Anda di halaman 1dari 16

1.

Program Penataan Penguatan Organisasi Dan Penataan Tata Laksana a. Penataan Penguatan Organisasi 1) Pelaksanaan Kegiatan Program kegiatan yang dilaksanakan adalah penataan dan penguatan organisasi Polri, yang terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu: a) Restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri, rencana aksi yang akan

dilaksanakan adalah: (1) Penyusunan pokok-pokok HTCK di lingkungan Polri; (2) Penyusunan HTCK antar fungsi pada tingkat Mabes Polri dan Kewilayahan; (3) Penyusunan analisis beban kerja pada masingmasing fungsi dan satuan kewilayahan; (4) Pengajuan satker); (5) Pengkajian dan evaluasi implementasi struktur organisasi Polri pada tingkat Mabes Polri dan kewilayahan; (6) Melaksanakan supervisi dalam rangka evaluasi implementasi kewilayahan. b) Penguatan organisasi, unit tata kerja yang menangani pelayanan fungsi publik, struktur organisasi tingkat pembentukan satuan kerja (kode

laksana,

kepegawaian dan diklat, serta rencana aksi yang akan dilaksanakan adalah : (1) Pembentukan Satpolair, Satpamobvit, Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas sesuai Perkap 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tingkat Polres dan Polsek;

(2)

Pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rumkit Bhayangkara;

(3)

Pembentukan SPN pada Polda Babel, Kepri, Gorontalo dan Maluku Utara;

(4)

Melaksanakan

koordinasi

dalam

rangka

penyusunan kebutuhan personel dan sarpras sesuai dengan organisasi Polri; (5) Pengembangan organisasi Polri pada tingkat

Polres dan Polsek. c) Quick Wins Quick wins yang dilaksanakan adalah pembentukan Satpolair, Satpamobvit, Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas dengan alasan sebagai penguatan organisasi Polri seperti yang diamanatkan dalam Perkap No. 23 tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Polri tingkat Polres dan Polsek. 2) Kriteria Keberhasilan Guna mengukur tingkat keberhasilan secara cepat dan tepat dalam pelaksanaan Program Penataan Penguatan Organisasi, maka perlu ditentukan kriteria keberhasilan pelaksanaan dari masing-masing program dan kegiatan tersebut. Kriteria

keberhasilan dari program dan kegiatan dimaksud dapat digambarkan ebagai berikut ini.

Program dan kegiatan, Rencana Aksi, Output dan Outcomes

PROGRAM / KEGIATAN 1 Restrukturisasi/ penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri

RENCANA AKSI 2

Penyusunan pokokpokok HTCK di lingkungan Polri Penyusunan HTCK satuan fungsi pada tingkat Mabes Polri dan Kewilayahan Penyusunan analisis beban kerja pada masing-masing fungsi/Satwil Pengajuan pembentukan satuan kerja (kode satker) Pengkajian dan evaluasi implementasi struktur organisasi Polri pada tingkat Mabes Polri dan kewilayahan

INDIKATOR KINERJA OUTPUTS (KELUARAN) OUTCOMES (HASIL) 3 4 Tersedianya Peta tugas dan fungsi Meningkatnya efektivitas unit kerja Polri yang tepat fungsi dan efisiensi pelaksanaan dan tepat ukuran (right sizing) tugas dan fungsi Polri dan terhindarkannya duplikasi Tersedianya Peraturan Kapolri tugas dan fungsi yang tentang Pokok-pokok HTCK di dapat mendorong Lingkungan Polri percepatan Reformasi Tersedianya Peraturan Birokrasi Polri gelombang Kasatfung/Kasatwil tentang HTCK II masing-masing fungsi/satwil Tersusunnya analisis beban kerja pada masing-masing fungsi/Satwil

Melaksanakan supervisi ke tingkat kewilayahan dalam rangka evaluasi implementasi struktur organisasi tingkat kewilayahan

