Bending Manual
Bending Manual
1. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mengalami
kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan teknologi itu tidak terlepas dari
dukungan dunia industri manufaktur. Pada praktikum proses manufaktur
kali ini membahas mengenai bending manual atau biasa disebut mesin
tekuk. Proses penekukan (bending) biasanya dilakukan untuk membuat
komponen-komponen industri, misalnya pembengkokan knalpot pada
industri otomotif, penekukan pipa pada industri perminyakan dan industri
distribusi air bersih, dan sebagainya.
Kelompok 5
atau lurus sedangkan, bendingan Radius adalah bendingan yang hasil
bendingnya berbentuk radius.
2. Tujuan
Adapun tujuan dilakukannya praktikum bending manual ini terbagi
menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu sebagai berikut :
A. Tujuan umum :
Adapun tujuan umum dari dilakukannya praktikum bending
manual ini adalah sebagai berikut :
1) Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta
cara pengoperasiannya.
2) Peningkatan pengetahuan serta ketrampilan tentang mesin-mesin
perkakas.
B. Tujuan khusus :
Kelompok 5
Adapun tujuan khusus dari dilakukannya praktikum bending
manual ini adalah sebagai berikut :
1) Dapat mengetahui, menguasai dan menggunakan mesin bending.
2) Mengetahui proses dan cara penekukan benda kerja dengan mesin
bending.
Kelompok 5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kelompok 5
tetapi juga berguna untuk meningkatkan sifat kekakuan dari suatu benda
yang telah mengalami proses bending dengan cara menambah momen inersia
benda. Sebagaimana diketahui bahwa lembaran plat dengan bentuk
gelombang mempunyai kekakuan yang lebih tinggi daripada lembaran plat
yang rata.
Kelompok 5
dapat dibuat dengan v-die. V-bending adalah proses pembengkokan yang
dilakukan antara pemukaan berbentuk V, umumnya digunakan untuk proses
produksi rendah. Edge bending melibatkan pembebanan kantilever dari
lembaran logam. Pressure pad digunakan untuk menerapkan gaya Fh guna
menahan pangkal benda kerja terhadap die, sementara punch menekan tepi
benda kerja dan menekuknya sepanjang tepi die. Pada pengaturan yang
ditunjukkan pada gambar 2(b), edge bending terbatas pada tekukan 90⁰ atau
kurang. Wiping die lebih rumit dapat dirancang untuk sudut tekuk yang
lebih besar dari 90⁰. Pressure pad serta wiping die dinilai lebih rumit dan
mahal daripada v-die, dan umumnya digunakan untuk pekerjaan produksi
tinggi (Wibowo, Raharjo, & Kusharjanta, 2014).
Kelompok 5
Besarnya gaya bending yang diperlukan untuk melakukan proses
pembentukan material pada umumnya bisa diperkirakan dengan
mengasumsikan bahwa proses bending terjadi pada batang rektanguler
(rectangular beam). Dalam hal ini gaya bending merupakan fungsi dari
“Strength of material”, panjang batang, tebal batang serta jarak terbukanya
die (die opening).
Kelompok 5
Segalanya akan terasa lebih efisien. Bahkan mesin ini juga
dibantuk oleh sejenis mesin yang disebut dengan roda gila untuk
pemasok tenaga tambahan.
b) Plat Hidrolik
Mesin plat hidrolik menggunakan sistem hidrolik sebagai
komponen utama. Jadi, dapat dikatakan bahwa sumber tenaga
penekuknya adalah plat hidrolik. Ketika pompa hidrolik tersebut
digerakkan, maka energi listrik yang dipakai menjadi jauh lebih
efisien. Wajar saja jika jauh lebih menghemat energi.
c) Plat Manual
Mesin ini menggunakan proses pengerjaan sendiri atau manual.
Pengerjaannya memanfaatkan tenaga manusia yang dibantu
dengan semacam bandul pemberat. Karena proses
pengerjaannya masih terbilang manual, maka mesin ini relatif
lebih hemat. Hal ini disebabkan karena alat ini sama sekali tidak
menggunakan energi listrik.
