0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
917 tayangan30 halaman

Rancangan Mesin Bending Manual

Modul praktikum ini membahas tentang mesin bending manual di laboratorium proses manufaktur. Mesin ini digunakan untuk membentuk sudut pada plat logam tipis melalui proses penekukan. Mesin ini memiliki bagian lengan hidrolis untuk membantu proses penekukan dan meja rentang untuk meletakkan benda kerja. Tujuan praktikum adalah untuk mempelajari proses dan cara penggunaan mesin bending serta mendapatkan pengalaman langsung mengenai mesin-mes

Diunggah oleh

Dorris Gurning
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
917 tayangan30 halaman

Rancangan Mesin Bending Manual

Modul praktikum ini membahas tentang mesin bending manual di laboratorium proses manufaktur. Mesin ini digunakan untuk membentuk sudut pada plat logam tipis melalui proses penekukan. Mesin ini memiliki bagian lengan hidrolis untuk membantu proses penekukan dan meja rentang untuk meletakkan benda kerja. Tujuan praktikum adalah untuk mempelajari proses dan cara penggunaan mesin bending serta mendapatkan pengalaman langsung mengenai mesin-mes

Diunggah oleh

Dorris Gurning
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL PRAKTIKUM

LABORATORIUM PROSES MANUFAKTUR

BENDING MANUAL

JURUSAN MINERAL KEBUMIAN DAN MANUFAKTUR


PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
INSTITUT TEKNOLOGI SUMATERA
LAMPUNG SELATAN
2021
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Mesin tekuk digunakan untuk membuat bentuk bersudut pada benda kerja
plat besi atau baja yang tipis. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan teknologi itu tidak
terlepas dari dukungan dunia industri manufaktur dimana terdapat industri
besar maupun industri kecil dan menengah. Industri kecil menengah ataupun
bengkel produksi yang sedehana, masih menggunakan alat atau mesin yang
terbatas penggunaannya. Sebagai contoh adalah proses pengerjaan plat, masih
banyak bengkel yang memproduksi plat dengan profil tekuk secara manual.
Industri kecil masih melakukan penekukan plat masih dengan menggunakan
palu dan landasan besi sebagai alas. Hal tersebut akan banyak menghabiskan
waktu dengan hasil yang kurang terjamin kualitas.

Kebanyakan sudah menggunakan mesin universal dengan sistem press


secara pneumatik dan hidrolik untuk mempercepat proses produksi dan
meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Mesin tekuk ini dapat
menghasilkan produk dalam skala besar sehingga produk yang dihasilkan lebih
cepat dibandingkan dengan manual. Hal tersebut bisa merebut pasar indusrti
kecil yang tak mungkin bersaing dengan mesin yang harganya terlalu mahal
dan jauh lebih efisien. Untuk mengatasi masalah tersebut di atas maka penulis
merancang mesin tekuk plat dengan mekanis hidrolik agar dapat mempercepat
proses produksi dengan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan manual.
Walaupun rancangan ini belum mampu bersaing dengan mesin tekuk universal,

Kelompok 9
namun diharapkan mesin rancangan ini dapat meningkatkan effisiensi waktu
dan tenaga untuk menghemat biaya produksi bengkel sederhana. Pada
penelitian ini akan dilakukan perancangan mesin tekuk yang kemudian akan
dibuat pemodelan tiga dimensi dari hasil rancangan mesin tekuk plat lalu akan
dianalisis fungsi dan kekuatan konstruksinya menggunakan perangkat lunak
Solidwork 2012, agar rancangan mesin dapat direalisasikan. Hasil akhir
penelitian berupa rancangan gambar kerja produksi untuk pembuatan mesin
tekuk .

Ketika ditinjau dari segi efisiennya sangat kurang dan dalam segi hasil
tekukan juga kurang maksimal. Maka alat untuk menekuk plat ini direncanakan
untuk mengatasi kekurangan-kekurangan atau kurang sempurnanya penekukan
plat, tanpa mengurangi substansi dari proses penekukan plat tersebut. Dalam
perencanaan ini alat penekuk manual yang dikerjakan oleh manusia digantikan
oleh tenaga mesin yang artinya kinerjanya menggunakan motor untuk
memperoleh hasil yang maksimal. Hal tersebut akan banyak menghabiskan
waktu dengan hasil yang kurang terjamin kualitas. Plat yang ditekuk bisa saja
sobek/cacat saat pemukulan selain itu kepresisian dan tampilan benda kerja
kurang terjamin.

