KULIT KAPAL
Kegunaan kulit kapal adalah :
- Untuk membuat kapal kedap air dari samping dan dari bawah.
- Untuk memperkuat konstruksi kapal agar sanggup menahan
tekanan-tekanan tengangan-tengangan membujur kapal baik
yang berasal dari luar seperti angin, ombak, arus dll maupun
dari dalam seperti muatan-muatan.
Susunan pelat-pelat kulit kapal yang dipasang secara membujur
dari muka ke belakang dan mengelilingi lambung disebut lajur
(strake) lajur-lajur kulit kapal biasanya diberi nama sesuai dengan
tempat dan fungsinya yang dihubungkan satu sama lain dengan
cara keling maupun cara las
NAMA-NAMA LAJUR KULIT KAPAL
7
1. Lunas datar (horizontal keel) 6
2. Lajur pengapit lunas (garboard strake)
3. Lajur alas (bottom shell plating)
4. Lajur samping (bilge strake) Sarat max ……
5. Lajur boottoping
6. Lajur bingkai (sheer strage)
7. Pagar ( bulwark)
5
Sarat min ……
1 2 3
Lunas datar : lajur lunas bagian bawah yang terbentang dari
muka kebelakang sepanjang badan kapal.
Lajur pengapit lunas : lajur yang terdapat di kiri-kanan lajur
lunas datar, yang langsung berhubungan dengan lunas datar
Lajur alas/dasar : lajur-lajur pada bagian bawah badan kapal
yang berfingsi untuk membuat kapal kedap air dari bawah
dan menahan tengangan-tengangan membujur yang timbul
Lajur samping : lajur yang terletak pada bagian samping badan
kapal.
Lajur boottoping : lajur yang paling banyak mengalami
kerusakan sehubungan dengan karat hal ini disebabkan lajur-
lajur tersebut kadang-kadang berada dibawah air dan diatas
air
Lajur bingkai : lajur pertama yang terletak dibawah geladak atas
dan dibawah pagar.
PEMBERIAN TANDA DAN NOMOR PADA KULIT KAPAL
Pemberian tanda pada kulit kapal dimulai dari pelat pengapit
lunas (garboard strake) yaitu pelat lajur sepanjang kiri kanan
lunas datar sebagai lajur A. lajur lajur lainya ditandai dari bawah
keatas dari tiap sisi secara alphabet A,B,C,…dst kecuali I. Dan
pemberian nomor pada lajur diberi secara berurutan dari
belakang kedepan atau dari depan ke belakang .
PEMBERIAN TANDA DAN NOMOR PADA LAJUR KULIT KAPAL
GUNANYA IALAH :
“Agar dapat diketahui lokasi dari pelat dalam kaitannya dengan
pemeriksaan atau perbaikan karena kerusakan, sobek, maupun
survey sehubungan dengan penggantian pelat tersebut”.
Pemberian nomor dan tanda lajur selalu dikaitkan dengan
gading-gading ditempat tersebut untuk memberi kepastian pada
bagian mana pelat tersebut berada.
Contoh : Pelat E kiri 3 – 110 – 120 artinya :
Pelat E dilambung kiri, no 3 diantara gading-gading no.110 s/d 120
CARA PENYAMBUNGAN PELAT KULIT KAPAL
Agar kapal kuat dan kokoh maka berbagai bagian di dalam badan kapal
disambungkan satu dengan yang lain secara baik dan semestinya.
Sambungan-sambungan kulit kapal secara keling dan las ada beberapa
istilah :
1. Kampuh : sambungan antara pelat-pelat secara membujur.
2. Dampit : sambungan antara pelat-pelat sejara melintang.
CARA PENOMORAN KULIT KAPAL
Bagian kulit kapal yang dipertebal terdapat pada :
- Lajur bingkai dan lajur samping
- Tempat-tempat yang memerlukan daya tahan yang
besar terhadap tekanan yang kuat seperti disekitar
lubang-lubang pembuangan.
- Dibagian tengah panjang kapal dikedua lambung
pada jarak kurang lebih 0,2 panjang kapal dimuka dan
belakang bidang simetri.
- Disekitar lubang-lubang jendela pintu-pintu atau
bukaan-bukaan dilambung, ulup jangkar dan lain
sebagainya.
METODE-METODE PENYAMBUNGAN PADA KULIT KAPAL
1.Metode luar dan dalam ( in dan out )
-Dengan gading-gading ditekuk ( in dan out plating-joggled frame)
-Dengan pelat ditekuk (joggled platting-straight frame )
-Dengan pelat pengisian (in & out platting with liners dan straight
frame )
2. Metode tepi ( clinker). Umumnya dapat dilaksanakan dengan
gading-gading tidak ditekuk ( lurus) atau dengan gading-gading
ditekuk. (clinker platting-joggled beam)
3.Metode rata (flush) umumnya pada sistem ini digunakan cara las
dimana baik pelat maupun gading-gadingnya rata.
