Asuhan Keperawatan (Kelompok 9) - 1
Asuhan Keperawatan (Kelompok 9) - 1
-Peristaltik
18x/menit usus
3. Berikan
dukungan
emosional dan
spiritual
Edukasi
1.Anjurkan
aktivitas sesuai
2. Anjurkan
aktvitas secara
bertahap
3. Anjurkan
berhenti merokok
Posisi fowler
terbukti efektif
terhadap
penurunan
sesak nafas
dalam
meningkatkan
oksigenasi
pasien
penderitanya.
Posisi semi
fowler
bertujuan untuk
mengurangi
resiko
pengembangan
dinding dada
agar tidak
terjadi sesak
nafas.
Posisi yang
paling efektif
untuk
mengurangi
resiko
penurunan
terhadap
pengembangan
dinding dada
yaitu saat posisi
istirahat. Posisi
semi fowler
sangat efektif
untuk
memaksimalkan
ekspansi paru
dan
menurunkan
upaya
penggunaan alat
bantu otot
pernapasan agar
bisa membuka
ventilasi
maksimal
area atelektasi
sehingga
meningkatkan
Gerakan secret
ke jalan napas
besar untuk
dikeluarkan
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
Pola nafas tidak •Pembatasan • Pembatasan Santosa B, Suwarman,
efektif berhubungan Protein Protein Pradian E. Terapi
dengan penyempitan Konsumsi protein Rekomendasi: 1,2 Nutrisi Pasien Di
saluran paru harus disesuaikan g/kgBB/hari, Intensive Care Unit
S: - dengan tingkat dengan fokus pada (Icu). J Komplikasi
O: keparahan protein berkualias Anestesi.
- Tampak penyakit. tinggi. 2020;7(3):97-105.
pasien masih • Nutrisi doi:10.22146/jka.v7i
sesak yang Adekuat: • Pemantauan 3.7480
- Tampak Pastikan asupan Nutrisi
kalori dan protein Lakukan Studi menunjukkan bahwa
pasien
yang cukup untuk pemantauan ketat Pasien di ICU biasanya juga
menggunakan
mendukung terhadap status mengalami peningkatan
nasal kanul 3 pemulihan. nutrisi pasien, metabolisme dan
LPM Pasien di ICU termasuk berat katabolisme sehingga dapat
- Terdengar sering badan, asupan mengalami malnutrisi. Oleh
bunyi nafas membutuhkan makanan, dan karena itu, pemberian
tambahan lebih banyak parameter nutrisi pasien di ICU perlu
ronkhi kalori dan protein laboratorium. perhatian khusus.
- RR: 22x\ karena stres • Konsultasi Kebutuhan nutrisi pada
menit metabolik. dengan Ahli Gizi pasien sakit kritis
- SpO2: 82 • Diet Libatkan ahli gizi tergantung dari tingkat
Tinggi Protein: klinis untuk keparahan penyakitnya, dan
A: Sumber protein merencanakan diet status nutrisi sebelumnya.
- Pola nafas yang baik yang sesuai dengan Untuk mencukupi
belum termasuk daging kebutuhan spesifik kebutuhan nutrisi pasien di
membaik tanpa lemak, pasien. ICU dapat diberikan secara
ikan, telur, • Pemberian enteral dan parenteral atau
P: produk susu, dan Suplemen kombinasi keduanya.
- Intervensi di kacang-kacangan. Pertimbangkan Dukungan nutrisi
lanjutkan Protein penting pemberian merupakan komponen
untuk perbaikan suplemen nutrisi penting dalam perawatan
jaringan dan enteral atau masalah kritis. Malnutrisi
pemulihan. parenteral jika telah dikaitkan dengan hasil
• Hidrasi pasien tidak dapat buruk yang dialami
S: - yang Cukup: memenuhi pasien di intensive care unit
O: pastikan pasien kebutuhan nutrisi (ICU), antara lain
- Tampak terhidrasi dengan melalui oral. peningkatan morbiditas,
sesak pasien baik, tetapi perlu • Monitoring mortalitas dan lama
sudah diperhatikan jika Status Nutrisi rawat inap.Pasien dengan
berkurang ada pembatasan Lakukan evaluasi sakit kritis yang dirawat di
- Pasien sudah cairan. Hidrasi berkala terhadap ruang Intensive Care Unit
tidak yang baik status nutrisi (ICU) sebagian besar
menggunakan membantu pasien, termasuk menghadapi kematian,
menjaga fungsi pengukuran berat mengalami kegagalan multi
alat bantu
ginjal dan badan, analisis organ, menggunakan
pernafsan
mengurangi laboratorium, dan ventilator, dan memerlukan
- Sudah tidak risiko komplikasi penilaian klinis. support tekhnologi. Salah
terdengar • satu hal penting yang harus
bunyi ronkhi diperhatikan adalah
- RR: 27x\ Karbohidrat: • Frekuensi pemenuhan kebutuhan
menit Karbohidrat Makan nutrisi untuk melepas
- SpO2: 100% kompleks seperti Berikan makanan ketergantungan ventilator,
nasi, roti dalam porsi kecil mempercepat penyembuhan
A: gandum, dan tetapi sering (5-6 dan memperpendek lama
- Pola nafas sayuran harus kali sehari) untuk rawat inap. utrisi yang tidak
membaik menjadi bagian memudahkan adekuat dapat meningkatkan
dari diet untuk pencernaan dan morbiditas, mortalitas, dan
P: memberikan mengurangi rasa menambah lama rawat di
Intervensi sudah energi. kenyang yang rumah sakit. Pemberian
dihentikan • Lemak berlebihan. nutrisi tambahan sudah
Sehat: • Pemberian berkembang dan merupakan
Sertakan lemak Suplemen Nutrisi bagian dari terapi di ICU
sehat seperti Jika asupan oral
minyak zaitun, tidak mencukupi,
alpukat, dan pertimbangkan
kacang-kacangan pemberian
dalam diet. suplemen nutrisi
• Makanan enteral (melalui
yang Mudah selang nasogastrik)
Dicerna: atau parenteral
Pilih makanan (melalui infus)
yang mudah untuk memenuhi
dicerna untuk kebutuhan nutrisi.
mengurangi • Pendidikan
beban pada Keluarga
sistem Berikan informasi
pencernaan, kepada keluarga
seperti sup, tentang pentingnya
smoothie, dan nutrisi dalam proses
makanan yang pemulihan dan cara
dimasak dengan mendukung pasien
baik. dalam memenuhi
kebutuhan nutrisi
mereka.
