Anda di halaman 1dari 15

Laporan Pengukuran Teknik

Pengukuran Kebulatan Poros

Disusun oleh:

Aprian Dwi Prasetyo 03151008


Rindra Hosanova 03151037

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN


INSTITUT TEKNOLOGI KALIMANTAN
BALIKPAPAN
2017
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 1
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 1
BAB II ISI .............................................................................................................. 2
2.1 Pengukuran ............................................................................................. 2
2.2 Jenis-Jenis Alat Ukur ............................................................................. 2
2.3 Metrologi ................................................................................................. 4
2.4 Kebulatan ................................................................................................ 4
BAB III PEMBAHASAN ..................................................................................... 5
3.1 Pengukuran Kebulatan .......................................................................... 5
3.2 Persyaratan Pengukuran Kebulatan .................................................... 6
3.3 Metode Konvensional Pengukuran Kebulatan .................................... 8
BAB IV KESIMPULAN ..................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak komponen mesin atau peralatan lainnya, khususnya komponen
mesin atau peralatan yang berputar, memiliki penampang berbentuk bulat. Suatu
komponen dengan permukaan silindris dengan tingkat kebulatan yang baik (sesuai
toleransi yang ditentukan) sangat dibutuhkan, hal ini akan berhubungan dengan
fungsi komponen tersebut. Maka dari itu pengukuran kebulatan adalah hal krusial
yang harus dimengerti.
Pengukuran kebulatan merupakan pengukuran yang ditunjukan untuk
memeriksa kebulatan suatu benda, atau dengan kata lain untuk mengetahui apakah
suatu benda benar-benar bulat atau tidak, jika dilihat secara teliti dengan
menggunakan alat ukur. Komponen dengan kebulatan ideal amat sulit dibuat,
dengan demikian kita harus mentolerir ketidak bulatan dalam batas-batas titik
sesuai dengan tujuan dan fungsi dari komponen itu. Kebulatan mempunyai peranan
penting dalam hal: Membagi beban sama rata, menentukan umur komponen,
menentukan kondisi suaian, menentukan ketelitian putaran, Memperlancar
pelumasan.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang ada dalam makalah ini yaitu bagaimana cara
memahami prinsip dasar proses pengukuran kebulatan.

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu emahami prinsip dasar proses pengukuran
kebulatan.

1
BAB II
ISI

2.1 Pengukuran
Pengukuran dalam arti umum adalah membandingkan suatu besaran dengan
besaran parameternya. Proses pengukuran ini, akan menghasilkan angka yang
diikuti dengan nama besaran acuan ini. Bila tidak diikuti oleh nama besaran acuan,
maka pengukuran ini tidak berarti.
Besaran standar yang dipakai sebagai acuan dalam proses pengukuran harus
memenuhi syarat- syarat sebagai berikut:
a. Dapat didefenisikan secara fisik
b. Jelas, tidak berubah dalam kurun waktu tertentu
c. Dapat digunakan sebagai pembanding, dimana saja di dunia.
Besaran standar yang digunakan dalam setiap proses pengukuran dapat
merupakan salah satu atau gabungan besaran- besaran dasar. Dalam system satuan
SI, dikenal ada tujuh besaran dasar. Setiap besaran, mempunyai satuan standar
dengan symbol dan notasi yang digunakan.
Tabel 2.1 Besaran Pokok
No. Besaran Dasar Nama Satuan Dasar Simbol
1 Panjang Meter M
2 Massa Kilogram Kg
3 Waktu Sekon/ detik S
4 Arus listrik Amper A
5 Temperature Kelvin K
6 Jumlah zat Mol Mol
7 Intensitas cahaya Candela Cd
Satuan tambahan
1 Sudut bidang Radial Rad
2 Sudut ruang Steradial Sr

2.2 Jenis-Jenis Alat Ukur


Alat ukur geometri bisa diklasifikasikan menurut prinsip kerja, kegunaan,
atau sifatnya secara garis besar. Alat ukur geometris diklasifikasikan menurut
sifatnya dibagi menjadi 5 jenis dasar dan 2 jenis turunan.
A. Jenis dasar:
1. Alat Ukur Langsung
Alat ukur langsung yaitu alat ukur yang dapat menujukkan hasil
pengukuran secara lansung angka yang dibaca pada bagian penunjuk
alat ukur tersebut adalah harag pengukuran. Contohnya : meteran,
mistar ingsut, dan micrometer.
2. Alat Ukur Pembanding (Komparator)

