0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan42 halaman

Laporan Kasus Neonatus Fix

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di ruang neonatus rumah sakit. Makalah ini menjelaskan konsep dasar BBLR seperti definisi, etiologi, tanda dan gejala, serta penatalaksanaannya. Selain itu, makalah ini juga menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada BBLR yang meliputi pengkajian, diagnosa, dan intervensi keperawatan."

Diunggah oleh

Fadhilla Elsa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan42 halaman

Laporan Kasus Neonatus Fix

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) di ruang neonatus rumah sakit. Makalah ini menjelaskan konsep dasar BBLR seperti definisi, etiologi, tanda dan gejala, serta penatalaksanaannya. Selain itu, makalah ini juga menjelaskan konsep asuhan keperawatan pada BBLR yang meliputi pengkajian, diagnosa, dan intervensi keperawatan."

Diunggah oleh

Fadhilla Elsa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BY. NY.

A DENGAN BBLR
`DI RUANGAN NEONATUS RSUD KOTA PRABUMULIH

Disusun Oleh :

Namira Gustiany Putri Mayana

PO7120120027

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2022/2023
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya,
serta nikmat sehat sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Pada By. Ny. A Dengan Bblr Di Ruangan Neonatus RSUD Kota
Prabumulih” dengan baik.

Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai
pihak, kami mengucapkan terima kasih dan kami telah berusaha untuk memberikan yang
terbaik, walaupun didalam pembuatannya kami mengalami kesulitan, karna keterbatasan
kemampuan dan ilmu yang penulis miliki. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan, oleh karna itu penulis membutuhkan saran dan kritik yang
membangun saat penulis butuhkan agar dapat memperbaikinya di masa yang akan datang.
Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi temanteman sekalian.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Palembang, Juli 2022

Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 5
2.1. Konsep Dasar .................................................................................................... 5
2.1.1 Definisi ...................................................................................................... 5 2.1.2
Etiologi ....................................................................................................... 5
2.1.3 Tanda dan Gejala ........................................................................................ 6
2.1.4 Pathway ...................................................................................................... 7 2.1.5
Manifestasi Klinis...........................................................................................8
2.1.6 Komplikasi ................................................................................................. 8
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang .............................................................................. 8
2.1.8 Penatalaksanaan..............................................................................................8
2.2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ............................................................... 9
2.2.1 Pengkajian .................................................................................................. 9
2.2.2 Diagnosa Keperawatan.............................................................................. 11
2.2.3 Intervensi Keperawatan ............................................................................. 12
BAB III TINJAUAN KASUS ..................................................................................... 18
3.1 Pengkajian ......................................................................................................... 18
3.3 Analisa Data ...................................................................................................... 26
3.4 Diagnosa Keperawatan ...................................................................................... 27
3.5 Intervensi Keperawatan ..................................................................................... 28
3.6 Catatan Perkembangan ...................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................39

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang baru lahir dengan berat badan <
2500 gram. BBLR merupakan salah satu indikator untuk melihat bagaimana status
kesehatan anak, sehingga sangat berperan penting untuk memantau bagaimana status
kesehatan anak sejak dilahirkan, apakah anak tersebut status kesehatannya baik atau tidak.
BBLR menjadi masalah kesehatan masyarakat karena merupakan salah satu penyebab
tingginya angka kematian bayi (AKB).

Bayi dengan berat lahir rendah merupakan salah satu akibat dari ibu hamil yang
menderita kurang energi kronis sehingga akan berdampak kepada anaknya. Dampak yang
dialami anak tidak hanya jangka pendek seperti ikterus atau gangguan pernafasan, namun
akan berdampak jangka panjang baik pada psikis maupun fisik anak seperti ganngguan
perkembangan, gangguan bicara dan komunikasi, gangguan belajar, kelainan bawaan dan
sebagainya

BBLR disebabkan oleh usia kehamilan yang pendek (prematuritas),dan IUGR (Intra
Uterine Growth Restriction) yang dalam bahasa Indonesia disebut Pertumbuhan Janin
Terhambat (PJT) atau keduanya. Kedua penyebab ini dipengaruhi oleh faktor risiko, seperti
faktor ibu, plasenta,janin dan lingkungan. Faktor risiko tersebut menyebabkan kurangnya
pemenuhan nutrisi pada janin selama masa kehamilan. Bayi dengan berat badan lahir
rendah umumnya mengalami proses hidup jangka panjang yang kurang baik. Apabila tidak
meninggal pada awal kelahiran, bayi BBLR memiliki risiko tumbuh dan berkembang lebih
lambat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Selain gangguan
tumbuh kembang, individu dengan riwayat BBLR mempunyai faktor risiko tinggi untuk
terjadinya hipertensi, penyakit jantung dan diabetes setelah mencapai usia 40 tahun (Juaria
dan Henry, 2014) .

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep dasar BBLR?

2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada BBLR?

3. Bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada BBLR?

3
1.3 Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menerapkan asuhan keperawatan pada Bayi Baaru Lahir Rendah
(BBLR)

b. Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi BBLR
b. Mengetahui etiologi BBLR
c. Mengetahui apa saja tanda dan gejala BBLR
d. Mengetahui manifestasi klinis yang terjadi BBLR
e. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada BBLR
f. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada BBLR
g. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan BBLR

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Penyakit
A. Definisi
Berat bayi lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang daro 2500 gram pada waktu lahir
(sofian amru, 2012). Berat yang lahir dengan berat lahir < 2500 gram tanpa memandang masa
kehamilan . berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir (Ratna Dewi
Pudiastuti, 2015).

Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bila berat badannya kurang dari 2500 gram
(sampaidengan 2499 gram). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu
meredamtekanan lingkungan yang baru sehingga dapat mengakibatkan pada terhambatnya
pertumbuhandan perkembangan, bahkan dapat menggangu kelangsungan hidupnya

(Prawirohardjo, 2006).

B. Klasifikasi
a. Klasifikasi BBLR berdasarkan umur kehamilan.
1) Bayi premature/kurang bulan ( usia kehamilan < 37 minggu ) sebgain bayi kurang bulan
belum siap hidup di luar kandungan dan mendapatkan kesulitan untuk mulai bernapas ,
menghisap, melawan infeksi dan menjaga tubuh tetap hangat.

2) Bayi cukup bulan ( usia kehamilan 38-42 minggu ) 3) Bayi lebih bulan ( usia kehamilan >
42 minggu )
b. Klasifikasi BBLR Berdasarkan berat badan
1) Bayi berat badan lahir amat sangat rendah/ekstrim rendah ( bayi lahir berat badan < 1000
gram )

2) Bayi berat badan lahir sangat rendah ( bayi lahir berat badan < 1500 gram 3) Bayi berat
badan lahir cukup rendah ( bayi berat badan 1501- 2500 gram ) (Ratna Dewi Pudiastuti,
2015)

C. Etiologi
Menurut sudarti dan afroh fauziah 2013 Etiologi pada BBLR yaitu : a. Factor ibu : riwayat
kehamilan tidak baik, paritas, anemia , pendarahan anterpertum , anemia , preeklamsi berat ,
kebiasaan tidak baik seperti merokok dan minum alcohol . b. Factor plasenta : plansenta previa ,
solusio plasenta , ketuban pecah dini , kehamilan ganda . c. Factor janin : gawat janin , infeksi janin
kronik , kelainan kromosom (Sudarti & Fauziah, 2013).

D. Tanda Dan Gejala


Tanda dan gejala berat badan lahir rendah menurut Marmi K. (2015) yaitu: a.
Berat kurang atau sama dengan 2500 gram

b. Panjang kurang dari 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33
cm, kepala lebih besar

c. Kulit tipis, transparan, lambut lanugo banyak, lemak kurang


d. Kepala tidak mampu tegak, pernafasan 40 – 50x/menit, pernapasan tidak teratur, Nadi
100140x/menit

6
E. Pathway

7
F. Manifestasi Klinis
Menurut tim adaptasi 2009 dalam (Nurarif & Hardhi Kusuma, 2016) a.
Sebelum bayi lahir

1) Pada anamesa sering dijumpai adanya riyawat abortus , partus premature dan lahir mati
2) Pergerakan janin yangpertama terjadi lebih lambat , gerakan janin lebih lambat walaupun
kehamilannya sudah agak lanjut

3) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya sering
dijumpai kehamilan oligradmnion gravidarum atau pendarahan antrepretum

4) Pembesaran uterus tidak sesuai tuannya kehamilan


b. Setelah bayi lahir
1) Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin .
2) Bayi premature yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu .
G. Komplikasi
Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain : a.
Hipotermi

b. Hipoglikemi
c. Gangguan cairan dan elektrolit
d. Hiperbilirubinemia
e. Sindroma gawat nafas
f. Paten duktus arteriosus
g. Infeksi
h. Perdarahan intraventrikuler
i. Anemia
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat di lakukan radiologi , thorak foto,baby gram , USG , gula
darah , analisa gas darah , elektrolit darah dan darah rutin (Sudarti & Fauziah, 2013).

I. Penatalaksanaan
Perawatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah menurut Nurafif & Hardi (2016) a.
Pengaturan suhu

Untuk mencegah hipotermi,diperlukan lingkungan yang cukup hangat dan istirahat


kosumsi O2 yang cukup.bila dirawat dalam inkubator maka suhunya untuk bayi dengan BB 2
kg adalah 35 dan untuk bayi dengan BB 2-2,5 kg adalah 34. Bila tidak ada inkubator,pemanasan
8
dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol-botol hanyat yang dibungkus
dengan handuk atau lampu petromak didekat tidur bayi.bayi dalam inkubator hanya dipakaikan
popok untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum,warna kulit,pernafasan,kejang
dan sebagainya sehingga penyakit dapat dikenali sedini mungkin

b. Pengaturan makanan/nutrisi
Prinsip utama pemberian makanan pada bayi prematur adalah sedikit demi sedikit secara
perlahan-lahan dan hati-hati.pemberian makanan dini berupa glukosa,ASI atau PASI
mengurangi resiko hipoglikemia,dehidrasi atau hiperbilirubinia.bayi yang daya isapnya baik dan
tanpa sakit berat dapat dicoba minum melalui mulut.umumnya bayi dengan berat kurang dari
1500 gram memerlukan minum pertama dengan pipa lambung karena belum adanya koordinasi
antara gerakan menghisap dengan menelan.