4. Anatasya Olika Binowo711430123006
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. D DENGAN DIAGNOSA MEDIS
POST OPERATIVE CLOSED FRACTURE COLLUM FEMURE SINISTRA
HARI KE 3 DI RUANG E II RSPAL Dr. RAMELAN
SURABAYA
Ilustrasi Kasus Pengkajian
Pengkajian Primer Pengkajian Sekunder Analisa Data
Seorang pasien laki-laki, Tn. D, 75 tahun, mengalami post- Airway Riwayat Penyakit Data Subjektif
operative closed fracture collum femur sinistra setelah (JalanNafas) Pasien jatuh dari Pasien mengeluh
terjatuh dari sepeda. Pasien menjalani operasi dan saat ini Bebas, tidak ada sepeda, mengalami nyeri pada paha kiri
dirawat di ruang ICU. Pasien mengeluhkan nyeri paha kiri, sumbatan fraktur, dan telah dan kesulitan
kesulitan bergerak, dan memerlukan bantuan dalam menjalani operasi bergerak
aktivitas sehari-hari. Breathing
(Pernapasan) Nyeri Data Objektif
RR 20x/menit, Skala nyeri 5/10 pada -TTV stabil (TD
suara napas paha kiri 140/79 mmHg, N
vesikuler normal 80x/menit, RR
Pemeriksaan 20x/menit)
Circulation Penunjang -Skala nyeri 5/10
(Sirkulasi) Hasil lab menunjukkan -Pasien
TD 140/79 mmHg, leukosit dalam batas menggunakan alat
N 80x/menit normal, tanda vital bantu kruk
stabil
Disability
(Neurologi)
GCS 15 (E4V5M6)
Exposure
(Paparan
Lingkungan)
Luka operasi
diperban steril,
tidak ada tanda
infeksi
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
1. Pasien melaporkan Diet: -Asupan protein Penelitian oleh Wilson et al. (2022) menunjukkan bahwa
penurunan skala nyeri Lunak, Tinggi 1,2–2 g/kg BB/hari diet tinggi protein dan vitamin C dapat mempercepat
menjadi 2/10 Protein -Sumber zat besi penyembuhan luka operasi sebesar 30% lebih cepat
Tujuan: untuk mencegah dibandingkan pasien dengan diet rendah protein.
2. Ekspresi wajah lebih Mempercepat anemia
rileks penyembuhan luka -Cukup Asupan zat besi yang cukup membantu mencegah anemia
operasi pasca-operasi, yang dapat menghambat proses
3. Tidur pasien lebih Contoh Makanan: penyembuhan luka.
nyenyak Sup ayam, telur
rebus, ikan, tahu,
4. Pasien lebih nyaman sayuran rebus
dalam melakukan
mobilisasi
5. Audrey Florence. G. Satolom 711430123007
*(5820)
Pengurangan
Ansietas*
* 10/10/2024,
08.00 WIB.
Menjelaskan
prosedur
tindakan yang
akan
dilakukan dan
sensasi yang
mungkin
dirasakan.
Memberikan
kesempatan
kepada pasien
untuk
bertanya.
(SIKI 5821)
* 10/10/2024,
09.00 WIB.
Menciptakan
lingkungan
yang tenang
dan nyaman
dengan
meminimalka
n gangguan
dan menjaga
privasi pasien.
(SIKI 5822)
* 10/10/2024,
10.00 WIB.
Mendengarka
n keluhan dan
memberikan
dukungan
emosional
kepada
pasien. (SIKI
5823)
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
Sesak napas Diet rendah Hindari makanan Diet rendah garam terbukti mengurangi
menurun garam dan tinggi garam dan risiko edema dan hipertensi.
Wheezing dan rendah lemak lemak jenuh Pemberian makanan kaya kalium dan
ronchi Asupan cairan Konsumsi makanan magnesium dapat membantu menjaga
berkurang dibatasi sesuai tinggi serat dan keseimbangan elektrolit pada pasien
Saturasi kondisi pasien protein gagal jantung.
oksigen stabil Kontrol asupan
di 96% cairan untuk
Produksi mencegah overload
sputum lebih cairan
sedikit
6. B6 (Bone) Masalah
Pada pemeriksaan Defisit
Perawatan Diri
muskuluskeletal
(SDKI 2016,
didapatkan kekuatan D.0109 hal
otot ekstermitas atas 240)
3333/ 2222, dan
ekstermitas bawah Data/Faktor
3333/ 2222. Karena Resiko
pasien mengalami DS :
hemiplegia atau Tidak terkaji
kelemahan. Pada karena pasien
pemeriksaan kulit tidak mengalami
terdapat luka penurunan
combustion, dan juga kesadaran
luka decubitus. Pada GCS 4X3
saat inspeksi tidak
Faktor Resiko :
terlihat adanya benjolan 1. Pasien
dan lesi pada area kulit,
pasien bedrest total. mengalami
Saat dilakukan palpasi penurunan
didapatkan turgor kulit mobilitas
elastis, tidak ada 2. Pasien
sedang dalam
edema. Pasien terbaring
bed rest total
di tempat tidur, kedua dan hanya
tangan diikat di tempat berbaring saja
tidur. beresiko
Masalah Keperawatan : mengalami
Gangguan Mobilitas penekanan
Fisik, Resiko Gangguan pada daerah
Integritas Kulit/ belakang atau
Jaringan punggung
pasien
3. Tangan
pasien terikat
beresiko
mengalami
gesekan
Etiologi
-
Masalah
Risiko
Gangguan
Integritas
Kulit/ jaringan
(SDKI 2016,
D.0139 hal
300)
Diagnosa Intervensi Keperawatan Implement