2. Tujuan Praktikum
a. Tujuan umum
1. Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta cara
pengoprasiannya.
2. Peningkatan pengetahuan serta ketrampilan tentang mesin-mesin perkakas.

b. Tujuan khusus
1. Dapat mengetahui, menguasai dan menggunakan mesin Bending.
2. Mengetahui proses dan cara penekukan benda kerja dengan mesin Bending.

Kelompok 9
BAB II
TEORI DASAR

1. Pengertian Mesin Tekuk


Mesin tekuk adalah suatu alat atau perkakas yang akan digunakann untuk
menekuk suatu material untuk mendapatkan profil tekukan atau bentuk lain
yang sesuai yang dikehendaki. Benda kerja diletakkan dirahang penjepit
kemudian sesuaikan bagian plat yang akan ditekuk sesuai dengan sudut atau
bentuk yang diinginkan, lalu kunci rahang penjepit. Gunakan tuas penekuk
untuk menekuk plat sesuai dengan sudut yang diinginkan, lakukan berulang
kebagian lain benda kerja yang akan dibentuk. Lepaskan benda kerja dri mesin
bending. Untuk mendapatkan hasil tekukan yang baik dan sesuai dengan yang
dikehendaki, maka tebal material tekuk sesuai dengan kemampuan dan
kekuatan dari mesin tekuk tersebut.

Kekuatan untuk menekuk material pada mesin tekuk biasanya berupa


tekanan, sumber tekanan bisa didapatkan dari suspensi pegas, kekuatan aliran
angin (pneumatik) maupun oli (hidrolik). Pengontrol sistem penekan bisa
dilakukan secara manual maupun otomatis tergantung pada spesifikasi mesin
tekuk yang digunakan. Industri kecil masih melakukan penekukan plat masih
dengan menggunakan palu dan lanndasan besi sebagai alas. Hal tersebut akan
banyak menghabiskan waktu dengan hasil yang kurang terjamin kualitas. Plat
yang ditekuk bisa saja sobek/cacat saat pemukulan selain itu kepresisian dan
tampilan benda kerja kurang terjamin. Untuk mengatasi masalah tersebut di atas
maka penulis merancang mesin tekuk plat dengan mekanis hidrolik agar dapat
mempercepat proses produksi dengan hasil yang lebih baik dibandingkan
dengan manual. ifat mekanik dan struktur mikro material mempengaruhi proses

Kelompok 9
peregangan. Dalam setiap regangan yang terjadi saat penekukan maka terjadi
radius bengkokan. Pada proses peregangan terjadi proses deformasi plastis
yang mengakibatkan terjadinya penekukan. (Siswanto, 2016)

Gambar 2.1 Mesin Tekuk Plat Bending Manual


Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

Bagian-bagian utama dari suatu mesin tekuk antara lain :


a. Sistem penekuk, bagian ini berupa komponen yang bekerja dan
menghasilkan gaya tekan untuk proses penekukan.
b. Punch, bagian ini berupa profil dengan sudut tekuk tertentu berperan
sebagai penyalur kekuatan penekuk material.
c. Die, bagian ini profil dengan sudut tekuk tertentu berperan sebagai landasan
pada proses penekukan.
d. Rangka mesin, bagian ini berupa susunan komponen yang berfungsi
sebagai penopang sistem penekuk, punch dan die, sebagai penahan saat
terjadinya proses penekukan.
e. Panel kontrol, berupa rangkaian elektronik sebagai pengendali kerja mesin
tekuk.

Bending merupakan pengerjaan dengan cara memberi tekanan pada bagian


tertentu sehingga terjadi deformasi plastis pada bagian yang diberi tekanan.
Sedangkan proses bending merupakan proses penekukan atau pembengkokan

Kelompok 9
menggunakan alat bending manual maupun menggunakan mesin bending.
Adapun macam-macam dari proses pembendingan yaitu:
A. Bending Ram
Biasanya digunakan untuk membuat lengkungan besar untuk logam
yang mudah bengkok. Dalam metode ini, plat atau pipa ditekan pada 2 poin
eksternal dan ram mendorong pada besi pada poros tengah
untukmenekuknya. Cara ini cenderung membentuk menjadi bentuk oval
baik dibagian dalam dan luar lengkungan.

B. Bending Rotary Draw


Digunakan untuk membengkokan besi sebagai pegangan tangan, yang
lebih keras. Bending rotary draw imbang menggunakan 2 cetakan: cetakan
bending stasioner dan cetakan bending dengan diameter tetap untuk
membentuk lengkungan. Cara ini digunakan apabila plat atau pipa yang
akan dibending perlu memiliki hasil akhir yang baik dengan diameter
konstan di seluruh panjang.

