Asuhan Keperawatan BBLR di Perinatologi
Asuhan Keperawatan BBLR di Perinatologi
R1
DENGAN BBLR DI RUANG PERINATOLOGI
RSUD BATARA GURU BELOPA
Ns. Maryam Suaib, S.Kep., M.Kep
DISUSUN OLEH :
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan rahmat-
Nya berupa kesempatan dan pengetahuan sehingga tugas praktek klinik ini bisa selesai tepat pada waktunya.
Terima kasih juga saya ucapkan kepada CI Akademik yang telah memberikan kesempatan bagi saya
untuk melakukan praktek klinik Keperawatan Anak di RSUD Batara Guru Belopa dengan “Asuhan
Keperawatan BBLR” maupun kepada semua pihak Rumah Sakit dan CI Klinik yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas praktek klik ini.
Saya menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan serta kekurangan, sehingga saya
mengharapkan saran serta masukan dari para pembaca demi tersusunnya tugas praktek klinik yang lebih baik
lagi. Akhir kata saya berharap agar tugas praktek klinik ini bisa memberikan banyak manfaat bagi para
pembaca
Penulis
i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................................I
LEMBAR PENGESAHAN.....................................................................................................iii
KATA PENGANTAR.............................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................................ii
BAB I KONSEP DASAR MEDIS .......................................................................................1
A. Definisi.................................................................................................................................................1
B. Klasifikasi BBLR.................................................................................................................................1
C. Etiologi.................................................................................................................................................2
D. Pemeriksaan Penunjang.......................................................................................................................3
E. Penatalaksanaan Medis........................................................................................................................3
F. Komplikasi...........................................................................................................................................3
G. Pathway................................................................................................................................................3
BAB II KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS......................................................5
A. Pengkajian............................................................................................................................................5
B. Diagnosa...............................................................................................................................................6
C. Intervensi..............................................................................................................................................6
D. Implementasi........................................................................................................................................7
E. Evaluasi................................................................................................................................................7
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KASUS..........................................................................................8
A. Pengkajian Keperawatan......................................................................................................................8
B. Diagnosa Keperawatan........................................................................................................................17
C. Intervensi Keperawatan........................................................................................................................17
D. Implementasi Keperawatan..................................................................................................................19
E. Evaluasi Keperawatan..........................................................................................................................20
BAB IV PENUTUP........................................................................................................................................21
A. Kesimpulan..........................................................................................................................................21
B. Saran ................................................................................................................................................. . 21
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................................22
ii
LEMBAR PENGESAHAN
Asuhan keperawatan kasus : Asuhan keperawatan pada pasien By.R1 dengan BBLR di ruang
perinatologi RSUD Batara Guru Belopa Tahun 2023
Disusun Oleh : Ritna Deslia Mbealo
NIM : 032023073
Program : Profesi
Progran Studi : Profesi Ners
Menyetujui,
(.....................................)
(..............................................)
iii
BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Berat badan lahir rendah adalah kondisi ketika berat badan bayi kurang dari 2,5 kg. Kondisi ini
membuat kepala bayi terlihat lebih besar dan tubuhnya tampak kurus. BBLR biasanya terjadi pada
bayi yang lahir secara prematur atau mengalami gangguan perkembangan dalam kandungan. Bayi
dengan berat badan lahir rendah lebih rentan terkena infeksi atau penyakit tertentu. Bahkan, dalam
jangka panjang, BBLR berpotensi menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik anak atau
kesulitan dalam belajar.
Bayi dengan berat badan lahir rendah tetap bisa tumbuh sehat. Namun, tak menutup
kemungkinan juga mengalami beberapa masalah kesehatan, seperti sulit menaikkan berat badan, sulit
menyusu, dan rentan terkena infeksi.Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan bayi baru lahir
yang saat dilahirkan memiliki berat badan senilai < 2500 gram tanpa menilai masa gestasi. (Sholeh,
2014). Pada tahun 1961 oleh World Health Organization (WHO) semua bayi yang telah lahir dengan
berat badan saat lahir kurang dari 2.500 gram disebut Low Birth Weight Infants atau Bayi Berat Lahir
Rendah (BBLR).
