Kebutuhan Khusus: LGBT & Ibu Pengganti
Kebutuhan Khusus: LGBT & Ibu Pengganti
ASUHAN KEBIDANAN
Kebutuhan Khusus Pada
PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN
Permasalahan Sosial: LGBT dan
KONDISI RENTAN
Ibu Pengganti (Surrogate Mother)
Dosen Pengampu :
Fitriyani Pulungan,
SST, M.Kes
HALAMAN PENGESAHAN
2. Judul Modul : Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Sosial: LGBT dan Ibu
Pengganti (Surrogate Mother)
3. Erina Putri
5. Nomor Pustaka :
Mengetahui,
NIP:1966091019940320001 NIP:1967711101993032002
|i
VISI DAN MISI
PROGRAM STUDI D-IV KEBIDANAN MEDAN
VISI:
Menghasilkan lulusan D-IV Kebidanan yang mampu berwirausaha dengan pendekatan asuhan
kebidanan holistic berbasis kearifan lokal di Tingkat Nasional dan siap bersaing di Tingkat
Internasional pada tahun 2024
MISI:
1. Menyelenggarakan pendidikan D-III, D-IV dan Profesi Kebidanan yang memiliki daya saing
di tingkat internasional sesuai dengan perkembangan iptek
2. Melakukan penelitian (evidence based) dalam kewirausahaan dengan pendekatan asuhan
kebidanan holistic berbasis kearifan lokal
3. Melaksanakan pengabdian masyarakat bermitra dengan stake holder khususnya dalam
kewirausahaan pendekatan asuhan kebidanan holistik berbasis kearifan lokal
4. Menjalin kerjasama dengan pihak terkait untuk meningkatkan kualitas lulusan serta mampu
berwirausaha dengan pendekatan asuhan kebidanan holistik berbasis kearifan lokal
Puji dan syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang MahaEsa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahNya, karena hanya dengan karuniaNya itulah penyusunan
makalah ini dapat disesuaikan dengan rencana.
Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak. Oleh karena itulah,
Penyusun menyampaikan rasa terimakasih kepada yang terhormat Ibu Fitriyani
Pulungan,SST. M.Kes selaku Dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan Pada Perempuan Dan
Anak Dengan Kondisi Rentan dapat terselesaikannya makalah ini yang berjudul “Kebutuhan
Khusus Pada Permasalahan Sosial: LGBT dan Ibu Pengganti (Surrogate Mother)”.
Saya menyadari bahwa di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna, untuk itulah kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Atas
perhatian dan tanggapan dari pembaca kami ucapkan terimakasih.
Penulis
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................................................i
VISI DAN MISI.............................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR..................................................................................................................iii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................iii
KEBUTUHAN KHUSUS PADA PERMASALAHAN SOSIAL LGBT & IBU PEGANTI
............................................................................................................Error! Bookmark not defined.
PENDAHULUAN..........................................................................................................................3
URAIAN MATERI........................................................................................................................3
TES FORMATIF.........................................................................................................................26
RANGKUMAN............................................................................................................................29
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................31
PENDAHULUAN
Deskripsi Singkat
.
Modul ini berjudul Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Psikologis
Definisi Singkat
Melalui modul Kebutuhan Khusus Pada Permasalahan Sosial ini diharapkan dapat
membantu anda dalam mengetahuinya.
Relevasi
Materi dalam modul ini berkaitan dengan Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Konsep
Kebidanan.
Tujuan Khusus
Setelah kegiatan ini mahasiswa mampu :
1. Menjelaskan kebutuhan khusus pada permasalahan social LGBT
2. Menjelaskan kebutuhan khusus pada permasalahan Ibu Peganti
Defenisi LGBT
LGBT adalah singkatan dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Awalnya
pada tahun 1990, LGBT digunakan untuk merujuk pada kelompok homoseksual dan
transgender saja. Sekarang, singkatan ini melingkupi lebih banyak orientasi seksual dan
beragam identitas gender.
Untuk menunjukkan representasi yang lebih menyeluruh, singkatan LGBT
berkembang menjadi LGBTQIA atau LGBTQ+. Meskipun begitu, LGBT memang lebih
umum digunakan sebagai istilah yang merepresentasikan kelompok dengan orientasi seks
dan gender yang berbeda dari heteroseksual dan cisgender (berkaitan dengan jenis
kelamin). LGBT mencakup orientasi seksual dan identitas seksual yang bervariasi di luar
dari orientasi seks dan gender yang umum ditetapkan dalam masyarakat, yaitu
heteroseksual dan cisgender.
