0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
755 tayangan34 halaman

Bending Manual

Dokumen ini membahas tentang praktikum bending manual. Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari proses dan cara penggunaan mesin bending serta meningkatkan pengetahuan tentang mesin bending.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
755 tayangan34 halaman

Bending Manual

Dokumen ini membahas tentang praktikum bending manual. Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari proses dan cara penggunaan mesin bending serta meningkatkan pengetahuan tentang mesin bending.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL PRAKTIKUM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES MANUFAKTUR 2


BENDING MANUAL

LABORATORIUM PROSES MANUFAKTUR


PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
2021
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mengalami
kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan teknologi itu tidak terlepas dari
dukungan dunia industri manufaktur. Pada praktikum proses manufaktur
kali ini membahas mengenai bending manual atau biasa disebut mesin
tekuk. Proses penekukan (bending) biasanya dilakukan untuk membuat
komponen-komponen industri, misalnya pembengkokan knalpot pada
industri otomotif, penekukan pipa pada industri perminyakan dan industri
distribusi air bersih, dan sebagainya.

Contoh lainnya adalah proses pengerjaan plat, masih banyak bengkel


yang memproduksi plat dengan profil tekuk secara manual. Industri kecil
masih melakukan penekukan plat masih dengan menggunakan palu dan
landasan besi sebagai alas. Namun dilihat dari proses pengerjaannya alat
manual masih memiliki beberapa kelemahan, diantaranya hasil atau bentuk
yang dibuat tidak selalu seragam dan memiliki ukuran yang berbeda- beda
tiap kali proses pembentukan ke bentuk lingkaran maupun setengah
lingkaran sehingga tidak presisi yang mengakibatkan proses produksi tidak
maksimal.

Mekanisme bending atau penekuk plat ada yang menggunakan


manual, akan tetapi sudah mulai ditinggalkan dan beralih ke mesin bending
otomatis (hydraulic) mengingat efesiensi waktu dan kapasitas mesin. Ada
dua jenis bendingan yaitu bendingan lurus dan bendingan radius.
Bendingan lurus adalah bendingan yang hasil bendingnya berbentuk garis

Kelompok 5
atau lurus sedangkan, bendingan Radius adalah bendingan yang hasil
bendingnya berbentuk radius.

Bending test merupakan salah satu bentuk pengujian untuk


menetukan mutu suatu material secara visual. Selain itu uji lentur
digunakan untuk mengukur kekuatan material akibat pembebanan dan
kekenyalan hasil sambungan las baik di weld metal maupun HAZ (Heat
Affected Zone). Adapun pengujian bending (Bending Test) terbagi menjadi 2
bagian, yaitu pengujian tekuk melintang (transversal bending) dan
pengujian tekuk memanjang (longitudinal bending). Yang paling umum
digunakan adalah jenis pengujian tekuk melintang, karena
pengaplikasiannya yang banyak, seperti pada industri otomotif,
perminyakan, pertambangan, dsb. Walaupun begitu, tentunya kedua jenis
pengujian bending ini sangat dibutuhkan pada bidang pengelasan.

Praktikum kali ini yang berjudul Bending Manual dilakukan dengan


tujuan untuk mengenalkan secara langsung mesin mesin perkakas (bending)
serta cara pengoperasiannya, dan juga meningkatkan pengetahuan serta
keterampilan tentang mesin mesin perkakas.

2. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum bending manual ini terbagi
menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu sebagai berikut :
A. Tujuan umum :
Adapun tujuan umum dari dilakukannya praktikum bending
manual ini adalah sebagai berikut :
1) Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta
cara pengoperasiannya.
2) Peningkatan pengetahuan serta ketrampilan tentang mesin-mesin
perkakas.

B. Tujuan khusus :

Kelompok 5
Adapun tujuan khusus dari dilakukannya praktikum bending
manual ini adalah sebagai berikut :
1) Dapat mengetahui, menguasai dan menggunakan mesin bending.
2) Mengetahui proses dan cara penekukan benda kerja dengan mesin
bending.

Kelompok 5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian mesin bending


Mesin tekuk (bending) merupakan suatu mesin yang berfungsi untuk
menekuk suatu material untuk mendapatkan profil tekukan atau bentuk lain
sesuai yang dikehendaki. Untuk mendapatkan hasil tekukan yang baik dan
sesuai dengan yang dikehendaki, maka tebal material tekuk disesuaikan
dengan kemampuan dan kekuatan dari mesin tekuk tersebut. Kekuatan untuk
menekuk material pada mesin tekuk biasanya berupa tekanan, sumber
tekanan bisa didapatkan dari suspensi pegas, kekuatan aliran angin
(pneumatik) maupun oli (hidrolik). Mesin penekuk plat atau mesin tekuk
adalah pengerjaan membentuk logam lembaran (plat) sehingga sesuai dengan
bentuk dan ukuran yang sudah direncanakan.

Pengontrol sistem penekan bisa dilakukan secara manual maupun


otomatis tergantung pada spesifikasi mesin tekuk yang digunakan. Sifat
mekanik dan struktur mikro material mempengaruhi proses peregangan.
Dalam setiap regangan yang terjadi saat penekukan maka terjadi radius
bengkokan. Pada proses peregangan terjadi proses deformasi plastis yang
mengakibatkan terjadinya penekukan.