Kelompok 5
Gambar 2.1.3 Mesin Bending Manual
(Sumber: Dokumentasi lab manufaktur)
2) Bending Ram
Bending Ram biasanya digunakan untuk membuat lengkungan besar
untuk logam yang mudah bengkok. Dalam metode ini, plat atau pipa
ditekan pada 2 poin eksternal dan ram mendorong pada besi pada
poros tengah untuk menekuknya. Cara ini cenderung membentuk
menjadi bentuk oval baik di bagian dalam dan luar lengkungan.
Kelompok 5
digunakan membengkokkan silinder yang kopong, seperti pipa besi.
Karena itu, mesin Rotary Draw tergolong ke dalam jenis mesin
bending pipa. Mesin ini banyak digunakan di industri perminyakan
dan pertambangan.
Kelompok 5
draw. Logam segera didinginkan dengan air setelah pembengkokan.
Cara ini menghasilkan lengkungan yang lebih kuat daripada rotary
draw.
6) Bending Roll
Bending Roll digunakan ketika diperlukan lengkungan yang besar
pada logam. Bending roll menggunakan 3 roller yang disusun
membentuk segitiga pada satu poros untuk mendorong dan
membengkokan logam. Mesin ini terbilang efisien waktu, karena
dapat memproduksi lengkungan logam dalam jumlah yang besar dan
dalam waktu yang singkat. Mesin ini banyak digunakan untuk
pekerjaan konstruksi, seperti pembangunan fasilitas umum,
pembangunan rumah, dsb.
Kelompok 5
Dalam dunia industri tentu proses penekukan atau pembengkokan ini
sangatlah penting. Di samping itu, variannya juga sangat beragam. Proses
penekukan dengan alat ini terbagi menjadi beberapa macam. Beberapa
diantaranya ialah seperti berikut.
A. Press Brake
Press brake merupakan proses kerja yang dibantu penekan serta
sebuah cetakan tertentu. Hal ini tentunya akan menghasilkan tekukan
yang persis sama dengan bentuk cetakan.
B. Angle
Angle merupakan proses yang pembentukan plat maupun besinya dibuat
dengan menekuk pada bagian plat tertentu saja. Hal ini semata-mata
bertujuan untuk menyesuaikan dengan kebutuhan.
C. Draw
Proses draw merupakan cara mencetak plat yang menggunakan roll
penekan atau cetakan tertentu. Pengerjaannya terbilang sangat cepat
sehingga mampu menghasilkan produk yang banyak dalam waktu yang
singkat.
D. Roll Forming
Ini merupakan proses pembentukan kontur suatu benda kerja dengan
memanfaatkan cold working. Proses ini digunakan ketika melakukan
pembentukan kompleks, dan tentunya membutuhkan sumber tenaga yang
besar dalam pengerjaannya.
E. Roll
Roll adalah proses yang umum dilakukan ketika membentuk silinder
maupun lengkung lingkaran lainnya. Plat logam ini nantinya akan
disisipkan pada roll yang mengalami perputaran.
F. Straightening
Kelompok 5
Straightening merupakan proses pengerjaannya yang berlawanan dengan
bending itu sendiri. Jadi proses ini justru bisa meneruskan atau
meluruskan logam. Jadi, bisa dikatakan bahwa mesin ini paling berbeda.
G. Seaming
Proses pengerjaan ini dilakukan ketika hendak menyambungkan bagian
ujung lembaran logam untuk membentuk benda kerja. Nantinya
sambungan tersebut akan disambungkan dengan roll kecil lainnya.
H. Flanging
Flanging adalah operasi penekukan dimana ujung dari lembaran logam
ditekuk hingga membentuk sudut yang pada umumnya 90 derajat untuk
membentuk pelek atau flensa. Proses pengerjaan benda kerja secara
flanging serupa dengan seaming. Hanya saja proses ini digunakan untuk
melipat sekaligus membentuk permukaan yang jauh lebih besar
(Groover, 2010)
B. Prosedur
Prosedur atau metode yang tepat proses pembengkokan yang dilakukan
sangat berpengaruh pada kualitas produk yang dihasilkan.
