0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan25 halaman

Asuhan Keperawatan untuk BBLR

Diunggah oleh

Karisa Citra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan25 halaman

Asuhan Keperawatan untuk BBLR

Diunggah oleh

Karisa Citra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN BBLR

(BERAT BADAN LAHIR RENDAH)

Diajukan untuk memenuhi tugas Keperawatan Anak

Dosen Pengampu: Andi Yudianto, S,Kep., Ns., M.Kep

Disusun oleh:

Tyaz Umzilatun Rohmah (7322010)

Karisa Citra Mukti (7322016)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG

TAHUN AJARAN 2024/2025


LEMBAR PENGESAHAN

Dengan ini kami menyatakan bahwa :

Kami mempunyai copy dari makalah ini, jika makalah yang dikumpulkan hilang atau
rusak.

Makalah ini adalah hasil karya kami sendiri dan bukan merupakan karya orang lain
kecuali yang telah dituliskan dalam referensi, tidak ada seorang pun yang
membuatkan makalah ini untuk kami.

Jika kemudian hari terbukti adanya ketidak jujuran akademik, kami bersedia
mendapatkan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.

Nama Nim Tanda Tangan


Tyaz Umzilatun Rohmah 7322010
Karisa Citra Mukti 7322016

Jombang, 29 Maret 2024

ii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrohim

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan izinnya kami
dpat menyelesaikan makalh yang berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN BBLR
(BERAT BADAN BAYI RENDAH)” sebagai pemenuhan tugas kelompok
presentasi.

Ucapan terimakasih kami tujukan kepada pihak yang telah mendukung


terselesaikan makalah ini. Terimah kasih pula kepada Bapak Andi Yudianto, S,Kep.,
Ns., M.Kep selaku dosen pengampu kami yang telah membimbing kami dalam proses
penyelesaian makalah ini.

Kami sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Saran dan
kritik yang membangun diharapkan demi karya yang lebih baik di masa mendatang.
Besar harapan kami semoga makalah ini membawa manfaat khususnya bagi kami dan
pembaca

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................................ii
KATA PENGANTAR..................................................................................................iii
DAFTAR ISI................................................................................................................iv
BAB I.............................................................................................................................1
PENDAHULUAN.........................................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................................1
B. Tujuan.................................................................................................................2
1. Tujuan Umum.................................................................................................2
2. Tujuan Khusus................................................................................................2
BAB II...........................................................................................................................3
PEMBAHASAN............................................................................................................3
A. Definisi..................................................................................................................3
B. Etiologi.................................................................................................................3
a. Faktor ibu............................................................................................................4
b. Faktor janin........................................................................................................5
c. Faktor plasenta....................................................................................................5
d. Faktor lingkungan..............................................................................................5
C. Patofisiologi (Nursing Pathway)........................................................................6
D. Klasifikasi BBLR...............................................................................................9
E. Tanda dan Gejala................................................................................................9
F. Manifestasi Klinis...............................................................................................9
G. Asuhan Keperwatan..........................................................................................10
BAB III........................................................................................................................17
PENUTUP...................................................................................................................17
A. Kesimpulan.........................................................................................................17
B. Saran....................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................18

iv
v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bayi BBLR premature adalah bayi yang lahir dengan berat badan
kurang atau sama dengan 2500 gram tanpa memandang masa gestasi dengan
usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Kondisi bayi seperti itu masih menjadi
masalah di dunia, karena penyebab timbulnya penyakit dan kematin pada bayi
yang baru lahir (Maryuni A, 2018). Data World Health Organiation (WHO,
2019) menunjukkan bahwa kelahiran premature di dunia mencapai 4,5 juta
bayi di seluruh kelahiran bayi, sedangkan kejadian BBLR adalah 15,5%,
yang berate sekitar 20,6 juta bayi, 296,5% diantaranya negara negara
berkembang.

