0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
366 tayangan32 halaman

Kebutuhan Khusus: LGBT & Ibu Pengganti

Modul ini membahas tentang kebutuhan khusus pada permasalahan sosial LGBT dan ibu pengganti. LGBT merupakan singkatan dari lesbian, gay, bisexual, dan transgender yang mencakup orientasi seksual dan identitas gender diluar heteroseksual dan cisgender. Modul ini menjelaskan definisi LGBT dan membedakan antara orientasi seksual dan identitas gender.

Diunggah oleh

Dewi Mutiara
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
366 tayangan32 halaman

Kebutuhan Khusus: LGBT & Ibu Pengganti

Modul ini membahas tentang kebutuhan khusus pada permasalahan sosial LGBT dan ibu pengganti. LGBT merupakan singkatan dari lesbian, gay, bisexual, dan transgender yang mencakup orientasi seksual dan identitas gender diluar heteroseksual dan cisgender. Modul ini menjelaskan definisi LGBT dan membedakan antara orientasi seksual dan identitas gender.

Diunggah oleh

Dewi Mutiara
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul

ASUHAN KEBIDANAN
Kebutuhan Khusus Pada
PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN
Permasalahan Sosial: LGBT dan
KONDISI RENTAN
Ibu Pengganti (Surrogate Mother)

Disusun oleh: kelompok 3


Kelas DIV-3C

Anisa Febty Anggraini


(P07524419093)
Dewi Mutiara
(P07524419097)
Erina Putri
(P07524419101)

Dosen Pengampu :
Fitriyani Pulungan,
SST, M.Kes
HALAMAN PENGESAHAN

1. Mata Kuliah : ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN


KONDISI RENTAN

2. Judul Modul : Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Sosial: LGBT dan Ibu
Pengganti (Surrogate Mother)

3. Penyusun Modul :1. Anisa Febty Anggraini


2. Dewi Mutiara

3. Erina Putri

4. Institusi : Poltekkes Kemenkes Medan

5. Nomor Pustaka :

Medan, 24 Januari 2022

Mengetahui,

Direktur Poltekkes Kemenkes Medan Ketua Jurusan Kebidanan Medan

Dra.Ida Nurhayati,M,Kes Betty Mangkuji,SST,M.Keb

NIP:1966091019940320001 NIP:1967711101993032002

|i
VISI DAN MISI
PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN MEDAN

VISI:
Menghasilkan lulusan D-IV Kebidanan yang mampu berwirausaha dengan pendekatan asuhan
kebidanan holistic berbasis kearifan lokal di Tingkat Nasional dan siap bersaing di Tingkat
Internasional pada tahun 2024

MISI:
1. Menyelenggarakan pendidikan D-III, D-IV dan Profesi Kebidanan yang memiliki daya saing
di tingkat internasional sesuai dengan perkembangan iptek
2. Melakukan penelitian (evidence based) dalam kewirausahaan dengan pendekatan asuhan
kebidanan holistic berbasis kearifan lokal
3. Melaksanakan pengabdian masyarakat bermitra dengan stake holder khususnya dalam
kewirausahaan pendekatan asuhan kebidanan holistik berbasis kearifan lokal
4. Menjalin kerjasama dengan pihak terkait untuk meningkatkan kualitas lulusan serta mampu
berwirausaha dengan pendekatan asuhan kebidanan holistik berbasis kearifan lokal

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN | ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang MahaEsa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahNya, karena hanya dengan karuniaNya itulah penyusunan
makalah ini dapat disesuaikan dengan rencana.

Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak. Oleh karena itulah,
Penyusun menyampaikan rasa terimakasih kepada yang terhormat Ibu Fitriyani
Pulungan,SST. M.Kes selaku Dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan Pada Perempuan Dan
Anak Dengan Kondisi Rentan dapat terselesaikannya makalah ini yang berjudul “Kebutuhan
Khusus Pada Permasalahan Sosial: LGBT dan Ibu Pengganti (Surrogate Mother)”.

Saya menyadari bahwa di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, untuk itulah kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Atas
perhatian dan tanggapan dari pembaca kami ucapkan terimakasih.

Medan, 29 Januari 2021

Penulis

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
iii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................................................i
VISI DAN MISI.............................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR..................................................................................................................iii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii
KEBUTUHAN KHUSUS PADA PERMASALAHAN SOSIAL LGBT & IBU PEGANTI
............................................................................................................Error! Bookmark not defined.
PENDAHULUAN..........................................................................................................................3
URAIAN MATERI........................................................................................................................3
TES FORMATIF.........................................................................................................................26
RANGKUMAN............................................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................31

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN DAN


ANAK DENGAN KONDISI RENTAN | iv
Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Sosial: LGBT dan Ibu Pengganti
(Surrogate Mother)
 120 Menit

PENDAHULUAN

Deskripsi Singkat
.
Modul ini berjudul Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Psikologis

Definisi Singkat
Melalui modul Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Sosial ini diharapkan dapat
membantu anda dalam mengetahuinya.

Relevasi
Materi dalam modul ini berkaitan dengan Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Konsep
Kebidanan.

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |5
Tujuan pembelajaran
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu Mengenali dam mengetahui Kebutuhan Khusus Pada
Permasalahan Sosial: LGBT dan Ibu Pengganti (Surrogate Mother)

Tujuan Khusus
Setelah kegiatan ini mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan kebutuhan khusus pada permasalahan social LGBT
2. Menjelaskan kebutuhan khusus pada permasalahan Ibu Peganti

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |6
URAIAN MATERI
Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Sosial: LGBT dan Ibu Pengganti (Surrogate Mother)

