mengembalikan kinerja Id, Ego, dan Super Ego…
a. Teknik konseling asosiasi bebas
b. Teknik konseling analisis mimpi
c. Teknik konseling transferensi
d. Teknik konseling penafsiran
Essay
1. Apa yang dimaksud dengan perkembangan salah suai?
Jawab: Perkembangan ini terjadi lantaran adanya dinamika yang tidak efektif
antara Id, Ego, dan Super Ego.
2. Kenapa Teknik konseling analisis mimpi menjadi salah satu Teknik yang
penting?
Jawab: karena dalam mimpi akan membuat klien dapat mengungkapkan kesan
– kesan yang direpresi dan mimpi merupakan pemuasan keinginan –
keinginan yang tidak dapat dicapai dalam kenyataan. Sehingga akan membuat
klien dapat lebih terbuka dan mudah menceritakannya.