Dianjurkan untuk minum pertama sebanyak 1 ml larutan steril untuk bayi dengan berat
kurang dari 1000 gram,2-4 ml untuk bayi dengan berat antara 1000-1500 gram dan 5-10 ml
untuk bayi dengan berat lebih dari 1500 gram. Apabila dengan pemberian makanan pertama bayi
tidak mengalami kesukaran,pemberian ASI/PASI dapat dilanjutkan dalam waktu 12-48 jam.

c. Mencegah infeksi
Bayi premature mudah terserang infeksi.hal ini disebabkan karena daya tubuh bayi terhadap
infeks kurang antibody relatif belum terbentuk dan day9 fagositosis serta reaksi terhadap
peradangan belum baik.prosedur pencegahan infeksi adalah sebagai berikut :

1) Mencuci tangan sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir selama 2 menit sebelum
masuk keruangan rawat bayi.

2) Mencuci tangan dengan zat anti septic/ sabun sebelum dan sesudah memegang seorang
bayi

3) Mengurangi kontaminasi pada makanan bayi dan semua benda yang berhubungan
dengan bayi

4) Membatasi jumlah bayi dalam satu ruangan


5) Melarang petugas yang menderita infeksi masuk ke ruang bayi.

9
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Pada pasien BBLR, angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan
oleh ibu-ibu dengan usia 35 tahun, selain itu jarak kehamilan yang terlalu pendek (kurang
dari 1 tahun) juga mempengaruhi terjadinya BBLR (Depkes RI, 2010).

b. Riwayat Keperawatan
1) Keluhan Utama
2) Keluhan utama didapatkan setelah bayi lahir dengan berat badan sama dengan atau kurang
dari 2.500 gram, panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm

3) Riwayat penyakit saat ini : Ibu bayi datang ke RS dengan keluhan Sebelum lahir :

(1) Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan, 40


(2) Pergerakan janin lambat
(3) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai yang seharusnya.
Setelah lahir :
(1) Berat badan ≤ 2500 gram.
(2) Panjang kurang dari 45 cm.
(3) LD < 30 cm.
(4) LK < 33 cm.
(5) Pernafasan tidak teratur dapat terjadi apnea. 4) Riwayat penyakit yang
pernah di derita ibu

(1) Toksemia gravidarum


(2) Perdarahan antepartum
(3) Trauma fisik dan psikologis
(4) Nefritis akut
(5) Diabetes Mellitus 5) Riwayat Persalinan

(1) Pre natal


• Komplikasi kehamilan (ibu menderita Toksemia gravidarum, perdarahan
antepartum, trauma fisik dan psikologis, nefritis akut, Diabetes Mellitus)
Riwayat penggunaan obat selama ibu hamil seperti pengguna narkotika.

• Manifestasi klinis ibu :

10
 Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan,
 Pada anamneses sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus
prematurus, dan lahir mati.

 Pergerakan janin lebih lambat


(2) Riwayat Natal
Setelah bayi lahir kelainan fisik yang mungkin terlihat, nilai APGAR pada 1-5
menit, 0-3 menunjukkan kegawatan yang parah, 4-6 kegawatan sedang, dan 710
normal, dan tanda-tanda lain seperti :

(1) Berat badan ≤ 2500 gram (2) Panjang


kurang dari 45 cm.

(3) LD < 30 cm.


(4) LK < 33 cm.
(5) Umur kehamilan < 37 minggu.
(6) Kulit tipis, transparan, rambut lanungo banyak, lemak kurang.
(7) Otot hipotonik lemah.
(8) Pernafasan tidak teratur dapat terjadi apnea.
(9) Ekstremitas : paha abduksi, sendi lutut atau kaki fleksi-lurus.
(10) Tulang rawan daun telinga belum sempurna pertumbuhannya, sehingga
seolah-olah tidak teraba tulang rawan.

(11) Tumit mengkilap, telapak kaki halus.


(12) Alat kelamin pada laki-laki pigmentasi dan rugae pada skrotum kurang.
Testis belum turun ke dalam skrotum. Pada bayi perempuan klitoris
menonjol, labia minora belum tertutup oleh labia mayora.

(13) Fungsi syaraf belum matang menyebabkan reflek menghisap, menelan dan
batuk masih lemah.

c. Pemiriksaan fisik
1) Keadaan umum klien Biasanya neonatus terlihat lemah.
2) Tanda-tanda vital
Suhu normal 36,5 – 37,5º C, frekuensi nadi normal 120 – 160x /menit, frekuensi
pernafasan sebaiknya dihitung 1 menit penuh. Normalnya 40 – 60x /menit.

11
3) Aktivitas- Istirahat (Maryunani, 2013) Hari pertama bayi BBLR tidur sehari
rata-rata 20 jam dan akan sadar 2-3 jam dengan tangis masih lemah, tidak aktif,
tremor.

4) Ginjal (Pantiawati, 2010) Bayi BBLR akan berkemih setelah 8 jam


kelahirannya, ketidakmampuan dalam melarutkan ekskresi ke dalam urine.

