Anda di halaman 1dari 7

TES ANTIBODI VIRUS HEPATITIS C (ANTI-HCV)

DENGAN METODE EIA

PENDAHULUAN
Virus hepatitis C (HVC) adalah nama yang diberikan kepada virus hepatitis yang
belum lama ini ditemukan dan yang telah terbukti merupakan penyebab kasuskasus hepatitis non A, non B pasca transfusi. Virus ini dikelompokkan dalam
golongan flavivirus dan merupakan virus berukuran kecil dengan diameter
kurang dari 60 nm. Flavivirus terdiri dari core yang terbungkus oleh protein
permukaan yang terdiri dari glikoprotein yang disebut protein E (envelope) dan
protein M(matrix) (1,2).
Virus hepatitis C

penularannya secara parenteral terutama melalui transfusi

darah dan komponen-komponennya, melalui jarum suntik demikian pula


hemodialisis, namun akhir-akhir ini diduga bahwa penularan juga dapat terjadi
melalui hubungan seksual (2,3,4). HCV bertanggungjawab atas 90-95% kasus
hepatitis akibat transfusi darah dan penyakit ini dapat berkembang menjadi
sirosis hati dan kanker hati (2,4).
Tes anti HCV digunakan untuk menunjukkan aktivitas HCV pada infeksi kronis,
dan untuk mengetahui respon penderita HCV kronis terhadap pengobatan.
Adanya anti HCV lebih menunjukkan infeksi kronis karena antibodi terhadap
virus C tidak punya daya proteksi (5,6).
Tes anti HCV pada donor darah telah terbukti menurunkan angka penularan
infeksi pasca transfusi (0,16%), sehingga penggunaan anti HCV generasi ke 3

yang lebih sensitif tanpa menurunkan spesifitasnya akan sangat menguntungkan


(7).
HCV dapat dideteksi melalui pemeriksaan : EIA atau Enzym Immunoassay,
Recombinant Immunoblot Assay (RIBA), dan Polymerase Chain Reaction
(PCR)(1,2).
Teknik yang digunakan pada tes ini adalah anti HCV Enzym Immuno Assay
(EIA) (7).
TUJUAN

: Untuk mendeteksi antibodi Ig G virus hepatitis C di


dalam serum/plasma (5).

METODE

: Immunoassay (6).

PRINSIP REAKSI

: Enzym Immunoassay yang berdasar kepada prinsip


pengikatan

protein

virus

hepatitis

dengan

antibodi(6).
PERSIAPAN SAMPEL
Sampel yang digunakan adalah serum atau plasma (EDTA, heparin dan citrat).
Sampel sebaiknya disimpan dalam kulkas pada suhu 2-8 o C, jika tes tertunda
sampai 48 jam (2 hari). Cara lain sampel dibekukan, namun hindari proses
pembekuan dan pencairan yang berulang-ulang. Sampel disimpan dalam
temperatur ruangan sebelum digunakan. Setelah pencairan campur sampel
dengan

seksama.

Sampel

yang

keruh

harus

disentrifus

diperiksa.Tabung disiapkan sebanyak 6 buah,masing-masing


blank, 2 untuk kontrol negatif dan 2 untuk kontrol positif.

ALAT DAN BAHAN (6)

sebelum

2 untuk reagen

1. ALAT
a. Cara Manual/Semi Otomatis
1. Rak + tabung reaksi dilengkapi dengan adhesive foil.
2. Instrumen

cobas

EIA

inkubator,

washer,fotometer

(panjang

gelombang 450 nm).


3. Pipet ( 0,025, 0,25 dan 1,0 ml )
4. Manik-manik.
b. Cara Otomatis
1. Instrumen Cobas Core.
2. Rak + tabung reaksi.
3. Rak reagensia.
4. Rak sampel.
2. BAHAN
a. Sampel : serum/plasma (EDTA, heparin, citrat).
b. Reagen
- Larutan TMB substrat = 8 TMB (Tetra Metil Benzidin).
- Larutan TMB buffer = 10 substrat buffer.
- Larutan stopping = 12 asam sulfat 5%.
- Manik-manik antigen HCV.
- Larutan conjugate peroxidase.
- Kontrol positif.
- Kontrol negatif
- Larutan pengencer.
CARA KERJA (6) :
1. SEMIOTOMATIS
* Reaksi Imunolosi : 1. Pipet sesuai skema di bawah ini ( volume dalam L )
Tabung Reaksi

Reagen

RB

NC

PC

P (9)

Kontrol negatif

(1-2)
-

(3-5)
25

(6-8)
-

Kontrol positif

25

Sampel pasien

25

Pengencer

250

250

250

Manik-manik
1
1
1
RB = Reagen Blanko, NC = Control negatif, PC = Control positif, P = pasien
2. Tutup tabung reaksi dan inkubasi pada inkubator
cobas

EIA 37 o C selama 20 menit kemudian

kocok. Jauhkan dari cahaya terang


3. Angkat tutup tabung dan cuci dengan menggunakan
Aquades/air suling (EIA Washer).
4. Tambahkan conjugate lalu inkubasi kembali pada
inkubator 37 o C selama 20 menit (kocok), lalu tutup
tabung

diangkat

lalu

cuci

kembali

dengan

menggunakan EIA Washer.


