0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
171 tayangan23 halaman

Praktikum Distribusi Tekanan Venturi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang hidrolika dan fluida serta prinsip Bernoulli. 2. Juga membahas tentang jenis-jenis fluida, baik fluida statis maupun dinamis. 3. Prinsip Bernoulli menyatakan hubungan antara kecepatan, tekanan, dan ketinggian fluida dalam aliran.

Diunggah oleh

Len
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
171 tayangan23 halaman

Praktikum Distribusi Tekanan Venturi

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang hidrolika dan fluida serta prinsip Bernoulli. 2. Juga membahas tentang jenis-jenis fluida, baik fluida statis maupun dinamis. 3. Prinsip Bernoulli menyatakan hubungan antara kecepatan, tekanan, dan ketinggian fluida dalam aliran.

Diunggah oleh

Len
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Hidrolika merupakan satu topik dalam Ilmu terapan dan keteknikan yang
berurusan dengan sifat-sifat mekanis fluida, yang mempelajari perilaku aliran air
secara mikro maupun makro. Mekanika fluida meletakkan dasar-dasar teori
hidrolika yang difokuskan pada rekayasa sifat-sifat fluida. Dalam tenaga fluida,
hidrolika digunakan untuk pembangkit, kontrol, dan perpindahan tenaga
menggunakan fluida yang dimampatkan. Topik bahasan hidrolika membentang
dalam banyak aspek sains dan disiplin keteknikan, mencakup konsep-konsep seperti
aliran tertutup (pipa), perancangan bendungan, pompa, turbin, tenaga air, hitungan
dinamika fluida, pengukuran aliran, serta perilaku aliran saluran terbuka seperti
sungai dan selokan. Kata Hidrolika berasal dari bahasa Yunani hydraulikos, yang
merupakan gabungan dari hydro yang berarti air dan aulos yang berarti pipa
(Ambarwati, n.d.,2016).
Fluida merupakan segala hal atau jenis zat yang mengalir yang berwujud gas
atau cair, Peran fluida sangat penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai alat
penunjang untuk mempermudah aktifitas maupun dalam berbagai bidang teknik
sipil untuk Transportasi hidrolik, Hal ini mempunyai beberapa keuntungan antara
lain, yaitu ramah terhadap lingkungan, peralatan relatif sederhana, biaya operasi dan
perawatan yang murah. Dan proses pemindahan fluida umumnya dilakukan melalui
suatu media berupa jaringan pipa atau sistem pipa. fluida adalah semua bahan yang
cenderung berubah bentuknya walaupun mengalami gaya-luar yang sangat kecil,
sehingga daripada itu muncullah ilmu mekanika (Sarjito et al., 2016).
Ilmu perekayasaan tentang mekanika fluida telah dikembangkan melalui
pemahaman mengenai sifat-sifat fluida. Fluida adalah zat yang berubah bentuk secara
kontinu (terus-menerus) bila terkena tegangan geser, betapapun kecilnya tegangan
geser itu. Gaya geser adalah komponen gaya yang menyinggung permukaan, dan
gaya ini yang dibagi dengan luas permukaan tersebut adalah tegangan geser rata-rata
pada permukaan itu, dan juga mekanika fluida mempunyai teori atau konsep seperti
Hukum Bernoulli (Fathoni & Novianto, 2018).
Hukum Bernoulli, yakni suatu hukum yang dapat digunakan untuk menjelaskan
gejala yang berhubungan dengan gerakan zat alir melalui suatu penampang pipa.
Prinsip Bernoulli menyatakan bahwa di mana kecepatan aliran fluida tinggi, tekanan
fluida tersebut menjadi rendah. Sebaliknya jika kecepatan aliran fluida rendah,
tekanannya menjadi tinggi. Tekanan sangat berpengaruh terhadap aliran fluida itu
sendiri. Tekanan didefinisikan sebagai jumlah gaya tiap satuan luas. Apa bila gaya
terdistribusikan secara merata pada suatu luasan, maka tekanan dapat ditentukan
dengan membagi gaya luas. Maka untuk mengetahui suatu tekanan fluida muncullah
penerapan atau percobaan venturi nozzle (Abidin & Wagiani, 2013).
Venturi nozzle menngunakan prinsip bernoulli, Prinsip bernoulli menyatakan
bahwa di mana kecepatan aliran fluida tinggi, tekanan fluida tersebut menjadi rendah.
Sebaliknya jika kecepatan aliran fluida rendah, tekanannya menjadi tinggi. Nozzle
adalah sebuah alat penyemprot yang didesain khusus untuk membuat bentuk dan arah
serta memberi tekanan yang lebih tinggi dari aliran sebelumnya (Abidin & Wagiani,
2013).
Oleh karena itu, kami dari kelompok 4 (Empat) Rekayasa Infrastruktur dan
lingkungan melakukan praktikum hidrolika dan saluran terbuka pada percobaan
Distribusi Tekanan Pada Venturi Nozzle di Laboratorium Keairan dan Teknik
Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Halu Oleo, Kendari untuk memahami
prinsip kerja dari Venturi Nozzle dan untuk memahami tekanan dan waktu pada
Venturi Nozzle. Dengan adanya percobaan ini diharapkan dapat memberikan hasil
yang teliti sehingga dapat di jadikan bahan acuan untuk kedepannya dan dapat
digunakan sebagai referensi serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
khususnya dalam bidang ketekniksipilan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalh dari percobaan distribusi tekanan pada venturi
nozzle yaitu sebagai berikut :
1. Bagaimana memahami prinsip Bernoulli ?
2. Bagaimana memahami distribusi tekanan statis pada venturi nozzle ?

