Anda di halaman 1dari 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam tifoid masih merupakan masalah kesehatan yang penting di negara berkembang, termasuk Indonesia. Gambaran klinis demam tifoid seringkali tidak spesifik terutama pada anak sehingga dalam penegakan diagnosis diperlukan konfirmasi pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan penunjang ini meliputi pemeriksaan darah tepi, isolasi/biakan kuman, uji serologis dan identifikasi secara molekuler. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah. Beberapa faktor penyebab demam tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula keterlambatan penegakan diagnosis pasti. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala yang sama pada beberapa penyakit lain pada anak, terutama pada minggu pertama sakit. Hal ini menunjukkan perlunya pemeriksaan penunjang laboratorium untuk konfirmasi penegakan diagnosis demam tifoid. Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah.

Gejala tifus tidak khas seringkali mirip penyakit lainnya. Keluhan dan gejala Demam Tifoid tidak khas, dan bervariasi dari gejala seperti flu ringan sampai tampilan sakit berat dan fatal yang mengenai banyak sistem organ. Secara klinis gambaran penyakit Demam Tifoid berupa demam berkepanjangan, gangguan fungsi usus, dan keluhan susunan saraf pusat. Berbagai metode diagnostik baru untuk pengganti uji Widal dan kultur darah sebagai metode konvensional masih kontroversial dan memerlukan penelitian lebih lanjut. Beberapa metode diagnostik yang cepat, mudah dilakukan dan terjangkau harganya untuk negara berkembang dengan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup baik, seperti uji TUBEX, Typhidot-M dan dipstik mungkin dapat mulai dirintis penggunaannya di Indonesia.

B. TUJUAN Memahami cara pemeriksaan widal dan memahami cara interpretasi hasil pemeriksaan widal. C. JUDUL PRAKTIKUM Tes widal secara kualitatif dan semikuantitatif

D. WAKTU Hari, tanggal : Sabtu, 03 Maret 2012 Waktu Tempat : Pukul. 13.00 WIB sampai selesai : Laboratorium TUK STIKes BTH Tasikmalaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi, kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk serta standar higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah. Reaksi aglutinasi merupakan contoh reaksi serologi klasik. Grubber dan Durham melaporkan hasil observasinya kira-kira satu abad yang lalu. Mereka melihat bahwa antisera dapat menggumpalkan sel kuman dan menyarankan penggunaan phenomena ini untuk sarana identifikasi kuman.

Aglutinasi melibatkan penggumpalan antigen sel oleh antibody homolog. Dalam reaksi ini antigen merupakan sel darah merah, bakteri atau partikel anorganik (misalnya: lateks polystiren) yang telah dilapisi antigen. Antibody ditambahkan Re dalam suspense partikel tersebut bergabung dengan antigen permukaan dan saling berikatan membentuk gumpalan yang dapat dilihat dengan mata secara langsung. Phenomena ini secara luas dimanfaatkan untuk diagnose beberapa penyakit infeksi dan untuk penentuan tipe darah. Reaksi aglutinasi berlangsung dalam dua tahap, tahap pertama terjadi pelekatan agglutinin pada permukaan sel dalam partikel dan tahap kedua terjadi agregasi partikel yang telah mengalami sensitisasi dimana diperlukan adanya elektrolit. Tahapan kedua ini merupakan reaksi yang hasilnya dapat dilihat secara langsung yaitu berupa aglutinasi. Reaksi invitro dapat terlihat jika kadar antigen dan antibody mencapai jumlah optimum untuk terjadinya ikatan silang antar partikel. Jika dalam suatu campuran reaksi terlalu banyak antibody nya, maka tidak akan terjadi reaksi yang terlihat, karena partikel yang dilapisi terhambat untuk berikatan silang dan membentuk kisi-kisi, keanehan ini disebut phenomena prozone. Sebaliknya, jika kadar antigennya terlalu banyak , maka antibody tetap bereksi dengan antigen yang melapisi partikel, tetapi tidak mempunyai cukup antigen untuk membentuk ikatan silang antar partikel.
3

