0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan39 halaman

Panduan Asuhan Keperawatan BBLR

Laporan pendahuluan ini membahas tentang bayi berat badan lahir rendah (BBLR), meliputi definisi, anatomi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan untuk BBLR. Tujuannya adalah memberikan pemahaman menyeluruh tentang BBLR dan perawatan yang diberikan.

Diunggah oleh

Tania Kulansi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan39 halaman

Panduan Asuhan Keperawatan BBLR

Laporan pendahuluan ini membahas tentang bayi berat badan lahir rendah (BBLR), meliputi definisi, anatomi, etiologi, klasifikasi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, pemeriksaan, penatalaksanaan, dan asuhan keperawatan untuk BBLR. Tujuannya adalah memberikan pemahaman menyeluruh tentang BBLR dan perawatan yang diberikan.

Diunggah oleh

Tania Kulansi
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

Disusun Oleh :

Nama : Aulia Wati


NIM : 2020-01-14201-006

JURUSAN S1 KEPERAWATAN
STIKES EKA HARAP PALANGKA RAYA
TAHUN 2022
DAFTAR ISI
COVER..............................................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................1
2.1 Latar Belakang....................................................................................................1
2.2 Rumusan Masalah...............................................................................................1
2.3 Tujuan.................................................................................................................2
2.4 Manfaat...............................................................................................................2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................4
2.1 Definisi................................................................................................................4
2.2 Anatomi Fisiologi...............................................................................................4
2.3 Etiologi................................................................................................................9
2.4 Klasifikasi.........................................................................................................10
2.5 Patofisiolofi (WOC)..........................................................................................10
2.6 Manifestasi Klinis.............................................................................................12
2.7 Komplikasi........................................................................................................13
2.8 Pemeriksaan Penunjang....................................................................................13
2.9 Penatalaksanaan Medis.....................................................................................13
2.10 Asuhan Keperawatan Teori..............................................................................15
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN...........................................................................34
BAB 4 PENUTUP..........................................................................................................35
4.1 Simpulan...........................................................................................................35
4.2 Saran.................................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................36
LAMPIRAN...................................................................................................................37

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang


Dalam beberapa tahun ini perhatian terhadap janin yang mengalami pertumbuhan
dalaam kandungan sangat meningkat. Hal ini disebabkan masih tingginya angka
kematian perinatal neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat
badan lahir rendah
Melihat dari kejadian terdahulu BBLR sudah seharusnya menjadi perhatian yang
mutlak terhadap para ibu yang mengalami kehamilan yang beresioka karena dilihat
dari frekuensi BBLR di negara maju berkisar antara 3,6-10,8% sedangkan di negara
berkembang berkisar antara 10-34%. Dapat dibandingkan dengan rasio antara
negara maju dan berkembang adalah 1:4
Kematian perinatal ppada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari bayi
normal pada umur kehamilan yang sama. Kalaupun bayi menjadi dewasa ia akan
mengalami gangguan pertumbuhan, baik fisik maupun mental. Prognosis akan lebih
buruk lagi bila berat badan makin rendah.
Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan oleh seringnya dijumpai kelainan
komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, perdarahan intracranial,
dan hipoglikemia. Bila bayi ini selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan saraf
dan akan terjadi gangguan bicara, IQ yang rendah, dan gangguan lainnya.
2.2 Rumusan Masalah
a. Apa defenisi BBLR ?
b. Apa saja Anatomi BBLR ?
c. Apa etiologi BBLR ?
d. Apa saja Klasifikasi BBLR ?
e. Bagaimana Patofisiologi BBLR ?
f. Apa saja manifestasi klinis dari BBLR ?
g. Apa saja Komplikasi BBLR ?
h. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk BBLR ?
i. Bagaimana penatalaksanaan pada klien dengan BBLR ?
j. Apa saja asuhan keperawatan pada klien dengan BBLR ?

1
2.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Memberikan gambaran tentang BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan asuhan
keperawatan pada klien dengan BBLR.
2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan tentang defenisi BBLR
b. Menjelaskan tentang Anatomi BBLR
c. Menjelaskan tentang etiologi BBLR
d. Menjelaskan tentang Klasifikasi BBLR
e. Menjelaskan tentang Patofisiologi BBLR
f. Menjelaskan tentang manifestasi klinis dari BBLR
g. Menjelaskan tentang Komplikasi BBLR
h. Menjelaskan tentang pemeriksaan penunjang untuk BBLR
i. Menjelaskan tentang penatalaksanaan pada klien dengan BBLR
j. Menjelaskan tentang asuhan keperawatan pada klien dengan BBLR
2.4 Manfaat
1. Teoritis
Dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi dunia pendidikan dalam
mengembangkan ilmu keperawatan khususnya mengenai asuhan keperawatan
pada BBLR.
2. Praktis
a. Bagi Keluarga Klien
Ibu klien dapat mengantisipasi terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir
dengan berat badan rendah.
b. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan dengan ini bisa sebagai masukan khususnya penanganan
keperawatan pada anak dengan BBLR. Dan menjadi masukan bagi Rumah
Sakit menyediakan perlengkapan untuk penanganan hipotermi tiap ruangan.
c. Bagi Profesi Keperawatan
Sebagai sumbangan atau referensi terhadap profesi keperawatan dalam
pemberian asuha keperawatan dengan kasus BBLR guna meningkatkan
mutu pelayanan keperawatan.