Saat memahami perbedaan orientasi seksual dan gender pada LGBT, penting
untuk diketahui bahwa orientasi seksual dan identitas gender adalah dua hal yang
berbeda. Orientasi seksual merujuk pada ketertarikan secara seksual, romantis, ataupun
emosional pada individu lain yang memiliki jenis kelamin atau identitas gender tertentu.
Jenis-jenis orientasi seksual dalam LGBT contohnya adalah homoseksual,
biseksual, panseksual, aseksual dan lain-lain. Sementara identitas atau ekspresi gender
adalah perasaan internal atau kesadaran yang berasal dari dalam diri yang mendefinisikan
seseorang sebagai perempuan, laki-laki, transgender, bigender, nonbinary, dan lain-lain.
Namun, identitas gender tidak berkaitan dengan kondisi biologis seseorang yang
ditunjukkan dari jenis kelamin atau kode genetik.
Sebagai contoh, seseorang bisa mendefinisikan dirinya sebagai perempuan
meskipun ia terlahir dengan jenis kelamin laki-laki dan memiliki kromosom XY. Setiap
orang dapat memiliki orientasi seksual dan identitas gender sekaligus. Namun, suatu
identitas gender tidak lantas menentukan orientasi seksual tertentu seperti pada konsep
cisgender dan heteroseksual. Begini misalnya, seorang yang mengidentifikasi gendernya
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |7
sebagai laki-laki tidak pasti hanya tertarik secara seksual pada perempuan yang
merupakan lawan jenisnya. Ia bisa memiliki orientasi seksual pada gender nonbiner atau
individu lain yang memiliki kepribadian tertentu terlepas dari jenis kelaminnya.
Singkatan LGBT berkembang seiring waktu karena pengertian orientasi seksual
dan identitas gender juga terus diperbarui. Hal ini sesuai dengan perkembangan ilmu
sosial dan sains. Tak hanya lesbian, gay, biseksual, dan transgender, terdapat beragam
orientasi seks dan ekspresi gender pada LGBT. Melansir pengertian dari LGBTQIA
Resource Center, berikut ini adalah beberapa istilah yang terlingkupi dalam LGBT atau
LGBTQ+.
1. Lesbian
Orientasi seksual dalam LGBT ini menggambarkan perempuan yang memiliki
ketertarikan terhadap individu dengan jenis kelamin perempuan atau orang yang
mengidentifikasi dirinya dengan gender perempuan. Artinya, seorang transpuan juga
bisa dikatakan sebagai lesbian ketika tertarik terhadap transpuan lain atau individu
dengan jenis kelamin perempuan. Transpuan adalah seseorang yang berjenis kelamin
pria, tetapi mendefinisikan dirinya sebagai wanita.
2. Gay
Istilah ini sering dipakai untuk merujuk pada individu berjenis kelamin laki-
laki yang saling memiliki ketertarikan satu sama lain, padahal lesbian juga termasuk
ke dalam gay. Begitu pun dengan individu dengan gender pria, terlepas dari kondisi
biologisnya, yang tertarik dengan individu dengan jenis kelamin laki-laki bisa disebut
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |8
gay. Secara informal, seorang biseksual dan panseksual juga sering menyebut dirinya
sebagai gay ketika mereka tertarik pada individu lain yang memiliki orientasi seksual
yang sama. Sederhananya, istilah gay dalam LGBT merujuk pada seseorang yang
memiliki ketertarikan terhadap individu lain yang memiliki orientasi seksual atau
gender yang sama.
3. Biseksual
Seringnya biseksual hanya diartikan sebagai ketertarikan pada individu dengan
jenis kelamin perempuan dan laki-laki, padahal definisi ini kurang tepat. Biseksual
menggambarkan ketertarikan pada setiap gender, tidak hanya perempuan atau laki-
laki, tetapi juga transgender, gender biner, nonbiner, dan lain-lain.
5. Queer
Istilah queer ada dalam LGBTQIA atau LGBTQ+ yang menunjukkan identitas
spesifik pada individu yang tidak termasuk ke dalam kategori cisgender atau
heteroseksual. Meskipun bisa merujuk berbagai orientasi seks atau gender, queer ini
tidak bisa menggantikan istilah orientasi seks dan gender yang lebih spesifik. Istilah
ini sebaiknya hanya digunakan oleh kelompok heteroseksual dan cisgender untuk
merujuk individu yang secara jelas mengungkapkan dirinya sebagai queer.