Banyak yang masih beranggapan apabila BBLR hanya terjadi pada bayi prematur atau bayi
tidak cukup bulan. Tapi, BBLR tidak hanya bisa terjadi pada bayi prematur, bisa juga terjadi pada
bayi cukup bulan yang mengalami proses hambatan dalam pertumbuhannya selama kehamilan (Profil
Kesehatan Dasar Indonesia, 2014).
B. Klasifikasi Medis
Adapun klasifikasi Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR) menurut Maryunani (2013) dibagi atas
2 golongan :
1. Menurut Masa Gestasinya :
a. Prematuritas murni
Merupakan bayi yang lahir dengan gestasi <37 minggu atau 259 hari, berat badannya
sesuai masa kehamilan.
b. Dismatur
Bayi dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa gestasi/kehamilan akibat
bayi mengalami retradasi intra uteri dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilan
(KMK)
2
2. Menurut Penanganan dan Harapan Hidup :
a. BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah) berat lahir 1500 – 2499 gram
b. BBLSR (Bayi Berat Lahir Sangat Rendah) berat lahir < 1500 gram
c. BBLER (Bayi Berat Lahir Ekstrim Rendah) berat lahir < 1000 gram.
C. Etiologi
Etiologi dari BBLR dapat dilihat dari faktor maternal dan faktor fetus. Etiologi dari maternal
dapat dibagi menjadi dua yaitu prematur dan IUGR (Intrauterine Growth Restriction). Yang termasuk
prematur dari faktor maternal yaitu Preeklamsia, penyakit kronis, infeksi, penggunaan obat, KPD,
polihidramnion, iatrogenic, disfungsi plasenta, plasenta previa, solusio plasenta, inkompeten serviks,
atau malformasi uterin. Sedangkan yang termasuk IUGR (Intrauterine Growth Restriction) dari faktor
maternal yaitu Anemia, hipertensi, penyakit ginjal, penyakit kronis, atau pecandu alcohol atau
narkortika. Selain etiologi dari faktor maternal juga ada etiologi dari faktor fetus. Yang termasuk
prematur dari faktor fetus yaitu Gestasi multipel atau malformasi. Sedangkan, yang termasuk IUGR
(Intrauterine Growth Restriction) dari faktor fetus yaitu Gangguan kromosom, infeksi intrauterin
(TORCH), kongenital anomali, atau gestasi multipel (Bansal, Agrawal, dan Sukumaran, 2013).
Selain itu ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan bayi dengan berat badan lahir rendah atau
biasa disebut BBLR (Proverawati dan Ismawati, 2010) :
1. Faktor ibu :
a. Penyakit
Penyakit kronik adalah penyakit yang sangat lama terjadi dan biasanya kejadiannya
bisa penyakit berat yang dialami ibu pada saat ibu hamil ataupun pada saat melahirkan.
Penyakit kronik pada ibu yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR adalah hipertensi kronik,
Preeklampsia, diabetes melitus dan jantung (England, 2014).
1) Adanya komplkasi - komplikasi kehamilan, seperti anemia, perdarahan antepartum,
preekelamsi berat, eklamsia, infeksi kandung kemih.
2) Menderita penyakit seperti malaria, infeksi menular seksual, hipertensi atau darah tinggi,
HIV/AIDS, TORCH, penyakit jantung.
3) Salah guna obat, merokok, konsumsi alkohol.
b. Ibu (geografis)
1) Usia ibu saat kehamilan tertinggi adalah kehamilan pada usia < 20 tahun atau lebih dari 35
tahun.
2) Jarak kelahiran yang terlalu dekat atau pendek dari anak satu ke anak yang akan dilahirkan
(kurang dari 1 tahun).
3
3) Paritas yang dapat menyebabkan BBLR pada ibu yang paling sering terjadi yaitu paritas
pertama dan paritas lebih dari 4.