2
d. Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk mengaplikasikan mata kuliah riset keperawatan yang
berkaitan dengan pemberihan asuhan keperawatan pada BBLR di Rumah
Sakit

3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi

Bayi berat badan lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram. Berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan
kurang dari 2500 gram pada waktu lahir.
Berat badan lahir rendah yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500
gram tanpa memperhatikan usia gestasi (dihitung satu jam setelah melahirkan).
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500
gram pada waktu lahir.
2.2 Anatomi Fisiologi
1. Sistim Kardiovaskuler
Setelah lahir, darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil
oksigen dan bersirkulasi ke seluruh tubuh guna menghantarkan oksigen ke
jaringan. Agar terbentuk sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar
rahim, terjadi dua perubahan besar, yaitu :
a. Penutupan foramen ovale pada atrium paru dan aorta
b. Penutupan duktus arteriosus antara arteri paru dan aorta
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem
pembuluh darah tubuh. Jadi, perubahan tekanan tersebut langsung berpengaruh
paada aliran darah. Oksigen menyebabkan system pembuluh mengubah tekanan
dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya sehingga mengubah
aliran darah.
Dua peristiwa yang mengubah tekanan dalam pembuluh darah :
a. Pada saat tali pusat dipotong, resistensi pembuluh darah sistemik meningkat
dan tekanan atrium kanan menurun. Aliran darah menuju atrium kanan
berkurang sehingga menyebabkan penurunan volume dan tekanan pada
atrium tersebut. Kedua kejadian ini membantu darah yang miskin oksigen
mengalir ke paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
b. Pernapasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paru dan
meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernapasan pertama ini
menimbulkan relaksasi sistem pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi

4
ke paru mengakibatkan peningkatan pembuluh darah dan tekanan pada
atrium kanan. Dengan peningkatan tekanan atrium kanan dan penurunan
tekanan atrium kiri, foramen ovale secara fungsional akan menutup.
Dengan pernapasan, kadar oksigen dalam darah meningkat. Akibatnya duktus
arteriosus mengalami konstriksi dan menutup dalam waktu 8-10 jam setelah bayi
lahir. Vena umbilikus, duktus venosus, dan arteri hipogastrika pada tali pusat
menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah bayi lahir dan setelah
tali pusat di klem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung dalam 2-3
bulan.
Total volume darah yang bersirkulasi pada saat bayi lahir adlah 80 ml/kg berat
badan. Akan tetapi, jumlah ini dapat meningkat jika tali pusat tidak dipotong
pada waktu lahir. Kadar hemoglobin tinggi (15-20 gr/dl), 70% adalah Hb janin.
Perubahan Hb janin menjadi Hb dewasa yang terjadi di rahim selesai dalam 1-2
tahun kehidupan
2. Sistem Pernafasan
a. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx, yang
bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur
percabangan bronkus. Proses ini terus berlanjut setelah kelahiran hingga
sekitar usia 8 tahun sampai jumlah bronkiolus dan alveolus akan
sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya bukti
gerakan napas sepanjang trimester kedua dan ketiga (Varney’s, halaman
551). Ketidakmatangan paru-paru terutama akan mengurangi peluang
kelangsungan hidup bayi baru lahir sebelum usia kehamilan 24 minggu,
yang disebabkan oleh keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan
system kapiler paru-paru dan tidak mencukupinya jumlah surfaktan.
b. Awal adanya nafas
Dua factor yang berperan pada rangsangan napas pertama bayi.
1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar
rahim yang merangsang pusat pernapasan di otak.
2) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru-paru
selama persalinan, yang merangsang masuknya udara kedalam paru-

5
paru secara mekanis. Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler
dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan
berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi
system-sistem harus berfungsi secara normal.
3) Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernafas
Upaya pernapasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
1) Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
2) Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat surfaktan yang cukup dan
aliran darah ke paru-paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu
kehamilan dan jumlahnya akan meningkat sampai paru-paru matang sekitar
30-34 minggu kehamilan. Surfaktan ini mengurangi tekanan permukaan
paru dan membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak
kolaps pada akhir pernapasan
Tanpa surfaktan, alveoli akan kolaps setiap saat setelah akhir setiap
pernapasan, yang menyebabkan sulit bernapas. Peningkatan kebutuhan
energi ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa.
Peningkatan kebutuhan energi ini memerlukan penggunaan lebih banyak
oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stress pada
bayi yang sebelumnya sudah terganggu.
c. Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan, mempunyai cairan di dalam paru-parunya. Pada saat bayi
melalui jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas
keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang dilahirkan melalui seksio sesaria
kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada ini dan dapat menderita
paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali
tarikan napas pertama, udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus bayi
baru lahir. Dengan sisa cairan di dalam paru-paru dikeluarkan dari paru dan
diserap oleh pembuluh limfe dan darah. Semua alveolus paru-paru akan
berkembang terisi udara sesuai dengan perjalanan waktu.
d. Funsi system pernapasan dalam kaitanya dengan fungsi kardiovaskuler

6
Oksigenasi yang memadai merupakan factor yang sangat penting dalam
mempertahankan kecukupan pertukaran udara. Jika terdapat hipoksia,
pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokonstriksi. Pengerutan
pembuluh ini berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima
oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan
oksigenasi jaringan, yang akan memperburuk hipoksia.
Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas
dalam alveolus dan menghilangkan cairan paru-paru. Peningkatan aliran
darah ke paru-paru akan mendorong terjadinya peningkatan sirkulasi limfe
dan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan
sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim.
3. Sistem Termoregulasi
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuh mereka, sehingga akan
mengalami stress dengan adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat
bayi meninggalkan lingkungan rahim ibu yang hangat, bayi tersebut kemudian
masuk ke dalam lingkungan ruang bersalin yang jauh lebih dingin. Suhu dingin
ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, sehingga mendinginkan
darah bayi.
Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil
merupakan usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan
kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan
hasil penggunaan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh, dan mereka mampu
meningkatkan panas tubuh sampai 100 %. Untuk membakar lemak coklat,
seorang bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan
mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang
oleh bayi baru lahir dan cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu
singkat dengan adanya stress dingin. Semakin lama usia kehamilan, semakin
banyak persediaan lemak coklat bayi.
Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia
dan asidosis. Oleh karena itu, upaya pencegahan kehilangan panas merupakan
prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas
pada bayi baru lahir.