Reaksi aglutinasi ada dua macam : 1. Aglutinasi direct Test aglutinasi yang pertama ditemukan menggunakan suspensi bakteri sebagai rekstan. Cara ini disebut sebagai los direk, karena antigen dan antibody bergabung secara langsung dan membentuk titik akhir berupa aglutinat. 2. Aglutinasi indirect Selain tes aglutinasi, dikenal juga adanya tipe aglutinasi indirect atau aglutinasi pasif dimana reaktan dilapiskan pada permukaan suatu partikel yang berfungsi sebagai karier. Banyak antigen dapat diserap langsung pada permukaan eritrosit, dan fenomena ini terutama terlihat pada antigen polisakarida, meskipun banyak protein yang juga bersifat demikian. Eritrosit mudah mengalami degradasi, sehingga memerlukan tindakan yang dapat memberikan stabilitas dan mengabsorbsi antigen pada permukaannya. Berbagai metode diagnostik masih terus dikembangkan untuk mencari cara yang cepat, mudah dilakukan dan murah biayanya dengan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Hal ini penting untuk membantu usaha penatalaksanaan penderita secara menyeluruh yang juga meliputi penegakan diagnosis sedini mungkin dimana pemberian terapi yang sesuai secara dini akan dapat menurunkan ketidaknyamanan penderita, insidensi terjadinya komplikasi yang berat dan kematian serta memungkinkan usaha kontrol penyebaran penyakit melalui identifikasi karier Sering 2-mercaptoethanol ditambahkan ke tes Widal. Agen ini lebih mudah denatures yang IgM kelas antibodi , jadi jika penurunan titer terlihat setelah menggunakan agen ini, itu berarti bahwa kontribusi IgM telah dihapus meninggalkan IgG komponen. Ini diferensiasi antibodi kelas adalah penting, karena memungkinkan untuk membedakan dari baru (IgM) dari infeksi lama (IgG).

BAB III METODE PRAKTIKUM A. Alat dan Bahan 1. Tabung reaksi 10 buah 2. Mikro pipet 3. Slide 4. Waterbath 5. Kit pemeriksaan widal 6. NaCl 0.9% 7. Serum

B. Prinsip Secara invitro terhadap perubahan kompleks antigen-antibody (Ag-Ab). Pengujian tersebut berdasarkan pada proses presipitasi atau aglutinasi dan aktivasi komplemen. C. Metode 1. Rapid Slide Test 2. Tube Aglutination Test

D. Cara kerja 1. Rapid Slide Test a. b. Siapkan slide yang telah diberikan lingkaran Dengan mikro pipet masukkan serum kedalam masing-masing lingkaran dengan volume berturut-turut: 80 ul, 40 ul dan 20 ul. c. Tambahkan kedalam masing-masing serum satu tetes antigen (pengenceran 1:20, 1:40, dan 1:80) d. e. Campurkan dengan cara digoyang goyangkan Selama satu menit Perhatikan aglutinasi yang terjadi. Setiap sampel yang menunjukkan aglutinasi sebaiknya dikonfirmasi dengan Tube Aglutination Test.

2. Tube Aglutination Test


5

a. Siapkan 10 tabung reaksi dan susunlah dalam rak. Beri nomor dari satu sampai sepuluh b. Dengan pipet masukkan 1.9 ml NaCl pada tabung Satu c. Dengan pipet masukkan 1 ml NaCl pada masing-masing tabung 2-10 d. Masukkan 0.1 ml serum pada tabung satu dan campur hingga homogeny e. Ambil 1 ml campuran tabung satu dan masukkan pada tabung 2. Tabung 2 dicampur hingga homogeny, dan ambil 1 ml untuk dimasukkan pada tabung 3, dan seterusnya hingga tabung 9. f. Ambil 1 ml larutan pada tabung 9 dan dibuang g. Tambahkan setiap tabung satu tetes antigen dengan demikian didapatkan pengenceran pada tabung 1 sampai 9 berturut-turut: 1/20, 1/40, 1/80, 1/160, 1/320, 1/640, 1/1280, 1/2560 h. Tabung 10 hanya berisi NaCl dan antigen, serta berfungsi sebagai control i. Campur larutan hingga homogeny dan inkubasikan sebagai berikut: Titrasi O : 50oC selama 4 jam Titrasi H : 50oC selama 2 jam