2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah cara mengidentifikasi,memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik
pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi.Diagnosa keperawatan yang mungkin
muncul pada kasus Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah yaitu :
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas otot-otot pernafasan dan
penurunan ekspansi paru atau kelelahan.

b. Resiko ketidakseimbangan suhu tubuh berhubungan dengan kegagalan mempertahankan


suhu tubuh, penurunan jaringan lemak subkutan.

c. Defisist nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap dan menelan yang belum
sempurna

d. Risiko infeksi berhubungan dengan pertahanan imunologis yang kurang

12
3. Intervensi

DIAGNOSA TUJUAN (SLKI) INTERVENSI (SIKI)

KEPERAWATAN
(SDKI)
Pola nafas tidak efektif Pola Nafas dengan kriteria Pemantauan Respirasi
berhubungan dengan hasil:
kelemahan otot bantu Observasi:
pernapasan dibuktikan
Meningkat : • Monitor pola nafas, monitor
dengan penggunaan saturasi oksigen
otot bantu pernapasan • Monitor frekuensi, irama,
1. Vasilitas semenit
kedalaman dan upaya napas
meningkat • Monitor adanya sumbatan jalan
nafas
2. Kapasitas vital
Terapeutik
meningkat
• Atur Interval pemantauan
3. Tekanan ekspirasi respirasi sesuai kondisi pasien

meningkat Edukasi

4. Tekanan inspirasi • Jelaskan tujuan dan prosedur


meningkat pemantauan
• Informasikan hasil pemantauan,
jika perlu
Menurun :

1. Dipsneu menurun
Terapi Oksigen
2. Penggunaan otot bantu
Observasi:
napas menurun
• Monitor kecepatan aliran oksigen
3. Ortopnea menurun

13
4. Pernapasan cuping hidung • Monitor posisi alat terapi oksigen
• Monitor tanda-tanda hipoventilasi
menurun
• Monitor integritas mukosa hidung
akibat pemasangan oksigen
5. Frekuensi napas membaik
Terapeutik:
6. Kedalaman dada membaik
• Bersihkan sekret pada mulut,
hidung dan trakea, jika perlu
• Pertahankan kepatenan jalan
napas
• Berikan oksigen jika perlu

Edukasi

• Ajarkan keluarga cara


menggunakan O2 di rumah

Kolaborasi

• Kolaborasi penentuan dosis


oksigen

Manajemen Jalan Nafas

Observasi :

1. Monitor pola napas (frekuensi,


kedalaman, usaha napas)

2. Monitor bunyi napastambahan


(mis. Gurgling, mengi, weezing,
ronkhi kering)

3. Monitor sputum (jumlah, warna,


aroma)

Terapeutik :

1. Pertahankan kepatenan jalan napas


dengan headtilt dan chin-lift
(jawthrust jika curiga trauma
cervical)

2. Posisikan semi-Fowler atau Fowler


14
3. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu

4. Lakukan penghisapan lendir kurang


dari 15 detik

5. Lakukan hiperoksigenasi sebelum

6. Penghisapan endotrakeal

7. Keluarkan sumbatan benda padat

dengan forsepMcGill 8. Berikan

oksigen, jika perlu

Edukasi :

1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari,

jika tidak kontraindikasi. 2. Ajarkan

teknik batuk efektif Kolaborasi :

1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.

Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi


berhubungan dengan tindakan keperawatan Observasi
ketidakmampuan
selama 3x24 jam,
menelan 1. Identifikasi status nutrisi
makanan diharapkan defisit
dibuktikan dengan nutrisi 2. Identifikasi alergi dan intoleransi
reflek hisap ada tapi makanan.
tidak kuat 1. kekuatan otot menelan
meningkat 3. Identifikasi makanan yang
disukai
2. nafsu makan membaik

3. membran mukosa 4. Identifikasi kebutuhan kalori dan


membaik jenis nutrien

5. Identifikasi perlunya
15
penggunaan selang nasogastrik

6. Monitor asupan makanan


7. Monitor berat badan

8. Monitor hasil pemeriksaan


laboratorium Terapeutik

1. Lakukan oral hygiene sebelum


makan, jika perlu

2. Fasilitasi menentukan pedoman


diet (mis.

piramida makanan)
3. Sajikan makanan secara menarik
dan suhu yang sesuai

4. Berikan makanan tinggi serat


untuk mencegah konstipasi

5. Berikan makanan tinggi kalori


dan tinggi protein

6. Berikan suplemen makanan, jika


perlu

7. Hentikan pemberian makan


melalui selang nasogatrik jika
asupan oral dapat ditoleransi

Edukasi

1. Anjurkan posisi duduk, jika


mampu,

2. Ajarkan diet yang diprogramkan

Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian medikasi
sebelum makan (mis. pereda

16
nyeri, antiemetik), jika perlu
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrien yang dibutuhkan,
jika perlu

Risiko infeksi Tingkat Infeksi Pencegahan Infeksi Observasi


dibuktikan dengan :
Meningkat :
ketidakadekuatan
1. Kebersihan tangan 1) Monitor tanda gejala infeksi lokal dan
pertahanan tubuh
meningkat sistemik
primer

2. Kebersihan badan meningkat Terapeutik :

3. Nafsu makan meningkat 1) Batasi jumlah pengunjung

2) Berikan perawatan kulit pada


Menurun :
daerah edema
1. Demam menurun
3) Cuci tangan sebelum dan
2. Nyeri menurun sesudah kontak dengan pasien
dan lingkungan pasien
3. Kemerahan menurun

4) Pertahankan teknik aseptik pada


4. Bengkak menurun
pasien berisiko tinggi Edukasi :
5. Vesikel menurun
1) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
6. Alergi menurun 2) Ajarkan cara memeriksa luka
3) Anjurkan meningkatkan asupan
7. Gangguan kognitif menurun
cairan
Membaik :

1. Kadar sel darah putih Kolaborasi


membaik
1. kolaborasi pemberian imunisasi,
jika perlu
2. Kultur darah membaik

17
3. Kultur urine membaik

4. Kultur sputum membaik

5. Kultur feses membaik

18
BAB III

TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN:

Tanggal dan waktu pengkajian.