C. Bending Mandrel
Selain cetakan yang digunakan dalam rotary bending, yakni dengan cara
menggunakan support fleksibel yang ikut bengkok dengan logam
untukmemastikan interior logam tidak cacat.

D. Bending Induksi Panas


Proses ini mengunakan panas dari kumparan listrik untuk memanaskan
area yang akan dibengkokan, dan kemudian logam dibengkokan dengan
cetakan mirip dengan yang digunakan rotary draw. Logam segera
didinginkan dengan air setelah pembengkokan. Cara ini menghasilkan
lengkungan yang lebih kuat daripada rotary draw.

Kelompok 9
E. Bending Roll
Digunakan ketika diperlukan lengkungan yang besar pada logam.
Banyak digunakan untuk pekerjaan konstruksi. Bending roll menggunakan
3 roller yang disusun membentuk segi tiga pada satu poros untuk
mendorong dan membengkokan logam.

F. Bending Panas
Sistem ini banyak digunakan dalam proses perbaikan, yaitu dengan cara
logam dipanaskan didaerah penekukan sehingga menjadi lebih lunak

Adapun proses bending yang bekerja pada rancang bangun alat ini,yakni
mengadopsi teknik atau proses bending dengan cara rotary atau putaran yang
terdapat pada mesin bending pipa. Kemudian jenis jenis mesin bending yang
akan digunakan pada saat rancang bangun ini akan di jelaskan pada point
berikutnya.

2. Bagian Bagian mesin Bending


Bagian bagian pada mesin bending manual yang ada pada laboratorium
manufaktur kali ini adalah:

Gambar 2.2 Mesin Bending Manual


Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

Kelompok 9
Keterangan :
1) Lengan Hidrolis
Digunakan untuk membantu proses penekukan.
2) Meja Rentang
Berfungsi untuk menguci posisi pedal penjepit.
3) Tuas Penekuk
Digunkan untuk menggerakkan rahang penekuk.
4) Pedal Penjepit
Digunakan untuk menggerakkan rahang penjepit.
5) Rahang Penjepit
Digunakan untuk menjepit benda kerja yang berupa plat.
6) Pengukur sudut/penyetel
Supaya dapat mengetahui berapa sudut yang ditekuk.
7) Rahang Penekuk
Digunakan untuk membentuk tekukan dengan sudut tertentu pada benda
kerja.
8) Pengunci sudut
Digunakan supaya pedal penjepit tidak terbuka ke atas dan proses
penjepitan bahan uji tidak terganggu.
9) Hidrolis
Berfungsi untuk meneruskan gaya dari tuas penekuk ke rahang penjepit dan
rahang penekuk.

3. Proses Bending
Pada proses bending gaya-gaya yang terjadi saling berlawanan arah,
hampir sama dengan proses cutting. Tetapi pada proses bending gaya gaya
yang terjadi terpisah jauh, apalagi pada V-bending. Pada proses cutting, jarak
antara 2 gaya adalah sebesar clearance, yaitu antara 4% sampai dengan 5% dari
tebal sheet metal. Sedangkan pada proses bending (U bending), jarak antara dua
gaya adalah sebesar tebal material+radius dari punch dan die. Pada proses

Kelompok 9
bending, strees hanya terjadi pada bagian radius yang dibentuk, sedangkan pada
radius bagian dalam terjadi sebaliknya yaitu compression-strees. Karena hal
tersebut, bila terjadi kerusakan proses, maka pada radius bagian luar akan
terjadi crack dan kerutan pada bagian dalam.

Pada proses tekuk ini, mesin yang digunakan untuk melipat atau
menekuk plat adalah mesin bending manual dan bending Hydraulic Pipe
Bender. Bending manual digunakan untuk melipat atau menekuk pelat kerja
yang telah diselesaikan untuk pekerjaan awal. Mampu menekuk pelat dengan
tebal maksimum 2 mm dan panjang maksimal 1,5 meter, sedangkan hydraulic
pipe bender digunakan untuk menekuk benda kerja yang berbentuk silinder.
Secara mekanika proses penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya
yakni:tarik dan tekan. Pelat yang mengalami proses pembengkokan ini terjadi
peregangan, netral, dan pengkerutan. Daerah peregangan pada sisi uar
pembengkokan, dimana daerah ini terjadi deformasi plastis atau perobahan
bentuk. Peregangan ini menyebabkan pelat mengalami pertambahan panjang.
Daerah netral merupakan daerah yang tidak mengalami perobahan. Artinya
pada daerah netral ini pelat tidak mengalami pertambahan panjang atau
perpendekkan.(Satria, 2014)