Defenisi LGBT

LGBT adalah singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Awalnya
pada tahun 1990, LGBT digunakan untuk merujuk pada kelompok homoseksual dan
transgender saja. Sekarang, singkatan ini melingkupi lebih banyak orientasi seksual dan
beragam identitas gender.
Untuk menunjukkan representasi yang lebih menyeluruh, singkatan LGBT
berkembang menjadi LGBTQIA atau LGBTQ+. Meskipun begitu, LGBT memang lebih
umum digunakan sebagai istilah yang merepresentasikan kelompok dengan orientasi seks
dan gender yang berbeda dari heteroseksual dan cisgender (berkaitan dengan jenis
kelamin). LGBT mencakup orientasi seksual dan identitas seksual yang bervariasi di luar
dari orientasi seks dan gender yang umum ditetapkan dalam masyarakat, yaitu
heteroseksual dan cisgender.
Saat memahami perbedaan orientasi seksual dan gender pada LGBT, penting
untuk diketahui bahwa orientasi seksual dan identitas gender adalah dua hal yang
berbeda. Orientasi seksual merujuk pada ketertarikan secara seksual, romantis, ataupun
emosional pada individu lain yang memiliki jenis kelamin atau identitas gender tertentu.
Jenis-jenis orientasi seksual dalam LGBT contohnya adalah homoseksual,
biseksual, panseksual, aseksual dan lain-lain. Sementara identitas atau ekspresi gender
adalah perasaan internal atau kesadaran yang berasal dari dalam diri yang mendefinisikan
seseorang sebagai perempuan, laki-laki, transgender, bigender, nonbinary, dan lain-lain.
Namun, identitas gender tidak berkaitan dengan kondisi biologis seseorang yang
ditunjukkan dari jenis kelamin atau kode genetik.
Sebagai contoh, seseorang bisa mendefinisikan dirinya sebagai perempuan
meskipun ia terlahir dengan jenis kelamin laki-laki dan memiliki kromosom XY. Setiap
orang dapat memiliki orientasi seksual dan identitas gender sekaligus. Namun, suatu
identitas gender tidak lantas menentukan orientasi seksual tertentu seperti pada konsep
cisgender dan heteroseksual. Begini misalnya, seorang yang mengidentifikasi gendernya
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |7
sebagai laki-laki tidak pasti hanya tertarik secara seksual pada perempuan yang
merupakan lawan jenisnya. Ia bisa memiliki orientasi seksual pada gender nonbiner atau
individu lain yang memiliki kepribadian tertentu terlepas dari jenis kelaminnya.
Singkatan LGBT berkembang seiring waktu karena pengertian orientasi seksual
dan identitas gender juga terus diperbarui. Hal ini sesuai dengan perkembangan ilmu
sosial dan sains. Tak hanya lesbian, gay, biseksual, dan transgender, terdapat beragam
orientasi seks dan ekspresi gender pada LGBT. Melansir pengertian dari LGBTQIA
Resource Center, berikut ini adalah beberapa istilah yang terlingkupi dalam LGBT atau
LGBTQ+.
1. Lesbian
Orientasi seksual dalam LGBT ini menggambarkan perempuan yang memiliki
ketertarikan terhadap individu dengan jenis kelamin perempuan atau orang yang
mengidentifikasi dirinya dengan gender perempuan. Artinya, seorang transpuan juga
bisa dikatakan sebagai lesbian ketika tertarik terhadap transpuan lain atau individu
dengan jenis kelamin perempuan. Transpuan adalah seseorang yang berjenis kelamin
pria, tetapi mendefinisikan dirinya sebagai wanita.

2. Gay
Istilah ini sering dipakai untuk merujuk pada individu berjenis kelamin laki-
laki yang saling memiliki ketertarikan satu sama lain, padahal lesbian juga termasuk
ke dalam gay. Begitu pun dengan individu dengan gender pria, terlepas dari kondisi
biologisnya, yang tertarik dengan individu dengan jenis kelamin laki-laki bisa disebut
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |8
gay. Secara informal, seorang biseksual dan panseksual juga sering menyebut dirinya
sebagai gay ketika mereka tertarik pada individu lain yang memiliki orientasi seksual
yang sama. Sederhananya, istilah gay dalam LGBT merujuk pada seseorang yang
memiliki ketertarikan terhadap individu lain yang memiliki orientasi seksual atau
gender yang sama.

3. Biseksual
Seringnya biseksual hanya diartikan sebagai ketertarikan pada individu dengan
jenis kelamin perempuan dan laki-laki, padahal definisi ini kurang tepat. Biseksual
menggambarkan ketertarikan pada setiap gender, tidak hanya perempuan atau laki-
laki, tetapi juga transgender, gender biner, nonbiner, dan lain-lain.

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |9
4. Transgender
Istilah transgender merujuk pada setiap orang yang memiliki ekspresi gender
(sifat maskulin dan feminin) yang berbeda dari gender yang berkaitan dengan jenis
kelamin atau kode genetiknya saat lahir. Seseorang bisa mendefinisikan dirinya
sebagai transgender terlepas dari apakah ia sudah melakukan operasi ganti kelamin
atau terapi hormon. Begitu pun dengan individu yang telah melakukan perubahan
identitas secara formal, menyangkut nama dan jenis kelamin.

5. Queer
Istilah queer ada dalam LGBTQIA atau LGBTQ+ yang menunjukkan identitas
spesifik pada individu yang tidak termasuk ke dalam kategori cisgender atau
heteroseksual. Meskipun bisa merujuk berbagai orientasi seks atau gender, queer ini
tidak bisa menggantikan istilah orientasi seks dan gender yang lebih spesifik. Istilah
ini sebaiknya hanya digunakan oleh kelompok heteroseksual dan cisgender untuk
merujuk individu yang secara jelas mengungkapkan dirinya sebagai queer.
6. +(plus)
Tanda + (plus) pada singkatan LGBTQ+ merangkum orientasi seksual dan
identitas gender yang tidak termasuk di dalam lima huruf sebelumnya, seperti di
sebutkan di bawah ini.
 Nonbiner: seseorang yang tidak merujuk secara eksklusif pada gender pria ataupun
wanita.
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
10
 Aseksual: individu yang tidak sama sekali atau sedikit memiliki ketertarikan seksual
pada orang lain meskipun bisa mengalami ketertarikan secara romantis.
 Interseks: istilah interseks merujuk pada inividu yang terlahir dengan karakter
biologis (hormon, kode genetik, dan jenis kelamin) yang bervariasi. Hal ini
menyebabkan tubuhnya tidak bisa digolongkan ke dalam tubuh perempuan atau laki-
laki.
 Panseksual: ketertarikan seksual, romantis, atau emosional pada individu lain yang
memiliki kepribadian tertentu, terlepas apapun gender atau orientasi seksualnya.

 Penyebab perbedaan orientasi seksual dan gender pada LGBT


Masih banyak pandangan yang menyebutkan LGBT sebagai penyakit sosial,
gangguan mental, atau praktik seksual yang menyimpang. Nyatanya, belum ada
konsensus (kesepakatan) di antara peneliti yang menyatakan perbedaan orientasi
seksual dan gender dalam LGBT berkaitan dengan penyakit jiwa, trauma psikologis,
atau gangguan seksual.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 50 tahun terakhir, hingga saat
ini para ahli pun belum dapat menjelaskan secara pasti penyebab dari LGBT serta
mengapa seseorang bisa memiliki orientasi seksual tertentu. Sementara untuk identitas
gender, hal ini lebih berhubungan dengan faktor psikologis. Artinya, bagaimana
individu memahami dirinya secara internal dan mencoba merepresentasikan dirinya
ke luar melalui ekspresi gender.

