Laporan Pendahuluan Post Partum
Laporan Pendahuluan Post Partum
“Keperawatan Maternitas”
Disusun Oleh:
Perubahan Fisiologi
Peningkatan prolactin
KETIDAKEFEKTIFAN
MENYUSUI
4. Klasifikasi
Asuhan keperawatan pada masa postpartum dibagi atas tiga periode, yaitu:
(Mitayani, 2009)
a. Immediate postpartum, adalah masa 24 jam postpartum
b. Early postpartum, adalah masa pada minggu pertama postpartum
c. Late Postpartum, adalah masa pada minggu kedua sampai dengan minggu
keenam postpartum
Menurut, Nugroho, dkk (2014), tahap masa nifas di bagi menjadi 3 :
Purperium dini, waktu 0 – 24 jam post partum. Purpenium dini yaitu
kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan.
Dianggap telah bersih dan boleh melakukan hubungan suami istri apabila
40 hari 9.
Purperium intermedial, waktu 1 – 7 hari post partum. Purpenium
intermedial yaitu kepulihan menyeluruh akat – alat genetika yang lamanya
6 minggu.
Remote purperium, waktu 1 – 6 minggu post partum. Adalah waktu yang
lama diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil
dan waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk pulih sempurna
biasanya berminggu – minggu, bulanan bahkan tahunan.
5. Tanda dan gejala
a. Perubahan Fisik
1. Involusi
Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat
kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga
mencapai keadaan seperti sebelum hamil.
2. After Pain/Rasa Sakit
Disebabkan koktraksi rahim biasanya berlangsung 3 – 4 hari pasca
persalinan. Perlu diberikan pengertian pada ibu mengenai hal ini dan bila
terlalu mengganggu analgesik.
3. Lochia
Lochia adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam
masa nifas. Lochia bersifat alkalis, jumlahnya lebih banyak dari darah
menstruasi. Lochia ini berbau anyir dalam keadaan normal, tetapi tidak
busuk. Pengeluaran lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya
yaitu lokia rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua, verniks
kaseosa, rambut lanugo, sisa mekonium, sisa darah dan keluar mulai hari
pertama sampai hari ketiga.
7. Penatalaksanaan Medis
Pada post partum normal dengan bayi normal tidak ada penatalaksanaan khusus.
Pemberian obat obatan hanya diberikan pada ibu yang melahirkan dengan penyulit,
terutama pada ibu anemia dan resiko infeksi dengan pemberian anti biotic dan obat-
obat roboransia seperti suplemen vitamin, demikian juga pada bayi obat-obatan
biasanya diberikan untuk tindakan profolatif, misalnya vit K untuk mencegah
perdarahan, anti biotic untuk mencegah infeksi. Menurut Maritalia (2014)
penatalaksanan yangdiperlukan untuk klien dengan post partum adalah sebagai
berikut:
a. Meperhatikan kondisi fisik ibu dan bayi.
b. Mendorong penggunaan metode-metode yang tepat dalam memberikan
makanan pada bayi dan mempromosikan perkembangan hubungan baik antara
ibu dan anak.
c. Mendukung dan memperkuat kepercayaan diri si Ibu dan memungkinkannya
mingisi peran barunya sebagai seorang Ibu, baik dengan orang, keluarga
baru,maupun budaya tertentu.
8. Komplikasi
a. Perdarahan post pastum (keadaan kehilangan darah lebih dari 500 mL
selama 24 jam pertama sesudah kelahiran bayi)
b. Infeksi
c. Gangguan psikologis
d. Depresi post partum
e. Post partum Blues
f. Post partum Psikosa
g. Gangguan involusi uterus
B. Konsep Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian
A. Anamnesa
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama
Pada ibu dengan kasus post SC keluhan utama yang timbul yaitu nyeri pada luka
operasi.
3. Riwayat persalinan sekarang
Pada pasien post SC kaji riwayat persalinan yang dialami sekarang.
4. Riwayat menstruasi
Pada ibu, yang perlu ditanyakan adalah umur menarche, siklus haid, lama haid,
apakah ada keluhan saat haid, hari pertama haid yang terakhir.
5. Riwayat perkawinan
Yang perlu ditanyakan adalah usia perkawinan, perkawinan keberapa, usia
pertama kali kawin.
6. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas
Untuk mendapatkan data kehamilan, persalinan dan nifas perlu diketahui HPHT
untuk menentukan tafsiran partus (TP), berapa kali periksaan saat hamil, apakah
sudah imunisasi TT, umur kehamilan saat persalinan, berat badan anak saat
lahir, jenis kelamin anak, keadaan anak saat lahir.