7
Disebut sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360 C. Suhu normal
pada neonatus adalah 36 5 – 370 C.
Bayi baru lahir mudah sekali terkena hipotermia yang disebabkan oleh:
a. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna
b. Permukaan tubuh bayi relative lebih luas
c. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas
d. Bayi belum mampu mengatur possisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak
kedinginan.
Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu disekeliling bayi rendah dan
upaya mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada
masa stabilisasi yaitu 6 – 12 jam pertama setelah lahir. Misal: bayi baru lahir
dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir atau meskipun
lingkungan disekitar bayi cukup hangat namun bayi dibiarkan telanjang atau
segera dimandikan.
Gejala hipotermia:
a. Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, bayi menjadi kurang aktif,
letargis, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI dan menangis lemah.
b. Pernapasan megap-megap dan lambat, denyut jantung menurun.
c. Timbul sklerema : kulit mengeras berwarna kemerahan terutama dibagian
punggung, tungkai dan lengan.
d. Muka bayi berwarna merah terang
e. Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang
akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada
paru-paru, ikterus dan kematian.
Mekanisme terjadinya Hipotermia:
Hipotermia pada bayi baru lahir timbul karena penurunan suhu tubuh yang
dapat terjadi melalui:
a. Radiasi : Yaitu panas tubuh bayi memancar kelingkungan sekitar bayi yang
lebih dingin, misal : BBL diletakkan ditempat yang dingin.
b. Evaporasi : Yaitu cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap,
misal : BBL tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.

8
c. Konduksi : Yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung
kontak dengan permukaan yang lebih dingin, misal : popok/celana basah
tidak langsung diganti.
d. Konveksi : Yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling
bayi, misal : BBL diletakkan dekat pintu/jendela terbuka.
2.3 Etiologi
Penyebab kelahiran bayi berat badan lahir rendah, yaitu:
1. Faktor genetik atau kromosom
2. Infeksi
3. Bahan toksik
4. Insufisiensi atau disfungsi plasenta
5. Radiasi
6. Faktor nutrisi
7. Factor lain seperti merokok, peminum alkohol, bekerja berat pada masa
kehamilan, plasenta previa, kehamilan ganda, obat-obatan, dan sebagainya.
Selain penyebab diatas ada beberapa penyebab kelahiran berat badan lahir rendah
yang berhubungan, yaitu:
1. Faktor ibu
a. Paritas
b. Abortus spontan sebelumnya
c. Infertilitas
d. Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
e. Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat
f. Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh
darah, perokok
2. Faktor kehamilan
a. Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum
b. Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini
3. Faktor janin
a. Cacat bawaan, infeksi dalam rahim.
b. Infeksi congenital (missal : rubella)
4. Faktor yang masih belum diketahui

9
2.4 Klasifikasi
Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat lahir rendah
dibedakan dalam beberapa macam:
1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), berat lahir 1500 gram-2500 gram.
2. Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR),berat alhir kurang dari 1500 gram.
3. Bayi Berta Lahir Ekstrem Rendah (BBLER) berat lahir kurang dari 1000
gram. Sedangkan menurut WHO membagi Umur kehamilan dalam tiga
kelompok :
1. Preterm : kurang dari 37 minggu lengkap.
2. Aterm : mulai dari 37 minggu sampai kurang dari 42 minggu lengkap.
3. Pos term : 42 minggu lengkap atau
lebih. Ada dua macam BBLR yaitu :
1. Prematuritas murni atau bayi yang kurang bulan (KB/SMK) : bayi yang
dilahirkan dengan umur kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai.
2. Dismaturitas : bayi .lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa
gestasi itu
2.5 Patofisiolofi (WOC)
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500
gram pada waktu lahir. Secara umum penyebab dari bayi berat badan lahir rendah
dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain gizi saat hamil yang kurang dengan
umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun, jarak hamil dan persalinan terlalu
dekat, pekerjaan yang terlalu berat, penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung,
gangguan pembuluh darah, perokok
BBLR biasanya disebabkan juga oleh hamil dengan hidramnion, hamil ganda,
perdarahan, cacat bawaan, infeksi dalam rahim. Hal ini akan menyebabkan bayi
lahir dengan berat 2500 gram dengan panjang kurang dari 45 cm, lingkar dada
kurang dari 30 cm kepala lebih besar, kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak,
lemak kurang, otot hipotonik lemah, pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
biasanya terjadi pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu
Kemungkinan yang terjadi pada bayi dengan BBLR adalah Sindrom aspirasi
mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin,
dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu,
hiperbilirubinemia, patent ductus arteriosus, perdarahan ventrikel otak, hipotermia,

1
hipoglikemia, hipokalsemia, anemi, gangguan pembekuan darah, infeksi, retrolental
fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC), bronchopulmonary dysplasia, dan
malformasi konginetal.
Pathway

1
2.6 Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala dari bayi berat badan lahir rendah adalah:
1. Sebelum bayi lahir
a. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus
prematurus, dan lahir mati.
b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan.
c. Pergerakan janin pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih
lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut
d. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut seharusnya.
Sering dijumpai kehamilan dengan oligradramnion gravidarum atau
perdarahan anterpartum.
2. Setelah bayi lahir
a. Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin
b. Bayi premature yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu
c. Bayi small for date sama dengan bayi retardasi pertumbuhan intrauterine.
d. Bayi premature kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya.
Selain itu ada gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
1. Berat kurang dari 2500 gram.
2. Panjang kurang dari 45 cm.
3. Lingkar dada kurang dari 30 cm.
4. Lingkar kepala kurang dari 33 cm.
5. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.
6. Kepala lebih besar.
7. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.
8. Otot hipotonik lemah.
9. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea.
10. Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus.
11. Kepala tidak mampu tegak.
12. Pernapasan 40 – 50 kali / menit.
13. Nadi 100 – 140 kali / menit.

1
2.7 Komplikasi
Ada beberapa hal yang dapat terjadi apabila BBLR tidak ditangani secepatnya yaitu:
1. Sindrom aspirasi mekonium (menyababkan kesulitan bernapas pada bayi).
2. Hipoglikemia simtomatik.
3. Penyakit membrane hialin disebabkan karena surfaktan paru belum
sempurna,sehingga alveoli kolaps. Sesudah bayi mengadakan inspirasi, tidak
tertinggal udara residu dalam alveoli, sehingga selalu dibutuhkan tenaga
negative yang tinggi untuk yang berikutnya.
4. Asfiksia neonetorom.
5. Hiperbulirubinemia
2.8 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia.
2. Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan.
3. Titer torch sesuai indikasi.
4. Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi.
5. Pemantauan elektrolit.
6. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan (mis : fhoto thorak)
2.9 Penatalaksanaan Medis
1. Medis
a. Resusitasi yang adekuat, pengaturan suhu, terapi oksigen
b. Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
c. Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
d. Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang
tepat
2. Penanganan secara umum:
a. Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar
perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis
lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator
b. Pelestarian suhu tubuh
Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam
mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan,