1.3 Tujuan Pratikum


Adapun tujuan dari percobaan distribusi tekanan pada venturi nozzle yaitu
sebagai berikut :
1. Untuk memahami prinsip Bernoulli
2. Untuk memahami distribusi tekanan statis pada venturi nozzle

1.4 Manfaat Praktikum


Adapun manfaat praktikum distribusi tekanan pada venturi nozzle terbagi
dalam 3 aspek adalah sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Untuk Individu
Manfaat praktikum percobaaan distribusi tekanan pada venturi nozzle untuk
diri sendiri adalah sebagai pemenuhan dan salah satu syarat kelulusan mata kuliah
Hidrolika dan saluran terbuka, serta menambah wawasan praktikan dalam memahami
segala fenomena dalam saluran terbuka serta pengaplikasian atau penerapan ilmu
teknik sipil terhadap distribusi tekanan pada venturi nozzle dalam kehidupan teknik
sipil.

1.4.2 Manfaat Untuk Instansi


Manfaat praktikum percobaan distribusi tekanan pada venturi nozzle untuk
instansi adalah sebagai pedoman atau literatur dalam perencanaan dan pemanfaatan
dari distribusi tekanan yang ada bagi masyarakat serta dapat dijadikan sebagai
sumber penelitian kedepannya.

1.4.3 Manfaat Untuk Pengetahuan


Manfaat praktikum percobaan distribusi tekanan pada venturi nozzle untuk
ilmu pengetahuan adalah dapat menjadi salah satu unsur sarana pembangun ilmu
pengetahuan kedepannya serta dapat dijadikan sebagai literatur atau patokan pada
praktikum distribusi tekanan pada venturi nozzle kedepannya dan bahkan bisa
membantah beberapa teori yang ada dalam bentuk praktikum perobaan.
1.5 Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan laporan praktikum Hidrolika dan Saluran
Terbuka pada percobaan distribusi tekanan pada venturi nozzle adalah sebagai
berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini diuraikan mengenai hal-hal yang melatar belakangi praktikum
ini, dilanjutkan dengan uraian rumusan masalah, tujuan praktikum, manfaat
praktikum, sistematika penulisan dan beberapa penelitian terdahulu yang dapat
dijadikan bahan acuan dalam praktikum ini.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Pada bab ini diuraikan secara sistematis tentang teori, pemikiran dan hasil
penelitian terdahulu yang ada hubungannya dengan penelitian ini. Bagian ini akan
memberikan kerangka dasar yang komprehensif mengenai konsep, prinsip atau teori
yang akan digunakan untuk pemecahan masalah.

BAB III METODOLOGI PRAKTKUM


Bab ini terdiri dari lokasi dan waktu praktikum, pembahasan mengenai alat dan
material yang digunakan dalam praktikum, prinsip praktikum, dan prosedur
pelaksanaan praktikum.

BAB IV PEMBAHASAN
Pada bab ini menjelaskan hasil-hasil yang diperoleh dari proses praktikum dan
pembahasannya. Penyajian hasil penelitian memuat deskripsi sistematik tentang data
yang diperoleh, dan pada bagian pembahasan menguraikan pengolahan data hasil
penelitian dalam rangka mencapai tujuan dari praktikum ini

BAB V PENUTUP
Pada bab ini dikemukakan kesimpulan dari seluruh rangkaian proses praktikum
dan saran-saran terkait dengan kekurangan yang didapati dalam praktikum ini,
sehingga nantinya dapat dijadikan acuan untuk praktikum selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Fluida
Fluida adalah zat yang berada dalam keadaan cair (liquid) dan gas. Zat cair
adalah zat yang untuk jumlah massa tertentu akan memiliki volume tertentu yang
tidak tergantung padabentuk benda dimana zat cair tersebut ditempatkan. Zat yang
termasuk dalam fluida adalah zat cair dan gas, dimana terdapat perbedaan antara
keduanya terletak pada kemampatannya. Ditinjau dari keadaan fisiknya, fluida
terdiri dari fluida statis atau hidrostais yaitu ilmu yang mempelejari tentang fluida
atau zat cair yang diam (tidak bergerak) dan fluida dinamis atau hidrodinamika yaitu
ilmu yang mempelajari tentang zat cair atau fluida yang bergerak (S. Poerboyo, 2018).
Fluida merupakan salah satu aspek yang penting dalam kehidupan kita sehari-
hari. Setidaknya kita bisa mengkonsumsinya, bahkan terapung atau tenggelam
didalamnya. Air yang kita minum dan udara yang kita hirup pun juga merupakan
salah satu contoh dari penerapan proses fluida dalam aktivitas kehidupan kita sehari-
hari.

II.2 Jenis-Jenis Fluida


Fluida menurut jenisnya dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu :
a. Fluida Statis
Fluida statis adalah fluida yang berada dalam fase tidak bergerak (diam) akan
fluida tidak bergerak tetapi tidak ada perbedaan kecepatan antara partikel fluida
tersebut akan bisa dikatakan bahwa partikel fluida tersebut bergerak dengan
kecepatan seragam sehingga tidak memilki gaya geser.
b. Fluida Dinamis
Fluida adalah zat yang mengalir, fluida dinamis adalah fluida yang dalam
kondisi bergerak atau mengalir. Dari fluida dinamis ditemukan energi potensial
yang dapat dijadikan sumber energi. Selain itu, fluida dinamis merupakan zat cair
yang bersifat dapat berubah-ubah atau bergerak sesuai media yang dilewatinya.

II.3 Prinsip Bernoulli


Prinsip Bernoulli menyatakan bahwa dimana kecepatan aliran fluida tinggi,
tekanan fluida tersebut menjadi rendah. Sebaliknya jika kecepatan aliran fluida
rendah, tekanannya menjadi tinggi (Dastiana A.D., 2007).

Gambar 2.1 Asas Bernoulli


Sumber: Dastiana A. D., 2007

II.3.1 Persamaan Bernoulli


Persamaan bernoulli diturunkan berdasarkan anggapan sebagai berikut ini:
a. Zat cair adalah ideal, jadi tidak mempunyai kekentalan (kehilangan energi
akibat gesekan adalah nol).
b. Zat cair adalah homogen dan tidak termampatkan (rapat massa zat cair
adalah konstan).
c. Aliran adalah kontinyu dan sepanjang garis arus.
d. Kecepatan aliran adalah merata dalam suatu penampang.
e. Gaya yang bekerja hanya gaya berat dan tekanan.
1 2 1 2
P1 + ρ v 1 + ρ g h 1 = P2 + ρ v 2 + ρ g h 2 ....Pers (2.1)
2 2
Keterangan :
P1 dan P2 = Tekanan di titik 1 dan 2 (N/m2)
v1 dan v2= Kecepatan aliran di titik 1 dan 2 (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
1 2
ρv = Energi kinetik persatuan volume di titik 1 (j)
2 1
1 2
ρv = Energi kinetik persatuan volume di titik 2 (j)
2 2
ρ . g . h1 = Energi potensial persatuan volume di titik 1 (j)
ρ . g . h2 = Energi potensial persatuan volume di titik 2 (j)

Persamaan Bernoulli untuk aliran menutup satu dimensi zat cair adalah ideal
dan tidak kompesibel. Persamaan ini merupakan bentuk matematis dari kekentalan
energy di dalam aliran zat cair (Bambang triatmojo,1998).

