Laporan Kasus Neonatus Fix
Laporan Kasus Neonatus Fix
A DENGAN BBLR
`DI RUANGAN NEONATUS RSUD KOTA PRABUMULIH
Disusun Oleh :
PO7120120027
Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai
pihak, kami mengucapkan terima kasih dan kami telah berusaha untuk memberikan yang
terbaik, walaupun didalam pembuatannya kami mengalami kesulitan, karna keterbatasan
kemampuan dan ilmu yang penulis miliki. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan, oleh karna itu penulis membutuhkan saran dan kritik yang
membangun saat penulis butuhkan agar dapat memperbaikinya di masa yang akan datang.
Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi temanteman sekalian.
Penulis
1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 3
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 5
2.1. Konsep Dasar .................................................................................................... 5
2.1.1 Definisi ...................................................................................................... 5 2.1.2
Etiologi ....................................................................................................... 5
2.1.3 Tanda dan Gejala ........................................................................................ 6
2.1.4 Pathway ...................................................................................................... 7 2.1.5
Manifestasi Klinis...........................................................................................8
2.1.6 Komplikasi ................................................................................................. 8
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang .............................................................................. 8
2.1.8 Penatalaksanaan..............................................................................................8
2.2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ............................................................... 9
2.2.1 Pengkajian .................................................................................................. 9
2.2.2 Diagnosa Keperawatan.............................................................................. 11
2.2.3 Intervensi Keperawatan ............................................................................. 12
BAB III TINJAUAN KASUS ..................................................................................... 18
3.1 Pengkajian ......................................................................................................... 18
3.3 Analisa Data ...................................................................................................... 26
3.4 Diagnosa Keperawatan ...................................................................................... 27
3.5 Intervensi Keperawatan ..................................................................................... 28
3.6 Catatan Perkembangan ...................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................39
2
BAB I
PENDAHULUAN
Bayi dengan berat lahir rendah merupakan salah satu akibat dari ibu hamil yang
menderita kurang energi kronis sehingga akan berdampak kepada anaknya. Dampak yang
dialami anak tidak hanya jangka pendek seperti ikterus atau gangguan pernafasan, namun
akan berdampak jangka panjang baik pada psikis maupun fisik anak seperti ganngguan
perkembangan, gangguan bicara dan komunikasi, gangguan belajar, kelainan bawaan dan
sebagainya
BBLR disebabkan oleh usia kehamilan yang pendek (prematuritas),dan IUGR (Intra
Uterine Growth Restriction) yang dalam bahasa Indonesia disebut Pertumbuhan Janin
Terhambat (PJT) atau keduanya. Kedua penyebab ini dipengaruhi oleh faktor risiko, seperti
faktor ibu, plasenta,janin dan lingkungan. Faktor risiko tersebut menyebabkan kurangnya
pemenuhan nutrisi pada janin selama masa kehamilan. Bayi dengan berat badan lahir
rendah umumnya mengalami proses hidup jangka panjang yang kurang baik. Apabila tidak
meninggal pada awal kelahiran, bayi BBLR memiliki risiko tumbuh dan berkembang lebih
lambat dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Selain gangguan
tumbuh kembang, individu dengan riwayat BBLR mempunyai faktor risiko tinggi untuk
terjadinya hipertensi, penyakit jantung dan diabetes setelah mencapai usia 40 tahun (Juaria
dan Henry, 2014) .
3
1.3 Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menerapkan asuhan keperawatan pada Bayi Baaru Lahir Rendah
(BBLR)
b. Tujuan Khusus
a. Mengetahui definisi BBLR
b. Mengetahui etiologi BBLR
c. Mengetahui apa saja tanda dan gejala BBLR
d. Mengetahui manifestasi klinis yang terjadi BBLR
e. Mengetahui pemeriksaan penunjang pada BBLR
f. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada BBLR
g. Mengetahui dan memahami asuhan keperawatan BBLR
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Penyakit
A. Definisi
Berat bayi lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang daro 2500 gram pada waktu lahir
(sofian amru, 2012). Berat yang lahir dengan berat lahir < 2500 gram tanpa memandang masa
kehamilan . berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir (Ratna Dewi
Pudiastuti, 2015).
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bila berat badannya kurang dari 2500 gram
(sampaidengan 2499 gram). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu
meredamtekanan lingkungan yang baru sehingga dapat mengakibatkan pada terhambatnya
pertumbuhandan perkembangan, bahkan dapat menggangu kelangsungan hidupnya
(Prawirohardjo, 2006).
B. Klasifikasi
a. Klasifikasi BBLR berdasarkan umur kehamilan.
