Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perubahan merupakan sesuatu yang harus terjadi pada bidang pendidikan.
Perubahan yang terjadi adalah pergantian Kurikulum 2013 dari Kurikulum
sebelumnya. Dalam rangka menerapkan pendidikan yang bermutu, pemerintah
telah menetapkan Kurikulum Tahun 2013 untuk diterapkan pada
Sekolah/Madrasah, yang juga bisa disebut dengan pembelajaran saintifik.
Penerapan kurikulum ini tentu dilakukan secara bertahap. Ada banyak komponen
yang melekat pada Kurikulum Tahun 2013 ini. Hal yang paling menonjol adalah
pendekatan dan strategi pembelajarannya. Guru masih memahami dan
menerapkan pendekatan dan strategi pembelajaran Kurikulum sebelumnya. Hal
ini perlu ada perubahan mindset dari metodologi pembelajaran pola lama menuju
pada metodologi pembelajaran pola baru sesuai dengan yang diterapkan pada
Kurikulum Tahun 2013.
Keprihatinan akan masa depan bumi membawa perhatian sebagian besar
negara-negara maju maupun berkembang untuk lebih peduli menyelamatkan bumi
dari kerusakan, polusi, menipisnya ozon, efek rumah kaca, berkurangnya deposit
bahan tambang organik, dan banyak hal lain tentang kecemasan terhadap bumi di
masa datang. Rumor one earth for all seringkali didengungkan dalam lokakarya,
semiloka, dan sejenisnya baik tingkat nasional, regional maupun internasional.
Indikasi tersebut diikuti dengan antisipasi penyampaian warta yang terjadi dan
pencegahan-pencegahan, salah satunya melalui cara pendidikan berwawasan
SETS.
Penerapan sains sangat banyak ditemukan dalam produk-produk teknologi.
Bisa jadi sebaliknya, sains ditemukan dari munculnya produk-produk teknologi.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sains dalam konteks
teknologi dan rancang bangun sangat potensial meningkatkan literasi sains. Siswa
dapat memaknai lebih dalam arti penting sains bagi perkembangan teknologi, dan
sebaliknya. STEM (Sience, technology, engineering and mathematics) education

1
2

saat ini menjadi alternative pembelajaran sains yang dapat membangun generasi
yang mampu menghadapi abad 21 yang penuh tantangan.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Bagaimanakah konsep dan langkah-langkah pendekatan saintifik?
2. Bagaimanakah konsep dan langkah-langkah pendekatan SETs?
3. Bagaimanakah konsep dan cara penerapan STEM?

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui konsep dan langkah-langkah pendekatan saintifik
2. Untuk mengetahui konsep dan langkah-langkah pendekatan SETs
3. Untuk mengetahui konsep dan cara penerapan STEM
3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Saintifik


2.1.1 Pengertian Pendekatan Saintifik
Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian
rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip
melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan
masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
ditemukan. Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman
kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan
pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak
bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh karena itu, kondisi
pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik
dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui observasi, dan bukan hanya
diberi tahu.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran maelibatkan
keterampilan proses, seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan,
menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut,
bantuan guru diperlukan. Akan tetapi, bantuan guru tersebut harus semakin
berkurang dengan semakin tingginya kelas siswa.
Metode saintifik sangat relevan dengan tiga teori belajar, yaitu teori Bruner,
teori Piaget, dan teori Vygotsky. Teori belajar Bruner disebut juga teori belajar
penemuan. Ada empat hal poko berkaitan dengan teori belajar Bruner (dalam
Carin & Sund, 1975). Pertama, individu hanya belajar dan mengembangkan
pikirannya apabila ia menggunakan pikirannya. Kedua, dengan melakukan proses-
proses kognitif dalam proses penemuan, siswa akan memperoleh sensasi dan
kepuasan intelektual yang merupakan suatu penghargaan intrinsik. Ketiga, satu-
satunya cara agar seseorang dapat mempelajari teknik-teknik dalam melakukan
penemuan adalah ia memilik kesempatan untuk melakukan penemuan. Keempat,

