*
*
• Pengertian
Leaching merupakan proses pemisahan suatu komponen di dalam
padatan dengan cara mengontakkan padatan tersebut dengan cairan
pelarut
Proses leaching terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Proses perubahan fasa dari solute saat terlarut ke dalam pelarut
(padat-cair)
2. Difusi dari solute melalui pelarut dalam padatan, yang keluar melalui
pori-pori padatan
3. Perpindahan solute dari larutan/pelarut dalam kontaknya dengan
partikel ke larutan utama.
*Effisiensi leaching adalah perbandingan jumlah solute yang
terambil oleh pelarut dengan jumlah solute dalam solid mula-
mula.
*Sehingga dapat ditulis :
(jumlah solute dalam solvent)
Eff Leaching = × 100%
(jumlah solute dalam solid awal)
* Prinsip kerja Ekstraksi Padat-Cair
Jika suatu komponen dari suatu campuran merupakan padatan yang
sangat larut dalam pelarut tertentu,dan komponen yang lain secara khusus
tidak larut, maka di ikuti dengan proses penyaringan. Akan tetapi apabila
komponen sangat lambat, maka perlu dilakukan pemisahan dengan ektraksi.
Prinsip dasar dari ekstraksi pelarut ini adalah distribusi zat terlarut kedalam
pelarut yang bercampur.
* Mekanisme reaksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi
Untuk mencapai unjuk kerja atau kecepatan ekstraksi yang tinggi pada
ekstraksi padat-cair, syarat-syarat beikut harus dipenuhi :
1.Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fasa
padat dan fasa cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan yang
seluas mungkin.
2.Kecepatan alir pelarut sedapat mungkin besar dibandingkan dengan laju
alir bahan ekstraksi.
3.Suhu yang lebih tinggi.
*Leaching merupakan proses pemisahan suatu komponen
di dalam padatan dengan cara mengontakkan padatan
tersebut dengan cairan pelarut.
*Merupakan salah satu proses tertua dalam indutri kimia
*Mempunyai banyak nama bergantung kepada teknik
yang digunakan: lixiviation, decoction, elution
*Disebut juga liquid-solid leaching atau leaching atau
extraction
*Dalam leaching, jika komponen yang tak diinginkan
yang dipisahkan dari padatan, proses tersebut disebut
washing
*
*Bidang metalurgi merupakan aplikasi
terbanyak leaching
*Dipakai untuk memisahkan mineral dari bijih
dan batuan (pelarut asam membuat garam
logam terlarut):
*Cu dengan H2SO4 atau NH3
*Co & Ni dengan campuran
H2SO4-NH3-O2
*Au dengan HCN
*
*Pabrik gula: saat memisahkan gula dari bit (air
sebagai pelarut)
*Industri minyak goreng: untuk memisahkan
minyak dari kedelai, kacang, biji matahari, biji
kapas, dll. (pelarut heksana, aseton, eter, atau
organik sejenis)
*Industri farmasi: mengambil kandungan obat dari
daun, akar, dan batang
*Konsep dasar leaching juga dipakai pada
keseharian kita. Misalnya: erosi unsur hara oleh
air hujan, mencuci baju, saat kita menyeduh teh
atau kopi di pagi hari.
*
* Brewing tea
* Percolating coffee
* Spices and herbs
* Diffusion of the solute out of the solid and into the liquid
solvent is mostly the controlling step.
* Principle of separation: preferential solubility
* Created or added phase: liquid
* Separating agent: liquid solvent
*
*
*Leaching bisa dilakukan dengan sistem batch,
semibatch, atau continuous
*Biasanya dilakukan pada suhu tinggi untuk
meningkatkan kelarutan solute di dalam
pelarut
*Perhitungan melibatkan 3 komponen
(padatan, pelarut, solute)
*Aliran countercurrent atau crosscurrent
*
*Umpan berupa padatan terdiri dari: bahan
pembawa tak larut (inert) dan senyawa
dapat-larut (solute, biasanya yang diinginkan)
*Bahan yang diinginkan akan larut dan keluar
dari unit leaching sebagai overflow.