2
Alat ukur yang bisa dibandingkan hasil pengukuran dangan selisih
benda ukur dengan ukuran standar hasil pengukuran adalah merupakan
jumlah angka yang menunjukkan oleh alat ukur dengan ukuran benda
stndar contohnya: jam ukur (dial indicator) dan pupitas (dial test
indicator).
3. Alat Ukur Standar (Acuan)
Alat ukur yang digunakan sebagai standar pengukuran, pengunaaan
alat
ukur ini biasanya bersamaan dengan lata ukur pembanding. Alat ukur
standar yang fleksibel adalah sejumlah balok ukur yaitu balok baja yang
dibuat khusus untuk menunjukkan nilai panjang yang ketelitiaanya
dibuat demikian rupa sehingga dapat dipertanggung jawabkan
kebenaranya sampai 3 dan 4 angka dibelakang koma.
4. Alat Ukur Kaliber Batas
Alat ukur kaliber batas adalah alat ukur yang dingukan diluar batas
toleransi atau tidaknya. Jika produk dianggap bagus maka benda masih
dalam batas toleransi, jika produk jelek makan benda masih diluar batas
toleransi.
5. Alat Ukur Bantu
Benda yang digunkan sebagai alat bantu selama proses pengukuran
berlangsung. Contohnya: V-Blok dan Pemegang micrometer.
B. Jenis turunan:
1. Alat Ukur Khas (khusus atau spesifik)
Alat ukur ini dibuat untuk mengukur geometri yang khas misalnya
kekasaran permukaan, profil gigi dari suatu roga gigi.
2. Alat Ukur Koordinat
Alat ukur yang memiliki sensor yang dapat digerkkan dalam ruang,
koordinan sendor dibaca melalui tiga skala axis yang disusun seperti
koordinan kartesian (X,Y,Z) dapat dilengkapi dengan sumbu putar
(koorinat polar).
Selain berdasarkan sifatnya yang menhasilkan klasifikasi dasar dan
klasifikasi turunan dengan 7 jenis alat ukur yang telah dijelaskan diatas,
cara klasifikasi lain mengenai alat ukur geometrk adalah menurut prinsp
kerja utama.
Mekanik
Optik
Elektrik
Fluidic
Hidrolik
Pneumatic
Aerodinamik

3
2.3 Metrologi
Metrologi adalah ilmu disiplin yang mempelajari tentang suatu pengukuran
yang mana pengukuran yang dilakukan dengan mengukur dimensi dar benda kerja
guna memperoleh hasil yang mendekati dari kebenaranya.
Sedangkan proses pengukuran dapar dilakukan sebagai suatu proses
membandingkan suatu parameter atau variabel dengan suatu parameter atau
variabel yang dianggap sebagai acuan (Patokan) dan acuan inilah yang bisa disebut
sebagai Standar. Standar ini tidak selalu dapat digunkan pada suatu tempat,
kadangkala acuan atau standar tadi tidak bisa digunakan pada semua tempat sebagai
pembanding. Hal ini disebabkan karena susahnya membawa standar tersebut
sehingga tidak praktis membawa standar tersebut ke lokasi pengukuran.

2.4 Kebulatan
Pada umumnya suatu profil kebulatan dikatakan bulat sempurna bila jarak
titik-titik yang terdapat pada bentuk geometrik tersebut memiliki jarak yang sama
terhadap sebuah titik yang disebut dengan titik pusat. Suatu profil kebulatan
dikatakan tidak bulat sempurna jika terjadi ketidakbulatan yang ditandai dengan
adanya perbedaan jarak antara titik-titik pada bentuk geometrik tersebut terhadap
titik pusatnya. ISO/R 1101 mendefenisikan toleransi kebulatan sebagai daerah
toleransi pada bidang penampang yang dibatasi oleh dua lingkaran konsentrik
dengan selisih radius sebesar harga toleransinya.