Tersedianya Keputusan Kapolri tentang Pembentukan Satuan Kerja (Kode Satker) di Lingkungan Polri Tersusunnya konsep revisi Perkap 21/2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Satuan Organisasi Tingkat Mabes Polri, Perkap 22/2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tingkat Kepolisian Daerah dan Perkap 23/2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tingkat Polres dan Polsek Terlaksananya supervisi tentang implementasi struktur organisasi di tingkat Polda, Polres dan Polsek

PROGRAM / KEGIATAN 1 Penguatan unit kerja yang menangani fungsi organisasi, tata laksana, pelayanan publik, kepegawaian dan diklat

RENCANA AKSI 2

INDIKATOR KINERJA OUTPUTS (KELUARAN) OUTCOMES (HASIL) 3 4

Pembentukan Satpolair, Satpamobvit, Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas sesuai Perkap 23 Tahun 2010 tentang SOTK Tingkat Polres dan Polsek (buka skeleton) Pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rumkit Bhayangkara Pembentukan SPN pada Polda Babel, Kepri, Gorontalo dan Maluku Utara Melaksanakan koordinasi dengan satuan kerja terkait dalam rangka penyusunan kebutuhan personel dan perlengkapan sesuai dengan organisasi Polri Pengembangan organisasi Polri pada tingkat Polres dan Polsek sesuai dengan Perkap No. 23/2010

Terbentuknya unit kerja yang menangani fungsi organisasi, tata laksana, kepegawaian dan diklat yang mampu mendukung tercapainya tujuan dan sasaran Reformasi Birokrasi Polri gelombang II Terbentuknya Satpolair, Satpamobvit, Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas berdasarkan Keputusan Kapolri

Meningkatnya efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas dan fungsi Polri dan terhindarkannya duplikasi tugas dan fungsi yang dapat mendorong percepatan Reformasi Birokrasi Polri gelombang II

Terbentuknya UPT Rumkit Bhayangkara berdasarkan Peraturan Kapolri Terbentuknya SPN berdasarkan Keputusan Kapolri

Tersusunnya kebutuhan personel dan perlengkapan sesuai dengan organisasi Polri

Terbentuknya penambahan organisasi Polri tingkat Polres (Bag Ren, Sie Was, Sie Propam, Subbag Humas, Subbag Kum) dan Polsek (unit Provos, Sie Kum, Sie Humas dan Polsubsektor) sesuai dengan Perkap No. 23/2010.

3)

Agenda Prioritas Tahapan prioritas kegiatan dari program Penataan dan

Penguatan Organisasi Polri sebagai berikut : a) Tahap 1 : Restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri dengan urutan pencapaian prioritas: (1) prioritas 1 : Penyusunan pokok-pokok HTCK di lingkungan Polri; (2) prioritas 2 : Penyusunan HTCK antar fungsi pada tingkat Mabes Polri dan kewilayahan; (3) prioritas 3 : Penyusunan analisis beban kerja pada masing-masing fungsi dan kewilayahan; (4) prioritas 4 : Pengajuan pembentukan satuan kerja (kode satker); (5) prioritas 5 :Pengkajian dan evaluasi implementasi struktur organisasi Polri pada tingkat Mabes Polri dan kewilayahan; (6) prioritas 6 : Melaksanakan supervisi dalam rangka evaluasi implementasi struktur organisasi tingkat kewilayahan. b) Tahap 2 : Penguatan unit kerja yang menangani fungsi organisasi, tata laksana, pelayanan publik, kepegawaian dan diklat dengan urutan pencapaian prioritas sebagai berikut: (1) prioritas 1 : Pembentukan Satpolair, Satpamobvit, Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas sesuai Perkap 23 Tahun 2010 tentang Susunan

Organisasi dan Tata Kerja tingkat Polres dan Polsek; (2) prioritas 2 : Pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rumkit Bhayangkara; (3) prioritas 3 : Pembentukan SPN pada Polda Babel, Kepri, Gorontalo dan Maluku Utara; 5