Menurut survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI 2018)


menunjukkan angka kematian neonatal sebanyak 15/1000 kelahiran hidup. Di
Indonesia sebanyak 30,3% kematian neonatal disebabkan oleh bayi dengan
berat badan lahir rendah (BBLR) dan prematur. Angka kematian Neonatal
(AKN) merupakan jumlah bayi umur kurang dari 28 hari (0-28 hari) per 1000
kelahiran hidup dalam kurun waktu satu tahun. Maturitas sistem organ terjadi
selama periode trimester terakhir kehamilan. Oleh karena itu bayi prematur
harus beradaptasi diluar uterin dengan organ yang belum sempurna. Adanya
BBLR sangat membutuhkan perawatan yang baik yaitu menjaga stabilitas
suhu tubuh, terutama pada bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 34 minggu
(Zubaidah et al., 2013). BBLR sangat beresiko mengalami ketidak efektifan
pola nafas karena keadaan dimana inspirasi atau ekspirasi tidak memberikan
ventilasi yang adekuat. Keadaan ini disebabkan oleh adanya penyempitan
jalan nafas atau imaturnitas vaskuler paru bayi itu sendiri yang ditandai
dengan gejala sesak nafas, adanya otot bantu pernafasaan, fase ekspirasi
memanjang, dan pola nafas yang abnormal (Silviati etal., 2021).

1
Bayi dengan BBLR dapat mengalami banyak gangguan seperti
ketidakefektifan pola nafas, termogulasi, beresiko mengalami infeksi, dan
lainnya. Oleh sebab itu dibutuhkan asuhan keperawatan yang dilakukan secara
komprehensif. Kondisi BBLR perlu penanganan yang serius, karena pada
kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami gangguan pada nafas, dan
belum sempurnanya pembentukan organorgan tubuh (Larasanti, 2020).
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah ini dianggap menarik, perlu dan
penting untuk diteliti. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui asuhan keperawatan pada By. P dengan gangguan Bayi Berat
Lahir, meliputi tahap pengkajian hingga evaluasi keperawatan.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Agar mahasiswa mampu melaksanakan asuhan keperawatan


dengan kasus berat badan lahir rendah (BBLR).

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu memberikan Asuhan Keperawatan tentang


berat badan lahir rendah (BBLR).
b. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi berat badan lahir
rendah (BBLR), etiologi, tanda dan gejala pada kasus tersebut.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi

Bayi BBLR prematur adalah bayi yang lahir dengan berat badan
kurang atau sama dengan 2500 gram tanpa memandang masa gestasi dengan
usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Kondisi bayi seperti itu masih menjadi
masalah di dunia, karena penyebab timbulnya penyakit dan kematian pada
bayi yang baru lahir (Maryuni A, 2018).

Maturitas sistem organ terjadi selama periode trimester terakhir


kehamilan. Oleh karena itu bayi prematur harus beradaptasi diluar uterin
dengan organ yang belum sempurna. Adanya BBLR sangat membutuhkan
perawatan yang baik yaitu menjaga stabilitas suhu tubuh, terutama pada bayi
yang lahir sebelum usia kehamilan 34 minggu (Zubaidah et al., 2013).

BBLR sangat beresiko mengalami ketidakefektifan pola nafas karena


keadaan dimana inspirasi atau ekspirasi tidak memberikan ventilasi yang
adekuat. Keadaan ini disebabkan oleh adanya penyempitan jalan nafas atau
imaturnitas vaskuler paru bayi itu sendiri yang ditandai dengan gejala sesak
nafas, adanya otot bantu pernafasaan, fase ekspirasi memanjang, dan pola
nafas yang abnormal (Silviati et al., 2021).

Bayi dengan BBLR dapat mengalami banyak gangguan seperti


ketidakefektifan pola nafas, termogulasi, beresiko mengalami infeksi, dan
lainnya. Oleh sebab itu dibutuhkan asuhan keperawatan yang dilakukan secara
komprehensif. Kondisi BBLR perlu penanganan yang serius, karena pada
kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami gangguan pada nafas, dan
belum sempurnanya pembentukan organ-organ tubuh (Larasanti, 2020).