*Padatan keluar sebagai underflow (slury),
yang biasanya basah, sehingga campuran
pelarut/solute terbawa juga
*Persentasi solute yang dapat dipisahkan dari
padatan basah/kering disebut rendemen
*
*Bahan Organik dan Inorganik
* Bergantung pada kontak pelarut dengan solute
* Memperkecil padatan memperluas permukaan kontak
(grinding)
*Bahan Nabati dan Hewani
* Solute berada dalam sel tidak mungkin memecah hingga
ukuran sel
* Cukup membelah hingga pelarut mudah mendorong solute
dan dinding sel menahan albumin dan koloid lain yang tidak
diinginkan
* Mengeringkan dedaunan dapat menghancurkan dinding sel
sehingga minyak nabati dapat terakses oleh pelarut
*
1. Ukuran partikel
* Ukuran partikel yang lebih kecil akan memperbesar luas permukaan kontak
antara partikel dengan liquid, sehingga akan memperbesar laju perpindahan
massa, selain itu juga akan memperkecil jarak difusi. Tetapi partikel yang sangat
halus tidak efektif bila sirkulasi proses tidak di jalankan, di samping itu juga
akan mempersulit pembuangan ampas padat. Jadi harus ada range tertentu
untuk ukuran partikel, di mana partikel harus cukup kecil agar tiap partikel
mempunyai waktu ekstraksi yang sama. Partikel yang terlalu kecil akan
menyulitkan dalam aliran pembuangan.
2. Pelarut
* Pelarut harus memilih yang baik maka tidak akan merusak solute atau residu
pelarut, viskositasnya tidak tinggi (kental) agar sirkulasi bebas dapat terjadi.
3. Suhu operasi
* Umumnya kelarutan suatu solut yang akan di ekstrak akan bertambah jika
suhunya juga semakin tinggi dan akan memperbesar difusi sehingga naiknya suhu
akan menaikkan kecepatan ekstraksi. Tetapi suhu tidak boleh terlalu tinggi
karena akan menyebabkan bahan yang diproses rusak.
4. Pengadukan
* Dengan adanya pengadukan, dapat menaikkan difusi, kecepatan perpindahan
massa dari permukaan partikel ke dalam larutan dan mencegah pengendapan.
APLIKASI LEACHING DI PABRIK TAMBANG EMAS PT. AGINCOURT
RESOURCES MARTABE, KECAMATAN BATANG TORU-TAPANULI SELATAN
*
Umumnya terdapat 5 langkah proses perpindahan
massa dalam leaching:
1. Pelarut berpindah dari fasa curah larutan (bulk
solution) ke permukaan padatan
2. Pelarut berpenetrasi atau berdifusi ke dalam
padatan (intraparticle diffusion).
3. Solute melarut dari padatan ke dalam pelarut.
4. Solute berdifusi melalui campuran ke permukaan
padatan (intraparticle diffusion).
5. Solute berpindah ke fasa curah larutan.
*
*Langkah 1 biasanya berlangsung cepat.
*Umumnya yang menjadi controlling rate process
adalah intraparticle diffusion atau dissolving step.
*
*Laju perpindahan massa
NA
= k L (c AS − c A )
A
*Akumulasi
Vdc A
= N A = Ak L (c AS − c A )
dt
*Diintegrasikan, diperoleh:
c AS − c A −( k L A / V )t
=e
c AS − c A0
NA = laju massa A yang melarut ke larutan
A = luas permukaan partikel
kL = koefisien perpindahan massa
cAs = kelarutan jenuh A dalam larutan
cA = konsentrasi A dalam larutan pada waktu t
*
Diasumsikan bahwa:
Padatan bebas-solute tidak melarut dalam larutan
Tidak terjadi adsorpsi solute oleh padatan, sehingga
larutan dalam fasa cair yang meninggalkan stage
adalah sama dengan larutan yang tertahan dalam
matriks padatan pada slurry yang meninggalkan stage
Pada settler tidak memungkinkan untuk memisahkan
semua cairan dari padatan
Akibatnya:
Padatan yang meninggalkan stage selalu mengandung
sejumlah cairan yang melarutkan solute
Konsentrasi solute pada overflow sama dengan
konsentrasi solute pada underflow/slurry
Garis kesetimbangan pada plot x-y pada garis 450
*
Konsentrasi padatan inert dalam campuran:
massa pada tan
N=
massalaru tan
N = 0 pada overflow dan N = N pada slurry
Komposisi solute A (dalam basis bebas padatan B):
Pada cairan overflow mA
xA =
m A + mC
Pada cairan dalam slurry y A = m A
m A + mC
Untuk pelarut murni: N = 0 & xA= 0
Untuk padatan masuk: N = kg padatan inert/kg solute & yA=1
A = solute, B = inert or insoluble solid or leached solid, C = solvent
*
underflow
N vs yA
Tie line Tie line
N
N vs xA overflow
0 XA, yA 1,0 0 XA, yA 1,0 0 XA, yA 1,0
1,0 1,0 1,0
0 1,0 0 1,0 0 1,0
XA XA XA
*
Perbedaan notasi dengan ekstraksi:
*y = komposisi solute pada larutan dalam slurry
*V = volume larutan
*x = komposisi solute pada V
*L = volume larutan dalam slurry
Tambahan notasi:
*B = volume padatan dalam slurry
*N = Rasio B/L
*
L1
V1, x1 V2, x2 L0
NM
slurry slurry NM M
L0, N0, y0, B L1, N1, y1, B V1
0 XAM 1,0
V2
1,0
L0 + V2 = L1 + V1 = M
L0 y A0 + V2 x A2 = L1 y A1 + V1 x A1 = Mx AM yA
B = N 0 L0 = N1L1 = N M M
0 1,0
XA
M = laju alir total A + C
*
Sebuah peralatan leaching satu tahap digunakan untuk
mengambil minyak kedelai dari kacang kedelai berbentuk
flake dengan pelarut heksana. Sebanyak 100 kg kedelai yang
mengandung 20% minyak dikontakkan dengan 100 kg pelarut
heksana murni.
