0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
577 tayangan33 halaman

Proposal Karya Akhir

Proposal ini membahas tentang efektifitas kinerja double thresher terhadap losses berondolan di tandan kosong kelapa sawit di PT. Herfinta Farm & Plantation. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan double thresher terhadap persentase losses berondolan di tandan kosong dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi losses berondolan di tandan kosong.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
577 tayangan33 halaman

Proposal Karya Akhir

Proposal ini membahas tentang efektifitas kinerja double thresher terhadap losses berondolan di tandan kosong kelapa sawit di PT. Herfinta Farm & Plantation. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan double thresher terhadap persentase losses berondolan di tandan kosong dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi losses berondolan di tandan kosong.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

COVER

EFEKTIFITAS KINERJA DOUBLE THRESER TERHADAP LOSSES


BERONDOLAN DI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DI PT.
HERFINTA FARM & PLANTATION

PROPOSAL KARYA AKHIR

Oleh:

SOFIA PANJAITAN

NIM. 2003050

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.I

POLITEKNIK TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI MEDAN

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS KELAPA SAWIT

2023
LEMBAR PENGESAHAN

SEMINAR PROPOSAL

“EFEKTIFITAS KINERJA DOUBLE THRESER TERHADAP LOSSES


BERONDOLAN DI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DI PMKS
PT.HERFINTA FARM & PLANTATION”

YANG DIPERSIAPKAN DAN DISUSUN OLEH:

NAMA: SOFIA PANJAITAN

NIM: 2003050

Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Mengikuti Seminar


Proposal Pada Program Studi Agribisnis Kelapa Sawit

Politeknik Teknologi Kimia Industri Medan

Tanggal Persetujuan DOSEN

Dosen Pembimbing I : PEMBIMBING I

IR.MIFTAHUL FALLAH,M.M.

(NIP. 198804232018012001)

Tanggal Persetujuan DOSEN

Dosen Pembimbing II : PEMBIMBING II

Meutia Mirnandaulia, M.T.

ii
(NIP. 198804232018012001)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii

SEMINAR PROPOSAL........................................................................................ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR..............................................................................................v

DAFTAR TABEL.................................................................................................vi

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

1.1 Latar Belakang.........................................................................................1

1.2 Perumusan Masalah.................................................................................3

1.3 Tujuan dan Manfaat penelitian................................................................3

1.3.1 Tujuan Penelitian.........................................................................3

1.3.2 Manfaat Penelitian.......................................................................3

BAB II KAJIAN PUSTAKA.................................................................................4

2.1 Kelapa Sawit...........................................................................................4

2.2 Teori Umum Tentang Efektifitas.............................................................4

2.3 Proses Pengolahan Buah Kelapa Sawit..................................................5

2.4 Rethresher..............................................................................................13

2.5 Unstripped bunch (USB).......................................................................13

2.7 Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).................................................17

2.8 Kajian Penelitian Yang Relevan............................................................18

2.9 Kerangka Konseptual............................................................................20

BAB III METODE PENELITIAN.....................................................................21

3.1 Tempat dan waktu Penelitian................................................................21


iii
3.2 Metode pengambilan Data.....................................................................21

3.2.1 Data Primer................................................................................21

3.2.2 Data Sekunder............................................................................21

3.3 Metode Penelitian..................................................................................22

3.3.1 Alat............................................................................................22

3.3.2 Bahan.........................................................................................22

3.3.3 Prosedur Kerja...........................................................................22

3.3.4 Diagram Alir Prosedur...............................................................23

3.4 Analisa Data..........................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................25

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Jembatan Timbang.............................................................................6

Gambar 2. 2 Sortase TBS.......................................................................................6

Gambar 2. 3 Loading Ramp...................................................................................8

Gambar 2. 4 Stasiun Sterilizer................................................................................8

Gambar 2. 5 Tippler...............................................................................................9

Gambar 2. 6 Stasiun Threser...............................................................................12

Gambar 2. 7 Bunch Crusher.................................................................................13

Gambar 2. 8 Kerangka Konseptual......................................................................20

v
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Kualitas Sortasi dari TBS di PT. Herfinta..............................................6

Tabel 2. 2 Penelitian Terdahulu............................................................................18

vi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pabrik Minyak Kelapa Sawit ( PMKS) adalah suatu industri yang bergerak untuk
mengolah Tandan Buah Segar (TBS) menjadi beberapa produk yang dihasilkan
produk utama pabrik kelapa sawit yaitu Crude palm oil (CPO) dan Palm Kernel
(PK), dalam prosesnya untuk mengolah kelapa sawit menjadi CPO maupun PK
harus melalui beberapa tahapan yaitu stasiun pabrik biji/kernel plant station dan
stasiun klarifikasi. (Muhammad Rizky 2021).

Salah satu kehilangan yang sering terjadi dan mempengaruhi perolehan


minyak dan inti yaitu losses di tandan kosong kelapa sawit berupa brondolan yang
tidak terpipil dan masih berada di tandan kosong kelapa sawit. Losses brondolan
di tandan kosong sering menjadi sorotan utama hampir di setiap pabrik kelapa
sawit, karena selain mengalami kerugian karena kehilangan minyak dan inti,
losses brondolan di tandan kosong juga menjadi indikasi kinerja Thresher yang
tidak maksimal. Losses brondolan ditandan kosong menurut norma adalah
maksimum ≤ 3%, namun realisasinya banyak yang melebihi norma losses
tersebut. (Amri Nofrizal, dkk. 2015)

Thresher merupakan mesin yang berfungsi untuk memipil buah agar


brondolan pada tandan buah segar terpisah dengan janjangan. Alat pemipil
berperan untuk memisahkan brondolan dari tandan yang telah direbus. Kerugian
yang terjadi pada proses pemipilan ada dua macam, yaitu kerugian minyak yang
terserap oleh tandan kosong dan kerugian pada buah yang masih tertinggal di
tandan (tidak membrondol). Di PMKS PT.HERFINTA FARM & PLANTATION
telah digunakan Double thresher, alasan penggunaan Double thresher yaitu untuk
mengurangi losses dengan dilakukannya 2 kali pemipilan sehingga brondolan
terpipil dengan sempurna. (Muhammad Alfaridzi, 2020).