Bending adalah salah satu proses pembentukan yang biasa dilakukan


untuk membuat barang kebutuhan sehari-hari seperti pembuatan komponen
mobil, pesawat, dan peralatan rumah tangga. Proses bending dilakukan
dengan menekuk benda kerja hingga mengalami perubahan bentuk yang
menimbulkan peregangan logam pada sekitar daerah garis lurus (dalam hal
ini sumbu netral). Proses ini tidak hanya berfungsi untuk membentuk logam

Kelompok 5
tetapi juga berguna untuk meningkatkan sifat kekakuan dari suatu benda
yang telah mengalami proses bending dengan cara menambah momen inersia
benda. Sebagaimana diketahui bahwa lembaran plat dengan bentuk
gelombang mempunyai kekakuan yang lebih tinggi daripada lembaran plat
yang rata.

Gambar 2.1.1 Penekukan logam


(Sumber : (Kalpakjian & Schmid, 2010))

Pada proses pembentukan suatu material akan lebih tahan terkena


kompresi dibandingkan bila terkena tarikan sehingga pada bagian luar benda
yang ditekuk akan mengalami lulur yang terlebih dahulu dan mengakibatkan
pengecilan logam pada daerah tersebut atau ketebalan dari benda akan
berkurang. Karena regangan plastic sebanding dengan jarak dari sumbu
netral, serat-serat pada permukaan luar mengalami regangan lebih besar
dibandingkan serat pada permukaan dalam dan serat permukaan dalam
mengalami pengkerutan.

Gambar 2.1.2 Metode penekukan


(Sumber: (Kalpakjian & Schmid, 2010))

Dalam v-bending, lembaran logam ditekuk di antara punch berbentuk


v dan die. Kisaran sudut mulai dari yang sangat tumpul hingga sangat tajam

Kelompok 5
dapat dibuat dengan v-die. V-bending adalah proses pembengkokan yang
dilakukan antara pemukaan berbentuk V, umumnya digunakan untuk proses
produksi rendah. Edge bending melibatkan pembebanan kantilever dari
lembaran logam. Pressure pad digunakan untuk menerapkan gaya Fh guna
menahan pangkal benda kerja terhadap die, sementara punch menekan tepi
benda kerja dan menekuknya sepanjang tepi die. Pada pengaturan yang
ditunjukkan pada gambar 2(b), edge bending terbatas pada tekukan 90⁰ atau
kurang. Wiping die lebih rumit dapat dirancang untuk sudut tekuk yang
lebih besar dari 90⁰. Pressure pad serta wiping die dinilai lebih rumit dan
mahal daripada v-die, dan umumnya digunakan untuk pekerjaan produksi
tinggi (Wibowo, Raharjo, & Kusharjanta, 2014).

Gambar 2.1.3 Proses Bending


(Sumber: (Wibowo, Raharjo, & Kusharjanta, 2014))

Dalam proses bending sebagaimana ditunjukkan pada gambar diatas


akan terjadi perubahan pada material yang dipengaruhi beberapa hal antara
lain:
1) Terjadi tegangan tarik pada sisi luar dari benda kerja dan tegangan tekan
pada sisi dalamnya yang dipisahkan oleh sumbu netral yang diasumsikan
berada ditengah-tengah ketebalan plat. Jika tegangan tarik tersebut terlalu
besar dapat menyebabkan retak, dan sebaliknya jika terlalu kecil akan
menyebabkan kerutan pada bagian dalam benda kerja.

2) Jari-jari bending juga berpengaruh dalam proses bending dimana jika


jari-jari terlalu kecil akan dapat menimbulkan regangan tarik yang cukup
besar pada sisi luar yang akhirnya retak sedangkan pada bagian dalam
akan terjadi kerutan akibat regangan kompresi.

Kelompok 5
Besarnya gaya bending yang diperlukan untuk melakukan proses
pembentukan material pada umumnya bisa diperkirakan dengan
mengasumsikan bahwa proses bending terjadi pada batang rektanguler
(rectangular beam). Dalam hal ini gaya bending merupakan fungsi dari
“Strength of material”, panjang batang, tebal batang serta jarak terbukanya
die (die opening).

Penekukan (bending) dalam pekerjaan lembaran logam didefinisikan


sebagai peregangan logam di sekitar sumbu lurus. Selama proses penekukan,
logam di bagian dalam bidang netral ditekan, sedangkan logam di bagian luar
bidang netral diregangkan. Kondisi regangan ini dapat dilihat pada gambar
(b). Logam ini dideformasi secara plastis sehingga tekukan bisa permanen
meskipun tegangan yang menyebabkannya dihilangkan. Bending
menghasilkan sedikit atau tidak ada perubahan pada ketebalan lembaran
logam.

2. Macam-macam mesin bending


Mesin bending terbagi menjadi 2 jenis, yaitu berdasarkan bahan yang
dibengkokkan dan berdasarkan cara pembengkokannya.
A. Berdasarkan bahan yang dibengkokkan
Adapun mesin bending berdasarkan bahan yang dibengkokkan
terbagi menjadi 2, yaitu :
1) Mesin Bending Plat
Mesin ini merupakan jenis mesin yang proses penekukannya
menggunakan plat oleh alat manua. Biasanya juga bisa dilakukan
secara otomatis menggunakan alat bernama hydraulic pipe bender.
Mesin ini menjadi yang paling sering digunakan dalam kebutuhan
industri. Variannya juga sangat beragam diantaranya:
a) Plat Mekanikal
Plat mekanikal memanfaatkan energi motor listrik sebagai
sumber tenaga utama. Tentunya jika menggunakan sumber
tenaga ini, maka pengerjaannya akan jauh lebih cepat.