3
4

dengan melakukan penemuan maka akan memperkuat retensi ingatan. Empat hal
diatas adalah bersesuaian dengan proses
kognitif yang diperluksn dalam pembelajaran menggunakan metode
saintifik.Teori Piaget, menyatakan bahwa belajar berkaitan dengan pembentukan
dan perkembangan skema (jamak skemata). Skema adalah suatu struktur mental
atau struktur kognitif yang dengannya seseorang secara intelektual beradaptasi
dan mengkoordinasi lingkungan sekitarnya (Baldwin, 1967). Skema tidak pernah
berhenti berubah, skemata seorang anak akan berkembang menjadi skemata orang
dewasa. Proses yang menyebabkan terjadinya perubahan skemata disebut dengan
adaptasi. Proses terbentuknya adaptasi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
asimilasi dan akomodasi. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya
seseorang mengintegrasikan stimulus yang dapat berupa persepsi, konsep, hukum,
prinsip ataupun pengalaman baru kedalam skema yang sudah ada didalam
pikirannya. Akomodasi dapat berupa pembentukan skema baru yang dapat cocok
dengan ciri-ciri rangsangan yang ada atau memodifikasi skema yang telah ada
sehingga cocok dengan ciri-ciri stimulus yang ada. Dalam pembelajaran
diperlukan adanya penyeimbangan atau ekuilibrasi atara asimilsi dan akomodasi.
Vygotsky, dalam teorinya menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila
peserta didik bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari
namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuan atau tugas itu
berada dalam zone of proximal develoment daerah terletak antara tingkat
perkembangan anak saat ini yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan
masalah dibawah bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu
(Nur dan Wikandari, 2000: 4).

2.1.2 Karakteristik Pembelajaran Saintifik


Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut.
1. Berpusat pada siswa.
2. Melibatkan keterampilan proses sains dalam mengkonstruksi konsep, hukum
atau prinsip.
3. Melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang
perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
5

4. Dapat mengembangkan karakter siswa.

2.1.3 Tujuan Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik


Tujuan pembelajaran dengan pendekatan saintifik didasarkan pada
keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan
pendekatan saintifik adalah sebagai berikut.
1. Untuk meningkatkan kemampuan intelek, khususnya kemampuan berpikir
tingkat tinggi siswa.
2. Untuk membentuk kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah
secara sistematik.
3. Terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu
merupakan suatu kebutuhan.
4. Diperolehnya hasil belajar yang tinggi.
5. Untuk melatih siswa dalam mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam
menulis artikel ilmiah.
6. Untuk mengembangkan karakter siswa.

2.1.4 Prinsip-Prinsip Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik


Beberapa prinsip pendekatan saintifik dalam kegiatan pembelajaran adalah
sebagai berikut.
1. Pembelajaran berpusat pada siswa
2. Pembelajaran membentuk student self concept.
3. Pembelajaran terhindar dari verbalisme.
4. Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan
mengakomodasi konsep, hukum, dan prinsip
5. Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa.
6. Pembelajaran meningkatkan motivaasi belajar siswa dan motivasi mengajar
guru.
7. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih kemampuan dalam
komunikasi.
8. Adanya proses validasi terhadap konsep, hukum, dan prinsip yang
dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.
6

2.1.5 Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Pendekatan Saintifik


Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam proses
pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Meliputi : menggali informasi
melalui observimg/pengamatan, questioning/bertanya, experimenting/percobaan,
kemudian mengolah data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis,
associating/menalar, kemudian menyimpulkan, dan menciptakan serta
membentuk jaringan/networking. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi
tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan
secara prosedural. Pada kondisi, seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus
tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau
sifat-sfat non-ilmiah. Pendekatan saintifik dalam pembelajaran disajikan sebagai
berikut:
a) Mengamati (observasi)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran
(meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti
menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan
mudah pelaksanaannya. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi
pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran
memiliki kebermaknaan yang tinggi. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran
sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A/2013, hendaklah
guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk
melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan
membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan,
melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal
yang penting dari suatu benda atau objek. Adapun kompetensi yang diharapkan
adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi.
b) Menanya
Dalam kegiatan menanya, guru membuka kesempatan secara luas kepada
peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca
atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan
pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit
7

