LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN ELIMINASI DI RUANG MELATI
RS. PARU Dr. H. A. ROTINSULU BANDUNG
Disusun Oleh
Nama : Ratih Wiharni, S.Kep
NIM : 4006240105
Preceptor Akademik
(Ns. Erlina Fazriana, S.Kep., M.Kep )
PROGRAM PROFESI NERS (PPN) XXII
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA
TP 2024-2025
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN ELIMINASI
I. Definisi
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh.
Pembuangan dapat melalui urin ataupun feses. Eliminasi dibutuhkan untuk
mempertahankan homeostatis melalui pembuangan feses dan urin
(Wartoanah, 2016).
Eliminasi Urin adalah pengosongan kandng kemih yang lengkap (SLKI,
2018).
Eliminasi Fekal adalah proses pembuangan sisa metabolisme tubuh
berupa feses yang berasal dari saluran pencernaan, kemudian dikeluarkan
melalui anus (Cynthia, Dea Laras 2013).
II. Etiologi
1.Usia
2. Diet
3. Asupan cairan
4. Aktivitas
5. Pengobatan
6. Gaya hidup
7. Penyakit
8. Nyeri
9. Kehamilan
III. Anatomi Fisiologis
Saluran kencing adalah satu jenis untuk mengeluarkan kotoran beberapa
garam organis produk-produk buangan yang mengandung nitrogen dan air
disingkirkan dari aliran darah dikumpulkan dan dibuang atau dibuang atau
dikeluarkan melalui fungsi yang baik dari saluran urine.
1. Ginjal
Terletak di kanan dan di kiri tulang punggung, di belakang peritoneum dan
di belakang rongga perut.
2. Ureter
Adalah pengubung antara ginjal dari kandung kencing.
3. Kandung kencing
Adalah sebuah kantung dengan otot yang mulus yang berfungsi sebagai
penampung air seni.
4. Uretra
Ukurannya 13,7 – 16,2 cm terdiri dari 3 bagian : prostate, selaput, dan
bagian yang berongga. Ada tiga tahap pembentukan urine :
1) Proses filtrasi
Terjadi di Glomerolus adanya penyerapan darah, sedangkan sebagian
lagi (glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat), ditampung
oleh simpai bowman untuk diterusakan ke tubulus ginjal.
2) Proses reabsorbsi
Terjadi penyerapan kembali dari sampai bowman yaitu : glukosa,
sodium, klorida, fosfat dan beerapa ion bikarbomat pada tubulus atas
(obligat reabsorbsi) sodium dan ion bikarbonat pada tubulus bawah
(reabsorbsi fakultatif) sisanya dialirkan pada papilla renalis.
3) Proses sekresi
Sisanya penyimpanan kembali yang terjadi pada tubulus dan
diteruskan keluar pada ginjal. Selanjutnya keluar.
Sedangkan fisiologis defekasi adalah:
1. Mulut
Proses pertama dalam sistem pencernaan berlangsung di mulut.
2. Faring
Berfungsi dalam sistem pencernaan sebagai penghubung antara mulut
dan esophagus.
3. Esofagus
Pada saat menelan, makanan akan dipicu oleh gelombang peristaltic
yang akan mendorong masuk ke lambung.
4. Lambung
Di dalam lambung makanan yang masuk akan disimpan lalu disalurkan
ke usus halus.
5. Usus Halus
Usus halus merupakan tempat penyerapan berlangsung.
6. Usus Besar
Usus besar adalah organ penyimpan makanan.
7. Rektum dan anus
IV. Klasifikasi
Eliminasi Urin
1. Gangguan eliminasi urin merupakan disfungsi eliminasi urin.
2. Inkontinensia urin berlanjut adalah pengeluaran urin tidak terkendali dan
terus menerus tanpa distensi atau perasaan penuh pada kandung kemih.
3. Inkontinensia urin berlebih adalah kehilangan urin yang tidak terkendali
akibat overdistensi kandung kemih.