Nilai N untuk underflow dijaga konstan pada angka 1,5.
Tentukanlah jumlah dan komposisi keluaran pada overflow
dan underflow.
Pelarut murni
Overflow V2 = 100 kg
xA2 = 0 N2 = 0
V1, x1
xC2 = 1
Umpan Underflow
L0 + B = 100 kg L1, N1, y1, B
yA0 = 1
*
Umpan:
L0 + B = 100 kg, L0 = 100x0,2 = 20 kg
B = 80 kg, N0=80/20 = 4, yA0 = 1
L0
4
Pelarut:
V2 = 100, xA2 = 0, (xC2 = 1), N2 = 0
Underflow: 3
N1 = 1,5
N
Plot pada grafik: 2
• Titik L0 (yA0, N0) L1 N vs. yA
• Titik V2 (xA2, N2)
1
• Tentukan titik M, hitung (xAM, NM)
• Gambarkan garis underflow, konstan
M
pada N1 = 1,5 N vs. xA
V2
• Gambarkan tie line secara vertikal 0 V1 0,5 1
melalui titik M
xA, yA
• Diperoleh titik L1 dan V1 dimana xA1 =
yA1 = xAM = 0,167
*
L0 + V2 = 20 + 100 = 120kg
L0 y A0 + V2 x A2 = 20(1,0) + 100(0) = 120 x AM
x AM = 0,167
B = N 0 L0 = 4( 20) = N M (120)
N M = 0,667
N0L0 = N1L1 = B Dalam bentuk grafik, maka kita dapat
pula memperoleh nilai L1 serta V1
L1 = B/N1 = 80/1,5 = 53,3 kg
dengan cara mengukur perbandingan
L0+V2 = L1+V1 = M panjang tangan pengungkit masing-
V1 = L0+V2 -L1 masing.
= 20 + 100 - 53,3
= 66,7 kg
Latihan
Problems: 12.9-1
12.9-2
*
L0 + Vn +1 = Ln + V1
L0 y0 + Vn +1 xn +1 = Ln yn + V1 x1
1 V1 x1 − L0 y0
xn +1 = yn + Garis operasi
1 + (V1 − L0 ) / Ln Ln + V1 L0
Ketika di-plot pada diagram x-y,
garis operasi akan melalui titik-titik (x1, y0) dan (xN+1, yN)
*
Variable Underflow
L0 + VN +1 = LN + V1 = M
= L0 − V1 = L1 − V2 = ...... = Ln − Vn +1 = LN − VN +1
L0 y A0 + VN +1 x AN +1 = LN y AN + V1 x A1
B = N 0 L0 = N N LN = N M M
L0 y A0 − V1 x A1 LN y AN − VN +1 x AN +1
x A = =
L0 − V1 LN − VN +1
B N 0 L0
N = =
L0 − V1 L0 − V1
M = mixture
LN L0
Variable Underflow L4 L3 L2
L1
N
Umumnya
Diketahui:
M
L0, N0, y0, B
VN+1
VN+1, xN+1
0 V4V3 V2 V1 1,0
Ditentukan:
xA, yA
yAN
Dicari:
LN, V1
Jumlah stage
*
Sebuah sistem countercurrent
multistage kontinu digunakan untuk
mengolah umpan berupa 2000 kg/jam N yA
inert solid meal (B) yang mengandung
2,00 0
800 kg minyak (A) dan 50 kg benzen
(C). Campuran pelarut segar yang 1,98 0,1
masuk per jam berisi 1310 kg benzen 1,94 0,2
dan 20 kg minyak. Lumpur yang keluar 1,89 0,3
mengandung 120 kg minyak. 1,82 0,4
Dari data eksperimen dengan 1,75 0,5
menggunakan peralatan leaching yang 1,68 0,6
serupa diperoleh data kesetimbangan
1,61 0,7
N vs y spt pada tabel.