1) Bayi premature/kurang bulan ( usia kehamilan < 37 minggu ) sebgain bayi kurang bulan
belum siap hidup di luar kandungan dan mendapatkan kesulitan untuk mulai bernapas ,
menghisap, melawan infeksi dan menjaga tubuh tetap hangat.
2) Bayi cukup bulan ( usia kehamilan 38-42 minggu ) 3) Bayi lebih bulan ( usia kehamilan >
42 minggu )
b. Klasifikasi BBLR Berdasarkan berat badan
1) Bayi berat badan lahir amat sangat rendah/ekstrim rendah ( bayi lahir berat badan < 1000
gram )
2) Bayi berat badan lahir sangat rendah ( bayi lahir berat badan < 1500 gram 3) Bayi berat
badan lahir cukup rendah ( bayi berat badan 1501- 2500 gram ) (Ratna Dewi Pudiastuti,
2015)
C. Etiologi
Menurut sudarti dan afroh fauziah 2013 Etiologi pada BBLR yaitu : a. Factor ibu : riwayat
kehamilan tidak baik, paritas, anemia , pendarahan anterpertum , anemia , preeklamsi berat ,
kebiasaan tidak baik seperti merokok dan minum alcohol . b. Factor plasenta : plansenta previa ,
solusio plasenta , ketuban pecah dini , kehamilan ganda . c. Factor janin : gawat janin , infeksi janin
kronik , kelainan kromosom (Sudarti & Fauziah, 2013).
b. Panjang kurang dari 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33
cm, kepala lebih besar
6
E. Pathway
7
F. Manifestasi Klinis
Menurut tim adaptasi 2009 dalam (Nurarif & Hardhi Kusuma, 2016) a.
Sebelum bayi lahir
1) Pada anamesa sering dijumpai adanya riyawat abortus , partus premature dan lahir mati
2) Pergerakan janin yangpertama terjadi lebih lambat , gerakan janin lebih lambat walaupun
kehamilannya sudah agak lanjut
3) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya sering
dijumpai kehamilan oligradmnion gravidarum atau pendarahan antrepretum
b. Hipoglikemi
c. Gangguan cairan dan elektrolit
d. Hiperbilirubinemia
e. Sindroma gawat nafas
f. Paten duktus arteriosus
g. Infeksi
h. Perdarahan intraventrikuler
i. Anemia
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat di lakukan radiologi , thorak foto,baby gram , USG , gula
darah , analisa gas darah , elektrolit darah dan darah rutin (Sudarti & Fauziah, 2013).
I. Penatalaksanaan
Perawatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah menurut Nurafif & Hardi (2016) a.
Pengaturan suhu
b. Pengaturan makanan/nutrisi
Prinsip utama pemberian makanan pada bayi prematur adalah sedikit demi sedikit secara
perlahan-lahan dan hati-hati.pemberian makanan dini berupa glukosa,ASI atau PASI
mengurangi resiko hipoglikemia,dehidrasi atau hiperbilirubinia.bayi yang daya isapnya baik dan
tanpa sakit berat dapat dicoba minum melalui mulut.umumnya bayi dengan berat kurang dari
1500 gram memerlukan minum pertama dengan pipa lambung karena belum adanya koordinasi
antara gerakan menghisap dengan menelan.
Dianjurkan untuk minum pertama sebanyak 1 ml larutan steril untuk bayi dengan berat
kurang dari 1000 gram,2-4 ml untuk bayi dengan berat antara 1000-1500 gram dan 5-10 ml
untuk bayi dengan berat lebih dari 1500 gram. Apabila dengan pemberian makanan pertama bayi
tidak mengalami kesukaran,pemberian ASI/PASI dapat dilanjutkan dalam waktu 12-48 jam.
c. Mencegah infeksi
Bayi premature mudah terserang infeksi.hal ini disebabkan karena daya tubuh bayi terhadap
infeks kurang antibody relatif belum terbentuk dan day9 fagositosis serta reaksi terhadap
peradangan belum baik.prosedur pencegahan infeksi adalah sebagai berikut :
1) Mencuci tangan sampai ke siku dengan sabun dan air mengalir selama 2 menit sebelum
masuk keruangan rawat bayi.
