BAB IV
4.1 KAMPUNG WAJO
4.1.1 PROFIL WAJO
Nama kampung adat Wajo, dari keturunan Koto ke Wodoembo dan
kemudian sampai ke keturunan Wajo.
Silsilah Kampung Wajo diadopsi dari pohon Wajo yang besar dan indah
yang melambangkan keberanian, kemahalan dan kebolehan.
Makna lain yang terkandung dalam nama Wajo, yaitu Wajo adalah alat
ukur yang digunakan untuk membandingkan dengan (alat Ukur Emas).
Struktur Sosial kampung Wajo, yaitu :
- Kepala Kampung (Wuku udu enga eko);
- Kepala Suku (Kepala Bhisu);
- Kepala Soma;
- Masyarakat adat Wajo.
Hierarki Struktur Sosial ini, bagi Masyarakt Wajo, kedudukannya sama,
artinya kepemimpinan dari Masyarakat, dan untuk Masyarakat.
Secara spesifik, Kampung adat Wajo terdiri dari 6 suku dengan
keturunannya masing-masing dan mempunyai golongan serta
kedudukan yang sama dalam ritual adat.
Suku-suku tersebut adalah :
- Suku Embulau;
- Suku Embumbani;
- Suku Koto bhisu mena;
- Suku Koto bhisu rade;
- Suku Jemu dhedhe wawo;
- Suku Jemu dhedhe wena.
Yang menarik dari Kampung adat wajo ini, pembentukan kawasan
kampung didasarkan atas kesatuan Masyarakat Wajo, yaitu “Pondo”.
Jadi, dalam lingkupan kampung yang dikategorikan tidak terlalu luas,
keberadaan suku-suku mengitari rumah pemali (Sa’o Pile), kesejajaran
dalam ritual adat pun mempunyai kedudukan yang sama.
4.1.2 ARSITEKTUR WAJO
4.1.2.1 Pola Perkampungan
Karakteristik Arsitektur Wajo dipengaruhi oleh tata letak dan pola
perkampungannya, yang mana dari keadaan topografi kampung wajo
ini menjadi penentuan hierarki (kedudukan) rumah Pemali (Sa’oPile),
Bangunan megaliti, serta pelataran kegiatan ritual adat.
Pola Perkampungan adat wajo mengacu pada symbol persatuan yang
kuat, yakni lingkaran, “PONDO” artinya “PERIUK”, perihal Sa’o Pile dan
Pu Peo menjadi sentral orientasi bangunana disekitarnya.
Secara hierarki, dalam pola perkampungan adat wajo, rumah adat
(“Sa’o Pilei”) dan Peo kedudukannya pada kontur yang paling tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh falsafah adat istiadat Masyarakat Wajo,
bahwa ‘kepala sandar di gunung’ (bagian Utara), ‘kaki topang di laut’
(bagian Selatan) “Udu mbeli kedi-ai ndeli mesi”, yang mengibaratkan
situasi Arsitektur serta Pola perkampungan sebagai seekor Ular yang
merupakan penunggu atau pelindung kampung adat Wajo. Hal ini
membuktikan bahwa Mitis-Magis Masyarakat adat Wajo menjadi
arahan serta pedoman dalam berarsitektur.
Hal ikhwal dalam Pola Perkampungan adat Wajo ini terdapat
ketentuan-ketentuan khusus, misalnya arah jalan masuk, baik dalam
keseharian maupun ritual adat, yakni harus melalui tangi Kodi,
sebagai pintu masuk semua rangkaian kegiatan adat dengan
ketentuan bila naik ke Sa’o Pile (Rumah Pemali), harus melepas alas
kaki (sandal) dan mengenakan sarung adat.