1
asal suhu rectal dipertahankan antara 35,5 0 C s/d 370 C.Bayi berat rendah
harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya
dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal. Bayi berat rendah
yang dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan
0
pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25
C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 30 0C untuk bayi
dengan berat kurang dari 2000 gram
c. Inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator. Prosedur
perawatan dapat dilakukan melalui “jendela“ atau “lengan baju“. Sebelum
memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu dihangatkan,
0
sampai sekitar 29,4 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan 32,2 0C untuk
bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang, hal ini
memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa dibatasi
pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.
d. Pemberin oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi preterm
BBLR, akibat tidak adanya alveolo dan surfaktan. Konsentrasi O2yang
diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan head box, konsentrasi o 2
yang tinggi dalam masa yang panjangakan menyebabkan kerusakan pada
jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan
e. Pencegahan infeksi
Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang
kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan
terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun
khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi.
f. Pemberian makanan
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu mencegah
terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan pilihan pertama,
dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi yang reflek
hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara relative
memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.

1
2.10Asuhan Keperawatan Teori
2.10.1 Pengkajian
1. Biodata atau identitas pasien: meliputi nama tempat tanggal lahir jenis
kelamin
2. Orangtua meliputi : nama (ayah dan ibu, umur, agama, suku atau
kebangsaan, pendidikan, penghasilan pekerjaan, dan alamat
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat antenatal yang perlu dikaji atau diketahui dari riwayat
antenatal pada kasus BBLR yaitu:
1) Keadaan ibu selama hamil dengan anemia, hipertensi, gizi buruk,
merokok ketergantungan obat-obatan atau dengan penyakit
seperti diabetes mellitus, kardiovaskuler dan paru.
2) Kehamilan dengan resiko persalinan preterm misalnya kelahiran
multiple, kelainan kongenital, riwayat persalinan preterm.
3) Pemeriksaan kehamilan yang tidak kontinyuitas atau periksa
tetapi tidak teratur dan periksa kehamilan tidak pada petugas
kesehatan.
4) Hari pertama hari terakhir tidak sesuai dengan usia kehamilan
(kehamilan postdate atau preterm).
5) Riwayat natalkomplikasi persalinan juga mempunyai kaitan yang
sangat erat dengan permasalahan pada bayi baru lahir. Yang perlu
dikaji :
6) Kala I : perdarahan antepartum baik solusio plasenta maupun
plasenta previa.
7) Kala II : Persalinan dengan tindakan bedah caesar, karena
pemakaian obat penenang (narkose) yang dapat menekan sistem
pusat pernafasan.
b. Riwayat post natal
1) Yang perlu dikaji antara lain
2) Agar score bayi baru lahir 1 menit pertama dan 5 menit kedua AS
(0-3) asfiksia berat, AS (4-6) asfiksia sedang, AS (7-10) asfiksia
ringan.

1
3) Berat badan lahir : Preterm/BBLR < 2500 gram, untu aterm 
2500 gram lingkar kepala kurang atau lebih dari normal (34-36
cm).
4) Adanya kelainan kongenital : Anencephal, hirocephalus anetrecial
aesofagal.
4. Pola nutrisi: Yang perlu dikaji pada bayi dengan BBLR gangguan
absorbsi gastrointentinal, muntah aspirasi, kelemahan menghisap
sehingga perlu diberikan cairan parentral atau personde sesuai dengan
kondisi bayi untuk mencukupi kebutuhan elektrolit, cairan, kalori dan
juga untuk mengkoreksi dehidrasi, asidosis metabolik, hipoglikemi
disamping untuk pemberian obat intravena.
5. Pola eliminasi: Yang perlu dikaji pada neonatus adalah BAB : frekwensi,
jumlah, konsistensi. BAK : frekwensi, jumlah
6. Latar belakang sosial budaya: Kebudayaan yang berpengaruh terhadap
BBLR kebiasaan ibu merokok, ketergantungan obat-obatan tertentu
terutama jenis psikotropikaKebiasaan ibu mengkonsumsi minuman
beralkohol, kebiasaan ibu melakukan diet ketat atau pantang makanan
tertentu.
7. Hubungan psikologis: Sebaiknya segera setelah bayi baru lahir dilakukan
rawat gabung dengan ibu jika kondisi bayi memungkinkan. Hal ini
berguna sekali dimana bayi akan mendapatkan kasih sayang dan
perhatian serta dapat mempererat hubungan psikologis antara ibu dan
bayi. Lain halnya dengan BBLR karena memerlukan perawatan yang
intensif
8. Keadaan umum : pada neonates dengan BBLR keadaannya lemah dan
hanya merintih.kesadaran neonates dapat dilihat dari responnya terhadap
rangsangan. Adanya BB yang stabil, panjang badan sesuai dengan
usianya tidak ada pembesaran lingkar kepala dapat menunjukan kondisi
neonatos yang baik.
9. Tanda-tanda vital : neonates post asfiksia berat kondisi akan baik apabila
penanganan asfiksia benar, tepat dan cepat. Suhu normal pada tubuh bayi
n (36 C-37,5C), nadi normal antara (120-140 x/m), untuk respirasi