sampai kepada yang abstra berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun
hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada
pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari
guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai
ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara
mandiri. Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan
bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam
bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan
terebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam
dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari
sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam. Kegiatan menanya
dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud
Nomor 81a Tahun 2013, adalah mengajukan pertanyaan tentang informasi
yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan
informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual
sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi yang
diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin
tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis
yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
c) Mengumpulkan Informasi
Kegiatan mengumpulkan informasi merupakan tindak lanjut dari
bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan
informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik
dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek
yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut
terkumpul sejumlah informasi. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013,
aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca
sumber lain selain buku teks, mengamati objek/ kejadian/, aktivitas wawancara
dengan nara sumber dan sebagainya.
Adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap
teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan
8

berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui


berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar
sepanjang hayat.
d) Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/Menalar
Kegiatan mengasosiasi/ mengolah informasi/ menalar dalam kegiatan
pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a
Tahun 2013, adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik
terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari
kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. Pengolahan
informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan
kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi
dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada
yang bertentangan. Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu
informasi dengan informasi lainya, menemukan pola dari keterkaitan informasi
tersebut.
Adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap
jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur
dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.
Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu proses berfikir
yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk
memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Aktivitas menalar dalam konteks
pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk
pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam
pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan
mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi
penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa khusus ke otak,
pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain. Pengalaman-
pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi
dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia.
e) Menarik kesimpulan
Kegiatan menyimpulkan dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik
merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau informasi. Setelah
9

menemukan keterkaitan antar informasi dan menemukan berbagai pola dari


keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bersama-sama dalam satu kesatuan
kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.
f) Mengkomunikasikan
Pada pendekatan scientific guru diharapkan memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari.
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa yang
ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan
menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru
sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.
Kegiatan mengkomunikasikan dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana
disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah
menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara
lisan, tertulis, atau media lainnya. Adapun kompetensi yang diharapkan dalam
kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan
berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan
mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Pada setiap aplikasi kurikulum mempunyai aplikasi pendekatan
pembelajaran berbeda-beda, demikian pada kurikulum sekarang ini. Scientific
approach (pendekatan ilmiah)adalah pendekatan pembelajaran yang diterapkan
pada aplikasi pembelajaran Kurikulum 2013. Pendekatan ini berbeda dari
pendekatan pembelajaran kurikulum sebelumnya. Pada setiap langkah inti
proses pembelajaran, guru akan melakukan langkah-langkah pembelajaran
sesuai dengan pendekatan ilmiah.
Pendekatan ilmiah/scientific approach mempunyai kriteria proses
pembelajaran sebagai berikut.
a. Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat
dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas hanya kira-
kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
b. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas
dari prasangka yang serta-mert, pemikiran subjektif, atau penalaran yang
menyimpang dari alur berpikir logis.
10

c. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan


tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan
mengaplikasikan materi pembelajaran.
d. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam
melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi
pembelajaran.
e. Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan
mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespons
materi pembelajaran.
f. Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggung
jawabkan.
g. Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun
menarik sistem penyajiannya.
Sedangkan proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu
attitude/sikap, knowledge/pengetahuan, dan skill/keterampilan (disingkat KSA
= knowledge, skill, dan attitude).
a. Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta
didik tahu mengapa.
b. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik tahu bagaimana.
c. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik tahu apa.
d. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan anatar kemampuan
untuk menjadi manusia yang lebih baik (soft skill) dan manusia yang
memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skill)
dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
e. Hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan
afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
terintegrasi.
11

2.2 Pendekatan Sciences Environment Technology and Society (SETS)


2.2.1 Konsep Pendekatan SETS
Pendekatan Science, Environment, Technology, Society (SETS) dalam
bahasa Indonesia lebih dikenal sebagai Sains, Lingkungan, Teknologi dan
Masyarakat (Salingtemas). Pendekatan SETS menurut the NSTA Position
Statement 1990 (dalam Kuswati, 2004:11) merupakan pemusatan permasalahan
dari dunia nyata yang memiliki komponen Sains dan Teknologi dari perspektif
siswa, di dalamnya terdapat konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak
untuk menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada
situasi yang nyata.
Pendekatan SETS/ Salingtemas diambil dari konsep pendidikan STM
(Sains, Teknologi, dan Masyarakat), Pendidikan lingkungan (Environmental
Education/EE), dan STL (Science, Technology, Literacy). Dalam pendekatan
Salingtemas atau SETS (Science, Environmental, Technology and Society) konsep
pendidikan STM atau STL dan EE dipandang sebagai satu kesatuan yang tidak
bisa dipisahkan (Depdiknas, 2002:5).