4. Inkontinensia urin fungsional adalah pengeluaran urin tidak terkendali
karena kesulitan dan tidak mampu mencapai toilet pada waktu yang tepat.
5. Inkontinensia urin refleks adalah pengeluaran urin yang tidak terkendali
pada saat volume kandung kemih tertentu tercapai.
6. Inkontinensia urin stress adalah kebocoran urin mendadak dan tidak dapat
dikendalikan karena aktivitas yang meningkatkan tekanan intra abdominal.
7. Inkontinensia urin urgensi adalah keluarnya urin tidak terkendali sesaat
setelah keinginan yang kuat untuk berkemih.
8. Retensi urin adalah pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.
Eliminasi Fekal
1. Inkontinensia fekal adalah perubahan kebiasaan buang air besar dari pola
normal yang ditandai dengan pengeluaran feses secara involunter (tidak
disadari).
2. Konstipasi adalah penurunan defekasi normal yang disertai dengan
pengeluaran feses sulit dan tidak tuntas serta kering dan banyak.
3. Diare adalah pengeluran feses yang sering, lunak dan tidak berbentuk.
V. Manifestasi Klinis
Eliminasi Urin
1. Penurunan kekuatan atau dorongan aliran urine, tetesan.
2. Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih secara lengkap,
dorongan dan frekuensi berkemih.
3. Nokturia, disuria, hematuria.
4. ISK berulang, riwayat batu.
Eliminasi Fekal
1. Rasa ingin BAB
2. Rasa sakit di bagian rectum
3. Nyeri pada abdomen
4. Rasa tidak nyaman pada daerah abdomen
5. Feses disertai darah
6. Terdengar bunyi timpani di abdomen
7. Iritasi pada daerah sekitar anus
8. Diperlukan tenaga yang besar saat mengedan
9. Distensi pada lambung dan usus
VI. Pemeriksaan Penunjang
1. Urinalis
Warna mungkin kuning, coklat gelap, berdarah, secara umum
menunjukkan SDM, SDP, kristal, asam urat, kalsium oksalat, serpihan,
mineral, bakteri, pus, PH mungkin asam (meningkatkan sistim dan batu
asam urat) atau alkalin (meningkatkan magnesium, fosfat amonium atau
batu kalsium fosfat).
2. Urine (24 jam)
Kreatinin, asam urat, kalsium, fofat, oksalat atau sistin mungkin
meningkat.
3. Kultur urine
Mungkin menunjukkan ISK (stapilococus auresus, proteus, klebsiola,
pseuodomonas)
4. BUN / Kreatinin Serum Urine
Abnormal (tinggi pada serum atau rendah pada urine) sekunder terhadap
tinggi batu obstruktif pada ginjal menyebabkan iskemia atau nekosis.
5. Pemeriksaan laboratorium urin dan feses.
VII. Penatalaksanaan
Eliminasi Urin
1. Mengawasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik
urine.
2. Menentukan pola berkemih normal pasien.
3. Menyelidiki keluhan kandung kemih penuh
4. Mengobservasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran
5. Memberikan posisi yang nyaman
6. Melakukan perawatan chateter
7. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
Eliminasi Fekal
1. Menganjurkan untuk banyak minum atau cair
2. Mengadakan pola kebiasaan untuk BAB
3. Pemberian katartik atau laksatif ( pencahar ) untuk melunakkan feses
sehingga merangsang peristaltic dan BAB
4. Pemberian enema
5. Pemberian makanan yang adekuat untuk mengurangi resiko eliminasi
(diet tinggi serat dan sari buah)
6. Memperbanyak kegiatan fisik atau aktivitas
VIII. Tinjauan Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1. Anamnesa
Hal-hal yang harus dikaji antara lain :
a) Pola defekasi
1) Frekuensi (berapa kali per hari/minggu?)
2) Apakah frekuensi itu dapat berubah?