j. Pada control antigen harus tidak terdapat aglutinasi k. Hasil : Adanya aglutinasi menunjukkan adanya antibody

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan 1. Metode rapid Slide Test Kualitatif Antigen Antigen H-A Antigen H-B Antigen H-C Antigen H-O Hasil Negative aglutinasi Negative aglutiansi Negative aglutinasi Negative aglutiansi

Antigen Antigen O-A Antigen O-B Antigen O-C Antigen O-O

Hasil Positif aglutinasi Positif aglutinasi Positif aglutinasi Positif aglutinasi

Semi kuantitatif Antigen Pengenceran 20ul O-A O-B O-C + (1/80) + (1/80) Pengenceran 40ul Pengenceran 80 ul -

2. Metode Tube Aglutination Test

10

Dikarenakan yang direaksikan adalah titer O maka harus diinkubasi selama 4 jam pada suhu 50oC pada waterbath.

B. Pembahasan Uji dimana bakteri penyebab demam tifoid dicampur dengan serum yang mengandung antibodi spesifik yang diperoleh dari individu yang terinfeksi. Ini adalah dugaan serologi tes untuk demam enterik atau demam undulant . Dalam kasus Salmonella infeksi, ini adalah demonstrasi kehadiran O-soma positif palsu hasil. Hasil tes harus diinterpretasikan dengan hatihati dalam terang sejarah masa lalu demam enterik, vaksinasi tifoid, dan tingkat umum antibodi dalam populasi di daerah endemis dunia. Typhidot adalah tes lain yang digunakan untuk memastikan diagnosis demam tifoid . Seperti semua tes serologi, kenaikan tingkat antibodi yang diperlukan untuk melakukan diagnosa membutuhkan 7-14 hari, yang membatasi itu diterapkan dalam diagnosis awal. Cara lain untuk mendiagnosa Salmonella typhi (dan paratyphi ) termasuk budaya darah, urin dan tinja . Organisme ini menghasilkan H 2 S dari tiosulfat dan dapat dengan mudah diidentifikasi pada media diferensial seperti Bismut sulfit agar-agar . Sering 2-mercaptoethanol ditambahkan ke tes Widal. Agen ini lebih mudah denatures yang IgM kelas antibodi , jadi jika penurunan titer terlihat setelah menggunakan agen ini, itu berarti bahwa kontribusi IgM telah dihapus meninggalkan IgG komponen. Ini diferensiasi antibodi kelas adalah penting, karena memungkinkan untuk membedakan dari baru (IgM) dari infeksi lama (IgG). Tes Widal positif jika untuk antigen titer lebih dari 1:160 pada infeksi aktif, atau jika TH titer antigen adalah lebih dari 1:160 pada infeksi masa lalu atau pada orang diimunisasi. Tes Widal tunggal adalah relevansi klinis kecil karena jumlah infeksi bereaksi silang, termasuk malaria. Jika tidak ada tes lain (baik budaya bakteriologis atau serologi lebih spesifik) yang tersedia, meningkat empat kali lipat titer (misalnya, dari 1:40 sampai 1:160) dalam perjalanan infeksi, atau konversi dari reaksi IgM ke reaksi IgG minimal titer yang sama, akan konsisten dengan infeksi tifus. Penegakan diagnosis demam tifoid didasarkan pada manifestasi klinis yang diperkuat oleh pemeriksaan laboratorium penunjang. Sampai saat ini masih dilakukan berbagai penelitian yang menggunakan berbagai metode diagnostik untuk mendapatkan metode terbaik dalam usaha penatalaksanaan penderita demam tifoid secara menyeluruh.

Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam empat kelompok, yaitu : pemeriksaan darah tepi; pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kuman; uji serologis; dan pemeriksaan kuman secara molekuler. Uji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dengan mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S. typhi maupun mendeteksi antigen itu sendiri. Volume darah yang diperlukan untuk uji serologis ini adalah 1-3 mL yang diinokulasikan ke dalam tabung tanpa antikoagulan.4 Beberapa uji serologis yang dapat digunakan pada demam tifoid ini meliputi : uji Widal; tes TUBEX; metode enzyme immunoassay (EIA), metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA),dan pemeriksaan dipstik. Metode pemeriksaan serologis imunologis ini dikatakan mempunyai nilai penting dalam proses diagnostik demam tifoid. Akan tetapi masih didapatkan adanya variasi yang luas dalam sensitivitas dan spesifisitas pada deteksi antigen spesifik S. typhi oleh karena tergantung pada jenis antigen, jenis spesimen yang diperiksa, teknik yang dipakai untuk melacak antigen tersebut, jenis antibodi yang digunakan dalam uji (poliklonal atau monoklonal) dan waktu pengambilan spesimen (stadium dini atau lanjut dalam perjalanan penyakit). Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun 1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test). Uji hapusan dapat dilakukan secara cepat dan digunakan dalam prosedur penapisan sedangkan uji tabung membutuhkan teknik yang lebih rumit tetapi dapat digunakan untuk konfirmasi hasil dari uji hapusan.

Tes TUBEX merupakan tes aglutinasi kompetitif semi kuantitatif yang sederhana dan cepat (kurang lebih 2 menit) dengan menggunakan partikel yang berwarna untuk meningkatkan sensitivitas. Spesifisitas ditingkatkan dengan menggunakan antigen O9 yang benar-benar spesifik yang hanya ditemukan pada Salmonella serogrup D. Tes ini sangat akurat dalam diagnosis infeksi
9

akut karena hanya mendeteksi adanya antibodi IgM dan tidak mendeteksi antibodi IgG dalam waktu beberapa menit. Walaupun belum banyak penelitian yang menggunakan tes TUBEX ini, beberapa penelitian pendahuluan menyimpulkan bahwa tes ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik daripada uji Widal. Metode Enzyme Immunoassay Dot didasarkan pada metode untuk melacak antibodi spesifik IgM dan IgG terhadap antigen OMP 50 kD S. typhi. Deteksi terhadap IgM menunjukkan fase awal infeksi pada demam tifoid akut sedangkan deteksi terhadap IgM dan IgG menunjukkan demam tifoid pada fase pertengahan infeksi. Pada daerah endemis dimana didapatkan tingkat transmisi demam tifoid yang tinggi akan terjadi peningkatan deteksi IgG spesifik akan tetapi tidak dapat membedakan antara kasus akut, konvalesen dan reinfeksi. Pada metode Typhidot-M yang merupakan modifikasi dari metode Typhidot telah dilakukan inaktivasi dari IgG total sehingga menghilangkan pengikatan kompetitif dan memungkinkan pengikatan antigen terhadap Ig M spesifik.4 Uji dot EIA tidak mengadakan reaksi silang dengan salmonellosis non-tifoid bila dibandingkan dengan Widal. Dengan demikian bila dibandingkan dengan uji Widal, sensitivitas uji dot EIA lebih tinggi oleh karena kultur positif yang bermakna tidak selalu diikuti dengan uji Widal positif.2,8 Dikatakan bahwa Typhidot-M ini dapat menggantikan uji Widal bila digunakan bersama dengan kultur untuk mendapatkan diagnosis demam tifoid akut yang cepat dan akurat. Beberapa keuntungan metode ini adalah memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dengan kecil kemungkinan untuk terjadinya reaksi silang dengan penyakit demam lain, murah (karena menggunakan antigen dan membran nitroselulosa sedikit), tidak menggunakan alat yang khusus sehingga dapat digunakan secara luas di tempat yang hanya mempunyai fasilitas kesehatan sederhana dan belum tersedia sarana biakan kuman. Keuntungan lain adalah bahwa antigen pada membran lempengan nitroselulosa yang belum ditandai dan diblok dapat tetap stabil selama 6 bulan bila disimpan pada suhu 4C dan bila hasil didapatkan dalam waktu 3 jam setelah penerimaan serum pasien.