Gambar 1. Hubungan timbal-balik unsur-unsurpendekatan SETS

Model pembelajaran SETS berupaya memberikan pemahaman tentang


peranan lingkungan terhadap sains, teknologi, masyarakat. Hubungan yang tidak
12

terpisahkan antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat merupakan


hubungan timbal balik dua arah yang dapat dikaji manfaat-manfaat maupun
kerugian-kerugian yang dihasilkan. Pada akhirnya peserta didik mampu
menjawab dan mengatasi setiap problem yang berkaitan dengan kekayaan bumi
maupun isu-isu sosial serta isu-isu global, hingga pada akhirnya bermuara
menyelamatkan bumi. Pendekatan Salingtemas/ SETS siswa dikondisikan agar
mau dan mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi
diikuti dengan pemikiran untuk mengurangi atau mencegah kemungkinan dampak
negatif yang mungkin timbul dari munculnya produk teknologi ini terhadap
lingkungan dan masyarakat (Depdiknas,2002:5).
Pendidikan SETS dapat mengantisipasi beberapa hal pokok dalam
membekali peserta didik, diantaranya :
a) Menghindari materi oriented dalam pendidikan tanpa tahu masalah-masalah
di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.
b) Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era
globalisasi.
c) Peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap masalah yang berkaitan
dengan kelestarian bumi, isu-isu sosial, isu-isu global, misalnya masalah
pencemaran, pengangguran, kerusuhan sosial, dampak hasil teknologi dan
lain-lainnya hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi.
d) Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah-masalah
dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi, sosial secara integral, baik di
dalam maupun di luar kelas. (Pristiadi,2008).

2.2.2 Tujuan Pendekatan SETS


Tujuan utama pendidikan dengan Pendekatan SETS adalah mempersiapkan
peserta didik menjadi warga negara dan warga masyarakat yang memiliki suatu
kemampuan dan kesadaran untuk:
a) Menyelidiki, menganalisis, memahami dan menerapkan konsep-
konsep/prinsip-prinsip dan proses sains dan teknologi pada situasi nyata.
b) Melakukan perubahan.
13

c) Membuat keputusan-keputusan yang tepat dan mendasar tentang isu/masalah-


masalah yang sedang dihadapi yang memiliki komponen sain dan teknologi.
d) Merencanakan kegiatan-kegiatan baik secara individu maupun kelompok
dalam rangka pengambilan tindakan dan pemecahan isu-isu atau masalah-
masalah yang sedang dihadapi.
e) Bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan dan tindakannya.
f) Mempersiapkan peserta didik untuk menggunakan sain bagi pengembangan
hidup dan mengikuti perkembangan dunia teknologi.
g) Mengajar para peserta didik untuk mengambil tanggung jawab dengan isu-isu
lingkungan, teknologi, atau masyarakat.
h) Mengidentifikasi pengetahuan fundamental sehingga peserta didik secara
tuntas memperoleh kepandaian dengan isu-isu SETS.

2.2.3 Tahapan-tahapan Pendekatan SETS


Tahap-tahap pelaksanaan pembelajaran berbasis SETS adalah :
a) Inisiasi: pendahuluan pembelajaran SETS dengan mengangkat dan
mendiskusikan isu atau masalah.
b) Penetapan kompetensi sains: mengumpulkan kompetensi sains yang
diperlukan untuk lebih memahami dan memecahkan masalah yang dihadapi.
c) Dekontekstualisasi: pemisahan konsep dan prinsip sains (yang perlu dicapai
kompetensinya) dari konteks isu atau masalah yang diangkat.
d) Pembelajaran konsep dan prinsip sains: pemantapan penguasaan konsep dan
prinsip sains, melalui metode pembelajaran yang sesuai.
e) Penerapan: menerapkan konsep dan prinsip sains pada isu atau masalah.
f) Integrasi: membangun keterkaitan antar konsep dan prinsip sains, serta antar
konsep/prinsip tersebut dengan spektrum terapannya dalam kehidupan.
g) Perangkuman: merangkum kompetensi yang seharusnya telah dimiliki peserta
didik, termasuk kemampuan menerapkannya pada kasus tertentu.

