PENGARUH SENAM LANSIA DENGAN TEKANAN DARAH
LANSIA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS SORKAM
KABUPATEN TAPANULI TENGAH
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh :
NAMA : Ali Chadra Marbun
NIM. 22011009
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM SARJANA FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AUFA ROYHAN
DI KOTA PADANGSIDIMPUAN
2023
PENGARUH SENAN LANSIA DENGAN TEKANAN DARAH
LANSIA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS SORKAM
KABUPATEN TAPANULI TENGAH
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh :
NAMA : Ali Chadra Marbun
NIM. 22011009
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM SARJANA FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AUFA ROYHAN
DI KOTA PADANGSIDIMPUAN
2023
PENGARUH SENAN LANSIA DENGAN TEKANAN DARAH
LANSIA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS SORKAM
KABUPATEN TAPANULI TENGAH
HALAMAN PENGESAHAN
(Proposal)
Proposal penelitian ini telah disetujui untuk diseminarkan dihadapan tim penguji
Program Keperawatan Program Sarjana Fakultas Kesehatan
Universitas Aufa Royhan di Kota Padangsidimpuan
Padangsidimpuan, 3 Juli 2023
Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping
Ns. Natar Fitri Napitupulu, M.Kep Ns. Mustika Dewi Pane, M.Kep
NIDN. 0111048402 NIDN. 0104089403
IDENTITAS PENULIS
Nama : ALI CANDRA MARBUN
NIM : 22011009
Tempat/Tgl. Lahir : PO.HURLANG, 31 MEI 1982
Jenis Kelamin : LAKI LAKI
Alamat : KEL.PO.HURLANG, KEC.KOLANG, KAB.TAPANULI
TENGAH
Riwayat Pendidikan :
1. SD NEGERI NO.153001 KOLANG 2 Lulus Tahun 1994
2. SMP NEGERI 4 SIBOLGA Lulus Tahun 1997
3. SMA MUHAMMADIYAH 15 SIBOLGA Lulus Tahun 2000
4. D-III Keperawatan AKPER BAS BALIMBINGAN Lulus Tahun 2003
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat dan
rahmat-Nya peneliti dapat menyusun skripsi dengan judul : “Pengaruh senam lansia
terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi Diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam
Kabupaten Tapanuli Tengah”, sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana
keperawatan di Program Studi Ilmu Keperawatan Program Sarjana Fakultas
Kesehatan di Universitas Aufa Royhan di Kota Padangsidimpuan.
Dalam proses penyusunan skripsi ini peneliti banyak mendapat bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti
menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada
yang terhormat :
1. Dr. Anto, SKM, M.Kes, MM selaku Rektor Universitas Aufa Royhan di Kota
Padangsidimpuan
2. Ns. Natar Fitri Napitupulu M.Kep selaku Ketua Program Studi Keperawatan
Program Sarjana Universitas Aufa Royhan di Kota Padangsidimpuan dan selaku
Pembimbing I yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dalam
menyelesaikan skripsi ini
3. Ns. Mustika Dewi Pane M.Kep selaku Pembimbing II yang telah meluangkan
waktu untuk membimbing dalam menyelesaikan skripsi ini
4. Seluruh Dosen Program Studi Keperawatan Program Sarjana Universitas Aufa
Royha di Kota Padangsidimpuan
Akhir kata, saya berharap Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini
masih mempunyai banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam segi isi maupun
penulisan. Oleh sebab itu, segala kritik, saran dan evaluasi sangat penulis harapkan
demi kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dibidang keperawatan.
Padangsidimpuan, Juli 2023
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses penuaan (Aging Proses) dalam perjalanan hidup manusia merupakan
suatu hal yang wajar, dan ini akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur
panjang, hanya cepat lambatnya proses tersebut bergantung pada masing-masing
individu. Secara teori perkembangan manusia yang dimulai dari masa bayi ,anak,
remaja, dewasa, tua dan akhirnya akan masuk pada fase usia lanjut dengan umur
diatas 60 tahun. Pada usia ini terjadilah proses penuaan secara alamiah. Perlu
persiapan untuk menyambut hal tersebut agar nantinya tidak menimbulkan masalah
fisik ,mental, sosial, ekonomi bahkan psikologis (Mujahidullah,2012).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah tekanan sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmhg. Hipertensi merupakan
penyakit mulifaktorial yang muncul oleh karena interaksi berbagai faktor.
Peningkatan umur akan menyebabbkan beberapa perubahan fisiologis, pada usia
lanjut terjadi peningkatan resistensi perifer dan aktivitas simpaik. Tekanan darah akan
meningkat setelah umur 45-55 tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan oleh
adanya penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pemuluh darah akan
berangsur-angsur akan menyempit menjadi kaku (Setiawan, 2014).
Lansia merupakan bagian anggota keluarga dan masyarakat yang semakin
bertambah jumlahnya sejalan dengan peningkatan usia harapan hidup. Jumlah lansia
meningkat diseluruh Indonesia menjadi 35,1 jiwa pada tahun 2010 atau 7,2 % dari
seluruh penduduk dengan usia harapan hidup 64,05 tahun . Tahun 2014 usia harapan
hidup meningkat menjadi 66,2 tahun dan jumlah lansia menjadi 64 juta orang dan
diperkirakan pada tahun 2030 akan menjadi 1,1 miliar atau 13 %. Hal ini
menunjukkan jumlah lansia meningkat secara konsisten dari waktu ke waktu
(Riskesdas, 2015).
Hipertensi digambarkan sebagai kondisi medis disaat tekanan darah terhadap
dinding arteri cukup tinggi sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan masalah
kesehatan. Kebanyakan orang yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi
tidak memiliki tanda-tanda atau gejala, bahkan ternyata setelah dilakukan
pengukuruan tekanan darah, tekanan darahnya telah mencapai tingkat yang
berbahaya. Namun, pada sebagaian orang yang menderita hipertensi terkadang akan
mengeluhkan sakit kepala yang terasa tumpul perdarahan lewat hidung yang semakin
sering atau pusing (Mujahidullah, 2012).
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi merupakan suatu gangguan
pada pembuluh darah sehingga mengakibatkan suplasi oksigen dan nutrisi. Kondisi
ini menyebabkan tekanan darah di arteri meningkat dan jantung harus bekerja lebih
keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hipertensi merupakan penyakit yang
banyak tidak menimbulkan gejala khas sehingga sering tidak terdiagnosis dalam
waktu yang lama. Batas tekanan darah yang normal adalah 140/90 mmHg. Ada
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hipertensi yaitu jenis kelamin, keturunan,
merokok, obesitas, stress, alkohol, kurang olahraga dan usia (Tilong, 2014).
Penyakit darah tinggi atau hipertensi telah membunuh 9,4 juta warga dunia
setiap tahunnya. Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka memperkirakan jumlah
penderita hipertensi akan terus meningkat seiring dengan jumlah penduduk yang
membesar. Pada tahun 2025 mendatang, diperoyeksikan sekitar 29 % warga dunia
terkena hipertensi, (WHO, 2013).
Hampir di setiap negara, hipertensi menduduki peringkat pertama sebagai
penyakit yang paling sering dijumpai. Secara global data WHO menunjukkan, di
seluruh dunia sekitar 1 miliar orang angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi
50% di tahun 2025, dari 1 miliar pengidap hipertensi, 33,3% berada di negara maju
dan 66,7% sisanya berada di negara sedang berkembang, termasuk Indonesia
(Menkes,RI 2012).
Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun, 1,5
juta kematian terjadi di Asia Tenggara yang 1/3 populasinya menderita hipertensi
sehingga dapat menyebabkan peningkatan beban biaya kesehatan. Selain itu
Hipertensi banyak terjadi pada umur 35-44 tahun (6,3%), umur 45-54 tahun (11,9%),
umur 55-64 tahun ( 17, 2%). Sedangkan menurut status ekonomi, proporsi Hipertensi
terbanyak pada tingkat menengah bawah (27,2%) dan menengah (25,9 %),
(Kemenkes RI, 2016).