Tingkat kematangan buah dan metode perebusan buah sangat menetukan dalam
keberhasilan proses pengolahan buah kelapa sawit. Semakin tinggi tingkat
kematangan dan semakin lama waktu perebusan, semakin besar pula

2
kemungkinan bahwa minyak akan meleleh keluar dari daging buah selama
perebusan karena daging menjadi sangat lunak. Pada saat proses pemipilan,
minyak tersebut diserap oleh tandan. Keberhasilan perebusan jika tidak didukung
pemipilan yang baik maka kehilangan brondolan dan minyak akan tinggi. Oleh
karena itu perlu dilakukan pemipilan yang lebih sempurna dan perlu ditambahkan
bahwa keberhasilan pemipilan juga tergantung pada proses perebusan.Janjangan
yang tidak memberondol (Unstripped bunch) dapat menyebabkan kerugian bagi
pabrik kelapa sawit akibat kehilangan minyak dan kernel. Janjangan yang tidak
memberondol (Unstripped bunch) yaitu adanya brondolan yang tertinggal di
janjang kosong di stasiun thresher. Janjangan yang tidak memberondol
(Unstripped bunch) yang diizinkan di pabrik PT. Herfinta & Plantation adalah
maksimal 3 %. Unit thresher dengan dua kali bantingan sangat berfungsi untuk
merontokan berondolan yang masih terikut didalam janjangan yang sudah
melewati bunch crusher. Perlu dilakukan pengamatan terhadap janjangan yang
tidak memberondol (Unstripped bunch) untuk mengetahui fungsi dilakukannya
dua kali bantingan pada stasiun threshing terhadap persentase Unstripped bunch.
(Muhammad Alfaridzi, 2020).

Permasalahan yang sering menyebabkan Losses yang tinggi pada USB


kelapa sawit yaitu, Tandan buah segar (TBS) kurang matang, rebusan kurang
maksimal, Umpan threser terlalu berlebih sehingga bantingan kurang maksimal
dan berondolan tidak jatuh ke kisi-kisi dan kurangnya perlakuan dan penerapan
SOP (Standart Operasional Prosedur) yang benar.Tinggi brondolan yang masih
melekat pada tandan kosong perlu mendapat perhatian karena akan menjadi
penyebab losses yang tidak dapat dikutip kembali. Berdasarkan hal di atas
tersebut,dapat diketahui bahwa hubungan antara losses berondolan dengan kinerja
threser sangat erat, sehingga dapat dikatakan bahwa untuk meminimalkan losses
berondolan,maka kinerja threser harus efektif. (Herlina, KD. 2010).

Dengan menganalisa kinerja threser terhadap losses berondolan pada


tandan kosong kelapa sawit yang dihasilkan melebihi norma atau tidak ,maka
penulis tertarik untuk membahas dan mengambil judul karya akhir yaitu:

“EFEKTIFITAS KINERJA DOUBLE THRESER TERHADAP LOSSES

3
BERONDOLAN DI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT DI PMKS
PT.HERFINTA FARM & PLANTATION”

1.2 Perumusan Masalah

Sesuai dengan gambaran yang telah diuraikan di atas, maka penulis


merumuskan pokok permasalahan yang terkait dengan permasalahan yang
ditentukan di lapangan. Adapun rumusan pokok permasalahan adalah :

1. Berapakah persentase losses berondolan di tandan kosong kelapa sawit


dengan menggunakan Double threser?

2. Apakah losses berondolan sudah sesuai dengan standart atau belum


memenuhi standart perusahaan dan mengetahui apakah Double threser telah
bekerja secara efektif dalam memipil berondolan dari tandan kelapa sawit?

1.3 Tujuan dan Manfaat penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui persentase kehilangan berondolan di tandan kosong


kelapa sawit dengan penggunaan Double threser.

2. Untuk mengetahui apakah losses berondolan sudah sesuai dengan standar


perusahaan dan mengetahui apakah Double Threser telah bekerja secara
efektif dalam memipil berondolan dari tandan kelapa sawit.

1.3.2 Manfaat Penelitian

Menambah pengetahuan mengenai efektifitas kinerja Double threser dalam


memipil berondolan dari tandan kelapa sawit, dan mengetahui cara
perhitungannya dan penanganan yang tepat supaya losses berondolan dapat
diminimal.

4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kelapa Sawit

Kelapa sawit (Elaesis guinensis) adalah tanaman perkebunan penghasil minyak


makan, minyak industri, maupun bahan bakar nabati (biodiesel). Proses
pengolahan CPO (crude palm oil) dimulai dari penerimaan TBS (tandan buah
segar) yang diproses di pabrik pengolahan kelapa sawit serta mengalami berbagai
perlakuan pada masing-masing stasiun dan pada setiap alat proses pengolahan
sesuai dengan ketentuan dan aturan yang ditetapkan perusahaan. Aturan dan
ketentuan yang ada di perusahaan dibutuhkan agar mendapatkan hasil yang
optimal. Adapun tujuan utama dalam proses pengolahan yaitu untuk mendapatkan
hasil produk akhir yang maksimal. (Fauzi, Y. 2008, hal 4).