4. Teori Penekukan Mesin Tekuk


A. Teori Penekukan (Bending)
Bending adalah salah satu proses pembentukan yang biasa dilakukan
untuk membuat barang kebutuhan sehari-hari seperti pembuatan komponen
mobil, pesawat, peralatan rumah tangga. Proses bending dilakukan dengan
menekuk benda kerja hingga mengalami perubahan bentuk yang
menimbulkan peregangan logam pada sekitar daerah garis lurus (dalam hal
ini sumbu netral). Proses ini tidak hanya berfungsi untuk membentuk logam
tetapi juga berguna untuk meningkatkan sifat kekakuan dari suatu benda
yang telah mengalami proses bending dengan cara menambah momen

Kelompok 9
inersia benda. Sebagaimana diketahui bahwa lembaran plat dengan bentuk
gelombang mempunyai kekakuan yang lebih tinggi daripada lembaran plat
yang rata.

Gambar 2.3 Proses Bending


sumber : http://teknikmesin.id/proses-tekuk-atau-lipat

Dalam proses bending sebagaimana ditunjukkan pada gambar 2.3 akan


terjadi perubahan pada material yang dipengaruhi beberapa hal antara
lain;
1) Terjadi tegangan tarik pada sisi luar dari benda kerja dan tegangan
tekan pada sisi dalamnya yang dipisahkan oleh sumbu netral yang
diasumsikan berada ditengah-tengah ketebalan plat. Jika tegangan
tarik tersebut terlalu besar dapat menyebabkan retak, dan sebaliknya
jika terlalu kecil akan menyebabkan kerutan pada bagian dalam benda
kerja.
2) Jari-jari bending juga berpengaruh dalam proses bending dimana jika
jari-jari terlalu kecil akan dapat menimbulkan regangan tarik yang
cukup besar pada sisi luar yang akhirnya retak sedangkan pada bagian
dalam akan terjadi kerutan akibat regangan kompresi.

Kelompok 9
B. Proses V-Bending
Proses V-Bending Merupakan proses pembengkokan yang dilakukan antara
dua permukaan berbentuk V baik pada punch maupun die-nya pada metode
Vbending.

Gambar 2.4 Proses V-Bending


Sumber :http://teknikmesin.id/proses-tekuk-atau-lipat/

Perencanaan yang dibuat yaitu perencanaan yang lebih menekankan pada


fungsi dan prinsip kerja mesin tekuk itu sendiri, maka perlu diperhatikan
hal-hal berikut :
A. Segi fungsi dan kegunaan Dilihat dari segi fungsi dan kegunaan,
mesin ini dapat difungsikan dalam pembuatan produk yang
membutuhkan penekukan plat. Mesin tekuk ini dapat digunakan
untuk menekuk suatu plat dengan hasil tekukan yang sesuai dengan
yang dikehendaki, yang semua ini tidak lepas dari kemampuan
mesin. Mesin tekuk plat ini dirancang dengan kapasitas 90 ton
sesuai dengan gaya bending yang diperlukan untuk menekuk plat
sesuai batasan masalah yang ada.
B. Segi konstruksi Ditinjau dari segi konstruksi, pemilihan bentuk,
ukuran, dan jenis material disesuaikan terhadap kapasitas maksimal
mesin yang akan dicapai. Perancangan konstruksi harus
memperhatikan kekuatan konstruksi terhadap pembebanan yang

Kelompok 9
ada, yaitu gaya bending dan gaya berat dari konstruksi itu sendiri.
Kekuatan konstruksi harus lebih besar dari pembebanan yang ada,
agar konstruksi dapat memenuhi tuntutan mesin sebagai alat
penekuk plat dengan tenaga hidrolik.
C. Segi ekonomis Dari segi ekonomis perlu diperhatikan secara lebih
mendalam, sebab pada segi ini sangat erat kaitanya dengan
besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pengerjaan mesin
tersebut. (Marsis, 2016)