(4)

prioritas 4 : Melaksanakan koordinasi

dalam

penyusunan kebutuhan personel dan sarpras sesuai dengan organisasi Polri; (5) prioritas 5 : Pengembangan organisasi Polri pada tingkat Polres dan Polsek. c) Quick Wins Quick Wins Penataan dan Penguatan Organisasi yaitu Pembentukan Satpolair, Satpamobvit, Satlantas

Metropolitan dan Unit Lantas sesuai Perkap 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Polri tingkat Polres dan Polsek. 4) Waktu pelaksanaan dan tahapan kerja Waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian dan tahapan kerja dari program Penataan dan Penguatan Organisasi Polri, terdiri dari 2 kegiatan, sebagai berikut : a) Tahun 2011 (1) Restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri, dilaksanakan dalam beberapa rencana aksi: (a) Menyusun pokok-pokok HTCK di lingkungan Polri terkait; (b) Penyusunan analisis beban kerja pada masing-masing fungsi/Satwil; (c) Pengajuan pembentukan satuan kerja (kode satker) yang melibatkan fungsi terkait; (d) Pengkajian dan evaluasi implementasi dengan melibatkan Satfung/Satwil

struktur organisasi Polri pada tingkat Mabes dan kewilayahan yang melibatkan fungsi terkait;

(e)

Melaksanakan

supervisi

dalam

rangka

evaluasi implementasi struktur organisasi tingkat kewilayahan. (f) Membuat laporan dan evaluasi

restrukturisasi/ penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri tahun 2011. (2) Penguatan unit kerja yang menangani fungsi organisasi, kepegawaian tata dan laksana, diklat, pelayanan dilaksanakan publik, dalam

beberapa rencana aksi, adalah sebagai berikut : (a) Pembentukan Satpolair, Satpamobvit,

Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas (skeleton) sesuai Perkap 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tingkat Polres dan Polsek dengan

melibatkan Satwil terkait; (b) Pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Rumkit Bhayangkara dengan melibatkan fungsi Dokkes dan instansi terkait; (c) Pembentukan SPN pada Polda Babel, Kepri, Gorontalo dan Maluku Utara dengan

melibatkan Satwil terkait; (d) Melaksanakan penyusunan koordinasi kebutuhan dalam personel rangka dan

sarpras sesuai dengan organisasi Polri. (e) Pengembangan organisasi Polri pada

tingkat Polres (Bag Ren, Sie Was, Sie Propam, Subbag Humas, Subbag Kum) dan Polsek (unit Provos, Sie Kum, Sie Humas dan Polsubsektor).

(f)

Membuat laporan dan evaluasi penguatan unit kerja yang menangani fungsi organisasi, tata laksana, pelayanan publik,

kepegawaian dan diklat tahun 2012. b) Tahun 2012 (1) Restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri, dilaksanakan

Pengkajian dan evaluasi implementasi struktur organisasi Polri pada tingkat Mabes dan

kewilayahan yang melibatkan fungsi terkait; (2) Penguatan unit kerja yang menangani fungsi organisasi, tata laksana, pelayanan publik, dengan

kepegawaian dan diklat, dilaksanakan Pembentukan

Satpolair, Satpamobvit,

Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas (skeleton) sesuai Perkap 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tingkat Polres dan Polsek dengan melibatkan Satwil terkait. (3) Membuat laporan dan evaluasi tahun 2012.

c)

Tahun 2011 s/d 2014 (1) Restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri, dilaksanakan dalam beberapa rencana aksi: (2) Pengajuan pembentukan satuan kerja (kode

satker) yang melibatkan fungsi terkait; (3) Melaksanakan supervisi dalam rangka evaluasi implementasi kewilayahan. struktur organisasi tingkat

(4)

Penguatan unit kerja yang menangani fungsi organisasi, kepegawaian tata dan laksana, diklat, pelayanan dilaksanakan publik, dalam

beberapa rencana aksi, adalah sebagai berikut: (a) Pembentukan SPN pada Polda Babel, Kepri, Gorontalo dan Maluku Utara dengan

melibatkan Satwil terkait; (b) Melaksanakan penyusunan koordinasi kebutuhan dalam personel rangka dan

sarpras sesuai dengan organisasi Polri; (5) Pengembangan organisasi Polri pada tingkat

Polres (Bag Ren, Sie Was, Sie Propam, Subbag Humas, Subbag Kum) dan Polsek (unit Provos, Sie Kum, Sie Humas dan Polsubsektor). (6) Membuat laporan dan evaluasi restrukturisasi/ penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri tahun 2011 sampai dengan tahun 2014.