2) Mencuci tangan dengan zat anti septic/ sabun sebelum dan sesudah memegang seorang
bayi
3) Mengurangi kontaminasi pada makanan bayi dan semua benda yang berhubungan
dengan bayi
9
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Pada pasien BBLR, angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan
oleh ibu-ibu dengan usia 35 tahun, selain itu jarak kehamilan yang terlalu pendek (kurang
dari 1 tahun) juga mempengaruhi terjadinya BBLR (Depkes RI, 2010).
b. Riwayat Keperawatan
1) Keluhan Utama
2) Keluhan utama didapatkan setelah bayi lahir dengan berat badan sama dengan atau kurang
dari 2.500 gram, panjang badan sama dengan atau kurang dari 46 cm
3) Riwayat penyakit saat ini : Ibu bayi datang ke RS dengan keluhan Sebelum lahir :
10
Pembesaran uterus tidak sesuai dengan usia kehamilan,
Pada anamneses sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus
prematurus, dan lahir mati.
(13) Fungsi syaraf belum matang menyebabkan reflek menghisap, menelan dan
batuk masih lemah.
c. Pemiriksaan fisik
1) Keadaan umum klien Biasanya neonatus terlihat lemah.
2) Tanda-tanda vital
Suhu normal 36,5 – 37,5º C, frekuensi nadi normal 120 – 160x /menit, frekuensi
pernafasan sebaiknya dihitung 1 menit penuh. Normalnya 40 – 60x /menit.
11
3) Aktivitas- Istirahat (Maryunani, 2013) Hari pertama bayi BBLR tidur sehari
rata-rata 20 jam dan akan sadar 2-3 jam dengan tangis masih lemah, tidak aktif,
tremor.
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah cara mengidentifikasi,memfokuskan dan mengatasi kebutuhan spesifik
pasien serta respon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi.Diagnosa keperawatan yang mungkin
muncul pada kasus Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah yaitu :
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas otot-otot pernafasan dan
penurunan ekspansi paru atau kelelahan.
c. Defisist nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap dan menelan yang belum
sempurna
12
3. Intervensi
KEPERAWATAN
(SDKI)
Pola nafas tidak efektif Pola Nafas dengan kriteria Pemantauan Respirasi
berhubungan dengan hasil:
kelemahan otot bantu Observasi:
pernapasan dibuktikan
Meningkat : • Monitor pola nafas, monitor
dengan penggunaan saturasi oksigen
otot bantu pernapasan • Monitor frekuensi, irama,
1. Vasilitas semenit
kedalaman dan upaya napas
meningkat • Monitor adanya sumbatan jalan
nafas
2. Kapasitas vital
Terapeutik
meningkat
• Atur Interval pemantauan
3. Tekanan ekspirasi respirasi sesuai kondisi pasien
meningkat Edukasi
1. Dipsneu menurun
Terapi Oksigen
2. Penggunaan otot bantu
Observasi:
napas menurun
• Monitor kecepatan aliran oksigen
3. Ortopnea menurun
13
4. Pernapasan cuping hidung • Monitor posisi alat terapi oksigen
• Monitor tanda-tanda hipoventilasi
menurun
• Monitor integritas mukosa hidung
akibat pemasangan oksigen
5. Frekuensi napas membaik
Terapeutik:
6. Kedalaman dada membaik
• Bersihkan sekret pada mulut,
hidung dan trakea, jika perlu
• Pertahankan kepatenan jalan
napas
• Berikan oksigen jika perlu
Edukasi
Kolaborasi
Observasi :
Terapeutik :
6. Penghisapan endotrakeal
Edukasi :
1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.