B. Etiologi

3
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur.
Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain lain. Faktor plasenta
seperti penyakit vasukuler, kehamilan ganda/kembar, serta faktor janin juga
merupakan faktor penyebab terjadinya BBLR (Pantiawati, 2010). BBLR
dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

a. Faktor ibu

1. Penyakit.
a. Toksemia gravidium, merupakan segala penyakit yang timbul
pada ibu hamil dengan tanda-tanda hipertensi, edema dan
proteinuria sampai pada tahap terparah yaitu kejang yang
terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu
pertama setelah persalinan.
b. Perdarahan antepartum
c. Trauma fisik atau psikologis
d. Nefritis akut
e. Diabetes mellitus
2. Usia ibu
a. Usia ibu < 20 tahun
b. Usia ibu > 35 tahun
c. Multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat
3. Keadaan Sosial
a. Golongan sosial ekonomi rendah
b. Perkawinan yang tidak sah
4. Sebab lain
a. Ibu yang perokok: rokok mengandung ribuan zat racun yang
akan berpengaruh terhadap kesuburan, zat-zat tersebut dapat
menyebabkan pada ibu hamil janin akan kekurangan suplau
oksigen dan nutrisi.

4
b. Ibu yang meminum alkohol : alkohol berpengaruh buruk pada
kandunganyang akan masuk ke janin melalui aliran arah yang
dapat mengakibatkan keterbelakangan mental.
c. Ibu pecandu narkotik

b. Faktor janin

1. Hidramnion : kondisi dimana jumlah air air ketuban mengalami


kelebihan dalam batas normal.
2. Kehamilan ganda/kembar, dapat menyebabkan BBLR karena pada
kehamilan kembar kenaikan berat badan lebih kecil, mungkin karena
regangan yang berlebihan menyebabkan peredaaran darah plasenta
mengurang sehingga suplai kdarah ke janin kurang.
3. Kelainan kromosom

c. Faktor plasenta

1. Penyakit vaskuler
2. Malformasi
3. Infeksi kongenital (misal : rubella)
4. Tumor
5. Plasenta previa : kondisi ketika sebagian atau seluruh plasenta
plasenta menutupi sebagai atas seluruh rahim

d. Faktor lingkungan

1. Tempat tinggal dataran tinggi karena dalam mendapatkan oksigen


kurang sehingga suplay oksigen ke janin kurang.
2. Radiasi : pengaruh sinar rontgen atau radiasi terhdap kehamilan
adalha pada trimester pertama akan menimbulkan resiko kecacatan
janin, retardasi mental pada janin, abortus dan persalinan prematurus.
3. Zat-zat racun: diantaranya karbonmonoksida, sianida dan nikotin.
Nikotin mengurangi gerakan pernapasan fetus dan juga menyebabkan

5
kontraksi pembuluh arteri pada plasenta dan tali pusat sehingga
mengurangi jumlah oksigen yang sampai ke janin.

Selain itu BBLR juga disebabkan oleh usia kehamilan yang


pendek (prematuritas), IUGR (Intra Uterin Growth Restriction) dalam
bahasa Indonesia disebut Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT). Kedua
penyebab ini dipengaruhi oleh faktor risiko seperti faktor ibu, plasenta,
janin dan lingkungan. Faktor risiko tersebut menyebabkan kurangnya
pemenuhan nutrisi pada janin selama masa kehamilan ( Sujianti, 2018).