6. +(plus)
Tanda + (plus) pada singkatan LGBTQ+ merangkum orientasi seksual dan
identitas gender yang tidak termasuk di dalam lima huruf sebelumnya, seperti di
sebutkan di bawah ini.
Nonbiner: seseorang yang tidak merujuk secara eksklusif pada gender pria ataupun
wanita.
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
10
Aseksual: individu yang tidak sama sekali atau sedikit memiliki ketertarikan seksual
pada orang lain meskipun bisa mengalami ketertarikan secara romantis.
Interseks: istilah interseks merujuk pada inividu yang terlahir dengan karakter
biologis (hormon, kode genetik, dan jenis kelamin) yang bervariasi. Hal ini
menyebabkan tubuhnya tidak bisa digolongkan ke dalam tubuh perempuan atau laki-
laki.
Panseksual: ketertarikan seksual, romantis, atau emosional pada individu lain yang
memiliki kepribadian tertentu, terlepas apapun gender atau orientasi seksualnya.
Pada awalnya, LGBT dikategorikan sebagai salah satu gangguan mental. Akan
tetapi, pada tahun 1975, American Psychological Association menyatakan bahwa
orientasi seksual seseorang, seperti lesbian, gay, dan biseksual, bukanlah merupakan
gangguan mental. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga berencana untuk menghapus
transgender dari kategori gangguan mental. Transgender kemudian akan diklasifikasikan
ke dalam istilah ketidaksesuaian gender.
Putusan-putusan ini dibuat karena para ahli psikologi tidak menemukan adanya
hubungan antara orientasi dan identitas seksual dengan kondisi kesehatan mental
seseorang. Sebaliknya, orientasi dan identitas seksual seseorang dianggap sebagai aspek
normal dari seksualitas manusia. Oleh sebab itu, bisa disimpulkan bahwa LGBT bukanlah
merupakan gangguan mental. Kendati demikian, Anda tentu bisa saja memiliki pendapat
atau pandangan Anda sendiri mengenai LGBT. Namun, ada baiknya kita tidak
memandang sebelah mata atau mendiskriminasi kelompok LGBT. Pasalnya, penelitian
menyebutkan bahwa kelompok LGBT lebih berisiko menderita berbagai gangguan
mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan obat-obatan terlarang,
hingga melakukan percobaan bunuh diri, akibat diskriminasi yang diterimanya dari
masyarakat. Jika Anda mengalami masalah mengenai identitas maupun orientasi seksual
Anda, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Salah satu dari penemuan teknologi sains modern yang sangat bermanfaat bagi
manusia adalah penemuan inseminasi buatan pada manusia. Inseminasi buatan yang di
maksud adalah penghamilan buatan yang di lakukan terhadap seorang wanita tanpa
melalui cara alami, melainkan dengan cara memasukkan sperma laki-laki ke dalam
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
14
rahim wanita tersebut dengan pertolongan dokter. Istilah yang semakna adalah kawin
suntik, penghamilan buatan dan permanian buatan. Penemuan ini sangat bermanfaat bagi
manusia, terutama bagi pasangan suami istri yang tidak bisa mendapatkan anak dengan
cara alami.
Masalah bayi tabung, jika sperma dan ovum yang dipertemukan itu berasal dari
ikatan suami istri yang sah, maka hal tersebut dibolehkan. Tetapi, jika sperma dan ovum
yang dipertemukan tersebut bukan berasal dari suami istri yang sah, maka hal itu tidak
dibenarkan bahkan dianggap sebagai perzinahan terselubung. Dengan adanya
kemunculan inseminasi bayi tabung, cara yang dilakukan semakin luas dimana ketika
inseminasi ini beralih pada penyewaan rahim Penyewaan rahim sendiri adalah suatu
perjanjian yang biasanya memiliki persyaratan-persyaratan tertentu dari kedua belah
pihak, baik perjanjian tersebut berdasarkan rela sama rela (gratis) atau perjanjian itu
berupa kontrak (bisnis).
