Rancangan Mesin Bending Manual
Rancangan Mesin Bending Manual
BENDING MANUAL
1. Latar Belakang
Mesin tekuk digunakan untuk membuat bentuk bersudut pada benda kerja
plat besi atau baja yang tipis. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Kemajuan teknologi itu tidak
terlepas dari dukungan dunia industri manufaktur dimana terdapat industri
besar maupun industri kecil dan menengah. Industri kecil menengah ataupun
bengkel produksi yang sedehana, masih menggunakan alat atau mesin yang
terbatas penggunaannya. Sebagai contoh adalah proses pengerjaan plat, masih
banyak bengkel yang memproduksi plat dengan profil tekuk secara manual.
Industri kecil masih melakukan penekukan plat masih dengan menggunakan
palu dan landasan besi sebagai alas. Hal tersebut akan banyak menghabiskan
waktu dengan hasil yang kurang terjamin kualitas.
Kelompok 9
namun diharapkan mesin rancangan ini dapat meningkatkan effisiensi waktu
dan tenaga untuk menghemat biaya produksi bengkel sederhana. Pada
penelitian ini akan dilakukan perancangan mesin tekuk yang kemudian akan
dibuat pemodelan tiga dimensi dari hasil rancangan mesin tekuk plat lalu akan
dianalisis fungsi dan kekuatan konstruksinya menggunakan perangkat lunak
Solidwork 2012, agar rancangan mesin dapat direalisasikan. Hasil akhir
penelitian berupa rancangan gambar kerja produksi untuk pembuatan mesin
tekuk .
Ketika ditinjau dari segi efisiennya sangat kurang dan dalam segi hasil
tekukan juga kurang maksimal. Maka alat untuk menekuk plat ini direncanakan
untuk mengatasi kekurangan-kekurangan atau kurang sempurnanya penekukan
plat, tanpa mengurangi substansi dari proses penekukan plat tersebut. Dalam
perencanaan ini alat penekuk manual yang dikerjakan oleh manusia digantikan
oleh tenaga mesin yang artinya kinerjanya menggunakan motor untuk
memperoleh hasil yang maksimal. Hal tersebut akan banyak menghabiskan
waktu dengan hasil yang kurang terjamin kualitas. Plat yang ditekuk bisa saja
sobek/cacat saat pemukulan selain itu kepresisian dan tampilan benda kerja
kurang terjamin.
2. Tujuan Praktikum
a. Tujuan umum
1. Pengenalan secara langsung mesin-mesin perkakas serta cara
pengoprasiannya.
2. Peningkatan pengetahuan serta ketrampilan tentang mesin-mesin perkakas.
b. Tujuan khusus
1. Dapat mengetahui, menguasai dan menggunakan mesin Bending.
2. Mengetahui proses dan cara penekukan benda kerja dengan mesin Bending.
Kelompok 9
BAB II
TEORI DASAR
Kelompok 9
peregangan. Dalam setiap regangan yang terjadi saat penekukan maka terjadi
radius bengkokan. Pada proses peregangan terjadi proses deformasi plastis
yang mengakibatkan terjadinya penekukan. (Siswanto, 2016)
Kelompok 9
menggunakan alat bending manual maupun menggunakan mesin bending.
Adapun macam-macam dari proses pembendingan yaitu:
A. Bending Ram
Biasanya digunakan untuk membuat lengkungan besar untuk logam
yang mudah bengkok. Dalam metode ini, plat atau pipa ditekan pada 2 poin
eksternal dan ram mendorong pada besi pada poros tengah
untukmenekuknya. Cara ini cenderung membentuk menjadi bentuk oval
baik dibagian dalam dan luar lengkungan.
C. Bending Mandrel
Selain cetakan yang digunakan dalam rotary bending, yakni dengan cara
menggunakan support fleksibel yang ikut bengkok dengan logam
untukmemastikan interior logam tidak cacat.
Kelompok 9
E. Bending Roll
Digunakan ketika diperlukan lengkungan yang besar pada logam.