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2013) menunjukkan bahwa 25,8%
penduduk Indonesia mengidap hipertensi. Di tahun 2016 survey indikator kesehatan
nasional melihat angka tersebut meningkat menjadi 32,4%, (Kemenkes, RI 2016).
Di Jakarta, menunjukkan angka prevalensi hipertensi dengan tekanan darah
160/90 mmHg, masing-masing pada pria adalah 13,6 % (1988), 16,5% (1993), dan
12,1 %(200). Pada wanita, angka prevalensi mencapai 16% 91998), 17% (1993), dan
12,2 % (2000). Secara umum, prevalensi hipertensi pada usia lebih dari 50 tahun
berkisar antara 15%-20%. Survey di Pedesaan Bali menemukan prevalensi pria
sebesar 46,2% dan 53,9 % pada wanita (Depkes RI, 2014).
Pada tahun 2013 penderita hipertensi di provinsi Jawa Timur sebanyak
12,41%. Dari hasil pendataan kecamatan Nganjuk menunjukkan pola penyakit yang
di derita penduduknya saluran nafas 43,75%, hipertensi 21,09%, kulit 10,39%, tukak
lambung 8,36%, otot dan jaringan pengikat 7,90%, lainnya 8,51% (Dinkes Nganjuk,
2015).
Data saat ini memperlihatkan bahwa pola penyakit pada semua golongan
umur telah mulai didominasi oleh penyakit-penyakit degeneratif, terutama penyakit
yang disebabkan oleh kecelakaan, neoplasma, kardiovaskuler dan diabetes mellitus.
Laporan surveilans terpadu penyakit (STP) puskesmas DIY pada tahun 2012 penyakit
hipertensi (29.546 kasus) dan diabetes mellitus (7.434 kasus) masuk dalam urutan
ketiga dan kelima dari distribusi 10 besar penyakit berbasis STP puskesmas. Seiring
dengan peningkatan status ekonomi, perubahan gaya hidup dan efek samping
modernsasi, maka problem penyakit tidak menular cenderung meningkat. Beberapa
penyakit tersebut diantaranya adalah penyakit jantung dan pembuluh darah
(kardiovaskuler), diabetes mellitus, dan kanker ( Profil kesehatan DIY, 2014)
Prevalensi hipertensi di Sumatera Utara sebes ar 91 per 100.000 penduduk
sebesar 8,21 % pada kelompok umur diatas 60 tahun untuk penderita rawat jalan.
Berdasarkan penyakit penyebab kematian paisen rawat inap di Rumah Sakit
Kabupaten/ Kota Propinsi Sumatera Utara, hipertensi menduduki peringkat pertama
dengan proporsi kematian sebesar 27,02 % (1.162 orang), pada kelompok umur > 60
tahun sebesar 20,23 % (1.349 orang) ( Idrus, 2015).
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Tapanuli Tengah tahun 2022
bahwa pasien dengan hipeetensi sebanyak 84.552 kasus dengan usia mulai dari 15
tahun keatas. Sedangkan untuk puskesmas Sorkam pasien hipertensi berjumlah 2.936
kasus dan yang mendapatkan pelayanan Kesehatan sejumlah 74.04 kasus (DIKES
Tapanuli Tengah, 2022).
Hipertensi berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius bahkan
dapat menyebabkan kematian. Pengobatan bagi penderita hipertensi dapat dilakukan
dengan cara medis/farmakologi melalui dokter dan tenaga medis lainnya, serta
dengan cara nonfarmakologi. Obat tekanan darah tinggi tidak menghilangkan
penyakit tapi mengontrolnya. Untuk menyembuhkan atau menurunkan tekanan darah
agar tidak terjadi komplikasi dari hipertensi juga menghindari efek samping dari
terapi farmakologi, maka diberikanlah terapi nonfarmakologi yaitu dengan
melakukan olahraga. Olahraga bisa menurunkan tekanan darah karena latihan itu
dapat merilekskan pembuluh-pembuluh darah sehingga tekanan darah menurun, sama
halnya dengan melebarnya pipa air akan menurunkan tekanan air. Latihan olahraga
juga dapat menyebabkan aktivitas saraf, reseptor hormon, dan produksi hormon-
hormon tertentu menurun (Maryam, 2010).
Penelitian yang telah dilakukan di Jepang memberikan salah satu bukti bahwa
olahraga yang teratur sangat efektif untuk menurunkan tekanan darah. Olahraga pada
lansia harus disesuaikan secara individual untuk tujuan yang khusus dapat diberikan
pada jenis dan intensitas latihan tertentu. Salah satu olahraga yang aman dan dapat
menurunkan perubahan fisik pada lansia adalah senam karena secara tidak langsung
senam dapat meningkatkan fungsi jantung dan menurunkan tekanan darah serta
mengurangi resiko penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah sehingga akan
menjaga elastisitasnya (Maryam, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Margiyati (2013) menunjukkan bahwa senam
yang dilakukan oleh lansia dapat memberi pengaruh pada penurunan tekanan darah
pada lansia penderita hipertensi. Penelitian oleh Sukartini (2013) tentang manfaat
senam terhadap kebugaran lansia juga menunjukkan bahwa senam dapat
mempengaruhi tidak hanya stabilitas nadi, namun juga stabilitas tekanan darah
sistolik dan diastolik, pernafasan dan kadar immunoglobulin. Lama latihan
berlangsung 15 – 60 menit dengan frekuensi latihan 2 – 5 kali seminggu untuk
mendapatkan hasil yang maksimal terbukti melenturkan pembuluh darah (Kardi,
2012).
Hipertensi jika dibiarkan dapat berkembang menjadi gagal jantung kronik,
stroke, serta pengecilan volume otak, sehingga kemampuan fungsi kognitif dan
intelektual seorang penderita hipertensi akan berkurang. Dampak dari hipertensi
dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan kematian mendadak. Hipertensi dapat
dihindari dengan menghindari faktor resiko dan mencegahnya dengan beberapa upaya
yaitu menerapkan pola hidup sehat dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur,
kebutuhan tidur yang cukup, pikiran yang rileks dan santai, menghindari kafein,
rokok, alkohol dan stress kemudian menerapkan pola makan yang sehat dengan
menghindari atau mengurangi makanan yang mengandung lemak tinggi, tinggi kalori,
berminyak, kolestrol,santan, garam berlebihan dan penggunaan kadar gula tinggi
(Tilong, 2014).
Pemerintah Indonesia telah membuat kebijakan kesehatan untuk mencegah
dan mengendalikan NCD (Non-communicable diseases) dengan Permenkes No 30
tahun 2013 tentang pencantuman informasi kandungan gula, garam dan lemak serta
pesan kesehatan untuk pangan olahan dan pangan siap saji guna menekan konsumen
dari penyakit tidak menular dengan multi sektoral yaitu mengurangi faktor risiko
yang dimodifikasi melalui intervensi yang cost-effective, mengembangkan dan
memperkuat kegiatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat untuk meningkatkan
partisipasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian faktor resiko NCD.
Program NCD yang dilakukan seperti promosi kesehatan melalui pos pembinaan
terpadu pada masyarakat yaitu menjelaskan perilaku hidup sehat, pengendalian
terpadu pada faktor risiko NCD melalui dokter keluarga dan puskesmas, rehabilitasi
pada kasus NCD melalui home care, monitoring & controling .