5)

Penanggung Jawab Penanggung jawab program Penataan dan Penguatan

Organisasi Polri, adalah sebagai berikut: a) Restrukturisasi/penataan tugas dan fungsi unit kerja pada organisasi Polri dengan penanggung jawab pada masingmasing rencana aksi : (1) Penyusunan pokok-pokok HTCK di lingkungan Polri dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri, penanggung jawab lainnya para kasatker beserta kasatwil; (2) Penyusunan HTCK antar fungsi pada tingkat Mabes Polri dan jawab Kewilayahan utama Asrena dengan Kapolri,

penanggung

penanggung jawab lainnya para kasatker beserta kasatwil; (3) Penyusunan analisis beban kerja pada masingmasing fungsi/Satwil dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri, penanggung jawab lainnya para kasatker beserta kasatwil; (4) Pengajuan pembentukan satuan kerja (kode satker) Kapolri; (5) Pengkajian dan evaluasi implementasi struktur organisasi Polri pada tingkat Mabes Polri dan kewilayahan dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri, penanggung jawab lainnya para kasatker beserta kasatwil; (6) Melaksanakan supervisi dalam rangka evaluasi implementasi struktur organisasi tingkat dengan penanggung jawab Asrena

kewilayahan dengan penanggung jawab Asrena Kapolri. b) Penguatan unit kerja yang menangani fungsi organisasi, tata laksana, pelayanan publik, kepegawaian dan diklat dengan penanggung jawab pada masing-masing rencana aksi : (1) Pembentukan Satpolair, Satpamobvit, Satlantas Metropolitan dan Unit Lantas sesuai Perkap 23 Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tingkat Polres dan Polsek dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri,

penanggung jawab lainnya para kasatwil; (2) Pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT)

Rumkit Bhayangkara dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri, penanggung jawab lainnya Kapusdokkes beserta para kasatwil; 10

(3)

Pembentukan SPN pada Polda Babel, Kepri, Gorontalo dan Maluku Utara dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri, penanggung jawab lainnya Kalemdikpol beserta para kasatwil;

(4)

Melaksanakan

koordinasi

dalam

penyusunan

kebutuhan personel dan sarpras sesuai dengan organisasi Polri dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri, penanggung jawab lainnya As SDM Kapolri beserta Assarpras Kapolri; (5) Pengembangan organisasi Polri pada tingkat Polres dan Polsek dengan penanggung jawab utama Asrena Kapolri, penanggung jawab lainnya para kasatwil.

b.

Penataan Tata Laksana 1) Pelaksanaan Kegiatan Program Penataan Tatalaksana pada RBP gelombang II yang akan dilaksanakan, yaitu : a) Kegiatan menghimpun, menata dan mengoordinasikan penyusunan Standard Operational Procedure (SOP) tentang penyelenggaraan tugas dan fungsi, meliputi: (1) Menghimpun SOP yang ada atau telah direvisi sampai dengan tahun 2010; (2) Menghimpun SOP yang baru atau hasil revisi mulai tahun 2011; (3) b) Mensosialisasikan SOP yang baru. pembangunan atau pengembangan e-

Kegiatan

government, meliputi: (1) (2) Pengembangan LPSE Polri; Pembangunan dan pengembangan LPSE sampai dengan tingkat kewilayahan secara skala prioritas;

11

(3)