3) Apa penyebabnya?
b) Perilaku defekasi
1) Apakah klien menggunakan laksatif?
2) Bagaimana cara klien mempertahankan pola defekasi?
c) Deskripsi feses
1) Warna
2) Tekstur
3) Bau
d) Diet
1) Makanan apa yang mempengaruhi perubahan pola defekasi
klien?
2) Makanan apa yang biasa klien makan?
3) Makanan apa yang klien hindari/pantang?
4) Apakah klien makan secara teratur?
e) Stress
1) Apakah klien mengalami stres yang berkepanjangan?
2) Kopingapa saja yang klien gunakan dalam menghadapi
stres?
3) Bagaimana respon klien terhadap stres? Positif/negatif?
f) Pembedahan atau penyakit menetap
1) Apakah klien pernah menjalani tindakan bedah yang dapat
mengganggu pola defekasi?
2) Apakah klien pernah menderita penyakit yang mempengaruhi
sistem gastrointestinalnya?
b. Pemeriksaan Fisik
1. Abdomen
Pemeriksaan dilakukan pada posisi telentang, hanya bagian abdomen saja
yang tampak.
a) Inspeksi. Amati abdomen untuk melihat bentuknya, simetrisitas, adanya
distensi atau gerak peristaltik.
b) Auskultasi. Dengarkan bising usus, lalu perhatikan intensitas, frekuensi,
dan kualitasnya.
c) Perkusi. Lakukan perkusi pada abdomen untuk mengetahui adanya
distensi berupa cairan, massa, atau udara. Mulailah pada bagian kanan
atas dan seterusnya.
d) Palpasi. Lakukan palpasi untuk mengetahui konsistensi abdomen serta
adanya nyeri tekan atau massa di permukaan abdomen.
2. Rektum dan anus
a) Inspeksi. Amati daerah perianal untuk melihat adanya tanda-tanda
inflamasi, perubahan warna, lesi, lecet, fistula, konsistensi, hemoroid.
b) Palpasi. Palpasi dinding rektum dan rasakan adanya nodul, massa, nyeri
tekan. Tentukan lokasi dan ukurannya.
3. Feses.
Amati feses klien dan catat konsistensi, bentuk, warna, bau, dan jumlahnya.
d. DiagnosaKeperawatan
Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
Gangguan Eliminasi Urin D.0040
Kategori : Fisiologis
Subkategori: Eliminasi
Definisi
Disfungsi eliminasi urin
Penyebab
1. Penurunan kapasitas kandung kemih
2. Iritasi kandung kemih
3. Penurunan kemampuan menyadari tanda-tanda gangguan kandung kemih
4. Efek tindakan medis dan diagnostic (mis operasi ginjal, operasi saluran
kemih, anestasi, dan obat-obatan)
5. Kelemahan otot pelvis
6. Ketidakmampuan mengakses toilet (mis imobilisasi)
7. Hambatan lingkungan
8. Outlet kandung kemih tidak lengkap (mis. anomaly saluran kemih
kongenital)
9. Imaturitas (pada anak usia <3 tahun)
Gejalah dan Tanda Mayor
Subjektif Objektif
1. Desakan berkemih (urgensi) 1. Distensi kandung kemih
2. Urin menetas 2. Berkemih tidak tuntas
3. Sering buah air kecil 3. Volume residu urin meningkat
4. Nokturia
5. Mengompol
6. Enuresis
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif Objektif
Tidak tersedia Tidak tersedia
Kondisi Klinis Terkait
1. Infeksi ginal dan saluran kemih
2. Hiperglikemi
3. Trauma
4. Kanker
5. Cedera/tumor/infeksi medulla spinalis
6. Neuropati diabetikum
7. Neuropati alkoholik
8. Stroke
9. Parkison
Retensi Urin D.0050
Kategori : Fisiologis
Subkategori: Eliminasi
Definisi
Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap
Penyebab
1. Peningkatan tekanan uretra
2. Kerusakan arkus refleks
3. Bllok spingter
4. Disfungsi neurologis (mis. trauma, penyakit saraf)
5. Efek agen farmakologis (mis. atropine, belladonna, psikotropik, antihistamin,
opiate)
Gejalah dan Tanda Mayor
Subjektif Objektif
1. Sensasi penuh pada kandung 1. Disuria/anuria
kemih 2. Distensi kandung kemih
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif Objektif
1. Dribbling 1. Inkontinensia berlebih
2. Residu urin 150 ml atau lebih
Kondisi Klinis Terkait
1. Benigna prostat hyperplasia
2. Pembengkakan perineal
3. Cedera medulla spinalis
4. Rektokel
5. Tumor di salurn kemih
e. Intervensi Keperawatan
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI )
Eliminasi Fakal (L. 04033)
Definisi
Proses defekasi normal yang disertai dengan pengeluaran feses mudah dan
konsistensi, frekuensi serta bentuk feses normal.