C. Material
Kelompok 5
Material dengan ukuran besar sistim dilengkungkan dengan radius yang
kecil akan mudah mengalami distorsi dibandingkan material dengan
ukuran kecil dan radius bending yang besar.
D. Peralatan
Peralatan yang digunakan termasuk cetakan, clamp dan mandrel.
E. Pelumasan
Pelumasan diperlukan untuk mengurangi efek gesekan dan meningkatkan
efisiensi proses pemesanan.
F. Bend allowance
Jari-jari tekuk pada umumnya diukur dari sumbu tekuk (bend axis) ke
permukaan tekukan bagian dalam (bukan ke permukaan sumbu netral).
Jari- jari tekuk ini ditentukan oleh jari-jari perkakas yang digunakan pada
operasi tersebut. Tekukan dibuat pada benda kerja yang memiliki lebar.
Bila jari-jari tekuk relatif kecil terhadap ketebalan bendakerja, maka
logam cendrung akan mengalami regangan selama proses
pembengkokkan. Agar diperoleh dimensi akhir sesuai dengan yang
diinginkan, maka perlu menghitung panjang awal bagian lembaran yang
akan mengalami peregangan (panjang pada sumbu netral sebelum
dibengkokkan). Panjang bagian lembaran tersebut disebut bend
allowance.
Kelompok 5
B. Patah benda meupakan salah satu kegagalan dalam proses pembendingan
yaitu patah. penyebab patah antara lain terlalu kerasnya benda yang
dibentuk. Benda yang cukup atau tidak dalam cetakan yang tidak
elastisitas yang cukup, sehingga tekanan yang dilakukan bukan
membentuk tapi kan. Sebab lain yaitu berulang kali penekukan yang
dilakukan pada benda di titik tekukan yang sama.
6. Tegangan
Tegangan dalam mekanika adalah besaran yang menunjukan gaya
internal antarpartikel dari suatu bahan terhadap partikel lainnya. Seperti
contoh, batang padat vertikal yang menyokong beban, setiap partikel dari
batang mendorong partikel lainnya yang berada di atas dan dibawahnya. Gaya
makroskopik yang terukur sebenarnya merupakan rata-rata dari sejumlah
besar tumbukan dan gaya antarmolekul di dalam batang tersebut.
Kelompok 5
akan selalu berubah seiring dengan waktu, termasuk cairan (misal pelumas
yang viskositasnya berubah sehingga harus diganti secara periodik).
Apabila di dalam satu penampang terjadi lebih dari satu jenis tegangan
dengan waktu yang bersamaan, dalam hal ini terjadi tegangan gabungan yang
didefinisikan sebagai penjumlahan dari kuadrat tegangan (normal) dengan
hasil kuadrat atas konversi tegangan- tegangan (tangensial) yang dikalikan
tiga. Kemudian hasil penjumlahan tersebut di akar kuadratkan sehingga akan
diperoleh nilai tegangan gabungan. Besarnya konversi tegangan tergantung
dari jenis dan kasus pembebanan. Konsep dari tegangan dapat diilustrasikan
pada sebuah batang prismatis yang mendapat gaya aksial. Batang prismatis
adalah sebuah elemen struktural lurus yang mempunyai penampang kostan di
seluruh panjangnya dan gaya aksial adalah beban yang arah sama dengan
Kelompok 5
sumbu elemen, sehingga mengakibatkan tarik atau tekan pada batang. Pada
gaya aksial, komponen ini mengukur kerja tarikan atau tekanan di
penampang.
b) Tegangan Tekan
Tegangan tekan (compressive stress) merupakan jenis tegangan
normal yang arahnya kedalam pusat benda, sehingga
mengakibatkan benda merasakan tekanan.