2.2.4 Implikasi Pendekatan SETS


Implikasi terkait dengan penerapan model pembelajaran bervisi dan
berpendekatan SETS adalah:
14

a) Diperlukan penurunan silabus mata pelajaran berdasarkan standar isi dan


kompetensi yang bervisi dan berpendekatan SETS.
b) Diperlukan pengembangan perencanaan pembelajaran subjeknya yang bervisi
dan berpendekatan SETS.
c) Diperlukan pengembangan atau penyediaan bahan pembelajaran yang bervisi
dan berpendekatan SETS.
d) Diperlukan pengembangan instrumen evaluasi bervisi dan berpendekatan
SETS untuk pembelajaran topik pada subyek yang diperkenalkan.

2.2.5 Ciri Pembelajaran dengan Pendekatan SETS


Dalam hal penerapan pada pembelajaran sains ciri-ciri tersebut di antaranya
adalah:
a) Tetap memberi pengajaran dan pembelajaran sains.
b) Peserta didik dibawa kedalam situasi yang memanfaatkan konsep sains
kedalam bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.
c) Peserta didik diminta untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan akibat
yang terjadi dalam proses pentransferan sains tersebut ke bentuk teknologi.
d) Peserta didik diminta untuk menjelaskan keterkaitan antara unsur sains
dengan unsur-unsur lain dalam SETS yang mempengaruhi berbagai
keterkaitan antar unsur tersebut.
e) Peserta didik dibawa untuk mempertimbangkan manfaat atau kerugian
penggunaan konsep sains tersebut bila diubah dalam bentuk teknologi yang
bersesuaian.
f) Peserta didik dapat diajak berpikir, misalnya tentang pengaruh lingkungan
atau masyarakat terhadap pengembangan sains maupun teknologi tertentu,
yang masih berkaitan dengan konsep sains yang dibelajarkan.
g) Dalam konteks konstruktivisme, peserta didik dapat diajak mendiskusikan
SETS dari berbagai macam arah dandari berbagai macam titik awal
tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik bersangkutan.
15

2.2.6 Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan SETS


a) Keunggulan diterapkan pendekatan SETS
Adapun kelebihan SETS adalah :
1) Siswa memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegrasi
dengan memperhatikan keempat unsur SETS, sehingga dapat
memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pengetahuan
yang telah dimiliki.
2) Melatih siswa peka terhadap masalah yang sedang berkembang di
lingkungan mereka.
3) Siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem
kehidupan dengan mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana
perkembangan sains dapat mempengaruhi lingkungan, teknologi dan
masyarakat secara timbal balik.
b) Kelemahan diterapkan pendekatan SETS
Kekurangan SETS antara lain :
1) Siswa mengalami kesulitan dalam manghubungkaitkan antar unsur-
unsur dalam pembelajaran.
2) Membutuhkan waktu yang lebih banyak dalam pembelajaran.

2.3 Pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering and Mathematics)


2.3.1 Pengertian STEM
STEM merupakan singkatan dari sebuah pendekatan pembelajaran
interdisiplin antara Science, Technology, Engineering and Mathematics.
Torlakson (2014) menyatakan bahwa pendekatan dari keempat aspek ini
merupakan pasangan yang serasi antara masalah yang terjadi di dunia nyata dan
juga pembelajaran berbasis masalah. Pendekatan ini mampu menciptakan sebuah
sistem pembelajaran secara kohesif dan pembelajaran aktif karena keempat aspek
dibutuhkan secara bersamaan untuk menyelesaikan masalah. Solusi yang
diberikan menunjukkan bahwa peserta didik mampu untuk menyatukan konsep
abstrak dari setiap aspek.
Menurut NRC (2014) dalam Suwarni, dkk (2016) definisi masing-masing 4
disiplin STEM dan perannya antara lain:
16