 Faktor penyebab LGBT


Namun, laporan dari Association for Psychological Science yang merangkum
berbagai hasil riset terkini menunjukkan ada beberapa faktor yang kemungkinan
berkaitan dengan pembentukan orientasi seksual seseorang.
 Setiap orang dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda memiliki perasaan
non-heteroseksual atau ketertarikan seksual di luar dari sesama jenis. Karakter ini
setidaknya muncul dalam persentase kecil tapi tetap berpengaruh.
 Orientasi seksual pada laki-laki dan perempuan bisa dipengaruhi dengan faktor
yang berbeda. Pada laki-laki, orientasi seksual lebih cenderung berkaitan dengan
pola rangsangan seksual dibandingkan perempuan.

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
11
 Faktor biologis termasuk hormon di masa kehamilan dan profil genetik bisa
menentukan orientasi seksual seseorang. Meski begitu, hal ini tidak selalu terjadi
pada setiap orang.
 Dari bukti yang ada, para ahli menduga faktor biologis dan lingkungan sosial
saling terkait untuk mempengaruhi orientasi seksual seseorang.
 Penemuan penelitian tidak dapat mendukung konsep bahwa seseorang bisa
mempelajari atau diajarkan untuk memiliki orientasi seksual tertentu.
 Masih sedikit temuan yang memperkirakan orientasi seksual yang berbeda dari
heteroseksual menjadi semakin banyak seiring dengan meningkatnya toleransi
sosial.
Para ahli juga memahami bahwa orientasi seksual lebih bersifat seperti
spektrum dibandingkan sebuah kualitas yang absolut (tetap). Ada individu yang
berada di sisi yang cenderung heteroseksual, adapula yang di tengah, atau di sisi
berlawanan yaitu spektrum gay. Oleh karena itu, seseorang mungkin bisa mengalami
perubahan orientasi seksual sepanjang hidupnya.
Di tengah perdebatan yang sengit mengenai LGBT, banyak yang salah
memahami arti atau konsep sebenarnya dari singkatan ini. Istilah LGBT merangkul
keanekaragaman orientasi seksual dan identitas gender yang terus berkembang seiring
waktu.

Kebutuhan Khusus Permasalahan Sosial pada LGBT


Informasi yang diperoleh dari Kemenkes secara keseluruhan terdapat
peningkatan jumlah Waria secara bermakna antara tahun 2002 dan 2009, tetapi
tidak terdapat peningkatan bermakna dari tahun 2009 dan 2012. Populasinya
tidak ada yang pasti namun mengacu data populasi rawan terdampak HIV jumlah
waria diperkirakan mencapai 597 ribu orang, sedangkan Lelaki yang seks dengan
lelaki termasuk biseksual mencapai lebih dari 1 juta orang [Kemenkes RI, 2014].
Sumber lain dari menyebutkan jika menggunakan prevalensi dari populasinya
bisa mencapai 3 juta. Sedangkan populasi lesbian belum banyak diketahui.
Pandangan masyarakat mengenai isu LGBT masih beragam tergantung
latar belakang budaya, agama, kelompok sosial, media, keluarga, pergaulan
sebaya, gender dan interaksi dengan individu LGBT [Lehman & Thornwel].
Tingkat penolakan, dan penerimaan terhadap LGBT sangat tergantung pada
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
12
faktor faktor di atas.
LGBT di Indonesia masih merupakan hal yang tabu khususnya bagi
kelompok yang pemikirannya didasari agama. Sebagian besar menghujat
perilaku dan orientasi seksual kelompok LGBT ini. MUI bahkan sudah
mengeluarkan fatwa yang menolak praktek hubungan badan dan perkawinan
sesama jenis.
Ada juga sebagian masyarakat bersikap netral, menerima keadaan LGBT
namun tidak mendukung LGBT melakukan kegiatan secara terbuka. Kelompok ini
beranggapan semua orang mempunyai hak yang sama untuk hidup, memenuhi hak
hak sebagai manusia namun tetap mempertimbangkan konteks lokal. Sedangkan
kelompok yang pendukung adalah kelompok LGBT, para aktivist dan penggerak
kesetaraan yang menginginkan LGBT juga punya hak yang sama tanpa batasan
dalam konteks apapun, termasuk dalam perkawinan sejenis.
Pada umumnya kelompok LGBT yang terbuka di Indonesia masih mengalami
banyak kekerasan dan diskriminasi dalam kesempatan kerja dan tempat tinggal,
pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan [UNDP,2014]. LGBT sulit mengakses
pekerjaan, terutama pekerjaan di sektor formal, karena banyak pemberi kerja yang
homophobic dan karena lingkungan (pada umumnya) tidak ramah terhadap kaum
LGBT. Sementara, mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan juga kerap
mengalami perlakuan diskriminatif seperti dihina, dijauhi, diancam, dan bahkan
mengalami kekerasan secara fisik (ILO,2014].
Dalam dunia kerja, kelompok LGBT yang masih tertutup, dalam situasi
tertentu masih dapat masuk ke dunia kerja tanpa diskriminasi berarti, hal
sebaliknya terjadi pada kelompok yang terbuka. Oleh karena itu LGBT yang
terbuka lebih banyak mengembangkan diri pada situasi pekerjaan yang tidak
begitu terikat dengan norma-norma seperti menjadi wirausaha mandiri.
Sedangkan kelompok transgender (waria) adalah kelompok yang paling banyak
mendapatkan diskriminasi karena penampilannya yang berbeda. Kelompok ini
banyak mengembangkan diri pada sektor –sektor informal seperti salon, industri
kreatif, hiburan dan beberapa diantaranya masuk dalam dunia prostitusi.
Kelompok LGBT umumya mengharapkan perlakuan yang lebih seimbang
dan adil dari Pemerintah, mereka ingin orientasi seksual dan perilaku seksual
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
13
tidak menjadi hambatan bagi mereka dalam bermasyarakat, berkarya, berprestasi
dan berkontribusi dalam pembangunan. Masyarakat sendiri masih memiliki
stigma terkait dengan LGBT, khususnya akibat paparan media yang berlebihan
dan tindak laku LGBT itu sendiri yang mendatangkan kekhwatiran, seperti kasus
HIV AIDS, dan kasus kejahatan seksual pada anak, ditambah lagi berlawanan
dengan pemikiran yang dilandasi agama.
 LGBT dan Kesehatan Mental

Pada awalnya, LGBT dikategorikan sebagai salah satu gangguan mental. Akan
tetapi, pada tahun 1975, American Psychological Association menyatakan bahwa
orientasi seksual seseorang, seperti lesbian, gay, dan biseksual, bukanlah merupakan
gangguan mental. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga berencana untuk menghapus
transgender dari kategori gangguan mental. Transgender kemudian akan diklasifikasikan
ke dalam istilah ketidaksesuaian gender.