Gambar 2.1 Toleransi untuk geometrik kebulatan


Hal-hal yang berhubungan dengan proses pembuatan yang dapat
menyebabkan terjadinya ketidakbulatan pada komponen yang dibuat adalah
sebagai berikut :
a. Keausan yang terjadi pada bantalan poros utama mesin bubut atau
mesin gerinda yang digunakan.
b. Lenturan yang terjadi pada benda kerja atau pada mesin perkakas yang
diakibatkan oleh gaya pemotongan yang cukup besar.
c. Kesalahan posisi senter pemegang.
d. Tekanan alat pemegang atau pencekam pada komponen yang berdinding
tipis.

4
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengukuran Kebulatan
Pengukuran kebulatan merupakan pengukuran yang ditunjukan untuk
memeriksa kebulatan suatu benda yang dapat dilakukan dengan menggunakan alat
ukur yang memiliki dua sensor yang saling bertolak belakang (180o), misalnya
mikrometer. Dengan menggunakan micrometer penampang poros dengan dua
tonjolan beraturan (elips) akan dapat diketahui ketidakbulatannya, yaitu dengan
mengukur diameter pada sisi terjauh dan diameter pada sisi terdekat. Tetapi alat
ukur tersebut tidak dapat digunakan untuk mengetahui ketidakbulatan poros yang
memiliki tonjolan berjumlah ganjil beraturan, karena alat ukur tersebut akan
menunjukkan hasil yang selalu sama. Mengurangi sifat adhesive pada pahat potong
dan

geram.
Gambar 3.1 Pengukuran Kebulatan dengan Dua Sensor
Pengukuran alat ukur dengan tiga sensor tersebut dapat disetarakan dengan
cara pengukuran menggunakan blok-V (V block dengan sudut 60o) dan jam ukur.

Gambar 3.2 Pengukuran kebulatan dengan blok-V (60o)


dan jam ukur tidak selalu menunjukkan
adanya ketidakbulatan; tergantung pada
bentuk profil kebulatan poros yang diukur.

5
Pengukuran kebulatan poros dilakukan dengan cara meletakkan pada blok-
V dan kemudian memutarnya dengan menempelkan sensor jam ukur di atasnya.
Cara tersebut merupakan cara klasik untuk mengetahui kebulatan. Agar titik pusat
benda ukur tidak berpindah, maka benda ukur dapat diputar di antara dua senter,
sementara itu sensor jam ukur akan merasakan perubahan permukaan benda ukur.
Cara pengukuran seperti ini hanya bisa dilakukan bila benda ukur mempunyai
lubang senter, sementara itu dengan cara ini ketelitian putaran sangat dipengaruhi
oleh posisi senter, bentuk senter dan ketidakbulatan senter. Meskipun cara-cara
pengukuran kebulatan seperti tersebut di atas memiliki berbagai kelemahan, akan
tetapi cara-cara tersebut masih sering dilakukan.

Gambar 3.3 Pengukuran kebulatan diantara dua senter

3.2 Persyaratan Pengukuran Kebulatan


Parameter kebulatan adalah suatu harga yang dapat dihitung berdasarkan
profil kebulatanrelatif terhadap lingkaran referensinya. Menurut standar Inggris,
Amerika dan Jepang, ada empat macam lingkaran referensi, yaitu :
1. Lingkaran Luar Minimum (Minimum Circumcribed Circle)
Lingkaran terkecil yang mungkin dibuat diluar profil kebulatan tanpa
memotongnya. Ketidakbulatan sama dengan jarak radial dari lingkaran
tersebut kelekukan yang paling dalam.

Gambar 3.4 (MCC)

6
2. Lingkaran Dalam Minimum (Minimum Inscribed Circle)
Lingkaran terbesar yang mungkin dibuat dalam profil kebulatan tanpa
memotongnya. Ketidakbulatan sama dengan jarak radial dari lingkaran
tersebut ketonjolan yang paling tinggi.

Gambar 3.5 (MIC)


3. Lingkaran Daerah Minimum (Minimum Zone Circle)
Dua buah lingkaran kosentris yang melingkupi profil kebulatan sedemikian
rupa sehingga jarak radial antara kedua lingkaran tersebut adalah yang
paling kecil. Titik tengah dari lingkaran daerah minimum disebut dengan
MZC atau Minimum Zone Center. Ketidakbulatan merupakan seslisih dari
jari-jari kedua lingkaran tersebut dan dinamakan MRZ atau Minimum
Radial Zone.