Upaya yang dapat dilakukan penderita hipertensi untuk menurunkan tekanan
darah dapat dilakukan dengan dua jenis yaitu secara farmakologis dan non
farmakologis. Terapi farmakologis dapat dilakukan dengan menggunakan obat anti
hipertensi, sedangkan Terapi non farmakologis dapat dilakukan dengan berbagai
upaya yaitu : mengatasi obesitas denagn menurunkan berat badan berlebih,
Pemberian kalium dalam bentuk makanan dengan konsumsi buah dan sayur,
mengurangi asupan garam dan lemak jenuh, berhenti merokok, mengurangi konsumsi
alkohol, menciptakan keadaan rileks dan latihan fisik (olahraga) secara teratur
(Tilong, 2014).
Jenis latihan fisik (olahraga) yang bisa di lakukan antara lain adalah senam
lansia. Senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terearah serta
terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia dalam bentuk latihan fisik yang
berpengaruh terhadap kemampuan fisik lansia. Aktifitas olahraga ini akan membantu
tubuh agar tetap bugar dan tetap segar karena melatih tulang tetap kuat dan membantu
menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran dalam tubuh (Widiantri dan
Atikah ,2010). Senam dengan frekuensi tiga kali seminggu terbukti melenturkan
pembuluh darah (Depkes RI, 2007). Tujuan dari senam lansia antara lain untuk
meningkatkan daya tahan, kekuatan, koordinasi tubuh, memelihara kesehatan. Selain
itu senam lansia juga dapat menunda perubahan fisiologis yang biasanya terjadi pada
proses penuaan muskuloskletal, penurunan kekuatan dan fleksibilitas, peningkatan
kerentanan terhadap cidera, penurunan kelenturan struktur sendi, serta melindungi
lansia dari jatuh (Tilong, 2014).
Berdasarkan survey awal yang dilakukan oleh peneliti di Puskesmas Sorkam
Kabupaten Tapanuli Tengah jumlah lansia yang berobat ke Puskesmas sebanyak 117
orang. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan oleh penulis, penulis
melakukan wawancara pada 7 orang lansia yang datang ke Puskesmas, dimana 5 dari
7 orang lansia tidak mau mengikuti senam lansia dikarenakan waktunya tidak sempat
dan lansia hanya tau manfaat senam lansia untuk pergerakan otot tidak dengan
manfaat lainnya, sehinga lansia mengabaikan senam lanisa.
Berdasarkan fenomena diatas peneliti tertarik melakukan penelitian dengan
judul “ Gambaran senam lansia dengan tekanan darah pada lansia hipertensi
Diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis membuat rumusan masalah
yaitu “Bagaimana Pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia
hipertensi Diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia
hipertensi Diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengidentifikasi karasteristik responden
2. Untuk mengidentifikasi tekanan darah pada lansia hipertensi sebelum dilakukan
senam lansia Diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah.
3. Untuk menganalisis tekanan darah pada lansia hipertensi setelah dilakukan
senam lansia Diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah.
4. Untuk membandingkan tekanan darah pada lansia hipertensi sebelum dan
sesudah senam lansia.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk menerapkan teori dan ilmu yang telah didapat di bangku
kuliah serta menambah wawasan dan pengalaman tentang Pengaruh senam lansia
terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi Diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam
Kabupaten Tapanuli Tengah.
1.4.2 Bagi Peneliti Lain
Sebagai referensi dalam melaksanakan penelitian lebih lanjut terkait senam
lansia dan tekanan darah pada lansia hipertensi.
1.4.3 Tempat Penelitian
Sebagai bahan masukan dan evaluasi dalam meningkatkan pelayanan
kesehatan mengenai senam lansia pada lansia penderita hipertensi.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Senam Lansia
2.1.2 Pengertian Senam Lansia
Senam Lansia adalah satu bentuk latihan fisik yang memberikan pengaruh
baik terhadap tingkat kemampuan fisik manusia, bila dilaksanakan dengan baik dan
benar. Senam atau latihan fisik sering diidentifikasi sebagai suatu kegiatan yang
meliputi aktifitas fisik yang teratur dalam jangka waktu dan intensitas tertentu. Senam
merupakan bagian dari usaha menjaga kebugaran termasuk kesehatan jantung dan
pembuluh darah, dan sebagai bagian dari program retabilitas bagi mereka yang telah
menderita (Maryam, 2010).
Senam lansia merupakan bagian dari latihan fisik. Latihan fisik adalah segala
upaya yang dilaksanakan untuk meningkatkan kebugaran jasmani dan kondisi fisik
lansia (Surini, 2013).
2.1.3 Tujuan Senam Lansia
Menurut Bandiyah (2009) tujuan senam lansia yaitu ntuk menjaga tubuh
dalam keadaan sehat dan aktif untuk membina dan meningkatkan kesehatan serta
kebugaran kesegaran jasmani dan rokhani.
Adapun tujuan lain senam lansia Tujuan lain yaitu:
1. Memperbaiki pasokan oksigen dan proses metabolisme.
2. Membangun kekuatan dan daya tahan.
3. Menurunkan lemak.
4. Meningkatkan kondisi otot dan sendi.
2.1.4 Manfaat Senam Lansia
Menurut Mujahidullah (2012) manfaat senam lansia yaitu :
1. Sebagai Pencegahan
Pada usia 40 tahun keatas senam sangat baik untuk mengatasi proses-proses
degenerasi tubuh. Setelah umur 40 tahun ternyata olahraga yang bersifat endurance
sangat baik untuk mengatasi proses degenerasi tubuh, sehingga orang akan kelihatan
lebih muda. Kekurangan gerak juga menyebabkan otot dan tulang tidak tumbuh
dengan baik, otot yang lemah akan menyebabkan kelainan posisi badan yang
nantinya akan menjadi kelainan tulang.
2. Sebagai Pengobatan (Kuratif)
Penyakit yang dapat disembuhkan dan dikurangi dengan senam lansia adalah
kelemahan/kelainan sirkulasi darah, DM, kelainan infark jantung, kelainan
insufisiensi koroner, kelainan pembuluh darah tepi, thromboplebitis dan osteoporosis.
3. Sebagai Rehabilisasi
Dengan senam yang baik akan mempengaruhi hal-hal sebagai berikut:
1. Memperkuat degenerasi karena telah mengalami perubahan usia.
2. Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam kehidupan.
3. Fungsi melindungi yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam bertambahnya
tuntutan (sakit)
2.1.5 Prinsip-Prinsip Olahraga Pada Lansia
Menurut Mujahidullah (2012) prinsip-prinsip olah raga pada lansia
1. Komponen kesegaran jasmani yang esensial dilatih adalah :
1) Ketahanan kardio-pulmonal.
2) Kelenturan (fleksibilitas)
3) Kekuatan otot
4) Komposisi tubuh (lemak tubuh jangan berlebihan).
2. Selalu memperhatikan keselamatan.
3. Latihan teratur dan tidak terlalu berat
4. Permainan dalam bentuk ringan sangat dianjurkan.
5. Latihan dilakukan dengan dosis berjenjang.
6. Hindari kompetisi-kompetisi.
7. Perhatikan kontra indikasi latihan:
1) Adanya penyakit infeksi.
2) Hypertensi sistolik lebih dari 180 mmhg dan 120 mmhg diastolic.
3) Berpenyakit berat dan dilarang dokter.
Latihan fisik untuk usia lanjut diarahkan pada beberapa tujuan yaitu :
1. Membantu tubuh agar tetap dapat bergerak.
2. Secara lambat laun menaikkan kemampuan fisik.
3. Memberi kontak psikologis lebih luas agar tidak terisolir dari rangsang.
4. Mencegah cedera.
Oleh karena itu sesuai perubahan-perubahan fisik yang ada lebih diarahkan pada:
1. Perbaikan kekuatan otot
2. Perbaikan stamina (aerobic capacity).
3. Perbaikan fleksibilitas.
4. Perbaikan komposisi tubuh yang rasional ditambah dengan mempertahankan
postur yg baik.