Keperawat asi
an SLKI SIKI Artikel EBN Keperawat
an
pemberian
anti
konvulsan
-Kolaborasi
pemberian
diuretik
osmosis
Tgl: 20-7-
2020
Operan
dengan sift
Pagi
-
Memonitorin
g Tanda –
Tanda Vital
Tekanan
Darah :
145/70
mmHg,
Nadi :
72x/menit,
RR :
18x/Menit
Suhu : 36,5
OC
-
Memonitorin
g status
pernafasan
dan tanda-
tanda PTIK
-
Memonitorin
g kesadaran
pasien cairan
serebrospinal
-Monitoring
MAP
-Memberikan
pasien posisi
head up bed
15o
-Mengubah
posisi pasien
miring kiri
dan menilai
ROM pasien
3333 2222
3333 2222
-Mengukur
intake dan
output pasien
-Mengukur
kesadaran
pasien GCS
4X3
-Mengukur
tanda-tanda
vital pasien
Tekanan
Darah :
130/80
mmHg,
Nadi :
82x/menit,
RR :
25x/Menit
Suhu : 36 OC
-Memberikan
makanan
pasien enteral
MLP 1x100
-Timbang
terima
dengan dinas
malam
Catatan
Perkembang
an:
-
Memonitorin
g Tanda –
Tanda Vital
Tekanan
Darah :
145/70
mmHg,
Nadi :
72x/menit,
RR :
18x/Menit
Suhu : 36,5
OC
-
Memonitorin
g status
pernafasan
dan tanda-
tanda PTIK
Ͷanda
Ͷanda 20-7-
2020
20.30
Diagnosa
Keperawatan
1
S:-
O:
-kesadaran
pasien
somnolen
-GCS 4X3
-SpO2 98 %
-Frekuensi
Nafas
15x/menit
-Nadi
72x/menit
-Suhu : 36
OC
-Pola nafas
reguler
-Refleks
neurologis
baik
A : Masalah
teratasi
sebagian
P : Intervensi
dilanjutkan :
-Monitor
MAP
-Monitor
gelombang
ICP
-Monitor
status
pernapasan
-Monitor
intake dan
output cairan
-Monitor
cairan
serebro
spinalis
-Berikan
posisi head
up bed 30o
-Hindari
valsava
manuver
-Cegah
terjadinya
kejang
-Hindari
penggunaan
PEEP
-Hindari
pemberian
cairan IV
hipotonik
-Pertahankan
suhu tubuh
normal
-Kolaborasi
pemberian
anti
konvulsan
-Kolaborasi
pemberian
diuretik
osmosis
Tgl: 21-7-
2020
Operan
Dengan Sift
Malam
Tindakan:
-
Memonitorin
g Tanda –
Tanda Vital
Tekanan
Darah :
140/80
mmHg,
Nadi :
88x/menit,
RR :
18x/Menit
Suhu : 36,4 C
-
Memonitorin
g status
pernafasan
dan tanda-
tanda PTIK
-
Memonitorin
g kesadaran
pasien cairan
serebrospinal
-Monitoring
MAP
-Memberikan
pasien posisi
head up bed
15o
-Mengubah
posisi pasien
miring kanan
dan menilai
ROM pasien
3333 2222
3333 2222
-Mengukur
intake dan
output pasien
-Mengukur
kesadaran
pasien GCS
4X3
-Mengukur
tanda-tanda
vital pasien
Tekanan
Darah :
140/80
mmHg,
Nadi :
88x/menit,
RR :
18x/Menit
Suhu : 36,4 C
Catatan
perkembang
an:
S:-
O:
-Kesadaran
pasien
strupor
-GCS 3X3
-SpO2 98 %
-Frekuensi
Nafas
18x/menit
-Nadi
82x/menit
-Suhu : 36
OC
-Pola nafas
reguler
-Refleks
neurologis
baik A :
Masalah
belum
teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan :
-Monitor
MAP
-Monitor
gelombang
ICP
-Monitor
status
pernapasan
-Monitor
intake dan
output cairan
-Monitor
cairan
serebro
spinalis
-Hindari
valsava
manuver
-Cegah
terjadinya
kejang
-Hindari
penggunaan
PEEP
-Hindari
pemberian
cairan IV
hipotonik
-Pertahankan
suhu tubuh
normal
-Kolaborasi
pemberian
anti
konvulsan
-Kolaborasi
pemberian
diuretik
osmosis
4. Posisi Pasien:
6. Pengendalian Infeksi:
Kebersihan tangan
diterapkan ketat sebelum
dan sesudah perawatan.
Pemberian antibiotik
sesuai indikasi (jika ada
infeksi paru).
Evaluasi Diet
Keperawatan
Diet Rekomendasi Artikel EBN
1. Pasien berhasil 1. Nutrisi Anti- 1. Sarapan: https://repository.bku.ac.id/xmlui/bitstream
mempertahankan Peradangan dan
Smoothie buah, /handle/123456789/777/Dwi%20Mega-1-
saturasi oksigen >92% Imun:
roti gandum 59.pdf?
setelah terapi
Konsumsi buah dan panggang. isAllowed=y&sequence=1&utm_source.
oksigenasi dan
sayuran tinggi
nebulisasi.
antioksidan (misalnya
jeruk, brokoli, dan 2. Makan Siang:
berries).
Sup ayam dengan
Ikan yang kaya sayuran, buah
2. Pasien bernapas lebih
omega-3 (salmon, segar.
efektif tanpa
sarden) untuk
penggunaan otot bantu
mengurangi
napas setelah 6 jam.
peradangan. 3. Makan Malam:
Makanan tinggi Ikan salmon
magnesium (seperti panggang, kentang
kacang-kacangan dan tumbuk, salad
3. Kecemasan pasien sayuran hijau) untuk sayuran.
menurun dalam 24 jam. mencegah
bronkospasme.
2. Makanan Mudah 4. Camilan:
Dicerna:
4. Tidak ada tanda- Yogurt rendah
tanda infeksi selama Pilih makanan lunak lemak, jus jeruk.
perawatan. atau cair (sup kaldu,
smoothies, puree
sayuran) untuk
memudahkan
pencernaan dan
mengurangi beban
pada sistem
pencernaan.
3. Hindari Pemicu
Alergi dan Iritasi:
Hindari makanan
yang memicu alergi
atau iritasi (misalnya,
susu atau makanan
pedas).