Hari : Selasa
Tanggal : 19 Juli 2022
Pukul : 10.00 WIB

Pengumpulan data dengan observasi secara langsung dan medical report bayi
Identitas Bayi
Nama : By. Ny. A
Tanggal lahir/jam lahir : 18 Juli 2022
Jenis kelamin : laki-laki
No RM : 17.62.71

Identitas Orang Tua


Nama Ibu : Ny.A
Umur : 32 tahun
Alamat : Jl. Sungai Mendang Dusun 4 Cambai
Pendidikan : SMA
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam

Nama ayah : Tn.A


Umur : 35 th
Alamat : Jl. Sungai Mendang Dusun 4 Cambai

19
Pendidikan : SMA
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : Tani
Agama : Islam

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

a) Prenatal

Jumlah pemeriksaan : Tidak diketahui


Melakukan imunisasi TT : Tidak diketahui
HPMT : Tidak diketahui
HPL : Tidak diketahui
Kenaikan BB slama hamil : Tidak diketahui

b) Intranatal

Nama bayi : Tidak diketahui

Tanggal lahir/jam : Tidak diketahui

Masa gestasi : Tidak diketahui

Status gestasi : Tidak diketahui

Dilahirkan secara : Tidak diketahui

c) Postnatal

APGAR score Tidak diketahui LK :


: cm
Jenis kelamin : Tidak diketahui LD : cm
BB : 1700 gr Air ketuban :

PB : Cm Tali pusat : Ada

20
Nilai APGAR
Jenis Angka penilaian

0 1 Hasil
2
Bunyi Tak Lambat Diatas 100 Tidak diketahui
jantung ada
(<100)
Tak Tak teratur Menangis Tidak diketahui
Pernapasa
ada
n

Tonus otot Lemas Sedikit flexi Pergeraka Tidak diketahui


n aktif

Refleks Tak Menyeringai Menangis Tidak diketahui


ada kuat

Biru Badan Seluru Tidak diketahui


Warna puca merah h
badan
t ekstremitas merah
biru
Jumla Tidak diketahui
h

Interprestasi APGAR :

Jumlah Interprestas Catata


skor i n

7-10 Bayi normal


4-6 Agak rendah Memerlukan tindakan medis segera
seperti penyedotan lendir yang
menyumbat jalan napas, atau
pemberian oksigen untuk membantu
bernapas

0-3 Sangat rendah Memerlukan tindakan medis yang lebih


intensif

21
PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Lemah

1. TTV

Heart Rate : 150 x/menit

Suhu : 36 °C

Respirasi : 65 x/menit

SPO2 : 95-98%

BB Lahir : 2200 gr

BB Sekarang : 1700 gr

2. Kepala

• Cepal hematoma : Tidak ada/ada

• Cepa succedenium (edema kulit kepala anak yang terjadi karena tekanan dari
jalan lahir) : Tidak ada
Sutura : Menutup
Rambut : Hitam halus

3. Mata

Kesimetrisan : Simeteris

Sklera : Anikterik
Konjungtiva : Anemis

4. Hidung

Lubang hidung : Normal

Cuping hidung : ada

22
: terpasang O2 nsal
Data lain
kanul ½ lpm

5. Mulut dan Lidah

Palatum : Normal

Warna palatum : Merah muda


: Merah muda
Warna lidah

Pemeriksaan Refleks

- Moro : Reflek kejutan di


bagian extremitas atas
(ada respon) atau bawah
: Ada reflek genggam
- Graspy esktremitas atas dan
bawah (ada)
- Stepping :Menunjukkan reflek
seperti mencari
(sudah menyusui bayi) putting susu
: Menunjukkan reflek
- Sucking
hisap ada tapi tidak
kuat
6. Telinga

Kesimetrisan : Simetris
: Sama dengan kulit
Warna
wajah
Daun Telinga : Ada

Lekuk telinga : Normal

Cairan yang keluar : Tidak ada

7. Leher
Kelenjer Thyroid : Tidak

JVP : Tidak

8. Dada

Denyut jantung : 150x/menit


23
: adanya retraksi dinding dada
Gerakan

9. Abdomen

Bentuk : normal

Bising usus : Ada, frekuensi 10x/menit

Tali pusat : masi basah/kering, tidak berbau

10. Punggung, pinggul dan bokong

Tonjolan punggung : Tidak ada

Lipatan bokong : Simetris

Warna kuit bokong : Merah muda

11. Genetalia

Kondisi : normal

Keluar cairan : ada

12. Tangan

Pergerakan : Baik

Jari tangan kanan/kiri : Lengkap

Reflek menggenggam : Ada

Warna : Merah

13. Kaki

Pergerakan : Normal
Kari kaki kanan/kiri : Lengkap

24
Refleks babinski : ada

14. Badan

Aktivitas : tirah baring

Warna kulit : coklat kemerahan

Lanugo : tidak ada

Cyanosis : terdapat sianosis


Tekstur :-

15. Anus : Ada

16. Pemeriksaan : Diagnostik dan


penunjang Laboratorium
1) Laboratorium
Tanggal 18 Juni 2022
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan Nilai kriteria
HEMATOLOGI