2) Tegangan geser
Kelompok 5
Tegangan geser (Shear stress) merupakan tegangan yang arahnya
sejajar dengan permukaan benda. Tegangan geser berbeda dengan
tegangan tarik maupun tegangan tekan, karena tegangan geser
disebabkan oleh gaya yang bekerja sepanjang atau sejajar dengan luas
penahan gaya, sedangkan tegangan tarik atau tegangan tekan
disebabkan oleh gaya yang tegak lurus terhadap luas bidang gaya.
Tegangan geser terjadi apabila beban terpasang menyebabkan salah
satu penampang benda cenderung mengelincir pada penampang yang
bersinggungan. Tegangan geser dapat dibagi menjadi dua, apabila
ditinjau dari banyaknya geseran bidang yang terjadi yakni geser
tunggal dan geser ganda. Dalam geser ganda, masing-masing gaya
geser sama dengan setengah dari beban total yang disalurkan.
Akibat aksi beban tarik, batang dan pengapit akan menekan baut
dengan cara menumpu (bearing) dan tegangan kontak yang disebut
tegangan tumpu akan timbul. Selain itu, batang dan pengapit
cenderung menggeser baut dan kecenderungan ini ditahan oleh
tegangan geser pada baut. Sifat dari tegangan geser yakni apabila
Kelompok 5
tegangan geser pada muka yang berhadapan (dan sejajar) dari suatu
elemen sama besar dan berlawanan arah. Dan apabila tegangan geser
di muka yang bersebelahan (dan tegak lurus) dari suatu elemen sama
besar dan mempunyai arah sedemikian sehingga tegangan-tegangan
tersebut saling menuju atau saling menjauhi garis perpotongan kedua
muka tersebut.
3) Tegangan dukung
Tegangan dukung (Bearing stress) merupakan tegangan yang
disebabkan oleh beban permukaan. Contohnya tegangan yang terjadi
pada bearing.
4) Tegangan puntir
Tegangan puntir (Torsion stress) merupakan tegangan yang
disebabkan gaya puntiran terhadap suatu benda. Tegangan ini sering
dijumpai pada poros atau suatu batang puntir.
5) Tegangan lengkung
Tegangan lengkung (Bending stress) merupakan tegangan yang
diakibatkan karena adanya gaya yang menumpu pada titik tengah
suatu beban sehingga mengakibatkan benda tersebut seakan-akan
melengkung. Tegangan lengkung bervariasi secara linear terhadap
sumbu x dan y bidang benda yang terjadi tegangan. Nilai terbesar dari
tegangan lengkung terjadi pada saat nilai y maksimum (Budynas &
Nisbett, 2015).
Kelompok 5
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
i
d
Kelompok 5
plat besi eser.
b) Lengan Hidrolis
Berfungsi untuk meringankan tuas penekuk.
c) Tuas Penekuk
Berfungsi untuk menekuk benda kerja
d) Pedal Pengunci Rahang
Untuk mengunci rahang penjepit
e) Pengunci
Berfungsi untuk mengunci tuas penekuk agar tidak lepas
kembali
f) Meja Rentang
Befungsi sebagai alas untuk benda kerja
g) Rahang Penekuk
Berfungsi sebagai penjepit bawah dalam proses penekukan
benda kerja
h) Penyetel sudut
Berfungsi sebagai penentu sudut penekukan.
i) Pedal pengunci penjepit
Berfungsi sebagai pengunci penjepit pada alat
j) Spindel pengatur keseimbangan rahang penjepit
Berfungsi sebagai penyeimbang kerapatan kiri dan kanan
2) Sarung Tangan
Sarung tangan perlu digunakan selama proses praktikum
berlangsung dan juga sarung tangan berfungsi sebagai pelindung
jari kita selama praktikum. Sarung tangan merupakan alat
perlindungan diri (APD) utama pada saat melakukan praktikum
ini, karena memiliki banyak fungsi, seperti mengantisipasi tangan
dan jari tangan dari benda tajam seperti serpihan logam, kayu, dan
kaca, serta melindungi dari zat yang bersifat korosif seperti besi
berkarat dan cairan kimia korosif.