4. Pemantauan
Hidrasi:
Pastikan cukup
cairan, namun pilih
cairan rendah sodium
untuk mencegah
retensi cairan.
5. Suplemen Vitamin:
Pertimbangkan
suplemen seperti
vitamin D dan C jika
kebutuhan nutrisi
tidak tercapai dari
makanan
Evaluasi Diet
Keperawatan
Diet Rekomendasi Artikel EBN
– MAP stabil (≥65 – Diet rendah garam – Kontrol asupan natrium Intervensi diet pada pasien dengan CVA Bleeding +
mmHg) maksimal 2 g/hari IVH harus difokuskan pada pengendalian hipertensi
– Nutrisi enteral dan pemenuhan kebutuhan nutrisi optimal. Diet rendah
– Peningkatan GCS optimal – Pemberian kalori 25–30 garam efektif dalam mengontrol tekanan darah dan
(misalnya, dari 4X3 kcal/kg/hari mengurangi risiko perdarahan ulang,sedangkan nutrisi
menjadi E4, V4, – Monitoring asupan
dan keluaran cairan – Protein 1–1,5 g/kg/hari enteral dengan asupan kalori 25–30 kcal/kg/hari dan
M6) protein 1–1,5 g/kg/hari mendukung pemulihan
– Tidak ada tanda – Pemantauan ketat jaringan otak serta mencegah malnutrisi. Pemantauan
peningkatan TIK Tujuan Diet: keseimbangan cairan keseimbangan cairan dan penyesuaian mikronutrien
lebih lanjut – Mengontrol – Penyesuaian pemberian merupakan kunci untuk menghindari overhidrasi yang
hipertensi melalui mikronutrien (misalnya, dapat memperburuk edema serebral (Santoso, 2019;
pembatasan natrium vitamin C, E, selenium) Wijaya et al., 2018; Nanda Devi, 2020).
sesuai evaluasi status
– Memenuhi nutrisi
kebutuhan energi dan
protein untuk
mendukung
penyembuhan jaringan
otak
– Menjaga
keseimbangan cairan
untuk mencegah
overhidrasi dan edema
serebral
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
•SpO₂ meningkat Tujuan Diet: Judul: Begini Cara yang Tepat Diet Anemia
≥95% •Meningkatkan kadar Jenis Makanan yang Dianjurkan: Penulis: Artikel ini ditinjau oleh dr. Verury Verona
•RR kembali normal hemoglobin dan ✅ Sumber Zat Besi: Daging merah, Handayani
(12-20x/menit) hematokrit hati ayam, bayam, kacang-kacangan Tanggal Terbit: 17 Desember 2020
•Pasien tidak lagi •Mendukung regenerasi ✅ Sumber Protein: Telur, susu, ikan, Sumber: https://www.halodoc.com/artikel/begini-
mengalami sesak sel darah merah ayam cara-yang-tepat-diet-anemia
napas •Memastikan ✅ Sumber Vitamin B12 & Asam
keseimbangan cairan dan Folat: Sayuran hijau, buah-buahan
elektrolit seperti jeruk dan pisang
S: klien mengatakan sesak Asupan Cairan yang Cukup: Atasi syok dengan Pemberian cairan
nafas berkurang memberikan cairan diilakukan dengan hati-hati
Pastikan pasien mengonsumsi cukup kristaloid seperti ringer laktat atau dan secepat mungkin tanpa
O: SaO2: 100%, TD: 124/60 air, sekitar 2-3 liter per hari, tergantung NaCl 0,9% 20 ml/kgBB dalam 30– mengganggu sistem pulmoner,
mmHg, N: 64x/m, RR: 20x/m, pada kondisi Kesehatan dan 60 menit, pemberian cairan jika pemberian cairan terlalu
T rekomendasi dokter. dapat diulang jika belum terdapat cepat dapat menyebabkan
respons perbaikan kongesti paru dan dapat
L 37°C terpasang nasal kanul Minuman Elektrolit: Gunakan menghambat oksigenasi yang
oksigen 4L/m larutan rehidrasi oral atau Makanan Tinggi Elektrolit: adekuat, yang makin dapat
minuman yang mengandung elektrolit mengganggu pengiriman
A: masalah teratasi sebagian (seperti minuman olahraga) untuk Sodium: Makanan yang kaya oksigen ke jaringan (Mortonet
menggantikan cairan dan elektrolit natrium seperti sup, kaldu, dan al ., 201
P: lanjutkan intervensi yang hilang. makanan yang diasinkan dapat
-Posisikan untuk membantu meningkatkan retensi
memaksimalkan ventilasi cairan.
=Pasang alat bantu pernapasan
jika perlu Kalium: Makanan yang kaya
kalium seperti pisang, jeruk,
kentang, dan sayuran hijau untuk
menjaga keseimbangan elektrolit.
Makanan Bergizi:
Kolaborasi pemberian
cairan IV (Dextrose jika
hipoglikemia terjadi akibat
terapi insulin).
4. Manajemen Energi
(Terkait Intoleransi
aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik)
Kolaborasi dengan
fisioterapis untuk latihan
kekuatan otot.
Berikan dukungan
psikologis agar pasien
lebih termotivasi untuk
bergerak.
Evaluasi Diet
Keperawat Diet Rekomendasi Artikel EBN
an
Frekuensi Asupan Kalori
napas yang Tepat: Hidrasi yang cukup Terapi Nebulizer: Meningkatkan pola napas dan mengurangi sesak napas
dalam batas Defisit kalori → untuk Latihan Batuk Efektif: Membantu membersihkan jalan napas
normal dapat mempertahankan Pemosisian Semi-Fowler: Meningkatkan ekspansi paru
Saturasi melemahkan sekresi lendir Pemberian Oksigen Tambahan: Memastikan saturasi oksigen optimal
oksigen otot pernapasan Menjaga Evaluasi Hasil:
meningkat Kelebihan kalori keseimbangan SpO₂ meningkat
(>90%) → elektrolit (hindari Frekuensi napas membaik
Tidak ada meningkatkan hipokalemia, Pasien tidak menggun https://journal.arikesi.or.id/index.php/Corona/article/download/402/437/2076?