2.2 Tekanan Darah
2.2.1 Pengertian Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan hasil curah jatung dan resistensi vaskular, sehingga
tekana darah meningkat jika curah jantung meningkat, resistensi vaskular perifer
bertambah, atau keduanya. Tekanan darah adalah tekanan yang digunakan untuk
mengedarkan darah di pembuluh darah dalam tubuh. Jantung berperan sebagai pompa
otot menyuplai tekanan tersebut untuk menggerakkan darah dan juga mengedarkan
darah di seluruh tubuh. Pembuluh darah arteri memiliki dinding-dinding yang elastis
dan menyediakan resistensi yang sama terhadap aliran darah. Oleh karena itu, ada
tekanan dalam sistem peredaran darah, bahkan detak jantung (Gardner, 2012).
Tekanan darah merupakan daya yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap
satuan luas dinding pembuluh. Tekanan darah hampir selalu dinyatakan dalam
milimeter air raksa (mmHg) karena manometer air raksa merupakan rujukan baku
untuk pengukuran tekanan darah (Gayton, 2013).
Dua penentu utama tekanan darah arteri rata-rata adalah curah jantung dan
resistensi perifer total. Curah jatung merupakan volume darah yang dipompa oleh tiap
ventrikel per menit dan dipengaruhi oleh volume sekuncup (volume darah yang
dipompa oleh setiap ventrikel per detik ) dan frekuensi jantung. Resistensi merupakan
ukuran hambatan terhadap aliran darah melalui suatu pembuluh yang ditimbulkan
oleh friksi antara cairan yang mengalir dan dinding pembuluh darah yang stationer.
Resistensi bergantung pada tiga faktor yaitu, viskositas (kekentalan) darah, panjang
pembuluh, dan jari-jari pembuluh. Tekanan arteri rata-rata secara konstan dipantau
oleh baroreseptor yang diperantarai secara otonom dan mempengaruhi jantung serta
pembuluh darah untuk menyesuaikan curah jantung dan resistensi perifer total
sebagai usaha memulihkan tekanan darah ke normal. Reseptor terpenting yang
berperan dalam pengaturan terus-menerus yaitu sinus karotikus dan baroreseptor
lengkung aorta (Sherwood, 2009).
2.2.2 Pengukuran Tekanan Darah
Kenaikan tekanan darah sering merupakan satu-satunya tanda klinis hipertensi
esensial sehingga diperlukan tekanan darah yang akurat. Berbagai faktor dapat
mempengaruhi hasil pengukuran seperti faktor pasien, faktor alat, maupun tempat
pengukuran. Pada seseorang yang baru bangun tidur, akan didapatkan tekanan darah
paling rendah yang dinamakan tekanan darah basal.
Tekanan darah yang diukur setelah berjalan kaki atau aktivitas fisik lain, akan
memberi angka yang lebih tinggi dan disebut tekanan darah kausal. Oleh karena itu,
pengukuran tekanan darah sebaiknya dilakukan pada pasien istirahat yang cukup,
yaitu sesudah berbaring paling sedikit 5 menit. Menurut Joint National Committeon
Prevention, detection, Evaluation, and Treatment Of High Blood Pressure (2006)
juga menyebutkan bahwa pengukuran tekanan darah dianjurkan pada posisi duduk
setelah beristirahat selama 5 menit dan 30 menit bebas rokok atau minuman kopi.
Ukuran manset harus cocok dengan ukuran lengan atas. Manset harus melingkar
paling sedikit 80% lengan atas dan lebar manset paling sedikit 2/3 kali panjang
lengan atas. Sedangkan alat ukur yang dipakai adalah Sphygmomanometer air raksa.
Menurut Gray dkk (2006) tekanan darah sangat bervariasi tergantung pada keadaan,
akan meningkat saat aktivitas fisik, emosi, dan stress, dan turun selama tidur. Oleh
sebab itu, diagnosis hipertensi dapat ditetapkan dengan pengukuran berulangpaling
tidak pada tiga kesempatan yang berbeda selama 4-6 minggu. 16 banyak alat yang
dapat digunakan untuk pengukuran tekanan darah baik tensimeter digital, tensimeter
pegas maupun tensimeter air raksa.
Tekanan darah seseorang dapat diukur menggunakan alat yang dinamakan
tensimeter air raksa (Sigmomaometer air raksa), alat tensimeter ini terdiri dari
beberapa komponen utama, yaitu:
a. Manset (Cuff) dari karet, yang dibungkus kain.
b. Manometer air raksa berskala 0 mmHg -30 mmHg.
c. Pompa karet
d. Pipa karet atau selang.
e. Ventil bundar.
Pengukuran tekanan darah dilakukan dengan memasang manset pada lengan
atas, kira-kira 4 cm di atas lipatan siku. Jari tangan diletakkan di lipatan siku untuk
meraba denyut pembuluh nadi, pompa karet ditekan dengan tangan kanan agar udara
masuk ke dalam, sampai denyut pembuluh tidak teraba lagi. Kemudian, stetoskop
dipasang dilipatan siku sambil ventil putar dibuka sedikit secara perlahan untuk
menurunkan tekanan udara dalam manset. Dengan memperhatikan turunnya air raksa
pada silinder petunjuk tekan manometer (yang menunjukkan tekanan dalam manset),
telinga mendengarkan bunyi denyut nadi dengan bantuan stetoskop. Pada saat
tekanan udara dalam manset naik sampai nilai tekanan lebih dari tekanan rendah,
maka suara denyut pembuluh nadi menghilang.
2.2.3 Pengaturan Sirkulasi Secara Hormonal
Pengaturan sirkulasi secara hormonal merupakan pengaturan oleh zat-zat yang
disekresi atau diabsorbsi ke dalam cairan tubuh seperti hormon dan ion. Beberapa zat
diproduksi oleh kelenjar khusus dan dibawa di dalam darah ke seluruh tubuh. Zat
lainnya dibentuk di daerah jaringan setempat dan hanya menimbulkan pengaruh
sirkulasi setempat.
Menurut Guyton (2013), faktor-faktor humoral terpenting yang
mempengaruhi fungsi sirkulasi adalah sebagai berikut :
a. Norepinefrin dan Epinefrin
Norepinefrin merupakan hormon vasoknstriktor yang amat kuat sedangkan
epinefrin tidak begitu kuat. Ketika sistem saraf simpatis distimulus selama terjadi
stres maka ujung saraf simpatis pada masing-masing jaringan akan melepaskan
norepinefrin yang menstimulus jantung dan mengkonstriksi vena serta arteriol. Selain
itu, sistem saraf simpatis pada medula adrenal juga dapat menyebabkan kelenjar ini
mensekresikan norepinefrin dan epinefrin di dalam darah. Hormon tersebut
bersirkulasi ke seluruh tubuh yang menyebabkan stimulus yang hampir sama dengan
stimulus simpatis langsung terhadap sirkulasi dengan efek tidak langsung.
b. Angiotensin II
Pengaruh angiotensin II adalah untuk mengkonstriksi arteri kecil dengan kuat.
Angiotensin II dihasilkan dari aktivasi angiotensinogen yang dihasilkan oleh hepar
dan berada di plasma. Jika terjadi stimulasi pengeluaran renin, suatu protein yang
dihasilkan oleh sel jukstaglomerular pada ginjal, angiotensinogen yang berada di
plasma akan diubah menjadi angiotensin I. Kemudian, angiotensin I diubah oleh
Aldosteron converting Enzyme (ACE) menjadi agiotensin II. Angiotensin II secara
normal bekerja secara bersamaan pada banyak arteriol tubuh untuk meningkatkan
resistensi perifer total yang akan meningkatkan tekanan arteri. Selain itu, angiotensin
II merangsang korteks adrenal melepaskan aldosteron, suatu hormon yang
menyebabkan retensi natrium pada tubulus distal dan tubulus kolektivus yang akan
menyebabkan peningkatan osmolalitas sehingga terjadi absorbsi H20 yang akan
meningkatkan volume cairan ekstraselluler (CES). Hal tersebut akan meningkatkan
curah jantung dan menyebabkan peningkatan tekanan darah.
c. Vasopressin
Disebut juga dengan hormon antiduretik yang dibentuk di nukleus supraoptik
pada hipotalamus otak yang kemudian diangkut ke bawah melalui akson saraf ke
hipofisis posterior tempat zat tersebut berada yang akhirnya di sekresi ke dalam
darah. Zat ini merupakan vasokonstriktor yang kurang kuat dibandingkan angiotensin
II. Vasopressin memiliki fungsi utama meningkatkan reabsorpsi air di tubulus distal
dan tubulus kolektivus renal untuk kemabli ke dalam darah yang akan membatu
mangatur volume cairan tubuh. Jika vasopressin meningkat karena suatu hal, maka
terjadi peningkatan reabsorpsi H20 yang akan menyebabkan peningkatan volume
plasma yang akan meningkatkan curah jantung sehingga tekanan darah meningkat.
