Anda di halaman 1dari 10

IDEOLOGI MEDIA DAN IDEOLOGI DALAM MEDIA

Tinjauan Teoritis, Konseptual dan Metodologis Udi Rusadi 1) Abstract Media has become an integral part of society life and exist as the ideological instrument of media organizations. At the same time, the media has also become the arena to represent a variety of ideology in the society such as the individuals, groups, organizations. Ideology that represented the possibility that only a reproduction carried by individuals or groups, but also can be a struggle, fighting against other ideology. This paper present philosofis review, conceptual and theoretical dimensions of ideology and the media and also methodological implications of the ideology digging. Kata kunci : ideologi, media. Pendahuluan Pemasalahan yang menjadi perhatian masyarakat terhadap kehadiran media ialah sejauh mana akibat baik dan buruk yang ditimbulkan media tersebut. Masyarakat memiliki harapan terhadap media agar media bisa menambah pengetahuan dan memahami berbagai hal dalam kehidupan serta memberikan pembelajaran sosial yang baik, mentrasnfer nilai-nilai positif dan bisa memberikan hiburan yang sehat. Bagi masyarakat yang memiliki tingkat literasi memadai akan melakukan proses seleksi sendiri apakah perlu menonton program-program TV atau
1

membaca topik-topik yang disajikan suratkabar yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Kelompok masyarakat pada tingkat literasi tersebut akan mampu mengkritisi media dari perspektif kebutuhan dan kepentingan serta nilai-nilai etka masyarakat. Namun demikian bagi masyarakat yang yang tergolong memiliki literasi rendah sebagai khalayak pasif, mereka akan mengikuti media apa adanya dan menganggap realitas yang disajikan media dianggap sebagai realitas objektif. Sudah dapat diperkirakan khalayak golongan ini tidak akan memiliki kemampuan seleksi yang memadai sehingga lebih mudah menerima pengaruh negatif dari yang positif dan tidak memiliki kemampuan untuk mengkritisi media. Artinya pertanyaan yang timbul berkaitan dengan khalayak akan lebih banyak berkaitan dengan pengaruh yang ditimbulkan media. Pengaruh media terhadap kehidupan masyarakat tersebut kemungkinan terjadi pada tingkat kognitif, afektif dan perilaku (Ball Rokeach &DeFleur,1982). Kekhawatiran masyarakat terhadap pengaruh media menjadi isu aktual di lingkungan masyarakat yang memiliki literasi tinggi. Kaum akademisi juga sudah lama memberikan perhatian terhadap studi-studi dengan topik tersebut dan melahirkan berbagai teori efek komunikasi dan terori-teori berkaitan dengan isi komunikasi dari dimensi tersurat yaitu aspek kemasan dan aspek pilihan tema atau topik media. Para teoritisi tradisi sosiopsikologis ( lihat Littlejohn and Foss, 2008: 298) telah banyak memberikan kontribusi untuk menjelaskan fenomena media massa tersebut, dan memberikan manfaat dalam upaya mengingatkan media untuk selalu ingat pada rujukan etika dan fungsi-fungsi esensial media. Penjelasanpenjelasan teoritis dari persepektif tadi tidaklah cukup untuk menjelaskan fenomena isi media sebagaimana hadir dewasa ini ketika perkembangan masyarakat semakin kompleks, ketika keterpengaruhan antar negara dan sistem ekonomi tanpa bisa dibendung. Ketika liberalisme merambah ke seantero dunia sampai pelosok negeri, dan libelarisne yang dominan adalah neoliberalisme yang lebih mengutamakan ukuran individu dan 1

) Kapuslitbang Profesi/Peneliti Madya Bid. Komunikasi dan Media Massa, Balitbang SDM Kem.Kominfo

mengabaikan nilai-nilai sosial. Pandangan psikologis dan sosiologis media tidak cukup banyak menjelaskan fenomena media dewasa ini kedepan. Asumsi-asumsi media sebagai wahana untuk mentransfer informasi, perlu dilengkapi dengan pemikiran yang dibangun dengan asumsi bahwa media sebenarnya tidak hanya mentransfer informasi tetapi mengkontruksinya sesuai dengan kerangka situasi masyarakat yang melingkupi media sebagai sebuah proses dialogisme.2 Media massa hadir dalam kehidupan masyarakat dalam pandangan Prularis (Curran:1982:12, Littlejohn, 2008:290) merupakan trasmiter pasif yang menstranfer informasi dari berbagai golongan masyarakat. Dalam pandangan ini, media massa dalam posisi netral mengelola dan mendistribusikan pesan demikian juga mayarakat yang menerima pesan media massa akan menangkapnya seperti apa yang disampaikan oleh media massa. Dalam pandangan konstruktivisme3 media massa mengkonstruksi informasi dan mendistribusikannnya kepada masyarakat. Media dipandang tidak mungkin melakukan peranan yang netral, terisolasi dari berbagai pengaruh terhadap dirinya baik yang bersumber dari internal organisasi media maupun dari luar media. Demikian juga masyarakat ketika menerima informasi tidak sekedar menerima tetapi mengkonstruksinya berdasarkan skemata masyarakat yang mengaksesnya. Sedangkan dalam pandangan kritikal, konstruksi yang dilakukan didasarkan pada
2

kepentingan kelas menguasaan.