Arah masuk kampung adat, dengan pola melingkar, dimulai dari
arah kanan dan keluar harus mengitari Sa’o Pile dari arah kanan
ke kiri, dengan ketentuan, jika sudah keluar dari perkampungan,
sesuai adat tidak boleh kembali ke belakang (pada waktu yang
bersamaan);
Range (jarak) rumah kepala suku menjadi tata pola
perkampungan adat wajo, yakni tiap kepala suku (ada 6 suku)
masing-masing dipisahkan oleh 2 rumah masyarakat biasa,
dengan vocal point berupa dinding bambu ukiran (motif kain adat
wajo).
4.1.2.2 Bangunan Arsitektur Wajo
Rumah Pemali (Sa’o Pile) dan Puu Peo menjadi kebanggaan dan
bagian terpenting dalam pembentuk karakter orang Wajo.
Untuk Rumah Pemali (Sa’o Pile) terbentuk dari syair-syair lagu adat,
yakni “Ndada ta”, dengan fungsi utam atau pokok, yaitu fungsi Sosial
dan fungsi Religius.
Disebut memiliki fungsi Sosial, karena Rumah Pemali (Sa’o Pile)
merupakan tempat berkumpulnya warga kampung ataupun suku (6
suku) dan tempat bermusyawarah. Sedangkan disebut mempunyai
fungsi Religius, karena rumah Pemali (Sa’o Pile) merupakan tempat
dilakukannya upacara adat dan sebagai tempat penyimpanan benda-
benda pusaka milik suku. Adanya Ruang Suci (Sakral) (Tubu nusu) dan
benda-benda pusaka yang tidak boleh disentuh oleh Masyarakat
awam, membuktikan bahwa rumah pemali, bukan saja sebagai
tempat pemersatu semua suku, melainkan juga sebagai tempat
tinggal Roh Leluhur (Retha).
SA’O PILE (RUMAH PEMALI)
Disebut Sa’o Pile (Rumah Pemali), karena merupakan tempat ritual
adat dan tempat tinggal Roh Leluhur dengan fungsi tertentu pula.
Denah bangunan Sa’o Pile adalah persegi empat dengan dimensi
8m X 6m, berbentuk rumah panggung dan terdiri dari 2 lantai
bangunan.
Secara khusus orientasi rumah pemali berdasarkan falsafah dan
juga mitos, yakni Utara harus menghadap Gunung dan sebelah
Selatan menghadap Sungai (lambang seekor Ular, penjaga
kampung).
Secara hierarki Sa’o Pile berada pada posisi yang paling tinggi,
karena itu menjadi sentral yang mengarahkan pada Retha atau
Mathemudu dedoe (Nenek Moyang dan Sang Pencipta).
Proses mendirikan Sa’o Pile ini memakan waktu kurang lebih 6
bulan dengan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini
menunjukkan bahwa Rumah Pemali (Sa’o Pile) memiliki nilai dan
makna yang berarti dan mahal, sehingga tidak sembarang
dibangun, akan tetapi melalui ritual adat dengan ketentuan
khusus pula, yang mana dikerjakan oleh semua warga kampung.
a. Cara Mendirikan Sa’o Pile (rumah Pemali)
Untuk mendirikan atau membangun Sa’o Pile, berdasarkan
kesepakatan semua Suku (6 Suku), dalam ritual atau Upacara
Adat, yakni :
Matu mumu, artinya 6 kepala suku beremuk untuk mencari
anggota suku untuk merencanakan bangunan rumah adat;
Setelah semua anggota suku dengan keturunannya sudah
berkumpul, ritual adat yang harus dijalankan yaitu meminta
petunjuk, arahan sekaligus izin dari leluhur, yaitu “Tika”
artinya member makan (sesajen) kepada leluhur (Ndewa
rekta nee ngae rade);
Untuk mengumpulkan elemen-elemen (bahan-bahan)
bangunan juga harus melalui ritual adat yakni “Raba taka”
artinya mengasah parang pada waktu memotong tiang dan
lain-lain terlebih dahulu didarahi dengan darah kerbau;
“Woti geri” artinya mengukir lambang-lambang atau
symbol kebudayaan pada setiap elem konstruksi.