2.2 Teori Umum Tentang Efektifitas

Efektifitas umumnya di pandang sebagai tingkat pencapaian tujuan operatif dan


operasional. Pada dasarnya efektifitas adalah tingkat pencapaian tugas sasaran
organisasi yang di tetapkan. Efektifitas adalah seberapa baik pekerjaan yang di
lakukan, sejauh mana seseorang menghasilkan keluaran sesuai dengan yang
diharapkan. Ini dapat di artikan, apabila suatu pekerjaan dapat dilakukan sesuai
dengan yang direncanakan, dapat dikatakan efektif tanpa memperhatikan waktu,
tenaga dan yang lainnya. Sedangkan efektifitas pelaksanaan kebijakan otonomi
daerah adalah sejauh mana kegiatan pemerintah daerah dapat melaksanakan,
mewujudkan, dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, pengambilan
keputusan partisipasi masyarakat. Pelaksanaan pembangunan dan juga
penyelesaian berbagai permasalahan dalam pelaksanaan otonomi daerah.

Sondang P. Siagian (2001:24) yang berpendapat efektifitas adalah


pemanfaatan sumber daya, sarana dan prasarana dalam jumlah tertentu yang
secara sadar di tetapkan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atas
jasa kegiatan yang dijalankannya. Efektifitas menunjukkan keberhasilan dari segi
tercapai tidaknya sasaran yang telah ditetapkan. Jika hasil kegiatan semakin

5
mendekati sasaran, berarti makin tinggi efektifitasnya. Apabila seseorang
berbicara tentang efektifitas sebagai orientasi kerja berarti yang menjadi sorotan
perhatian adalah tercapainya berbagai sasaran yang telah ditentukan tepat pada
waktunya dengan menggunakan sumber-sumber tertentu yang sudah digunakan
harus ditentukan sebelumnya dan dengan memanfaatkan sumber-sumber itulah
maka hasil-hasil tertentu harus dicapai dalam waktu yang telah di tetapkan pula
(S.P Siagian 2005:)

2.3 Proses Pengolahan Buah Kelapa Sawit

Pabrik kelapa sawit merupakan satu kesatuan dari beberapa mesin-mesin instalasi
yang bekerja berkaitan satu dengan lainnya dengan sistem berantai yang berfungsi
untuk mengutip secara optimal minyak sawit dan inti sawit yang terdapat pada
tandan buah segar dengan menekan losses sekecil mungkin. Selain itu kualitas
produksi juga perlu mendapat perhatian dalam proses pengolahan di PKS,
semakin baik kualitas produksi akan semakin baik pula nilai jualnya

Untuk memperoleh minyak kelapa sawit (CPO) dari kelapa sawit, maka
PMKS PT Herfinta Farm & Plantation melakukan beberapa proses dimana
pengolahan tandan buah segar di pabrik bertujuan untuk memperoleh minyak
sawit yang bermutu baik. Ada pun tahap – tahap pengolahan TBS sampai
dihasilkannya minyak akan diuraikan lebih lanjut berikut ini:

Proses Pengolahan buah kelapa sawit adalah sebagai berikut:

1. Jembatan Timbang

Tandan buah buah segar hasil pemanenan harus segera diangkut ke pabrik untuk
diolah lebih lanjut untuk menghindari kadar asam lemak bebas (ALB) yang
meningkat. Tandan buah segar yang diangkut ke pabrik terlebih dahulu ditimbang
dijembatan timbang (weight bridge) sehingga diketahui berat brutonya. Jembatan
timbang merupakan alat ukur berat yang berfungsi untuk menimbang dan
mengetahui berat TBS yang diterima pabrik.

6
Gambar 2. 1 Jembatan Timbang
Sumber: PT.Herfinta, 2022

2. Sortasi TBS

Sortasi buah kelapa sawit, atau sering disebut Grading adalah proses memisahkan
buah-buah kelapa sawit dan memberikan klasifikasi buah berdasarkan kriteria
yang telah ditentukan dengan skala grading.

Gambar 2. 2 Sortase TBS


Sumber : PT.Herfinta ,2022

Sortasi artinya memisahkan TBS kelapa sawit dari pengotor seperti ranting,
pasir, tandan kosong (empty bunch), sedangkan Grading (berasal dari kata grade /
memberi klasifikasi) yang artinya menentukan tingkat kematangan TBS kelapa
sawit.

Skala grading ditentukan berdasarkan tingkat kematangan, yaitu buah


matang penuh, setengah matang, dan buah mentah, sekaligus memisahkan buah
layak dan tidak layak.

7
Tabel 2. 1 Kualitas Sortasi dari TBS di PT. Herfinta
Kategori Buah Kriteria Grading Standart (%)

Buah mentah Tidak membrondol, buah masih hitam 0%

Buah mengkal Membrondol <3 berondol/tandan 5%

Buah matang Membrondol >3 berondol/tandan 89%

Buah terlalu Lewat masak membrondol diatas 50% 5%


matang

Buah busuk Kondisi buah yang sudah hitam, 0%


kusam dan lembek

Buah sakit Bentuk tandan dan brondolan yang 0%


abnormal

Janjangan kosong 90% brondolan telah lepas dari tandan 0%

Tangkai panjang ≥2,5 cm dari pangkal buah 1%


(maks 2,5 cm)

Sampah pasir - 0%

Buah kecil Dibawah 4 kg

Saat grading dilakukan, karyawan sortasi (grader) ditugaskan untuk


menilai dan mendokumentasikan tingkat kelayakan buah kelapa sawit. Sortasi
dilakukan di lantai peron loading ramp. Mutu dan rendemen hasil olah sangat
dipengaruhi oleh mutu tandan dan mutu panen. (SOP PT. Herfinta, 2020 )

3. Stasiun Loading Ramp

Loading ramp merupakan sebuah bangunan dengan lantai berupa kisi-kisi pelat
besi berjarak sekitar 10 mm dengan kemiringan 45 derajat yang fungsinya untuk
memudahkan dan memisahkan kotoran yang terikut dengan TBS pada saat
pengangkutan dan terdiri dari 10 buah pintu dengan kapasitas kurang lebih 150

8
ton.. Tandan buah dituang pada tiap-tiap hopper dan diatur dari pintu ke pintu
lainnya dengan isian sesuai kapasitas. Pengisian TBS ke dalam lori berlangsung
secara gravitasi. Lori berada tepat dibawah hopper sehingga pada saat pintu
bagian bawah hopper dibuka dengan sistem hidrolik, TBS akan jatuh ke dalam
lori. Untuk memindahkan lori dari rel loading ramp ke rel rebusan digunakan alat
yang disebut transfer carriage. Lori yang berisi buah dimasukkan ke dalam
sterilizer lalu ditutup rapat dan dikunci.

