MAKALAH SEMINAR DAN KAPITA SELEKTA BK
“ Praktik Kerja Lapangan Bimbingan Dan Konseling (Antara Idealisme Dan Realita)
DOSEN PENGAMPU :
Asiah,S.Pd.,M.Pd
DISUSUN OLEH :
Kelompok 8
Robby Ade Syahputra (1193351064)
Winda Widya Fitri (1193351066)
PROGRAM STUDI S1 PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2022
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatnya sehingga kami masih diberikan kesempatan untuk dapat menyelesaikan tugas
makalah ini. Tugas ini kami buat guna memenuhi penyelesaian tugas pada mata kuliah
Seminar Dan Kapita Selekta Bk semoga tugas ini dapat menambah wawasan dan
pengetahuan bagi para pembaca.
Dalam penulisan tugas ini kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata
sempurna karena masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami dengan segala kerendahan
hati meminta maaf dan mengharapkan kritik serta saran yang membangun guna perbaikan
dan penyempurnaan ke depannya.
Akhir kata kami ucapkan terimakasih dan semoga materi yang ada dalam tugas ini
dapat bermanfaat sebagaimana mestinya bagi para pembaca.
Medan, 27 September 2022
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................
1.1 Latar Belakang ....................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................
1.3 Tujuan..................................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................
2.1 Idealisme..............................................................................................................
2.2 Realita..................................................................................................................
BAB III PENUTUP...........................................................................................................
3.1 Kesimpulan .............................................................................................................
3.2 Saran........................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Praktik Kerja Lapangan adalah sebuah ajang bagi mahasiswa/i untuk menerapkan teori-
teori yang diterima saat proses pembelajaran di bangku kuliah kedalam dunia kerja yang
sebenarnya. Universitas adalah salah satu lembaga pendidikan yang mempersiapkan
mahasiswa untuk dapat bermasyarakat, khususnya pada disiplin ilmu yang telah dipelajari
selama mengikuti perkuliahan. Dalam dunia pendidikan hubungan antara teori dan
praktek merupakan hal penting untuk membandingkan serta membuktikan sesuatu yang
telah dipelajari dalam teori dengan keadaan sebenarnya dilapangan. Untuk itu,
Universitas Teknokrat Indonesia mewajibkan setiap mahasiswanya melaksanakan Praktek
Kerja Lapangan di instansi pemerintah atau perusahaan swasta sebagai salah satu syarat
yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) Informatika di
Universitas Teknokrat Indonesia. Melalui Praktek Kerja ini mahasiswa akan dapat
mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku perkuliahan kedalam lingkungan
kerja yang sebenarnya serta mendapat kesempatan untuk mengembangkan cara berfikir,
menambah ide-ide yang berguna dan dapat menambah pengetahuan mahasiswa terhadap
apa yang ditugaskan kepadanya. Sebagaimana diketahui bahwa teori merupakan suatu
ilmu pengetahuan dasar bagi perwujudan Praktik Kerja Lapangan. Mengingat sulitnya
untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan berkualitas maka banyak perguruan
tinggi berusaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan cara
meningkatkan mutu pendidikan dan menyediakan sarana-sarana pendukung agar
dihasilkan lulusan yang baik dan handal. Sehubungan dengan itu maka ilmu-ilmu yang
dipelajari dibangku perkuliahan dapat secara langsung di praktekkan pada Percetakan A1
Printing, terutama yang berhubungan dengan komputer.
B. Rumusan Masalah
a. Apa saja pasal- pasal idealisme?
b. Sebutkan faktor realita?
C. Tujuan Masalah
Praktik Kerja Lapangan Bimbingan Dan Konseling ini bermanfaat untuk menambah
wawasan dalam dunia kerja, memberikan pengalaman bagi mahasiswa, menyiapkan calon
lulusan memasuki dunia kerja,meningkatkan tanggung jawab, dan disiplin.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Idealisme
Di dalam PP nomor 38 tahun1992 ditemukan pasal-pasal yang mengemukakan tentang
pembimbing. Pasal-pasal tersebut menunjukkan cita-cita ideal tentang pembimbing dan
tugasnya.
1. Pasal 1 ayat 1 berbunyi: “tenaga pendidik adalah tenaga kependidikan yang bertugas
membimbing, mengajar dan melatih peserta didiknya”.
2. Pasal 1 ayat 3 berbunyi: “tenaga pembimbing adalah tenaga pendidik yang bertugas utama
membimbing peserta didik”.
3. Pasal 3 ayat 2 berbunyi: “tenaga pendidik terdiri dari pembimbing, pengajar dan pelatih”
4. Pasal 38 sampai 47 mengungkapkan bahwa di semua jenjang dan jenis pendidikan sekolah
(TK, SD, SLTP, SDLB, SLTPLB, SMU, SMLB, SLTA, SLTA Agama, SMK, SM
Kedinasan) terdapat kedudukan tenaga kependidikan yang meliputi kepala sekolah, wakil
kepala sekolah, wali kelas, guru mata pelajaran, pembimbing, dan pustakawan dan laboran.