Pada saat membangun Sa’o Pile, elemen-elemen konstruksi
langsung ditempatkan pada posisinya secara bertahap (tidak
dirangkaikan terlebih dahulu), yakni :
Mendirikan tiang utama (Deke).
Tiang utama tersebut berjumlah 6, yakni didirikan sesuai
lingkaran suku dari kanan ke kiri, melambangkan suku-suku
yang ada ;
- Emb lau;
- Embumbani
- Koto bhisu mena;
- Koto bhisu Rade;
- Jemu dhedhe wawo;
- Jemu dhedhe wena.
Tiang utama (Deke), harus menggunakan kayu khusus yaitu
“kaju embu” yang diambil dari kebun pribadi Masyarakat
Wajo, yakni di Nio budha, Ae toe, natu dan Baomau,
penuh ukiran dengan system konstruksi ditanam dalam
tanah, beralaskan batu ceper (Watu) dan dibalut oleh tali Ijo
(ijuk).
Tiang utama menopang “Tenga” (sloff bawah) yaitu balok
berbentuk kuda “Kaju mali kuda”, diambil dari ,undemi
(Kebun) dengan system konstruksi “Monge”.
Karena merupakan rumah pangguna, Sa’o Pile terdiri dari
beberapa tangga yang harus ditapaki (dilewati bertahap),
yakni :
¤ Ngi kajo, yaitu tangga pertama, berupa balok
panjang
¤ Kana wari, disebut sebagai jembatan ke rumah adat,
yang dibantu dengan seutas tali ijo (konon
menggunakan ekor kerbau), terbuat dari Kaju Oja
yang diambil di “lewa”. Kana wari ini dilengkapi
dengan ornament berupa patung yang diyaknini
sebagai penjaga pintu masuk Rumah Pemali (“Anauti”)
yakni ;
- Dado koto (sebelah kiri);
- Wawuda (sebelah kanan)
Konon dua patung ini adalah Ana jeo, yakni 2 orang
anak yang menjaga seluruh kampung adat Wajo;
Kodi Panda, yakni balok lantai pembatas pintu masuk
(Wesa) dengan Kana wari. Bagi Masyarakat wajo, aturan
atau pantangan memasuki rumah pemali adalah tidak boleh
terantung (tersandung) pada balok Kodi panda. Hal ini
menandakan tidak diperkenankan untuk masuk ke Sa’o Pile.
Wisu (kaju mbaa tolo), yakni kayu merah ½ dinding
sebagai bagian konstruksi kolom-kolom pembentuk
dindiding, diambil di Koi.
Lantai “kembi”, terbuat dari belahan bambu dengan
menggunakan konstruksi ikat silam dengan tali “Nao” (fii
bhetoi) pada fii kodi i( balok lantai) atau Dado Kodi.
Rumah Sa’o Pile berbentuk limas, sehingga jenis atapnya
menggunakan jurai dengan konstruksi diikat oleh tali ijo (tali
ijuk), yakni :
Soku dok, yakni balok Jurai;
Mangu atau mbaa tolo yakni tiang nok, dari kayu
merah;
Kada peda, yakni ½ kuda-kuda;
Soku papa, yakni gording dari bambu;
Pama lindi, yakni papan list plank penuh ukiran;
Alang-alang dan ijuk pada jurai, dikumpulkan dari
masing-masing suku. Konstruksi alang-alang ini diapit
oleh bambu dengan ukuran 1 meter dan diikat pada reng
bambu dengan jarak 0,5 meter.