masyakrat

dominan

untuk

melakukan

John Fiske (1992:2,3) memetakan dua aliran besar studi media ialah yang disebut aliran proses yang melihat komunikasi sebagai proses transmisi pesan dan aliran semiotik yang melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. Aliran proses, memberikan perhatian pada bagaimana pengirim dan penerima mengirikan tanda-tanda dengan menggunkan saluran komunikasi untuk menimbulkan efek pada perorangan. Fokus aliran proses mengembangkan komunikasi untuk mencapai efisensi dan akurasi dan kalau terjadi kesalahan komunikasi akan dilihat dari tahapan proses komunikasi. Sedangkan aliran semiotik, memberikan perhatian kepada bagaimana pesan, teks berinteraksi dengan orang-orang untuk memproduksi makna, sebagai proses penandaan (signification) dan tidak melihat kesalahan pemahaman sebagai bukti kegagalan komunikasi, tetapi dilihat dari perbedaan budaya pihak-pihak yang berkomunikasi. Dalam pandangan semiotik, komunikan (sebagai reader) dan teks memproduksi makna yang diharapkan dan kolaborasi ini dilembagakan oleh seseorang berdasarkan system nilai yang dimiliki masyarakat sebagai ideologi (Fiske: 199: 165). Dengan demikian, media merupakan wahana untuk memproduksi dan mereproduksi makna yang proses dan representasinya berkaitan dengan dimensi ideologis. Selain itu sebagai wahana konstruksi makna, media massa menyampaikan berbagai informasi dari berbagai pihak yang memiliki latar belakang ideologis yang berbeda, maka media juga merepresentasikan berbagai ideologi baik sebagai sebuah reproduksi maupun sebagai sebuah perjuangan atau pertarungan. Dengan demikian media disamping mengkonstruksi ideologi yang dianut oleh media juga menyalurkan berbagai ideologi yang direpresentasikan oleh media dari berbagai pihak yang berkepentingan. Tulisan ini akan mengungkapkan secara konseptual dan teoritis mengenai ideologi media dan ideologi dalam media yang didukung oleh berbagai hasil penelitian yang berkaitan dengan keduanya. 2

Pandangan Dialogisme dikemukakan oleh Bakhtin yang mempunyai implikasi terhadap komunikasi bahwa komunikasi menciptakan dan membentuk dunia social (social world) termasuk diri, orang lain dan hubungan diantara keduanya. Konsepsi komunikasi memfokuskan pada dialog penciptaan. Dialogisme adalah artikulasi mekanisme pertumbuhan untuk proses pembuatan makna berupa pertukaran suara perbedaan dan bahkan pertentangan. (Arneson,2007:261). 3 Construtivisme adalah filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi atau bentukan kita sendiri sebagaimana dikemukakan oleh Von Graselfeld dalam Bettencout, 1989 dan Matthews,1994. Pengethuan bukan gambaran dari kenyataan tetapi akibat dari suatu konstrusksi kenyataan melalui kegiatan seseorang (Suparno,1997)

Konsep Ideologi Dalam pengertian umum ideologi sering dihubungkan dengan suku kata isme yang melekat pada akhir suatu suku kata, seperti komunisme, liberalisme, otoritarianisme yang berarti menunjukan subyek ideologi dari suku kata depannya. Secara etimologis ideologi berasal dari dua suku kata yaitu idea dan logos, yang berarti aturan atau hukum tentang idea (Takwin,2003:8). Tentang idea, secara philosofis dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles. Plato memisahkan dunia idea yang ada dalam jiwa dengan dunia fisik atau badan. Kebenaran sejati adanya di dunia idea. Kebaikan di dunia fisik merupakan tiruan dari kebaikan di dunia idea, sehingga benda tiruan bersifat maya dan fana sedangkan dunia idea sifatnya abadi dan kekal. Jika ingin mengetahui suatu kebenaran dilakukan proses anamnesis atau proses pengingat kembali pengetahuan mengenai kebenaran yang sudah ada dalam jiwa. Menurut pengertian Plato, ideologi merupakan kebenaran sejati sebagai ideologi dalam pengertian positif (Takwin, 2003,10). Aristetoles ( Takwin,2003:11,14) memiliki paham berbeda dengan Plato tentang hubungan dunia idea dan fisik yang terpisah, bagi Aristoteles badan jiwa tidak dalam kondisi yang terpisahkan, keduanya menyatu sebagai sebuah substansi yang mewakili badan dan jiwa. Hubungan keduanya disebut dengan hylemorphisme, yang mempunyai makna bahwa segala sesuatu dalam alam semesta terdiri dari materi (hyle) dan bentuk (morphe) sehingga manusia sebagai bagian dari alam semesta terdiri dari badan sebagai materi jiwa merupakan bentuk atau forma. Jiwa yang menurut konsep Plato merupakan sumber kebenaran sejati atau dunia idea, oleh Ariestotles disebut idea yaitu merupakan representasi mental yang ada dalam benak manusia dan dibentuk dari kenyataan melalui panca indra. Jadi menurut Aristoteles, pengetahuan diperoleh dari alam semesta melalui proses indrawi yang kemudian diolah menjadi idea. Kebenaran yang menjadi sebuah ide kualitasnya ditentukan oleh proses indrawi yang disebut proses logika. Pengetahuan yang diperoleh dari proses logika yang salah akan menghasilkan idea