4) Mempunyai riwayat BBLR yang pernah diderita sebelumnya.
c. Keadaan sosial ekonomi
1) Kejadian yang paling sering terjadi yaitu pada keadaan sosial ekonomi yang kurang.
Karena pengawasan dan perawatan kehamilan yang sangat kurang.
2) Aktivitas fisik yang berlebihan dapat juga mempengaruhi keadaan bayi. diusahakan
apabila sedang hamil tidak melakukan aktivitas yang ekstrim.
3) Perkawinan yang tidak sah juga dapat mempengaruhi fisik serta mental.
2. Faktor janin
Faktor janin juga bisa menjadi salah satu faktor bayi BBLR disebabkan oleh : kelainan
kromosom, infeksi janin kronik (inklusi sitomegali, rubella bawaan, gawat janin, dan kehamilan
kembar).
3. Faktor plasenta
Faktor plasenta yang dapat menyebabkan bayi BBLR juga dapat menjadi salah satu
faktor. Kelainan plasenta dapat disebabkan oeh : hidramnion, plasenta previa, solutio plasenta,
sindrom tranfusi bayi kembar (sindrom parabiotik), ketuban pecah dini.
4. Faktor lingkungan
Banyak masyarakat yang menganggap remeh adanya faktor lingkungan ini. Faktor lingku
ngan yang dapat menyebabkan BBLR, yaitu : tempat tinggal di dataran tinggi, terkena radiasi,
serta terpapar zat beracun (England, 2014).
D. Pemeriksaan Penunjang
1. LAB
2. Pemeriksaan Radiologi
3. Pemeriksaan Fisik
E. Penatalaksanaan Medis
1. Tindakan farmakologis
Tindakan farmakologis yang dapat dilakukan yaitu memberikan antibiotik berupa :
a. Cefotaxime
b. Sagestam
2. Tindakan non farmakologis
a. Mempertahankan suhu dengan ketat
4
b. Mencegah infeksi dengan ketat
c. Pengawasan nutrisi dan ASI
d. Penimbangan ketat
F. Komplikasi
1. Kadar oksigen rendah saat lahir
2. Sulit untuk mempertahankan suhu tubuh agar tetap hangat sehingga bisa mengalami penurunan
suhu tubuh secara drastis (hipotermia)
3. Sulit menyusu
4. Mudah terserang infeksi
G. Pathway
Kelemahan
Resiko Tinggi Sulit mempertahankan
Sesak Nafas
Infeksi suhu tubuh
Kehilangan
Energi
Sianosis Perkembangan bayi terganggu
Tingkatkan
Pemberian Nutrisi kebersihan
Pemberian yang cukup & perawatan Rawat dalam Incubator
Oksigen 30%- cairan seimbang (steril)
35%
Pertahankan suhu ruang 25°C-30°c
Monitor energi bayi
5
BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan pada bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
a. Biodata Bayi
1) Kaji identitas bayi : nama, tempat lahir bayi, tanggal pemeriksaan, jenis kelamin, BB bayi,
pengukuran Panjang (panjang, lingkar kepala, lingkar dada, denyut jantung/menit,
regular/irregular, respirasi, temperatur aksila). Pengkajian identitas bayi ini jenis kelamin
sangat diperlukan karena untuk melakukan pemerikssan genetalia, umur untuk menentukan
pemeriksaan fisik.
2) Identitas orang tua bayi meliputi nama, umur, agama, suku bangsa, pekerjaan, pendidikan,
alamat. Pengkajian identitas orang tua bayi sangat diperlukan, agama dan suku bangsa
orang tua perlu di kaji karena hal ini berkaitan dengan kepercayaan dan tradisi yang
mungkin dapat menghambat proses pemberian asuhan keperawatan, untuk pendidikan juga
sangat diperlukan untuk proses komunikasi dan untuk mengetahui seberapa pengetahuan
orang tua, alamat untuk menentukan bagaimana epidemiologi di lingkungannya.