5. Identifikasi perlunya
15
penggunaan selang nasogastrik
piramida makanan)
3. Sajikan makanan secara menarik
dan suhu yang sesuai
Edukasi
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian medikasi
sebelum makan (mis. pereda
16
nyeri, antiemetik), jika perlu
2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan
jenis nutrien yang dibutuhkan,
jika perlu
17
3. Kultur urine membaik
18
BAB III
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN:
Pengumpulan data dengan observasi secara langsung dan medical report bayi
Identitas Bayi
Nama : By. Ny. A
Tanggal lahir/jam lahir : 18 Juli 2022
Jenis kelamin : laki-laki
No RM : 17.62.71
19
Pendidikan : SMA
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan : Tani
Agama : Islam
a) Prenatal
b) Intranatal
c) Postnatal
20
Nilai APGAR
Jenis Angka penilaian
0 1 Hasil
2
Bunyi Tak Lambat Diatas 100 Tidak diketahui
jantung ada
(<100)
Tak Tak teratur Menangis Tidak diketahui
Pernapasa
ada
n
Interprestasi APGAR :
21
PEMERIKSAAN FISIK
1. TTV
Suhu : 36 °C
Respirasi : 65 x/menit
SPO2 : 95-98%
BB Lahir : 2200 gr
BB Sekarang : 1700 gr
2. Kepala
• Cepa succedenium (edema kulit kepala anak yang terjadi karena tekanan dari
jalan lahir) : Tidak ada
Sutura : Menutup
Rambut : Hitam halus
3. Mata
Kesimetrisan : Simeteris
Sklera : Anikterik
Konjungtiva : Anemis
4. Hidung
22
: terpasang O2 nsal
Data lain
kanul ½ lpm
Palatum : Normal
Pemeriksaan Refleks
Kesimetrisan : Simetris
: Sama dengan kulit
Warna
wajah
Daun Telinga : Ada
7. Leher
Kelenjer Thyroid : Tidak
JVP : Tidak
8. Dada
9. Abdomen
Bentuk : normal
11. Genetalia
Kondisi : normal
12. Tangan
Pergerakan : Baik
Warna : Merah
13. Kaki
Pergerakan : Normal
Kari kaki kanan/kiri : Lengkap
24
Refleks babinski : ada
14. Badan
Hematologi rutin
Jumlah lekosit 12.5 10^3/uL 5.0-19.5 LL<2 HH>50
Jumlah eritrosit 2.85 10^6/uL 3.70-6.10
Hemoglobin 9.8 g/dL 12.7-18.7 LL<6.6 HH>19.9
Hematoktrit 29.1 * 42.0-62.0 LL<21.0 HH>65.0
MCV 100.6 fL 84.0-128.0
MCH 33.6 Pg 26.0-38.0
MCHC 33.4 g/L 26.0-34.0
Jumlah Trombosit 273 10^3 u/L 150-450 LL<20 HH>1.000
Hitung Jenis
Basofil 0 * 0-1
Eosinofil 0 * 2-4
Neutrofil 62 * 30-50
25
Limfosit 25 * 25-40
Monosit 13 * 4-12
Ratio N/L 2.5 * <3.13
KIMIA DARAH
Glukosa darah sewaktu 111 mg/dL <200 LL<45 HH>500
IMUNOSEROLOGI
CRP Positif Negatif
Rhesus
Golongan Darah A
Rhesus Positif
Hematologi rutin
Jumlah lekosit 12.6 10^3/uL 5.0-19.5 LL<2 HH>50
Jumlah eritrosit 2.76 10^6/uL 3.20-5.60
Hemoglobin 9.3 g/dL 10.3-17.9 LL<6.6 HH>19.9
Hematoktrit 27.5 * 31.0-59.0 LL<21.0 HH>65.0
MCV 99.4 fL 82.0-126.0
MCH 33.8 Pg 26.0-38.0
MCHC 34.0 g/L 25.0-37.0
Jumlah Trombosit 274 10^3 u/L 150-450 LL<20 HH>1.000
Hitung Jenis
Basofil 0 * 0-1
Eosinofil 4 * 2-4
26
Neutrofil 52 * 30-50
Limfosit 28 * 25-40
Monosit 16 * 4-12
Ratio N/L 1.9 * < 3.13
ANALISA DATA
Data Etiologi Masalah
DS: - DO: Kelemahan otot bantu napas Pola nafas tidak efektif
1) Terpasang O2 nasak
kanul 0.5 lpm
27
DS:- Ketidakmampuan menelan Defisit nutrisi
DO: nutrien
3) BB lahir : 2200 gr
BB sekarang : 1700 gr
DS: - DO: ketidakadekuatan pertahanan Risiko infeksi
tubuh primer
1) Keadaan umum lemah
CRP positif
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot bantu pernapasan dibuktikan
dengan penggunaan otot bantu pernapasan
28
INTERVENSI KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
(SDKI)
Pola nafas tidak efektif Pola Nafas dengan kriteria
Manajemen Jalan Nafas SIKI
berhubungan dengan hasil:
kelemahan otot bantu Observasi :
pernapasan dibuktikan
Meningkat :
dengan penggunaan otot 1. Monitor pola napas (frekuensi,
bantu pernapasan kedalaman, usaha napas)
5. Vasilitas semenit
meningkat
2. Monitor bunyi napas tambahan
6. Kapasitas vital meningkat (mis. Gurgling, mengi, weezing,
ronkhi kering)
7. Tekanan ekspirasi
meningkat 3. Monitor sputum (jumlah, warna,
aroma)
8. Tekanan inspirasi
meningkat Terapeutik :
menurun
4. Lakukan penghisapan lendir
6. Penghisapan endotrakeal
29
7. Keluarkan sumbatan benda padat
dengan forsepMcGill
Edukasi :
1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.