yang salah. Dalam pandangan Ariestoteles Ideologi dipandang sebagai hasil dari proses pengolahan informasi yang ditangkap oleh indera manusia bisa negatif dan bisa positif. Pemikir lain Sigmund Freud (Takwin, 2003:14) yang membagi proses psikis manusia terdiri dari wilayah kesadaran dan ketidaksadaran di mana kepribadian dan tingkahlaku manusia lebih banyak dipengaruhi oleh wilayah ketidaksadaran daripada wilayah kesadaran. Dalam pandangan Freud tersebut, manusia sering melakukan tindakan yang tidak rasional, tidak didasari motif dasarnya dan lebih bersifat instingkif. Dengan demikian manusia memiliki ideologi individual yang sering melakukan tindakan-tindakan yang irasional. Ideologi mengandung pengetahuan-pengetahuan yang irasional mengarahkan manusia melakukan tindakan-tidakan yang tidak rasional. Menurut pemikiran Marxis (Chandler,www) bahwa kesadaran ditentukan oleh kehidupan manusia. Ideologi merupakan faktor fungsi dari kelas masyarakat, sehingga ideologi dominan ditentukan oleh kelas masyarakat dominan. Ideologi sengaja dibuat oleh kekuasaan dominan sebagian sebuah kesadaran palsu untuk mempengaruhi kelompok yang akan dikuasainya (kaum proletar). Dalam konsep Marx, mereka yang dominan adalah golongan kapitalis. Kesadaran palsu, dibentuk dari hasil proses pengalaman yang memberikan input negatif sehingga hasilnya negatif. Dalam pandangan Freud (Takwin,2003) kesadaran palsu tersebut sebagai produk dari wilayah ketidaksadaran dari psikis manusia. Dalam konsep ini kesadaran palsu yang diamksud Marx tersebut, berupa kesadaran palsu yang ditanamkan oleh kaum borjuasi terhadap kaum proletar. Iklim yang diciptakan menjadi input pengalaman sebagai bagian dari proses perumusan ideologi, yang tentunya negatif, karena kaum proletar tidak akan pernah mengalaminya George Lukacs (Takwin,2003:16) melihat ideologi sebagai keasadaran kelas yang diperjuangkan. Bagi Lukacs Ideologi merupakan sekumpulan pengetahuan yang dipercayai oleh suatu kelas sosial, sehingga setiap kesadaran kelas menjadi ideologis. 3

Dengan demikian kesadaran dalam konsep Lukas merupakan kesadaran yang aktif, yang juga dipahami oleh Antonio Gramcy. Bagi Gramcy, penguasaan Negara terhadap rakyat tidak selalu dengan pemaksaan tetapi juga bisa melalui tindakan persuasif, dengan proses penguasaan kesadaran sehingga sasaran tidak sadar bahwa dirinya dikuasai. Penguasaan ini disebut hegemoni sebagai bentuk ideologi yang posisinya semakin meluas dan dominan, sehingga cakupan hegemoni lebih luas tidak terbatas pada satu kelas. Dalam pandangan struktuaralisme, pemikiran manusia merupakan produk dari struktur. Althusser (Takwin,2003:15) yang termasuk dalam kelompok strukturalis menjelaskan bahwa sejak lahir manusia sudah dipengaruhi oleh struktur, mulai dari struktur keluarga, lingkungan, masyarakat dan keluarga. Pikiran manusia dengan demikian secara tidak disadari dipengaruhi oleh berbagai struktur yang dialami sejak awal hidupnya, dan bukan semata atas dasar realitas yang objektif. Pemahaman mengenai realitas telah terdistorsi oleh struktur yang dialaminya, sebagai kesadaran palsu. Dengan demikian Ideologi secara tidak sadar telah terbentuk dalam setiap diri manusia. Dalam pandangan Althusser, maka kedasadaran palsu yang dimiliki oleh kaum buruh tadi diperjuangkan untuk dikembalikan, dari sisi pandangan Althusser, apa saja yang dimiliki oleh kaum buruh merupakan bagian dari proses pengalamannya, sehingga tidak perlu lagi di kembalikan ke wilayah kedasaran aslinya. Jadi yang penting ialah bagaimana memberdayakan ideologi yang dimilikinya untuk mengembangkan diri manusia. Berbeda dengan Marxis, Althusser (Chandler,www ) berpedapat bahwa Ideologi merupakan medium dimana kita mengalami berbagai realitas yang ada di dunia. Althuser menekankan pada anti pengurangan (reducionism) dan mematerialkan ideologi. Artinya ia menolak pengertian ideology sebagai kesadaran palsu dan mengangggap ideologi sebagai sebuah realitas. Hal ini didasarkan pada proses terbentuknya