C. Patofisiologi (Nursing Pathway)

Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan


yang belum cukup bulan (prematur) disamping ini juga disebabkan
dismaturitas. Artinya bayi lahir cukup cukup usia bulan (usia kehamilan 38
minggu), tetapi berat badan lahirnya lebih kecil dari masa kehamilannya,
yaitu tidak mencapai mencapai 2500 gram. Masalah ini terjadi karena
adanya gangguan gangguan pertumbuhan bayi sewaktu dalam kandungan
yang disebabkan oleh penyakit ibu seperti adanya kelainan plasenta, infeksi,
hipertensi dan keadaan-keadaan lain yang menyebabkan suplay makanan ke
bayi menjadi berkurang (Nurarif, 2015).
BBLR ini diakibatkan dari beberapa faktor yaitu ibu, plasenta dan
janin. Faktor ibu seperti infeksi, usia ibu kurang dari 20 tahun, perdarahan
antepartum dan multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat. Keadaan
sosial ekonomi keluarga yang rendah menjadi salah satu faktor pemenuhan
nutrisi yang kurang selama kehamilan juga dapat mengakibatkan berat badan
lahir rendah. Kebiasaan merokok juga menjadi penyebab bayi berat lahir
rendah. Janin kembar, hidramnion dan kelainan janin menjadi faktor
penyebab dari janin, faktor plasenta akan mengakibatkan dinding otot rahim
lemah sehingga mengakibatkan bayi berat lahir rendah. BBLR juga memiliki
faktor maternal yang disebabkan oleh kelainan premature atau retardasi
pertumbuhan intrauterine termasuk kelainan BBLR sebelumnya status sosial

6
ekonomi rendah, tingkat pendidikan maternal yang rendah, tidak ada
pemeriksaan antenatal, usia matenal kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35
tahun, interval antar kehamilan pendek, perokok, pengguna alkohol dan obat
terlarang, stress fisik (misalnya berdiri atau berjalan berlebihan) atau
psikologis (sedikitnya dukungan sosial), tidak menikah, berat badan sebelum
hamil rendah 9<45 kg atau 100 kg lebih) dan peningkatan berat badan
selama hamil buruk (Mitayani, 2009).
Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin
tidak mengalami hambatan dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan
berat badan lahir normal. Kondisi kesehatan yang baik, sistem reproduksi
normal, tidak menderita sakit dan tidak ada gangguan gizi pada masa
sebelum hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan
lebih sehat dari pada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu
dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi
BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang tinggi, terlebih lagi bila ibu
menderita anemia. Ibu hamil umumnya mengalami deplesi atau penyusutan
besi sehingga hanya memberi makan sedikit besi kepada janin yang
dibutuhkan untk metabolisme besi yang normal. Kekeurangan zat besi dapat
menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan janin baik sel
tubuh maupun sel otak. Anemia gizi dapat mengakibatkan kematian janin
didalam kandungan, abortus, cacat bawaan dan BBLR. Hal ini menyebabkan
morbiditas dan mortalitas ibu dan kematian perinatal secara bermakna lebih
tinggi sehingga kemungkinan melakukan bayi BBLR dan prematur juga
lebih besar (Nelson, 2010).

7
Pathway
Prematuritas

Factor ibu: Factor janin: Factor lingkungan:


Factor plasenta:
Pendarahan Hidramnion
Plasenta previa
antepartum Kehamilan ganda Radiasi
Kehamilan ganda
Kelainan kromosom

Usia <20 th

BBLR

Pusat pengatur panas Pengaturan pernafasan Otak


Gangguan
belum sempurna belum sempurna
metabolisme dan
perubahan asam basa

Imaturitas
Terjadi perubahan Berat badan < 2500 sentrum vital
suhu tidak stabil gram
Asidosis
respiratorik
Reflek menelan
RESIKO Fungsi organ belum tidak sempurna
TERMOGULASI baik
Gangguan
perfusi ventilasi
Intake nutrisi
Prematuritas tidak adekuat

8
Asupan gizi
Penurunan daya tahan Bayi tampak
kurang
pucat
GANGGUAN
PERTUKARAN
GAS
RESIKO INFEKSI Sel-sel
kekurangan
nutrisi

Kerusakan sel

Penurunan BB

DEFISIT NUTRISI

9
D. Klasifikasi BBLR

Berdasarkan berat badan lahir, BBLR dibagi menjadi tiga yaitu:


a. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat
badan kurang dari 2500 gr.
b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) atau Very Low Birth Weight
(VLBW) adalah bayi yang lahir dengan berat badan antara 1000-1500
gr.
c. Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR) adalah bayi yang lahir
dengan berat badan kurang dari 1000 gr.

E. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala berat badan lahir rendah menurut Marmi K. (2015) yaitu:
a. Berat kurang atau sama dengan 2500 gram
b. Panjang kurang dari 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar
kepala kurang dari 33 cm, kepala lebih besar.
c. Kulit tipis, transparan, lambut lanugo banyak, lemak kurang
d. Kepala tidak mampu tegak, pernafasan 40 – 50x/menit, pernapasan
tidak teratur, Nadi 100-140x/menit
e. Genetalia belum sempurna, labio minora belum tertutup oleh labio
mayora, klitoris menonjol (bayi perempuan) dan testis belum turun ke
dalam skrotum, pigmentasi pada skrotum kurang (bayi laki-laki)
f. Tonus otot lemah sehingga bayi kurang aktif dan pergerakan lemah,
fungsi syaraf yang belum atau tidak efektif dan tangisnya lemah.

F. Manifestasi Klinis

Menurut Manggiasih & Jaya (2016) manifestasi klinik BBLR adalah :


a. Berat badan kurang dari 2500 gram.
b. Panjang kurang dari 45 cm.
c. Lingkar dada kurang dari 30 cm.

10
d. Lingkar kepala kurang dari 33 cm.
e. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
f. Kepala lebih besar.
g. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.
h. Otot hipotonik lemah.
i. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea.
j. Ekstermitas : paha abduksi, sendi lutut/kaki fleksi lurus.
k. Kepala tidak mampu tegak.

G. Asuhan Keperwatan

1. Pengkajian, meliputi:
A. Biodata:
a. Identitas bayi: Nama, Jenis kelamin, BB, PB, LD, LK
b. Identitas orangtua: Nama, umur, pekerjan, pendidikan, alamat
B. Riwayat Kesehatan
C. Riwayat antenatal
D. Riwayat kompliksi natal
E. Riwayat postnatal
F. Pemeriksaan fisik, meliputi inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi.
G. Pola – pola kebisaan sehari-hari, meliputi pola nutrisi, pola eliminasi,
latar belakang sosio budaya dan hubungan psikologis
2. Diagnose keperawatan SDKI

NO Diagnosa Definisi
1 Risiko termoregulasi Beresiko mengalami kegagalan
(D.0148) mempertahankan suhu tubuh
normal
2 Resiko infeksi (D.0142) Beresiko mengalami peningkatan
terserang organisme patogenik
3 Gangguan pertukaran gas Kelebihan atau kekurangan
(D.0003) oksigenasi dan atau eleminasi

11
karbondioksida pada membrane
alveolus-kapiler
4 Defisit nutrisi (D.0019) Asupan nutrisi tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan
metabolisme

3. Intervensi/Perencanaan SLKI, SIKI

NO Diagnosa SLKI SIKI


1 Resiko Setelah dilakukan Regulasi temperatur
termoregulasi intervensi keperawatan (I.14578)
(D.0148) selama 3x24 jam Observasi
diharapkan termoregulasi  Monitor suhu
membaik dengan kriteria tubuh
hasil (L.14134):  Monitor dan
 Menggigil catat tanda dan
menurun gejala
 Suhu tubuh hipotermia atau
membaik hipertermia
 Suhu kulit  Monitor tekanan
membaik darah, nadi dan
frekuensi nafas
Terapeutik
 Pasang alat
pemanas suhu
kontinyu
 Hangatkan
terlebih dahulu
bahan-bahan
yang akan