Kelompok 5
Gambar 3.2.2 Sarung Tangan
(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)
4) Sepatu Safety
Fungsi sepatu safety untuk melindungi kaki dari resiko kecelakaan
kerja, seperti serpihan logam tajam yang mampu melukai kaki, dan
juga melindungi dari cairan kimia yang bersifat keras, karena
bahannya yang aman, yaitu kain ataupun kulit yang merupakan
isolator panas yang baik. Sebaiknya menggunakan kaus kaki
sebelum memakai sepatu safety agar perlindungan lebih maksimal.
Kelompok 5
Gambar 3.2.4 Sepatu Safety
(sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)
5) Penggaris
Pada praktikum cutting ini, penggaris digunakan untuk mengukur
berapa panjang benda yang akan dipotong.
6) Apron
Apron merupakan alat perlindungan diri utama dalam praktikum
yang berfungsi untuk melindungi badan dari pancaran hawa panas,
maupun percikan api las saat berlangsungnya proses pengelasan.
Apron juga berguna untuk praktikum bending, yaitu untuk
melindungi praktikan dari kemungkinan puing terbang menuju ke
arah praktikan dan kemungkinan menimbulkan cedera. yaitu untuk
melindungi praktikan dari kemungkinan puing terbang yang dapat
melukai/mencederakan praktikan.
Kelompok 5
Gambar 3.2.6 Apron
(Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur)
7) Penggores
Penggores berfungsi sebagai penanda tempat bahan akan dipotong.
Penggunaannya cukup sederhana, yakni dengan menggoreskan
penggores pada benda kerja/logam yang akan ditekuk.
8) Penitik
Agar saat menitik lebih mudah dan lebih akurat dan jangka tidak
tergeser-geser saat ingin membuat lingkaran di besi plat atau benda
kerja dan menggunakan jangka jadi lebih maksimal dan mempunyai
hasil yang akurat saat melakukan proses pemotongan besi plat. Alat
ini juga dapat digantikan dengan spidol hitam atau putih, namun
penandanya kurang akurat dibanding penitik. Karena itu dianjurkan
menandai benda kerja menggunakan penitik
Kelompok 5
Gambar 3.2.8 Penitik
(Sumber : Laboratorium Proses Manufaktur)
B. Bahan
Adapun bahan-bahan yang dipakai pada saat praktikum modul
bending manual ini adalah sebagai berikut :
1) Material Plat hitam eser besi 2 mm
Pada dasarnya besi plat digunakan sebagai bahan dasar bangunan,
jadi besi plat hitam eser dapat digunakan sebagai sambungan dalam
konstruksi. Kegunaan lain plat hitam eser yaitu menjadi bantalan
untuk berbagai kendaraan berat. Dan merupakan salah satu bahan
yang dipakai dalam praktikum kali ini. Logam ini terbilang
membahayakan karena terbuat dari besi sehingga dapat korosi.
Maka dari itu, saat memegang plat ini, diwajibkan menggunakan
sarung tangan yang bersih.
2) Pipa besi
Kelompok 5
Pada praktikum ini, pipa logam dengan diameter 1,25 in (31,75 mm)
dipotong dengan mesin cutting wheel dengan ukuran panjang 50 cm
dengan toleransi sebesar 0,01 mm.
3) Besi Nako
Selain pipa logam, bahan kerja yang dipakai adalah besi begel
dengan ukuran panjang 40 cm dan 29.5 cm. Untuk jenis besi nako
yang dipakai itu sama, hanya berbeda ukuran saja. Pada praktikum
ini, besi begel dipotong dengan gerinda tangan. Besi begel dipakai
sebagai kaki penyangga dari bangku kerja.
3. Prosedur Percobaan
Adapun prosedur percobaan praktikum bending manual adalah
sebagai berikut :
A. Sebelum Menjalankan Mesin
Kelompok 5
1) Memeriksa keadaan mesin bending
2) Menyiapkan benda kerja maupun peralatan yang dibutuhkan.