tanda-tanda produksi CO₂ hipofosfatemia) utm_sourceakan otot bantu napas lagi
hipoksia Komposisi Mikronutrien:
Jalan napas Makronutrien: Vitamin C, E,
tetap bersih Karbohidrat: Selenium:
dari sekret Dibatasi karena Mengurangi stres
meningkatkan oksidatif
produksi CO₂ Magnesium:
Lemak: Sebagai Meningkatkan
sumber energi bronkodilatasi
utama Vitamin D:
Protein: Mendukung sistem
Mencegah imun
kelemahan otot
pernapasan
DO: Gangguan integritas 1. Bersihkan luka dengan 1. Luka dibersihkan dan - Luka menunjukkan
- TD 90/60 mmHg, kulit berhubungan dengan antiseptik dan larutan diberi antiseptik setiap tanda penyembuhan.
nadi 130x/menit. trauma luka bakar luas. saline steril. pergantian balutan. - Tidak ada tanda
- Produksi urine 0,4 2. Gunakan silver 2. Silver sulfadiazine infeksi.
mL/kg/jam. sulfadiazine atau diaplikasikan secara - Jaringan granulasi
- Luka bakar TBSA antiseptik lain untuk rutin. mulai terbentuk.
40%, nekrosis luas mencegah infeksi. 3. Monitor tanda infeksi - Tidak ada nekrosis
3. Evaluasi tanda-tanda (demam, leukositosis). bertambah luas.
infeksi pada luka. 4. Dilakukan balutan
4. Lakukan perawatan steril setiap hari.
luka dengan teknik 5. Kolaborasi dilakukan
aseptik. untuk evaluasi tindakan
5. Kolaborasi dengan bedah.
dokter bedah untuk
tindakan debridemen atau
skin graft.
DO: Nyeri akut berhubungan 1. Evaluasi skala nyeri 1. Skala nyeri dinilai - Nyeri berkurang
- Luka bakar dengan luka bakar dan secara berkala. setiap 4 jam. sesuai target.
nekrotik pada wajah, tindakan medis. 2. Berikan analgesik 2. Diberikan morfin IV - Pasien tampak lebih
dada, lengan, dan opioid IV sesuai titrasi dosis. nyaman.
kaki. protokol. 3. Teknik relaksasi - Tidak ada efek
- Tanda-tanda 3. Gunakan teknik diajarkan kepada samping signifikan dari
peradangan pada distraksi dan terapi non- keluarga pasien. analgesik.
luka. farmakologis. 4. Monitor efek samping - Respon terhadap
- Leukositosis, 4. Monitor efek samping analgesik. terapi baik.
demam. analgesik seperti depresi 5. Penyesuaian dosis
napas. dilakukan sesuai respons
5. Sesuaikan dosis pasien.
analgesik berdasarkan
respons pasien.
ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA TN. B DENGAN LUKA BAKAR DERAJAT III
Nama Kasus Ilustrasi Kasus Pengkajian
Pengkajian Pengkajian Analisa Data
Primer Sekunder
Karen Luka Seorang pria berusia 35 tahun A - Airway (Jalan Identitas Pasien : DS :
Engkol Bakar ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan Napas)
Derajat diri setelah terjadi ledakan gas saat -Nama:Tn.B - Pasien tidak
III memasak di rumahnya. Saat tim medis Temuan pada -Usia:35tahun dapat berbicara
tiba, pasien mengalami luka bakar luas pasien : - Jenis Kelamin: karena intubasi.
(TBSA 40%) pada wajah, dada, lengan, Laki-laki - Keluarga
- Terpasang ETT mengatakan
dan kaki. Ia juga mengalami kesulitan (Endotracheal Riwayat
bernapas dengan suara serak, diduga Tube). Penyakit pasien
akibat inhalasi asap. Di IGD, pasien - Terdapat sekret Sekarang : mengalami luka
menunjukkan tanda-tanda syok kental. bakar saat
hipovolemik (TD 90/60 mmHg, nadi - Suara serak - Pasien memasak.
130x/menit) dan hipoksemia (PaO2 (indikasi inhalasi ditemukan tidak - Pasien
rendah, kadar COHb tinggi). Setelah asap). sadar setelah merespon nyeri
resusitasi awal, pasien dipindahkan ke - Risiko obstruksi ledakan gas di dengan ekspresi
ICU untuk ventilasi mekanik dan jalan napas akibat dapur rumah. wajah
perawatan intensif edema saluran - Mengalami luka
napas. bakar luas (TBSA DO :
40%).
Tindakan yang - Tiba di IGD - Terpasang
dilakukan : dalam kondisi ETT, terdapat
syok sekret kental.
- Menjaga patensi hipovolemik. - RR 35x/menit,
jalan napas dengan SpO2 94%
ETT. Riwayat dengan FiO2
- Melakukan Penyakit 60%.
suction secara Terdahulu : - PaO2 rendah,
berkala untuk kadar COHb
membersihkan Tidak ada riwayat tinggi.
sekret. penyakit kronis
- Monitoring tanda yang dilaporkan.
obstruksi jalan Pemeriksaan Etiologi :
napas dan edema Penunjang :
laring. Inhalasi asap dan
- Berikan terapi - Analisa gas ventilasi
oksigen sesuai darah: PaO2 mekanik
indikasi rendah,
hipoksemia. Masalah
B - Breathing - Kadar COHb Keperawatan :
(Pernapasan) tinggi (keracunan Gangguan pertukaran
Temuan pada karbon gas berhubungan dengan
pasien : monoksida). inhalasi asap dan
- RR 35x/menit - Elektrolit serum, ventilasi mekanik.
(takipnea). hematokrit, BUN,
- SpO2 94% kreatinin.
dengan FiO2 60%. - Foto toraks
- Menggunakan untuk aspirasi
ventilator mekanik. asap.
- PaO2 rendah,
hipoksemia Riwayat Alergi :
- Risiko hipotermia
akibat kehilangan
lapisan pelindung
kulit.
Tindakan yang
dilakukan :
- Berikan terapi
luka dengan
antiseptik dan
balutan steril.
- Pantau tanda-
tanda infeksi
(demam,
leukositosis).
- Kolaborasi
dengan dokter
bedah untuk
tindakan
debridemen atau
skin graft.
- Jaga suhu tubuh
pasien untuk
mencegah
hipotermia.