Dalam pengertian lain sewa rahim adalah menyewa atau mengunakan rahim
wanita lain yang bukan istri untuk mengandungkan benih wanita (ovum) yang telah
disenyawakan dengan benih lelaki (sperma) (yang kebiasaannya suami isteri) kemudian
janin itu dikandung oleh wanita tersebut sehingga dilahirkan. Kemudian anak itu
diberikan kepada pasangan suami isteri itu untuk dipelihara dan anak tersebut akan
disebut sebagai anak mereka dari sudut undang-undang. Pengertian ini dikenal dengan
sewa rahim, kerana lazimnya pasangan suami
isteri yang ingin memiliki anak ini akan membayar sejumlah uang dalam jumlah
besar kepada ibu yang mengurus untuk mencari ibu yang sanggup mengandung anak dari
benih mereka dan dengan syarat ibu sewa tersebut akan menyerahkan anak tersebut
setelah dilahirkan atau pada masa yang dijanjikan. Bayi tabung pertama kali berhasil
dilakukan di Inggris di pasangan suami Istri Brown, kemudian semakin berkembang dan
bergeser menjadi sewa rahim. Pusat sewa rahim terkenal di dunia adalah India. Dalam
beberapa tahun terakhir praktik tersebut meningkat di Cjennai, bagian selatan India. Hal
tersebut memunculkan lebih dari 12 rumah sakit siap melaksanakan prosedur sewa rahim
terhadap 150 perempuan dan mayoritas yang siap menjadi ibu pengganti berasal dari
kelurga miskin yang rela mengandung bayi orang lain demi mendapat bayaran.
Pelaksanaan peminjaman rahim di Indonesia mengalami kendala tidak
adanya payung hukum (aturan perundang-undangan) yang mengatur peminjaman
rahim serta pertimbangan etika berdasarkan norma-norma yang berlaku di
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
15
Indonesia. Dilihat dari aspek hukum perjanjian, perjanjian peminjaman rahim
tidak mempunyai aturan hukum yang jelas, terlebih lagi objek yang diperjanjikan
sangatlah tidak lazim, yaitu rahim, baik benda maupun difungsikan sebagai jasa.
Karena keberadaannya yang belum mempunyai payung hukum, peminjaman
rahim menimbulkan kekhawatiran para pihak yang menjalaninya bahwa perbuatan
tersebut adalah illegal. Namun secara yuridis terdapat beberapa pasal dalam KUH
Perdata yang dapat digunakan untuk mengkaji substansi dari perjajian peminjaman
rahim yaitu Pasal 1320 KUH Perdata 5. Dalam perjanjian peminjaman rahim
apabila dikaitkan dengan syarat sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 KUH
Perdata maka terdapat beberapa hal yang perlu dipertanyakan. Salah satunya
adalah mengenai hal tertentu yang diatur dalam perjanjian peminjaman rahim,
dimana dalam Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang tentang Kesehatan disebutkan
bahwa teknologi reproduksi untuk membantu kehamilan diluar ilmiah hanya dapat
dilakukan dengan metode bayi tabung.
Dalam hukum perjanjian menganut asas kebebasan berkontrak. Hal ini juga
diatur dalam Pasal 1338 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa “semua
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka
yang membuatnya”6. Hal ini berarti bahwa para pihak dalam suatu perjanjian
bebas untuk menentukan materi atau isi dari perjanjian. Lalu bila dihubungkan
dengan syarat sah perjanjian, bagaimana kedudukan dari perjanjian peminjaman
rahim tersebut, ketika dalam suatu perjanjian peminjaman rahim kedua belah
pihak yaitu pasangan suami istri dan calon ibu pengganti sama-sama bersedia dan
telah bersepakat untuk melakukan perjanjian peminjaman rahim tersebut.
Menurut Sonny Dewi Judiasih, Susilowati Suparto Dajaan dan Deviana
Yuanitasari, Surrogate Mother merupakan teknik bayi tabung (fertilisasi in vitro),
yaitu di mana sperma dan ovum pasangan suami istri yang di proses dalam tabung,
lalu dimasukan kedalam rahim orang lain, bukan kedalam rahim istri. Perempuan
yang bersedia dititipkan embrionya tersebut disebut surrogate mother, umumnya
dengan perjanjian antara surrogate mother dengan pasangan suami istri yang ingin
menggunakan jasa surrogate mother tersebut yang biasa disebut dengan intended
parent, dalam isi perjanjian ini surrogate mother, diberi biaya untuk kebutuhan
selama proses mengandung anak tersebut, saat proses melahirkan, dan setelah
1. Traditional surrogacy;
Traditional Surrogacy adalah suatu kehamilan yang mana sang wanita menyediakan sel
telurnya untuk dibuahi dengan inseminasi buatan kemudian mengandung atas janinnya
serta melahirkan anakya untuk orang lain atau kehamilan yang berasal dari suatu
inseminasi buatan, dimana ovum (sel telur) berasal dari si wanita yang hamil dan
mengandung bayi tersebut dalam suatu jangka waktu kehamilan, kemudian melahirkan
anak untuk pasangan lain.