Banyak digunakan untuk pekerjaan konstruksi. Bending roll menggunakan
3 roller yang disusun membentuk segi tiga pada satu poros untuk
mendorong dan membengkokan logam.
F. Bending Panas
Sistem ini banyak digunakan dalam proses perbaikan, yaitu dengan cara
logam dipanaskan didaerah penekukan sehingga menjadi lebih lunak
Adapun proses bending yang bekerja pada rancang bangun alat ini,yakni
mengadopsi teknik atau proses bending dengan cara rotary atau putaran yang
terdapat pada mesin bending pipa. Kemudian jenis jenis mesin bending yang
akan digunakan pada saat rancang bangun ini akan di jelaskan pada point
berikutnya.
Kelompok 9
Keterangan :
1) Lengan Hidrolis
Digunakan untuk membantu proses penekukan.
2) Meja Rentang
Berfungsi untuk menguci posisi pedal penjepit.
3) Tuas Penekuk
Digunkan untuk menggerakkan rahang penekuk.
4) Pedal Penjepit
Digunakan untuk menggerakkan rahang penjepit.
5) Rahang Penjepit
Digunakan untuk menjepit benda kerja yang berupa plat.
6) Pengukur sudut/penyetel
Supaya dapat mengetahui berapa sudut yang ditekuk.
7) Rahang Penekuk
Digunakan untuk membentuk tekukan dengan sudut tertentu pada benda
kerja.
8) Pengunci sudut
Digunakan supaya pedal penjepit tidak terbuka ke atas dan proses
penjepitan bahan uji tidak terganggu.
9) Hidrolis
Berfungsi untuk meneruskan gaya dari tuas penekuk ke rahang penjepit dan
rahang penekuk.
3. Proses Bending
Pada proses bending gaya-gaya yang terjadi saling berlawanan arah,
hampir sama dengan proses cutting. Tetapi pada proses bending gaya gaya
yang terjadi terpisah jauh, apalagi pada V-bending. Pada proses cutting, jarak
antara 2 gaya adalah sebesar clearance, yaitu antara 4% sampai dengan 5% dari
tebal sheet metal. Sedangkan pada proses bending (U bending), jarak antara dua
gaya adalah sebesar tebal material+radius dari punch dan die. Pada proses
Kelompok 9
bending, strees hanya terjadi pada bagian radius yang dibentuk, sedangkan pada
radius bagian dalam terjadi sebaliknya yaitu compression-strees. Karena hal
tersebut, bila terjadi kerusakan proses, maka pada radius bagian luar akan
terjadi crack dan kerutan pada bagian dalam.
Pada proses tekuk ini, mesin yang digunakan untuk melipat atau
menekuk plat adalah mesin bending manual dan bending Hydraulic Pipe
Bender. Bending manual digunakan untuk melipat atau menekuk pelat kerja
yang telah diselesaikan untuk pekerjaan awal. Mampu menekuk pelat dengan
tebal maksimum 2 mm dan panjang maksimal 1,5 meter, sedangkan hydraulic
pipe bender digunakan untuk menekuk benda kerja yang berbentuk silinder.
Secara mekanika proses penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya
yakni:tarik dan tekan. Pelat yang mengalami proses pembengkokan ini terjadi
peregangan, netral, dan pengkerutan. Daerah peregangan pada sisi uar
pembengkokan, dimana daerah ini terjadi deformasi plastis atau perobahan
bentuk. Peregangan ini menyebabkan pelat mengalami pertambahan panjang.
Daerah netral merupakan daerah yang tidak mengalami perobahan. Artinya
pada daerah netral ini pelat tidak mengalami pertambahan panjang atau
perpendekkan.(Satria, 2014)
Kelompok 9
inersia benda. Sebagaimana diketahui bahwa lembaran plat dengan bentuk
gelombang mempunyai kekakuan yang lebih tinggi daripada lembaran plat
yang rata.
Kelompok 9
B. Proses V-Bending
Proses V-Bending Merupakan proses pembengkokan yang dilakukan antara
dua permukaan berbentuk V baik pada punch maupun die-nya pada metode
Vbending.
Kelompok 9
ada, yaitu gaya bending dan gaya berat dari konstruksi itu sendiri.