Kelompok 5
Segalanya akan terasa lebih efisien. Bahkan mesin ini juga
dibantuk oleh sejenis mesin yang disebut dengan roda gila untuk
pemasok tenaga tambahan.
b) Plat Hidrolik
Mesin plat hidrolik menggunakan sistem hidrolik sebagai
komponen utama. Jadi, dapat dikatakan bahwa sumber tenaga
penekuknya adalah plat hidrolik. Ketika pompa hidrolik tersebut
digerakkan, maka energi listrik yang dipakai menjadi jauh lebih
efisien. Wajar saja jika jauh lebih menghemat energi.
c) Plat Manual
Mesin ini menggunakan proses pengerjaan sendiri atau manual.
Pengerjaannya memanfaatkan tenaga manusia yang dibantu
dengan semacam bandul pemberat. Karena proses
pengerjaannya masih terbilang manual, maka mesin ini relatif
lebih hemat. Hal ini disebabkan karena alat ini sama sekali tidak
menggunakan energi listrik.

2) Mesin Bending Pipa


Mesin yang melakukan penekukan dengan benda kerja pipa
dilakukan secara manual. Bending ini juga kerap memanfaatkan
sistem otomatis dengan nama hydraulic pipe bender. Apabila
dibandingkan dengan mesin plat, maka mesin ini cukup jarang
digunakan. Meskipun demikian, alat ini tetap banyak dibutuhkan,
terkhusus di industri perminyakan dan pertambangan.

B. Berdasarkan cara pembengkokannya


Adapun mesin bending berdasarkan cara pembengkokannya
terbagi menjadi 5, yaitu :
1) Bending Manual
Mesin bending adalah suatu alat atau perkakas yang akan
digunakann untuk menekuk suatu material untuk mendapatkan
profil tekukan atau bentuk lain yang sesuai yang dikehendaki.

Kelompok 5
Gambar 2.1.3 Mesin Bending Manual
(Sumber: Dokumentasi lab manufaktur)

2) Bending Ram
Bending Ram biasanya digunakan untuk membuat lengkungan besar
untuk logam yang mudah bengkok. Dalam metode ini, plat atau pipa
ditekan pada 2 poin eksternal dan ram mendorong pada besi pada
poros tengah untuk menekuknya. Cara ini cenderung membentuk
menjadi bentuk oval baik di bagian dalam dan luar lengkungan.

Gambar 2.1.4 Bending ram machine


(Sumber : https://bit.ly/2ZbCNTZ)

3) Bending Rotary Draw


Bending Rotary Draw digunakan untuk membengkokan besi sebagai
pegangan tangan, yang lebih keras. Bending rotary draw imbang
menggunakan 2 cetakan, yaitu cetakan bending stasioner dan
cetakan bending dengan diameter tetap untuk membentuk
lengkungan. Cara ini digunakan apabila plat atau pipa yang akan
dibending perlu memiliki hasil akhir yang baik dengan diameter
konstan di seluruh panjang. Bending Rotary Draw biasanya

Kelompok 5
digunakan membengkokkan silinder yang kopong, seperti pipa besi.
Karena itu, mesin Rotary Draw tergolong ke dalam jenis mesin
bending pipa. Mesin ini banyak digunakan di industri perminyakan
dan pertambangan.

Gambar 2.1.5 Mesin rotary draw


(Sumber : https://bit.ly/3G5kh0i)
4) Bending Mandrel
Selain cetakan yang digunakan dalam rotary bending, bending
mandrel juga mirip dengan rotary bending yakni dengan cara
menggunakan support fleksibel yang ikut bengkok dengan logam
untuk memastikan interior logam tidak cacat. Gambar mesin
bending mandrel dapat dilihat seperti dibawah ini.

Gambar 2.1.6 Mesin bending mandrel


(Sumber : https://bit.ly/2XBYOL3)

5) Bending Induksi Panas


Proses ini mengunakan panas dari kumparan listrik untuk
memanaskan area yang akan dibengkokan, dan kemudian logam
dibengkokan dengan cetakan mirip dengan yang digunakan rotary

Kelompok 5
draw. Logam segera didinginkan dengan air setelah pembengkokan.
Cara ini menghasilkan lengkungan yang lebih kuat daripada rotary
draw.

Gambar 2.1.7 Mesin induksi panas


(Sumber : https://bit.ly/3m5nsNN)

6) Bending Roll
Bending Roll digunakan ketika diperlukan lengkungan yang besar
pada logam. Bending roll menggunakan 3 roller yang disusun
membentuk segitiga pada satu poros untuk mendorong dan
membengkokan logam. Mesin ini terbilang efisien waktu, karena
dapat memproduksi lengkungan logam dalam jumlah yang besar dan
dalam waktu yang singkat. Mesin ini banyak digunakan untuk
pekerjaan konstruksi, seperti pembangunan fasilitas umum,
pembangunan rumah, dsb.

Gambar 2.1.8 Mesin Roll Bending :


(Sumber : https://bit.ly/3nmQEyY)

3. Macam-macam Proses Bending

Kelompok 5
Dalam dunia industri tentu proses penekukan atau pembengkokan ini
sangatlah penting. Di samping itu, variannya juga sangat beragam. Proses
penekukan dengan alat ini terbagi menjadi beberapa macam. Beberapa
diantaranya ialah seperti berikut.
A. Press Brake
Press brake merupakan proses kerja yang dibantu penekan serta
sebuah cetakan tertentu. Hal ini tentunya akan menghasilkan tekukan
yang persis sama dengan bentuk cetakan.

B. Angle
Angle merupakan proses yang pembentukan plat maupun besinya dibuat
dengan menekuk pada bagian plat tertentu saja. Hal ini semata-mata
bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan.
C. Draw
Proses draw merupakan cara mencetak plat yang menggunakan roll
penekan atau cetakan tertentu. Pengerjaannya terbilang sangat cepat
sehingga mampu menghasilkan produk yang banyak dalam waktu yang
singkat.