12
menyentuh bayi
 Gantikan
pakaian atau
linen yang basah
 Lakukan
penghangatan
pasif, aktif dan
aktuf internal
Edukasi
 Jelaskan cara
pencegahan
exhaustion dan
heart stroke
 Jelaskan
pencegahan
hipotermi
Kolaborasi
 Kolaborasi
pemberian
antipiretik

2 Resiko Setelah dilakukan Pencegahan Infeksi


infeksi intervensi keperawatan (I.14539)
(D.0142) selama 3 x 24 jam, maka Terapeutik
tingkat infeksi (L.14137), 1. Batasi jumlah
dengan kriteria hasil: pengunjung
1. Kemerahan menurun 2. Cuci tangan sebelum
dan sesudah kontak
dengan pasien dan
lingkungan pasien

13
3. Pertahankan teknik
aseptic pada pasien
berisiko tinggi
Edukasi
1. Anjurkan
meningkatkan
asupan nutrisi
2. Anjurkan
meningkatkan
asupan cairan
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
imunisasi, jika perlu
3 Gangguan Setelah dilakukan Pemantauan respirasi
pertukaran intervensi keperawatan (I.01014)
gas (D.0003) selama 3 x 24 jam, Observasi
diharapkan pertukaran gas 1. monitor frekuensi
meningkat (L.01003), irama kedalaman dan
dengan kriteria hasil: upaya nafas
1. Dipsnua menurun 2. Monitor pola nafas
2. Bunyi nafas tambahan 3. Monitor kemampuan
menurun batuk efektif
3. PCO² membaik 4. Monitor adanya
sumbatan jala nafas
5. auskultasi jalan nafas
6. Monitor saturasi
oksigen
Terapeutik
1. Atur interval
pemantauan

14
respirasi sesuai
kondisi pasien
dokumentasikan
hasil pemantauan
Edukasi:
1. Jelaskan tujuan dan
prosedur
pemantauan
2. Informasikan hasil
pemantauan jika
perlu
4 Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen nutrisi
(D.0019) intervensi keperawatan (I.03119)
selama 3 x 24 jam, Observasi
diharapkan status nutrisi 1. Identifikasi status
bayi membaik nutrisi
(L.03030), dengan 2. Monitor berat
kriteria hasil: badan
1. Berat badan menigkat 3. Monitor hasil
2. Panjang badan pemeriksaan
meningkat laboratorium

5. Implementasi

No Implementasi
1
 Memonitor suhu tubuh
 Memonitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau

15
hipertermia
 Memonitor tekanan darah, nadi dan frekuensi nafas
 Memasangkan alat pemanas suhu kontinyu
 Menghangatkan terlebih dahulu bahan-bahan yang akan
menyentuh bayi
 Menggantikan pakaian atau linen yang basah
 Melakukan penghangatan pasif, aktif dan aktif internal
 Menjelaskan cara pencegahan exhaustion dan heart stroke
 Menjelaskan pencegahan hipotermi
 Mengkolaborasikan pemberian antipiretik
2 1. Membatasi jumlah pengunjung
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
dan lingkungan pasien
3. Mengkolaborasi pemberian imunisasi, jika perlu
3 1. Memonitor tanda dan gejala infeksi local dan sistematik
2. Membatasi jumlah pengunjung
3. Memonitor saturasi oksigen
4. Melakukan kolaborasi pemberin obat antimotilitas (mis.
Loperamide, difenoksilat)
4 1. Mengidentifikasi status nutrisi
2. Memonitor berat badan

6. Evaluasi

No Diagnosa Evaluasi
1 Resiko S: Anak tidak mengeluh kedinginan dan tidak ada
termoregulasi demam
(D.0148) O: suhu tubuh normal (36,5-37,5)
Pasien tidak menggigil
Orangtua pasien mengerti pencegahan hipotermia