ideologi yang berlangsung sepanjang proses pengalaman. Ideologi merupakan sebuah representasi imajiner antara individu dengan proses pengalaman yang melahirkan individu tersebut (Althusser,1984:39). Setiap orang, setiap organisasi atau lembaga memiliki ideologi, yang direperesntasikan dari sepanjang proses yang melahirkan individu, lembaga atau organisasi tersebut. Volosinov (Chandler,www,Takwin,2003:103) memiliki pandangan yang menggabung keduanya, ideologi bukan dilahirkan dari proses pengalaman dan bukan juga ditentukan oleh kelas dominan masyarakat. Sebagaimana Marxis, ideologi dibentuk namun merupakan hasil pertukaran (share) di antara anggota kelompok. Hasil perbincangan di bidang ekonomi. Sistem penandaan yang melahirkan ruang persebaran ideologi yang diproduksi dari kesadaran agen sosial. Pemikir dari Rusia tersebut, memasuki konsep Ideologi dalam ranah bahasa dimana ideologi merupakan internalisasi kata-kata yang termuat dalam bahasa. Kesadaran hanya dapat muncul dalam wadah material yaitu bahasa yang tidak hanya cerminan dari realitas tapi menjadi satu dengan realitas yang ditandainya. Dalam kaitan ini dengan logika semiotik Marx, ideologi sebagai kumpulan penanda yang digunakan oleh kelas dominan untuk memenangkan kepentingannya. Pemikiran volosinov kemudian diteruskan oleh pemikir lainnya antara lain Roland Barthes sebagai pemikir Post Strukturalis yang mengkritisi pemikiran Suassure, tentang Langue (paradigma, pondasi, forma) diatas parole (ujaran, tulisan), serta setiap individu merupakan produk dari struktur. Kekakuan ini dikritik oleh Roaland Bartes, dengan menunjukan bahwa memusatkan pada struktur mengangap parole atau individu bersifat pasif tergantung pada struktur yang dalam kenyataannya tidak demikian tetapi dinamis. Apabila makna yang terbentuk dari denotative ke konotatif kemudian menetap dan meluas maka oleh Barthes disebut mitos. Dengan demikian mitos berkembang menjadi ideologi setelah tersebar secara konvensi dari satu wilayah dan pemaknaanya melampaui daya individual. 4

Dalam pandangan postmodernisme, ideologi sebagai kesadaran palsu menunjukan adanya otonomi representasi dan membuang pemahaman terhadap kebenaran mutlak, kemudian subyek juga tidak otonom sehingga kesadaran independen, dan memandang fenomena individual sebagai bagian yang terpisah dari totalitas dan memiliki objek yang beranekaragam (Hawkes,1996:12). Dengan pemahaman ini, dalam pandangan postmodernisme, makna ideologis dari sebuah objek tidak ditentukan oleh objeknya itu sendiri tetapi tergantung pada representasinya, dan konsepsi ideologi merupakan sebuah system berfikir yang menjalarkan kepalsuan secara sistmatik. Media dan Ideologi. Media yang memproduksi infomasi merupakan sebuah institusi yang memiliki latar belakang baik yang berkaitan dengan orang-orang yang terlibat maupun struktur yang ada disekitar orang-orang tersebut yang akan menjadi ideologi organisasi media. Selain itu informasi yang diproduksi merepresentasikan fenomena yang melekat pada sumber informasinya yang kemungkinan merepresentasikan berbagi ideologi dari sumber informasi yang diproduksi. Informasi nya itu sendiri disajikan dalam bahasa baik audio, visual maupun audio visual dalam bentuk verbal maupun non verbal, yang secara sadar atau tidak mengkonstruksi realitas kaearah ideologi tertentu. Ideologi Media. Media sebagai sebuah institusi dalam perspektif ekonomi politik liberalis dengan mainstream ekonomi memfokuskan pada kedaulatan individu sebagai bagian dari kapitalisme. Sedangkan perspektif ekonomi politik kritikal, mengkaji kaitan antara relasi sosial dengan permainan kekuasaan, yang fokusnya untuk melihat bagaimana makna yang diungkapkan dipengaruhi oleh struktur asimetris dari relasi social (Golding,1991:18). kajian Dalam media pandangan instrumentalis (Golding,1991:18), memfokuskan pada cara-cara kapitalisme