3) Keluhan Utama yang mungkin akan muncul yaitu BB bayi kurang dari 2500 gram, panjang
badan kurang dari 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang 33 cm,
umur kehamilan kurang dari 37 minggu, menangis lemah, kulit tipis, tonus otot hipotoni,
dan reflek menelan dan menghisap lemah
4) Riwayat Kesehatan :
Riwayat kesehatan yang perlu diperhatikan menurut Mendri & Prayogi (2016), antara
lain :
a) Riwayat Antenatal :
Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui, yaitu :
(1) Kaji keadaan ibu selama hamil apakah mengalami anemia, hipertensi, gizi buruk,
merokok, ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit seperti diabetes melitus,
kardiovaskuler dan paru.
(2) Kaji resiko persalinan preterm, misalnya kelahiran multiple, kelainan kongenital,
riwayat persalinan preterm.
(3) Kaji pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinuitas atau periksa tetapi tidak teratur
dan periksa kehamilan tidak pada petugas kehamilan.
6
(4) Kaji hari pertama haid terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan (kehamilan
postdate dan preterm).
b) Riwayat Natal :
Komplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang sangat erat dengan permasalahan
pada bayi baru lahir, perlu dikaji:
(1) Kala I : perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun plasenta previa.
(2) Kala II : persalinan dengan tindakan bedah Caesar, karena pemakaian obat penenang
(narkose) yang dapat menekan system pusat pernafasan.
c) Riwayat Post Natal :
Yang perlu dikaji antara lain :
(1) APGAR score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua A. S (0-3) asfiksia
berat, A. S (4-6) asfiksia sedang, A. S (7-10) asfiksia ringan.
(2) Berat badan lahir : BBLR 2500gram, lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-
36cm).
(3) Adanya kelainan kongenital: annencepal, hydrocephalus, anetrecial aesofagal.
5) Riwayat penyakit sekarang
Kaji kondisi saat ini. Gejala yang mungkin muncul pada bayi yaitu berat badan bayi <
2500 gram, menangis lemah, tonus otot lemah, kulit tipis, serta jaringan lemak dibawah kulit
sedikit, kurangnya reflek menelan dan menghisap, suhu tidak stabil. (Maryunani, 2013).
6) Riwayat penyakit dahulu
Kaji berkaitan dengan kondisi ibu selama kehamilan. Kaji adakah riwayat kelahiran
prematur sebelumnya, ada nya tumor (mioma uteri), Toksemia gravidarum, Ketuban Pecah
Dini (KPD), menderita penyakit akut dan kronis. (Maryunani, 2013).
7) Riwayat penyakit keluarga
Kaji kepada anggota keluarga apakah mempunyai riwayat penyakit seperti penyakit
jantung, kanker, diabetes, hipertensi, obesitas, alergi, atristis, tuberculosis, perdarahan,
alkoholisne, dan setiap gengguan kesehatan jiwa. (Maryunani, 2013).
2. Pola Fungsional Gordon menurut Mendri & Prayogi (2016).
a. Pola Presepsi Kesehatan
Pola Presepsi Kesehatan bayi belum dapat dikaji. Orang tua bayi juga perlu dikaji
seberapa pengetahuan kesehatan tentang bayi BBLR dan bagaimana bayi dapat masuk rumah
sakit.
7
b. Pola Nutrisi
Pola Nutrisi yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR yaitu pada gangguan absorbsi
gastrointentinal, kelemahan menghisap sehingga perlu diberikan cairan parentral atau
personde sesuai dengan kondisi bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan
juga untuk mengetahui dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi.
c. Pola Eliminasi
Pola Eliminasi yang perlu dikaji pada bayi BBLR : bagaimana frekuensi, jumlah,
konsistensi BAB serta frekuensi dan jumlah BAK.
d. Pola Aktifitas dan Latihan
Pada Pola Aktivitas ini belum dapat dikaji, apabila bayi saat lapar, BAB dan BAB bayi
hanya mampu menangis. Pada bayi dengan BBLR pergerakannya biasanya kurang aktif.
e. Pola Istirahat dan Tidur
Pola Istirahat dan Tidur ini kaji mengenai kualitas tidur dan lama tidur, biasanya bayi
bangun saat BAB dan BAK atau pada saat lapar. Pada Pola Istirahat dan Tidur pada bayi
normalnya 16-20 jam.
f. Pola Presepsi dan Sensori
Pola Presepsi Dan Sensori ini perlu dikaji pada reflek menelan dan menghisap bayi.