Kekuatan konstruksi harus lebih besar dari pembebanan yang ada,
agar konstruksi dapat memenuhi tuntutan mesin sebagai alat
penekuk plat dengan tenaga hidrolik.
C. Segi ekonomis Dari segi ekonomis perlu diperhatikan secara lebih
mendalam, sebab pada segi ini sangat erat kaitanya dengan
besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk pengerjaan mesin
tersebut. (Marsis, 2016)
Hal ini diharapkan untuk dapat menekan biaya produksi yang serendah
mungkin tapi tidak mengurangi dari segi yang lain, terutama segi
konstruksinya. Namun tidak diinginkan penekanan biaya produksi yang
rendah akan mengakibatkan penurunan kemampuan kerja mesin. Setelah
melalui tahapan proses brainstorming, problem statement, product design
specification, dan morphological box, maka dapat disimpulkan concept
embodiment detail dari perancangan mesin tekuk plat adalah sebagai
berikut :
a) Mesin tekuk plat didesain untuk melakukan penekukan pada material
jenis mild steel dengan sudut tekuk 90°.
b) Dimensi material tekuk dibatasi untuk lebar 1200 mm dan ketebalan
maksimal 7 mm.
c) Mekanisme penekukan menggunakan sistem hidrolik dengan dua
buah silinder aktuator.
d) Perancangan punch dan die bending mengacu standard part yang ada.
e) Bentuk punch yang digunakan adalah tipe standard dan untuk die
opening dari die dipilih selebar 24 mm, panjang punch dan die dipilih
415 mm.
f) Sistem clamping punch dan die menggunakan alat yang dibuat sendiri
menyesuaikan standard part punch dan die yang digunakan.
g) Sistem pengaman menggunakan limit switch.
Kelompok 9
h) Untuk komponen pendukung seperti frame, pompa dan selang
hidrolik, panel kontrol, menggunakan kombinasi antara standard part
dan alat yang dibuat sendiri.
5. Proses Penekukan
Secara mekanika proses penekukan ini terdiri dari dua komponen gaya yakni
tarik dan tekan.
Kelompok 9
Besarnya kelebihan sudut pembengkokan ini dapat dihitung
berdasarkan tebal pelat, kekerasan bahan pelat dan panjang bidang
membengkokkan / penekukan . Langkah proses penekukan pelat dapat
dilakukan dengan mempertimbangkan sisi bagian pelat yang akan dibentuk.
Langkah penekukan ini harus diperhatikan sebelumnya, sebab apabila proses
penekukan ini tidak menurut prosedurnya maka akan terjadi salah langkah.
Salah langkah ini sangat ditentukan oleh sisi dari pelat yang dibengkokan dan
kemampuan mesin bending/tekuk tersebut. Komponen pelat yang akan
dibengkokan sangat bervariasi. Tujuan proses pembengkokan pada bagian tepi
maupun body pelat ini diantaranya adalah untuk memberikan kekakuan pada
bentangan pelat. Adapun langkah–langkah yang harus diperhatikan untuk
proses penekukannya seperti:
A. Penekuk awal
Pada posisi tuas penekuk setara dengan meja ukur kita dapat
menentukan berapa panjang sisi yang kita inginkan. Besarnya kelebihan
sudut tekukan juga dapat dilihat berdasarkan tebal plat, kekerasan bahan
plat dan panjang bidang pembengkokan.
B. Penekuk plat
Langkah proses penekukan pelat dapat dilakukan dengan
mempertimbangkan sisi bagian pelat yang akan dibentuk. Langkah
penekukan ini harus diperhatikan sebelumnya, sebab apabila proses
penekukan ini tidak menurut prosedurnya maka akan terjadi kerusakan.
Salah langkah ini sangat ditentukan oleh sisi dari plat yang dibengkokan
dan kemampuan mesin bending atau mesin tekuk tersebut. Komponen
plat yang akan dibengkokan sangat berfariasi. Tujuan proses
pembengkokan pada bagian tepi maupun body pelat ini diantaranya
adalah untuk memberikan kekakuan pada bentangan plat.