D. Roll Forming
Ini merupakan proses pembentukan kontur suatu benda kerja dengan
memanfaatkan cold working. Proses ini digunakan ketika melakukan
pembentukan kompleks, dan tentunya membutuhkan sumber tenaga yang
besar dalam pengerjaannya.

E. Roll
Roll adalah proses yang umum dilakukan ketika membentuk silinder
maupun lengkung lingkaran lainnya. Plat logam ini nantinya akan
disisipkan pada roll yang mengalami perputaran.

F. Straightening

Kelompok 5
Straightening merupakan proses pengerjaannya yang berlawanan dengan
bending itu sendiri. Jadi proses ini justru bisa meneruskan atau
meluruskan logam. Jadi, bisa dikatakan bahwa mesin ini paling berbeda.

G. Seaming
Proses pengerjaan ini dilakukan ketika hendak menyambungkan bagian
ujung lembaran logam untuk membentuk benda kerja. Nantinya
sambungan tersebut akan disambungkan dengan roll kecil lainnya.

H. Flanging
Flanging adalah operasi penekukan dimana ujung dari lembaran logam
ditekuk hingga membentuk sudut yang pada umumnya 90 derajat untuk
membentuk pelek atau flensa. Proses pengerjaan benda kerja secara
flanging serupa dengan seaming. Hanya saja proses ini digunakan untuk
melipat sekaligus membentuk permukaan yang jauh lebih besar
(Groover, 2010)

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Bending


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses tekuk (bending)
adalah sebagai berikut :
A. Plat ketebalan
Proses bending akan mengakibatkan penarikan pada sisi luar dan
pengkerutan pada sisi dalam kelengkungan. Ketebalan plat akan
berpengaruh pada radius bending yang dapat dibentuk dan kemampuan
material untuk dapat mengalami peregangan tanpa terjadi distorsi.

B. Prosedur
Prosedur atau metode yang tepat proses pembengkokan yang dilakukan
sangat berpengaruh pada kualitas produk yang dihasilkan.

C. Material

Kelompok 5
Material dengan ukuran besar sistim dilengkungkan dengan radius yang
kecil akan mudah mengalami distorsi dibandingkan material dengan
ukuran kecil dan radius bending yang besar.

D. Peralatan
Peralatan yang digunakan termasuk cetakan, clamp dan mandrel.

E. Pelumasan
Pelumasan diperlukan untuk mengurangi efek gesekan dan meningkatkan
efisiensi proses pemesanan.

F. Bend allowance
Jari-jari tekuk pada umumnya diukur dari sumbu tekuk (bend axis) ke
permukaan tekukan bagian dalam (bukan ke permukaan sumbu netral).
Jari- jari tekuk ini ditentukan oleh jari-jari perkakas yang digunakan pada
operasi tersebut. Tekukan dibuat pada benda kerja yang memiliki lebar.
Bila jari-jari tekuk relatif kecil terhadap ketebalan bendakerja, maka
logam cendrung akan mengalami regangan selama proses
pembengkokkan. Agar diperoleh dimensi akhir sesuai dengan yang
diinginkan, maka perlu menghitung panjang awal bagian lembaran yang
akan mengalami peregangan (panjang pada sumbu netral sebelum
dibengkokkan). Panjang bagian lembaran tersebut disebut bend
allowance.

5. Kegagalan Dalam Proses Bending


Dalam proses bending terdapat beberapa jenis kegagalan, yaitu
sebagai berikut :
A. Kegagalan sobek disebabkan karena keelastisan benda yang kurang atau
pada saat pesanan terjadi tumbukan yang terlalu besar sehingga benda
yang berbentuk menerima tekanan lebih yang menyebabkan sobek.
Terjadi pada pengerjaan yang menggunakan benda plat atau piringan.

Kelompok 5
B. Patah benda meupakan salah satu kegagalan dalam proses pembendingan
yaitu patah. penyebab patah antara lain terlalu kerasnya benda yang
dibentuk. Benda yang cukup atau tidak dalam cetakan yang tidak
elastisitas yang cukup, sehingga tekanan yang dilakukan bukan
membentuk tapi kan. Sebab lain yaitu berulang kali penekukan yang
dilakukan pada benda di titik tekukan yang sama.

C. Springback terjadi karena pemulihan deformasi plastis logam setelah


beban dihilangkan, mengakibatkan terjadinya distorsi bagian dan
kehilangan keseimbangan dimensi. Sudut lengkung akhir setelah diberi
kekuatan tekanan / pesanan lebih kecil dan radius lengkung akhir lebih
besar dari yang sebelumnya. Sudut lengkung yang dihasilkan menjadi
lebih besar setelah pesanan dilakukan. Kegagalan springback negatif
dapat berupa kembalinya bentuk benda menuju ke bentuk semula.
Springback dapat diatasi dengan melakukan overbending. (Kalpakjian &
Schmid, 2010).

6. Tegangan
Tegangan dalam mekanika adalah besaran yang menunjukan gaya
internal antarpartikel dari suatu bahan terhadap partikel lainnya. Seperti
contoh, batang padat vertikal yang menyokong beban, setiap partikel dari
batang mendorong partikel lainnya yang berada di atas dan dibawahnya. Gaya
makroskopik yang terukur sebenarnya merupakan rata-rata dari sejumlah
besar tumbukan dan gaya antarmolekul di dalam batang tersebut.