Gambar metode penyambungan lajur kulit kapal
OUT IN OUT
GADING 2X 1.A
DITEKUK
PELAT 1.B
DITEKUK
OUT OUT
IN
PELAT 1.C
PEGISIAN
KAMPUH DILAS
RATA 3
TEPI
2
PELAT-PELAT KHUSUS
Di antara seluruh kulit kapal terdapat beberapa pelat khusus.
- Pelat bantu ( stealer plate ) karena bentuk haluan dan buritan
yang mengecil ke arah depan dan ke belakang maka lebar pelat
lambung harus berkurang pada bagian-bagian tersebut. Untuk
menjaga agar pelat tersebut tidak terlalu kecil pada kedua ujung
biasanya dua pelat dari lajur-lajur bersebelahan dijadikan satu
lajur. Seperti pada pelat B4.
- Shoe plate ialah pelat yang dipakai untuk menghubungkan
batang linggi depan dengan pelat datar lunas.
- Coffin plate ialah pelat yang dipakai untuk menghubungkan
gading-gading diburitan dengan pelat datar lunas.
- Boss plate ialah pelat yang berbentuk cembung yang dipasang
diatas linggi baling-baling.
- Oxter plate ialah pelat lengkung yang dipasang pada pertemuan
linggi baling-baling dengan bagian yang menggantung dari
buritan
KETENTUAN PERATURAN KAPAL-KAPAL 1935 BAB II PASAL 6, 9 DAN 10
MENGENAI KULIT KAPAL ( DOK KERING, PINTU-PINTU DERMAGA,
PINTU-PINTU MUAT DAN PINTU-PINTU BATU BARA, LOBANG-LOBANG
MASUK DAN LOBANG-LOBANG KELUAR DI KULIT KAPAL )
Pasal 6 :
- Setiap kapal paling sedikit sekali dalam 12 bulan naik dok
kering agar seluruh bagian alas dan lunas serta linggi-lingi dapat
diperiksa dengan sempurna.
- Ditjenperla dan pengawas keselamatan pelayaran ( syahbandar)
depat memberikan dispensasi dari apa yang dapat diatas
termasuk kapal penumpang kayu kecuali kapal penumpang
yang digerakkan oleh mesin
- Setiap kapal naik dok, dirombak, diperbaiki sehingga
mempengaruhi kesempurnaan, lambung timbul, stabilitas atau
perbaikan-perbaikan pada alat-alat mesinyaharus
memberitahukan kepada Syahbandar ditempat mana kapal
tersebut naik dok.
Pasal 9
- Konstruksi pintu-pintu dermaga, pintu-pintu muat dan pintu-
pintu batu bara harus baik dan dapat ditutup dan dikunci
dengan baik.
- Pintu-pintu muat dan pintu-pintu batu bara letaknya sebagian
atau seluruhnya dibawah garis air maksimun, hanya boleh
dipasang atas ijin Dirjenla
- Lobang-lobang dalam dari tiap tabung buang untuk abu,
kotoran dan lain-lain harus dilengkapi dengan penutup yang
baik. Jika letaknya dibawah garis batas benaman maka
penutupnya harus kedap air dan dilengkapi dengan katup yang
baik di dalam tabung dan dipasang ditempat yang mudah
dicapai di atas garis air.
Pasal 10
- Tiap kapal harus dilengkapi dengan lobang-lobang bilas dalam
jumlah danukuran yang cukup untuk membuang secara cepat
yang mengalir di atas geladak.
- Pipa-pipa pembuang dari lobang bilas, wc-wc, tempat-tempat
cuci harus dibuat sedemikian rupasehingga susunannya baik dan
dilindungi dengan baik.
- Lobang-lobang dikulit kapal jumlahnya seminimal mungkin
(lobang pembuangan, lobang saniter, lobang air pendingin dll)
- Pipa-pipa pembuangan yang lobang buanganya terletak lebih
rendah dari 0.75 m di atas garis muat maksimum, kalau bagian
bawahnya melengkung dan lobang keluarnya terletak dibawah
garis muat pipa tsb harus terbuat dari baja,temba,besi atau
logam lain dengan daya tahan yang kuat.
- Lobang-lobang yg lebih besar dikulit kapal untuk memasukkan
air laut harus dilengkapi dengan kisi-kisi.
- Pipa-pipa dalam ruang mesin dalam ruang ketel yang lobang
buanganya keluar pada atau dibawah garis muat maksimum
harus dilengkapai dengan sebuah penutup atau kran yang
terletak di dekat kulit kapal.