Diagnosa Intervensi Implementasi
Keperawatan Keperawan
SLKI SIKI ARTIKEL EBN
1. Gangguan Luaran: "Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi 1. Dilakukan
Pertukaran Gas - Status pertukaran - Pemantauan Durasi Penggunaan Ventilator Mekanik di pemantauan
berhubungan gas membaik Gas Darah Ruang Instalasi Care Unit RSUP Dr. Sardjito frekuensi napas
dengan inhalasi - PaO2 dalam batas (I.14906) Yogyakarta" menyoroti faktor-faktor yang dan pola
asap dan normal → Pantau hasil mempengaruhi durasi penggunaan ventilator pernapasan
ventilasi - Tidak ada tanda- analisis gas darah mekanik pada pasien di ICU. Temuan mengenai setiap 2 jam.
mekanik tanda hipoksia (PaO2, PaCO2, faktor-faktor yang mempengaruhi durasi 2. Diperiksa
SaO2). ventilasi mekanik dapat diaplikasikan pada analisis gas
→ Observasi populasi tersebut. darah sesuai
tanda-tanda jadwal.
hipoksia (sesak Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Durasi 3. Ventilator
napas, takipnea). Penggunaan Ventilator Mekanik: diatur sesuai
- Manajemen 1. Saturasi Oksigen (SpO₂): Penelitian parameter
Jalan Napas menunjukkan bahwa SpO₂ merupakan optimal.
(I.13810) faktor dominan yang mempengaruhi 4. Suction
→ Bersihkan durasi penggunaan ventilator mekanik. dilakukan sesuai
jalan napas Pasien dengan SpO₂ yang lebih rendah kebutuhan untuk
dengan suction cenderung memerlukan ventilasi menghindari
jika perlu. mekanik lebih lama. akumulasi
→ Berikan terapi 2. Glasgow Coma Scale (GCS): Tingkat sekret.
oksigen sesuai kesadaran yang rendah, diukur dengan 5. Pasien
kebutuhan. GCS, berhubungan dengan peningkatan diberikan
- Ventilasi durasi penggunaan ventilator mekanik. oksigen
Mekanik Pasien dengan GCS lebih rendah tambahan sesuai
(I.14901) memiliki risiko lebih tinggi untuk indikasi.
→ Optimalkan komplikasi seperti Ventilator-Associated
parameter Pneumonia (VAP).
ventilator. 3. Usia: Pasien berusia di atas 60 tahun
→ Monitor pola memiliki risiko lebih besar untuk
napas dan upaya menderita pneumonia terkait ventilator,
pernapasan yang dapat memperpanjang durasi
pasien penggunaan ventilator mekanik.
4. Komplikasi Infeksi: Adanya infeksi,
seperti VAP, dapat meningkatkan durasi
penggunaan ventilator mekanik. Faktor-
faktor seperti lama penggunaan ventilator
dan frekuensi kebersihan mulut pasien
dapat mempengaruhi kejadian VAP.
Implikasi pada Pasien dengan Luka Bakar
Derajat III:
Pasien dengan luka bakar derajat III yang luas
berisiko mengalami gangguan pertukaran gas,
yang mungkin memerlukan ventilasi mekanik.
Faktor-faktor seperti SpO₂, tingkat kesadaran,
usia, dan risiko infeksi harus dipantau secara
ketat untuk mengoptimalkan durasi penggunaan
ventilator mekanik dan mencegah komplikasi.
Evaluasi DIET
Keperawatan
Diet Rekomendasi Artikel EBN
10. 20.00
Mengobservasi
TTV
11. 20.10
Monitor
saturasi
oksigen paien
12. 20.15
Melakukan
terapi
pemberian
oksigen
13. Dokumentasi
1. Tekanan ● Trombosit:
darah 103/54 262.000/mm³
mmHg, nadi ● Hemoglobin:
98x/menit, 10.30 g%
suhu 36,9°C.
● BUN: 16
2. Konjungtiva mg/dL
tidak anemis,
sklera tidak ● Kreatinin: 9.26
ikterik. mg/dL
3. Tidak ● SGPT: 46
terdapat
● SGOT: 14
distensi vena
jugularis. ● Natrium: 128.7
mmol/L
4. CVC
terpasang di ● Kalium: 4.99
subclavia mmol/L
dextra, nilai
CVP 4,5. ● Klorida: 9.50
mmol/L
5. CRT <2
detik, ● GDA: 148
mukosa bibir mg/dL
lembab, akral ● Foto thoraks:
terasa hangat. Kardiomegali
D (Disability) ● Kultur urine:
(Neorologis) Resisten
1. Kesadaran terhadap
somnolen, beberapa
GCS E:2 V:x antibiotik
M:1 (Total
2x1).
2. Respon pupil
melambat,
namun tetap
isokor.
3. Refleks saraf
kranial
sebagian
besar tidak
terkaji karena
kondisi
pasien.
E (Exposure)
1. Suhu tubuh:
36.9°C.
2. Tidak
ditemukan
dekubitus.
3. Turgor kulit
sedang (<2
detik).
4. Mukosa bibir
kering.
5. Pasien
mengalami
kelemahan
otot
ekstremitas
atas (skor
1111) dan
bawah (skor
2222).