Hematologi rutin
Jumlah lekosit 12.5 10^3/uL 5.0-19.5 LL<2 HH>50
Jumlah eritrosit 2.85 10^6/uL 3.70-6.10
Hemoglobin 9.8 g/dL 12.7-18.7 LL<6.6 HH>19.9
Hematoktrit 29.1 * 42.0-62.0 LL<21.0 HH>65.0
MCV 100.6 fL 84.0-128.0
MCH 33.6 Pg 26.0-38.0
MCHC 33.4 g/L 26.0-34.0
Jumlah Trombosit 273 10^3 u/L 150-450 LL<20 HH>1.000
Hitung Jenis
Basofil 0 * 0-1
Eosinofil 0 * 2-4
Neutrofil 62 * 30-50

25
Limfosit 25 * 25-40
Monosit 13 * 4-12
Ratio N/L 2.5 * <3.13
KIMIA DARAH
Glukosa darah sewaktu 111 mg/dL <200 LL<45 HH>500
IMUNOSEROLOGI
CRP Positif Negatif

Pemrriksaan hasil satuan Niai rujukan Nilai kriteria


HEMATOLOGI
Golongan Darah ABO-

Rhesus
Golongan Darah A
Rhesus Positif

2) Laboratorium Tanggal 28 Juni


2022
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai rujukan Nilai kriteria
HEMATOLOGI

Hematologi rutin
Jumlah lekosit 12.6 10^3/uL 5.0-19.5 LL<2 HH>50
Jumlah eritrosit 2.76 10^6/uL 3.20-5.60
Hemoglobin 9.3 g/dL 10.3-17.9 LL<6.6 HH>19.9
Hematoktrit 27.5 * 31.0-59.0 LL<21.0 HH>65.0
MCV 99.4 fL 82.0-126.0
MCH 33.8 Pg 26.0-38.0
MCHC 34.0 g/L 25.0-37.0
Jumlah Trombosit 274 10^3 u/L 150-450 LL<20 HH>1.000
Hitung Jenis
Basofil 0 * 0-1
Eosinofil 4 * 2-4

26
Neutrofil 52 * 30-50
Limfosit 28 * 25-40
Monosit 16 * 4-12
Ratio N/L 1.9 * < 3.13

17. Program pengobatan yang sedang dan akan dijalankan Terapi


obat:

• IVFD D10% gtt 7x/menit mikro


• Injeksi Gentamicin 2x4mg

• Injeksi Ampicillin 3x100 mg

• O2 ½ lpm nasal kanul

ANALISA DATA
Data Etiologi Masalah
DS: - DO: Kelemahan otot bantu napas Pola nafas tidak efektif

1) Terpasang O2 nasak
kanul 0.5 lpm

2) Terdapat nafas cuping


hidung

3) Penggunaan otot bantu


perbapasan

4) Adanya retraksi dinding


dada

5) Pola nafas takipnea


6) RR : 65x/menit
SpO2 : 95-98%

27
DS:- Ketidakmampuan menelan Defisit nutrisi
DO: nutrien

1) Keadaan umum lemah

2) Reflek hisap ada tapi tidak


kuat

3) BB lahir : 2200 gr
BB sekarang : 1700 gr
DS: - DO: ketidakadekuatan pertahanan Risiko infeksi
tubuh primer
1) Keadaan umum lemah
CRP positif

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot bantu pernapasan dibuktikan
dengan penggunaan otot bantu pernapasan

2) Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan makanan dibuktikan dengan


reflek hisap ada tapi tidak kuat

3) Risiko infeksi dibuktikan dengan ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer

28
INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA TUJUAN (SLKI) INTERVENSI (SIKI)

KEPERAWATAN
(SDKI)
Pola nafas tidak efektif Pola Nafas dengan kriteria
Manajemen Jalan Nafas SIKI
berhubungan dengan hasil:
kelemahan otot bantu Observasi :
pernapasan dibuktikan
Meningkat :
dengan penggunaan otot 1. Monitor pola napas (frekuensi,
bantu pernapasan kedalaman, usaha napas)
5. Vasilitas semenit
meningkat
2. Monitor bunyi napas tambahan
6. Kapasitas vital meningkat (mis. Gurgling, mengi, weezing,
ronkhi kering)
7. Tekanan ekspirasi
meningkat 3. Monitor sputum (jumlah, warna,
aroma)
8. Tekanan inspirasi
meningkat Terapeutik :

Menurun : 1. Pertahankan kepatenan jalan napas


dengan headtilt dan chinlift (jaw-
4. Dipsneu menurun
thrust jika curiga trauma cervical)
5. Penggunaan otot bantu napas
menurun 2. Posisikan semi-Fowler atau
Fowler
6. Ortopnea menurun
7. Pernapasan cuping hidung 3. Lakukan fisioterapi dada, jika perlu

menurun
4. Lakukan penghisapan lendir

8. Frekuensi napas membaik kurang dari 15 detik

9. Kedalaman dada membaik 5. Lakukan hiperoksigenasi


sebelum

6. Penghisapan endotrakeal

29
7. Keluarkan sumbatan benda padat
dengan forsepMcGill

8. Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi :

1. Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari,

jika tidak kontraindikasi. 2. Ajarkan

teknik batuk efektif Kolaborasi :

1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.

Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen Nutrisi


berhubungan dengan tindakan keperawatan Observasi
ketidakmampuan
selama 3x24 jam,
menelan makanan 1 Identifikasi status nutrisi
dibuktikan dengan diharapkan defisit nutrisi
reflek hisap ada tapi 2 Identifikasi alergi dan intoleransi
4. kekuatan otot menelan
tidak kuat makanan.
meningkat
3 Identifikasi makanan yang disukai
5. nafsu makan membaik

6. membran mukosa 4 Identifikasi kebutuhan kalori dan


membaik jenis nutrien

5 Identifikasi perlunya penggunaan


selang nasogastrik

6 Monitor asupan makanan


7 Monitor berat badan

8 Monitor hasil pemeriksaan


laboratorium

30
Terapeutik

1. Lakukan oral hygiene sebelum


makan, jika perlu

2. Fasilitasi menentukan
pedoman diet (mis.

piramida makanan)
3. Sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang sesuai

4. Berikan makanan tinggi serat


untuk mencegah konstipasi

5. Berikan makanan tinggi kalori


dan tinggi protein

6. Berikan suplemen makanan,


jika perlu

7. Hentikan pemberian makan


melalui selang nasogatrik jika
asupan oral dapat ditoleransi

Edukasi

1. Anjurkan posisi duduk, jika


mampu,

2. Ajarkan diet yang diprogramkan

Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian medikasi
sebelum makan (mis. pereda
nyeri, antiemetik), jika perlu

2. Kolaborasi dengan ahli gizi


untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrien yang
dibutuhkan, jika perlu

31
Risiko infeksi Tingkat Infeksi Pencegahan Infeksi

dibuktikan dengan Observasi :


ketidakadekuatan
1) Monitor tanda gejala infeksi lokal dan
pertahanan tubuh Meningkat : sistemik
primer
4. Kebersihan tangan meningkat
Terapeutik :

5. Kebersihan badan meningkat 5) Batasi jumlah pengunjung

6. Nafsu makan meningkat 6) Berikan perawatan kulit pada


daerah edema
Menurun :
7) Cuci tangan sebelum dan sesudah
8. Demam menurun
kontak dengan pasien dan

9. Nyeri menurun lingkungan pasien

10. Kemerahan menurun 8) Pertahankan teknik aseptik pada


pasien berisiko tinggi Edukasi :
11. Bengkak menurun
4) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
12. Vesikel menurun 5) Ajarkan cara memeriksa luka

13. Alergi menurun 6) Anjurkan meningkatkan asupan


cairan
14. Gangguan kognitif menurun

Membaik : Kolaborasi

6. Kadar sel darah putih 1. kolaborasi pemberian imunisasi, jika


membaik perlu

7. Kultur darah membaik

8. Kultur urine membaik

9. Kultur sputum membaik

10. Kultur feses membaik

32
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

No. DIAGNOSA WAKTU IMPLEMENTASI EVALUASI


1. Pola nafas tidak efektif Selasa, 19 Pemantauan Respirasi SIKI S: - O:
berhubungan dengan Juli 2022
kelemahan otot bantu 1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas Pola nafas takipnea
10.00 WIB
pernapasan dibuktikan
2) Monitor pola napas (seperti bradipnea, Posisi kepala ekstensi
dengan penggunaan
otot bantu pernapasan takipnea,hiperventilasi, Kussmaul, Cheyn e- Stokes,
Keadaan umum lemah
Biot, ataksik)
Kontraksi dada dan nafas tidak tertaur
3) Monitor adanya sumbatan jalan napas
Bunti nafas ronchi
4) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
Nadi : 150x/menit
5) Auskultasi bunyi napas
Pernapasan : 65x/menit
6) Monitor saturasi oksigen
Terpasang O2 nasal kanul 0.5 lpm
7) Atur interval waktu pemantauan respirasi sesuai
Suhu : 36ᵒC
kondisi pasien
SPO2 : 95-98%
8) Dokumentasikan hasil pemantauan
9) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

A: Masalah belum teratasi

33
P: Intervensi dilanjutkan
Defisit nutrisi Selasa, 19 juni 1) Identifikasi status nutrisi S: - O:
berhubungan dengan 2022 pukul 2) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
ketidakmampuan 11.00 Keadaan Umum : lemah
3) Identifikasi perlunya penggunaan selang
menenlan
makanan nasogastrik Tidak terpasang selang nasogastrik
dibuktikan dengan
4) Monitor asupan makanan BB : 1700 gr
reflek hisap ada tapi
tidak kuat 5) Monitor berat badan Diberikan ASI/PASI oral 30ml / 3jam

6) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium


7) Melakukan oral hydiene sebelum makan
A: masalah belum teratasi
8) Jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan
P: intervensi diteruskan

34
Risiko infeksi Senin, 19 juni 1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik S: - O:
dibuktikan dengan 2022 pukul 2) Batasi jumlah pengunjung
ketidakadekuatan 13.00 Keadaan Umum : Lemah
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pertahanan tubuh
primer pasien dan lingkungan pasien Nadi : 150x/menit
Pernapasan : 65x/menit
4) Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
tinggi Suhu : 37ᵒC
SPO2 : 95-98%
5) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
CRP positif (+)
IUFD D10% gtt 7x/i
Injeksi ampicilin 3 x 100 mg

Inj gentaciin 2x4 mg


Diberikan ASI/PASI oral 30ml/3jam

A: Masalah belum teratasi


P: Intervensi dilanjutkan

35
HARI KE 2
2. Pola nafas tidak efektif Rabu, 20 1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas S:- O:
berhubungan dengan
kelemahan otot bantu Juli 2022 2) Monitor pola napas (seperti bradipnea,
Pola nafas takipnea
pernapasan dibuktikan pukul 09.00 takipnea,hiperventilasi, Kussmaul, Cheyn e- Stokes,
dengan penggunaan Posisi kepala ekstensi
Biot, ataksik)
otot bantu pernapasan
3) Monitor kemampuan batuk efektif Keadaan umum sedang