menggunakan kekuatan ekonomi untuk menjamin agar arus informasi sesusi dengan dengan kepentingannya. Dalam hal ini, media dimiliki secara pribadi sebagai instrument kelas dominan sehingga Ideologi yang menguasainya ialah kapitalisme. Sedangkan menurut ekonomi politik strukturalisme media dikuasai oleh struktur yang berlaku yaitu struktur yang dominan. Menurut Althusser (Takwin,2003: ) seorang pemikir strukturalis, Ideologi merupakan representasi dari pengalaman individu sejak lahir. Dengan konsep ini maka ideologi media merupakan nilai-nilai yang berkembang sejak media didirikan. Misalnya ideologi suratkabar Republika akan merefleksikan visi dan misi serta berbagai aktifitas ketika Suratkabar Republika dilahirkan. Demikian hanya dengan suratkabar lainnya, yang memiliki latarbelakng masing-masing. Studi-studi yang berkaian dengan ideologi media dengan konsep ini umumnya tidak lagi menggali ideologi media tetapi cenderung untuk menjelaskan artikulasi ideologi media dalam berbagai isu yang menjadi perhatian media. Apabila menggunakan konsep ideologi sebagai kesadaran palsu, maka asumsinya ideologi media tersebut tidak bersumber pada realitas nilai-nilai yang direfleksikan media, tetapi dengan asumsi bahwa media secara sengaja memproduksi informasi untuk kepentingan ideologi tertentu. Menurut Fowler (1991:10), struktur media dalam melakukan proses penandaan dikendalikan posisi kepedulian masyarakat organisasi penerbit dan penyiaran. Apapun yang dikatakan dan ditulis tentang dunia diartikulasikan dari posisi ideologis tertentu. Bahasa bukanlah jendela yang bersih tetapi merupakan medium yang terefraksi dan terstruktur. Dengan asumsi ini, analisis dilakukan untuk menggali kesadaran apa yang disembunyikan untuk melakukan penguasaan apakah penguasaan capital ekonomi/material, sosial atau yang melekat pada organisasi media menjadi basis struktur media, atau yang temporer yaitu ideologi kepentingan, ideologi sebagai strategi pertarungan kekuasaan. 5

Shomaker dan Reese, mengemukakan hirarhi yang mempengaruhi berita dalam gambar dibahah ini ( Shomaker and Reese, 1991:183)

Ideologi Eksterna l Media Organisa si Media Rutinitas Individu

Posisi ideology dalam produksi berita merupakan elemen makro yang memasukan elemen lainnya dari hirarhi

Representasi dari realitas melalui struktur kalimat dan aspek-aspek bahasa merupakan aspek ideologi dari ranah bahasa. Artinya ungkapan dalam bahasa akan menunjukan pada ideologi tertentu. Menurut Roland Barthes (Takwin,2003:104) , penanda yang menghasilkan petanda yang diterima dan meluas penggunaannya menjadiakan mitos yang diingat dan dilestarikan dalam masyarakat sebagai ideologi. Artinya dalam media kemungkinan ditemukan ideologi yang berbeda atau tidak ada kaitannya dengan ideologi media. Sumber informasi menyampaikan berbagai peristiwa dan fakta dengan melakukan konstruksi melalui bahasa. Awak media juga kemungkinan mengkonstruksi bahan informasinya untuk disampaikan kepada publik. Konsep ideologi dari ranah kesadaran-ketidaksadaran merujuk pada Plato dan Ariestotoles serta Freud (Takwin,2003:13) yang pada intinya mengungkapkan bahwa yang menggerakan kita semua adalah wilayah ketidaksadaran. Bagi Plato, pengetahuan hasil tangkapan indrawi merupakan kesadaran palsu, dan bagi Plato Idea dibentuk melalui proses logika berdasarkan stimulan informasi dari indra kita. Proses logika yang tidak benar akan menghasilkan pengetahuan yang tidak benar. Apa yang direpresentasikan bisa jadi merupakan produk ketidaksadaran yang menyembunyikan realitas yang sebenarnya. Secara teoritis dan philosofis, media bisa merepresentasikan berbagai ideologi baik karena dimensi yang bersumber dari ketidaksadaran media maupun ketidasadaran sumber informasi media maupun karena dimensi bahasa . Ideologi yang ada dalam media bisa merupakan proses reproduksi dari ideologi yang ada dan bisa juga merupakan sebuah pertarungan Ideologi kepentingan baik politik, ekonomi maupun cultural. Menurut Struart Hall (1995:354), dalam studi media aspek ideologi dari paradigma kritikal, memiliki dua fokus yaitu (1). Produksi dan transformasi diskursus ideologis yang diarahkan oleh teori-teori yang berkaitan dengan aspek simbolik dan karakteristik bahasa dari diskursus ideologis. Artinya, berusaha 6

lingkaran yang mempengaruhi berita yaitu level individual, kerja rutin media, keorganisasian, ektra media dan ideologi . Dalam konteks ini ideologi yang dimaksud kemungkinan adalah ideologi media baik sebagai kesadaran palsu mapun sebagai struktur.

Ideologi dalam media. Dalam media dimuat berbagai informasi yang berisi fakta dan opini termasuk acara-hiburan dan iklan dari berbagai sumber baik melalui aktifitas pencarian oleh media maupun melalui aktifitas aktif dari sumber terhadap media. Dengan demikian media telah menjadi arena untuk merepresentasikan berbagai realitas menurut konstruksi media atau konstruksi berbagai sumber itu sendiri.