Tegangan di dalam suatu benda bisa terjadi oleh berbagai mekanisme,


seperti reaksi terhadap gaya eksternal (misal gravitasi) yang diaplikasikan ke
bahan curah, juga reaksi terhadap gaya yang diaplikasikan ke permukaannya
seperti gaya kontak, tekanan eksternal, dan gesekan. Setiap deformasi dari
benda padat menghasilkan tegangan elastis, mirip dengan reaksi gaya pada
pegas yang selalu kembali ke bentuk semula. Pada cairan dan gas, tegangan
elastis hanya terjadi ketika deformasi mengubah volume. Namun deformasi

Kelompok 5
akan selalu berubah seiring dengan waktu, termasuk cairan (misal pelumas
yang viskositasnya berubah sehingga harus diganti secara periodik).

Sejumlah tegangan yang signifikan dapat terjadi bahkan ketika


deformasi hampir tidak terlihat. Tegangan dapat terjadi tanpa adanya gaya
dari luar, yang disebut dengan builtinstressatau tegangan dari dalam seperti
pada manufaktur beton pracetak dan kaca tempa. Tegangan juga dapat terjadi
tanpa adanya gaya kontak sama sekali, baik dari dalam maupun dari luar,
misal karena perubahan temperatur, perubahan komposisi kimia, dan paparan
gaya magnet.

Apabila suatu gaya dalam ditahan oleh penampang batang maka di


dalam penampang batang tersebut akan mengalami adanya tegangan.
Tegangan adalah reaksi yang timbul di seluruh bagian spesimen dalam rangka
menahan beban yang diberikan. Bila penampangnya kecil itu dijumlah hingga
mencapai penampang spesimen, maka jumlah gaya per satuan luas yang
muncul di dalam bahan itu harus menjadi sama dengan beban dari luar.
Satuan yang digunakan dalam penjabaran tegangan adalah satuan gaya dibagi
dengan satuan luas. Pada satuan SI, gaya diukur dalam Newton (N) dan luas
diukur dalam satuan meter kuadrat (m2 ). Biasanya, 1 N/m2 dikenal sebagai
satu Pascal (Pa).

Apabila di dalam satu penampang terjadi lebih dari satu jenis tegangan
dengan waktu yang bersamaan, dalam hal ini terjadi tegangan gabungan yang
didefinisikan sebagai penjumlahan dari kuadrat tegangan (normal) dengan
hasil kuadrat atas konversi tegangan- tegangan (tangensial) yang dikalikan
tiga. Kemudian hasil penjumlahan tersebut di akar kuadratkan sehingga akan
diperoleh nilai tegangan gabungan. Besarnya konversi tegangan tergantung
dari jenis dan kasus pembebanan. Konsep dari tegangan dapat diilustrasikan
pada sebuah batang prismatis yang mendapat gaya aksial. Batang prismatis
adalah sebuah elemen struktural lurus yang mempunyai penampang kostan di
seluruh panjangnya dan gaya aksial adalah beban yang arah sama dengan

Kelompok 5
sumbu elemen, sehingga mengakibatkan tarik atau tekan pada batang. Pada
gaya aksial, komponen ini mengukur kerja tarikan atau tekanan di
penampang.

Suatu tarikan menyatakan suatu gaya tarik yang cenderung


memperpanjang batang, sedangkan suatu tekanan adalah gaya tekan yang
cenderung memperpendek batang. Gaya ini selalu diberi notasi P. Sedangkan
gaya geser merupakan suatu tahanan total akibat geseran salah satu sisi
penampang suatu bagian terhadap bagian yang lain dan gaya ini selalu diberi
notasi V.
A. Macam-macam Tegangan
Tegangan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yakni tegangan
normal (normal stress), tegangan geser (shear stress), tegangan dukung
(bearing stress), tegangan puntir (torsion stress), dan tegangan lengkung
(bending stress).
1) Normal stress
Tegangan normal (normal stress) adalah intensitas gaya per satuan
luas yang bekerja tegak lurus atau normal terhadap penampang.
Berdasarkan arah gayanya, tegangan normal dibagi menjadi 2 jenis,
yaitu sebagai berikut :
a) Tegangan tarik
Tegangan tarik (tensile stress) merupakan jenis tegangan normal
yang arahnya keluar dari pusat benda, sehingga mengakibatkan
benda merasakan tarikan.

b) Tegangan Tekan
Tegangan tekan (compressive stress) merupakan jenis tegangan
normal yang arahnya kedalam pusat benda, sehingga
mengakibatkan benda merasakan tekanan.

2) Tegangan geser

Kelompok 5
Tegangan geser (Shear stress) merupakan tegangan yang arahnya
sejajar dengan permukaan benda. Tegangan geser berbeda dengan
tegangan tarik maupun tegangan tekan, karena tegangan geser
disebabkan oleh gaya yang bekerja sepanjang atau sejajar dengan luas
penahan gaya, sedangkan tegangan tarik atau tegangan tekan
disebabkan oleh gaya yang tegak lurus terhadap luas bidang gaya.
Tegangan geser terjadi apabila beban terpasang menyebabkan salah
satu penampang benda cenderung mengelincir pada penampang yang
bersinggungan. Tegangan geser dapat dibagi menjadi dua, apabila
ditinjau dari banyaknya geseran bidang yang terjadi yakni geser
tunggal dan geser ganda. Dalam geser ganda, masing-masing gaya
geser sama dengan setengah dari beban total yang disalurkan.

Tegangan geser langsung merupakan tegangan yang dihasilkan oleh


aksi langsung dari gaya-gaya dalam upaya memotong bahan. tegangan
geser langsung terjadi pada desain sambungan yang menggunakan
baut, sendi, paku keling, kunci, las, atau lem. Tegangan geser secara
tidak langsung apabila elemen struktur mengalami tarik, torsi, dan
lentur. Pada setiap kasus, apabila tegangan geser terjadi di sepanjang
luas yang sejajar dengan beban kerja maka disebut tegangan geser
langsung searah. Tegangan geser langsung searah berlawanan dengan
tegangan geser induksi yang terjadi pada penampang miring dengan
beban resultan. Sebagai ilustrasi tentang aksi tegangan geser, maka
kita dapat meninjau sambungan baut. Sambungan tersebut terdiri dari
batang datar, pengapit, dan baut yang menembus lubang di batang dan
pengapit.