2.2.4 Pengaturan Sirkulasi Oleh Saraf
Sistem saraf yang mengatur sirkulasi diatur oleh sistem saraf otonom yaitu
sistem saraf simpatus dan sistem saraf parasimpatis. Serabut-serabut saraf vasomotor
simpatis meninggalkan medula spinalis melalui semua saraf spinal thoraks satu atau
dua saraf spinal lumbal pertama (T1-L3) yang kemudian masuk ke dalam rantai
spinalis yang berada di tiap sisi korpus vertebra. Serabut ini menuju sirkulasi melalui
dua jalan, yaitu melalui saraf simpatis spesifik yang mempersarafi pembuluh darah
organ visera interna dan jantung dan serabuit saraf lainnya mempersarafi pembuluh
darah perifer. Inervasi arteri kecil dan arteriol menyebabkan rangsangan simpatis
untuk meningkatkan tahanan aliran darah yang akan menurunkan laju aliran darah
yang melalui jaringan. Sedangkan inervasi pembuluh darah besar, terutama vena,
memungkinkan rangsangan simpatis untuk menurunkan volume pembuluh darah. Hal
ini dapat mendorong darah masuk ke jantung dan dengan demikian berperan penting
dalam pengaturan pompa jatung. Inervasi serabut saraf simpatis juga mempersarafi
jantung secara langsung yang jika terangsang akan meningkatkan aktivitas jantung,
meningkatkan frekuensi jantung dan menambah kekuatan serta volume pompa
jantung (Guyton, 2013).
2.2.5 Klasifikasi tekanan darah
Klasifikasi Tekanan Sitolik (mmHg) Tekanan Diastolik (mmHg)
Hipotensi < 90 < 60
Normal 90 - 120 dan 60 – 80
Pre Hipertensi 120-139 atau 80–89
Hipertensi 140 – 160 90– 100
Klasifikasi Tekanan Darah Menurut JNC VIII Sumber : National Heart, Lung and
Blood Institute (NHLBI, 2013).
Berdasarkan tabel klasifikasi tekanan darah diatas, tekanan darah yang
normal adalah berkisar antara 90mmHg sampai 120 mmHg untuk tekanan sistolik
sedangkan untuk tekanan diastolik adalah sekitar 60mmHg sampai 80mmHg.
Tekanan darah dibawah 90/60mmHg dikategorikan sebagai Hipotensi atau tekanan
darah rendah, sedangkan diatas 140/90mmHg sudah dikategorikan sebagai tekanan
darah tinggi atau Hipertensi.
2.3 Lansia
2.3.1 Pengertian Lansia
Menurut UU No.13 tahun 1998 dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang
yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas (Maryam, 2010).
Lansia adalah sebutan bagi mereka yang telah memasuki usia 60 tahun ke
atas. Undang – undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun1998 tentang
kesejahteraan usia lanjut Bab 1 Pasal 1, yang dimaksud dengan lanjut usia adalah
seseorang yang telah mencapai usia 60 (enam puluh) tahu ke atas (Indriana, 2012).
Lansia merupakan suatu kelompok penduduk yang cukup rentan terhadap
masalah baik masalah ekonomi, sosial, budaya, kesehatan maupun psikologis yang
enyebabkan lansia menjadi kurang mandiri dan tidak sedikit lansia yang
membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktifitas aehari – hari
(Mujahidullah, 2012).
2.3.2 Proses Menua (Anging Proses)
Aging proses (proses penuaan) dalam perjalanan hidup manusia merupakan
suatu hal yang wajar, dan ini akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur
panjang, hanya cepat lambatnya proses tersebut bergantung pada masing-masing
individu. Secara teori perkembangan manusia yang dimulai dari masa bayi ,anak,
remaja, dewasa, tua dan akhirnya akan masuk pada fase usia lanjut dengan umur
diatas 60 tahun. Pada usia ini terjadilah proses penuaan secara alamiah. Perlu
persiapan untuk menyambut hal tersebut agar nantinya tidak menimbulkan masalah
fisik ,mental, sosial, ekonomi bahkan psikologis (Mujahidullah,2012)
Pada usia lansia ini biasanya seseorang akan mengalami kehilangan jaringan
otot, susunan syaraf, dan proses menua dapat menimbulkan berbagai masalah sosial
ekonomi, mental fisik-biologik. Dari aspek fisik-biologik terjadi perubahan pada
beberapa sistem, seperti sistim organ dalam, dan sistim syaraf yang tidak dapat
diganti karena rusak atau mati. Ditambahkan, terutama sel otak yang berkurang 10-
20% dalam setiap harinya dan sel ginjal yang tidak bisa membelah, sehingga tidak
ada regenerasi sel. (Mujahidullah, 2012).
2.2.6 Batasan Usia Lanjut
Menurut Mujahidullah (2012) batasan usia lanjut yaitu:
1. Usia pertengahan (middle age) kelompokusia 45 – 59 tahun.
2. Usia lanjut (elderly) antara 60 – 70 tahun
3. Usia lanjut tua (old) antara 75 – 90 tahun
4. Usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
2.2.7 Teori lansia
2.2.7.1 Teori biologis lansia
Teori ini lebih menekankan pada perubahan kondisi tingkat struktural sel /
organ tubuh, termauk di dalamnya adalah pengaruh agen patologis. Fokus dari teori
ini adalah mencari determinan-determinan yang menghambat proses penurunan
fungsi organisme yang dalam konteks sistemik dapat mempengaruhi / memberikan
dampak terhadap organ / system tubuh lainnya dan berkembang sesuai dengan
peningkatan usia kronologis (Mujahidullah, 2012).
2.2.7.2 Teori radikal bebas
Teori radikal bebas mengasumsikan bahwa proses menua terjadi akibat
kekurang efektipan fungsi kerja tubuh dan hal itu dipengaruhi oleh adanya berbagai
radikal bebas dalam tubuh. Secara normal radikal bebas ada pada setiap individu dan
dapat digunakan memprediksi umur kronologis individu (Mujahidullah, 2012).
2.3.4.3 Teori Imunitas
Ketuaan disebabkan oleh adanya penurunan fungsi sistem imun. Perubahan
yang terjadi meliputi penurunan sistem immune humoral, yang dapat menjadi faktor
predisposisi pada orang tua untuk menurunkan resitansi melawan pertumbuhan tumor
dan perkembangan kanker, menurunkan kemampuan untuk mengadakan inisiasi
proses dan secara agresif memobilisasi pertahanan tubuh terhadap pathogen dan
meningkatkan produksi auto antigen, yang berdampak pada semakin meningkatnya
resiko terjadinya penyakit yang berhubungan dengan auto imun (Mujahidullah,
2012).