mengelaborasi ideologi yang ditemukan dalam bahasa sebagai wahana artikulasi yang benar dan mutlak. (2). Konseptualisasi ideologi dalam pembentukan lembaga sosial (social formation). Ideologi merupakan representasi basis sosial yang tentunya berkaitan dengan fenomena masyarakat, yang kemudian distribusinya melalui diskursus dan komunikasi. (Delllinger,1995; van Dijk, 1997, van Dijk,1998). Ketiga elemen tersebut terbingkai dalam suatu kerangka teoritikal yang disebut dengan tiga kerangka pandang (triangle), yaitu kognisi--masyarakat-diskursus. Dalam pengertian pertama, ideologi dipelajari dalam pengertian kognisi sosial, dan kedua menunjukkan tidak saja dalam pengertian kognisi sosial tetapi juga dalam pengertian sosial politik, budaya dan historis. Ketiga, bahwa ideologi tersebut dibentuk, diubah dan direproduksi melalui diskursus dan komunikasi. Keterkaitan antara ketiga sudut pandang (angle) itu yaitu bahwa diskursus harus dihubungkan secara ekplisit dengan struktur dan strategi personal dan pikiran masyarakat (social mind) sesuai dengan situasi sosial, interaksi sosial dan struktur masyarakat. Dengan cara yang sama kognisi harus dihubungkan dengan diskursus dan kondisi masyarakat. Demikian juga struktur sosial akan mudah dinyatakan secara ekplisit melalui struktur diskursus (van Dijk, 1998: 1). Dengan demikian diskursus menganai berbagai isu dalam media dapat dipandang merupakan represntasi dalam upaya mereproduksi ideologi agar tetap berkembang dan meluas pengikutnya. Media yang memfokuskan pada wanita, bersaha mereproduksi ideologi feminisme, atau modernisme atau hedonisme. Berita-berita kekerasan di media, mereproduksi idologi kekerasan, individualisme dan lain-lain. Program-program sinetron di TV memproduksi ideologi kemewahan-kesenangan, atau kasih sayang, atau dendam kesumat. Diskursus tadi kemungkinan juga akan menjadi arena dalam kontestasi atau pertarungan ideologi. Kalau media memproduksi diskursus tadi sebagimana menurut Antonio

Grammcy Chandler,ww), maka media sudah menjadi situs tempat pertarungan ideologis. Ketika media sedang menjadikan suatu isu menjadi diskursus media, secara sadar atau tidak bisa merepresentasikan pertarunan ideologi. Isu susunan wakil presiden di media di Indonesia telah menjadi wahana pertarungan ideologis antara ekonomi neoleberalisme dengan ideologi ekonomi kerakyatan atau sosialias, ideologi primordial jawa dan luar jawa, ideologi religi: Islam, katolik, budhis ddan lainnya atau fondamentalis, sekuler. Dengan demikian satu isu dalam media bisa menjadi wahana pertarunan bermacam ideologi. Keterkaitan antar ideologi Ideologi media melekat pada lembaga media yang arahnya ditentukan oleh karakteristik lembaga media sebagai industri atau media public sedangkan ideologi dalam media merupakan ideology yang direpresentasikan dalam isi media. Keterkaitannya keduanya dilihat dengan teori strukturasi bisa bersumber dari struktur atau human agency. Teori strukturasi (Gidden,1986:66,69) pada intinya menjelaskan bahwa praktek sosial direproduksi berulang-ulang oleh saling pengaruh (inteplay) antara kekuatan struktur dengan kekuatan human agency. Praktek media sebagai praktek sosial keberlangsunannya dipengaruhi oleh hubungan struktur media, yaitu aturan-aturan dan sumberdaya media dengan semua human agency yang menggerakan organisasi media. Ideologi media ada pada tataran struktur media, sedangkan ideologi-ideologi yang direpresentasikan dalam isi media bisa berasal dari human agency atau ideologiideologi lain dari luar media dari stakeholder baik struktur lembaga lain atau human agency stakeholder di luar media. Dari penelitian Sunarto (2007: 460 ) tentang kekerasan televisi terhadap anak, disimpulkan bahwa dalam proses naturalisasi kekerasan simbolik terjadi saling mempengaruhi (interplay) antara struktur gender agen wanita dengan struktur gender institusional dan sosial industry televisi. Relasinya resiprokal yang kapitalistik-patriarki. Penerimaan nilai-nilai 7

dominan ditunjukan dengan kepatuhan pada visi perusahaan untuk menjadi media utama dalam memberikan informasi dan hiburan kepada pemirsanya. Pengaturan struktur kapitalistik juga terjadi ketika agen ini mentransformasikan nilai-nilai maskulin dalam dirinya dan lingkungan kerjanya melalui penambahan kerja. Implikasi hasil penelitian Sunarto yang dilakukan dalam kerangka penyusunan disertasi tersebut sejalan dengan esensi dari teori strukturasi yaitu ideologi struktur media memiliki hubungan yang resiprokal dengan ideologi agensi yang dalam penelitian tersebut adalah ideology patriarki-kapitalistik Temuan itu menunjukan ideologi-ideologi dalam media merefleksikan ideologi media. Namuni demikian dengan perkembangan demokratisasi dan pengaruh teknologi bisa saja tidak simetris antara ideologi media dengan ideologi-ideologi yang direpresentasikan dalam media. Hal ini dimungkinkan terjadi karena kemungkinan ada tarik menarik kepentingan didalam struktur dengan human agency. Dari sudat pandang postmodernisme, representasi juga sifarnya otonomi, artinya bisa memberikan makna ideologis yang berbeda dengan obyeknya. Tempat dan metode menggali ideologi Menurut OShaughnessy dan Jane Stadler (2005:196), ideologi bisa ditemukan di tiga tempat yaitu (1). Dalam bahasa, teks dan representasi, hal ini sering dilakukan dalam kajian media berkaitan dengan makna ideologis yang ada dalam isi media. (2). Kelembagaan materil dan dalam methodologi dan praktek-praktek yang berlangsung. (3). Di dalam kepala dan hati kita. Dalam kaitan ini manakala teks berada di luar diri kita, ideologi biasanya diserap oleh kita dan diinternalisasi. Kita menerima ideologi sebagaimana yang diungkapkan dalam teks sehingga ideologi adanya di kepala dan hati. Dalam konteks kajian ini, ideologi media ada pada bahasa, teks dan representasi yang diungkapkan dalam media dikaitan teks-teks lain yang berkaitan dengan proses media itu lahir dan teks-teks hasil wawancara dengan pendiri dan penelenggara