Hitunglah jumlah dan konsentrasi
keluaran proses dan jumlah tahapan
yang diperlukan.
*
A: 20 kg/jam
B: 0 kg/jam
C: 1310 kg/jam
A: 800 kg/jam A: 120 kg/jam
B: 2000 kg/jam B: 2000 kg/jam
C: 50 kg/jam C: ???
Pada padatan masuk:
L0 = 800 + 50 = 850 kg, yA0 = 800/850 = 0,941
B = 2000 kg, N0 = 2000/850 = 2,36
Pada pelarut masuk:
VN+1 = 1310 + 20 = 1330 kg, xAN+1 = 20/1330 = 0,015
NN+1 = 0
*
➢ Buat plot N vs yA
➢ Tentukan titik L0 (yA0, N0) dan titik VN+1 (xAN+1, NN+1)
➢ Tentukan titik LN (yAN, NN) yang terletak pada garis N vs yA
2000
120
Dari titik yA = 0 dan N = 0, buatlah slope sebesar 16,67 yang
memotong garis N vs yA untuk mendapatkan titik LN
Koordinatnya adalah pada yAN = 0,118 dan NN = 1,95
➢ Tentukan titik M (xAM, NM)
*
➢ Buat garis L0 – M - VN+1
➢ Buat garis LN –M dan
perpanjang hingga
memotong garis overflow
untuk mendapatkan titik V1
yaitu pada (xA1, 0).
Diperoleh xA1 = 0,6.
➢ Tentukan titik operasi yang
diperoleh dari perpotongan
garis L0 – V1 dengan LN – VN+1
➢ Tentukan banyaknya tahap
yang diperlukan: N = 3,9
*
➢ Hitung laju alir keluaran:
Penyelesaian kedua persamaan secara simultan
menghasilkan:
LN = 1.016 kg/jam
V1 = 1.164 kg/jam
Cara lain: penyelesaian dengan aturan lever-arm
Latihan
Problems: 12.10-4
Variable Underflow
Metoda McCabe-Thiele untuk menetukan jumlah tahap teoritis
Titik-titik terminal pada garis operasi dapat ditentukan dari neraca
massa.
Diperlukan minimal 1 titik antara yaitu dengan memilih titik yn (y0 +
yN)/2 untuk mendapatkan Ln, Vn+1, xn+1 yang dihitung dari:
Titik antara (yn,xn+1) bersama-sama dengan titik terminal (y0,x1) dan
(yN,xN+1) digunakan untuk menggambarkan garis operasi.
Metoda McCabe-Thiele method digunakan untuk menentukan jumlah
tahap ideal dengan menghitung jumlah segitiga yang terbentuk pada
diagram x-y.
Penyelesaian Ex. 12.10-1 dengan Metoda McCabe-Thiele
A: 20 kg/jam
B: 0 kg/jam
C: 1310 kg/jam
A: 800 kg/jam A: 120 kg/jam
B: 2000 kg/jam B: 2000 kg/jam
C: 50 kg/jam C: ???
Pada padatan masuk:
L0 = 800 + 50 = 850 kg, yA0 = 800/850 = 0,941
B = 2000 kg, N0 = 2000/850 = 2,36
Pada pelarut masuk:
VN+1 = 1310 + 20 = 1330 kg, xAN+1 = 20/1330 = 0,015
NN+1 = 0
Jumlah dan komposisi larutan pada padatan keluar, LN dan yAN
ditentukan secara coba-coba.