Gambar 2. 3 Loading Ramp


Sumber : PT Herfinta, 2022

4. Stasiun Sterilizer/Rebusan

Bejana Sterilizer merupakan sebuah bejana bertekanan dengan tipe horizontal


dilengkapi dua unit pintu. Body terbuat dari plat baja dengan ketebalan plat 16
mm yang dilengkapi liner dari Mild steel (MS) plat tebal 9 mm, Besi siku dengan
ukuran 150 mm untuk rail track, Dua buah nozzle steam berdiametr 200 mm dan
lima buah drainase condesate berdiameter 100 mm, serta satu buah safety valve
berdiamter 100 mm. Kapasitas satu unit Sterilizer 30 ton TBS. Dalam
perencanaan kebutuhan unit sterilizer yang disesuaikan dengan kapasitas pabrik.

9
Gambar 2. 4 Stasiun Sterilizer
Sumber : PT Herfinta, 2022
Proses perebusan mampunyai tujuan sebagai berikut:

a. Melunakkan brondolan agar lepas dari janjangan untuk mempermudah proses


penebahan;

b. Menghentikan enzim lipase sebagai katalis proses peningkatan Asam Lemak


Bebas (ALB);

c. Menurunkan kadar air daging buah untuk mempermudah proses digestion dan
pressing;

d. Merubah komposisi kimia komponen mesocarp agar mudah pada proses


digestion dan klarifikasi;

e. Memperbaiki proses penjernihan minyak;

f. Merenggangkan buah inti dengan cangkang untuk memudahkan pemecah biji


pada mesin pemecah.

5. Stasiun Tippler

Tippler berfungsi untuk memutar lori yang berisi TBS yang telah direbus
kemudian dituangkan ke bunch scrapper conveyor menuju thresher. Setelah
dituang, kemudian lori dikembalikan ke posisi semula yaitu tepat pada jalur rail
track menuju loading ramp untuk diisi kembali dengan TBS.

10
Gambar 2. 5 Tippler
Sumber : PT Herfinta, 2022
6. Stasiun Thresher

Thresher berfungsi untuk memisahkan antara brondolan dan janjang dengan cara
diputar dan dibanting. Thresher ini berupa drum silinder yang memiliki diameter
200 cm, dan panjang 500 cm, jarak kisi-kisi 4 cm sebagai tempat keluarnya
brondolan yang sudah terpisah dari janjangannya. Terdapat 12 siku pelempar
dengan panjang 80 cm dengan kemiringan 30 derajat. Siku pelempar ini berfungsi
untuk mengangkat buah sehingga terjadi bantingan yang mengakibatkan
brondolan terlepas dari janjangannya.

Stasiun penebah (threshing) berfungsi untuk memisahkan buah dari


janjangannya dengan cara membanting Tandan Buah Segar (TBS) ke dalam drum
thresher. Stasiun Threshing terdiri dari beberapa bagian alat atau mesin dan dalam
proses pengoperasiannya sangat berkaitan satu sama lain. Maksud dan tujuan
desain dari pada stasiun ini adalah sebagai berikut:

• Untuk melepaskan buah (tandan buah segar yang sudah direbus) dengan
tandannya dengan sistem bantingan.

• Untuk menjaga kestabilan/pemerataan secara kontiniu agar kapasitas


pengolahan Tandan Buah Segar dapat tercapai sesuai desain pabrik dengan
pengoperasian hoist cycle, rpm auto feeder maupun supervisi yang benar.

• Menjaga oil losses maupun kernel losses seoptimal mungkin agar berada
dibawah target/parameter yang sudah disepakati perusahaan.

11
• Jadi, kapasitas desain saja tidaklah cukup untuk mendapatkan tujuan di atas
tanpa kesatuan system pengoperasian alat yang benar pada stasiun ini maupun
dukungan dari stasiun-stasiunnya.

Hasil proses pada stasiun ini adalah memisahkan berondolan (cook fruitless)
dari tandannya dengan cara beberapa kali bantingan pada drum thresher.
Berondolan (cook fruitless) dibawa ke stasiun press dengan fruit elevator maupun
conveyor untuk diekstraksi, kemudian tandan kosongnya (janjangan kosongnya)
dibawa ke lokasi penimbunan sementara (empty bunch area) di luar pabrik kelapa
sawit dan dimanfaatkan menjadi pupuk. Stasiun Thresing merupakan satu desain
dengan sistem yang sederhana, namun tak kalah pentingnya untuk menjembatani
kelangsungan dan keberhasilan proses pengolahan Tandan Buah Segar (TBS)
pada pabrik kelapa sawit. Rantawi dan Mahfud (2019).

Menurut Rantawi dan Mahfud (2019, hal 8), stasiun penebahan (Thresher)
ini bertujuan untuk memisahkan berondolan dari janjangan semaksimal mungkin.
Hasil yang didapat dari proses perontokan ini berupa janjangan kosong dan
berondolan sawit. Pada satasiun ini alat yang digunakan diantaranya adalah
thresher dan bunch crusher. Thresher berfungsi untuk memisahkan atau
merontokkan berondolan dari janjangannya semaksimal mungkin. Cara kerja dari
thresher yaitu suatu drum yang berputar yang dibatasi oleh sisi – sisi yang
berlubang yang dilengkapi dengan pisau pelempar yang dapat memberikan efek
batingan terhadap buah. Masing-masing stasiun memiliki beberapa parameter
keberhasilan yang harus dicapai dalam proses pengolahan TBS. Salah satu
parameter keberhasilan yang terdapat di stasiun thresher ialah yang memperoleh
persentase USB yang seminimal mungkin. Kehilangan berondolan di janjang
kosong dapat terjadi selama proses pengolahan TBS berlangsung. Kehilangan
berondolan tersebut sangat tidak mungkin untuk ditiadakan, hal ini bisa dapat
dikendalikan dengan melakukan perhitungan persentase kehilangan berondolan
secara teliti, sehingga diperoleh nilai persentase yang sesuai standar PKS.

Berondolan yang masih menempel di dalam janjangan akan dapat rontok


atau terlepas dari janjangan akibat terjadinya bantingan di stasiun thresher. Akan
tetapi didalam janjangan tersebut banyak berondolan yang masih terjebak di

12
janjangan. Faktor yang mempengaruhi terjadinya kehilangan berondolan yang
bernilai tinggi atau diatas standar yaitu fraksi buah, steam tidak merata/ada nya
kebocoran pada Sterilizer. Faktor-faktor tersebut masih sering diabaikan sehingga
persentase kehilangan brondolan diperoleh diatas standar.

Menurut Napitupulu (2009, hal 9), hal yang sering terjadi pada TBS di
thresher adalah munculnya USB yaitu pembrondol buah yang dihasilkan tidak
sempurna dari tandannya, ada beberapa penyebab munculnya USB yaitu :

1. Mutu TBS, yaitu buah yang mentah masuk ke dalam pabrik.

2. Kurang sempurnanya proses perebusan, hal ini terjadi karena waktu

perebusan yang kurang lama atau pemasukan steam sedikit.

3. Pengumpanan buah ke thresher yang terlalu banyak.

4. Putaran dari thresher yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari thresher yaitu :

1. Diameter drum berputar

Buah dibanting banting dengan cara drum berputar yang terdapat kisi kisi,
semakin besar diameter drum maka peluang untuk buah terbanting dengan
ketinggian yang lebih jauh menyebabkan gaya jatuh yang lebih besar dan buah
akan lebih mudah terpipil.

2. Panjang drum

Panjang drum berhubungan dengan lamanya masa proses bantingan tandan di


stasiun thresher. Umumnya ukuran drum berkisaran 4˗6 meter, tergantung pada
teknik pengoperasiannya.

3. Putaran drum berputar

Salah satu cara untuk mengangkat buah yaitu dengan menerapkan kecepatan
putaran drum, pada saat terjadinya buah jatuh, terdapat ada gaya mengguling
tandan. Karena adanya gaya tersebut tandan berputar˗putar searah dan kecepatan
putar tandan lebih cepat dari putaran

13
Gambar 2. 6 Stasiun Threser
Sumber : PT Herfinta, 2022
Faktor-faktor penyebab tidak sempurnanya kerja thresher antara lain:

• Pengisian thresher yang berlebihan, sehingga berfungsi sebagai transport saja


bukan sebagai penebah.

• Putaran thresher yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

• Posisi kedudukan (kemiringan) plat yang terlalu miring dan ukuran plat yang
terlalu pendek, sehingga tandan buah tidak terangkut atau terlalu cepat keluar
dari ruang drum

• Diameter drum yang terlalu kecil sehingga ketinggian bantingan kurang.

• Panjang drum yang telalu pendek sehingga frekuensi bantingan sedikit.

Untuk pengisian thresher sangat tergantung daripada kedisiplinan operator,


sedangkan putaran thresher tidak bisa diubah lagi tanpa modifikasi, akan tetapi
putaran sudah cukup baik. Untuk memperbaiki kinerja thresher yaitu dengan
pengendalian feeding ke thresher

7. Bunch Crusher

Pemipilan yang dilakukan pada mesin threser terkadang masih kurang sempurna
atau masih ada brondolan yang melekat pada janjangannya yang disebut USB
(Unstripped bunch). untuk mengatasai hal tersebut, maka ditambahkan suatu alat
yang disebut dengan Bunch Crusher yang berfungsi untuk menggiling atau
meremukkan janjangan sehingga brondolan yang masih melekat dapat lepas dari
janjanganya. Oleh karena itu bunch crusher sangat membantu untuk

14
meningkatkan pencapaian rendemen minyak CPO dan kernel pada pabrik
pengolahan kelapa sawit. (Muhammad Rizky, 2021).

Gambar 2. 7 Bunch Crusher


Sumber : PT Herfinta, 2022
Secara garis besar tujuan pemakaian mesin Bunch Crusher yaitu:

- Meminimalkan losses pada janjangan

- Menyempurnakan proses di stasiun penebahan.

2.4 Rethresher

Menurut Rantawi dan Mahfud (2019, hal 11), rethresher adalah alat yang
fungsinya sama dengan thresher yaitu membanting material berupa TBR sehingga
merontokkan berondolan, akan tetapi untuk unit rethresher ini TBR yang
diumpankan yaitu TBR yang telah melewati bunch crusher, atau janjang kosong

Pemipilan yang dilakukan di stasiun thresher kadang-kadang tidak sempurna, hal


ini dapat disebabkan sebagai berikut :

1. Perebusan TBS di sterilizer tidak baik secara merata.

2. Kualitas TBS masuk ke pabrik tidak sama baik nya.

3. Kondisi pengumpanan maupun stripper yang tidak baik.

2.5 Unstripped bunch (USB)

Menurut Rahardja, (2012, hal 13), unstripped bunch (USB) adalah berondolan
yang masih menempel atau tersisa dijanjangan. Brondolan yang masih menempel
pada tandan kosong kelapa sawit setelah dipipil dari mesin penebah (thresher), ini
15
disebabkan banyaknya buah mentah yang masuk ke dalam PKS. Losses juga dapat
diartikan sebagai kehilangan bahan produksi saat dilakukan proses pengolahan
kelapa sawit.