Pembangunan

dan

pengembangan

sistem

Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi dalam rangka Keterbukaan Informasi Publik; (4) Pengembangan e-government, khususnya

pembangunan peralatan dan Sistem Informasi Manajemen Teknologi Polri (SIMTEKPOL). c) Quick Wins Quick Wins dari Program Penataan Tatalaksana adalah pengembangan LPSE Polri dengan alasan sebagai amanah Peraturan Presiden RI Nomor 54 Tahun

2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah pasal 111 ayat (2) dan (3) yang mengharapkan seluruh Kementerian/Lembaga termasuk institusi Polri

melaksanakan pengadaan barang/jasa secara elektronik dalam rangka mewujudkan good governance and clean goverment. 2) Kriteria keberhasilan. Guna mengukur tingkat keberhasilan secara cepat dan tepat dalam pelaksanaan Program Penataan Tatalaksana, maka perlu ditentukan kriteria keberhasilan pelaksanaan dari masingmasing program dan kegiatan tersebut. Kriteria keberhasilan dari program dan kegiatan dimaksud dapat digambarkan pada tabel berikut ini.
Program dan kegiatan, Rencana Aksi, Output dan Outcomes
PROGRAM / KEGIATAN 1 Penyusunan SOP penyelenggaraan tugas dan fungsi RENCANA AKSI 2 INDIKATOR KINERJA OUTPUTS (KELUARAN) OUTCOMES (HASIL) 3 4 Tersedianya dokumen SOP penyelenggaraan tugas dan fungsi Terselenggaranya yang disahkan transparansi, akuntabilitas dan Terinventarisasinya SOP yang ada standarisasi proses atau telah direvisi sampai dengan penyelenggaraan tahun 2010. pemerintahan Terinventarisasinya SOP yang baru atau hasil revisi mulai tahun 2011. Meningkatnya pemahaman terhadap SOP yang baru.

Menghimpun SOP yang ada atau telah direvisi sampai dengan tahun 2010. Menghimpun SOP yang baru atau hasil revisi mulai tahun 2011. Mensosialisasikan SOP yang baru.

12

PROGRAM / KEGIATAN 1 Pembangunan atau pengembangan egovernment

RENCANA AKSI 2 Pengembangan LPSE Polri. Pembangunan dan pengembangan LPSE sampai dengan tingkat kewilayahan secara skala prioritas. Pembangunan dan pengem-bangan sistem Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi dalam rangka Keterbukaan Informasi Publik. Pengembangan egovernment, khususnya pembangunan peralatan dan Sistem Informasi Manajemen Teknologi Polri (SIMTEKPOL).

INDIKATOR KINERJA OUTPUTS (KELUARAN) OUTCOMES (HASIL) 3 4 Tersedianya e-government Polri Terselenggaranya Tersedianya LPSE Polri. transparansi, akuntabilitas dan standarisasi proses Tersedianya LPSE sampai dengan penyelenggaraan tingkat kewilayahan. pemerintahan

Tersedianya sistem Pengelolaan Infor-masi dan Do-kumentasi Keterbukaan Informasi Publik (sistem dalam arti software dan hardware)

Tersedianya pera-latan dan Sistem Informasi Manaje-men Teknologi Polri (SIMTEKPOL).

3)

Agenda prioritas. Urutan prioritas dari sub kegiatan yang terdapat pada Program Penataan Tatalaksana adalah sebagai berikut : a) b) Prioritas 1 : Mengembangkan LPSE Polri; Prioritas 2 : Pembangunan dan pengembangan sistem Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi dalam rangka Keterbukaan Informasi Publik. c) Prioritas 3 : Pengembangan e-government, khususnya pembangunan peralatan dan Sistem Informasi

Manajemen Teknologi Polri (SIMTEKPOL). d) Prioritas 4 : Terinventarisasinya SOP yang ada atau telah direvisi pada tahun 2010. e) Prioritas 5 : Terhimpunnya SOP yang baru hasil revisi mulai tahun 2011. f) Prioritas 6 : Tersosialisasinya dan terinternalisasinya

SOP yang baru kepada seluruh Satker di tingkat Mabes Polri dan tingkat kewilayahan. g) Prioritas 7 : Terealisirnya pembangunan LPSE di tingkat kewilayahan secara skala prioritas.

