PENDAHULUAN
Saat ini masyarakat telah menyadari betapa pentingnya kesehatan bagi diri mereka pribadi dan
keluarganya dengan melakukan berbagai cara untuk menjaga kesehatan tubuh dan mencegahnya
dari serangan penyakit. Hal ini diupayakan melalui berbagai upaya untuk mencegahnya. Self
care merupakan tindakan individu yang dilakukan untuk diri mereka sendiri dalam rangka
menjaga dan memelihara kesehatan, mencegah maupun berhadapan dengan penyakit.
Berolahraga, mengkonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan rendah kalori serta membiasakan
meminum air putih 8 gelas sehari merupakan contoh dari self care. Salah satu unsur dari self care
adalah self medication yang lebih dikenal dengan istilah swamedikasi.
PENGERTIAN
Swamedikasi adalah upaya yang dilakukan oleh individu yang bertujuan untuk mengobati segala
keluhan pada diri sendiri dengan obat-obatan yang dapat dibeli bebas di apotek atas inisiatif
sendiri tanpa nasehat dokter. Dalam hal ini masyarakat merasa butuh akan penyuluhan yang jelas
dan tepat mengenai penggunaan secara aman dai obat-obatan yang dapat mereka beli secara
bebas tanpa resep dokter di apotek.
Sementara menurut Permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, Swamedikasi adalah
Pengobatan diri sendiri yaitu penggunaan obat-obatan atau menenangkan diri bentuk
perilaku untuk mengobati penyakit yang dirasakan atau nyata. Pengobatan diri sendiri sering
disebut dalam konteks orang mengobati diri sendiri, untuk meringankan penderitaan mereka
sendiri atau sakit., secara sederhana swamedikasi adalah upaya seseorang dalam mengobati
gejala sakit atau penyakit tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Namun bukan
berarti asal mengobati, justru pasien harus mencari informasi obat yang sesuai dengan
penyakitnya dan apoteker-lah yang bisa berperan di sini. Apoteker bisa memberikan informasi
obat yang objektif dan rasional.
Swamedikasi dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan mulai dari batuk pilek,
demam, sakit kepala, maag, gatal-gatal hingga iritasi ringan pada mata. Sedangkan konsep
modern swamedikasi adalah upaya pencegahan terhadap penyakit, dengan tentunya
mengkonsumsi vitamin dan food suplement untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
ALASAN BERKEMBANGNYA SWAMEDIKASI
Hal-hal yang melatarbelakangi berkembangnya swamedikasi dikalangan masyarakat saat ini
adalah:
1. Harga obat yang melambung tinggi, ditambah biaya pelayanan kesehatan yang semakin
mahal, menyebabkan sebagian masyarakat berinisiatif mengobati dirinya sendiri dengan
obat-obatan yang tersedia di pasaran tanpa melalui konsultasi dengan dokter terlebih
dahulu. Biasanya golongan ini akan mengarah kepada obat-obat mulai kategori OTC
(obat bebas dan obat bebas terbatas), DOWA.
2. Pergeseran pola pengobatan dari kuratif rehabilitatif ke arah preventif promotif.
Penyebabnya adalah tingkat pengetahuan masyarakat yang semakin tinggi, penghasilan
perindividu meningkat, teknologi informasi semakin cepat, mudah dan jelas, dan lain-
lain. Untuk ini upaya yang dilakukan adalah pencegahan terhadap kemungkinan terserang
suatu penyakit, dan obat-obat yang dicari adalah food suplement atau obat-obat bebas.
3. Perkembangan teknologi farmasi yang inovatif
4. Jenis atau merek obat yang beredar telah diketahui atau dikenal masyarakat luas
5. Berubahnya peraturan tentang obat atau farmasi
6. Pengaruh informasi atau iklan
7. Kemudahan mendapatkan obat
KONSELING SWAMEDIKASI
Konseling swamedikasi sebaiknya dilakukan untuk penyakit ringan dan yang sangat penting
sebelum melakukan swamedikasi harus mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan
penyakit yang diderita serta obat yang sesuai untuk mengobati penyakit tersebut dan juga bagi
kondisi fisik pasien. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam swamedikasi adalah:
1. Membaca secara teliti informasi yang tertera pada kemasan atau brosur yang disisipkan di
dalam kemasan meliputi: komposisi zat aktif, indikasi, kontraindikasi, dosisi, efek
samping dan cara penggunaan.