2. Gestational surrogacy;
Gestational Surrogacy merupakan suatu kehamilan yang berasal dari sel telur atau ovum
seoang wanita yang telah dibuahi oleh sperma seorang pria (umumnya pasangan dari
wanita pemilik ovum) yang dikandung dalam Rahim wanita lain (si ibu pengganti)
hingga si ibu pengganti tersebut melahirkan.
3. Intended mother
Intended Mother adalah wanita lajang atau yang memiliki pasangan yang menghendaki
kehamilannya dilakukan oleh wanita lain yang menyetujui untuk dihamili dengan janin
dari sel telurnya sendiri maupun dari hasil donasi melalui suatu perjanjian bisnis
“Intended Mother” diartikan sebagai “Ibu yang menginginkan kehamilan” yang mana
hak atas anak dialihkan kepadanya seteah sang anak lahir.
Dalam Pasal 127 ayat (1) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan diatur bahwa kehamilan di luar cara alamiah hanya dilakukan oleh
1) Hasil sperma dan ovum dari suami-istri yang bersangkutan di tanamkan dalam
rahim istri dari mana ovum itu berasal.
2) Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan
untuk melakukan hal itu.
3) Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
Secara gramatikal bisa ditafsirkan bahwa yang boleh dilakukan oleh hukum
di Indonesia adalah metode pembuahan sperma dan ovum dari pasangan suami-
istri yang sah yang ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal yang
dikenal
Sedangkan tujuan dilakukannya sewa rahim ini berbagai macam, diantara adalah:
1. Seseorang wanita tidak mempunyai harapan untuk mengandung secara biasa kerana
ditimpa penyakit atau kecacatan yang menghalangnya dari mengandung dan
melahirkan anak.
2. Rahim wanita tersebut dibuang kerana pembedahan.
3. Wanita tersebut ingin memiliki anak tetapi tidak mau memikul beban kehamilan,
melahirkan dan menyusukan anak dan ingin menjaga kecantikan tubuh badannya
dengan mengelakkan dari terkesan akibat kehamilan.
4. Wanita yang ingin memiliki anak tetapi telah putus haid (menopause).
5. Wanita yang ingin mencari pendapatan dengan menyewakan rahimnya kepada
orang lain.
dan Hunt, 1992) 7. Dimana perkembangan teknologi tinggi masa kini adalah
bukti adanya perubahan kehidupan dalam masyarakat, yang gejala-gejalanya
1) Perubahan yang berasal dari masyarakat itu sendiri salah satunya adalah
adanya perkembangan ilmu pengetahuan, sebagai suatu kesadaran orang
2) Sama dengan tipe yang pertama, kecuali sel telur dan sperma yang telah
dipertemukan tersebut dibekukan dan dimasukkan ke dalam rahim ibu
pengganti setelah kematian pasangan suami isteri itu.
3) Sel telur isteri dipertemukan dengan sperma lelaki lain (bukan suaminya)
dan dimasukkan ke dalam rahim wanita lain. Keadaan ini apabila
suami mandul dan isteri ada halangan atau kecacatan pada rahimnya
tetapi sel telur isteri dalam keadaan baik.