Putusan-putusan ini dibuat karena para ahli psikologi tidak menemukan adanya
hubungan antara orientasi dan identitas seksual dengan kondisi kesehatan mental
seseorang. Sebaliknya, orientasi dan identitas seksual seseorang dianggap sebagai aspek
normal dari seksualitas manusia. Oleh sebab itu, bisa disimpulkan bahwa LGBT bukanlah
merupakan gangguan mental. Kendati demikian, Anda tentu bisa saja memiliki pendapat
atau pandangan Anda sendiri mengenai LGBT. Namun, ada baiknya kita tidak
memandang sebelah mata atau mendiskriminasi kelompok LGBT. Pasalnya, penelitian
menyebutkan bahwa kelompok LGBT lebih berisiko menderita berbagai gangguan
mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan obat-obatan terlarang,
hingga melakukan percobaan bunuh diri, akibat diskriminasi yang diterimanya dari
masyarakat. Jika Anda mengalami masalah mengenai identitas maupun orientasi seksual
Anda, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Defenisi Ibu Peganti

Salah satu dari penemuan teknologi sains modern yang sangat bermanfaat bagi
manusia adalah penemuan inseminasi buatan pada manusia. Inseminasi buatan yang di
maksud adalah penghamilan buatan yang di lakukan terhadap seorang wanita tanpa
melalui cara alami, melainkan dengan cara memasukkan sperma laki-laki ke dalam
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
14
rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter. Istilah yang semakna adalah kawin
suntik, penghamilan buatan dan permanian buatan. Penemuan ini sangat bermanfaat bagi
manusia, terutama bagi pasangan suami istri yang tidak bisa mendapatkan anak dengan
cara alami.
Masalah bayi tabung, jika sperma dan ovum yang dipertemukan itu berasal dari
ikatan suami istri yang sah, maka hal tersebut dibolehkan. Tetapi, jika sperma dan ovum
yang dipertemukan tersebut bukan berasal dari suami istri yang sah, maka hal itu tidak
dibenarkan bahkan dianggap sebagai perzinahan terselubung. Dengan adanya
kemunculan inseminasi bayi tabung, cara yang dilakukan semakin luas dimana ketika
inseminasi ini beralih pada penyewaan rahim Penyewaan rahim sendiri adalah suatu
perjanjian yang biasanya memiliki persyaratan-persyaratan tertentu dari kedua belah
pihak, baik perjanjian tersebut berdasarkan rela sama rela (gratis) atau perjanjian itu
berupa kontrak (bisnis).
Dalam pengertian lain sewa rahim adalah menyewa atau mengunakan rahim
wanita lain yang bukan istri untuk mengandungkan benih wanita (ovum) yang telah
disenyawakan dengan benih lelaki (sperma) (yang kebiasaannya suami isteri) kemudian
janin itu dikandung oleh wanita tersebut sehingga dilahirkan. Kemudian anak itu
diberikan kepada pasangan suami isteri itu untuk dipelihara dan anak tersebut akan
disebut sebagai anak mereka dari sudut undang-undang. Pengertian ini dikenal dengan
sewa rahim, kerana lazimnya pasangan suami
isteri yang ingin memiliki anak ini akan membayar sejumlah uang dalam jumlah
besar kepada ibu yang mengurus untuk mencari ibu yang sanggup mengandung anak dari
benih mereka dan dengan syarat ibu sewa tersebut akan menyerahkan anak tersebut
setelah dilahirkan atau pada masa yang dijanjikan. Bayi tabung pertama kali berhasil
dilakukan di Inggris di pasangan suami Istri Brown, kemudian semakin berkembang dan
bergeser menjadi sewa rahim. Pusat sewa rahim terkenal di dunia adalah India. Dalam
beberapa tahun terakhir praktik tersebut meningkat di Cjennai, bagian selatan India. Hal
tersebut memunculkan lebih dari 12 rumah sakit siap melaksanakan prosedur sewa rahim
terhadap 150 perempuan dan mayoritas yang siap menjadi ibu pengganti berasal dari
kelurga miskin yang rela mengandung bayi orang lain demi mendapat bayaran.
Pelaksanaan peminjaman rahim di Indonesia mengalami kendala tidak
adanya payung hukum (aturan perundang-undangan) yang mengatur peminjaman
rahim serta pertimbangan etika berdasarkan norma-norma yang berlaku di
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
15
Indonesia. Dilihat dari aspek hukum perjanjian, perjanjian peminjaman rahim
tidak mempunyai aturan hukum yang jelas, terlebih lagi objek yang diperjanjikan
sangatlah tidak lazim, yaitu rahim, baik benda maupun difungsikan sebagai jasa.
Karena keberadaannya yang belum mempunyai payung hukum, peminjaman
rahim menimbulkan kekhawatiran para pihak yang menjalaninya bahwa perbuatan
tersebut adalah illegal. Namun secara yuridis terdapat beberapa pasal dalam KUH
Perdata yang dapat digunakan untuk mengkaji substansi dari perjajian peminjaman

rahim yaitu Pasal 1320 KUH Perdata 5. Dalam perjanjian peminjaman rahim
apabila dikaitkan dengan syarat sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUH
Perdata maka terdapat beberapa hal yang perlu dipertanyakan. Salah satunya
adalah mengenai hal tertentu yang diatur dalam perjanjian peminjaman rahim,
dimana dalam Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang tentang Kesehatan disebutkan
bahwa teknologi reproduksi untuk membantu kehamilan diluar ilmiah hanya dapat
dilakukan dengan metode bayi tabung.
Dalam hukum perjanjian menganut asas kebebasan berkontrak. Hal ini juga
diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa “semua
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka

yang membuatnya”6. Hal ini berarti bahwa para pihak dalam suatu perjanjian
bebas untuk menentukan materi atau isi dari perjanjian. Lalu bila dihubungkan
dengan syarat sah perjanjian, bagaimana kedudukan dari perjanjian peminjaman
rahim tersebut, ketika dalam suatu perjanjian peminjaman rahim kedua belah
pihak yaitu pasangan suami istri dan calon ibu pengganti sama-sama bersedia dan
telah bersepakat untuk melakukan perjanjian peminjaman rahim tersebut.
Menurut Sonny Dewi Judiasih, Susilowati Suparto Dajaan dan Deviana
Yuanitasari, Surrogate Mother merupakan teknik bayi tabung (fertilisasi in vitro),
yaitu di mana sperma dan ovum pasangan suami istri yang di proses dalam tabung,
lalu dimasukan kedalam rahim orang lain, bukan kedalam rahim istri. Perempuan
yang bersedia dititipkan embrionya tersebut disebut surrogate mother, umumnya
dengan perjanjian antara surrogate mother dengan pasangan suami istri yang ingin
menggunakan jasa surrogate mother tersebut yang biasa disebut dengan intended
parent, dalam isi perjanjian ini surrogate mother, diberi biaya untuk kebutuhan
selama proses mengandung anak tersebut, saat proses melahirkan, dan setelah