2.3.4.4 Teori ikatan silang
Proses menua terjadi sebagai akibat adanya ikatan – ikatan dalam kimiawi
tubuh. Teori ini menyebutkan bahwa secara normal, struktur molekular dari sel
berikatan secara bersama-sama membentuk reaksi kimia. Termasuk di dalamnya
adalah kolagen yang merupakan rantai molekul yang relative panjang yang dihasilkan
oleh fibroblast. Dengan terbentuknya ikatan silang kimiawi. Hasil akhir dari proses
ikatan silang ini adalah peningkatan densitas kolagen dan penurunan kapasitas untuk
transport nutrient serta untuk membuang produk-produk sisa metabolisme dari sel.
Zat ikatan silang ditemukan pada lemak tidak jenuh, Ions Polyvalen seperti
Alumunium, Seng dan Magnesium (Mujahidullah, 2012).
2.2.8 Faktor – faktor yang mempengaruhi ketuaan
Menurut Bandiyah (2009) faktor-faktor yang mempengaruhi ketuaan yaitu:
1. Hereditas
2. Nutrisi
3. Status Kesehatan
4. Pengalaman Hidup
5. Lingkungan
6. Stres
2.2.9 Perubahan – perubahan yang terjadi pada lansia
Seseorang yang sudah mengalami lanjut usia akan mengalami beberapa
perubahan-perubahan pada tubuh / fisik, psikis / intelektual, sosial kemasyarakatan
maupun secara spiritual / keyakinan / agama (Bandiyah, 2009).
2.2.9.1 Perubahan- Perubahan Fisik
Menurut Bandiyah (2009) Perubahan-perubahan fisik pada lansia yaitu:
1. Sel
a. Lebih sedikit jumlahnya
b. Lebih besar ukurannya
c. Jumlah sel otak menurun
2. Sistem Persyarafan
a. Mengecilnya saraf panca indra
b. Cepat menurunnya hubungan persyarafan
c. Berkurangnya sensitife terhadap sentuhan
d. Sistem Kardiovaskular
e. Elastis, dinding aorta menurun
f. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
g. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun.
h. Tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi air
pembuluh darah perifer.
2.3 Hipertensi
2.4.1 Pengertian Hipertensi
Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit kelainan jantung dan pembuluh
darah yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah. Menurut American Society
Of Hypertension (ASH), pengertian hipertensi adalah suatu sindrom atau kumpulan
gejala kardiovaskuler yang progresif, sebagai akibat dari kondisi lain yang kompleks
dan saling berhubungan (Mujahidullah, 2012).
Hipertensi adalah kondisi seseorang yang mengalami peningkatan tekanan
darah secara kronis (jangkan waktu lama) melebihi 140/90 mmHg (Maryam dkk,
2010).
2.4.2 Gejala Hipertensi
Menurut Maryam (2010), gejala yang dirasakan penderita hipertensi
yaitu :
1. Sakit kepala
2. Pusing
3. Perdarahan dari hidung
4. Wajah kemerahan dan kelelahan
Jika tekanan darahnya berat atau menahun dan tidak diobati, dapat timbul
gejala sebagai berikut yaitu :
1. Sakit kepala
2. Kelelahan
3. Mual
4. Muntah
5. Sesak nafas
6. Gelisah
7. Pandangan kabur
2.4.3 Etiologi Hipertensi
Menurut Maryam (2010) Etiologi Hipertensi yaitu
1. Pola Konsumsi
Konsumsi tinggi natrium (Na) terutama yag berasal dari garam (NaCl)
diketahui menjadi salah satu penyebab hipertensi. Selain itu, natrium juga terdapat
dalam penyedap makanan (MSG, monosodium glutamate) dan soda kue (NaHCO3,
natrium bikarbonat)
2. Kelainan Ginjal
Adanya kelainan atau kerusakan pada ginjal dapat menyebabkan gangguan
pengaturan tekanan darah melalui produksi renin oleh sel juxtaglomerular ginjal.
Renin merupakan enzim yang berperan dalam lintasan metabolisme sistem RAA
(Renin Angiotensin Aldosteron). Rein penting untuk mengendalikan tekanan darah,
mengatur volume eltraseluler plasma darah dan vasokonstriksi arteri.
Selain itu, ginjal juga mensekresi hormon antidiuretik dan aldosteron. ADH
dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis posterior di otak melalui stimuli terhadap sel-sel
collecting dat dan distal convoluted tubule ginjal sehingga terjadi peningkatan
reabsorbsi air dan penurunan volume urin. Sekresi hormone ini dikendalikan oleh
peningkatan osmolaritas plasma darah, berkurangnya volume darah dan penurunan
tekana darah
3. Penuaan
Insidens hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Hampir
setiap orang mengalami peningkatan tekanan darah pada usia lanjut. Tekanan sistolik
biasanya terus meningkat seumur hidup dan tekanan diastolik meningkat sampai usia
50-60 tahun kemudian menurun secara perlahan. Hal ini terkait dengan salah satu
perubahan yang terjadi karena proses penuaan yaitu berkurangnya kecepatan aliran
darah dalam tubuh. Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah arteri
menjadi kaku dan menurun elastisitasnya sehingga terjadi peningkatan resistensi
pembuluh darah yag menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk memompa
darah. Akibatnya, terjadi peningkatan darah sistolik.
4. Obesitas
Pada sebagian besar penderita, peningkatan berat badan yang berlebihan dan
daya hidup sedenter memiliki peran utama dalam menyebabkan hipertensi. Suatu
peneliti dari Franmingham Heart Study menunjukkan bahwa, 78% hipertensi yang
terjadi pada laki-laki dan 65% pada wanita yang diakibatkan secara langsung oleh
kegemukan atau obesitas
5. Kualitas Tidur Buruk
Kualitas tidur yang buruk dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas simpatis
dan peningkatan rata-rata tekanan darah dan heart rate selama 24 jam. Dengan cara
ini, kebiasaan pembatasan tidur yang mengakibatkan gangguan tidur, dapat
menyebabkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatik yang berkepanjangan
2.4.4 Bahaya Tekanan Darah Tinggi
Menurut Maryam (2010) bahaya tekanan darah tinggi yaitu :
1. Penyakit jantung
2. Serangan otak/stroke
3. Gangguan gerak dan keseimbangan
4. Kerusakan ginjal
5. Kematian
2.4. Perawatan Hipertensi
Menurut Maryam dkk (2010) perawatan penderita hipertensi atau darah tinggi
yaitu :
1. Kurangi berat badan bila kelebihan berat badan (capai berat badan ideal).
2. Hindari merokok, minum kopi, minum alcohol
3. Kurangi konsumsi garam sesuai dengan tingkatan berat ringannya tekanan darah.
4. Senam secara teratur, minimal 3 kali seminggu
5. Hindari stress dan lakukan relaksasi autogenic
6. Dekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
7. Apabila mendapat obat medi, minumlah sesuai aturan
8. Konsumsi obat herbal tradisional
2.5 Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah suatu uraian visualisasi hubungan atau kaitan antara
konsep satu terhadap konsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan
variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti (Notoadmodjo, 2012)
Berdasarkan penjelasan di atas kerangka konsep penelitian tentang pengaruh
senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia hipertensi diwilayah Kerja
Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah.
Variabel Independent Variabel Dependen
Tekanan Darah Sebelum Senam Lansia Tekanan Darah Sesudah
Senam (Pretest) Senam (Postets)
2.5 Hipotesis Penelitian
Hipotesa adalah jawaban sementara dari suatu penelitian. Hasil suatu
penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban atas pernyataan penelitian yang
telah dirumuskan. Jadi hipotesis penelitian, patokan, dugaan atau dalil sementara,
yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. Setelah melalui
pembuktian dari hasil penelitian, maka hipotesis ini dapat benar atau salah dapat
diterima atau di tolak, (Notoatmodjo, 2012).
1. Hipotesis Ha : Ada pengaruh antara senam lansia terhadap tekanan darah pada
lansia hipertensi di diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli
Tengah.