Kontraksi dada dan nafas teratur


4) Monitor adanya sumbatan jalan napas
Nadi : 148x/menit
5) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru
6) Auskultasi bunyi napas Pernapasan : 58x/menit

Belajar lepas O2 nasal kanul


7) Monitor saturasi oksigen
Suhu : 36ᵒC
8) Atur interval waktu pemantauan respirasi sesuai
kondisi pasien SPO2 : 95-98%

9) Dokumentasikan hasil pemantauan


A: Masalah teratasi sebagian
10) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
P: Intervensi dilajutkan

36
Defisit nutrisi Rabu, 20 1) Identifikasi status nutrisi S:- O:
berhubungan dengan 2) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
ketidakmampuan Juli 2022
KU: sedang
3) Identifikasi perlunya penggunaan selang
menenlan makanan pukul 10.30
dibuktikan dengan nasogastrik Refleks hisap kuat
reflek hisap ada tapi BB: 1950 gr
4) Monitor asupan makanan
tidak kuat
Diberikan ASI/PASI oral 30ml /
5) Monitor berat badan
3jam
6) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terpasang NGT
7) Melakukan oral hydiene sebelum makan
8) Kolaborasi umlah kalori dan jenis nutrien yang A: Masalah teratasi sebagian
dibutuhkan P: Intervensi dilanjutkan

Risiko infeksi Rabu, 20 1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik S: - O:
dibuktikan dengan 2) Batasi jumlah pengunjung
ketidakadekuatan Julii 2022
Keadaan Umum : sedang
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pertahanan tubuh pukul 13.00
primer pasien dan lingkungan pasien Nadi : 148x/menit
Pernapasan : 58x/menit
4) Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
tinggi Suhu : 37ᵒC
SPO2 : 95-98%
5) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
CRP positif (+)
IUFD D10% gtt 7x/i

37
Injeksi ampicilin 3 x 100 mg
Inj gentaciin 2x4 mg
Diberikan ASI/PASI oral 30ml/3jam

A: Masalah belum teratasi


P: Intervensi dilanjutkan
HARI KE 3
3. Pola nafas tidak Kamis, 21 Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya S:- O:
1)
efektif Juni 2022 napas
pukul 09.30 Posisi kepala ekstensi
berhubungan dengan 2) Monitor pola napas (seperti bradipnea,
kelemahan otot takipnea,hiperventilasi, Kussmaul, Cheyn e- Keadaan umum baik
bantu pernapasan
Stokes, Biot, ataksik) Nadi : 157x/menit
dibuktikan dengan
penggunaan otot 3) Monitor kemampuan batuk efektif Pernapasan : 56x/menit
bantu pernapasan
4) Monitor adanya sumbatan jalan napas Suhu : 36.5ᵒC

5) Palpasi kesimetrisan ekspansi paru SPO2 : 95-98%


6) Auskultasi bunyi napas

7) Monitor saturasi oksigen A: Masalah teratasi


P: intervensi dihentikan (klien rencana
8) Atur interval waktu pemantauan respirasi sesuai pulang)
kondisi pasien
9)
Dokumentasikan hasil pemantauan

38
10) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

Defisit nutrisi Kamis, 21 Juli 1) Identifikasi status nutrisi S:-


berhubungan dengan 2022 pukul 2) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
ketidakmampuan 10.30 O:
3) Identifikasiperlunya penggunaan selang nasogastrik
menenlan makanan
Keadaan umum baik
dibuktikan dengan 4) Monitor asupan makanan
reflek hisap ada tapi BB: 2000 gr
tidak kuat 5) Monitor berat badan Diberikan ASI/PASI oral 30ml/3jam

6) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium


A: Masalah teratasi
7) Melakukan oral hydiene sebelum makan
P: Intervensi dihentikan (klien rencana
8) Kolaborasi umlah kalori dan jenis nutrien yang
dipulangkan)
dibutuhkan

39
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan (klien rencana
dipulangkan)

Risiko infeksi Kamis, 21 1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik S:- O:
dibuktikan dengan Julii 2022 2) Batasi jumlah pengunjung
ketidakadekuatan pukul 12.00 Keadaan umum baik
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pertahanan tubuh
primer pasien dan lingkungan pasien Nadi : 150x/menit

4) Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko Pernapasan : 56x/menit


tinggi
Suhu : 36.5ᵒC
5) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
SPO2 : 95-98%

CRP negatif (-)

40
DAFTAR PUSTAKA

Antika & Cahyo. (2010). Berat Badan Lahir Rendah. Medical Book : Yogyakarta
Askar. (2012). Asuhan Keperawatan Anak & bayi. EGC, Jakarta
Nuratif, (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA Revisi Jilid
1. Mediaction Publishing : Yogyakarta

Maryanti. (2011). Asuhan Neonatus & bayi. EGC, Jakarta Maryunani. (2013). Asuhan Bayi Dengan
Berat Badan Lahir Rendah. Trans Info Media : Jakarta.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Jakarta Selatan
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Jakarta Selatan
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Jakarta Selatan

Anda mungkin juga menyukai