Djumhur dan Moh. Surya, (1975:15) berpendapat bahwa bimbingan adalah suatu proses
pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis kepada individu untuk memecahkan
masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, individu tersebut memiliki kemampuan untuk
memahami dirinya (self understanding), kemampuan untuk menerima dirinya (self
acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self direction), dan kemampuan untuk
merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan potensi atau kemampuannya dalam
mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dikemukakan
bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik dalam rangka
menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan Bimbingan
diberikan oleh guru pembimbing.
Strategi layanan bimbingan dan konseling berkenaan dengan berbagai upaya yang dilakukan
oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling untuk memfasilitasi peserta didik/konseli
mencapai kemandirian dalam kehidupannya. Strategi layanan bimbingan dan konseling
dibedakan atas jumlah individu yang dilayani, jenis dan intensitas masalah yang dihadapi
peserta didik/ konseli, dan cara komunikasi layanan. Strategi layanan bimbingan dan
konseling berdasarkan jumlah individu yang dilayani dilaksanakan melalui layanan
individual, layanan kelompok, layanan klasikal, atau layanan kelas besar atau lintas kelas.
Strategi layanan bimbingan dan konseling berdasarkan jenis dan intensitas masalah yang
dihadapi peserta didik/konseli dilaksanakan melalui bimbingan klasikal, bimbingan
kelompok, bimbingan individual, konseling individual, konseling kelompok, atau advokasi.
Strategi layanan bimbingan dan konseling berdasarkan cara komunikasi layanan dilaksanakan
melalui tatap muka antara konselor atau guru bimbingan dan konseling dengan peserta
didik/konseli atau menggunakan media tertentu, baik media cetak maupun elektronik.
B. Realita
Idealisme yang dikemukakan diatas belum sepenuhnya dapat dilaksanakan oleh PKL-BK di
sekolah-sekolah. Hal ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor di bawah ini:
1. PKL-BK sangat mirip dan tergantung pada sistem pembelajaran.
2. PKL-BK belum murni dan mandiri. Artinya para calon pembimbing belum dapat
kebebasan dalam mempraktikan semua layanan BK sesuai kurikulum.
3. Adanya pengertian yang belum mantap mengenai istilah pembimbing dengan segala
tugasnya merujuk pada PP tahun 1992. Padahal istilah guru pembimbing seharusnya
mengandung makna membimbing.
Sekolah merupakan salah satu lingkungan pendidikan tempat belajar bagi peserta didik
(siswa), yang berfungsi membantu siswa dalam pengembangan diri. Dalam arti
pengembangan semua potensi, kecakapan, serta karakteristik pribadi siswa ke arah yang
positif, baik bagi dirinya maupun lingkungannya. Di sekolah akan selalu terjadi interaksi
antara pendidik dan siswa, yang lazim disebut interaksi pendidikan. Diharapkan interaksi
yang terjadi bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan
saja, melainkan juga berfungsi mengembangkan potensi yang dimiliki siswa, sebab siswa
bukanlah gelas kosong yang harus diisi dari luar. Mereka telah memiliki sesuatu, sedikit
atau banyak telah berkembang (teraktualisasi) atau sama sekali masih kuncup (potensial).
Peran pendidik (guru) adalah mengaktualisasikan potensi yang masih kuncup dan
mengembangkan lebih lanjut apa yang baru sedikit atau baru sebagian teraktulisasikan
semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi yang ada.
Siswa juga memiliki kemampuan untuk tumbuh dan berkembang sendiri. Dalam
interaksi pendidikan siswa tidak selalu harus diberi atau dilatih, mareka dapat mencari,
menemukan, memecahkan masalah dan melatih dirinya sendiri.Dalam belajar siswa
dituntut melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang telah
menjadi komitmen bersama, baik komitmen bagi diri siswa, guru, maupun sekolah.
Namun dalam kenyataan kemampuan setiap siswa tidak sama, sehingga dalam
mewujudkan komitmen (tujuan yang disepakati) ada siswa yang betul-betul dapat
dilepaskan untuk mencari, menemukan dan mengembangkan sendiri, tetapi banyak juga
diantara mereka yang membutuhkan bantuan dan bimbingan dari orang lain terutama
pendidik. Dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia dalam konteks persekolahan
sinergi tiga unsur (siswa, guru dan tenaga administasi) mempengaruhi proses dan hasil
pendidikan. Bimbingan dan Konseling (BK) dalam khasanah pendidikan di Indonesia
secara formal dimulai sejak berlakunya kurikulum SMA tahun 1975. Sampai sekarang
telah lebih seperempat abad BK diakui sebagai salah satu bagian yang integral dari sistem
pendidikan di sekolah.