2. Hipotesis Ho: Tidak ada pengaruh antara senam lansia terhadap tekanan darah
pada lansia hipertensi di diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten
Tapanuli Tengah.
BAB 2
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis danDesain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kuantitatif
Quasy Eksperimen, yaitu memberikan perlakuan atau intervensi pada subjek
penelitian, kemudian efek perlakuan tersebut dianalisis.
Adapun desain eksperimen yang digunakan adalah The Pretest – Posttest
design tanpa group control, yaitu desain eksperimen yang dilakukan dengan pretest
sebelum dilakukan perlakuan dan posttest setelah diberikan perlakuan, dan untuk
mengetahui pengaruh senam lansia terhadap tekanan pada lansia hipertensi diwilayah
Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli Tengah.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten
Tapanuli Tengah, alasan penulis memlih tempat ini karna masih banyak lagi lansia
yang tidak tahu manfaat ataupun pengaruh senam lansia dan sebelumnya juga di
Puskesmas ini belum pernah dilakukan peneliian tentang Pengaruh senam lansia
terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi.
3.2.2 Waktu penelitian
Waktu penelitian akan dimulai dari bulan Juli 2023 sampai dengan selesai.
Berikut adalah tabel mengenai jadwal penelitian.
Tabel 3.1 Rencana jadwal penelitian
Waktu Kegiatan
Kegiatan Juli Agus Sep Oct Nov Des Jan
Pengajuan Judul
Perumusan Masalah
Penyusunan Proposal
Seminar Proposal
Penelitian Dan
Pengolahan Data
Penyusunan hasil
Seminar akhir
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti merupakan kumpulan elemen
yang mempunyai ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu dari sampel diambil (Arikunto,
2008). Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang berkunjung ke
Puskesmas dengan hipertensi di di diwilayah Kerja Puskesmas Sorkam Kabupaten
Tapanuli Tengah sebanyak 117 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari anggota populasi untuk diteliti dan
dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Jika populasi lebih 100
orang maka pengambilan sampel boleh 10%-15% atau 20%-25% dari jumlah
populasi. Karena populasi lebih dari 100 orang maka peneliti mengambil 15% dari
jumlah populasi yaitu 15% dari 117. Dari keseluruhan populasi dijadikan sampel
maka jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 18 orang . Dimana penulis akan
melakukan senam pada lansia dan lansia di cek tensinya sebelum dan sesudah senam.
3.4 Defenisi Operasional
Defenisi operasional adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud,
atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan. Defenisi operasional
sangat penting atau diperlukan untuk pengukuran variabel dan pengumpulan data
antara sumber data (responden) yang satu dengan responden yang lainnya
(Notoadmodjo, 2010).
Defenisi operasional ditentukan berdasarkan parameter yang dijadikan ukuran
dalam penelitian ini. Sedangkan cara pengukuran merupakan cara dimana variabel,
skala pengukuran dan defenisi operasional penelitian dalam bentuk table seperti di
bawah ini.
Alat Skala
No Variabel Defenisi operasional Hasil ukur
ukur ukur
1. Senam Suatu kegiatan yang CD, - -
Lansia dilakukan seseorang Laptop
untuk menjaga fisik
tubuhnya ataupun
kesehatannya agar
tubuhnya tetap bugar.
2. Tekanan Tekanan yang Sphyg Klasifikasi tekanan
darah dihasilkan oleh moman darah
pada pembuluh darah ometer
lansia arteri yang dipompa 1. Hipotensi
<90/<60
oleh jantung. 2. Normal 90-120/
60-80
3. Pre Hipertensi
120-139/ 80-89
4. Hipertensi 140-
160/ 90-100
3.5 Etika penelitian
Dalam melakukan penelitian, peneliti harus memperhatikan masalah etika
peneliti yang meliputi:
1. Lembar persetujuan responden (Informed Concent)
Lembar persetujan diberikan kepada responden yang diteliti. Peneliti akan
menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan, serta
dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengumpulan data,bila subjek
menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-hak
responden.
2. Kerahasiaan nama(Anonymity)
Dalam menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama
responden pada lembar pengumpulan data, cukup dengan member kode masing-
masing lembar tersebut.
3. Kerahasiaan (Confidentiality)
Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data
tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai hasil riset sesuai dengan
tujuan peneliti.
3.6 Pengumpulan Data
Menurut Notoadmodjo (2010) cara pengumpulan data adalah sbagai berikut:
1. Lembar Observasi
Observasi salah satu alat yang digunakan untuk mengukur proses dan tingkah
laku individu dalam sebuah kegiatan yang bisa diamati. Dapat disimpulkan
bahwa observasi mampu mengukur dan menilai hasil dari sebuah proses.
2. Pengukuran
Pada saat penelitian ini, peneliti melakukan pengukuran tekanan darah dengan
sphygmomanometer kompas, untuk mengetahui tekanan darah pada lansia
sebelum dan sesudah senam.
3.1 Prosedur Pengumpulan Data
Penelitian akan dilakukan peneliti setelah mendapat persetujuan dari program
studi ilmu keperawatan program sarjana fakultas Kesehatan universitas Aufa Royhan
Di Kota Padangsidimpuan dan izin dari Puskesmas Sorkam Kabupaten Tapanuli
Tengah. Ada beberapa hal yang berkaitan dengan permasalahan etika yaitu
memberikan penjelasaan kepada calon responden penelitian tentang tujuan, manfaat
dan prosedur pelaksanaan penelitian. Penelitian akan membuat surat persetujuan
penelitian (informed sonsent), yaitu persetujuan untuk menjadi responden, dan
ditanda tangani oleh responden.
Setelah responden menandatangani formulir persetujuan, barulah peneliti
melakukan pengukuran tekanan darah. Setelah responden diketahui tekanan darah
kemudian dilakukan senam lansia dan selanjutnya akan dilakukan pengukuran
tekanan darah setelah selesai melaksanakan senam lansia dan ditulis kedalam lembar
observasi. Selanjutnya peneliti akan melanjutkan untuk mengolah data.
3.7 Pengolahan Data
Menurut Notoatmodjo (2012) Data yang telah terkumpul dengan cara manual
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Editing (Penyutingan Data)
Hasil wawancara atau angket yang akan diperoleh atau dikumpulkan melalui
lembar observasi perlu di sunting terlebih dahulu. Dimana jumlah responden
sebanyak 18 orang dan senam dilakukan satu kali seminggu dan cara pengukurannya
peneliti menensi responden sebelum dan sesudah melaksanakan senam lansia.
2. Membuat lembaran kode atau kartu kode (Coding Sheet)
Adalah instrumen berupa kolom-kolom untuk merekam data secara manual
3. Memasukkan data (Data Entry)
Yakni mengisi kolom-kolom atau kontak-kontak lembar kode atau kartu kode
sesuai dengan jawaban masing-masing pertanyaan.
4. Tabulasi
Yakni membut tabel-tabel data, sesuai dengan tujuan penelitian atau yang
diinginkan oleh peneliti.
3.8 Teknik analisa Data
Analisa data dilakukan secara analitik dengan melihat persentase data yang
disajikan dalam table distribusi. Kemudian dilakukan pembahasan terhadap hasil
penelitian dengan menggunakan teori kepustakaan yang ada.
a. Analisa univariat
Analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi variabel
independen dan dependen. Variabel tersebut diantranya pengaruh senam lansia
sedangkan variabel dependen yaitu tekanan darah pada lansia
b. Analisis bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh antara variabel
independen dan dependen yaitu pengaruh senam lansia dengan tekanan darah pada
lansia.Teknik analisis yang dilakukan dengan analsisi Uji Paired T-Test
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi (2008). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta :
Rineka Cipta
Armiatin, (2013), Hidup sehat diusia lanjut, menghindari berbagai penyakit
Bandiyah, Siti (2009), Lanjut Usia dan Keperawatan Gerontik, Yogyakarta : Nuha
Medika.