1
normal pada bayi (40-60 x/m), sering pada bayi post asfiksia berat
respirasi sering tidak teratur.
10.Kulit : warna kulit tubuh merah, sedangkan ekstremitas berwarna biru,
pada bayi preterm terdapat lanugo dan verniks.
11.Kepala : kemungkinan ditemukan caput succedaneum atau cephal
haematom, ubun-ubun besar cekung atau cembung kemungkinan adanya
peningkatan tekanan intrakranial.
12.Mata : warna conjungtiva anemis atau tidak anemis, tidak ada bleeding
conjungtiva, warna sklera tidak kuning, pupil menunjukan refleksi
terhadap cahaya.
13.Hidung : terdapat pernafasan cuping hidung dan terdapat penumpukan
lender.
14.Mulut : bibir berwarna pucat ataupun merah, ada lendir atau tidak.
15.Telinga : perhatiakan kebersihannya dan adanya kelainan.
16.Leher : perhatikan keberhasilannya karena leher neonates pendek.
17.Thorak : bentuk simetris,terdapat tarikan intercostals,perhatikan suara
wheezing dan ronchi,frekwensi bunyi jantung lebih dari 100x/m.
18. Abdomen : bentuk silindris,hepar bayi terletak 1-2 cm dibawah ascus
costae pada garis papilla mamae, lien tidak teraba, perut buncit berarti
adanya asites atau tumor, perut cekung adanya hernia diafragma,bising
usus timbul 1-2 jam setelah masa kelahiran bayi, sering terdapat retensi
karena GI tract belum sempurna.
19. Umbilicus : tali pusat layu, perhatikan ada perdarahan atau tidak adanya
tanda-tanda infeksi pada tali pusat.
20. Genetalia : pada neonates aterm testis harus turun, lihat adakah kelainan
letak muara uretra pada neonates laki-laki, neonates perempuan lihat
labia mayir dan labia minor, adanya sekresi mucus keputihan, kadang
perdarahan.
21. Anus : perhatikan adanya darah dalam tinja,frekwensi buang air besar
serta warna dari feces.

1
22. Ekstremitas : warna biru,gerakan lemah, akral dingin, perhatikan adanya
patah tulang atau adanya kelumpuhan syraf atau keadaan jari-jari tangan
serta jumlahnya.
23. Reflex : pada neonates preterm post asfiksia berat rflek moro dan
sucking lemah. Reflek moro dapat memberi keterangan mengenai
keadaan susunan syaraf pusat atau adanya patah tulang.
2.10.2 Doagnosa Keperawatan
1. Pola nafas tidak efektif b/d imaturitas organ pernafasan
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d obstruksi jalan nafas oleh
penumpukan lendir, reflek batuk
3. Risiko ketidakseimbangan temperatur tubuh b/d BBLR, usia kehamilan
kurang, paparan lingkungan dingin/panas.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
ketidakmampuan ingest/digest/absorb
5. Ketidakefektifan pola minum bayi b/d prematuritas
6. Hipotermi b/d paparan lingkungan dingin
7. Resiko infeksi b/d ketidakadekuatan system kekebalan tubuh
8. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya

1
2.10.3 Intervensi
No Doagnosa Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
Pola nafas tidak efektif b/d imaturitas NOC NIC :
organ pernafasan  Respiratory status : Ventilation Airway Management
Definisi : Pertukaran udara inspirasi  Respiratory status : Airway  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
dan/atau ekspirasi tidak adekuat patency lift atau jaw thrust bila perlu
Batasan karakteristik:  Vital sign Status  Posisikan pasien untuk
 Penurunan tekanan Kriteria Hasil : memaksimalkan ventilasi
inspirasi/ekspirasi  Mendemonstrasikan batuk  Identifikasi pasien perlunya
 Penurunan pertukaran udara per efektif dan suara nafas yang pemasangan alat jalan nafas buatan
menit bersih, tidak ada sianosis dan  Pasang mayo bila perlu
 Menggunakan otot pernafasan dyspneu (mampu mengeluarkan  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
tambahan sputum, mampu bernafas  Keluarkan sekret dengan batuk atau
1  Nasal flaring dengan mudah, tidak ada pursed suction
 Dyspnea lips)  Auskultasi suara nafas, catat adanya
 Orthopnea  Menunjukkan jalan nafas yang suara tambahan
 Perubahan penyimpangan dada paten (klien tidak merasa  Lakukan suction pada mayo
 Nafas pendek tercekik, irama nafas, frekuensi  Berikan bronkodilator bila perlu
 Assumption of 3-point position pernafasan dalam rentang  Berikan pelembab udara Kassa basah
 Pernafasan pursed-lip normal, tidak ada suara nafas NaCl Lembab
 Tahap ekspirasi berlangsung abnormal)  Atur intake untuk cairan
sangat lama  Tanda Tanda vital dalam mengoptimalkan keseimbangan.
 Peningkatan diameter anterior- rentang normal (tekanan darah,  Monitor respirasi dan status O2
posterior nadi, pernafasan) Oxygen Therapy
 Pernafasan rata-rata/minimal:  Bersihkan mulut, hidung dan secret

1
Bayi : < 25 atau > 60 trakea
Usia 1-4 : < 20 atau > 30  Pertahankan jalan nafas yang paten
Usia 5-14 : < 14 atau > 25  Atur peralatan oksigenasi
Usia > 14 : < 11 atau > 24  Monitor aliran oksigen
 Kedalaman pernafasan  Pertahankan posisi pasien
 Dewasa volume tidalnya 500 ml  Onservasi adanya tanda tanda
saat istirahat hipoventilasi
 Bayi volume tidalnya 6-8 ml/Kg  Monitor adanya kecemasan pasien
 Timing rasio terhadap oksigenasi
 Penurunan kapasitas vital Vital sign Monitoring
Faktor yang berhubungan :  Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
 Hiperventilasi  Catat adanya fluktuasi tekanan darah
 Deformitas tulang  Monitor VS saat pasien berbaring,
 Kelainan bentuk dinding dada duduk, atau berdiri
 Penurunan energi/kelelahan  Auskultasi TD pada kedua lengan dan
 Perusakan/pelemahan muskulo- bandingkan
skeletal  Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
 Obesitas selama, dan setelah aktivitas
 Posisi tubuh  Monitor kualitas dari nadi
 Kelelahan otot pernafasan  Monitor frekuensi dan irama
 Hipoventilasi sindrom pernapasan
 Nyeri  Monitor suara paru
 Kecemasan  Monitor pola pernapasan abnormal
 Disfungsi Neuromuskuler  Monitor suhu, warna, dan kelembaban
 Kerusakan persepsi/kognitif kulit

2
 Perlukaan pada jaringan  Monitor sianosis perifer
syaraf tulang belakang  Monitor adanya cushing triad (tekanan
 Imaturitas Neurologis nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari perubahan
vital sign

Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d NOC: NIC :


obstruksi jalan nafas oleh  Respiratory status : Ventilation Airway Suction
penumpukan lendir, reflek batuk.  Respiratory status : Airway  Auskultasi suara nafas sebelum dan
Definisi : Ketidakmampuan untuk patency sesudah suctioning.
membersihkan sekresi atau obstruksi  Aspiration Control  Informasikan pada klien dan keluarga
dari saluran pernafasan untuk Kriteria Hasil : tentang suctioning
mempertahankan kebersihan jalan  Mendemonstrasikan batuk  Minta klien nafas dalam sebelum
nafas efektif dan suara nafas yang suction dilakukan.
Batasan Karakteristik: bersih, tidak ada sianosis dan  Berikan O2 dengan menggunakan
2
 Dispneu, Penurunan suara nafas dyspneu (mampu mengeluarkan nasal untuk memfasilitasi suksion
 Orthopneu sputum, mampu bernafas nasotrakeal
 Cyanosis dengan mudah, tidak ada pursed  Gunakan alat yang steril sitiap
Kelainan suara nafas (rales, lips) melakukan tindakan
wheezing)  Menunjukkan jalan nafas yang  Anjurkan pasien untuk istirahat dan
 Kesulitan berbicara paten (klien tidak merasa napas dalam setelah kateter
 Batuk, tidak efekotif atau tidak tercekik, irama nafas, frekuensi dikeluarkan dari nasotrakeal
ada pernafasan dalam rentang  Monitor status oksigen pasien
 Mata melebar normal, tidak ada suara nafas  Ajarkan keluarga bagaimana cara

2
 Produksi sputum abnormal) melakukan suksion
 Gelisah  Mampu mengidentifikasikan  Hentikan suksion dan berikan oksigen
Perubahan frekuensi dan irama dan mencegah factor yang dapat apabila pasien menunjukkan
nafas Faktor-faktor yang menghambat jalan nafas bradikardi, peningkatan saturasi O2,
berhubungan: dll.
 Lingkungan : merokok, Airway Management
menghirup asap rokok, perokok  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin
pasif-POK, infeksi lift atau jaw thrust bila perlu
 Fisiologis : disfungsi  Posisikan pasien untuk
neuromuskular, hiperplasia memaksimalkan ventilasi
dinding bronkus, alergi jalan  Identifikasi pasien perlunya
nafas, asma. pemasangan alat jalan nafas buatan
 Obstruksi jalan nafas : spasme  Pasang mayo bila perlu
jalan nafas, sekresi tertahan,  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
banyaknya mukus, adanya jalan  Keluarkan sekret dengan batuk atau
nafas buatan, sekresi bronkus, suction
adanya eksudat di alveolus,  Auskultasi suara nafas, catat adanya
adanya benda asing dijalan nafas. suara tambahan
 Lakukan suction pada mayo
 Kolaborasikan pemberian
bronkodilator bila perlu
 Berikan pelembab udara Kassa basah
NaCl Lembab
 Atur intake untuk cairan
mengoptimalkan keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2

2
Risiko ketidak seimbangan NOC: NIC :
temperatur tubuh b/d BBLR, usia  Hydration Temperature Regulation (pengaturan
kehamilan kurang, paparan  Adherence Behavior suhu)
lingkungan dingin/panas  Immune Status  Monitor suhu minimal tiap 2 jam
Definisi : Risiko kegagalan  Infection status  Rencanakan monitoring suhu secara
mempertahankan suhu tubuh dalam  Risk control kontinyu
batas normal.  Risk detection  Monitor TD, nadi, dan RR
Faktor factor resiko:  Monitor warna dan suhu kulit
 Perubahan metabolisme dasar  Monitor tanda-tanda hipertermi dan
 Penyakit atau trauma yang hipotermi
mempengaruhi pengaturan suhu  Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
 Pengobatan pengobatan yang  Selimuti pasien untuk mencegah
3 menyebabkan vasokonstriksi dan hilangnya kehangatan tubuh
vasodilatasi  Ajarkan pada pasien cara mencegah
 Pakaian yang tidak sesuai dengan keletihan akibat panas
suhu lingkungan  Diskusikan tentang pentingnya
 Ketidakaktifan atau aktivitas pengaturan suhu dan kemungkinan
berat efek negatif dari kedinginan
 Dehidrasi  Beritahukan tentang indikasi terjadinya
 Pemberian obat penenang keletihan dan penanganan emergency
 Paparan dingin atau yang diperlukan
hangat/lingkungan yang panas  Ajarkan indikasi dari hipotermi dan
penanganan yang diperlukan
 Berikan anti piretik jika perlu

2
Ketidakseimbangan nutrisi kurang C: NIC :
NO dari kebutuhan tubuh b/d Nutritional Status : Nutrition Management
ketidakmampuan  Nutritional Status : food and  Kaji adanya alergi makanan
ingest/digest/absorb Fluid Intake  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
Definisi : Intake nutrisi tidak cukup  Nutritional Status : nutrient menentukan jumlah kalori dan nutrisi
untuk keperluan metabolisme tubuh. Intake yang dibutuhkan pasien
Batasan karakteristik :  Weight control  Anjurkan pasien untuk meningkatkan
 Berat badan 20 % atau lebih di Kriteria Hasil : intake Fe
bawah ideal  Adanya peningkatan berat  Anjurkan pasien untuk meningkatkan
 Dilaporkan adanya intake badan sesuai dengan tujuan protein dan vitamin C
makanan yang kurang dari RDA  Berat badan ideal sesuai dengan  Berikan substansi gula
(Recomended Daily Allowance) tinggi badan  Yakinkan diet yang dimakan
 Membran mukosa dan  Mampu mengidentifikasi mengandung tinggi serat untuk
4
konjungtiva pucat kebutuhan nutrisi mencegah konstipasi
 Kelemahan otot yang digunakan  Tidak ada tanda tanda  Berikan makanan yang terpilih ( sudah
untuk menelan/mengunyah malnutrisi dikonsultasikan dengan ahli gizi)
 Luka, inflamasi pada rongga  Menunjukkan peningkatan  Ajarkan pasien bagaimana membuat
mulut fungsi pengecapan dari menelan catatan makanan harian.
 Mudah merasa kenyang, sesaat  Tidak terjadi penurunan berat  Monitor jumlah nutrisi dan kandungan
setelah mengunyah makanan badan yang berarti kalori
 Dilaporkan atau fakta adanya  Berikan informasi tentang kebutuhan
kekurangan makanan nutrisi
 Dilaporkan adanya perubahan  Kaji kemampuan pasien untuk
sensasi rasa mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan
 Perasaan ketidakmampuan untuk Nutrition Monitoring
mengunyah makanan  BB pasien dalam batas normal