P v2
z+ + =C ....Pers (2.2)
γ 2g
Keterangan :
z = Elevasi (m)
P = Tekanan (Pa)
γ = Berat jenis (N/m3)
v = Kecepatan (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
C = Konstanta

II.3.2 Persamaan Bernoulli untuk Zat Cair Rill (Viskos)


Pada fluida nyata (riil) aliran yang terjadi akan mengalami gesekan dengan
dinding pipa, sehingga akan mengalami kehilangan energi. Kehilangan energi dapat
dibedakan menjadi:
a. Kehilangan energi primer (hf) adalah kehilangan energi karena gesekan dengan
dinding batas/pipa.
b. Kehilangan energi sekunder (he) adalah kehilangan energi karena perubahan
tampang lintang aliran.

Kehilangan tenaga yang disebabkan karena gesekan disebut dengan kehilangan


tenaga primer, sedang- kan karena perubahan di tampang aliran dikenal sebagai
kebilangan tenaga sekunder. Untuk pipa sangat panjang kehilangan tenaga primer
jauh lebih besar dari kehilangan tenaga sekunder, sehingga sering kehilangan tenaga
sekunder diabaikan. Kehilangan tenaga biasanya dinyatakan dalam tinggi zat cair.
Dengan memperhitungkan kedua kehilangan tenaga tersebut, maka persamaan
Bernoulli antara dua tampang aliran (titik 1 dan 3) menjadi:

Kehilangan tenaga dinyatakan dalam bentuk berikut:

v2
hf = k ....Pers (2.3)
2g
Keterangan :
hf = Kehilangan energi (m)
k = Konstanta
v = Kecepatan aliran (m/s)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)

Untuk kehilangan tenaga primer:

L
k=f ....Pers (2.4)
D
Keterangan :
k = Konstanta
f = Koefisien gesekan
L = Panjang pipa (m)
D = Diameter pipa (m)

Untuk kehilanga tenaga sekunder:

2
A
k = (1 - 1 ) ....Pers (2.5)
A2
Keterangan :
k = Konstanta
A1 = Luas penampang pipa hulu (m2)
A2 = Luas penampang pipa hilir (m2)
Dalam memperhitungkan kehilangan tenaga sekunder, v adalah kecepatan
aliran di pipa 1 (hulu). Karena adanya kehilangan tenaga akibat gesekan maka garis
tenaga akan selalu menurun ke arah aliran (Bambang Triatmojo, 1993).

II.3.3 Persamaan Bernoulli untuk Head (s)


Persamaan bernoulli menyatakan bahwa jumlah dari head kecepatan dan head
ketinggian adalah sepanjang garis arus (Adi Weko Suryawan,2014).

P1 W2 P
+ + 2 = Konstan ....Pers (2.6)
ρ 2g ρ
Keterangan :
P1 = Tekanan 1 (N/m2)
P2 = Tekanan 2 (N/m2)
W = v = Laju aliran (m/s)
ρ = Massa jenis (kg/m3)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)

Untuk kondisi di atas dimana h1 dan h2 maka persamaannya.

W1 W2
h1 = h2 + hf ....Pers (2.7)
γg γg
Keterangan :
h1 = Head 1 (m)
h2 = Head 2 (m)
W1 = v1 = Laju aliran pada section 1 (m/s)
W2 = v2 = Laju aliran pada section 2 (m/s)
γ = Berat jenis (N/m3)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)
hf = Head loss (m)
P = Tekanan (N/m2)

II.3.4 Persamaan Bernoulli pada Titik Ukur Melintasi Garis Arus

v2

P+ ∫ ❑dv + b = Konstan melewati garis arus ....Pers (2.8)


R

Keterangan :
P = Tekanan (N/m2)
R = Jarak antara tekanan (m)
v = Kecepatan (m/s)

II.4 Debit
Konsep awal mengenai fluida dinamis tentang debit aliran. Debit air adalah
jumlah air yang mengalir setiap waktu berdasarkan banyak volume air yang
mengalir setiap waktu. Berikut merupakan rumus empiris dari debit air adalah
sebagai berikut:

V
Q = ....Pers (2.9)
t

Jika dihubungkan dengan kecepatan aliran air dari luas penamnpang pipa dan
mulut keran, maka persamaan diatas dapat diubah menjadi (HYSH. Nugroho, 2015).
Q = A .v ....Pers (2.10)
Keterangan :
Q = Debit air (m3/s)
V = Volume (m3)
t = Waktu (s)
v = Kecepatan aliran air (m/s)
A = Luas penampang (m2)

II.5 Volume
Volume atau bisa juga disebut kapasitas adalah penghitungan seberapa banyak
ruang yang bisa ditempati dalam suatu objek. Objek itu bisa berupa benda yang
beraturan ataupun benda yang tidak beraturan. Benda yang beraturan
misalnya kubus, balok, silinder, limas, kerucut, dan bola. Benda yang tidak beraturan
misalnya batu yang ditemukan di jalan. Volume digunakan untuk menentukan massa
jenis suatu benda. Ada berbagai cara untuk mengukur volume benda.
Untuk mengukur volume suatu zat cair digunakan alat transparan seperti gelas
ukur atau gelas ukur, buret dan pipet, umumnya mempunyai skala bertahap
sentimeter kubik atau ml. Dalam benda padat dengan bentuk teratur, itu diukur
dengan dimensinya dan diperoleh dengan menerapkan rumus matematika yang
sesuai. Contohnya; Untuk bangun tiga dimensi seperti kubus atau paralelepiped,
volume adalah produk dari tiga dimensi (panjang, lebar dan tinggi). Selain itu,
volume gas juga dapat diukur dengan menyimpannya di air atau cairan lain,
mengukur jumlah yang dipindahkan. Konsep volume berhubungan dengan kapasitas.
Kapasitas mengacu pada proporsi sesuatu, di mana yang lain bisa ditampung. Satuan
kapasitas adalah liter, yang pada akhirnya setara dengan satuan volume dalam
keadaan cair, atau yang disebut desiliter kubik.
Secara matematis, volume dirumuskan sebagai berikut:

V=Q.t ....Pers (2.11)


Keterangan :
V = Volume (m3)
Q = Debit (m3/s)
t = Waktu (s)

II.6 Kecepatan
Kecepatan adalah besaran vektor yang telah menunjukkan seberapa jauh
benda berpindah dari satu titik ke titik lain. Besar dari vektor ini disebut dengan
kelajuan dan dinyatakan dalam satuan meter per sekon (m/s). Kecepatan dirumuskan
sebagai berikut (S. Poerboyo, 2018).
Secara matematis, dapat dirumuskan sebagai berikut.

s
v= ....Pers (2.12)
t

Keterangan :
v = Kecepatan (m/s)
s = Jarak (m)
t = Waktu (s)

Gambar 2.2 Kecepatan pada motor


Sumber: www.vlaby.com
II.7 Waktu
Menurut ilmu fisika waktu adalah dimensi yang memungkinkan dibedakannya
dua peristiwa identik namun berlainan yang berlangsung pada titik yang sama dalam
ruang (space time). Selang antara dua peristiwa tersebut membentuk pengukuran
dasar pengukuran waktu. Mengenai tujuan umum, waktu sesuai putaran bumi pada
sumbunya memberikan satuan jam (day) dan peredaran bumi mengelilingi matahari
(year) memberikan satuan kalender. Sedangkan tujuan ilmiah, waktu didefinisikan
dalam istilah frekuensi adalah suatu radiasi elektromagnetik tertentu (second) (F,
1967).
Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut.
s
t= ....Pers (2.13)
v
Keterangan :
t = Waktu tengah (s)
s = Jarak (m)
v = Kecepatan (m/s)
Sedangkan untuk mencari waktu rata-rata, dirumuskan dengan.

t 1 + t 2 + .... + t n
t = ....Pers (2.14)
n
Keterangan :
t = Waktu rata-rata (s)
t1 = Pengukuran waktu pertama (s)
t2 = Pengukuran waktu kedua (s)
tn = Pengukuran waktu ke-n (s)
n = Banyak pengukuran waktu (s)

II.8 Tekanan
Tekanan atau dalam bahsa inggris yang artinya pressure adalah gaya
persatuan luas bidang yang diberikan secara tegak lurus. Tekanan dirumuskan
sebagai berikut (Bambang Triatmojo, 1998).
F
P = ....Pers (2.15)
A
Keterangan :
P = Tekanan (Pa)
F = Gaya (N)
A = Luas penampang (m)

II.8.1 Tekanan Statis


Pada tekanan diam, tekanan yang bekerja dengan sama besar ke segala arah,
karakteristik ini membuat fluida dapat transmisikan gaya sepanjang pipa atau
penampang pipa atau tabung. Ketika sebuah gaya diperlukan pada fluida diam
dalam sebuah pipa maka gaya akan ditransmisikan hingga ujung pipa. Jika terdapat
gaya yang di transmisikam, maka fluida akan bergerak dalam arah yang sesuai
dengan arah resultan (Bambang Triatmojo, 1998).