Biasanya apabila bayi merasa sakit hanya dapat menangis. Pada ibu perlu dikaji apa yang
sedang dialami bayi nya, kaji apakah ibu mengetahui kalau anaknya mengalami BBLR.
g. Pola Presepsi diri/Konsep Diri
Pola Presepsi Diri/Konsep diri belum dapat dikaji. Pada ibu bayi di kaji apakah ibu
malu dengan kondisi bayi nya, kaji apakah ibu percaya bahwa bayi nya akan segera sembuh
dan tumbuh kembangnya akan normal.
h. Pola Peran dan Hubungan
Peran Dan Hubungan ini, pengkajian yang dilakukan mengenai bagaimana hubungan
orang tua dengan bayi nya, peran sendiri untuk bayi dengan BBLR belum dapat dikaji.
i. Pola Seksual dan Reproduksi
Pola Seksual dan Reproduksi kaji bayi berjenis kelamin lakilaki atau perempuan, kaji
alat kelaminnya bersih atau tidak, adakah kelainan.
j. Pola Mekanisme dan Koping
Pola Mekanisme dan Koping bayi belum dapat dikaji. Pada ibu bayi perlu dikaji
seberapa tingkat kecemasannya terhadap bayi nya.
8
k. Pola Nilai dan Kepercayaan
Pola Nilai Dan Kepercayaan bayi belum dapat dikaji. Pada ibu bayi kaji agama yang di
anut, apa saja bentuk cara mendo’akan seperti sholat malam, membaca kitab, dzikir.
3. Pemeriksaan Fisik (Head to Toe) menurut Mendri & Prayogi (2016).
a. Keadaan Umum
Pada neonatus dengan BBLR mungkin keadaannya lemah. Keadaan akan membaik
apabila menunjukan gerakan yang aktif dan menangis keras. Kesadaran neonatus dapat dilihat
dari respon terhadap rangsangan, BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan usianya, tidak
ada pembesaran lingkar kepala.
b. Tanda-tanda vital
Bayi BBLR biasanya beresiko terjadinya hipotermi apabila suhu tubuh < 36 °C, nadi
normal antara 120 – 140 kali per menit, respirasi normal anatara 40 – 60 kali per menit.
c. Kulit
Warna kulit pada BBLR biasa ditemukan berwarna merah sedangkan ekstremitas
berwarna biru, pada bayi BBLR biasanya terdapat lanugo dan verniks.
d. Kepala
Pada kepala kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal hematom, ubun-
ubun besar cekung atau cembung, kemungkinan adanya peningkatan tekanan intrakranial.
e. Mata
Kaji pada konjungtiva anemis atau tidak anemis, kaji warna sclera, kaji pupil terhadap
reflek cahaya.
f. Hidung
Kaji adakah pernafasan cuping hidung serta adakah penumpukan lendir atau tidak.
g. Mulut
Kaji warna bibir berwarna pucat atau merah, kaji ada lendir atau tidak.
h. Telinga
Kaji adanya kelainan pada telinga serta perhatikan kebersihan telinga.
i. Leher
Kaji bagian leher neonatus, adakah lesi atau gangguan kulit lainnya.
j. Dada
Kaji bagian dada inspeksi paru-paru yang dinilai pergerkan pengembangan ekspirasi dan
inspirasi seimbang atau tidak, adakah suara wheezing dan ronchi, bagaimana frekuensi bunyi
jantung. Palpasi paru-paru teraba atau tidaknya focal fermitus, adanya suara Redup atau tidak,
atau suara normal yaitu suara sonor.