10

Uji Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dipakai untuk melacak antibodi IgG, IgM dan IgA terhadap antigen LPS O9, antibodi IgG terhadap antigen flagella d (Hd) dan antibodi terhadap antigen Vi S. typhi. Uji ELISA yang sering dipakai untuk mendeteksi adanya antigen S. typhi dalam spesimen klinis adalah double antibody sandwich ELISA. Pemeriksaan terhadap antigen Vi urine ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut akan tetapi tampaknya cukup menjanjikan, terutama bila dilakukan pada minggu pertama sesudah panas timbul, namun juga perlu diperhitungkan adanya nilai positif juga pada kasus dengan Brucellosis. Uji serologis dengan pemeriksaan dipstik dikembangkan di Belanda dimana dapat mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap antigen LPS S. typhi dengan menggunakan membran nitroselulosa yang mengandung antigen S. typhi sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM antihuman immobilized sebagai reagen kontrol. Pemeriksaan ini menggunakan komponen yang sudah distabilkan, tidak memerlukan alat yang spesifik dan dapat digunakan di tempat yang tidak mempunyai fasilitas laboratorium yang lengkap.

Uji ini terbukti mudah dilakukan, hasilnya cepat dan dapat diandalkan dan mungkin lebih besar manfaatnya pada penderita yang menunjukkan gambaran klinis tifoid dengan hasil kultur negatif atau di tempat dimana penggunaan antibiotika tinggi dan tidak tersedia perangkat pemeriksaan kultur secara luas. Metode lain untuk identifikasi bakteri S. typhi yang akurat adalah mendeteksi DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri S. typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara polymerase chain reaction (PCR) melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S. typhi. Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi risiko kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila prosedur teknis tidak dilakukan secara cermat, adanya bahan-bahan dalam spesimen yang bisa menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam spesimen darah serta bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses), biaya yang cukup tinggi dan teknis yang relatif rumit. Usaha untuk melacak DNA dari spesimen klinis masih belum memberikan hasil yang memuaskan sehingga saat ini

11

penggunaannya masih terbatas dalam laboratorium penelitian.Tes Widal Yang Sering Mengacaukan Di Indonesia pemeriksaan widal sebagai pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis tifus paling sering digunakan. Meskipun ternyata pemeriksaan ini sering menimbulkan kerancuan dan mengakibatkan kesalahan diagnosis. Dalam penelitian penulis didapatkan infeksi virus yang sering menjadi penyebab demam pada anak dan orang dewasa ternyata juga terjadi peningkatan hasil widal yang tinggi pada minggu pertama. Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit; faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non-endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan.9,13 Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka penderita demam tifoid (penanda infeksi). Saat ini walaupun telah digunakan secara luas di seluruh dunia, manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). Untuk mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada anak sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan peningkatan titer antibodi O dan H pada anak-anak sehat. Dalam penelitian kecil yang dilakukan terhadap 29 anak didapatkan hasil widal yang tinggi pada hari ke tiga hingga ke lima antara 1/320 hingga 1/1280. Setelah dilakukan follow up dalam waktu demam pada minggu ke dua hasil widal tersebut menurun bahkan sebagian kasus menjadi negatif. Padahal seharusnya pada penderita tifus nilai widal tersebut seharusnya semakin meningkat pada minggu ke dua. Dalam follow up pada minggu ke dua ternyata hasil nilai widal menghilang atau jauh menurun. Padahal seharusnya akan pada penderita tifus seharusnya malahan semakin meningkat. Karakteristik penderita adalah usia 8 bulan hingga 5 tahun, dengan rata-rata usia 2,6 tahun. Jenis kelamin laki-laki 41% dan perempuan 59%. Semua penderita menunjukkan hasil kultur darah gall degatif dan semua penderita tidak diberikan antibiotika dan