II.8.2 Tekanan Dinamis


Jika fluida dalam keadaan bergerak maka suatu tegangan yang timbul disetiap
kelilingnya akan bergantung pada pergerakan. Sehingga jika pada pengukuran
besarnya tekanan dalam air yang mengalir dalam pipa yang tertutup. Kita mungkin
dapat memperoleh besarnya tekanan yang mungkin berada dengan keadaan setelah
pipa dibuka.
Fluida dinamis atau hidraulika yaitu ilmu yang mempelajari tentang zat cair
atau fluida yang bergerak tekanan dinamis adalah tekanan yang dialami akibat
pergerakan fluida akan mengakibatkan tekanan akan berbeda pada bagian-bagiannya
tergantung kecepatan pada fluidanya. Tekanan dinamis dirumuskan sebagai berikut
(Bambang Triatmojo, 1998).

P. v2
P =ρ + ( ) ....Pers (2.16)
2
Keterangan :
P = Tekanan (Pa)
ρ = Massa jenis (kg/m3)
v = Kecepatan (m/s)

Jika suatu fluida dalam keadaan bergerak maka tekanan yang timbul pada
setiap kelilingnya akan tergantung pada pengerukannya, sehingga jika kita
mengukur besarnya suatu tekanan dan air.

II.8.3 Tekanan Total


Tekanan total sangat dipengaruhi oleh tekanan statis dan dinamis. Dimana
tekanan total merupakan gabungan dari tekanan total dan tekanan dinamis. Tekanan
total dapat dirumuskan sebagai berikut :

P =ρ . g . h ....Pers (2.17)

Keterangan :
P = Tekanan (Pa)
ρ = Massa jenis (kg/m3)
g = Percepatan gravitasi
h = Tinggi tekanan fluida (m)

Karena sifatnya yang tidak dapat dengan mudah dimanfaatkan, fluida dapat
dihasilkan tekanan normal pada sebuah permukaan yang terkontak dengannya pada
keadaan diam (statis), tekanan tersebut bersiap stotate yaitu bekerja dengan besar
yang sama kesegala arah dan karakteristik itu membuat fluida dapat langsung
mentransmisikan gaya sepanjang satuan pipa atau tabung, yaitu jika sebuah fluida
masuk ke dalam pipa, maka yang tersebut akan secara langsung dapat
ditransmisikan hingga ujung.
Oleh karena itu persamaan matematis dari tekanan total adalah tekanan
dinamis dijumlahkan dengan tekanan statis untuk lebih jelasnya perhatikan rumus
berikut ini (A. Aribowo, 2010).

h total = hdinamis + h statis ....Pers (2.18)


Keterangan :
htotal = Tekanan total (Pa)
hdinamis = Tekanan dinamis (Pa)
hstatis = Tekanan statis (Pa)

II.8.4 Tekanan Hidrostatik


Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang terjadi di bawah air. Tekanan ini
terjadi karena adanya berat air yang membuat cairan tersebut meneluarkan tekanan
sebuah cairan tergantung pada kedalaman cairan di dalam sebuah ruang dan
gravitasi juga menentukan tekanan air tersebut. Hubungan ini di rumuskan sebagai
berikut (Bambang Triatmojo, 1998).

Ph = ρ . g . h ....Pers (2.19)
Keterangan :
Ph = Tekanan hidrostatik (Pa.N/m3
ρ = Massa jenis (kg/m3)
g = Percepatan gravitasi (m/s2)

Karena sifatnnya yang tidak dapat dengan mudah dimampaatkan, fluida dapat
menghasilkan tekanna normal pada semua permukaan yang terkontak dengannya.
Pada keadaan diam (statis), tekanan tersebut bersifat isotok yaitu bekerja dengan
besar yang sama kesegala arah. Karakteristik itu membuat fluida dapat
mentransmisikan gaya-gaya disepanjang sebuah pipa atau tabung yaitu sebuah gaya
diberlakukan pada fluida dasar sebuah pipa maka gaya tersebut akan ditransmisikan
hingga ujung pipa. Jika terdapat gaya yang di transmisikan maka fluida akan
bergerak dalam arah yang sesuai dengan arah gaya resultan. Tekanan hidrostatik
adalah tekanan yang di lakukan zat cair pada bidang dasar, tampaknya gaya yang
bekerja pada sebuah bejana tidak tergantung pada dasat bentuk bejana, tetapi
tergantung pada luas dasar bejana (A), tinggi (h) dan massa jenis zat cair (ρ) di
dalam bejana. Persamaannya adalah (Bambang triatmojo,1998).