9
Pada jantung pada pemeriksaan fisik inspeksi jantung ini yang dinilai bentuk dadanya
simetris atau tidak, pemeriksaan fisik palpasi pada jantug yang dinilai ada atau tidaknya
pulsasi pulmonal, tricuspidalis, ictus cordis, pada pemeriksaan fisik perkusi Jantung dinilai
apakah ada suara selain suara redup serta pada pemeriksaan fisik auskultasi jantung dinilai
apakah terdengar adanya suara bunyi jantung 1 dan 2
k. Abdomen
Kaji perut buncit atau tidak, apabila perut buncit berarti mungkin adanya asites atau
tumor, apabila perut cekung dicurigai adanya hernia diagfragma, kaji 1 sampai 2 jam
bagaimana bunyi bising usus setelah masa kelahiran bayi.
l. Genetalia
Kaji genetalia bayi laki-laki kaji apakah testis sudah turun, adakah kelainan letak
uretra, pada bayi perempuan kaji bagian vagina, apakah labia mayor dan labia minor ada
kelainan atau tidak.
m. Anus
Kaji anus adakah kelainan atau tidak, kaji bagaimana frekuesi, serta warna BABnya.
n. Ekstremitas
Kaji bagian ekstremitas atas dan bawah, berwarna kebiruan atau tidak, kaji bagaimana
gerakannya lemah atau kuat, akral dingin atau hangat serta kaji adakah kelumpuhan syaraf
atau kelainan lainnya
4. Pemeriksaan Penunjang Menurut Lestari (2016), yaitu:
a. Radiologi
Foto thoraks/baby gram pada bayi baru lahir dengan usia kehamilan kurang bulan,
dapat dimulai pada umur 8 jam. Gambaran foto thoraks pada bayi mungkin dengan penyakit
membran hyalin karena kekurangan surfaktan berupa terdapatnya retikulogranular pada
parenkim dan bronkogram udara.
USG kepala terutama pada bayi dengan usia kehamilan 35 minggu dimulai pada umur
2 hari untuk mengetahui adanya hidrosefalus atau perdarahan intrakranial dengan
memvisualisasi ventrikel dan struktur otak garis tengah dengan fontanel anterior yang terbuka.
2.
b. Laboratorium
Pada bayi baru lahir akan dilakukan beberapa pemeriksaan darah:
1) Pemeriksaan darah rutin, ini adalah pemeriksaan dasar untuk mengetahui keadaan darah
secara umum. Dari pemeriksaan ini dapat diketahui secara sederhana tanda infeksi,
anemia, polisitemia dan lain-lain.
10
2) Pemeriksaan bilirubin, bertujuan untuk mengetahui tingginya kadar bilirubin dalam darah
dan mendeteksi kelainan hati
3) Glukosa (8-12 jam post natal), disebut hipoglikemi bila konsentrasi glukosa plasma < 50
mg/dl
B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia terhadap gangguan
kesehatan/proses kehidupan, atau kerentanan respons dari seorang individu, keluarga, kelompok, atau
komunitas
Diagnosa :
1. Resiko hipotermi berhubungan dengan sedikitnya lemak subkutan
2. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna
nutrisi
3. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
C. Intervensi
Diagnosa SLKI SIKI
1. Resiko hipotermi Setelah dilakukan tindakan 1. Observasi tanda-
berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 tanda vital setiap
sedikitnya lemak subkutan jam diharapkan suhu tubuh jam
menurun dengan kriteria : 2. Tempatkan bayi
a. Tidak ada pada inkubator
penurunan suhu 3. Kontrol temperatur
tubuh dalam inkubator
b. Melaporkan rasa 4. Pertahankan suhu
nyaman lingkungan adekuat
5. Monitor tanda-tanda
hipotermi
6. Bayi diberi pakaian
dan selimuti.