Trial 1:
yAN = 0,1
Dari tabel data kesetimbangan
N = 1,98 = B/(A+C) = 2000/(120+C)
C = 890 kg/jam
Hitung kembali: yAN = A/(A+C) = 120/(120+890) = 0,119
Trial 2:
yAN = 0,119
Hasil interpolasi dari tabel data kesetimbangan
N = 1,97
C = 894 kg/jam
yAN = 0,118 (trial diterima)
LN = A + C = 120 + 894 = 1.014 kg/jam
V1 = VN+1 + L0 - LN = 1.330 + 850 – 1.014 = 1.166 kg/jam
Metoda McCabe-Thiele
Dari neraca minyak memberikan jumlah minyak pada
overflow:
A1 = 800 + 20 – 120 = 700 kg/jam
xA1 = A1/ V1 = 700/(1.166) = 0,6
Titik antara pada garis operasi dipilih
yAn = 0,5
N = 1,75 = B/Ln = 2000/Ln
Ln = 1.142 kg/jam
VN+1 = Ln + V1 – L0 = 1.458 kg/jam
xA,n+1 = 0,323
Metoda McCabe-Thiele
N=4
*
Constant Underflow
Constant Underflow
Latihan
Problems: 12.10-1
Constant Underflow
Penentuan banyaknya tahap teoritis dapat pula
ditentukan secara analitik sepanjang satuan yang
digunakan konsisten serta nilai overflow dan
underflow adalah konstan.
Persamaan yang digunakan adalah sbb.:
Where xa, xb are the overflow concentration of A entering the 1st and
final stages, respectively. xa* and xb* are the overflow concentration
of A in equilibrium with ya and yb (the underflow concentration of A
leaving the 1st and final stages), respectively.
Constant Underflow
Contoh Soal:
By extraction with kerosene, 2 tons of waxed paper per day is to be
dewaxed in a continuous countercurrent extraction system that
contains a number of ideal stages. The waxed paper contains, by
weight, 25% paraffin wax and 75% paper pulp. The extracted pulp is
put through a dryer to evaporate the kerosene.
The pulp, which retains the unextracted wax after evaporation, must
not contain over 0.2 lb of wax per 100 lb of wax-free pulp. The
kerosene used for the extraction contains 0.05 lb of wax per 100 lb of
wax-free kerosene.
Experiments show that the pulp retains 2.0 lb of kerosene per lb of
kerosene- and wax-free pulp as it is transferred from cell to cell. The
extract from the battery is to contain 5 lb of wax per 100 lb of wax-
free kerosene.
How many stages are required?
Constant Underflow
Penyelesaian:
Since here the ratio of kerosene to pulp is constant, flow rates should
be expressed in pounds of kerosene. All concentrations must be in
pounds of wax per pound of wax-free kerosene. The unextracted
paper has no kerosene, so the first cell must be treated separately.
Constant Underflow
The kerosene in with the fresh solvent is found by a wax balance.
Take a basis of 100 lb of wax- and kerosene-free pulp, and let s be
the pounds of kerosene fed in with the fresh solvent.
The wax balance, in lb, is:
Wax in with pulp, 100x25/75 = 33.33 lb
Wax in with the solvent, 0.0005s
Total wax input = 33.33 + 0.0005s
Wax out with pulp, 100x0.002 = 0.2 lb
The total kerosene input is s, there are 200 lb of kerosene in the
outlet of underflow, so the output of kerosene in the extract = s-200,
hence,
Wax out with extract is = (s-200)0.05 = 0.05s – 10
Total wax output = 0.05s – 9.8
Constant Underflow
Therefore,
33.33 + 0.0005s = 0.05s – 9.8
s = 871 lb.
0.0005s = 0.436
The kerosene in the exhausted pulp is 200 lb, in the strong solution is
871- 200 = 671 lb.
The wax in this solution is 671x0.05 = 33.55 lb.
The concentration in the underflow to the 2nd unit (ya)
= that of the overflow from the 1st stage (x1)
= 33.55/(33.54+671) = 0.0476
The wax in the underflow to unit 2 (wa) can be found from
ya = 0.0476 = wa/(wa +200)
So wa = 200x0.0476/(1-0.0476) = 9.996 lb.
Constant Underflow
The concentration of this stream (xa)
= 10.22/(871+10.22) = 0.0116.
xa* = ya = 0.0476
xb* = yb = 0.2/(200+0.2) = 0.001
xb = 0.436/(0.436+871) = 0.0005
Where xa, xb are the overflow concentration of A entering the 1st and
final stages, respectively. xa* and xb* are the overflow concentration
of A in equilibrium with ya and yb (the underflow concentration of A
leaving the 1st and final stages), respectively.
Since stage 1 has already been taken into account,
The total number of ideal stages is N = 1+3 = 4.