P t = Po + Ph ....Pers (2.20)

Keterangan :
Pt = Tekanan total (Pa)
Po = Tekanan udara luar (Pa)
Ph = Tekanan hidrostatik (Pa)

Hukum utama hidrostatik menyatakan bahwa semua titik yang berada pada
bidang datar yang sama dalam fluida homogeny memiliki tekanan total yang sama
walaupun bentuk setiap tabung yang berbeda (Bambang Triadmojo,1998).

II.9 Instrumen dari Pengukuran


Alat venturi meter dalam sebuah industri dan laboratorium ilmiah untuk
mengukur laju aliran cairan. Alat venturi dapat dinyatakan untuk mengukur laju
aliran volumetrik Q (Bambang Triadmojo, 1993).

Contoh meteran venturi dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.3 Venturi meter


Sumber: Septriani Dwie Saputri
Gambar 2.4 Sketsa venturi meter

Keterangan :
A = Bagian masuk E = Lubang ke ruang piezometer
B = Bagian leher F = Lubang sadap tekanan hulu
C = Bagian keluar H = Pelapis
D, G = Ruang piezometer I = Lubang sadap tekanan hilir

Luas Penampang :
A1 = 25 mm x 25 mm = 625 mm2
A2 = 22 mm x 22 mm = 550 mm2
A3 = 18 mm x 25 mm = 450 mm2
A4 = 14 mm x 25 mm = 350 mm2
A5 = 9 mm x 25 mm = 225 mm2
A6 = 8 mm x 25 mm = 200 mm2
A7 = 9 mm x 25 mm = 225 mm2
A8 = 13 mm x 25 mm = 325 mm2
A9 = 16 mm x 25 mm = 400 mm2
A10 = 20 mm x 25 mm = 500 mm2
A11 = 23 mm x 25 mm = 575 mm2
A12 = 25 mm x 25 mm = 625 mm2
Meter ini terbuat dari bagian masuk A yang merupakan flens, yang terdiri dari
bagian produk berbentuk silinder dan kerucut terpotong, bagian leher B berflens, dan
bagian keluar C juga berflens, dan terdiri dari kerucut terpotong yang panjang (Flens
= penyambung potongan-potongan pipa).
Pada bagian hulu, pada persambungan antara bagian silinderdan bagian yang
berbentuk kerucut, terdapat ruang annulus D dan beberapa lubang kecil E yang dibor
dari bagian dalam tabung sampai keruang annulus itu. Cincin annulus dan luba-
lubang kecil itu merupakan cincin piezometer (piezometer ring), yang fungsinya ialah
untuk meratakan takenan-tekanan yang disalurkan oleh setiap lubang kecil. Tekanan
rata-rata itu lalu ditrensmisikan melalui sambungan untuk tekanan hulu F.
Pada bagan leher ada lagi sebuat cincin piezometer yang dibentuk dengan
ruang annulus integral G dan pelapis H. Pelapis tersebut dibor puladengan teliti dan
diselesaikan hingga membentuk diameter tertentu, karena ketelitian meteran itu akan
berkurang bilaleher itu tidak dibuat dengan toleransi yang sangat ketat. Tekanan
leher itu lalu ditransisikan melalui penyadap tekanan I. Sebuah manometer atau alat
lain untk mengukur tekanan lalu dipasang lubang sadap F dan I.
Dalam meteran venturi, kecepatan fluida bertambah dan tekanannya berkurang
di dalam kerucut sebelah hulu. Penurunan tekanan di dalam kerucut huulu itu lalu
dimanfaatakan, sebagimana penguraiannya, untuk mengukur laju aliran melalui
instrument itu. Kecepatan fluida kemudian berkurang lagi dan sebgaian besar tekanan
awalnya kembali pulih didalam kerucut sebelah hilir. Agar pemulihan tekanan itu
besar, sudut jerucut hilir C dibuat kecil, sehingga pemisahan lapisan batas dapat
dicegah dan gesekan pun minimum. Oleh karena itu, pada bagian yang
penampangnya mengecil tidak ada pemisahan, maka kerucut hulu dapat dibuat lebih
pendek dari pada kerucut hilir. Gesekannyapun kecil. Dengan demikian ruang dan
bahan pun dapat dihemat. Walaupun meteran venturi dapat digunakan juga untuk
mengukur gas, namun alat ini biasanya digunakan untuk mengukur zat cair, terutama
air, pengolahan dibawah ini tebatas pada fluida inscompressible (Septriani Dwie
Saputri, 2009).
II.10 Aplikasi Bernoulli dalam Kehidupan Sehari-hari
2.10.1 Pesawat Terbang