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
16
melahirkan. Surrogate mother, ini setelah melahirkan anak tersebut harus
menyerahkan kepada intended parent. Adapun jenis sewa Rahim, memiliki
klasifikasi yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Traditional surrogacy;

Traditional Surrogacy adalah suatu kehamilan yang mana sang wanita menyediakan sel
telurnya untuk dibuahi dengan inseminasi buatan kemudian mengandung atas janinnya
serta melahirkan anakya untuk orang lain atau kehamilan yang berasal dari suatu
inseminasi buatan, dimana ovum (sel telur) berasal dari si wanita yang hamil dan
mengandung bayi tersebut dalam suatu jangka waktu kehamilan, kemudian melahirkan
anak untuk pasangan lain.
2. Gestational surrogacy;
Gestational Surrogacy merupakan suatu kehamilan yang berasal dari sel telur atau ovum
seoang wanita yang telah dibuahi oleh sperma seorang pria (umumnya pasangan dari
wanita pemilik ovum) yang dikandung dalam Rahim wanita lain (si ibu pengganti)
hingga si ibu pengganti tersebut melahirkan.
3. Intended mother
Intended Mother adalah wanita lajang atau yang memiliki pasangan yang menghendaki
kehamilannya dilakukan oleh wanita lain yang menyetujui untuk dihamili dengan janin
dari sel telurnya sendiri maupun dari hasil donasi melalui suatu perjanjian bisnis
“Intended Mother” diartikan sebagai “Ibu yang menginginkan kehamilan” yang mana
hak atas anak dialihkan kepadanya seteah sang anak lahir.

Peraturan terkait surrogacy di Indonesia tidak mempunyai ketentuan yang


mengatur mengenai surrogate mother. Di Indonesia menyiratkan bahwa melarang
praktik surrogate mother, tetapi pada kenyataannya terjadi dibeberapa wilayah yang
dilakukan secara diam-diam dan dengan cara kekeluargaan. Peraturan yang dapat
dikatakan secara ketentuan, sebagai berikut :

1. Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Pasal


127 ayat 1.
2. Peraturan Menteri Kesehatan No. 39 Menkes/SK/2010 tentang Penyelenggaraan
Pelayanan Teknologi Reproduksi Berbantu.
3. Peraturan Pemerintahan Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi,
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
17
Pasal 1 angka 10, Pasal 40 ayat (1-4), Pasal 43 ayat (1), dan ayat (3).

Dalam Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan diatur bahwa kehamilan di luar cara alamiah hanya dilakukan oleh

pasangan suami- istri yang sah dengan syarat sebagai berikut 12 :

1) Hasil sperma dan ovum dari suami-istri yang bersangkutan di tanamkan dalam
rahim istri dari mana ovum itu berasal.
2) Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk melakukan hal itu.
3) Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
Secara gramatikal bisa ditafsirkan bahwa yang boleh dilakukan oleh hukum
di Indonesia adalah metode pembuahan sperma dan ovum dari pasangan suami-
istri yang sah yang ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal yang
dikenal
Sedangkan tujuan dilakukannya sewa rahim ini berbagai macam, diantara adalah:
1. Seseorang wanita tidak mempunyai harapan untuk mengandung secara biasa kerana
ditimpa penyakit atau kecacatan yang menghalangnya dari mengandung dan
melahirkan anak.
2. Rahim wanita tersebut dibuang kerana pembedahan.
3. Wanita tersebut ingin memiliki anak tetapi tidak mau memikul beban kehamilan,
melahirkan dan menyusukan anak dan ingin menjaga kecantikan tubuh badannya
dengan mengelakkan dari terkesan akibat kehamilan.
4. Wanita yang ingin memiliki anak tetapi telah putus haid (menopause).
5. Wanita yang ingin mencari pendapatan dengan menyewakan rahimnya kepada
orang lain.

Kebutuhan Khusus Permasalahan Sosial Ibu Pegantti

Salah satu teori Sosiologi yang mendukung adanya perubahan dalam


masyarakat adalah “Teori Perubahan Sosial” melalui teori Evolusioner (Horton

dan Hunt, 1992) 7. Dimana perkembangan teknologi tinggi masa kini adalah
bukti adanya perubahan kehidupan dalam masyarakat, yang gejala-gejalanya

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
18
perubahan tersebut menyangkut pada bidang seni, sastra, hukum, moral, agama,
perdagangan dan lainnya yang tak ketinggalan juga adalah bidang teknologi.
Bidang ini ternyata telah membawa pengaruh dalam kehidupan manusia yang
secara sosial sifat dasar manusia salah satunya adalah hidup berkelompok, dan
berinteraksi satu dengan lainnya.

Program Surrogate Mother secara sosiologis dapat di lihat sebagai suatu


perubahan sosial dimana faktor dinamika manusia yang kreatif secara terbuka
mereka menciptakan kondisi perubahan tersebut atas dasar kebutuhannya,
walaupun dalam proses perubahan tersebut terkadang menimbulkan reaksi
konflik dalam arti ada yang pro dan kontra.

Dengan adanya reaksi yang positif ataupun negatif tentang suatu


perubahan sosial, hal ini juga dijelaskan dalam teori sosiologi yaitu teori Konflik
yang dalam premis- premisnya menjelaskan bahwa: “Setiap orang memiliki
kepentingan sendiri-sendiri, setiap orang akan berusaha mewujudkan
kepentingan itu, dan cara yang digunakan untuk mewujudkan kepentingan itu
adalah dengan menggunakan suatu kekuatan. Menyimak orang berusaha
memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk bisa memenuhi apa yang menjadi
kepentingannya yaitu memiliki seorang anak dengan program Sewa
Rahim/Surrogate Mother. Walaupun dalam upaya ini orang tidak boleh
melupakan akan kebesaran Allah sebagai pemilik alam semesta, karena tanpa
ijin Nya maka segala perubahan itu tidak akan terwujud.

Menurut Selo Soemarjan pakar Sosiologi menjelaskan bahwa penyebab


perubahan sosial adalah karena anggota masyarakat pada suatu waktu tertentu
merasa tidak puas lagi terhadap keadaan kehidupan yang lama. Norma-norma
dan lembaga-lembaga sosial atau saranasarana penghidupan yang lama dianggap
tidak memadai lagi untuk memenuhi kehidupannya yang baru.