Losses terjadi diakibatkan karena adanya kesalahan atau ketidaktetapan


didalam proses yang melalui suatu sistem. Bahan baku juga dapat mempengaruhi
losses, apabila adanya pengutipan brondolan dilapangan yang tidak dikutip
dengan sepenuhnya sehingga capaian rendemen akhir setelah diolah di PKS akan
rendah. Pada umumnya losses terjadi karena adanya kesalahan dalam proses
pengolahan dan kinerja mesin yang tidak efektif lagi. Adapun hal yang harus
diperhatikan untuk melihat sumber dan timbulnya losses yaitu :

a. Proses ekstraksi minyak (penuangan buah di loading ramp sampai proses


pengepresan).
b. Proses pengutipan minyak di stasiun klarifikasi.
c. Proses pengutipan inti (dimulai dari TBS diterima pada loading ramp sampai
ke tempat produksi penimbunan).
d. Tandan buah rebus yang telah melewati thresher dan masih tersisanya
brondolan pada tandan buah rebus.

Proses pengolahan TBS menjadi minyak dan inti sawit akan selalu
mengalami kehilangan minyak dan inti sawit, didalam proses pengolahan
diharapkan untuk terjadinya losses sekecil mungkin dan pengambilan minyak dan
inti dengan sebesar-besarnya. Meskipun sebenarnya banyak losses didalam
pengolahan, namun yang diperhatikan paling utama adalah losses minyak dan inti.
Hal ini disebabkan karena minyak dan inti menjadi ukuran terhadap pendapatan
perusahaan yang menjadi parameter untuk menentukan kinerja PKS. (Surya
dharma, 2015 ,hal 13).

2.6 Losses

Losses yang terdapat pada stasiun threser adalah losses brondolan, losses adalah
kehilangan minyak atau inti sawit sesuai batas norma yang telah ditetapkan.
Brondolan yang lengket pada tandan masih mengandung minyak atau inti sawit
sesuai batas norma yang telah ditetapkan.Brondolan yang lengket pada tandan
masih mengandung minyak dan dapat dikatakan sebagai losses brondolan (USF)

16
USF (unstripped fruit) merupakan brondolan yang masih terdapat di tandan
kosong kelapa sawit setelah di pipil di mesin penebah (Thresher) yang disebabkan
oleh banyaknya buah mentah yang masuk dan diolah di PKS, proses perebusan
yang tidak maksimal dalam memisahkan brondolan dari tandan kosong.

Losses yang terjadi di PKS sebenarnya tidak dipengaruhi oleh bahan baku
TBS atau jenis bahan baku TBS tersebut, melainkan losses terjadi karena adanya
kesalahan atau ketidaktepatan di dalam proses yang meliputi suat sistem. Bahan
baku juga dapat mempengaruhi losses, apabila pengutipan brondolan dilapangan
tidak terkutip sepenuhnya sehingga rendemen akhir setelah diolah di PKS akan
rendah. Pada umumnya losses terjadi karena :

1. Adanya kesalahan dalam proses pengolahan

2. Kinerja dan fungsi mesin/alat tidak efektif lagi

3. Pemasangan instalasi sebagai pendukung proses tidak sesuai.

Adapun hal yang harus diperhatikan untuk melihat sumber dan timbulnya losses
yaitu :

1. Proses ekstraksi minyak (penuangan buah di loading ramp sampai proses


pengepresan)

2. Proses pengutipan minyak di stasiun klarifikasi

3. Proses pengutipan inti (mulai dari TBS diterima di loading ramp sampai
pada tempat penimbunan produksi)

4. Mencari tahu penyebab, tempat terjadinya losses, dan serta menjalankan


antisipasi terhadap terjadinya losses tersebut.

Proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit menjadi minyak sawit
dan inti sawit akan selalu mengalami kehilangan minyak dan inti sawit, namun
diharapkan dalam proses pegolahan adalah agar terjadinya losses sekecil mungkin
dan pengambilan minyak sawit dan inti sebesar-besarnya. Meskipun sebenarnya
ada banyak losses dalam pengolahan, namun yang selalu diperhatikan paling
utama dalam produksi yaitu losses minyak dan losses inti. Hal ini disebabkan
atara lain karena minyak dan inti sawit menjadi ukuran terhadap pendapatan

17
perusahaan yang dianggap sebagai parameter yang menentukan kinerja PKS.

Akibatnya losses yang lain menjadi kurang dalam perhatian, meskipun


sebenarnya cukup berpengaruh juga terhadap kinerja perusahaan terutama biaya
olah produksi. Dampak yang paling menyedihkan terhadap kinerja PKS selain
rendemen adalah kapasitas olah yang mana kapasitas olah dianggap semata-mata
hanyalah kemampuan PKS untuk megolah bahan baku (TBS) dalam waktu satu
jam yaitu 60 ton TBS/jam.

Keberhasilan perebusan jika tidak didukung pemipilan yang baik maka


kehilangan brondolan dan minyak akan tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan
pemipilan yang lebih sempurna dan perlu ditambahkan bahwa keberhasilan
pemipilan juga tergantung pada proses perebusan.

Untuk dapat mengetahui apakah proses perebusan dan pemipilan telah


terlaksana dengan baik, maka tandan yang keluar dari pemipil harus diteliti dan
dianalisa. Tandan yang belum cukup terpipil dikumpulkan untuk direbus kembali
dengan mengambil contoh tandan yang keluar dari pemipil, dapat diteliti hal-hal
sebagai berikut :

• Banyaknya tandan kosong yang harus direbus ulang dalam satu hari. Hal ini
dipakai dalam menghitung berkurangnya kapasitas PKS karena pekerjaan
ulangan (rework).

• Brondolan yang masih terdapat dalam tandan kosong dianalisis secara teratur
untuk mengetahui kerugian yang timbul. Hal ini berhubungan dengan
efisiensi/ekstraksi PKS.

• Dalam jangka waktu tertentu, tandan kosong harus diambil untuk dianalisis
minyak yang terserap oleh tandan kosong tersebut. Hal ini berhubungan
dengan ekstraksi yang dihasilkan PKS.