1. Science atau sains merupakan tubuh pengetahuan yang telah terakumulasi


dari waktu ke waktu dari sebuah pemeriksaan ilmiah yang menghasilkan
pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan dari sains berperan
menginformasikan proses rancangan teknik.
2. Technology atau teknologi merupakan keseluruhan sistem dari orang dan
organisasi, pengetahuan, proses dan perangkat-perangkat yang kemudian
menciptakan benda dan mengoperasikannya. Manusia telah menciptakan
teknologi untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya. Banyak
teknologi modern ialah produk dari sains dan teknik.
3. Engineering atau teknik merupakan tubuh pengetahuan tentang desain dan
penciptaan benda buatan manusia dan sebuah proses untuk memecahkan
masalah. Teknik memanfaatkan konsep dalam sains, matematika dan alat-
alat teknologi.
4. Mathematics atau matematika merupakan studi tentang pola dan hubungan
antara jumlah, angka, dan ruang. Matematika dignakan dalam sains,
teknik, dan teknologi.
Berdasarkan pengertian dari 4 disiplin aspek tersebut dapat disimpulkan
bahwa STEM adalah suatu pembelajaran yang menggunakan sains, teknologi,
teknik, dan matematika untuk mengembangkan kreativitas siswa melalui proses
pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

2.3.2 Tujuan Pendidikan STEM


Tujuan dari pendidikan STEM antara lain:
1. Memastikan STEM berkemampuan. Tujuan ini berusaha untuk menumbuhkan
warga untuk memiliki pengetahuan, pemahaman konseptual, dan keterampilan
berpikir kritis yang datang dari mempelajari STEM. Hal ini penting bagi
mereka yang tidak pernah terkait langsung dengan karir pendidikan STEM.
2. Membangun tenaga kerja STEM ditingkat mahir. Tujuan ini berusaha untuk
mempersiapkan jumlah pekerja yang cukup untuk lowongan kerja di karir
pendidikan STEM terkait yang diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun
mendatang. Selain itu, keterampilan pendidikan STEM saling terkait dan saling
17

relevan dalam bidang pekerjaan meskipun tidak selalu terkai langsung dengan
STEM mata pelajaran.
3. Menumbuhkan alhi STEM masa depan. Tujuan ini dimaksudkan untuk
mendidik para ahli STEM terbaik terbaik di dunia karena mereka berkontribusi
untuk pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, pemahaman tentang diri kita
sendiri dan alam semesta, dan untuk memerangi dan pengurangan kelaparan,
penyakit, dan kemiskinan.
4. Mencapai prestasi dan partisipasi dan mempersempit kesenjangan pendidikan.
Tujuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan perempuan dan peran serta
kelompok minoritas dan menumbuhkan minat dalam bidang STEM untuk
menyerap potensi penuh semua warga negara.

2.3.3 Pentingnya Pendidikan STEM


STEM menjadi isu penting dalam pendidikan saat ini pendidikan yang tidak
memadai dalam mateatika an sains telah menyebabkan kekurangan tenaga kerja
berkualitas, sehingga mengakibatkan kesenjangan dibidang industri global
(Cooney & Bottoms, 2003). Meningkatnya jumlah pekerjaan di berbagai sektor
ekonomi, sains dan teknik menyebabkan kebutuhan latar belakang pendidikan
dalam bidang STEM. Para pengusaha juga membutuhkan tenaga kerja yang
fleksibel yang dapat menerapkan pengetahuan untuk memecahkan masalah
praktis.
Pendidikan STEM memiliki banyak potensi manfaat bagi individu dan
bangsa secara keseluruhan. Salah satu manfaatnya yaitu untuk kesejahteraan
pribadi setiap warga negara dan untuk daya saing bangsa dalam al ekonomi
global. Dari berbagai penelitian, Agustine menjelaskan bahwa antara 50% sampai
80% pertumbuhan produk di U.S. dalam 50 tahun terakhir merupakan kemajuan
dari ilmu pengetahuan dan teknk.
18