media. Untuk tempat ideologi yang kedua yaitu berada dalam dimensi material atau fisik antara lain dalam gedung atau arsitektur serta bahan material lainnya akan tersirat ideologi didalamnya. Untuk yang ketiga, fokusnya pada kajian mengenai reader ketika mengkonsumsi media. Teks-teks ideologi dalam media bisa digali dari keseluruhan isi media dan bisa juga pada genre tertentu dalam media, seperti genre berita, feature, drama, karikatur, foto. Masing-masing genre memiliki karakter masing-masing yang mempunyai implikasi masing-masing dalam memilih perspektif dan metode yang digunakan. Penelitian mengenai ideologi baik ideologi media mapun ideologi dalam media bisa menggunakan perspektif konstruktivis dan bisa kritikal tergantung permasalahan atau tujuan penelitian yang diajukan. Kata menggali, artinya ideologi yang akan diteliti berada pada wilayah struktur dalam (deep structure) sebuah ungkapan sebagai hasil sebuah konstruksi baik yang disebabkan kesadaran maupun ketidaksadaran. Penelitian dalam perspektif ini hanya terbatas untuk mengungkap ideologi yang tersembunyi di balik isi media. Namun demikian jika dalam upaya menggali ideologi tersebut didasarkan pada asumsi atau teori ada penguasaan atau dominasi dari satu kekuasaan tertentu maka perspektif yang digunakan adalah konstruktivisme kritikal (critical constructivism) atau sepenuhnya kritikal. Perspektif konstrukivisisme dan konstruktionisme (Crotty,1998:42-43) pada dasarnya menganggap realitas yang disajikan media merupakan hasil konstruksi baik personal (construktivisme) dan secara social (kostruktionisme). Obyek yang dikonstruksi adalah permasalahan sosial dengan tidak memilki asumsi adanya penguasaan atau dominasi kekuasaan tertentu. Pada konsep ideologi sebagai sistem kepercayaan atau nilai, yang bisa bersifat netral dan positif, maka upaya menggali ideologi adalah hanya menggali dan mengungkap sistem kepercayaan atau nilai yang tersembunyi. Studi-studi mengenai nilai- nilai kelurga, gaya hidup, nilai religi sebagai sebuah ideologi yang dikonstruksi media atau pembaca (reader) mengkonstruksi nilai-nilai tadi termasuk dalam kajian ideologi perspektif konsruktivisme. 8

Perspektif critical constructionism (Heiner,2006:7-8), merupakan gabungan antara perspektif interactionisme symbolik dengan teori konflik, dimana yang dikonstruksi adalah permasalahan sosial mengenai konflik antara pihak yang memiliki kekusaan/ dominasi dengan yang dikuasai. Secara konseptual, ideologi menurut Alhtusser merupakan sebuah struktur yang lahir dari sebuah proses pengalaman yang representasinya bisa sajikan dalam media. Apabila penelitian semata-mata untuk menggali ideologi tersebut maka peneliti masih ada dalam wilayah perspektif konstruktivisme. Namun apabila dalam melihat fenomena tersebut dilihat dari teori Negara yang dikemukakan oleh Althusser (1984:18-22) maka akan masuk pada wilayah kritikal. Negara menurut Alhtusser melakukan praktek penguasaan melalui Apparat Negara Ideologis (Ideological state of apratus-ISA) dan Aparat Negara Represif (Reppresif state apparatus- RSA). Yang termasuk dalam ISA adalah lembaga agama, pendidikan, keluarga, hukum, politik, serikat buruh, komunikasi dan budaya. Sedangkan aparat represif antara lain ialah Pemerintah, polisi, tentara. Artinya jika akan menggali ideology dalam konteks peramasalahan bagaimana Negara melakukan penguasaan melalui media massa sebagaimana dikemukakan Althuser, maka peneliti berada pada perspektif critical constructivism, dimana analisis dilakukan pada satu level yaitu teks. Sedangkan apabila menggunakan perspektif yang sepenuhnya kritikal, menghendaki analisis holistik antara lain melalui keranga kerja Critical Discourse Analysis (CDA) (Fairclouh,1998 ) dan Van Dijk (1998) yang dilakukan melalui analisis tiga level. Melalui perspektif ini menggali dominasi ideology tidak hanya digali secara tekstual, tetapi lebih jauh lagi dijelaskan dengan interpretasi dari aspek proses produksi dan konsumsi dan eksplanasi dari asepek praktek sosial budaya. Penelitian kategori ini biasanya dilakukan untuk menggali kapitalisme sebagai ideologi media melakukan penguasaan terhadap praktek-praktek kehidupan sosial melalui media, seperti