7. Riwayat penggunaan alat kontrasepsi
Tanyakan apakah ibu pernah menggunakan alat kontrasepsi, alat kontrasepsi
yang pernah digunakan, adakah keluhan saat menggunakan alat kontrasepsi,
pengetahuan tentang alat kontrasepsi.
8. Pola kebutuhan sehari-hari
Bernafas, pada pasien dengan post SC tidak terjadi kesulitan dalam menarik
nafas maupun saat menghembuskan nafas.
Makan dan minum, pada pasien post SC tanyakan berapa kali makan
sehari dan berapa banyak minum dalam satu hari.
Eliminasi, pada psien post SC pasien belum melakukan BAB, sedangkan
BAK menggunakan dower kateter yang tertampung di urine bag.
Istirahat dan tidur, pada pasien post SC terjadi gangguan pada pola
istirahat tidur dikarenakan adanya nyeri pasca pembedahan.
Gerak dan aktifitas, pada pasien post SC terjadi gangguan gerak dan
aktifitas oleh karena pengaruh anastesi pasca pembedahan.
Kebersihan diri, pada pasien post SC kebersihan diri dibantu oleh perawat
dikarenakan pasien belum bisa melakukannya secara mandiri.
Berpakaian, pada pasien post SC biasanya mengganti pakaian dibantu oleh
perawat.
Rasa nyaman, pada pasien post SC akan mengalami ketidaknyamanan
yang dirasakan pasca melahirkan.
Konsep diri, pada pasien post SC seorang ibu, merasa senang atau minder
dengan kehadiran anaknya, ibu akan berusaha untuk merawat anaknya.
Sosial, pada SC lebih banyak berinteraksi dengan perawat dan tingkat
ketergantungan ibu terhadap orang lain akan meningkat.
Belajar, kaji tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan post partum
terutama untuk ibu dengan SC meliputi perawatan luka, perawatan
payudara, kebersihan vulva atau cara cebok yang benar, nutrisi, KB, seksual
serta hal-hal yang perlu diperhatikan pasca pembedahan. Disamping itu
perlu ditanyakan tentang perawatan bayi diantaranya, memandikan bayi,
merawat tali pusat dan cara meneteki yang benar.
B. Pemeriksaan fisik
1. Kepala, meliputi bentuk kepala, kulit kepala, apakah ada lesi atau
benjolan, dan kesan wajah, biasanya terdapat chloasma gravidarum pada
ibu post partum.
2. Mata, meliputi kelengkapan dan kesimetrisan mata, Kelopak mata,
konjungtiva, cornea, ketajaman pengelihatan. Pada ibu post sectio
caesarea
biasanya terdapat konjungtiva yang anemis diakibatkan oleh kondisi anemia atau
dikarenakan proses persalinan yang mengalami perdarahan.
3. Hidung, meliputi tulang hidung dan posisi septum nasi, pernafasan cuping
hidung, kondisi lubang hidung, apakah ada secret, sumbatan jalan nafas, apakah
ada perdarahan atau tidak, apakah ada polip dan purulent.
4. Telinga, meliputi bentuk, ukuran, ketegangan lubang telinga, kebersihan dan
ketajaman pendengaran.
5. Leher, meliputi posisi trakea, kelenjar tiroid, bendungan vena jugularis.
6. Mulut dan orofaring, meliputi keadaan bibir, keadaan gigi, lidah, palatum,
orofaring, ukuran tonsil, warna tonsil.
7. Thoraks, meliputi inspeksi (bentuk dada, penggunaan otot bantu nafas, pola
nafas), palpasi (penilaian voval fremitus), perkusi (melakukan perkusi pada
semua lapang paru mulai dari atas klavikula kebawah pada setiap spasiem
intercostalis), auskultasi (bunyi nafas, suara nafas, suara tambahan).
8. Payudara, pada ibu yang mengalami bendungan ASI meliputi bentuk simetris,
kedua payudara tegang, ada nyeri tekan, kedua puting susu menonjol, areola
hitam, warna kulit tidak kemerahan, ASI belum keluar atau ASI hanya keluar
sedikit.
9. Jantung, meliputi inspeksi dan palpasi (amati ada atau tidak pulsasi, amati
peningkatan kerja jantung atau pembesaran, amati ictus kordis), perkusi
(menentukan batas-batas jantung untuk mengetahui ukuranjantung), auskultasi
(bunyi jantung).
10. Abdomen, meliputi inspeksi (lihat luka bekas operasi apakah ada tanda-tanda
infksi dan tanda perdarahan, apakah terdapat striae dan linea), auskultasi
(peristaltic usus normal 5-35 kali permenit), palpasi (kontraksi uterus baik atau
tidak).