Dinkes Tapanuli Tengah (2022), Jumlah Penderita Hipertensi Dinas Kesehatan Tapanuli
Tengah Tahun 2022.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2014). InaSH Menyokong Penuh
Penanggulangan Hipertensi. Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal
Departemen Kesehatan
Depkes RI (2007), data Indofatin
Dinkes Nganjuk (2015), Hubungan pengetahuan lansia tentang tingkat kecemasan
lansia penderita hipertensi
http://digilib.stikessatriabaktinganjuk.ac.id/files/disk1-1410-1pdf
Dody, (2011). Pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada lansia
hipertensi di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Luhur :Kota Jambi
Gayton A.C And J.E Hall (2013), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisis 9 Jakarta ;EGC
Ganong. William. F. (2011), Perilaku Kedokteran, Perilaku Siaga, Tidur dan Aktivitas
Listrik Otak. Jakarta : EGC
Gardner, (2012). Menurunkan Tekanan Darah, Jakarta : PT. Bhuana IlmuPopuler
Istifa, (2011). Pengaruh senam tai chi terhadap tekanan darah wanita berusia 50
tahun keatas
Idrus, (2015) Prevalensi penderia Hipertensi di Sumatera Utara.Indofatin SumutIndriana,
(2012). Keperawatan Lanjut Usia, Jakara : Graha Ilmu
Kemenkes RI. (2016) Indopatin Hipertensi di akses
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
Hipertensi.pdf
Kemenkes RI. (2012) Indopatin Hipertensi di akses
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
Hipertensi.pdf
Kardi, (2012). Hubungan pengetahuan lansia terhadap manfaat senam lansia
http://digiligstikeskusuma.ac.id.ali-kardi/files/disk-gdl-1521-3pdf
Kemenkes RI. (2012) Indopatin Hipertensi di akses
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
Hipertensi.pdf
Mujahidullah, Kahlid. (2012). Keperawatan Geriatrik Merawat Lansia dengan Cinta Kasih
Sayang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Maryam, Siti, (2010), Keperawatan Geriatrik Merawat Lansia dengan Cinta dan Kasih
Sayang, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Clinik Staf Mayo, (2012) Menuju lansia yang sehat terhindar penyakit data dari clinik
mayo :Surabaya
Muhammad, Najamuddin. (2010). Tanya Jawab Kesehatan Kesehatan Untuk Lansia,
Jogjakarta: Tunas Publshing.
Muchtardi (2012). Editor, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Cetakan Kedua, Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI : Jakarta
Maryam, Siti, (2010), Keperawatan Geriatrik Merawat Lansia dengan Cinta dan Kasih
Sayang, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Notoatmodjo, (2012) Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka
Cipta
NHLBI, (2013)
Williams, Palmer (2011) Penelitian manfaat bagi tubuh lansia
Profil Kesehatan DIY (2014) Jumlah penderita hipertensi di Indonesia semakin meningkat.
http://www.depkes.go.id/resources/download/jumlah- hipertensi-meningkat-1034-1-13pdf
Riskesdas (2015), Jumlah lansia di dunia
.http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/dapat/jumlah-
lansia.pdf
Suadirman (2004). Panduan Praktek Perawatan: Lansia. Jakarta: Citra Aji
Sherwood. (2009) , Pemahaman Dokter Indonesia Mengenai Hipertensi dan
Permasalahan pada Praktik Sehari-hari
Sutanto, (2013) Upaya Pencegahan Stroke : Berbagai Faktor Yang Dapat
ditanggulangi
Surini, (2013), Program olahraga tekanan darah tinggi. PT Intan Sejati :Kelaten
Sigalinggang, (2012). Hipertensi: Tekanan Darah Tinggi.Yogyakarta: Kanisius
Stanley dan Beare (2007) Makalah manfaat senam bagi kebugaran tubuh
Surini, (2013). Olah Raga Untuk Kesehatan, Jakarta : Balai Pustaka
Setiawan, dkk, (2014). Sehat Menuju Lansia. Jakarta : Nuha Medika
Tilong, Arif (20114). Tanya Jawab Kesehatan untuk lansia, Jogjakarta ; Tunas Publshing.
Udjianti, (2010). Keperawaan kardiovascular. Salemba Medika : Jakarta,
Wahyu Pamungkas, (2015). Pengaruh senam lansia terhadap tekanan darah pada
lansia penderita hipertensi di Posyandu lansia Dusun Banaran 8 Playen Gunung
Kidul
Widyanto, F & Triwibowo. 2013. Trend penyakit saat ini. Jakarta : CV. Trans Info Media
WHO.(2013).Weekly Epidemiological Record.Tekanan Darah Tinggi Diakses
dari:www.who.int
LEMBAR OBSERVASI PENGUKURAN TEKANAN DARAH
SEBELUM (PRETEST) DAN SESUDAH (POSTEST) SENAM
LANSIA DILAKSANAKAN 1 KALI SEMINGGU
Tensi Darah Tensi Darah
NO Nama / Inisial Sebelum Sesudah
(Pretest) (Postest)
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SENAM PADA LANSIA
HIPERTENSI DI DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS SORKAM
KABUPATEN TAPANULI TENGAH
Nama Kegiatan Senam Hipertensi
Pengertian Senam hipertensi adalah bagian dari usaha untuk
mengurangi berat badan dan mengelola stress (faktor
yang mengelola hipertensi).
Tujuan Untuk menurunkan tekanan
Waktu Dilakukan setiap hari ± 10 menit / senam
Prinsip senam 1. Selalu memperhatikan tekanan darah sebelum
dan sesudah senam
2. Latihan dilakukan secara bertahap
3. Latihan dilakukan secara teratur
Langkah-langkah 1. Pemanasan
a. Tekuk kepala kesamping lalu tahan
dengan tahan pada sisi yang sama dengan
arah kepala. Tahan dengan hitungan 8-10,
lalu bergantian dengan sisi lain
b. Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat
lurus keatas kepala dengan posisi kedua
kaki dibuka selebar bahu. Tahan dengan
8-10 hiyungan. Rasakan tarikan bahu dan
punggung
2. Kegiatan Inti
a. Lakukan gerakan seperti jalan ditempat
dengan lambaian kedua tangan searah
dengan sisi kaki yang diangkat. Lakukan
perlahan dan hindari hentakan
b. Buka kedua tangan dengan jemari
mengepal dan kaki dibuka selebar bahu.
Kedua kepalan tangan bertemu dan ulangi
gerakan semampunya sambil mengatur
nafas.
c. Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat
tangan menyorong. Sisi kaki yang searah
dengan tangan sedikit ditekuk. Tangan
diletakkan dipinggang dan kepala searah
dengan gerakan tangan. Tahan 8-10
hitungan, lalu ganti dengan sisi lainnya
d. Gerakan hampir sama dengan
sebelumnya, tapi jari mengepal dan kedua
tangan diangkat keatas. Lakukan
bergantian secara perlahan dan
semampunya
e. Hampir sama dengan gerakan inti I, tapi
kaki digerakkan kesamping. Kedua tangan
dengan jemari mengepal kearah yang
berlawanan. Ualngi dengan sisi bergantian
f. Kedua kaki dibuka lebar dari bahu. Satu
lutut agar ditekuk dan tangan yang searah
lutut dipinggang. Tangan sisi yang lain
lurus kearah lutut yang ditekuk. Ulangi
gerakan kearah sebaliknya dan lakukan
semampunya
3. Pendinginan
a. Kedua kaki dibuka selebar bahu.
Lingkarkan satu tangan ke leher dan tahan
dengan tanagn lainnya. Hitungan 8-10 x
dan lakukan pada sisi lainnya
b. Posisi tetap tautkan kedua tangan lalu
gerakkan kesamping dengan gerakan
setengah putaran. Tahan 8-10 hitungan
lalu arahkan tangan ke sisi lainnya. Dan
tahan dengan hitungan yang sama