16
A: Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan
2 Resiko infeksi S: Anak mampu bertoleransi dengan aktifitas
(D.0142) normal
O: Warna kulit normal
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan
3 Gangguan S: ibu mengatakan pernafasan anaknya membaik
pertukaran gas O: pasien terlihat pernafasannya normal
(D.0003) A: masalah gangguan pertukaran gas teratasi
P: intervensi dihentikan
4 Defisit nutrisi S: ibu pasien mengatakan berat badan pasien
(D.0019) sudah membaik
O: pasien tercukupi nutrisinya
A: masalah defisit nutrisi nutrisi teratasi
P: intervensi dihentikan

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah


kesehatan yang sering dialami pada sebagian masyarakat yang di tandai
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. BBLR yang tidak ditangani dengan
baik dapat mengakibatkan timbulnya masalah pada semua sistem organ tubuh
meliputi gangguan pada pernafasan (aspirasi meconium, asfiksia neonatorum),
gangguan pada sistem pencernaan (lambung kecil), gangguan sistem
perkemihan (ginjal belum sempurna), gangguan sistem persyarafan (respon
rangsangan lambat). Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami
gangguan mental dan fisik serta tumbuh kembang.

B. Saran

18
Diharapkan setelah dirawat bayi dapat:
1. Berat badan naik mencapai normal, daya hisap kuat, tidak terjadi
infeksi dan hipotermi, maupun resiko infeksi.
2. Kepada bidan dan perawat diharapkan dapat meningkatkan proses
keperawatan pada BBLR dengan memepertahankan teknik aseptic
dalam setiap melakukan tindakan. Kepada mahasiswa diharapkan
dapat menganalisis dan menegakkan diagnosa kebidanan sesuai
dengan prioritas masalah yang ada, menetapkan intervensi dan
mengevaluasi tindakan yang dilakukan pada BBLR.

DAFTAR PUSTAKA

Goeteng, R. R., & Purbalingga, T. (2021).


Asuhan Keperawatan Ketidakefektifan Pola Nafas pada Bayi Ny . U dengan
Asfiksia di Ruang Perinatal. 1170–1177.
Junina Sembiring. (2019). Asuhan Neonatus, Bayi, Balita Anak Pra Sekolah. CV.
Budi Utama.

Karyuni, P. E., & Meiliya, E. (2007). Buku Saku: Manajemen Bayi Baru Lahir (Vol.
1).

Caine, 1990, The effect of music on the selected stress behaviors, weight, caloric and
formula intake, and length of hospital stay of premature and low birth weight
neonatus in newborn intensive care unit. diunduh tanggal 10 Maret 2016 dari:
http://www.esnips.com/com/doc/9178bb84-2e91-4e5a-a7d0
cf8522bb8f48/effecr-of-music.

19
WHO, UNICEF, penulis. berat lahir rendah: perkiraan negara, regional dan
global. 2004. [ Google Cendekia ]

WHO/UNICEF, penulis. Prematuritas dan Berat Badan Lahir


Rendah. 2009. [ Google Cendekia ]

Zeleke BM, Zelalem M, Mohammed N. Insiden dan korelasi berat badan lahir rendah
di rumah sakit rujukan di NorthWest Ethiopia. Jurnal Medis Pan
Afrika. 2012; 12 :4. [ Artikel gratis PMC ] [ PubMed ] [ Google Cendekia ]

Teklehaimanot N, Hailu T, Assefa H. Prevalensi dan faktor yang berhubungan


dengan berat badan lahir rendah di Distrik Axum dan Laelay Maichew,
Ethiopia Utara: Sebuah studi cross sectional komparatif. Jurnal Internasional
Ilmu Gizi dan Pangan. 2014; 3 (6):560–566. [ Beasiswa Google ]

Buku : SDKI, SLKI, SIKI

20

Anda mungkin juga menyukai