Kelompok 9
C. Sudut tekuk
Sudut tekuk yang terbentuk pada proses pelipatan plat, dimana pada
bagian sisi atas plat mengalami pengerutan dan bagian bawah
mengalami perenggangan. (Suparmanto, 2016)
6. Bar Bender
Bar bender adalah penekuk besi beton / baja tulangan elektrik yang akan
memudahkan Anda membentuk betonijzer (baja tulangan) menjadi berbagai
macam profil yang dibutuhkan. Cara penggunaannya sangat mudah yaitu
dengan memasukkan baja tulangan/betonijzer yang hendak dibengkokkan di
antara as tengah (pilih as tengah sesuai radius tekuk yang diinginkan) dan
lengan penekuk lalu mengatur sudut tekuk sesuai yang diinginkan. Setelah itu
tekan tombol atau pedal untuk memutar lengan penekuk secara elektrik.
Dengan mesin tekuk besi beton bertenaga listrik ini, tenaga manusia dapat
diefektifkan sehingga dalam sehari dapat diselesaikan lebih banyak besi beton.
Kapasitas benda kerja bar bender bervariasi mulai dari besi beton dengan
Kelompok 9
diameter 16 mm polos sampai 52 mm polos. Mesin bending besi beton juga
dapat menangani besi beton ulir (deformed).
Kelompok 9
penyambungan dalam perakitan. Dasar pertimbangan ini adalah dengan
meninjau proses kerja yang mudah dan sesuai untuk kekuatan konstruksi
sambungan yang diminta.
F. Bentuk /Tampilan
Tampilan suatu produk sangat mempengaruhi terhadap nilai jual
produk itu sendiri. Tampilan pada dasarnya diawali dari gambar atau
Kelompok 9
desainnya. Tampilan disesuaikan dengan penggunaan konstruksi di
lapangan.
G. Ergonomis
Ergonomis yang dimaksud dalam perakitan ini adalah kesesuaian
antara produk dengan kenyamanan si pemakai (end user) . Artinya apabila
produk ini digunakan tidak menimbulkan cepat letih, membahayakan,
membosankan, dan sebagainya.
H. Finishing
Finishing atau pekerjaan akhir merupakan bagian yang sangat penting
dalam proses perakitan. Finishingini akan memberikan tampilan terhadap
nilai jual produk.
Kelompok 9
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
1. Alat dan Bahan
A. Mesin bending manual
5
1
6
2
3 7
4
8
Gambar 3.1. Mesin Tekuk
Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur
Keterangan :
1. Lengan Hidrolis
Digunakan untuk membantu proses penekukan.
2. Meja Rentang
Berfungsi untuk menguci posisi pedal penjepit.
3. Tuas Penekuk
Digunkan untuk menggerakkan rahang penekuk.
4. Pedal Penjepit
Digunakan untuk menggerakkan rahang penjepit.
5. Rahang Penjepit
Digunakan untuk menjepit benda kerja yang berupa plat.
Kelompok 9
6. Pengukur sudut/penyetel
Supaya dapat mengetahui berapa sudut yang ditekuk.
7. Rahang Penekuk
Digunakan untuk membentuk tekukan dengan sudut tertentu pada
benda kerja.
8. Pengunci sudut
Digunakan supaya pedal penjepit tidak terbuka ke atas dan proses
penjepitan bahan uji tidak terganggu.
9. Hidrolis
Berfungsi untuk meneruskan gaya dari tuas penekuk ke rahang
penjepit dan rahang penekuk.
B. Pengaris
Penggaris digunakan untuk mengukur panjang dan lebar benda yang akan
dibending, hal ini untuk memastikan plat yang telah di proses sebelumnya
sudah tepat ukuran panjang dan lebarnya.
Kelompok 9
C. Plat besi tipis
Plat besi yang digunakan dalam praktikum ini adalah 2mm.
D. Sepatu Safety
Fungsi sepatu safety sebagai alat pelindung diri dari kecelakan kerja.
E. Sarung Tangan
Fungsi dari sarung tangan adalah untuk melindungi diri saat melakukan
praktikum dari goresan benda tajam atau panas.