30
Terapeutik
2. Fasilitasi menentukan
pedoman diet (mis.
piramida makanan)
3. Sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang sesuai
Edukasi
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian medikasi
sebelum makan (mis. pereda
nyeri, antiemetik), jika perlu
31
Risiko infeksi Tingkat Infeksi Pencegahan Infeksi
Membaik : Kolaborasi
32
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
33
P: Intervensi dilanjutkan
Defisit nutrisi Selasa, 19 juni 1) Identifikasi status nutrisi S: - O:
berhubungan dengan 2022 pukul 2) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
ketidakmampuan 11.00 Keadaan Umum : lemah
3) Identifikasi perlunya penggunaan selang
menenlan
makanan nasogastrik Tidak terpasang selang nasogastrik
dibuktikan dengan
4) Monitor asupan makanan BB : 1700 gr
reflek hisap ada tapi
tidak kuat 5) Monitor berat badan Diberikan ASI/PASI oral 30ml / 3jam
34
Risiko infeksi Senin, 19 juni 1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik S: - O:
dibuktikan dengan 2022 pukul 2) Batasi jumlah pengunjung
ketidakadekuatan 13.00 Keadaan Umum : Lemah
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pertahanan tubuh
primer pasien dan lingkungan pasien Nadi : 150x/menit
Pernapasan : 65x/menit
4) Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
tinggi Suhu : 37ᵒC
SPO2 : 95-98%
5) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
CRP positif (+)
IUFD D10% gtt 7x/i
Injeksi ampicilin 3 x 100 mg
35
HARI KE 2
2. Pola nafas tidak efektif Rabu, 20 1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas S:- O:
berhubungan dengan
kelemahan otot bantu Juli 2022 2) Monitor pola napas (seperti bradipnea,
Pola nafas takipnea
pernapasan dibuktikan pukul 09.00 takipnea,hiperventilasi, Kussmaul, Cheyn e- Stokes,
dengan penggunaan Posisi kepala ekstensi
Biot, ataksik)
otot bantu pernapasan
3) Monitor kemampuan batuk efektif Keadaan umum sedang
36
Defisit nutrisi Rabu, 20 1) Identifikasi status nutrisi S:- O:
berhubungan dengan 2) Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien
ketidakmampuan Juli 2022
KU: sedang
3) Identifikasi perlunya penggunaan selang
menenlan makanan pukul 10.30
dibuktikan dengan nasogastrik Refleks hisap kuat
reflek hisap ada tapi BB: 1950 gr
4) Monitor asupan makanan
tidak kuat
Diberikan ASI/PASI oral 30ml /
5) Monitor berat badan
3jam
6) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terpasang NGT
7) Melakukan oral hydiene sebelum makan
8) Kolaborasi umlah kalori dan jenis nutrien yang A: Masalah teratasi sebagian
dibutuhkan P: Intervensi dilanjutkan
Risiko infeksi Rabu, 20 1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik S: - O:
dibuktikan dengan 2) Batasi jumlah pengunjung
ketidakadekuatan Julii 2022
Keadaan Umum : sedang
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pertahanan tubuh pukul 13.00
primer pasien dan lingkungan pasien Nadi : 148x/menit
Pernapasan : 58x/menit
4) Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko
tinggi Suhu : 37ᵒC
SPO2 : 95-98%
5) Jelaskan tanda dan gejala infeksi
CRP positif (+)
IUFD D10% gtt 7x/i
37
Injeksi ampicilin 3 x 100 mg
Inj gentaciin 2x4 mg
Diberikan ASI/PASI oral 30ml/3jam
38
10) Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan
39
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan (klien rencana
dipulangkan)
Risiko infeksi Kamis, 21 1) Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik S:- O:
dibuktikan dengan Julii 2022 2) Batasi jumlah pengunjung
ketidakadekuatan pukul 12.00 Keadaan umum baik
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
pertahanan tubuh
primer pasien dan lingkungan pasien Nadi : 150x/menit
40
DAFTAR PUSTAKA
Antika & Cahyo. (2010). Berat Badan Lahir Rendah. Medical Book : Yogyakarta
Askar. (2012). Asuhan Keperawatan Anak & bayi. EGC, Jakarta
Nuratif, (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA Revisi Jilid
1. Mediaction Publishing : Yogyakarta
Maryanti. (2011). Asuhan Neonatus & bayi. EGC, Jakarta Maryunani. (2013). Asuhan Bayi Dengan
Berat Badan Lahir Rendah. Trans Info Media : Jakarta.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2018. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Jakarta Selatan
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Jakarta Selatan
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Jakarta Selatan