2
 Miskonsepsi  Monitor adanya penurunan berat badan
 Kehilangan BB dengan makanan  Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang
cukup biasa dilakukan
 Keengganan untuk makan  Monitor interaksi anak atau orangtua
 Kram pada abdomen selama makan
 Tonus otot jelek  Monitor lingkungan selama makan
 Nyeri abdominal dengan atau  Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tanpa patologi tidak selama jam makan
 Kurang berminat terhadap  Monitor kulit kering dan perubahan
makanan pigmentasi
 Pembuluh darah kapiler mulai  Monitor turgor kulit
rapuh  Monitor kekeringan, rambut kusam,
 Diare dan atau steatorrhea dan mudah patah
 Kehilangan rambut yang cukup  Monitor mual dan muntah
banyak (rontok)  Monitor kadar albumin, total protein,
 Suara usus hiperaktif Hb, dan kadar Ht
 Kurangnya informasi,  Monitor makanan kesukaan
misinformasi  Monitor pertumbuhan dan
Faktor-faktor yg berhubungan: perkembangan
 Ketidakmampuan pemasukan  Monitor pucat, kemerahan, dan
atau mencerna makanan atau kekeringan jaringan konjungtiva
mengabsorpsi zat-zat gizi  Monitor kalori dan intake nuntrisi
berhubungan dengan faktor  Catat adanya edema, hiperemik,
biologis, psikologis atau hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
ekonomi.  Catat jika lidah berwarna magenta,

2
scarlet

Ketidakefektifan pola minum bayi NOC : NIC :


b/d prematuritas  Breastfeeding Estabilshment : Breastfeeding assistance
infant  Fasilitasi kontak ibu dengan bayi sawal
 Knowledge : breastfeeding mungkin (maksimal 2 jam setelah
 Breastfeeding Maintenance lahir)
Kriteria Hasil :  Monitor kemampuan bayi untuk
 Klien dapat menyusui dengan menghisap
efektif  Dorong orang tua untuk meminta
 Memverbalisasikan tehnik untk perawat untuk menemani saat
mengatasi masalah menyusui menyusui sebanyak 8-10 kali/hari
 Bayi menandakan kepuasan  Sediakan kenyamanan dan privasi
5 menyusu selama menyusui
 Ibu menunjukkan harga diri  Monitor kemampuan bayi
yang positif dengan menyusui untukmenggapai putting
 Dorong ibu untuk tidak membatasi
bayi menyusu
 Monitor integritas kulit sekitar putting
 Instruksikan perawatan putting
untukmencegah lecet
 Diskusikan penggunaan pompa ASI
kalau bayi tidakmampu menyusu
 Monitor peningkatan pengisian ASI
 Jelaskan penggunaan susu formula

2
hanya jika diperlukan
 Instruksikan ibu untuk makan makanan
bergizi selama menyusui
 Dorong ibu untuk minum jika sudah
merasa haus
 Dorong ibu untuk menghindari
penggunaan rokok danPil KB selama
menyusui
 Anjurkan ibu untuk memakai Bra yang
nyaman, terbuat dari cootn dan
menyokong payudara
 Dorong ibu untukmelanjutkan laktasi
setelah pulang bekerja/sekolah

Hipotermi b/d paparan lingkungan NOC : NIC :


dingin  Thermoregulation Temperature regulation
 Thermoregulation :  Monitor suhu minimal tiap 2 jam
neonate Kriteria Hasil:  Rencanakan monitoring suhu secara
 Suhu tubuh dalam rentang kontinyu
6 normal  Monitor TD, nadi, dan RR
 Nadi dan RR dalam rentang  Monitor warna dan suhu kulit
normal  Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
 Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
 Selimuti pasien untuk mencegah

2
hilangnya kehangatan tubuh
 Ajarkan pada pasien cara mencegah
keletihan akibat panas
 Diskusikan tentang pentingnya
pengaturan suhu dan kemungkinan
efek negatif dari kedinginan
 Beritahukan tentang indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan emergency
yang diperlukan
 Ajarkan indikasi dari hipotermi dan
penanganan yang diperlukan
 Berikan anti piretik jika perlu
Vital sign Monitoring
 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan darah
 Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
 Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
 Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
 Monitor suara paru

2
 Monitor pola pernapasan abnormal
 Monitor suhu, warna, dan kelembaban
kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad (tekanan
nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari perubahan
vital sign

Resiko infeksi b/d ketidakadekuatan NOC : NIC :


system kekebalan tubuh.  Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
 Knowledge : Infection control  Bersihkan lingkungan setelah dipakai
Definisi : Peningkatan resiko  Risk control pasien lain
masuknya organisme patogen Kriteria Hasil :  Pertahankan teknik isolasi
Faktor-faktor resiko :  Klien bebas dari tanda dan  Batasi pengunjung bila perlu
 Prosedur Infasif gejala infeksi  Instruksikan pada pengunjung untuk
7  Ketidakcukupan pengetahuan  Menunjukkan kemampuan mencuci tangan saat berkunjung dan
untuk menghindari paparan untuk mencegah timbulnya setelah berkunjung meninggalkan
patogen infeksi pasien
 Trauma  Jumlah leukosit dalam batas  Gunakan sabun antimikrobia untuk
 Kerusakan jaringan dan normal cuci tangan
peningkatan paparan lingkungan  Menunjukkan perilaku hidup  Cuci tangan setiap sebelum dan
 Ruptur membran amnion sehat sesudah tindakan keperawtan
 Agen farmasi (imunosupresan)  Gunakan baju, sarung tangan sebagai