Hal ini diharapkan untuk dapat menekan biaya produksi yang serendah
mungkin tapi tidak mengurangi dari segi yang lain, terutama segi
konstruksinya. Namun tidak diinginkan penekanan biaya produksi yang
rendah akan mengakibatkan penurunan kemampuan kerja mesin. Setelah
melalui tahapan proses brainstorming, problem statement, product design
specification, dan morphological box, maka dapat disimpulkan concept
embodiment detail dari perancangan mesin tekuk plat adalah sebagai
berikut :
a) Mesin tekuk plat didesain untuk melakukan penekukan pada material
jenis mild steel dengan sudut tekuk 90°.
b) Dimensi material tekuk dibatasi untuk lebar 1200 mm dan ketebalan
maksimal 7 mm.
c) Mekanisme penekukan menggunakan sistem hidrolik dengan dua
buah silinder aktuator.
d) Perancangan punch dan die bending mengacu standard part yang ada.
e) Bentuk punch yang digunakan adalah tipe standard dan untuk die
opening dari die dipilih selebar 24 mm, panjang punch dan die dipilih
415 mm.
f) Sistem clamping punch dan die menggunakan alat yang dibuat sendiri
menyesuaikan standard part punch dan die yang digunakan.
g) Sistem pengaman menggunakan limit switch.

Kelompok 9
h) Untuk komponen pendukung seperti frame, pompa dan selang
hidrolik, panel kontrol, menggunakan kombinasi antara standard part
dan alat yang dibuat sendiri.

5. Proses Penekukan
Secara mekanika proses penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya yakni
tarik dan tekan.

Gambar 2.5 posisi tuas penekuk


sumber :http://teknikmesin.id/proses-tekuk-atau-lipat/

Pada gambar memperlihatkan pelat yang mengalami proses


pembengkokan ini terjadi peregangan, netral, dan pengkerutan. Daerah
peregangan terlihat pada sisi luar pembengkokan, dimana daerah ini terjadi
deformasi plastis atau perobahan bentuk. Peregangan ini menyebabkan pelat
mengalami pertambahan panjang. Daerah netral merupakan daerah yang tidak
mengalami perobahan. Artinya pada daerah netral ini pelat tidak mengalami
pertambahan panjang atau perpendekkan. Daerah sisi bagian dalam
pembengkokan merupakan daerah yang mengalami penekanan, dimana daerah
ini mengalami pengkerutan dan penambahan ketebalan, hal ini disebabkan
karena daerah ini mengalami perobahan panjang yakni perpendekan.atau
menjadi pendek akibat gaya tekan yang dialami oleh pelat. Proses ini dilakukan
dengan menjepit pelat diantara landasan dan sepatu penjepit selanjutnya bilah
penekuk diputar ke arah atas menekan bagian pelat yang akan mengalami
penekukan. Pada Gambar diatas posisi tuas penekuk diangkat ke atas sampai
membentuk sudut melebihi sudut pembentukan yang dinginkan.

Kelompok 9
Besarnya kelebihan sudut pembengkokan ini dapat dihitung
berdasarkan tebal pelat, kekerasan bahan pelat dan panjang bidang
membengkokkan / penekukan . Langkah proses penekukan pelat dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan sisi bagian pelat yang akan dibentuk.
Langkah penekukan ini harus diperhatikan sebelumnya, sebab apabila proses
penekukan ini tidak menurut prosedurnya maka akan terjadi salah langkah.
Salah langkah ini sangat ditentukan oleh sisi dari pelat yang dibengkokan dan
kemampuan mesin bending/tekuk tersebut. Komponen pelat yang akan
dibengkokan sangat bervariasi. Tujuan proses pembengkokan pada bagian tepi
maupun body pelat ini diantaranya adalah untuk memberikan kekakuan pada
bentangan pelat. Adapun langkah–langkah yang harus diperhatikan untuk
proses penekukannya seperti:

A. Penekuk awal
Pada posisi tuas penekuk setara dengan meja ukur kita dapat
menentukan berapa panjang sisi yang kita inginkan. Besarnya kelebihan
sudut tekukan juga dapat dilihat berdasarkan tebal plat, kekerasan bahan
plat dan panjang bidang pembengkokan.

B. Penekuk plat
Langkah proses penekukan pelat dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan sisi bagian pelat yang akan dibentuk. Langkah
penekukan ini harus diperhatikan sebelumnya, sebab apabila proses
penekukan ini tidak menurut prosedurnya maka akan terjadi kerusakan.
Salah langkah ini sangat ditentukan oleh sisi dari plat yang dibengkokan
dan kemampuan mesin bending atau mesin tekuk tersebut. Komponen
plat yang akan dibengkokan sangat berfariasi. Tujuan proses
pembengkokan pada bagian tepi maupun body pelat ini diantaranya
adalah untuk memberikan kekakuan pada bentangan plat.