Selanjutnya menurut Syarbini dan Rusdiyanta (2009) dijelaskan pula


bahwa secara umum penyebab perubahan sosial budaya dapat dibedakan dalam
dua golongan yaitu:

1) Perubahan yang berasal dari masyarakat itu sendiri salah satunya adalah
adanya perkembangan ilmu pengetahuan, sebagai suatu kesadaran orang

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
19
perorangan akan kekurangan dari kebudayaannya, kualitas ahli dalam
suatu kebudayaan serta rangsangan masyarakat berinovasi; dan

2) Perubahan berasal dari lingkungan alam fisik disekitar manusia,


bersumber pada lingkungan fisik yang kadangkadang disebabkan oleh
tindakan para warga masyarakat, seperti penebangan liar oleh segolongan
masyarakat hingga terjadi tanah lonsor, banjir dan lainnya.

Pada situasi saat ini ternyata perkembangan teknologi di bidang kesehatan


telah membuka jalan untuk suatu potensi jalan keluar bagi dunia kesehatan yang
pada perkembangannya menampilkan isu etika dan moral yang sebelumnya
tidak terfikirkan oleh masyarakat. Hal itu adalah perkembangan teknologi
dibidang kesehatan khususnya yang berkaitan dengan teknologi dibidang
Reproduksi. Mengingat pada kenyatannya terdapat kurang lebih 10 % dari
pasangan suami isteri tidak dikaruniai keturunan (Infertil), sedangkan kecil
kemungkinannya bagi mereka melakukan adopsi anak (Thamrin, 2014).
Perkembangan di bidang kedokteran, sosial dan hukum di seluruh dunia
membuka jalan bagi surrogate mother modern komersial, sejarah surrogate
mother dimulai pada tahun 1870 di China, akhirnya pada tahun 1985 di Amerika
Serikat, seorang perempuan sukses yang pertama hamil sebagai ibu pengganti
dan melahirkan tahun 1986, sekaligus memunculkan persoalan hukum pertama,
dimana ibu pengganti tidak mau menyerahkan bayi ke ibu genetik.
Teknik ibu pengganti dapat diartikan sebagai penggunaan rahim wanita
lain untuk mengandungkan benih wanita (ovum) yang telah dibuahi oleh benih
lelaki (sperma), dan janin itu dikandung oleh wanita tersebut sehingga
dilahirkan. Perempuan yang menggunakan rahimnya untuk hamil dimana janin
yang dikandungnya tersebut milik wanita lain dan setelah bayi lahir hak
kepemilikan atau hak asuh bayi tersebut diserahkan kepada wanita lain dan ayah
dari bayi tersebut. Praktek surrogate mother atau lazim diterjemahkan dalam
Bahasa Indonesia dengan ibu pengganti tergolong metode atau upaya kehamilan
di luar cara yang alamiah (Yendi, 2011).
Kaidah ini dikenal juga dengan sewa rahim karena lazimnya pasangan
suami isteri yang ingin memiliki anak ini akan memberikan imbalan kepada ibu

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
20
pengganti yang sanggup mengandung benih mereka, dengan syarat ibu
pengganti tersebut akan menyerahkan anak setelah dilahirkan atau pada waktu
yang telah ditetapkan sesuai perjanjian. Teknik ibu pengganti biasanya
dilakukan bila istri tidak mampu atau tidak boleh hamil atau melahirkan. Embrio
dibesarkan dan dilahirkan dari rahim wanita lain bukan istri walaupun bayi itu
menjadi milik pasangan suami istri yang ingin mempunyai anak tersebut. Secara
umum terdapat lima bentuk tipe teknik sewa rahim (Yendi, 2011), yaitu:

1) Sel telur isteri dipertemukan dengan sperma suami, kemudian


dimasukkan ke dalam rahim wanita lain. Kaedah ini digunakan dalam
keadaan isteri memiliki sel telur yang baik, tetapi rahimnya dibuang
karena pembedahan, kecacatan, akibat penyakit yang kronik atau sebab-
sebab yang lain.

2) Sama dengan tipe yang pertama, kecuali sel telur dan sperma yang telah
dipertemukan tersebut dibekukan dan dimasukkan ke dalam rahim ibu
pengganti setelah kematian pasangan suami isteri itu.

3) Sel telur isteri dipertemukan dengan sperma lelaki lain (bukan suaminya)
dan dimasukkan ke dalam rahim wanita lain. Keadaan ini apabila
suami mandul dan isteri ada halangan atau kecacatan pada rahimnya
tetapi sel telur isteri dalam keadaan baik.

4) Sperma suami dipertemukan dengan sel telur wanita lain, kemudian


dimasukkan ke dalam rahim wanita lain. Keadaan ini berlaku apabila
isteri mengalami penyakit pada kandung telur dan rahimnya sehingga
tidak mampu menjalani kehamilan, atau isteri telah mencapai tahap
menopause.

5) Sperma suami dan sel telur isteri dipertemukan, kemudian dimasukkan


ke dalam rahim isteri yang lain dari suami yang sama. Dalam keadaan
ini isteri yang lain sanggup mengandungkan anak suaminya dari isteri
yang tidak boleh hamil.

Hukum Indonesia adalah metode bayi tabung yaitu metode pembubuhan


antara sperma milik suami dan ovum milik istri yang terikat dalam perkawinan
yang sah di mata hukum yang kemudian ditanam di rahim istri yang
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
21
bersangkutan atau ditanamkan dalam rahim istri dimana ovum itu berasal.
Sedangkan metode atau upaya kehamilan di luar cara alamiah selain yang
diatur dalam Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan tersebut, dalam hal ini ibu pengganti atau surrogate mother atau
penititipan embrio ke dalam rahim wanita lain secara hukum belum dapat
dilakukan di wilayah hukum Indonesia.

Dalam prakteknya, peminjaman rahim atau ibu pengganti membuka


peluang lebar adanya anak yang dilahirkan di luar nikah. Seorang gadis atau janda
yang bersedia untuk melahirkan tanpa nikah dan hanya melalui penyewaan
rahimnya saja, dapat membawa dampak buruk serta penderitaan terhadap masa
depan anak, di antaranya adalah :

1)Anak terlahir dengan status anak di luar nikah


2)Anak kehilangan hak waris orang tua kandungnya
3)Anak mendapat stigma buruk di masyarakat
4)Anak tersebut dapat disangkal oleh orang tua kandungnya maupun oleh orang
tua titipan

Mengenai point di atas, dalam pelaksanaannya anak yang dihasilkan dari


proses sewa rahim, sangat memungkinkan adanya penolakan atau sangkalan dari
dua pihak sekaligus. Pertama dari orang tua kandung, kedua dari orang tua
biologis (yang punya benih). Di bawah ini beberapa kemungkinan terjadinya
penolakan anak :