3) Menandai bagian-bagian benda kerja yang akan ditekuk dengan
penitik atau spidol.
Kelompok 5
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
Pada praktikum ini menggunkan plat hitam eser besi 2 mm plat hitam
eser dengan bentuk menyerupai triplek karena bentuknya yang pipih. Plat
besi hitam eser ini terbuat dari bahan berupa besi baja. Pada praktikum kali
ini menggunakan plat lembaran sebagai benda yang akan ditekuk. Seperti
pada umumnya alat tekuk atau bending manual dilakukan dengan
menggerakan gagang tuas untuk menekan logam. Dalam proses penekukan
terjadi peregangan pada sumbu bidang netralnya sepanjang daerah tekukan
yang menghasilkan garis tekuk yang lurus. Secara mekanika proses
penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya yakni tarik dan tekan.
Kelompok 5
Terlihat seperti gambar di atas foto plat besi esser sebelum ditekuk,
masih lurus dan belum bisa digunakan sebagai klem untuk bahan pembuatan
kursi besi. Setelah ditekuk dengan mesin bending manual, maka plat berubah
seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
2. Pembahasan
Bending merupakan proses deformasi secara plastis dari logam
terhadap sumbu linier dengan hanya sesdikit atau tidak mengalami perubahan
luas permukaan dengan bantuan tekanan puch dan die pembentuk. Pada
praktikum kali ini menggunakan plat lembaran (plat besi eser 2 mm) sebagai
benda yang akan ditekuk. Seperti pada umumnya alat tekuk atau bending
manual dilakukan dengan menggerakan gagang tuas untuk menekan logam.
Dalam proses penekukan terjadi peregangan pada sumbu bidang netralnya
sepanjang daerah tekukan yang menghasilkan garis tekuk yang lurus. Secara
mekanika proses penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya, yakni tarik
dan tekan. Gaya tarik dan tekan pada plat esser ini terjadi pada daerah yang
berbeda.
Kelompok 5
arah atas menekan bagian plat yang akan mengalami penekukan.
Pada plat esser ini juga terdapat daerah netral, yaitu pada bagian
tengah ketebalan plat. Letaknya diantara daerah plat yang mmgalami
tegangan tarik (pada bagian permukaan bagian luar) dan daerah yang
mengalami tegangan tarik (pada bagian permukaan bagian dalam).
Kelompok 5
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum bending manual kali ini adalah
sebagai berikut :
A. Ada 3 jenis mesin bending plat yaitu mesin bending plat hidrolik,
mesin bending plat mekanikal dan mesin bending plat manual.
B. Terdapat 2 jenis tegangan yang terjadi pada penekukan, yakni tegangan
tarik dan tekan.
C. Pada proses bending manual dilakukan dengan menggerakan gagang
tuas untuk menekan logam dan tidak mengalami perubahan luas
permukaan.
D. Saat penekukan terjadi, terdapat daerah netral pada benda tekuk, yaitu
daerah yang tidak mengalami peregangan.
E. Selama proses penekukan, logam di bagian dalam bidang netral
ditekan, sedangkan logam di bagian luar bidang netral diregangkan.
2. Saran
Adapun saran untuk praktikum bending manual kali ini adalah sebagai
berikut :
A. Praktikan harus memahami modul praktikum agar dapat melakukan
praktikum dengan baik.
B. Praktikan sebaiknya mengikuti prosedur keamanan yang ditentukan
laboratorium seperti menggunakan sepatu safety, sarung tangan, face
shield, dsb.
C. Praktikan harusnya tidak melakukan kecurangan dalam melakukan
praktikum, seperti pemalsuan data dan lain sebagainya.
Kelompok 5
D. Praktikan seharusnya memakai alat dengan baik dan tidak melakukan
tindak pengrusakan terhadap fasilitas laboratorium.
E. Setelah praktikum selesai praktikan hendaknya membersihkan alat
yang telah digunakan dan merapihkannya kembali ke tempat semula.
Kelompok 5
DAFTAR PUSTAKA
Kelompok 5