7. Bila ibu ada
anjurkan
menghangatkan
bayi dengan
11
melakukan kontak
kulit dengan kulit
8. Anjurkan ibu untuk
menyusui lebih
sering. Bila bayi
tidak dapat
menyusu, berikan
ASI peras
9. Ajarkan ibu cara
merawat bayi
lekat/metode
kanguru
2. Resiko gangguan nutrisi Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor nutrisi
kurang dari kebutuhan keperawatan selama 3 x 24 2. Posisikan pasien
berhubungan dengan jam gangguan pola tidur saat menyusu
ketidakmampuan mencerna dapat teratasi dengan 3. Berikan ASI yang
nutrisi kriteria hasil : cukup pada bayi
1. Mampu mencerna
dengan baik
2. ASI terpenuhi
3. Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan 1. Posisikan pasien saat
berhubungan dengan keperawatan selama 3 x 24 berbaring
penurunan ekspansi paru jam pola nafas dapat 2. Menjaga lingkungan
teratasi dengan kriteria pasien agar tetap steril
hasil : 3. Monitor keadaan pasien
1. Pernafasan
membaik
2. Tidak adanya sekret
3. Pasien menjadi
lebih nyaman
12
D. Implementasi
Implementasi merupakan tindakan yang direncanakan dalam rencana keperawatan. Tindakan
keperawatan mencakup tindakan mandiri(independen) dan tindakan kolaborasi. Tindakan mandiri
(independen) adalah aktivitas perawat yang didasarkan pada kesimpulan atau keputusan sendiridan
bukan merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan lain. Tindakan kolaborasi adalah
tindakan yang didasarkan hasil keputusan bersama, seperti dokter dan petugas medis
E. Evaluasi
Evaluasi adalah langkah terakhir dalam asuhan keperawatan,evaluasi dilakukan dengan
pendekatan SOAP (data subjektif, data objektif, analisa, planning). Dalam evaluasi ini dapat
ditentukan sejauh mana keberhasilan rencana tindakan keperawatan yang harus dimodifikasi.
BAB III
13
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
A. Pengkajian
1. Identitas Bayi
a. Nama : By.R1
b. Jenis Kelamin : Laki-Laki
c. Tempat Tanggal Lahir : RSUD Batara Guru Belopa, 12 November 2023
d. Anak Ke :4
2. Identitas Orang Tua
a. Nama Ayah : Tn.J
1) Umur : 25 Tahun
2) Pendidikan : SMP
3) Pekerjaan : Karyawan BMS
4) Agama : Islam
5) Suku/Bangsa : Bugis
6) Alamat : Bua
B. Riwayat Keperawatan
14
1. Prenatal / riwayat kehamilan
a. G : 4 P:4 A:0
b. HPHT : 20 Mei 2023
c. TP : RSUD Batara Guru Belopa
d. Umur Kehamilan : 7 Bulan
e. Pemeriksaan ANC : Timbang berat badan, pemberian tablet tambah darah, mengecek
tekanan darah
f. Riwayat Imunisasi : Imunisasi vaksin campak, imunisasi tetanus toxoid (TT)
2. Intranatal
a. TTL : RSUD Batara Guru Belopa, 12 November 2023
b. Penolong Persalinan : Bidan
c. Tempat Persalinan : Ruang Persalinan RSUD Batara Guru Belopa
d. BBL : 1995 gram
e. PBL : 46,5 cm
f. Jenis Kelamin : Laki-Laki
g. Apgar Skor : 1/1/3
No Tanda 0 1 2
.