Kelompok 9
C. Sudut tekuk
Sudut tekuk yang terbentuk pada proses pelipatan plat, dimana pada
bagian sisi atas plat mengalami pengerutan dan bagian bawah
mengalami perenggangan. (Suparmanto, 2016)

6. Bar Bender
Bar bender adalah penekuk besi beton / baja tulangan elektrik yang akan
memudahkan Anda membentuk betonijzer (baja tulangan) menjadi berbagai
macam profil yang dibutuhkan. Cara penggunaannya sangat mudah yaitu
dengan memasukkan baja tulangan/betonijzer yang hendak dibengkokkan di
antara as tengah (pilih as tengah sesuai radius tekuk yang diinginkan) dan
lengan penekuk lalu mengatur sudut tekuk sesuai yang diinginkan. Setelah itu
tekan tombol atau pedal untuk memutar lengan penekuk secara elektrik.

Gambar 2.6 Bar Bender


sumber: https://arpratama.co.id/jual/bar-bender-sb42/

Dengan mesin tekuk besi beton bertenaga listrik ini, tenaga manusia dapat
diefektifkan sehingga dalam sehari dapat diselesaikan lebih banyak besi beton.
Kapasitas benda kerja bar bender bervariasi mulai dari besi beton dengan

Kelompok 9
diameter 16 mm polos sampai 52 mm polos. Mesin bending besi beton juga
dapat menangani besi beton ulir (deformed).

Keuntungan menggunakan rebar bender :


A. Bar bender dapat digunakan untuk menekuk besi beton polos dan ulir
dengan berbagai variasi sudut yang dapat diatur sesuai kebutuhan
B. TRUE CAPACITY Kapasitas mesin sesuai dengan spesifikasi
C. Memiliki 2 tingkat kecepatan kecepatan tekuk yang dapat dipilih
D. Menggunakan tenaga motor elektrik sehingga menyelesaikan pekerjaan
dengan lebih cepat dan hemat tenaga manusia
E. Alat nya Tahan lama dan awet
F. Mudah dioperasikan (user-friendly) dengan keamanan yang terjaga

Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam penggunaan mesin tekuk


A. Jenis bahan yang akan ditekuk
Setiap jenis bahan mempunyai sifat-sifat khusus dari bahan lainnya,
sehingga sewaktu dilakukan perakitan jenis bahan sebelumnya harus
diketahui sifat-sifatnya. Sebab dengan diketahuinya sifat-sifat bahan ini
sangat berpengaruh terhadap pemilihan metode penyambungan. Misalnya
jenis bahan aluminium yang akan dirakit mempunyai kesulitan apabila
dilas, untuk itu dicari alternatif lain untuk proses penyambungan yakni
dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan proses kerja yang lebih
mudah dan efisien.

B. Kekuatan yang dibutuhkan


Pertimbangan kekuatan yang dibutuhkan untuk suatu konstruksi,
sebaiknya telah dihitung sewaktu merencanakan konstruksi sambungan
yang akan dikerjakan. Hal ini dengan mempertimbangkan untuk apa
konstruksi itu digunakan dengan dasar ini maka kita dapat memilih metode

Kelompok 9
penyambungan dalam perakitan. Dasar pertimbangan ini adalah dengan
meninjau proses kerja yang mudah dan sesuai untuk kekuatan konstruksi
sambungan yang diminta.

C. Pemilihan metode penyambungan


Pemilihan metode penyabungan ini sangat erat hubungannya dengan
jenis bahan dan kekuatan sambungan yang dibutuhkan. Sebab setiap
metode penyambungan mempunyai keistimewaan tersendiri. Apabila kita
salah dalam memilih metode penyambungan, maka akibatnya komponen
yang kita rakit kurang baik hasilnya atau kemungkinan rusak.

D. Pemilihan Metode Penguatan


Penguatan pelat bertujuan untuk memberikan kekakuan pada pelat
yang mengalami proses pembentukan. Karena bahan dasar pelat ini relatif
tipis, maka biasanya dibutuhkan penguatanpenguatan pada pelat baik pada
tepi maupun bodi. Pemilihan penguatan ini disesuaikan dengan bentuk
konstruksi yang dihasilkan.

E. Penggunaan Alat Bantu Penekuk


Alat-alat bantu dalam perakitan harus dipertimbangkan berdasarkan
bentuk-bentuk konstruksi. Konstruksi yang terdiri dari jumlah komponen
yang banyak membutuhkan alat bantu perakitan. Alat bantu ini terutama
dibutuhkan untuk memproduksi suatu alat dalam jumlah yang relatif besar.
Alat bantu yang dibutuhkan seperti Jigdan fixture. Alat-alat bantu
sederhana yang dibutuhkan diantaranya klem penjepit, mal-mal dan
sebagainya.