11. Genetalia eksterna, meliputi inspeksi (apakah ada hematoma, oedema,tanda-
tanda infeksi,periksa lokhea meliputi warna, jumlah, dan konsistensinya).
12. Pemeriksaan kandung kemih diperiksa apakah kandung kemih ibu penuh atau
tidak, jika penuh minta ibu untuk berkemih, jika ibu tidak mampu lakukan
kateterisasi.
13. Pemeriksaan anus diperiksa apakah ada hemoroid atau tidak.
14. Pemeriksaan integument meliputi warna, turgor, kerataan warna, kelembaban,
temperatur kulit, tekstur, hiperpigmentasi.
15. Pada pemeriksaan ekstermitas meliputi ada atau tidaknya varises, oedema,
reflek patella, reflek Babinski, nyeri tekan atau panas pada betis, pemeriksaan
human sign.
C. Diagnosis Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik ditandai dengan mengeluh
nyeri, tampak meringis, bersikap proteksi, gelisah, frekuensi nadi meningkat dan
sulit tidur.
2. Menyusui tidak efektif hubungan dengan berketidakadekuatan suplai ASI
ditandai dengan kelelahan maternal, kecemasan maternal, bayi tidak mampu
melekat pada payudara ibu, asi tidak menetas/memancar, BAK bayi kurang dari
8 kali dalam 24 jam, nyeri, lecet terus menerus setelah minggu kedua.
3. Risiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur invasive.
D. Intervensi Keperawatan
setelah mengingatkan
E. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan fase dimana perawat mengimplementasikan
intervensi keperawatan.Fase implementasi memberikan tindakan keperawatan aktual
dan respon klien yang dikaji pada fase akhir, fase evaluasi. Perawat melaksanakan
atau mendelegasikan tindakan keperawatan untuk intervensi yang disusun dalam
tahap perencanaan yaitu intervensi latihan batuk efektif, manajemen jalan napas, dan
pemantauan respirasi, kemudian mengakhiri tahap implementasi dengan mencatat
tindakan keperawatan dan respons klien terhadap tindakan tersebut (Koizer, B., Erb,
G., Berman, A., & Snyder, 2010)
F. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah kegiatan yang terus menerus dilakukan untuk menentukan
apakah rencana keperawatan efektif dan bagaimana rencana keperawatan dilanjutkan,
merevisi rencana atau menghentikan rencana keperawatan (Nursalam, 2015).
Dalam evaluasi pencapaian tujuan ini terdapat 3 (tiga) alternatif yang dapat
digunakan perawat untuk memutuskan/menilai sejauh mana tujuan yang telah
ditetapkan dalam rencana keperawatan tercapai, yaitu :
1. Tujuan tercapai.
2. Tujuan sebagian tercapai.
3. Tujuan tidak tercapai
Evaluasi dibagi menjadi 2 (dua) tipe, yaitu :
a. Evaluasi Proses (Formatif) Evaluasi ini menggambarkan hasil observasi dan
analisis perawat terhadap respon klien segera stelah tindakan. Evaluasi formatif
dilakukan secara terus menerus sampai tujuan yang telah ditentukan tercapai.
b. Evaluasi Hasil (sumatif) 10 Evaluasi yang dilakukan setelah semua aktivitas
proses keperawatan selesai dilakukan. Menggambarkan rekapitulasi dan
kesimpulan dari observasi dan analisis status kesehatan klien sesuai dengan
kerangka waktu yang ditetapkan. Evaluasi sumatif bertujuan menjelaskan
perkembangan kondisi klien dengan menilai dan memonitor apakah tujuan telah
tercapai
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, 2004. Keperawatan Maternitas. Jakarta, EGC
Chapman, Vicky, 2006. Asuhan Kebidanan Persalinan & Kelahiran, Jakarta, EGC
Doenges, M.E. dan Moorhouse, M.F. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi :
Pedoman
untuk Perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien, Edisi II, EGC,
Jakarta.
Hacker Moore. 1999. Esensial Obstetri dan Ginekologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit
Buku
Kedokteran EGC
Hanifa Wikyasastro. 1997. Ilmu Kebidanan, Perawatan Pasien Edisi 3. Jakarta:
Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat PPNI.
Klungkung, 8 Januari 2024
Pembimbing Klinik/ CI
Anak Agung Istri Ngurah Kartika Dewi, A.Md. Keb Nisha Amalia
NIP. 198210132005012010 NIM P07120122121
Clinical Teacher/ CT