2. Memilih obat dengan jenis kandungan zat aktif sesuai keperluan, seperti jika gejala
penyakitnya hanya batuk maka pilih obat yang digunakan untuk mengatasi batuknya saja
dan tidak perlu obat penurun demam.
3. Menggunakan obat swamedikasi hanya jangka pendek (seminggu), jika gejala menetap
atau memburuk maka segera konsultasikan ke dokter.
4. Memperhatikan aturan pakai, bagaimana cara memakainya, berapa jumlahnya, dipakai
sebelum atau sesudah makan serta berapa lama pemakaiannya.
5. Memperhatikan tentang tanggal kadaluarsa obat yang akan diserahkan kepada pasien.
6. Memperhatikan cara penyimpanan obat yang baik, agar mutu obat tetap terjaga selama
penyimpanan.
7. Memperhatikan tentang cara memusnahkan obat bila terjadi sisa obat pada pasien.
RUANG LINGKUP PENYAKIT YANG BISA DILAKUKAN PELAYANAN
SWAMEDIKASI
Tidak semua penyakit bisa diterapkan swamedikasi. Penyakit yang bisa dilakukan swamedikasi
adalah sebagai berikut :
1. Batuk
2. Flu
3. Demam
4. Nyeri
5. Sakit maag
6. Kecacingan
7. Diare
8. Biang keringat
9. Jerawat
10. Kadas/kurap dan Panu
11. Ketombe
12. Kudis
13. Kutil
GANGGUAN YANG TIDAK BISA DILAKUKAN SWAMEDIKASI
Terdapat beberapa penyakit yang tidak bisa dilakukan Tindakan swamedikasi atau pengobatan
sendiri. Penyakit tersebut diantaranya adalah gangguan jantung dan pembuluh, diabetes millitus,
penyakit-penyakit infeksi, gangguan jiwa dan kanker. Untuk penyakit tersebut adalah penting
sekali untuk mencari pertolongan dokter sedini mungkin.
Di bawah ini disebutkan sejumlah gejala berbahaya, yang tidak boleh diobati sendiri karena
menunjukkan pada suatu penyakit yang serius.
1. Kebanyakan keluhan pada mata
2. Batuk dan serak yang bertahan lebih lama dari 1-2 minggu dan tidak mau sembuh, juga
batuk darah
3. Terjadinya setiap perubahan pada tahi lalat atau kutil
4. Rasa nyeri atau sulit menelan yang tidak mau sembuh
5. Borok yang tidak mau sembuh
6. BAB atau BAK dengan darah
7. Susah buang air kecil atau buang air kecil disertai rasa nyeri
8. Keluarnya lender/darah yang berlebihan dari vagina
9. Timbulnya benjolan kecil atau asing pada payudara atau tempat lain dari tubuh
10. Demam diatas 40 derajat yang bertahan lebih lama dari 2-3 hari, yang disertai gejala-
gejala lain seperti nyeri tenggorokan (dengan bintik-bintik putih), ruam kulit yang hebat
atau lepuh
11. Diare atau muntah-muntah yang sangat
DAMPAK POSITIFNYA
1. Pencegahan maupun pengobatan yang lebih dini
2. Biaya yang lebih terjangkau dan cepat
DAMPAK NEGATIFNYA
1. Dampak negatif swamedikasi adalah obat dapat membahayakan Kesehatan, apabila tidak
digunakan sesuai dengan aturan, pemborosan biaya dan waktu apabila salah
menggunakan obat,
2. Kemungkinan kecil dapat timbul reaksi obat yang tidak diinginkan, misalnya sensitifitas,
efek samping atau resistensi,
3. Penggunaan obat yang salah akibat salah diagnosis dan pemilihan obat dipengaruhi oleh
pengalaman menggunakan obat di masa lalu dan lingkungan sosialnya.
MANFAAT SWAMEDIKASI
Swamedikasi bermanfaat dalam pengobatan penyakit atau nyeri ringan, hanya jika dilakukan
dengan benar dan rasional, berdasarkan pengetahuan yang cukup tentang obat yang digunakan
dan kemampuan nengenali penyakit atau gejala yang timbul. Swamedikasi secara serampangan
bukan hanya suatu pemborosan, namun juga berbahaya.
KRITERIA OBAT YANG DIGUNAKAN
Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa
resep:
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2
tahun dan orang tua di atas 65 ta
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan
penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh
tenaga kesehatan
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia
5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan
untuk pengobatan sendiri
SYARAT SUATU OBAT SWAMEDIKASI
1. Obat harus aman,kualitas dan efektif,
2. Obat yang digunakan harus punya indikasi, dosis, bentuk sediaan yang tepat,
3. Obat yang diserahkan harus disertai informasi yang jelas dan lengka
JENIS OBAT YANG DIGUNAKAN
1. Obat bebas : tanda lingkaran hitam, dasar hijau
2. Obat bebas terbatas : tanda lingkaran hitam, dasar biru
3. Suplemen makanan
4. Obat Tradisional (Jamu, Obat herbal terstandart dan Fitofarmaka)
5. Obat Wajib Apotek (OWA) Merupakan obat keras yang bisa diserahkan oleh apoteker
tanpa resep dokter, tanda: lingkaran hitam, dasar merah (HANYA APOTEKER YANG
BOLEH MENYERAHKAN SECARA LANGSUNG)
INFORMASI TENTANG OBAT YANG HARUS DISAMPAIKAN
1. Nama obat dan kekuatannya
2. Indikasi dan aturan pakai
3. Cara menggunakan
4. Kemungkinan terjadinya efek samping yang akan dialami
5. Berapa lama obat harus digunakan.
6. Apa yang harus dilakukan jika terlupa minum atau menggunakan obat
7. Mekanisme kerja obat
8. Efek pada gaya hidup
9. Cara penyimpanan obat
10. Interaksi antar obat dan makan,
11. Saran untuk mempercepat kesembuhan
PASIEN YANG PERLU PERHATIAN KHUSUS
1. Ibu hamil
2. Ibu menyusui
3. Anak-anak di bawah 2 tahun (pediatric)
4. Orang tua diatas 65 (lansia/gerontic)
METODE SWAMEDIKASI
1. Metode WWHM
W : Who is it for ? (Siapa yang sakit)
W : What are the symptoms ? (Apa gejalanya)
H : How long have the symptoms ? (Berapa lama gejala diderita)
A : Actions taken so far ? (Tindakan apa yang sudah dilakukan)
M : Medications they are taking ? (Obat apa yang sudah digunakan
2. Metode ASMETHOD
A : Age / appearance (Usia Pasien)
S : Self or someone else (Dirinya sendiri atau oran lain yang sakit)
M : Medication “regularly taken on prescription or OTC” (Pengobatan yang sudah
digunakan baik dengan resep maupun dengan non resep)
E : Extra medicine (Usaha lain untuk mengatasi gejala sakit)
T : Time persisting (Lama gejala)
H : History (Riwayat jalan)
O : Other symptoms (gejala lain)
D : Danger symptoms (gejala yang berbahaya)
PENGAYAAN ISTILAH
Dosis, takaran suatu obat
Indikasi, suatu kondisi yang menandakan pasien perlu mendapatkan obat tersebut
Kontraindikasi, kondisi dimana pasien tidak boleh menerima obat
Efek samping, efek yang tidak diinginkan dari suatu obat
Interaksi obat, informasi ini memuat sejumlah obat atau makanan yang tidak boleh dikonsumsi
bersamaan dengan obat yang ada di brosur karena dapat terjadi efek-efek yang tidak diinginkan