13

4)

Waktu pelaksanaan dan tahapan kerja a) Tahun 2011 (1) Menghimpun SOP yang ada atau telah direvisi sampai dengan tahun 2010; (2) Menghimpun SOP yang baru atau hasil revisi mulai tahun 2011; (3) Mengkoordinasikan pelaksanaan sosialisasi SOP yang baru tahun 2011; (4) Pembangunan sistem Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi dalam rangka Keterbukaan Informasi Publik; (5) Pengembangan e-government, khususnya

pembangunan peralatan dan Sistem Informasi Manajemen Teknologi Polri (SIMTEKPOL); (6) b) Menyusun laporan dan evaluasi tahun 2011.

Tahun 2012 (1) Menghimpun SOP yang ada atau telah direvisi tahun 2012; (2) Mengkoordinasikan pelaksanaan sosialisasi SOP yang baru tahun 2012; (3) Pembangunan sistem Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi dalam rangka Keterbukaan Informasi Publik di tingkat Polda; (4) Pembangunan dan pengembangan LPSE sampai dengan tingkat kewilayahan secara skala prioritas; (5) Menyusun laporan dan evaluasi tahun 2012.

c)

Tahun 2013 (1) Menghimpun SOP yang ada atau telah direvisi tahun 2013; (2) Mengkoordinasikan pelaksanaan sosialisasi SOP yang baru tahun 2013; 14

(3)

Pembangunan sistem Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi dalam rangka Keterbukaan Informasi Publik di tingkat Polda;

(4)

Pengembangan LPSE sampai dengan tingkat kewilayahan secara skala prioritas;

(5) d)

Menyusun laporan program tahun 2013.

Tahun 2014 (1) Menghimpun SOP yang baru atau hasil revisi tahun 2014; (2) Mengkoordinasikan pelaksanaan sosialisasi SOP yang baru tahun 2014; (3) Pembangunan dan pengembangan LPSE sampai dengan tingkat kewilayahan secara skala prioritas; (4) Menyusun laporan dan evaluasi tahun 2014.

5)

Penanggung jawab. Penanggungjawab program Penataan Tatalaksana sebagai berikut : a) Menghimpun SOP yang ada atau telah direvisi sampai dengan tahun 2010 dengan penanggungjawab utama Kadivkum, penanggungjawab lainnya para Kasatker beserta Kasatwil; b) Menghimpun SOP yang baru atau hasil revisi mulai tahun 2011 dengan penanggungjawab lainnya para utama Kadivkum, beserta

penanggungjawab Kasatwil; c) Mensosialisasikan

Kasatker

SOP

yang

baru

dengan

penanggungjawab utama Kadivkum, penanggungjawab lainnya para Kasatker beserta Kasatwil. d) Pengembangan LPSE Polri dengan penanggungjawab utama Assarpras Kapolri, penanggungjawab lainnya Kadiv TI Polri beserta para Kasatker / Kasatwil.

15

e)

Pembangunan dan pengembangan LPSE sampai dengan tingkat kewilayahan secara utama skala prioritas dengan Kapolri,

penanggungjawab

Assarpras

penanggungjawab lainnya Asrena Kapolri, Kadiv TI Polri beserta para Kasatker/ Kasatwil. f) Pembangunan sistem Pengelolaan Informasi dan

Dokumentasi dalam rangka Keterbukaan Informasi Publik dengan penanggung-jawab utama Kadivhumas Polri, penanggungjawab lainnya Asrena Kapolri, Kadiv TI Polri beserta para Kasatker/ Kasatwil. g) Pengembangan e-government khususnya pembangunan peralatan dan Sistem Informasi Manajemen Teknologi Polri (SIMTEKPOL) dengan penanggungjawab utama Kadiv TI Polri, penanggung-jawab lainnya Asrena Kapolri beserta Assarpras Kapolri.

16