2.3.4 Cara Menerapkan Pendidikan STEM


Roberts dan Cantu (2012) mengembangkan 3 pendekatan pembelajaran
STEM yaitu:
1. Pendekatan SILO (terpisah)
Pendekatan silo merupakan pendidikan STEM yang mengacu pada
pembelajaran yang terpisah-pisah dalam subjek STEM. Penekanan
pembelajaran yaitu pada perolehan pengetahuan dibandingkan dengan
kemmpuan teknis. Pembelajaran yang padat pada masing-masing subjek
memungkinka sisa untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam. Tujuan
pendekatan silo adalah utuk meningkatkan pengetahuan yang menghasilkan
penilaian.

Technology
Science and
Engineering

Mathematics

Gambar 2.3.3.1 Pendekatan silo


Kelemahan dari pendekatan ini antara lain:
1. Pembelajaran silo memiliki kecenderungan untuk mengurangi manfaat
belajar STEM yang diharapkan karena kemungkinan adanya kurang
ketertarikan siswa terhadap salah satu bidang STEM. Contohnya menurut
hasil penelitian bahwa perempuan kurang tertarik untuk berpartisipasi dalam
bidang teknik, misalnya teknik sipil, teknik mesin, atau teknik elektro.
2. Tanpa praktek siswa mungki gagal untuk memahami integrasi yang terjadi
secara alami antara pelajaran STEM di dunia nyata, sehingga dapat
menghambat pertumbuhan akademik siswa. Hal itu terjadi karena
pendekatan silo menyebabkan guru untuk mengandalkan metodologi
berbasis ceramah daripada praktek. Padahal hasil penelitian menunjukkan
bahwa kegiatan praktek lebih diinginkan siswa dalam belajar.
19

3. Fokus dari pembelajaran dalam pendekatan silo ialah konten materi. Hal ini
dapat membasi semjumlah stimulasi lintas kurikuler dan pemahaman siswa
dari penerapan apa yang harus mereka pelajari.
2. Pendekatan Tertanam
Pembelajaran STEM secara tertanam secara luas dapat didefinisikan
sebagai pendekatan pendidian dimana domain pengetahuan diperoleh melalui
penekanan pada situasi dunia nyata dan teknik memecahkan masalah dalam
konteks sosial, budaya, dan fungsional.
Dalam pendekatan tertanam, salah satu konten/materi lebih diutamakan,
sehingga mempertahankan integritas dari subjek. Pendekatan tertanam berbeda
dari pendekatan silo dalam hal bahwa pendekatan tertanam meningkatkan
pembelajaran dengan menghubungkan materi utama dengan materi lain yang
tidak diutamakan atau materi yang tertanam. Tetapi bidang yang tidak
diutamakan tersebut dirancang untuk tidak ievaluasi atau dinilai.

SCIENCE
Technology and
Engineering
Mathematics

Gambar 2.3.3.2 Pendekatan Tertanam


Kelemahan dalam pendekatan tertanam yaitu dapat mengakibatkan
pembelajaran terpotong-potong. Jika seorang siswa tidak bisa mengaitkan
konten tertanam dalam konten utama, siswa beresiko hanya belajar sebagian
pelajaran daripada manfaat dari pelajaran secara keseluruhan. Selain itu,
penting untuk memastikan komponen yang tertanam sudah siswa pelajari
sebelumnya apada tingkat kela yang sesuai. Jika guru harus berhenti dan
mengajar atau meremediasi siswa pada pengetahuan yang tertanam, proses
belajar siswa dapat terhganggu.
3. Pendekatan Integrasi (terpadu)
Pendekatan terpadu diharapkan dapat meningkatkan minat pada bidang
STEM, terutama jika dimulai sejak siswa masih muda. Pendekatan terpadu
20

menghubungkan materi dari berbagai bidang STEM yang diajarkan ke kelas


yang berbeda dan pada waktu yang berbeda dan menggabungkan konten lintas
kulikuler dengan keterampilan berpikir kritis, keterampilan memecahkan
masalah, dan pengetahuan untuk mencapai suatu kesimpulan. Pendekatan
terpadu adalah pendekatan yang terbaik untuk pembelajaran STEM.