Dari data tersebut, diperoleh angka kerugian minyak dalam buah yang
tidak terpipil, disamping kerugian minyak dalam tandan kosong, angka tersebut
bersama dengan angka kerugian di bagian pengolahan lain akan memberikan
gambaran mengenai ekstraksi dari proses pengolahan secara keseluruhan. Hal ini
penting untuk mengadakan perbaikan pada proses pengolahan, baik mengenai

18
cara kerja maupun efisiensi peralatan pengolahan. (Pahan, 2006:223-228)

2.7 Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)

Tandan kosong kelapa sawit adalah salah satu produk sampingan pabrik kelapa
sawit yang jumlahnya sangat melimpah. Dalam satu hari pengolahan bisa
dihasilkan ratusan ton TKKS. Diperkirakan saat ini limbah TKKS di Indonesia
mencapai 20 juta ton. TKKS tersebut memiliki potensi untuk diolah menjadi
berbagai macam produk. Sebagian besar tandan kosong yang dihasilkan dari
stasiun penebah (Threshing), masih mengandung minyak. Untuk itu, kerugian
yang terjadi pada proses penebahan ada dua macam, yaitu kerugian minyak yang
terserap oleh tandan kosong dan kerugian minyak dalam buah yang masih
tertinggal di tandan (tidak membrondol). Tingkat kematangan buah dan metode
perebusan buah yang sangat menentukan dalam keberhasilan proses pengolahan
buah kelapa sawit. Semakin tinggi tingkat kematangan dan semakin lama waktu
perebusan, semakin besar pula kemungkinan bahwa minyak akan meleleh keluar
dari daging buah selama perebusan karena daging menjadi sangat lunak. Pada saat
proses pemipilan, minyak tersebut diserap oleh tandan.

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat dimanfaatkan sebagai sumber


pupuk organik yang memiliki kandungan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanah
dan tanaman. Tandan kosong kelapa sawit mencapai 23% dari jumlah
pemanfaatan limbah kelapa sawit tersebut. (Ketaren S, 2012)

19
2.8 Kajian Penelitian Yang Relevan

Kajian penelitian yang relevan membahas jurnal atau paper penelitian yang memiliki kesamaan dengan peneltian yang akan
dilakukan dengan membandingkan setiap jurnal atau paper seperti metode yang digunakan, variabel dan hasil penelitian. Berikut
adalah jurnal atau paper yang dibandingkan :

Tabel 2. 2 Penelitian Terdahulu

NO Nama Tahun Judul Hasil /Kesimpulan

1 Muhammad 2021 Efisiensi penggunaan bunch crusher Berdasarkan analisis losses USB yang
Rizky di stasiun thresher terhadap losses diperoleh sebelum bunch crusher sebesar
USB (Unstripped bunch) di pks sawit 3.27% dan sesudah bunch crusher sebesar
seberang pt. perkebunan nusantara II 1.16%.

2 Rizki 2010 Analisa kinerja threser di blangkahan Data dari hasil penelitian tersebut yaitu losses
palm oil mill PT. yang dihasilkan sebesar 1,3% diakibatan oleh
Isnainy
feeding thresher yang terbuka penuh sehingga
Ukindo
Resa
terjadi overload dan dan pemipilan tidak
maksimal. Pengaturan mesin threser yang
meningkatkan performa mesin sehingga losses
yang diperoleh kecil.

20
3 Muhammad 2020 Perbandingan jumlah persentase Berdasarkan hasil pengujian paired sampels
Alfaridzi Unstripped bunch (USB) sebelum dan statistic rata-rata persentase sbelum melewati
sesudah melewati unit bunch crusher bunch crusher sebesar 3.40% dan sesudah
pada stasiun thresher di PT. Tri melewati bunch crusher sebesar 1.17%.
Bahtera Srikandi

4 Fina 2009 Efektivitas kinerja thresher terhadap dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
losses brondolan di tandan kosong kinerja thresher dikatakan efektif apabila tidak
Rachmaw
kelapa sawit (tipe Double thresher) di terdapat brondolan di tandan kosong, dan
Aty
PT BAKRIE SUMATERA efektivitas kinerja thresher sangat dipengaruhi
PLANTATION KISARAN PALM oleh beberapa faktor. Untuk mengurangi losses
maka digunakan Double thresher agar
OIL
pemipilan dapat dilakukan secara maksimal.

5 Novita Putri 2010 Pengaruh kerja threser terhadap Pemisahan buah dari tandan kosong yang
kehilangan buah di tandan kosong dianggap cukup baik jika kehilangan buah di

(UNSTRIFRUIT) dan kehilangan inti tandan kosong (UNSTRIFRUIT)


sawit pada stasiun penebahan di Maksimum sebesar 0,7 % dan jumlah
PTP.Nusantara III PKS Rambutan kehilangan inti maksimum sebesar
Tebing Tinggi 0,5 %

21
2.9 Kerangka Konseptual

Berikut merupakan kerangka konseptual.

Gambar 2. 8 Kerangka Konseptual

22
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan waktu Penelitian

Untuk mendukung penyelesaian penulisan karya akhir ini, maka dibutuhkan


perolehan data-data melalui tekhnik ragam percobaan dan pengamatan. Tempat
penelitian dilaksanakan di PT. Herfinta Farm & Plantation Aek Batu, Torgamba,
Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara. Waktu pelaksanaan 01 Oktober 2022
sampai 14 Oktober 2022

3.2 Metode pengambilan Data

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan


dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang dibuat dalam bentuk
hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap pertanyaan dari penelitian.
Jawaban itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk itulah dibutuhkan
pengumpulan data. Data tersebut dikumpulkan dari sampel yang telah ditentukan
sebelumnya. Ada dua jenis data yang biasa digunakan untuk melakukan suatu
penelitian yaitu :