12

mengalami self limiting disease atau penyembuhan sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab infeksi pada kasus tersebut adalah infeksi virus. Yang menarik dalam kasus tersebut 10 penderita (34%) sebelumnya mengalami diagnosis penyakit tifus sebanyak 2-4 kali dalam setahun. Sebagian besar penderita atau sekitar 89% pada kelompok ini adalah kelompok anak yang sering mengalami infeksi berulang saluran napas. Dan sebagian besar lainnya atau sekitar 86% adalah penderita alergi.

Penelitian lain yang dilakukan penulis pada 44 kasus penderita demam beradarah, didapatkan 12 (27%) anak didapatkan hasil widal O berkisar antara 240-360 dan 15 (34%) anak didapatkan hasil widal O 1/120. Semua penderita tersebut menunjukkan hasil kultar darah gall negatif dan tidak diberikan terapi antibiotika membaik. Dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa pada infeksi virus pada penderita tertentu terutama penderita alergi dapat meningkatkan nilai Widal. Banyak penderita alergi pada anak yang mengalami peningkatan hasil widal dalam saat mengalami infeksi virus tampak menarik untuk dilakukan penelitian lebih jauh. Diduga mekanisme hipersensitif atau proses auto imun yang sering terganggu pada penderita alergi dapat ikut meningkatkan hasil widal. Dengan adanya penemuan awal tersebut tampaknya sangat berlawanan dengan pendapat yang banyak dianut sekarang bahwa peningkatan hasil widal terjadi karena Indonesia merupakan daerah endemis tifus. Fenomena ini perlu dilakukan penelitian lebih jauh khusus dalam hal biomolekuler dan imunopatofisiologi. Banyak akibat atau konsekuensi nyang ditimbulkan bila terjadi overdiagnosis tifus. Pertama penderita harus mengkonsumsi antibiotika jangka panjang padahal infeksi yang terjadi adalah infeksi virus. Konsekuensi lain yang diterima adalah penderita seringkali harus dilakukan rawat inap di rumah sakit. Hal lain yang terjadi seringkali penderita seperti ini mengalami diagnosis tifus berulang kali. Semua kondisi tersebut diatas akhirnya berakibat peningkatan biaya berobat yang sangat besar padahal seharusnya tidak terjadi. Belum lagi akibat efek samping pemberian obat antibiotika jangka panjang yang seharusnya tidak diberikan

13

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun 1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O) dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Teknik aglutinasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test) atau uji tabung (tube test). Uji hapusan dapat dilakukan secara cepat dan digunakan dalam prosedur penapisan sedangkan uji tabung membutuhkan teknik yang lebih rumit tetapi dapat digunakan konfirmasi hasil dari uji hapusan (slide test). Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam empat kelompok, yaitu : pemeriksaan darah tepi; pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kuman; uji serologis; dan pemeriksaan kuman secara molekuler. B. Saran

Sebaiknya tes widal dilakukan dengan sangat teliti karena sering menimbulkan kesalahan dalam mendiagnosa. Pemeriksaan pada test widal haruslah dilanjutkan dengan semi kuantitatif untuk mengetahui kadar titer tertinggi yang dialami oleh penderita. Pembacaan pada hasil test widal setelah digoyangkan selama 1 menit. Dalam pengujian tes immunologi dibiasakan menggunakan control.

14