* Reaksi Enzimatik :

1. 10 Menit sebelum akhir reaksi Imunologik, larutan


kerja substrat disiapkan.
2. Tambahkan 250 mikro liter larutan kerja substrat
pada semua tabung reaksi termasuk RB dan inkubasi
selama 15 menit pada 37 o C, pada incubator cobas
EIA.
3. Selanjutnya kocok dan jauhkan dari cahaya terang.
4. Tambahkan larutan stopping 1 ml pada semua
tabung campur dengan baik.
5. Setelah 1 jam baca absorbansi kontrol dan sampel,
bandingkan terhadap blanko pada fotometer EIA
dengan panjang gelombang 450 nm.

2. CARA OTOMATIS (COBAS CORE)


Pada prinsipnya pemeriksaan anti HCV cara otomatis sama dengan cara semi
otomatis, perbedaannya antara lain :
1. Semua tahap reaksi pada pemeriksaan serta pengukuran dilakukan oleh
alat Cobas Core secara otomatis.
2. Pada tahap reaksi Enzimatik tidak dibutuhkan larutan stopping.
3. Alat Cobas Core akan mengeluarkan hasil berupa lembar print out.
Kalkulasi :
Nilai cut off = ( a x NC ) + ( b x PC ) + C.
a = 1, b = 0,2, c = 0
VALIDITAS TES (6)
a. Kontrol negatif harus memenuhi kriteria :
-

Nilai kontrol negatif individual : 0,150

Kontrol negatif individual mempunyai range 0,5 1,5 kali nilai


kontrol negatif rata-rata.

b. Kontrol positif harus memenuhi kriteria :


- Nilai kontrol positif individual : 2,000 dan 0,5
- Kontrol positif individual mempunyai range 0,6 1,4 kali kontrol
positif rata-rata.
Interpretasi Hasil (5,6)
Sampel dengan absorbansi < 0,9 x cut off dianggap negatif, bila diantara 0,9
1,1 x cut off dianggap borderline, > 1,1 dianggap reaktif untuk anti HCV.
KETERBATASAN ALAT (6)
1. Hasil tes negatif tidak selalu menunjukkan bahwa tidak terinfeksi virus
hepatitis C.
2. Anti HCV tidak ditemukan (negatif) pada infeksi akut.

3. Hasil false positif dapat saja terjadi misalnya pada rematoid faktor atau pada
hipergammaglobulinemia.
4.
KESIMPULAN
-

HCV merupakan penyebab hepatitis non A, non B pasca transfusi dan


dikelompokkan dalam golongan Flavivirus yang merupakan virus berukuran
kecil dengan diameter kurang dari 60 nm.

Tes anti HCV digunakan untuk menunjukkan aktivitas HCV terhadap infeksi
kronis serta mengetahui respon penderita HCV kronis terhadap pengobatan.

Pemeriksaan anti HCV pada donor darah dapat menurunkan angka infeksi
pasca transfusi sehingga penggunaannya akan sangat menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Soewignjo; Aspek Laboratorik Diagnosis dan Penata Laksanaan Hepatitis
Virus C, Jurnal Kimia Klinik Indonesia, Vol. 8, nomor 1, 1997, 16-22.
2. Amiruddin, R; Hepatitis Virus C. Aspek Klinis, Masalah dan Upaya
Penanggulangannya, Acta Medica Indonesiana, Vol. XXIX, 1997, 55-69.
3. Kresno SB; Immunologi, Diagnosis dan Prosedur Laboratorium, Ed. Ke-3,
FKUI, Jakarta, 1996, 225-226.
4. Price A. Syivia; Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Ed. 4,
Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1995, 442-444.
5. Hardjoeno; Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Doagnostik, Hasanuddin
University Press, 2000, 54-55.
6. Roche; Manual Cobas Core, Anti HCV EIA.
7. Boedi Warsono; Hepatitis Virus C, Prodia Diagnostik Educational Service,
No. 5, Tahun 1995.

--*ARI*--