Gambar 2.3.3.3 Pendekatan Terpadu

2.4 Analisis Video


Berdasarkan video yang telah kami liat, dapat dianalisis bahwa:
1. Dalam kegiatan inti (menanya), pertanyaan yang telah dibuat siswa tidak
dilanjutkan untuk dijawab sehingga siswa bisa mengalami kebingungan dalam
proses pembelajaran.
2. Dalam kegiatan inti (mengumpulkan informasi), guru masih belum memberi
tahu siswa cara memegang termometer yang benar.
3. Dalam kegitan penutup, guru belum melakukan kesimpulan bersama siswa
namun langsung melakukan refleksi.
21

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas, dapat disimpulkan
bahwa:
1. Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian
rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk konsep, hukum atau prinsip
melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan
masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
ditemukan.
2. Pendekatan SETS merupakan pemusatan permasalahan dari dunia nyata yang
memiliki komponen Sains dan Teknologi dari perspektif siswa, di dalamnya
terdapat konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak untuk
menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada
situasi yang nyata. Tahap-tahap pendekatan SETs antara lain inisiasi,
penetapan kompetensi sains, dekontekstualisasi, pembelajaran konsep dan
prinsip sains, pembelajaran konsep dan prinsip sains, penerapan, integrasi, dan
perangkuman.
3. STEM adalah suatu pembelajaran yang menggunakan sains, teknologi, teknik,
dan matematika untuk mengembangkan kreativitas siswa melalui proses
pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Cara menerapkan STEm ada
3 pendekatan, yaitu pendekatan silo (terpisah), pendekatan embedded
(tertanam), dan pendekatan terpadu.

21
22

DAFTAR RUJUKAN
Anonim. 2012. Kelebihan-kekurangan dan Langkah Pendekatan
SETS. http://m4y-a5a.blogspot.com/2012/10/kelebihan-kekurangan-dan-
langkah.html.chitika_close_butto diakses 28 September 2013 pukul 14.15
WIB.
Depdiknas. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kegiatan Belajar Mengajar.
Jakarta:Pusat Kurikulum Balitbang
Hapsari, Hana. 2010. Model pembelajaran paikem dan pendekatan sets.
Http://hana-spirit.blogspot.com/2013/01/model-pembelajaran-paikem-
dan.html. Diakses pada 28 september 2013 pukul 14.13 WIB.
Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad
21. Jakarta: Ghalia Indonesia
Imas Kurniasih & Berlin Sani. 2014. Impelementasi Kurikulum 2013: Konsep &
Penerapan. Surabaya: Kata Pena
Kuswati, S. 2004. Pendidikan Sains dan Teknologi Masyarakat dan Peningkatan
Pemahaman Siswa terhadap Pokok Bahasan Lingkungan. Skripsi,
Universitas Negeri Malang, Malang
Poedjiadi. 1994. Mewujudkan Literasi Sains dan Teknologi Melalui Pendidikan
Disampaikan pada Seminar FPMIPA IKIP Bandung. (online)
http://www.duniaguru.com/index.php?option=com_content&task=view&id
=85&Itemid=26.. diakses tanggal: 5 Maret 2012
Pristiadi, Utomo. 2008. Pembelajaran Fisika dengan Pedekatan
SETS. http://ilmuwanmuda.wordpress.com/pembelajaran-fisika-dengan-
pendekatan-sets/ Diakses pada 26 september pada 19.34 WIB
Senjaya, Wina. (2007), Strategi Pembelajaran, Jakarta : Kencana Prenada Media
Group.
Torlakson. T, 2014. Innovate: A Blueprint For Science, Technology, Engineering,
and Mathematics in California Public Education. California: State
Superintendent of Public Instruction
Winarni, J., Siti Z., Supriyono, K.H. 2016. STEM: Apa, Mengapa, dan
Bagaimana. Prosiding Seminar Nasional IPA Pascasarjana UM, vol 1
Zoetriani. 2015. Makalah Model Pembelajaran Pendekatan. Online:
http://zoetrianiphysics.blogspot.co.id/2015/06/makalah-model-
pembelajaran-pendekatan.html. Diakses 2 Oktober 2017 pukul 18.31

22