Kelompok 9
Gambar 3.5. Sarung Tangan
Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur
2. Prosedur Kerja
Adapun prosedur yang digunakan dalam percobaan kali ini :
A. Sebelum Melakukan Praktikum
1. Memastikan keadaan mesin dan kelengkapannya
2. Menyiapkan benda kerja maupun peralatan lain yang dibutuhkan dalm
percobaan
Kelompok 9
C. Setelah Melakukan Praktikum
Melepaskan jepitan benda kerja dengan membuka kuncian pada pedal
penjepit. Kemudian kita membersihkan meja kerja dan semua mesin dan
mengembalikan alat yang digunakan ke tempat semula.
Kelompok 9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Mesin Bending
Pada praktikum bending manual menggunakan 4 batang benda kerja
pelat besi dengan ukuran 70 mm, dan pada bagian tengah pelat dikasih tanda
bagian mana yang mau di tekuk dengan sudut 45 derajat dan 90 derajat.
Pada saat proses persiapan bahan ini yang harus dilakukan adalah tahap
pertama adalah menyiapkan bahan dan mengukur sesuai ukuran yang
ditentukan, sebelum material ini mengalami proses bending dimana prosesnya
menggunakan mesin bending yang manual /sederhana. Setelah pembuatan pola
dan pemotongan lembaran besi pada mesin Shearing, selanjutnya plat baja yang
akan di bending akan dimasukan ke mesin Shearing bending serta jangan lupa
untuk memeriksa bahwa penjepitnya haruslah kencang agar memastikan
keamanan saat proses berlangsung.
Kelompok 9
Gambar 4.2 Proses Bending Pada Plat
Sumber: Laboratorium Proses Manufaktur
Saat membuat garis tengah di plat kita harus memastikan ukuran 4 plat besi
yang mau ditekuk sama jangan sampai berbeda supaya hasil akhir bagus tidak
miring satu pun atau dengan kata lain yang ada yang berbeda tekukan.
Kelompok 9
Gambar 4.4 Hasil Plat Besi
Sumber : Laboratorium Proses Manufaktur
Prinsip kerja dari mesin bending manual ini hanya menggunakan berat
badan sesorang dan menggerakan alat bending tersebut. Jadi salah seorang akan
menekan pemberat pada mesin tersebut sehingga Berat badan seseorang akan
membuat mata bending menekuk benda hingga bengkok. Hal ini tergantung
pada tebalnya plat.
Gambar 4.5. Menekan pemberat pada Mesin Bending dengan berat badan.
Sumber:Laboratorium Proses Manufaktur
Kelompok 9
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut :
a. Proses Bending Manual sebaiknya menggunakan Plat yang tipis dengan
Ketelitian yang Rendah.
b. Plat Besi yang di bentuk memiliki ketebalan yang lumayan tebal sehingga
membuat kesulitan saat membentuknya.
c. Mengetahui proses dan cara penekukan benda kerja menggunakan mesin
bending.
d. Meningkatkan pengetahuan serta keterampilan tentang mesin-mesin
perkakas.
e. Praktikan dapat mengetahui cara penekukan benda kerja dengan mesin
bending manual.
2. Saran
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan ada beberapa saran atau perbaikan
untuk praktikan yaitu sebagai berikut :
a. Saat melakukan percobaan praktikan harus memakai perlengkapan safety.
Seperti memakai perlengkapan safety. Seperti memakai sarung tangan
untuk melindungi tangan dari geram, sepatu safety untuk melindungi kaki
dari geram.
b. Saat melakukan praktikum, menggunakan alat yang ada di laboratorium
dengan baik agar bisa digunakan oleh praktikan selanjutnya.
Kelompok 9
c. Saat menggunakan bending manual praktikan lebih teliti dalam melihat
sudut plat besi yang mau di bentuk.
d. Selanjutnya kerapian praktikum lebih diperhatikan.
e. Memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja.
Kelompok 9
DAFTAR PUSTAKA
Kelompok 9
LAMPIRAN
Kelompok 9