Akibat aksi beban tarik, batang dan pengapit akan menekan baut
dengan cara menumpu (bearing) dan tegangan kontak yang disebut
tegangan tumpu akan timbul. Selain itu, batang dan pengapit
cenderung menggeser baut dan kecenderungan ini ditahan oleh
tegangan geser pada baut. Sifat dari tegangan geser yakni apabila

Kelompok 5
tegangan geser pada muka yang berhadapan (dan sejajar) dari suatu
elemen sama besar dan berlawanan arah. Dan apabila tegangan geser
di muka yang bersebelahan (dan tegak lurus) dari suatu elemen sama
besar dan mempunyai arah sedemikian sehingga tegangan-tegangan
tersebut saling menuju atau saling menjauhi garis perpotongan kedua
muka tersebut.

3) Tegangan dukung
Tegangan dukung (Bearing stress) merupakan tegangan yang
disebabkan oleh beban permukaan. Contohnya tegangan yang terjadi
pada bearing.

4) Tegangan puntir
Tegangan puntir (Torsion stress) merupakan tegangan yang
disebabkan gaya puntiran terhadap suatu benda. Tegangan ini sering
dijumpai pada poros atau suatu batang puntir.
5) Tegangan lengkung
Tegangan lengkung (Bending stress) merupakan tegangan yang
diakibatkan karena adanya gaya yang menumpu pada titik tengah
suatu beban sehingga mengakibatkan benda tersebut seakan-akan
melengkung. Tegangan lengkung bervariasi secara linear terhadap
sumbu x dan y bidang benda yang terjadi tegangan. Nilai terbesar dari
tegangan lengkung terjadi pada saat nilai y maksimum (Budynas &
Nisbett, 2015).

Kelompok 5
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

1. Waktu dan Tempat


Praktikum proses manufaktur 1 tentang bending manual akan
dilaksanakan pada Rabu 6 Oktober 2021 pukul 08.00 WIB s.d selesai di
Laboratorium Proses Manufaktur Program Studi Teknik Mesin ITERA
Jurusan Teknik Manufaktur dan Mineral kebumian Institut Teknologi
Sumatera.

2. Alat dan Bahan


Untuk melaksanakan praktikum modul bending manual diperlukan
beberapa alat dan bahan. Alat dan bahan ditampilkan terpisah.
A. Alat
Untuk melaksanakan praktikum modul bending manual
diperlukan beberapa alat yaitu sebagai berikut :
1) Mesin Tekuk (Bending Manual)
Mesin Tekuk berfungsi untuk menekuk benda pipih seperti
lempengan logam, dsb.
j
a
h
f
g
e
b
c

i
d

Gambar 3.2.1 Mesin Tekuk (Bending)


(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

Bagian dan fungsi mesin bending manual:


a) Rahang Penjepit
Berfungsi untuk menjepit benda kerja yang akan di tekuk yaitu

Kelompok 5
plat besi eser.
b) Lengan Hidrolis
Berfungsi untuk meringankan tuas penekuk.
c) Tuas Penekuk
Berfungsi untuk menekuk benda kerja
d) Pedal Pengunci Rahang
Untuk mengunci rahang penjepit
e) Pengunci
Berfungsi untuk mengunci tuas penekuk agar tidak lepas
kembali
f) Meja Rentang
Befungsi sebagai alas untuk benda kerja
g) Rahang Penekuk
Berfungsi sebagai penjepit bawah dalam proses penekukan
benda kerja
h) Penyetel sudut
Berfungsi sebagai penentu sudut penekukan.
i) Pedal pengunci penjepit
Berfungsi sebagai pengunci penjepit pada alat
j) Spindel pengatur keseimbangan rahang penjepit
Berfungsi sebagai penyeimbang kerapatan kiri dan kanan

2) Sarung Tangan
Sarung tangan perlu digunakan selama proses praktikum
berlangsung dan juga sarung tangan berfungsi sebagai pelindung
jari kita selama praktikum. Sarung tangan merupakan alat
perlindungan diri (APD) utama pada saat melakukan praktikum
ini, karena memiliki banyak fungsi, seperti mengantisipasi tangan
dan jari tangan dari benda tajam seperti serpihan logam, kayu, dan
kaca, serta melindungi dari zat yang bersifat korosif seperti besi
berkarat dan cairan kimia korosif.

Kelompok 5
Gambar 3.2.2 Sarung Tangan
(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

3) Kaca Pelindung (Face Shield)


Kaca pelindung berguna ketika kita sedang melakukan kegiatan
memotong suatau benda menggunakan alat berputaran tinggi. Face
shield merupakan perlindungan utama untuk praktikum kali ini.

Gambar 3.2.3 Kaca Pelimdung atau face Shield


(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

4) Sepatu Safety
Fungsi sepatu safety untuk melindungi kaki dari resiko kecelakaan
kerja, seperti serpihan logam tajam yang mampu melukai kaki, dan
juga melindungi dari cairan kimia yang bersifat keras, karena
bahannya yang aman, yaitu kain ataupun kulit yang merupakan
isolator panas yang baik. Sebaiknya menggunakan kaus kaki
sebelum memakai sepatu safety agar perlindungan lebih maksimal.

Kelompok 5
Gambar 3.2.4 Sepatu Safety
(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

5) Penggaris
Pada praktikum cutting ini, penggaris digunakan untuk mengukur
berapa panjang benda yang akan dipotong.