1) Jika anak terlahir dari ibu kandung (yang disewa rahimnya) dan status ibu
tersebut tidak terikat oleh suatu perkawinan yang sah, maka anak yang
dilahirkannya itu dapat saja ditolak oleh ayah biologisnya (penitip sperma)
karena biaya yang dijanjikan ternyata tidak ada, apalagi jika anak tersebut
terlahir dalam keadaan cacat, dengan dalil bahwa anak tersebut bukan
anaknyakarena tidak terlahir dalam ikatanperkawinan yang sah. Pasal 42
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa anak
yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan
yang sah.Kemudian pasal 250 KUH Perdata menentukan bahwa anak yang
dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan, memperoleh si suami sebagai

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
22
ayahnya.
2) Jika anak terlahir dari ibu kandung (yang disewa rahimnya) dan status ibu
tersebut terikat oleh suatu perkawinan yang sah, maka anak yang dilahirkannya
itu dapat ditolak oleh suami dari ibu tersebut. Dengan dalil Pasal 44 Undang-
Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974 yang menentukan :
a. Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh
istrinya bila ia dapat membuktikan bahwa istrinya telah berzina dan
anak itu akibat daripada perzinaan.
b. Pengadilan memberikan keputusan tentang sah/tidaknya anak atas
permintaan pihak yang berkepentingan.

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwasanya begitu menderitanya


anak yang dilahirkan melalui praktek sewa rahim atau ibu pengganti. Anak
dapat kehilangan statusnya sesaat setelah dilahirkan sekaligus kehilangan hak-
haknya sebagai manusia.

Dalam sistem hukum Indonesia terdapat pengaturan dalam Pasal 42


Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa
anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat dari
perkawinan yang sah, sedangkan Pasal 43 Undang-Undang Perkawinan
menyatakan bahwa anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai
hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Di Indonesia, status anak
yang lahir dari ibu pengganti dalam kaitan dengan pengaturan Undang-Undang
Perkawinan, bahwa anak tersebut merupakan anak sah dari ibu pengganti,
bukan anak dari orang tua yang menitipkan benih di rahim ibu pengganti.

Sebenarnya secara biologis, anak yang dilahirkan oleh si ibu pengganti


dari adanya sewa rahim tersebut adalah anak dari si pasangan suami dan istri
tersebut, hanya saja dilahirkan melalui perempuan lain. Akan tetapi, mengenai
hal ini terdapat beberapa pendapat., untuk melihat golongan anak dari kasus
surrogate mother, harus dilihat dulu status perkawinan dari wanita surrogate.
Anak yang dilahirkan dari sewa rahim dapat berstatus sebagai anak di luar
perkawinan yang tidak diakui, jika status wanita surrogate-nya adalah gadis
atau janda. Dalam hal ini, anak yang dilahirkan adalah anak di luar
perkawinan yang tidak diakui, yaitu anak yang dilahirkan karena zina, yaitu
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
23
akibat dari perhubungan suami atau isteri dengan laki-laki atau perempuan lain.

Akan tetapi, anak tersebut dapat menjadi anak sah jika status wanita
surrogate-nya terikat dalam perkawinan yang sah (dengan suaminya), maka anak
yang dilahirkan adalah anak sah pasangan suami isteri yang disewa rahimnya,
sampai si bapak (suami dari wanita surrogate) mengatakan “Tidak” berdasarkan
Pasal 251, Pasal 252, dan Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(“KUHPer”) dengan pemeriksaan darah atau DNA dan keputusan tetap oleh
pengadilan dan juga berdasarkan atas Undang-Undang Perkawinan Pasal 44

yang mengatur bahwa :

“Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh


isterinya bila mana ia dapat membuktikan bahwa isterinya telah berzina dan
anak itu akibat dari perzinaan tersebut.”

Pengadilan memberikan keputusan tentang sah/tidaknya anak atas


permintaan pihak yang berkepentingan. Adanya praktik surrogate mother yang
dilakukan oleh masyarakat, menimbulkan banyak persoalan-persoalan hukum,
yang harus direspon oleh semua pihak karena ketidakjelasan payung hukumnya.

Bukan hanya itu terdapat pula berbagai masalah dari segi sosial dalam
pelaksanaan Surrogate Mother. Sebuah studi yang dilakuan Research Centre
Psikologi Keluarga dan Anak di University of City, London, Inggris pada tahun
2002 menyimpulkan bahwa ibu pengganti mengalami kesulitan melepaskan
anak dan bahwa ibu dimaksudkan menunjukkan kehangatan yang lebih besar
pada anak dari ibu hamil secara alami (Jadva V, etal., 2003; Golombok S, etal.,
2004; Golombok S, etal, 2011). Studi antropologi kepada ibu pengganti,
menunjukkan bahwa ibu pengganti terlibat dalam berbagai teknik distancing
seluruh kehamilan, untuk memastikan bahwa mereka tidak menjadi emosional
melekat pada bayi. Banyak ibu pengganti sengaja mencoba untuk membantu
perkembangan keterikatan emosional antara ibu genetic dengan anak (Teman
E,2003; Teman E, 2003; Teman E, 2010). Meskipun ibu pengganti umumnya
melaporkan merasa puas dengan pengalaman mereka sebagai pengganti, ada
kasus-kasus dimana tidak sesuai harapan yang terkait ketidakpuasan. Beberapa
wanita merasa pada tingkat tertentu merasa dihormati oleh pasangan (Ciccarelli,

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
24
etal., 2005).

Beberapa wanita mengalami gangguan emosi ketika berpartisipasi sebagai


ibu pengganti. Hal ini bisa disebabkan kurangnya terapi dan dukungan emosional
(Ciccarelli, etal., 2005). Beberapa wanita memiliki reaksi psikologis ketika menjadi
ibu pengganti. Ini termasuk depresi ketika menyerahkan anak, kesedihan, dan
bahkan penolakan untuk melepaskan anak (Milliez J, 2008). Sebuah studi dari Pusat
Penelitian Keluarga di Universitas Cambridge menemukan bahwa surrogate
mother tidak memiliki dampak negatif pada anak-anak dari ibu pengganti itu
sendiri (Imrie S., etal., 2012). Para peneliti tidak menemukan perbedaan secara
negatif atau positif penyesuaian anak pada ibu pengganti (Golombok S, etal.,
2011). Agama yang berbeda mengambil pendekatan yang berbeda untuk
surrogate mother, berhubungan dengan sikap mereka pada teknologi reproduksi.