Gambar 2.6 Gaya Angkat Sayap pada Pesawat Terbang


sumber: ilmuterbang.com

Gaya angkat pesawat terbang bukan karena mesin, tetapi pesawat bisa terbang
karena memanfaatkan hukum bernoulli yang membuat laju aliran udara tepat di
bawah sayap, karena laju aliran di atas lebih besar maka mengakibatkan tekanan di
atas pesawat lebih kecil daripada tekanan pesawat di bawah. Akibatnya terjadi gaya
angkat pesawat dari hasil selisih antara tekanan di atas dan di bawah di kali dengan
luas efektif pesawat (Nurjannah, 2020).
2.10.2 Pompa Hidran

Gambar 2.7 Pompa Hidran


Sumber: appropedia.org
Penerapan Hukum Bernoulli pada sistem perpipaan dalam pompa hidran untu
memenuhi kebutuhan. Dalam penerapan ini membuat air lebih cepat untuk mencapai
titik tertinggi dari sistem perpipaan yang telah dibuat (Fauzi Pohan, Marzuki, et al.,
2021)

2.10.3 Penyemprot Parfum

Gambar 2.8 Hukum Bernoulli Pada Parfum


Sumber: agiet27.wordpress.com

Prinsip kerja yang dilakukan dengan menghasilkan laju yang lebih besar pada
ujung atas selang botol sehingga membuat tekanan di atas lebih kecil daripada
tekanan di bawah. Akibatnya cairan dalam wadah tersebut terdesak ke atas selang
dan lama kelamaan akan menyembur keluar (Nurjannah, 2020).
2.10.4 Kapal Layar

Gambar 2.9 Hukum Bernoulli pada Kapal Layar


Sumber: www.quipper.com
Hukum Bernoulli menjelaskan tentang konsep dasar aliran fluida (zat cair dan
gas) bahwa peningkatan kecepatan pada suatu aliran zat cair atau gas, akan
mengakibatkan penurunan tekanan pada zat cair atau gas tersebut. Artinya, akan
terdapat penurunan energi potensial pada aliran fluida tersebut. Adapun berkaitan
dengan hukum Bernoulli, suatu fluida dikatakan mempunyai peningkatan kecepatan,
jika fluida tersebut mengalir dari suatu bagian dengan tekanan tinggi menuju bagian
lainnya yang bertekanan rendah. Sedangkan suatu fluida dikatakan mempunyai
penurunan kecepatan, jika fluida tersebut mengalir dari suatu bagian bertekanan
rendah, menuju bagian lain bertekanan tinggi (Hasil et al., 2017).

2.10.5 Pipa Venturimeter

Gambar 2.10 Pipa venturimeter


Sumber: www.kolambali.com
Laju aliran dapat dihitung dengan melihat ketinggian pada pipa atau perbedaan
tekanan pada pipa sesuai dengan ukurannya. Pipa dengan diameter yang besar
mempunyai tekanan yang lebih besar dibandingkan pipa yang mempunyai diameter
kecil. Penerapan asas Bernoulli dibuktikan dengan menggunakan alat tabung
venturimeter, baik yang menggunakan manometer maupun tanpa manometer.
Tabung venturimeter digunakan untuk mengetahui kelajuan fluida pada pipa dengan
diameter yang berbeda yang dapat dihitung dengan melihat ketinggian air pada pipa
kapiler. terutama dalam menghitung kecepatan aliran fluida pada pipa, maka
dilakukan percobaan dengan tujuan Untuk mengetahui hubungan antara luas
penampang, kecepatan aliran air dan ketingian air pada pipa kapiler serta untuk
mengetahui prinsip dasar hukum Bernoulli dan penerapannya dalam rangkaian
sederhana (Dhiqfaini Sultan et al, 2020).

Anda mungkin juga menyukai