Gambar 3.6 (MRZ)


4. Lingkaran Kuadrat Terkecil (Least Squares Circle)
Merupakan lingkaran yang ditentukan berdasarkan profil kebulatan
sedemikian rupa sehingga kuadrat jarak dari sejumlah titik dengan interval
sudut yang sama pada profil kebulatan ke lingkaran referensi adalah yang
paling kecil. Titik tengah lingkaran kuadrat terkecil dinamakan LSC atau
Least Square Center. Jarak radial harga mutlak rata-rata antara profil
kebulatan dengan lingkaran kuadrat terkecil disebul MLA atau Mean Line
Average.

7
Gambar 3.7 (LSC)

3.3 Metode Konvensional Pengukuran Kebulatan


Tiga metode konvensional untuk mengukur kebulatan di antara nya metode
diameter, metode radius dan metode tiga point di deskripsikan dalam bagian
berikut:
a. Pengukuran kebulatan menggunakan metode diameter
Diameter profil lingkaran diukur menggunakan sebuah mikrometer pada
beberapa sudut yang berbeda di sekitar sumbu pusat dari benda kerja.kebulatan
di ekspresikan sebagai perbedaan antara maksimum dan minimum diameter
terukur. Kebulatan suatu dapat di tentukan dalam cara yang sama
menggunakan sebuah mikrmeter dalam. Ini sebuah metode yang sederhana
yang efektif untuk mengukur bagian bagian biasa. Sejak definisi baru di
perkenalkan evaluasi para meter ini harus menunjuk kepada keseragaman
diameter.

Gambar 3.8 Pengukuran Dengan Metode Diameter


b. Pengukuran kebulatan menggunakan metode radius
Benda kerja di ganjal pada sebuah pusat sepanjang sumbu pusatnya dan
di rotasikan. Sebuah dial indikator mengukur penempatan jari jari sebuah
bagian silang pada interval siku siku spesifik. Kebulatan di tentukan sebagai
perbedaan antara pembacaan indicator.

8
Gambar 3.9 Pengukuran Dengan Metode Radius
b. Pengukuran kebulatan menggunakan metode 3 point
Pengukuran kebulatan menggunakan metode 3 point, membutuhkan V-
block, sebuah saddel gage atau tripod gage seperti di tujukan pada gambar
berikut (a) benda kerja di dukung pada dua point dengan v block. Dial
indicator menyentuh benda kerja pada dua bidang sudut terbentuk oleh dua
wadah dari bentuk v block . benda kerja di rotasikan dan kebulatan di
tentukan sebagai perbedaan maksimum antara pembacaan indicator. Saddle
gage di gunakan untuk mengukur besarnya diameter benda kerja dan tripod
gage di gunakan untuk diameter dalam. Bagaimana pun ketepatan pengukuran
dengan metode 3 point tergantung dari sudut v block dan bentuk profil benda
kerja.

Gambar 3.10 Pengukuran Dengan Metode 3 poin


Berdasarkan putaran maka alat ukur kebulatan (roundness tester) dapat
diklasifikasikan:

9
Gambar 3.11 Dua Jenis Alat Ukur Kebulatan
Jenis dengan sensor putar :
a. Spindel (poros utama) yang berputar hanya menerima beban yang ringan
dan tetap. Dengan demikian ketelitian yang tinggi bisa dicapai dengan
membuat konstruksi yang cukup ringan.
b. Meja untuk meletakkan benda ukur tidak mempengaruhi sistem
pengukuran. Benda ukur yang besar dan panjang tidak merupakan
persoalan.

Jenis dengan meja putar :


a. Karena sensor tidak berputar, maka berbagai pengukuran dengan
kebulatan dapat dilaksanakan, misalnya konsentris, kelurusan,
kesejajaran, dan ketegaklurusan.
b. Pengukuran kelurusan bisa dilakukan dengan menambahkan peralatan
untuk menggerakkan sensor dalam arah transversal (vertikal) tanpa harus
mengubah posisi spindel.
c. Berat benda ukur terbatas, karena keterbatasan kemampuan spindel untuk
menahan beban. Penyimpangan letak titik berat ukur relatif terhadap
sumbu putar dibatasi.
d. Alat pengatur posisi dan kemiringan benda ukur terletak pada meja. Oleh
sebab itu, pengaturan secara cermat supaya sumbu objek ukur berimpit
dengan sumbu putar, hanya mungkin dilakukan sewaktu meja dalam
keadaan tak berputar.