2
 Malnutrisi alat pelindung
 Peningkatan paparan lingkungan  Pertahankan lingkungan aseptik selama
patogen pemasangan alat
 Imonusupresi  Ganti letak IV perifer dan line central
 Ketidakadekuatan imum buatan dan dressing sesuai dengan petunjuk
 Tidak adekuat pertahanan umum
sekunder (penurunan Hb,  Gunakan kateter intermiten untuk
Leukopenia, penekanan respon menurunkan infeksi kandung kencing
inflamasi)  Tingktkan intake nutrisi
 Tidak adekuat pertahanan tubuh  Berikan terapi antibiotik bila perlu
primer (kulit tidak utuh, trauma Infection Protection (proteksi terhadap
jaringan, penurunan kerja silia, infeksi)
cairan tubuh statis, perubahan  Monitor tanda dan gejala infeksi
sekresi pH, perubahan peristaltik) sistemik dan lokal
 Penyakit kronik  Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung terhadap penyakit
menular
 Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Berikan perawatan kuliat pada area
epidema
 Inspeksi kulit dan membran mukosa

3
terhadap kemerahan, panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif

Kecemasan orang tua berhubungan NOC : NIC :


dengan kondisi penyakit bayinya  Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan
 Koping kecemasan)
kriteria hasil:  Gunakan pendekatan yang
 Orang tua atau keluarga menenangkan
mengekspresikan perasaan dan  Nyatakan dengan jelas harapan
8
keprihatinan mengenai bayi dan terhadap pelaku pasien
prognosis serta memperlihatkan  Jelaskan semua prosedur dan apa yang
pemahaman dan keterlibatan dirasakan selama prosedur
dalam asuhan.  Temani pasien untuk memberikan
keamanan dan mengurangi takut
 Berikan informasi faktual mengenai

3
diagnosis, tindakan prognosis
 Libatkan keluarga untuk mendampingi
klien
 Instruksikan pada pasien untuk
menggunakan tehnik relaksasi
 Dengarkan dengan penuh perhatian
 Identifikasi tingkat kecemasan
 Bantu pasien mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
 Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketakutan, persepsi
 Kelola pemberian obat anti cemas

3
2.10.4 Implementasi
Implementasi adalah suatu serangkaian tindakan yang dilakukan oleh
perawat untukmembantu klien dari masalah status kesehatan yang di hadapi
kedalam suatu kasus kesehatan yang lebih baik yang menggambarkan
kriteria hasil yang diharapkan
2.10.5 Evaluasi
Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang
kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan
cara berkesinambungan, dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga
kesehatan lainnya.

3
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN

3
BAB 4
PENUTUP

4.1 Simpulan
Bayi BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2.500 gram
tanpa memandang masa kehamilan. klasifikasi bayi dengan BBLR sebagai
Prematuritas murni/prematur dan Dismaturitas.
klasifikasi BBLR berdasarkan penanganan dan harapan hidup sebagai Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR) : berat lahir 1500- 2499 gram, Berat Badan Lahir Sangat
Rendah (BBLSR) : berat lahir 1000- 1500 gram, dan Berat Badan Lahir Ekstrim
Rendah (BBLER) : berat lahir kurang dari 1000 gram. Berat badan lahir rendah
dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, faktor ibu, faktor janin dan faktor
lingkungan. Faktor ibu meliputi penyakit yang diderita ibu, usia ibu saat hamil
kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, keadaan sosial ekonomi rendah.
Faktor janin meliputi hidramnion, kehamilan ganda, kelainan kromosom. Faktor
lingkungan meliputi tempat tinggal, radiasi, dan zat- zat beracun, dimana faktor-
faktor tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim sehingga mengalami gangguan dan suplai makanan ke bayi jadi berkurang.
Hal tersebut dapat mengakibatkan bayi lahir prematur atau dismatur dengan berat
badan lahir kurang dari 2500 gram
Pada bayi baru lahir pusat pengatur suhu tubuhnya belum berfungsi dengan
sempurna, sehingga mudah terjadi penurunan suhu tubuh, terutama karena
lingkungan yang dingin. Dengan prinsip adanya keseimbangan panas tersebut
bayi baru lahir akan berusaha menstabilkan suhu tubuhnya terhadap faktor-
faktor penyebab hilangnya panas karena lingkungan
4.2 Saran
Dengan adanya penulisan Laporan ini diharapkan mahasiswa dibidang kesehatan
khususnya mahasiswa jururusan keperawatan dapat memhaminya sehingga dapat
memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada ibu maupun calon ibu
atau keluarga untuk menjaga kesehatan mereka dalam mencegah terjadi kelahiran
bayi dengan berat badan rendah sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu
maupun bayi di Indonesia

3
DAFTAR PUSTAKA
Bothamley, J, 2018, Patofisiologi dalam Kehamilan, Jakarta: ECG.
Fishman, Marvin A. 2017. Buku Ajar Pediatri, Volume 3 Edisi 20. Jakarta:EGC.
Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan: Difinisi Dan Klasifikasi 2012-
2014/Editor,T. Heather Herdman; Alih Bahasa, Made Suwarwati Dan Nike Budhi
Subekti. Jakarta: EGC.
Huda, Nuratif dan Hardhi Kusuma. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa NANDA NIC-NOC. Jakarta: Media Action.
Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI & Usman A, 2012, Buku Ajar Neonatologi
Edisi ke-1, Jakarta: IDAI
Latief, Abdul, Partogi, M. N, Antonius P, M. Vinci G & Sukman T. P, 2017, Ilmu
Kesehatan Anak, Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI.
Manuaba, I. A. C, Manuaba, I. B. G. F, Manuaba, I. B. G, 2019, Ilmu Kebidanan,
Penyakit Kandungan, dan KB untuk Pendidikan Bidan, Jakarta: EGC.
Pantiawati, I, 2010, Bayi dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), Yogyakarta: Nuha
Media.
Proverawati, A & Ismawati, C, 2010, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) Plus Asuhan
pada BBLR dan Materi Pijat Bayi, Yogyakarta: Nuha Media.
Ribek, Nyoman dkk. 2017. Aplikasi Perawatan Bayi Resiko Tinggi Berdasarkan
Kurikulum Berbasis Kompetensi Program Keperawatan: Digunakan Sebagai
Bahan Pembelajaran Praktek Klinik dan Alat Uji Kompetensi. Denpasar:
Poltekkes Denpasar Jurusan Keperawatan.
Wong, D.L,dkk. 2018. Pedoman Klinik Keperawatan Pediatrik. Jakarta. Buku
Kedokteran

3
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai