Solid: Limbah Pengolahan Minyak Sawit
Untuk Pakan Sapi Dan Domba
Solid sawid yang merupakan limbah pengolahan minyak sawit ternyata mempunyai
potensi besar sebagai sumber pakan ternak. Dari hasil pengkajian dan diseminasinya
pemanfaatan solid sawit telah memberikan peningkatan pertambahan bobot badan harian
dan telah dikembangkan perusahaan kelapa sawit dan kelompok ternak di Kalimantan
Tengah
Dari beberapa jenis hasil samping yang dihasilkan pada proses pembuatan minyak
sawit kasar (crude palm oil/CPO) yang berpotensi sebagai sumber pakan untuk sapi adalah
solid sawit. Solid sawit (bahasa jawa “blondho sawit”) mempunyai konsistensi lunak seperti
ampas tahu, berwarna cokelat tua, dan berbau asam-asam manis. Solid sawit mengandung
1,5% minyak CPO sehingga dalam udara terbuka mudah menjadi tengik (rancid), sehingga
apabila dibiarkan pada udara terbuka selama 2-3 hari akan muncul yeast dan berdasarkan
hasil isolasi dan identifikasi yeast tersebut adalah Monilia sp. dan Candida sp, yang tidak
berbahaya. Walaupun pada permukaan solid sawit ditumbuhi dengan yeast, namun bagian
dalamnya relatif tidak berubah warna dan konsistensinya. Oleh karena itu, pada timbunan
solid yang sudah beberapa hari apabila akan digunakan untuk pakan ternak, permukaan
solid dibuang dan diambil bagian dalamnya untuk diberikan pada ternak.
Pembuatan Roti Solid
Solid sawit dapat diberikan dalam bentuk segar maupun dalam bentuk blok yang
diberi nama “roti solid”. Roti solid ini, selain solid sawit sebagai bahan dasar, juga
ditambahkan beberapa bahan pakan lainnya seperti bungkil inti sawit, gamal, molases,
garam, dan mineral dengan kandungan protein kasar 14,3% dan TDN 64,6% (Tabel 1).
Pakan dalam bentuk blok selain kandungan nutriennya lebih baik juga memudahkan dalam
pemberian, pengangkutan, dan penyimpanan dengan daya simpan lebih lama.
Tabel 1. Formulasi ransum roti solid untuk domba dengan bahan dasar solid sawit
No Bahan pakan Komposisi (%)
1. Solid sawid 50
2. Bungkil inti sawit 20,5
3. Gamal 18
4. Molases 10
5. Garam 0,5
6. Kapur 1
Kandungan Nutrien:
7. Protein kasar 14,3
8. TDN 64,6
Roti solid dibuat dalam dua bentuk, yaitu roti solid fermentasi dan tanpa fermentasi.
Fermentor yang digunakan bergantung pada ketersediaannya di lapang, bisa ragi tempe
(Gambar 1) atau EM-4 yang memang sudah banyak dijual. Solid segar diberi ragi tempe,
ditutup dan difermentasikan selama 7 hari. Setelah terfermentasi yang dicirikan oleh bau
seperti tapai dan tumbuh miselium, solid fermentasi dijemur sampai kering kemudian
digiling, sehingga diperoleh solid fermentasi kering.
Gambar 1. Fermentasi solid sawit
Untuk membentuk blok digunakan cetakan paralon berukuran 4 inci dengan
ketebalan 2 cm (Gambar 2), kemudian dijemur di bawah sinar matahari. Setelah kering
dilepaskan dari cetakannya (Gambar 3) dan siap diberikan ke ternak.
Gambar 2. Pembuatan Roti Solid
Gambar 3. Roti solid yang sudah jadi
Dampak Pemberian Solid pada Ternak
Solid diberikan pada domba sebanyak 1% dari bobot badan baik dalam bentuk segar
maupun dalam bentuk roti solid, yaitu dua kali sehari pagi dan sore sebelum diberikan
rumput. Ternak domba lebih menyukai solid sawit dalam bentuk roti solid fermentasi
dibandingkan dalam bentuk segar dan memberikan pertambahan bobot badan yang lebih
tinggi (Tabel 2).
Hasil pemeriksaan darah domba yang diberi pakan roti solid menunjukkan
kandungan Ca darah positif, sementara yang hanya diberikan pakan rumput negatif
terhadap Ca. Lahan di Kalimantan Tengah adalah masam dan pada kondisi ini menurut
Gartenberg (1990) terjadi kekurangan unsur mineral mikro tertentu. Hal ini akan berakibat
hijauan yang tumbuh di atas tanah tersebut juga akan miskin mineral tersebut. Kondisi ini
akan berdampak pada kesehatan ternak khususnya ternak ruminansia karena hijauan pakan
ternak (HPT) yang tersedia di alam yang merupakan sumber pakan basal ternak juga miskin
akan kandungan mineral. Beberapa kasus penyakit yang menunjukkan adanya gejala
defisiensi mineral Ca sudah pernah dilaporkan. Bahkan dikhawatirkan pula, tingginya
kematian anak-anak domba kemungkinan ada kaitannya dengan defisiensi mineral. Dari
hasil monitoring yang telah dilakukan pada ternak sapi yang dipelihara di lahan pasang
surut, ditemukan 37,04% mengalami defisiensi mineral Ca dan Cu. Oleh karena itu,
penambahan mineral pada pakan ternak sangat dianjurkan.
Tabel 2. Kenaikan bobot badan domba lokal yang diberi pakan tambahan solid sawit
selama 3 bulan pemeliharaan di Kabupaten Kotawaringin Barat
No Perlakuan Rata-rata kenaikan bobot badan
BB Awal BB Akhir PBBH
(kg/ekor) (kg/ekor) (kg/ekor/hari)
1. Rumput alam tanpa solid sawit 10,8 13,95 0,035
2. Solid sawit segar 1% dari BB + 13,3 17,4 0,045
rumput alam
3. Roti solid tanpa fermentasi 1% 19 24,8 0,064
dari BB + rumput alam
4. Roti solid fermentasi 1% dari 19,8 27,2 0,083
BB + rumput alam
Roti solid selain dapat diberikan kepada domba, juga dapat diberikan ke ternak sapi
dan sapi sangat menyukainya.
Gambar 4. Selain solid segar sapi juga sangat
menyukai dalam bentuk Roti Solid
Penyebaran Pemanfaatan Solid Sawit untuk
Ternak di Kalimantan Tengah
Pemanfatan solid sawit untuk pakan sapi memberikan efek yang positif yaitu
meningkatkan pertambahan bobot badan sapi PO 0,77 kg/ekor/hari dan mengurangi biaya
pakan, tidak ada efek negatif yang dilaporkan selama pemanfaatannya.
Di Kalimantan Tengah solid sawit dimanfaatkan sebagai pakan tambahan untuk sapi
oleh beberapa perusahaan peternakan sapi, yaitu PT Sulung Ranch, PT. Medco, PT. Korin
III dan juga Kelompok Ternak Subur Makmur dan KUD Tani Subur di Kecamatan Pangkalan
Lada. Di Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah, pemanfaatan solid sawit untuk
pakan sapi sudah meluas ke Kelompok Ternak yang lain, yaitu Kelompok Ternak Ikhlas
Makaryo di Kec. Kumai, Kelompok Ternak Usaha Mandiri di Kec. Pangkalan Banteng,
Kelompok Ternak Kompak Maju di Kec. Kotawaringin Lama, Kelompok Ternak Mekar Sari di
Kec. Arut Selatan, Kelompok Ternak Sidodadi di Kec. Pangkalan Lada, Kelompok Ternak
Tani Maju di Kec. Pangkalan Lada, dan Kelompok Ternak Karya Baru di Kec. Kumai.
Pemanfaatan Solid Sawit juga sudah diadopsi di luar Kabupaten Kotawaringin Barat, yaitu di
Kelompok Ternak Meju Jaya Kec. Parenggean, Kab. Kotawaringi Timur, Kelompok Ternak
di Kabupaten Barito Utara dan Kelompok Ternak di Kabupaten Lamandau. (Ermin Widjaja)
Informasi Lebih Lanjut hubungi:
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Jl. Tentara Pelajar No. 10 Bogor 16114 Indonesia
Telp. (0251) 8351277 Fax. (0251) 8350928
E-mail: bbp2tp@litbang.pertanian.go.id, bbp2tp@yahoo.com