Gambar 3.12 Skema Prinsip Kerja Alat Ukur Kebulatan

10
Beberapa hal mengenai komponen utama alat ukur kebulatan adalah sebagai
berikut :
a. Spindel merupakan komponen terpenting, dimana ketelitian putaran
harus dijaga setinggi mungkin (merupakan satu satunya sumbu
referensi ). Oleh sebab itu perencanaan bantalan spindel merupakan
kunci dari keberhasilan alat ukur. Berbagai jenis bntalan dapat dipilih,
antara lain: bantalan kering, bantalan peluru, bantalan hidrodinamik,
bantalan udara , dan bantalan hidrostatik.
b. Sensor merupakan berupa batang dengan jarum dari Tungsten Carbide.
Geometri ujung jarum dibuat berbentuk tumbereng (sektor lingkaran)
dengan tebal dan jari jari tertentu (6 mm). Ujung jarum sengaja tidak
dibuat berbentuk bola dengan diameter kecil untuk menghindari jarum
mengikuti profil kekasaran permukaan.
c. Pengubah alat ukur umumnya menggunakan prinsip transformator
(kumparan sekunder dan primer) dengan perubahan induktansi, yaitu
perubahan posisi inti akibat perubahan posisi batang sensor melalui
suatu mekanisme khusus
d. Pencatat digunakan untuk menghindari gesekan antara pena pencatat
dengan kertas serta untuk mempertipis garis, grafik dibuat pada kertas
elektro sensitif. Selama pembuatan grafik berlangsung, pena yang di
beri muatan listrik akan memancarkan bunga api sehingga
menimbulkan bekas pada kertas elektrosensitif .
e. Sentering dan leveling, dimana sumbu putaran merupakan satu
satunya sumbu referensi. Oleh sebab itu, penempatan benda ukur relatif
terhadap sumbu putar harus dapat diatur dengan cermat dan teliti.
f. Pengukuran kelurusan dan berbagai kesalahan bentuk, sensor alat ukur
harus dapat dinaikkan/diturunkan guna memeriksa kebulatan pada
beberapa ketinggian sesuai dengan lokasi objek ukur. Hal ini
memerlukan tiang dengan landasan luncur tegak lurus dan sejajar
dengan sumbu putar.

11
BAB IV
KESIMPULAN
Pengukuran kebulatan merupakan pengukuran yang ditunjukan untuk
memeriksa kebulatan dari suatu benda yang dapat dilakukan. Pengukuran kebulatan
dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur yang memiliki dua sensor yang
saling bertolak belakang (180o), misalnya mikrometer. Sedangkan Parameter
kebulatan adalah suatu harga yang dapat dihitung berdasarkan profil kebulatan
relatif terhadap lingkaran referensinya. Menurut standar Inggris, Amerika dan
Jepang, ada empat macam lingkaran referensi, yaitu Lingkaran Luar Minimum
(Minimum Circumcribed Circle) Lingkaran Dalam Minimum (Minimum Inscribed
Circle) Lingkaran Daerah Minimum (minimum Zone Circle) , Lingkaran Kuadrat
Terkecil (Least Squares Circle) . Selain itu,ada tiga metode konvensional untuk
mengukur kebulatan di antara nya pengukuran kebulatan menggunakan metode
diameter yakni diameter profil lingkaran diukur menggunakan sebuah mikrometer
pada beberapa sudut yang berbeda di sekitar sumbu pusat dari benda kerja
.Selanjutnya pengukuran kebulatan menggunakan metode radius benda kerja di
ganjal pada sebuah pusat sepanjang sumbu pusatnya. Dan Pengukuran kebulatan
menggunakan metode 3 point pengukuran kebulatan membutuhkan V block,
sebuah saddel gage atau tripod gage.

12
DAFTAR PUSTAKA
http://faishal-mukhlish.blogspot.co.id/2014/06/alat-ukur-kebulatan.html. Diakses
tanggal 8 Maret 2017
Rochim Taufiq, Spesifikasi, Metrologi dan Kontrol Kualitas Geometrik Buku 1,
Penerbit ITB Bandung, 2007.
http://dokumen.tips/documents/laporan-akhir-pratikum-55c2a6ad6cb67.html
Diakses tanggal 8 Maret 2017

13