Diagnosa Intervensi Keperawatan Implementasi
Keperawatan
SLKI SIKI Artikel EBN Keperawatan
Ketidakefektifan Pemantauan Respirasi 1. Pemantauan EBN: pemberian posisi 10 JUNI 2022
perfusi jaringan (1.01014) Respirasi (I.01014) semi fowler 450 terhadap
1. 08.05
serebral frekuensi napas pada
1. Status Pernapasan Observasi: Mengukur TTV
berhubungan pasien gagal ginjal
(L.01014)
dengan ● Monitor kronik Memonitor
Indikator:
peningkatan TIK frekuensi, frekuensi irama,
akibat hematoma ● Frekuensi irama, kedalaman dan
intraserebral napas dalam kedalaman, dan Bukti ilmiah: Upaya napas
rentang normal upaya napas
Berdasarkan penelitian 2. 08.15
(12-20 x/menit
● Monitor pola dari jurnal artikel EBN Memonitor
pada dewasa)
napas “Pengaruh pemberian
Auskultasi bunyi
● Irama napas (bradipnea, posisi semi fowler 450
napas
teratur takipnea, terhadap frekuensi napas
hiperventilasi, pada pasien gagal ginjal 3. 08.20
● Kedalaman
kussmaul) kronik di wilayah kerja Memonitor saturasi
napas adekuat
Puskesmas Sidoharjo oksigen
● Auskultasi
● Tidak ada Sragen
bunyi napas 4. 08.25
penggunaan
Memberikan terapi
otot bantu ● Monitor saturasi
oksigen
napas oksigen (SpO₂) Sumber:
5. 08.30
● Tidak ada Terapeutik: Judul Artikel:
Memberikan posisi
suara napas
● Posisikan semi- “Pengaruh pemberian semi flower
abnormal
Fowler atau posisi semi fowler 450
(ronkhi, 6. 09.00
Fowler untuk terhadap frekuensi napas
wheezing, Periksa tanda dan
memudahkan pada pasien gagal ginjal
stridor) gejala
kronik di wilayah kerja
● Saturasi O₂ ≥ ekspansi paru Puskesmas Sidoharjo hipiervolemia
95% Sragen (dokummentasi)
● Berikan terapi
2. Efektivitas oksigen sesuai °” 7. 16.00
Ventilasi (L.01001) kebutuhan Mengobservasi
Indikator: TTV
● Dokumentasika
https://eprints.ukh.ac.id/
● Pola napas n hasil 8. 16.10
id/eprint/2610/1/
normal pemantauan Tinggi kepala
NASPUB%20TRISKA
respirasi tempat tidur
● Tidak ada %20P.%20SKRIPSI.pdf
pasiemm 30-40
tanda sesak Edukasi:
derajat (ubah
napas
● Jelaskan tujuan dengan hati hati
● Tidak ada dan prosedur posisi pasien setiap
takipnea atau pemantauan 1 jam
bradipnea respirasi kepada
9. 18.05
pasien/keluarga
● Tidak ada Memberikan terapi
retraksi ● Informasikan oksigen pada pasie
dinding dada hasil
pemantauan
kepada 10. 20.00
pasien/keluarga Mengobservasi
TTV
11. 20.10
Monitor saturasi
oksigen paien
12. 20.15
Melakukan terapi
pemberian oksigen
13. Dokumentasi
Evaluasi Diet
Keperawat Diet Rekomendasi Artikel EBN
an
DP 1: Pola ⮚ Energi: Jenis Diet dan JUDUL ARTIKEL:
napas tidak Cukup, Pemberian Nutrisi:
Aplikasi Pedoman Diet Penyakit Ginjal Menggunakan Metode Fuzzy
efektif sekitar 35
Karena pasien tidak Inference System (FIS)
berhubunga kkal/kg
sadar (GCS ≤ 8) dan
n dengan BB per PENULIS :
berisiko aspirasi,
hambatan hari.
nutrisi diberikan Tsukamoto Egi Fazillah1 , Helfi Nasution2 , Haried Novriando3
upaya napas ⮚ Protein:
melalui NGT ]
Rendah, SUMBER
bergizi.
sekitar 0,6-
S: 0,75 g/kg https://jurnal.untan.ac.id/index.php/JUARA/article/download/
BB, 53052/75676592445
Pada pasien yang
dengan
menjalani
Fitri dan sebagian
hemodialisis (HD)
Frinli besar
atau Continuous
berasal
Ambulatory
dari
Peritoneal Dialysis
pasien protein
(CAPD), kebutuhan
masih bernilai
protein lebih tinggi
mengalami biologis
karena ada
tetapi sudah tinggi.
kehilangan protein
tidak sering ⮚ Lemak:
selama proses
sesak. Cukup,
dialisis.
sekitar 20- Jenis Diet Dialisis:
30% dari
O Pola ● Diet Dialisis I
kebutuhan
napas → 60 g
energi
protein/hari
total,
(BB ±50 kg)
dengan
Tampak prioritas ● Diet Dialisis
pasien sesak pada II → 65 g
dengan lemak tak protein/hari
frekuensi jenuh (BB ±60 kg)
pernapasan ganda.
32 x/menit ⮚ Karbohidra ● Diet Dialisis
t: III → 70 g
Memenuhi protein/hari
• Irama kebutuhan (BB ±65 kg)
pernapasan energi Prinsip Diet
takipnea total, Dialisis:
dikurangi
energi dari ● Protein lebih
• Tampak protein dan tinggi (1-1,2
menggunak lemak. g/kg BB/hari
an oksigen ⮚ Natrium untuk HD, 1,3
NRM 10 (Garam): g/kg BB/hari
liter Dibatasi 1- untuk
3 g/hari, CAPD).
terutama ● Energi cukup
Tampak jika pasien (35 kkal/kg
pasien mengalami BB/hari).
menggunak hipertensi,
an otot edema, ● Natrium
bantu dalam atau sesuai output
pernapasan, anuria. urin (1-4
⮚ Kalium: g/hari).
Dibatasi
● Kalium sesuai
Jenis 40-70
output urin
pernapasan mEq,
(2-3 g/hari).
dada terutama
jika pasien ● Kalsium
mengalami tinggi (1000
Suara napas hiperkalem mg/hari),
tambahan: ia (kalium dengan
wheezing darah > 5,5 suplemen jika
mEq/L). diperlukan.
⮚ Cairan:
● Fosfor
A: Pola Dibatasi
dibatasi (<17
napas tidak sesuai
mg/kg
efektif jumlah
BB/hari).
belum urin dalam
teratasi 24 jam + ● Cairan
sekitar 500 dibatasi
ml untuk (output urin
P: pengeluara 24 jam + 500-
Lanjutkan n cairan 750 ml).
intervensi dari
● Suplemen
keringat
dan vitamin larut
pernapasan air (B6, asam
. folat, vitamin
⮚ Vitamin: C).
Cukup,
dengan
tambahan 2. Pemberian Nutrisi
suplemen Melalui NGT pada
piridoksin, Pasien CKD
asam folat,
Bentuk Pemberian
vitamin C,
Nutrisi:
dan
vitamin D ● Nutrisi
jika enteral
diperlukan. standard atau
formula
khusus renal
Jenis Diet CKD (misalnya
Berdasarkan Berat Nepro,
Badan: Suplena).