1. Appearance color (warna kulit) Seluruh Tubuh Seluruh
tubuh kemerahan tubuh
biru/pucat ekstremitas kemeraha
biru n
2. Pulse (heart rate) / frekuensi jantung Tidak ada < 100 ≥ 100
x/menit x/menit
3. Grimace (reaksi terhadap lingkungan) Tidak Gerakan Reaksi
bereaksi sedikit melawan
4. Aktifiti (tonus otot) Lumpuh Ekstremitas Gerakan
fleksi aktif
sedikit
5. Respiration (pernafasan) Tidak ada Lambat Menangis
kuat
15
C. Pemeriksaan Fisik (Head to toe)
1. Refleks moro : Ya
2. Refleks blink : Ya
3. Refleks tonik neck : Tidak
4. Refleks palmar : Ya
5. Refleks babinsky : Tidak
6. Tonus rooting : Ya
7. Tonus sucking : Ya
8. Keadaan umum : Sianosis
9. Tanda-tanda vital : Sb = 35,4°C , HR =90 x/m, RR = 66 x/m, SPO2 = 89 %
10. Kepala dan wajah : Kepala mampu tegak, wajah simetris
11. Mata : Terlihat kuning
12. Telinga : Tidak ada kelainan
13. Hidung : Bernafasan sedikit terganggu
14. Mulut : Tidak ada sekret
15. Tenggorokan : Tidak ada sekret
16. Leher : Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid
17. Dada : Simetris
18. Paru-paru : Baik
19. Jantung : Detak jantung normal
20. Abdomen : Tidak ada pembengkakan
21. Ginjal : Baik
22. Genetalia : Kerbersihan baik
23. Rektum : Feses baik
24. Esktremitas : Tonus otot baik
25. Punggung : Baik
26. Neurologi : Sistem saraf baik
27. Endokrin : Jaringan kelenjar baik
D. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium yaitu hiperbilirubinemia
16
17
18
19
E. Diagnosa Keperawatan
2. Resiko Setelah dilakukan 1. Memberikan ASI yang 1. Menjaga agar nutrisi bayi
gangguan tindakan keperawatan cukup terpenuhi dengan baik
nutrisi selama 3x24 jam
kurang dari gangguan nutrisi dapat
kebutuhan teratasi dengan
berhubungan Kriteria Hasil :
dengan 1. Nutrisi
ketidakmamp terpenuhi
uan 2. Tidak adanya 2. Monitor kondisi bayi 2. Menjaga agar tidak
mencerna gangguan adanya gangguan
nutrisi pencernaan pencernaan pada bayi
3. Rasa nyaman
meningkat
G. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
21
3. Pola nafas 11.50 Wita 1. Momitor pola nafas S:-
tidak efektif 2. Mengatur posisi pasien
berhubungan
dengan
penurunan O : Sianosis (+), sesak (+)
ekspansi
paru A : Pola nafas tidak efektif
P : Lanjutkan intervensi
22
H. Evaluasi Keperawatan
1. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, pasien merasakan perubahan
yang sangat signifikan dan pasien menjadi lebih aman dan nyaman
2. Keadaan nutrisi menjadi lebih baik untuk peningkatan berat badan bayi
3. Pernapasan pasien tampak lebih baik dari sebelumnya
23
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bayi dengan berat badan lahir rendah tetap bisa tumbuh sehat.
Namun, tak menutup kemungkinan juga mengalami beberapa masalah
kesehatan, seperti sulit menaikkan berat badan, sulit menyusu, dan
rentan terkena infeksi.Bayi berat badan lahir rendah (BBLR)
merupakan bayi baru lahir yang saat dilahirkan memiliki berat badan
senilai < 2500 gram tanpa menilai masa gestasi. (Sholeh, 2014). Pada
tahun 1961 oleh World Health Organization (WHO) semua bayi yang
telah lahir dengan berat badan saat lahir kurang dari 2.500 gram
disebut Low Birth Weight Infants atau Bayi Berat Lahir Rendah
(BBLR).
B. Saran
Dengan adanya asuhan keperawatan ini maka dapat
memudahkan kita untuk mengkaji lebih jauh lagi mengenai BBLR,
semoga pembaca dapat memahami maksud dan tujuan dari penulisan
asuhan keperawatan ini, diharapkan adanya kritik dan saran untuk
mengembangkan asuhan keperawatan ini agar menjadi lebih baik dari
sebelumnya.
24
DAFTAR PUSTAKA
25