Gambar 3.2.5 Penggaris


(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

6) Apron
Apron merupakan alat perlindungan diri utama dalam praktikum
yang berfungsi untuk melindungi badan dari pancaran hawa panas,
maupun percikan api las saat berlangsungnya proses pengelasan.
Apron juga berguna untuk praktikum bending, yaitu untuk
melindungi praktikan dari kemungkinan puing terbang menuju ke
arah praktikan dan kemungkinan menimbulkan cedera. yaitu untuk
melindungi praktikan dari kemungkinan puing terbang yang dapat
melukai/mencederakan praktikan.

Kelompok 5
Gambar 3.2.6 Apron
(Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur)

7) Penggores
Penggores berfungsi sebagai penanda tempat bahan akan dipotong.
Penggunaannya cukup sederhana, yakni dengan menggoreskan
penggores pada benda kerja/logam yang akan ditekuk.

Gambar 3.2.7 Penggores


(Sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

8) Penitik
Agar saat menitik lebih mudah dan lebih akurat dan jangka tidak
tergeser-geser saat ingin membuat lingkaran di besi plat atau benda
kerja dan menggunakan jangka jadi lebih maksimal dan mempunyai
hasil yang akurat saat melakukan proses pemotongan besi plat. Alat
ini juga dapat digantikan dengan spidol hitam atau putih, namun
penandanya kurang akurat dibanding penitik. Karena itu dianjurkan
menandai benda kerja menggunakan penitik

Kelompok 5
Gambar 3.2.8 Penitik
(Sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

B. Bahan
Adapun bahan-bahan yang dipakai pada saat praktikum modul
bending manual ini adalah sebagai berikut :
1) Material Plat hitam eser besi 2 mm
Pada dasarnya besi plat digunakan sebagai bahan dasar bangunan,
jadi besi plat hitam eser dapat digunakan sebagai sambungan dalam
konstruksi. Kegunaan lain plat hitam eser yaitu menjadi bantalan
untuk berbagai kendaraan berat. Dan merupakan salah satu bahan
yang dipakai dalam praktikum kali ini. Logam ini terbilang
membahayakan karena terbuat dari besi sehingga dapat korosi.
Maka dari itu, saat memegang plat ini, diwajibkan menggunakan
sarung tangan yang bersih.

Gambar 3.2.9 Material plat hitam eser besi 2 mm)


(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

2) Pipa besi

Kelompok 5
Pada praktikum ini, pipa logam dengan diameter 1,25 in (31,75 mm)
dipotong dengan mesin cutting wheel dengan ukuran panjang 50 cm
dengan toleransi sebesar 0,01 mm.

Gambar 3.2.10 Pipa logam


(Sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

3) Besi Nako
Selain pipa logam, bahan kerja yang dipakai adalah besi begel
dengan ukuran panjang 40 cm dan 29.5 cm. Untuk jenis besi nako
yang dipakai itu sama, hanya berbeda ukuran saja. Pada praktikum
ini, besi begel dipotong dengan gerinda tangan. Besi begel dipakai
sebagai kaki penyangga dari bangku kerja.

Gambar 3.2.11 Besi Begel


(Sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

3. Prosedur Percobaan
Adapun prosedur percobaan praktikum bending manual adalah
sebagai berikut :
A. Sebelum Menjalankan Mesin

Kelompok 5
1) Memeriksa keadaan mesin bending
2) Menyiapkan benda kerja maupun peralatan yang dibutuhkan.
3) Menandai bagian-bagian benda kerja yang akan ditekuk dengan
penitik atau spidol.

B. Saat Menjalankan Mesin


1) Menginjak pedal pembuka rahang, lalu letakkan benda kerja pada
meja rentang dengan posisi bagian yang akan ditekuk pada bibir
rahang penekuk
2) Mengatur ukuran sudut benda kerja yang akan di tekuk
3) Memastikan sepanjang lintasan penekuk aman dari benda atau
tangan dari praktikan lain
4) Menjepit benda kerja dengan menekan/menginjak pedal penjepit dan
kunci posisi pedal penjepit
5) Mengatur berapa sudut derajat yang di inginkan,
6) Menggerakkan tuas penekuk untuk menggerakkan rahang penekuk
sehingga benda kerja membentuk sudut yang diinginkan
7) Melepaskan jepitan benda kerja dengan membuka kuncian pada
pedal penjepit.

C. Sesudah Menjalankan Mesin


1) Mengembalikan keadaan mesin bending seperti keadaan semula
2) Membersihkan benda kerja dan mesin dari chip atau geram yang
menempel.
3) Mengembalikan peralatan ke tempat semula.

Kelompok 5
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil
Pada praktikum ini menggunkan plat hitam eser besi 2 mm plat hitam
eser dengan bentuk menyerupai triplek karena bentuknya yang pipih. Plat
besi hitam eser ini terbuat dari bahan berupa besi baja. Pada praktikum kali
ini menggunakan plat lembaran sebagai benda yang akan ditekuk. Seperti
pada umumnya alat tekuk atau bending manual dilakukan dengan
menggerakan gagang tuas untuk menekan logam. Dalam proses penekukan
terjadi peregangan pada sumbu bidang netralnya sepanjang daerah tekukan
yang menghasilkan garis tekuk yang lurus. Secara mekanika proses
penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya yakni tarik dan tekan.

Plat yang mengalami proses pembengkokan ini terjadi peregangan,


netral, dan pengkerutan. Daerah peregangan terlihat pada sisi luar
pembengkokan, dimana daerah ini terjadi deformasi plastis atau perubahan
bentuk. Peregangan ini menyebabkan plat mengalami pertambahan panjang.
Daerah netral merupakan daerah yang tidak mengalami peregangan.