Guru Pembimbing sangat diperlukan di sekolah untuk mendampingi siswa agar
berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Peran guru pembimbing dalam
pendidikan juga dikemukakan oleh Prayitno, bahwa melalui kegiatan dan layanan BK
yang diberikan oleh guru pembimbing diharapkan siswa dapat mencapai “tri sukses”,
yaitu sukses akademis, sukses persiapan karir serta sukses dalam hubungan sosial
kemasyarakatan. 137 Sukses secara akademis biasanya ditandai dengan mutu kegiatan
belajar yang baik dan perolehan nilai hasil belajar yang tinggi sesuai dengan taraf
kemampuan akademik yang dimilikinya.
Departemen Pendidikan Nasional (2008: 238) menyebutkan bahwa ruang bimbingan dan
konseling merupakan salah satu dari beberapa sarana yang penting dalam mempengaruhi
keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah serta jumlah ruang
bimbingandan konseling disesuaikan dengan kebutuhan jenis layanan dan jumlah ruangan
seperti ruang kerja, ruang administrasi, ruang konselingindividual, ruang bimbingan dan
konseling kelompok, ruang biblioterapi, ruang relaksasi dan ruang tamu. Selain pendapat
tersebut diungkapkan dalam Departemen Pendidikan Nasional (2008: 240) mengenai
Fasilitas lain yang diperlukan untuk penyelenggaraan bimbingan dan konseling antara
lain : dokumen program bimbingan dan konseling, instrumen pengumpul data berupa tes
dan pengumpul data teknik non tes, alat penyimpan data dan kelengkapan administrasi.
Menurut Bimo Walgito (2010:97) pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di
sekolah akan berjalan dengan lancar sesuai dengan yang direncanakan, apabila didukung
oleh prasarana dan sarana yang memadai yang terdiri dari ruang tunggu atau ruang tamu,
ruang konseling perorangan, ruang konseling dan bimbingan kelompok, ruang sumber
bimbingan dan konseling, ruang resepsionis dan papan media bimbingan dan publikasi
serta prasarana yang menunjang antara lain rak majalah, almari, meja dan kursi, kotak
masalah, papan media bimbingan, papan jadwal kegiatan bimbingan dan konseling, papan
jadwal pelaksanaan program bimbingan dan konseling, dan rak buku.
Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Bimbingan dan Konseling di Sekolah merupakan
salah satu kegiatan latihan yang bersifat intrakurikuler sehingga harus dilaksanakan oleh
setiap mahasiswaprogram studi Bimbingan dan Konseling. Kegiatan ini dalam rangka
peningkatan ketrampilan dan pemahaman mengenai berbagai aspek kependidikan dan
pemberian berbagai bentuk program layanan bimbingan dan konseling yang dapat diberikan
oleh seorang guru pembimbing, dalam rangka memenuhi persyaratan pembentukan tenaga
kependidikan yang bertugas memberikan layanan bimbingan di sekolah yang
profesional.Kegiatan PPL meliputi kegiatan pra PPL dan PPL. Kegiatan pra PPL meliputi
mengikuti kegiatan sosialisasi melalui mata kuliah Praktikum Mikro Konseling, Praktikum
Konseling Individual, Praktikum BK Pribadi, Praktikum BK Sosial.
Program studi Bimbingan dan Konseling mempunyai tugas menyiapkan dan menghasilkan
guru pembimbing yang memiliki nilai dan sikap serta pengetahuan dan ketrampilan yang
profesional. Dengan kemampuan tersebut diharapkan alumni program studi bimbingan dan
konseling dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya kelak sebagai guru pembimbing
dalam rangka membantu tercapainya tujuan pendidikan.
Oleh karena itu dalam rangka menyiapkan tenaga kependidikan (guru pembimbing) yang
profesional tersebut program studi bimbingan dan konseling membawa mahasiswa kepada
proses pembelajaran yang dilakukan baik melalui bangku kuliah maupun melalui berbagai
latihan, yang antara lain berupa praktek pengalaman lapangan. Kegiatannya adalah
mengamati, mengenal dan mempraktekan semua kompetensi yang layak atau wajib dilakukan
oleh seorang guru pembimbing yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tenaga
profesional dalam bidang bimbingan dan konseling dalam dunia pendidikan.
PPL BK di sekolah bertujuan umemperoleh pengalaman faktual khususnya tentang
pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah, dan umumnya tentang proses pembelajaran
siswa serta kegiatan-kegiatan kependidikan lainnya, sehingga mahasiswa dapat menggunakan
pengalamannya sebagai bekal untuk membentuk profesi konselor di sekolah (guru
pembimbing) yang profesional.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
bimbingan adalah suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis
kepada individu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, individu
tersebut memiliki kemampuan untuk memahami dirinya (self understanding), kemampuan
untuk menerima dirinya (self acceptance), kemampuan untuk mengarahkan dirinya (self
direction), dan kemampuan untuk merealisasikan dirinya (self realization) sesuai dengan
potensi atau kemampuannya dalam mencapai penyesuaian diri dengan lingkungan, baik
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dalam Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah
dikemukakan bahwa “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada peserta didik
dalam rangka menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan
Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.