terhadap kehidupan wanita, anak-anak, praktek politik, sosial dan budaya. Pada tingkatan metode menggali ideologi dapat digunakan analisis-analisis semiotika, framing, linguistic, wacacana yang setiap metode memiliki instrument device masing-masing. Pilihan pada metode tersebut dipengaruhi oleh penelaahan fenomena representasi ideologi dalam dalam teks yang dimaksud, dan dipilih yang paling bisa banyak mengungkap evedent-evident ideology yang akan dikemukakan. Bahkan dalam praktek penggunaanya bisa melakukan penggabungan dari beberapa metoda, untuk mendapatkan evident yang optimal. Penutup Media telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat hadir menjadi instrument ideologis dari seseorang atau kelompok sebagai ideology media. Pada saat yang sama, media juga telah menjadi arena untuk merepresentasikan berbagai ideologi yang ada dalam masyarakat. Ideologi yang direpresentasi kemungkinan hanya sebuah reproduksi yang diusung oleh individu atau kelompok, tapi juga bisa merupakan sebuah perjuangan, perlawanan terhadap ideolagi lain. Penggalian ideologi akan berkaitan dengan kategori fenomena yang menjadi latar belakang permasalahan dan teori yang digunakan, bisa dalam ranah konstruktivisme, konstruktivisme kritikal atau kritikal. --------------Daftar Pustaka Althusser, Louis, 1984, Tentang Ideologi-Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies, terjemahan essays on ideology, Jogyakarta:Jalasutra. Arneson, Pat (ed),2007, Perspectives on Philosopy of Communication,Indiana:Purdue University Press 9

Ball-Rkeach, SandraJ. and Melvin L DeFleur, 1982, Theories of Mass Communication, Newyork: Logman Bennett, Tony, 1982, Theories of The Media, Theories of Society dalam Michael Gurevitch etall (ed). Culture, Society and the Media, New York: Methuen. Chandler, Daniel. Marxist Media Theory. http://www.aber.ac.uk/~dgc/marxism.html. Corotty, Michael, 1998, The Foundation of Social Research. St Leonard: Allen &Unwin Curan, James., 1982, Communications, power and social orders dalam Michael Gurevitch etall (ed). Culture, Society and the Media, New York: Methuen. Dellinger, Brett. 1995. Critical Discourse Analysis. Finnish View of CNN Television News. WWW. Fairclough, Norman, 1998, Critical Discourse Analysis. The Critical Study of Language. London: Logman. Fiske, John.1992. Introduction to Communications Stydy. 2nd edition. London: Routledge Fowler, Roger, 1996, Language In The News. Discourse and Ideology in The News. London: Routledge. Giddens, Anthony, 1986, Central Problems in Social Theory. Actions, Structure and Contradictions Analysis. Bekerly and Los Angeles: University California Press. Golding, Peter and Graham Murdock. 1997. Ideology and The Mass Media: The Question of Determination. Dalam Pete Golding and Garham Murdock, The Political Economy of Media. Volume I, Cheltenham, UK. Broolfield, US: The International Library of Studi and culture. Hall, Struart, 1995, The rediscovery of ideology: return of the repressed in media studies dalam Oliver Boyd-Barrett & Chris Newbold, Newyork:Foundation in Media. Hall, Struat, 1986, Recent Developments in theories of language and ideology: Critical note dalam Struat Hall etall (ed). Culture, Media,Language. London: Hutchinhon & Co. Hall, Stuart, 1982, The rediscovery of ideology: return of repressed in media studies dalam Michael Gurevitch etall (ed). Cultur, Society and the Media, New York: Methuen.

Hawkes, David, 1996. Ideology. The New Critical Idiom. London: Routletge. Heck, Marina Camargo. 1986. The Ideological dimension of Media Message dalam Struat Hall, etall (ed). Culture, Media, Language. London: Hutchinhon & Co Heiner, Robert, 2006, Social Problems An introduction to Critical Constructionisme,NewYork: Oxford university Littlejohn, Stephen and Karen Foss,2008, Theories of Human Communication, ninth edition,United State: Thomsonwodswort. OShaughnessy and Jane Stadler,2005, Media and Society-an introduction, second edition, Newyork: Oxford University. Sunarto,2007, Kekerasan Televisi terhadap manita.-Studi Strukturasi Gender Inudtri Televisi dalam naturalisasi Gender Industri Televisi terhadap wanita melalui Program televise untuk anak-anak Indonesia, Disertai UI Suparno, Paul, 1997,Filsafat Kontruktivisme dalam Pendidikan,Jogyakarta: Kanisius Takwin, Bagus, 2003, Akar-Akar Ideologi Pengantar Kajian Konsep Ideologi dari Plato hingga Bourdieu, Yogyakarta: Jalasutra.

10