Gambar 4.1.1 Besi esser sebelum ditekuk


(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)

Kelompok 5
Terlihat seperti gambar di atas foto plat besi esser sebelum ditekuk,
masih lurus dan belum bisa digunakan sebagai klem untuk bahan pembuatan
kursi besi. Setelah ditekuk dengan mesin bending manual, maka plat berubah
seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.1.2 Besi esser setelah ditekuk


(Sumber: Hasil dokumentasi lab manufaktur)

2. Pembahasan
Bending merupakan proses deformasi secara plastis dari logam
terhadap sumbu linier dengan hanya sesdikit atau tidak mengalami perubahan
luas permukaan dengan bantuan tekanan puch dan die pembentuk. Pada
praktikum kali ini menggunakan plat lembaran (plat besi eser 2 mm) sebagai
benda yang akan ditekuk. Seperti pada umumnya alat tekuk atau bending
manual dilakukan dengan menggerakan gagang tuas untuk menekan logam.
Dalam proses penekukan terjadi peregangan pada sumbu bidang netralnya
sepanjang daerah tekukan yang menghasilkan garis tekuk yang lurus. Secara
mekanika proses penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya, yakni tarik
dan tekan. Gaya tarik dan tekan pada plat esser ini terjadi pada daerah yang
berbeda.

Daerah sisi bagian dalam pembengkokan merupakan daerah yang


mengalami penekanan, dimana daerah ini mengalami pengkerutan dan
penambahan ketebalan, hal ini disebabkan karena daerah ini mengalami
perubahan panjang yakni perpendekan atau menjadi pendek akibat gaya
tekan yang dialami oleh pelat. Proses ini dilakukan dengan menjepit plat
diantara landasan dan sepatu penjepit selanjutnya bilah penekuk diputar ke

Kelompok 5
arah atas menekan bagian plat yang akan mengalami penekukan.

Pada plat esser ini juga terdapat daerah netral, yaitu pada bagian
tengah ketebalan plat. Letaknya diantara daerah plat yang mmgalami
tegangan tarik (pada bagian permukaan bagian luar) dan daerah yang
mengalami tegangan tarik (pada bagian permukaan bagian dalam).

Plat yang mengalami proses pembengkokan ini terjadi peregangan,


netral, dan pengkerutan. Daerah peregangan terlihat pada sisi luar
pembengkokan, dimana daerah ini terjadi deformasi plastis atau perubahan
bentuk. Peregangan ini menyebabkan plat mengalami pertambahan panjang.
Daerah netral merupakan daerah yang tidak mengalami perubahan. Artinya
pada daerah netral ini pelat tidak mengalami pertambahan atau pengurangan
panjang.

Proses bending akan mengakibatkan penarikan pada sisi luar dan


pengkerutan pada sisi dalam diameter kelengkungan. Ketebalan plat/logam
akan berpengaruh pada radius bending yang dibentuk dan kemampuan
material untuk dapat mengalami peregangan tanpa terjadi distorsi. Material
dengan ukuran besar apabila dilengkungkan dengan radius yang kecil akan
mudah mengalami distorsi dibandingkan material dengan ukuran kecil dan
radius bending yang besar. Distorsi sendiri adalah proses penyimpangan
atau gangguan selama proses berlangsung.

Kelompok 5
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum bending manual kali ini adalah
sebagai berikut :
A. Ada 3 jenis mesin bending plat yaitu mesin bending plat hidrolik,
mesin bending plat mekanikal dan mesin bending plat manual.
B. Terdapat 2 jenis tegangan yang terjadi pada penekukan, yakni tegangan
tarik dan tekan.
C. Pada proses bending manual dilakukan dengan menggerakan gagang
tuas untuk menekan logam dan tidak mengalami perubahan luas
permukaan.
D. Saat penekukan terjadi, terdapat daerah netral pada benda tekuk, yaitu
daerah yang tidak mengalami peregangan.
E. Selama proses penekukan, logam di bagian dalam bidang netral
ditekan, sedangkan logam di bagian luar bidang netral diregangkan.

2. Saran
Adapun saran untuk praktikum bending manual kali ini adalah sebagai
berikut :
A. Praktikan harus memahami modul praktikum agar dapat melakukan
praktikum dengan baik.
B. Praktikan sebaiknya mengikuti prosedur keamanan yang ditentukan
laboratorium seperti menggunakan sepatu safety, sarung tangan, face
shield, dsb.
C. Praktikan harusnya tidak melakukan kecurangan dalam melakukan
praktikum, seperti pemalsuan data dan lain sebagainya.

Kelompok 5
D. Praktikan seharusnya memakai alat dengan baik dan tidak melakukan
tindak pengrusakan terhadap fasilitas laboratorium.
E. Setelah praktikum selesai praktikan hendaknya membersihkan alat
yang telah digunakan dan merapihkannya kembali ke tempat semula.

Kelompok 5
DAFTAR PUSTAKA

Budynas, R. G., & Nisbett, J. K. (2015). Shigley’s Mechanical Engineering


Design Tenth Edition. New York: McGraw Hill Education.

Groover, M. P. (2010). Fundamentals of Modern Manufacturing. United States:


John Willey & Sons, Inc.

Kalpakjian, S., & Schmid, S. R. (2010). Manufacturing Engineering and


Technology Sixth Edition. United States: Pearson Education.

Wibowo, T. A., Raharjo, W. P., & Kusharjanta, B. (2014). PERANCANGAN DAN


ANALISIS KEKUATAN KONSTRUKSI. Surakarta: Jurnal Teknik Mesin
UNS.

Kelompok 5

Anda mungkin juga menyukai