Loteng atau Kodi Panda
Kodi panda ini berada pada lantai 2 yang difungsikan
sebagai tempat memanggil atau mengumpulkan semua
warga kampung untuk mempersiapkan peralatan perang
jika ada peperangan. Biasanya cara mengumpulkan semua
warga kampung Wajo diiringi dengan musik gong, gendang,
suling dan juga syair-syair lagu.
b. Upacara Adat dalam mendirikan Sa’o Pile (Rumah
pemali)
Tujuan mengadakan upacara atau ritual adat dalam
membangun rumah pemali, diyakini oleh masyarakat adat Wajo
“sebagai wujud permintaan kepada leluhur untuk melindungi
anak cucunya dari seluruh anggota suku agar sehat dan
berhasil dalam membangun (Mbinge woso kupa)
mengembangkan keturunan agar generasi-generasi
berkembanga pesat”.
Mutu mumu, artinya 6 kepal suku beremuk (berdialog)
untuk mencari anggota suku untuk merencanakan bangunan
rumah adat;
Tika, yakni member sasajen (makan) kepada leluhur
(“ndewa rekta nee ngae rade”);
Raba taka, yakni upacara mengasah parang pada waktu
memotong tiang dan bahan lainnya yang terlebih dahulu
didarahi oleh darah kerbau;
Woti geri, yakni upacara mengukir lambang-lambang atau
symbol kebudayaan Wajo;
Lombo lindi, yakni memotong alang-alang agar rapih
(finishing);
Pije puu, meletakkan tanah di sekitar tiang dan peo agar
kuat yang didarahi dengan darah kerbau.
Dalam ritual adat hewan yang menjadi kurban pokok yaitu
babi, digunakan untuk mendarahi kayu-kayu atau alang-alang
selama masih di hutan atau kebun, dan kerbau, digunakan
untuk mendarahi bahan-bahan bangunan disuatu temapt untuk
siap dibangun (izin pada penunggu pohon).
Selain itu tarian yang digunakan selama upacara adat yaitu
tarian Pute wutu oleh ana susu. Menurut masyarakat Wajo
rumah sa’o pile dibangun berdasarkan syair-syair lagu “Ndada
ta”.
c. Denah dan Pola Ruang
SA’O DENGAN ENDA
Sa’o dengan enda adalah rumah penampung seluruh anggota
suku dari udu mbei kedi aindeli mesi. Jadi selama ritual adat
berlanggsung kedua suku ini berkumpul di Sa’o dengan enda.
Orientasi bangunannya menghadap pada symbol pemersatu yaitu
Puu Peo. Bentuk dan konstruksi dan bahannya sama seperti Sa’o
Pile tetapi terdiri dari 1 lantai bangunan dan berdimensi lebih
kecil, penuh ukiran dan juga terdapat ornament seperti misalnya
tunggu, tulang belulang kerbau.
PU’U PEO
Pu’u Peo adalah symbol pemersatu masyarakat adat Wajo.
Konon Pu’u Peo muncul dalam bentuk sebatang tebu make putih
(tewu make bhala) yang bercabang dua, melambangkan
kehidupan “ine kana ame watu (tanah watu)”.
Umur Peo sekarang mencapai 130 tahun, yang diyakini memiliki
makna atau symbol sebagai lambang Kritus dan juga budaya
(seorang putra yang menjaga kampung wajo).
Makna symbol yang terkandung dalam ukiran Peo yaitu :
Burung Merpati, melambangkan Roh Kudus, kebesaran Ana
Susu;
Manu jago, lambang ayam yang menandakan tentagn waktu;
Earaga (Cawan), tempat minuman para Leluhur;
Wududai, symbol kesuburan tanah wajo;
Uieu, yakni symbol ritual budaya, (Ritual euteana talala);
Kiwu, symbol menggali tanah (kebiasaan orang wajo yang
dikaitkan dengan berkebun dan berladang);
Pondo, symbol ”Periuk” yakni pola perkampungan melingkara
pemersatu Masyarakat kampung Wajo.
PEO AKI (MADU ATAU IA)
Peo Aki melambangkan laki-laki atau Ana jeo yakni penjaga
seluruh kampung adat wajo. Digunakan dalam ritual adat sebagai
penghormatan dan pengucapan syukur kepada leluhur.