Masalah etika yang mengemukan antara lain kekhawatiran tentang


eksploitasi, komodifikasi, dan paksaan ketika wanita dibayar untuk menjadi
hamil dan melahirkan, terutama dalam kasus dimana ada besar perbedaan
kekuasaan antara pihak pasangan dengan ibu pengganti, kepatutan pandangan
masyarakat untuk mengizinkan perempuan untuk membuat kontrak
menggunakan tubuh, perlindungan hak asasi perempuan sebagai ibu pengganti,
kewajaran kontrak sebagai ibu pengganti, kewenangan yuridiksi memutuskan
yang bertentangan dengan nurani ibu pengganti, instink seorang ibu (Schenker
JG, 2008)

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
25
TES FORMATIF

1. Kepanjangan LGBT adalah….


a. lesbian, gay, biseksual, dan transgender.
b. gay.lebian,biseksual, dan transgender
c. gay dan transgender
d. biseksual dan lesbian

2. Orientasi seksual dalam LGBT ini menggambarkan perempuan yang memiliki


ketertarikan terhadap individu dengan jenis kelamin perempuan, pengertian dari…
a. Gay
b. Biseksual
c. Transgender
d. Lesbian

3. individu berjenis kelamin laki-laki yang saling memiliki ketertarikan satu sama,
pengertian dari….
a. Biseksual
b. Gay
c. Lesbian
d. Transgender

4. diartikan sebagai ketertarikan pada individu dengan jenis kelamin perempuan dan
laki-laki,pengertian dari….
a. Biseksual
b. Lesbian
c. Gay
d. Transgender

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
26
5. setiap orang yang memiliki ekspresi gender (sifat maskulin dan feminin) yang
berbeda dari gender yang berkaitan dengan jenis kelamin atau kode genetiknya saat
lahir,pengertian dari...
a. lesbian
b. gay
c. transgender
d. biseksual

6. menyewa atau mengunakan rahim wanita lain yang bukan istri untuk mengandungkan
benih wanita (ovum) yang telah disenyawakan dengan benih lelaki (sperma) (yang
kebiasaannya suami isteri),pengertian dari…
a. lesbian
b. Ibu kanduang
c. Ibu peganti
d. Ibu tiri

7. suatu kehamilan yang mana sang wanita menyediakan sel telurnya untuk dibuahi
dengan inseminasi buatan,pengertian dari…
a. traditional surrogacy
b. ibu pengganti
c. gestational surrogacy
d. ibu kandung

8. individu yang tidak sama sekali atau sedikit memiliki ketertarikan seksual pada orang
lain meskipun bisa mengalami ketertarikan secara romantis.
a. Lesbian
b. Aseksual
c. Panseksual
d. Interseksi

9. :ketertarikan seksual, romantis, atau emosional pada individu lain yang memiliki
kepribadian tertentu, terlepas apapun gender atau orientasi seksualnya, pengerian
dari..
a. Aseksual
b. Panseksual
c. Lesbian
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
27
d. Gay

10. seseorang yang tidak merujuk secara eksklusif pada gender pria ataupun wanita,
pengertian dari…
a. aseksual
b. lesbian
c. nonbiner
d. gay

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
28
RANGKUMAN
Masyarakat yang berinteraksi langsung dengan LGBT dalam pekerjaan mau pun
pernah bekerja sama atau pun menggunakan jasa LGBT tidak menolak keberadaan
mereka di dalam bidang pekerjaan tertentu. Menurut informan, LGBT berhak dan bisa
bekerja dimana pun yang sesuai dengan keahlian mereka. Semua informan berpendapat
bahwa LGBT perlu mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana masyarakat
lainnya. Bahkan sebagian informan berpendapat bahwa LGBT seharusnya lebih
mendapatkan prioritas karena mereka berisiko penyakit menular seperti HIV. Sebagian
besar informan tidak setuju dengan perkawinan sejenis karena bertentangan dengan agama
dan informan kebingungan dengan bentuk keluarga mereka nantinya akan bagaimana. Ada
juga informan yang mendukung perkawinan sejenis untuk dilegalkan oleh negara saja atau
mungkin adat karena sebenarnya sejak dahulu, LGBT sudah ada dan diakui.

Saya menyimpulkan bahwa dalam menyikapi Fenomena rahim sebagai objek


perjanjian, perjanjian ini tidak dimungkinkan dilakukan di wilayah hukum Indonesia
karena rahim tidak bisa menjadi objek perjanjian dan bertentangan dengan Undang-
Undang, ketertiban umum dan kesusilaan. Khususnya dalam hal penyewaan rahim di
Indonesia belum memilki payung hukum yang pasti dan kedudukan perjanjian
peminjaman rahim di Indonesia tidak diakui dan belum dilegalkan karena dianggap
melanggar Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang tentang Kesehatan, bertentangan
dengan kesusilaan, tidak memenuhi syarat sahnya perjanjian dan melanggar isi dari
Pasal 1339 KUH Perdata. Serta status anak dari hasil perjanjian peminjaman rahim
adalah anak sah dari ibu pengganti baik yang terikat pernikahan yang sah maupun
tidak, dan orang tua pembawa benih tidak mempunyai hubungan apapun menurut
Pasal 42 dan 43 Undang-Undang tentang Perkawinan. Sehingga jika nantinya
pemerintah membuat peraturan tentang fenomena sewa rahim ini maka hendaknya
peraturan tersebut dengan tegas melarang praktek sewa rahim mengacu pada aspek
sosial dan moral masyarakat yang menjurus kepada komodifikasi rahim. Serta
melanggar hak dari sang anak yang nantinya lahir dari praktek sewa rahim. Demi
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
29
terciptanya ketertiban dan kepastian hukum. Harus ada aturan dan sanksi hukum yang
jelas mengenai perjanjian ini agar tidak terjadi kesimpangsiuran hukum baik bagi
pemerintah, masyarakat, maupun paramedis yang terlibat dalam proses surrogate
mother tersebut.

3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih focus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber
yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN


DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
30
DAFTAR PUSTAKA

Alifah, Nurul. 2018. Fenomena Sirrogate Mother (Ibu Pengganti) Dalam Perspektif Islam Ditinjau
Dari Hadis dalam Nuansa: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Volume 14
(2) (hal 404-421). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Hello Sehat. 2021. Memahami LGBT, Istilah yang mencakup Berbagai Orientasi Seksual dan
Gender. https://hellosehat.com/seks/tips-seks/apa-itu-lgbt/. Diakses pada tanggal 30
Januari 2022
Kharisa Ferida, Kisah Pilu 3 Perempuan Tukang Sewa Rahim di Inda, 2016,
http://global.liputan6.com/read/2577811/kisah-pilu-3-perempuan-tukang-sewa-rahim-di-
india. Diakses pada tanggal 30 Januari 2022

Tandirerung, D. A. (2018). Analisis Perjanjian Innominaat Terhadap Peminjaman Rahim


(Surrogate Mother) di Indonesia. Amanna Gappa.

Wahhab. 2021. Memahami Istilah LGBT lebih dalam.


https://dppkbpmd.bantulkab.go.id/memahami-istilah-lgbt-lebih-dalam/. Diakses pada
tanggal 30 Januari 2022

ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN | 31

Anda mungkin juga menyukai