1) Jika anak terlahir dari ibu kandung (yang disewa rahimnya) dan status ibu
tersebut tidak terikat oleh suatu perkawinan yang sah, maka anak yang
dilahirkannya itu dapat saja ditolak oleh ayah biologisnya (penitip sperma)
karena biaya yang dijanjikan ternyata tidak ada, apalagi jika anak tersebut
terlahir dalam keadaan cacat, dengan dalil bahwa anak tersebut bukan
anaknyakarena tidak terlahir dalam ikatanperkawinan yang sah. Pasal 42
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa anak
yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan
yang sah.Kemudian pasal 250 KUH Perdata menentukan bahwa anak yang
dilahirkan atau dibesarkan selama perkawinan, memperoleh si suami sebagai
Akan tetapi, anak tersebut dapat menjadi anak sah jika status wanita
surrogate-nya terikat dalam perkawinan yang sah (dengan suaminya), maka anak
yang dilahirkan adalah anak sah pasangan suami isteri yang disewa rahimnya,
sampai si bapak (suami dari wanita surrogate) mengatakan “Tidak” berdasarkan
Pasal 251, Pasal 252, dan Pasal 253 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
(“KUHPer”) dengan pemeriksaan darah atau DNA dan keputusan tetap oleh
pengadilan dan juga berdasarkan atas Undang-Undang Perkawinan Pasal 44
Bukan hanya itu terdapat pula berbagai masalah dari segi sosial dalam
pelaksanaan Surrogate Mother. Sebuah studi yang dilakuan Research Centre
Psikologi Keluarga dan Anak di University of City, London, Inggris pada tahun
2002 menyimpulkan bahwa ibu pengganti mengalami kesulitan melepaskan
anak dan bahwa ibu dimaksudkan menunjukkan kehangatan yang lebih besar
pada anak dari ibu hamil secara alami (Jadva V, etal., 2003; Golombok S, etal.,
2004; Golombok S, etal, 2011). Studi antropologi kepada ibu pengganti,
menunjukkan bahwa ibu pengganti terlibat dalam berbagai teknik distancing
seluruh kehamilan, untuk memastikan bahwa mereka tidak menjadi emosional
melekat pada bayi. Banyak ibu pengganti sengaja mencoba untuk membantu
perkembangan keterikatan emosional antara ibu genetic dengan anak (Teman
E,2003; Teman E, 2003; Teman E, 2010). Meskipun ibu pengganti umumnya
melaporkan merasa puas dengan pengalaman mereka sebagai pengganti, ada
kasus-kasus dimana tidak sesuai harapan yang terkait ketidakpuasan. Beberapa
wanita merasa pada tingkat tertentu merasa dihormati oleh pasangan (Ciccarelli,
3. individu berjenis kelamin laki-laki yang saling memiliki ketertarikan satu sama,
pengertian dari….
a. Biseksual
b. Gay
c. Lesbian
d. Transgender
4. diartikan sebagai ketertarikan pada individu dengan jenis kelamin perempuan dan
laki-laki,pengertian dari….
a. Biseksual
b. Lesbian
c. Gay
d. Transgender
6. menyewa atau mengunakan rahim wanita lain yang bukan istri untuk mengandungkan
benih wanita (ovum) yang telah disenyawakan dengan benih lelaki (sperma) (yang
kebiasaannya suami isteri),pengertian dari…
a. lesbian
b. Ibu kanduang
c. Ibu peganti
d. Ibu tiri
7. suatu kehamilan yang mana sang wanita menyediakan sel telurnya untuk dibuahi
dengan inseminasi buatan,pengertian dari…
a. traditional surrogacy
b. ibu pengganti
c. gestational surrogacy
d. ibu kandung
8. individu yang tidak sama sekali atau sedikit memiliki ketertarikan seksual pada orang
lain meskipun bisa mengalami ketertarikan secara romantis.
a. Lesbian
b. Aseksual
c. Panseksual
d. Interseksi
9. :ketertarikan seksual, romantis, atau emosional pada individu lain yang memiliki
kepribadian tertentu, terlepas apapun gender atau orientasi seksualnya, pengerian
dari..
a. Aseksual
b. Panseksual
c. Lesbian
ASUHAN KEBIDANAN PADA PEREMPUAN
DAN ANAK DENGAN KONDISI RENTAN |
27
d. Gay
10. seseorang yang tidak merujuk secara eksklusif pada gender pria ataupun wanita,
pengertian dari…
a. aseksual
b. lesbian
c. nonbiner
d. gay
3.2 Saran
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan
lebih focus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber
yang lebih banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
Alifah, Nurul. 2018. Fenomena Sirrogate Mother (Ibu Pengganti) Dalam Perspektif Islam Ditinjau
Dari Hadis dalam Nuansa: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Volume 14
(2) (hal 404-421). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Hello Sehat. 2021. Memahami LGBT, Istilah yang mencakup Berbagai Orientasi Seksual dan
Gender. https://hellosehat.com/seks/tips-seks/apa-itu-lgbt/. Diakses pada tanggal 30
Januari 2022
Kharisa Ferida, Kisah Pilu 3 Perempuan Tukang Sewa Rahim di Inda, 2016,
http://global.liputan6.com/read/2577811/kisah-pilu-3-perempuan-tukang-sewa-rahim-di-
india. Diakses pada tanggal 30 Januari 2022