F. Bentuk /Tampilan
Tampilan suatu produk sangat mempengaruhi terhadap nilai jual
produk itu sendiri. Tampilan pada dasarnya diawali dari gambar atau

Kelompok 9
desainnya. Tampilan disesuaikan dengan penggunaan konstruksi di
lapangan.

G. Ergonomis
Ergonomis yang dimaksud dalam perakitan ini adalah kesesuaian
antara produk dengan kenyamanan si pemakai (end user) . Artinya apabila
produk ini digunakan tidak menimbulkan cepat letih, membahayakan,
membosankan, dan sebagainya.

H. Finishing
Finishing atau pekerjaan akhir merupakan bagian yang sangat penting
dalam proses perakitan. Finishingini akan memberikan tampilan terhadap
nilai jual produk.

Kelompok 9
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
1. Alat dan Bahan
A. Mesin bending manual

5
1
6
2

3 7

4
8
Gambar 3.1. Mesin Tekuk
Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

Keterangan :
1. Lengan Hidrolis
Digunakan untuk membantu proses penekukan.
2. Meja Rentang
Berfungsi untuk menguci posisi pedal penjepit.
3. Tuas Penekuk
Digunkan untuk menggerakkan rahang penekuk.
4. Pedal Penjepit
Digunakan untuk menggerakkan rahang penjepit.
5. Rahang Penjepit
Digunakan untuk menjepit benda kerja yang berupa plat.

Kelompok 9
6. Pengukur sudut/penyetel
Supaya dapat mengetahui berapa sudut yang ditekuk.
7. Rahang Penekuk
Digunakan untuk membentuk tekukan dengan sudut tertentu pada
benda kerja.
8. Pengunci sudut
Digunakan supaya pedal penjepit tidak terbuka ke atas dan proses
penjepitan bahan uji tidak terganggu.
9. Hidrolis
Berfungsi untuk meneruskan gaya dari tuas penekuk ke rahang
penjepit dan rahang penekuk.

B. Pengaris
Penggaris digunakan untuk mengukur panjang dan lebar benda yang akan
dibending, hal ini untuk memastikan plat yang telah di proses sebelumnya
sudah tepat ukuran panjang dan lebarnya.

Gambar 3.2. Penggaris


Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

Kelompok 9
C. Plat besi tipis
Plat besi yang digunakan dalam praktikum ini adalah 2mm.

Gambar 3.3 Plat besi


Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

D. Sepatu Safety
Fungsi sepatu safety sebagai alat pelindung diri dari kecelakan kerja.

Gambar 3.4 Sepatu Safety


Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

E. Sarung Tangan
Fungsi dari sarung tangan adalah untuk melindungi diri saat melakukan
praktikum dari goresan benda tajam atau panas.

Kelompok 9
Gambar 3.5. Sarung Tangan
Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

2. Prosedur Kerja
Adapun prosedur yang digunakan dalam percobaan kali ini :
A. Sebelum Melakukan Praktikum
1. Memastikan keadaan mesin dan kelengkapannya
2. Menyiapkan benda kerja maupun peralatan lain yang dibutuhkan dalm
percobaan

B. Sewaktu Melakukan Praktikum


1. Mengukur dan tandai bagian benda kerja yang akan ditekuk
2. Menginjak pedal pembuka rahang, lalu letakkan benda kerja pada meja
rentang dengan posisi bagian yang akan ditekuk pada bibir rahang
penekuk
3. Mengatur ukuran sudut benda kerja yang akan di tekuk
4. Menjepit benda kerja dengan menekan/menginjak pedal penjepit dan
kunci posisi pedal penjepit
5. Mengatur berapa sudut derajat yang di inginkan,
6. Menggerakkan tuas penekuk untuk menggerakkan rahang penekuk
sehingga benda kerja membentuk sudut yang diinginkan
7. Melepaskan jepitan benda kerja dengan membuka kuncian pada pedal
penjepit

Kelompok 9
C. Setelah Melakukan Praktikum
Melepaskan jepitan benda kerja dengan membuka kuncian pada pedal
penjepit. Kemudian kita membersihkan meja kerja dan semua mesin dan
mengembalikan alat yang digunakan ke tempat semula.

Kelompok 9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Mesin Bending
Pada praktikum bending manual menggunakan 4 batang benda kerja
pelat besi dengan ukuran 70 mm, dan pada bagian tengah pelat dikasih tanda
bagian mana yang mau di tekuk dengan sudut 45 derajat dan 90 derajat.