Ekspektasi Membaik
Kriteria Hasil
Menurun Cukup Sedang Cukup Meningk
Menurun Meningkat at
2 4
kontrol 1 3
pengeluara 5
n feses
Keluhan 1 2 3 4 5
defekasi
lama dan
sulit
Mengejan 1 2 3 4 5
saat
defekasi
Distensi 1 2 3 4 5
abdomen
teraba massa1 2 3 4 5
pada rektal
Urgency 1 2 3 4 5
Nyeri 1 2 3 4 5
abdomen
Kram 1 2 3 4 5
abdomen
Konsistensi1 2 3 4 5
feses
Frekuensi 1 2 3 4 5
defekasi
Peristaltic 1 2 3 4 5
usus
f. Implementasi Keperawatan
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI)
Manajemen Eliminasi Fakal ( I. 04151)
Definisi
Mengidentifikasi dan mengolah gangguan pola eliminasi fekat
Tindakan
Observasi
1. Identifikasi masalah usus dan menggunakan obat penghancur
2. Identifikasi pengobatan yang berefek pada kondisi gastrolntestinal
3. Monitor buang air besar (mis. Warna, frekuensi, konsistensi, volume)
4. Monitor tanda dan gejala diare, konstipasi, atau impaksi
Terapeutik
1. Berikan air hangat setelah makan
2. Jadwalkan waktu defekasi bersama pasien
3. Sediakan makanan tinggi serat
Edukasi
1. Jelaskan jenis makanan yang membantu meningkatkan keteraturan
peristaltic usus
2. Ajurkan mencatat warna, frekuensi, konsistensi, folume feses
3. Anjurkan meningkatkan aktifitas fisisk, sesuai toleransi
4. Ajurkan pengurangan asupan makanan yang meningkatkan pembentukan
gas
5. Ajurkan mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi serat
6. Ajurkan meningkatkan asupan cairan, jika tidak ada kontraindikasi
kolaborasi
7. Kolabrasi pemberian obat supositorial anal, jika perlu
g. Evaluasi
Evaluasi terhadap masalah kebutuhan eliminasi alvi dapat dinilai dengan :
1) Kebutuhan eliminasi pasien terpenuhi
2) Tanda-tanda vital pasien normal
3) Keadaan umum pasien normal
4) Turgor kulit dan bising usus normal
DAFTAR PUSTAKA
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2017 Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia. .Jakarta.DPP PPNI.
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2019 Standar Luaran
Keperawatan Indonesia. .Jakarta.DPP PPNI.
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia. 2018 Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia. .Jakarta.DPP PPNI.
Wartonah, dan Tarwoto.2016.Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses
Keperawatan.Jakarta :SalembaMedika.
Mubarak, Wahid Iqbal.2016.Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori & Aplikasi
dalam Praktik.Jakarta : EGC.
Hidayat, A. Aziz Alimul.2016.Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia-Aplikasi Konsep
dan Proses Keperawatan.Jakarta:SalembaMedika