3.2.1 Data Primer

Data primer adalah data yang diolah sendiri oleh organisasi yang menggunakan
data tersebut.Data ini diperoleh dengan cara langsung datang mengadakan
pengamatan terhadap objek penelitian dan melakukan wawancara tentang topik
yang dibahas penulis sehingga akan diperoleh data-data yang bersifat lebih akurat
kebenarannya dan lebih cepat. (Windasari, 2013)

23
3.2.2 Data Sekunder

Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari suatu perusahaan dan data tersebut
sudah diolah dan terdokumentasi di perusahaan seperti sejarah singkat
perusahaaan,struktur organisasi perusahaan ,serta kelengkapan data lainnya.Data
ini juga bisa bersumber dari buku-buku dan sumber kepustakaan lainnya yang
mendukung pembahasan dalam penelitian ini. ( Abdillah dan Emigawaty,2009
Hal : 24 )

Data yang digunakan penulis dalam penelitian ini


adalah data primer dengan melakukan pengamatan langsung
di pabrik kelapa sawit PT.Herfinta Farm & Plantation untuk
meneliti Efektifitas Kinerja Double Threser Terhadap Losses
Berondolan Di Tandan Kosong Kelapa Sawit.

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Alat

Adapun alat yang digunakan yaitu

1.Mesin Penebah ( Threser)

2. klick Counter 2 Buah

3.3.2 Bahan

Tandan Kosong kelapa Sawit ( Empty Bunch )

3.3.3 Prosedur Kerja

1. Teknik Pengambilan Sampel

Sampel berupa tandan kosong kelapa sawit yang keluar dari mesin penebah atau
thresher dan diangkat oleh empty bunch conveyor. Percobaan dilakukan untuk
200 tandan kosong kelapa sawit.

2. Analisa losses brondolan di tandan kosong kelapa sawit

Sampling dilakukan di empty bunch conveyor, setelah keluar dari thresher.

Alat : Counter 2 buah.

Prosedur Kerja
24
1. Klik Counter dipegang ditangan kanan dan ditangan kiri masing-masing 1
buah

2. Dilihat keluaran Tandan dari Threser I dan II Menggunakan Klick Counter

3. Dihitung jumlah tandan kosong yang lewat sebanyak 200 tandan dengan
klick counter tangan kanan dan tangan kiri menghitung jumlah tandan yang
masih mengandung brondolan

4. Dilihat apakah ada Variabel lain,Jika tidak ada hitung Losses Keluaran
Threser 1 & 2

5. Ditentukan Efektifitas Pada Threser 1 & 2

3.3.4 Diagram Alir Prosedur

Mulai

Klik Count er dipegang ditangan kanan dan ditangankiri masing -masing 1 buah

Dilihat keluaran Tandan dari Threser I dan II menggunakan


Klick Counter

Dihitung jumlah tandan kosong yang lewat sebanyak 200 tandan


dengan klick counter tangan kanan dan tang an kiri menghitung
jumlah tandan yang masih mengandung brondolan

Dihitung losses keluaran Thresher 1 & 2


Ya

Apakah ada
variabel lain?

Tidak

Ditentukan efektifitas pada Threser 1 & 2

Selesai

Adapun diagram alir prosedur kerja losses brondolan di tandan kosong dapat
25
dilihat pada gambar 3.1 di bawah ini :

Gambar 3. 1 Diagram Alir Penelitian

26
3.4 Analisa Data

Analisa data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lainnya,
sehingga dapat dengan mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan
kepada oranglain. (Sugiyono, 2013 Hal 244)

Berdasarkan data yang diperoleh maka dapat


disimpulkan hasil persentase losses brondolan di tandan
kosong kelapa sawit dengan menghitung data menggunakan
rumus sebagaijumlah
berikut :
tankosterdapat brondolan
Losses Brondolan ditankos= x 100 %
jumlah tankos

*Tankos : Tandan kosong

Sumber : PT.Herfinta,2022

27
DAFTAR PUSTAKA

A.B. Rantawi dan A. Mahmud, 2019. Efektivitas Penggunaan Double Deck


Bunch Crusher Untuk Meminimalkan Persentase Fruit Losses in Empty
Bunch. PT. Unggul Widya Teknologi Lestari : Sulawesi Barat.

Amri Nofrizal, dkk. 2015. Analisis Potensi dan Pengaruh Waktu Penyimpanan
Buah Terhadap Mutu Minyak Kelapa Sawit Tipe Dura, Psifera, dan
Tenera di Kebun Bangun Bandar, Dolok Masihul Sumatera Utara

Dharma, Surya, (2015). Manajemen Kinerja, Falsafah Teori dan Penerapannya.


Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Fauzi, Y. 2010. Kelapa Sawit. Cetakan Kedua Puluh Dua. Jakarta : Penebar
Swadaya..

Herlina, KD. 2010. Industri Kelapa Sawit : Produktivitas Minyak Kelapa Sawit
Indonesia hanya 3,7 ton per hektar per tahun. Kontan, 12 November 2010.

Ketaren, S. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: Penerbit


Universitas Indonesia (UI). 2012.

Muhammad Alfaridzi, 2020, Perbandingan Jumlah Persentase Unstripped Bunch


(USB) Sebelum dan Sesudah Melewati Unit Bunch Crusher Pada Stasiun
Thresher di PT. Tri Bahtera Srikandi, KAB; Mandailing Natal.

Muhammad Rizky, 2021,Minyak Kelapa Sawit di PKS Sawit Seberang PT.


Perkebunan Nusantara II, Langkat Sumatera Utara

Napitupulu,D dan L.Winarto. 2009. Pengaruh TBS Terhapad Threser. Balai


Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara..

Pahan, Iyung. 2006. “Panduan Lengkap Kelapa Sawit”. Jakarta : Penebar


Swadaya 2012

Siagian Sondang P., 2001. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja, Cetakan


Pertama, PT. Rineka Cipta, Jakarta.

28

Anda mungkin juga menyukai