Gambar 4.1 Plat Besi Sebelum ditekuk


Sumber ; Laboratorium Proses Manufaktur

Pada saat proses persiapan bahan ini yang harus dilakukan adalah tahap
pertama adalah menyiapkan bahan dan mengukur sesuai ukuran yang
ditentukan, sebelum material ini mengalami proses bending dimana prosesnya
menggunakan mesin bending yang manual /sederhana. Setelah pembuatan pola
dan pemotongan lembaran besi pada mesin Shearing, selanjutnya plat baja yang
akan di bending akan dimasukan ke mesin Shearing bending serta jangan lupa
untuk memeriksa bahwa penjepitnya haruslah kencang agar memastikan
keamanan saat proses berlangsung.

Kelompok 9
Gambar 4.2 Proses Bending Pada Plat
Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

Sesudah ditekuk selanjutnya memisahkan benda kerja dengan mesin,


jangan lupa untuk mengunci pemberat pada bending. Benda kerja yang sudah
di bending atau di tekuk dengan sudut 45 derajat dan 90 derajat akan dibawa
untuk melakukan proses selanjutnya.

Gambar 4.3 Proses Bending


Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur

Saat membuat garis tengah di plat kita harus memastikan ukuran 4 plat besi
yang mau ditekuk sama jangan sampai berbeda supaya hasil akhir bagus tidak
miring satu pun atau dengan kata lain yang ada yang berbeda tekukan.

Kelompok 9
Gambar 4.4 Hasil Plat Besi
Sumber : Laboratorium Proses Manufaktur

Prinsip kerja dari mesin bending manual ini hanya menggunakan berat
badan sesorang dan menggerakan alat bending tersebut. Jadi salah seorang akan
menekan pemberat pada mesin tersebut sehingga Berat badan seseorang akan
membuat mata bending menekuk benda hingga bengkok. Hal ini tergantung
pada tebalnya plat.

Gambar 4.5. Menekan pemberat pada Mesin Bending dengan berat badan.
Sumber:Laboratorium Proses Manufaktur

Setelah benda kerja selesai terbending, Tahap selanjutnya adalah memisahkan


benda kerja dari mesin dan jangan lupa untuk mengunci pemberat bending.
Benda kerja yang sudah terbending dapat dibawa ke proses selanjutnya, seperti
penghalusan dan dan penyatuan dengan part lainnya.

Kelompok 9
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
a. Proses Bending Manual sebaiknya menggunakan Plat yang tipis dengan
Ketelitian yang Rendah.
b. Plat Besi yang di bentuk memiliki ketebalan yang lumayan tebal sehingga
membuat kesulitan saat membentuknya.
c. Mengetahui proses dan cara penekukan benda kerja menggunakan mesin
bending.
d. Meningkatkan pengetahuan serta keterampilan tentang mesin-mesin
perkakas.
e. Praktikan dapat mengetahui cara penekukan benda kerja dengan mesin
bending manual.

2. Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan ada beberapa saran atau perbaikan
untuk praktikan yaitu sebagai berikut :
a. Saat melakukan percobaan praktikan harus memakai perlengkapan safety.
Seperti memakai perlengkapan safety. Seperti memakai sarung tangan
untuk melindungi tangan dari geram, sepatu safety untuk melindungi kaki
dari geram.
b. Saat melakukan praktikum, menggunakan alat yang ada di laboratorium
dengan baik agar bisa digunakan oleh praktikan selanjutnya.

Kelompok 9
c. Saat menggunakan bending manual praktikan lebih teliti dalam melihat
sudut plat besi yang mau di bentuk.
d. Selanjutnya kerapian praktikum lebih diperhatikan.
e. Memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja.

Kelompok 9
DAFTAR PUSTAKA

Fendra Satria,2014.Rancang Bangun Alat .Universitas Andalas, Padang


Siswanto, W.A.,2006. Simulasi Springback Benchmark Problem Cross Member
Numisheet, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.

Teguh Suparmanto,2016. Perencanaan Mesin Penekuk Plat Besi.Universitas


Nusantara, Kediri

Wisjnu P.Marsis, Iswantoro (2007), Perancangan Mesin Bending Dengan


Memanfaatkan Sistem Dongkrak Hidrolik Sederhana, Universitas
Muhammadiyah,Jakarta

Kelompok 9
LAMPIRAN

Kelompok 9

Anda mungkin juga menyukai