● Diet ● Pemberian
Protein bisa dalam
Rendah I: bentuk bolus
30 g (per 3-4 jam)
protein atau
(untuk continuous
berat badan drip (infus
±50 kg). enteral
perlahan).
● Diet
Protein Komposisi Nutrisi
Rendah II: Melalui NGT:
35 g
● Energi: 30-35
protein
kkal/kg
(untuk
BB/hari.
berat badan
±60 kg). ● Protein:
● Diet o CKD
Protein tanpa
Rendah III: dialisi
40 g s→
protein 0,6-
(untuk 0,75
berat badan g/kg
±65 kg). BB/ha
ri.
o CKD
denga
n
dialisi
s → 1-
1,2
g/kg
BB/ha
ri.
● Cairan:
Sesuai
dengan output
urin (misal,
jika urin 500
ml/24 jam,
cairan
diberikan
±1000
ml/hari).
● Elektrolit:
Disesuaikan
dengan
kondisi
pasien
(natrium,
kalium, fosfor
dibatasi jika
perlu).
● Serat: Untuk
mencegah
konstipasi
akibat
mobilitas
rendah.
● Vitamin dan
mineral:
Suplemen
vitamin B
kompleks, C,
dan D bisa
diberikan.
Hal yang Perlu
Diperhatikan:
● Monitor
tanda-tanda
overhidrasi
(edema,
hipertensi,
sesak napas).
● Cek
laboratorium
secara berkala
(ureum,
kreatinin,
elektrolit,
albumin).
● Pastikan
pemberian
NGT sesuai
kecepatan
yang
disarankan
untuk
mencegah
aspirasi.
● Evaluasi
keseimbangan
cairan dan
elektrolit
setiap hari.
17. Putri Adelia Malu 711430123020
Asuhan keperawatan pada Tn.d dengan hepatitis B
Nama Kasus Ilustrasi Pengkajian
Kasus Pengkajian Pengkajian Analisa
Primer Sekunder Data
Putri Asuhan Tn. D (45 th) datang Keadaan
Adeli keperawatan ke RS Fatmawati umum pasien: Riwayat DS:
a pada Tn.d dengan keluhan Klien tampak Penyakit
Malu dengan merasa lemas, tidak lemah Dahulu: Klien
hepatitis B nafsu makan, mual TTV: Klien mengatakan
tetapi tidak muntah, -TD: 100/70 mengatakan nyeri perut
pun klien mmHg tidak pernah sebelah
mengatakan nyeri Nadi: mengalami kanan atas 3
pada abdomen 76x/menit hal seperti ini minggu dan
bagian kanan atas. Pernafasan: 20 sebelumnya. memberat 1
Klien mengatakan x/mnt Riwayat minggu
memiliki riwayat -Suhu: 36, 0°C Kesehatan terakhir
mengkonsumsi • Kepala Keluarga:
alkohol sejak 4 tekan: Bentuk Pasien klien
tahun yang lalu (2-3 mesochepal, mengatakan mengatakan
botol/hari). tidak ada didalam nyerinya
Keluarga klien juga benjolan keluarganya menerus
mengeluhkan abnormal, tidak ada terus-
kesusahan tidak ada nyeri yang
menghentikan klien • Mata: menderita DO:
yang berstatus Simetris, tidak penyakit
sebagai perokok ada secret, serupa nyeri tekan
aktif karena merasa sklera ikterik, dengannya. pada perut
takut itu berdampak konjungtiva kanan atas
buruk bagi anemis
kesehatannya. Hasil • Hidung: P: sakit
pemeriksaan fisik, Letak hidung bertambah
sklera mata ikterik. simetris, tifak saat
Hasil pemeriksaan terdapat polip, terlentang
laboratorium HbsAg tidak terdapat
(+). Tanda-tanda secret Q: seperti di
vital, TD: 100/70 • Telinga: tusuk tusuk
mmHg, Nadi: Liang telinga
76x/menit, bersih, tidak R: abdomen
Pernafasan: 20 ada sebelah
x/mnt, Suhu: penumpukan kanan
36,0°C. serumen, tembus
fungsi sampai
• Mulut: belakang
Mukosa bibir
lembab, lidah S: 4
kotor, tidak
menggunakan T: hilang
gigi palsu. timbul
• Kulit: warna
kulit tidak klien gelisah
ikterik
• Leher : Tidak ekspresi
ada meringis
pembesaran wajah
kelenjara
thyroid dan terdapat
vena jugularis pembesaran
• Dada hepar
1. Paru-paru:
Inspeksi: klien
Bentuk dada menekan
simetris, tidak yang nyeri
menggunakan selalu daerah
otot bantu
nafas.
Auskultasi:
Bunyi paru
vesikuler
Palpasi: Tidak
ada nyeri
tekan
Perkusi: Bunyi
pekak
2. Jantung
Abdomen
: Auskultasi:
Bunyi irama
jantung regular
: Inspeksi:
Bentuk perut
normal, tidak
ada lesi bekas
operasi
Auskultasi:
Bising usus 20
x per menit
Perkusi: Bunyi
timpani
Palpasi:
Terdapat nyeri
tekan pada
sekitar daerah
perut sebelah
kanan atas.
2.memberi
makan
dalam
porsi kecil
dan
frekuensi
sering
sesuai
selera
Evaluasi Diet
Keperawa Diet Rekomend Artikel EBN
tan asi
S Makan Buah-
an buahan dan https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/
: Pasien olahan, sayuran S0140673675907242
masih seperti segar
mengataka hot dog Biji-bijian
n nyeri Makan utuh,
pada an seperti roti
daerah yang gandum
perut digoren utuh, pasta
bagian g gandum
kana atas, dengan utuh, soba,
nyeri minyak atau
terasa yang quinoa
seperti tidak Protein
disusuk- sehat nabati,
tusuk, Minum seperti
skala nyeri an tahu, biji-
menjadi 3 manis bijian, dan
dirasakan (soda kacang
hilang dan jus tanah
timbul. buah) Ikan,
dan unggas,
O: Wajah makan daging
pasien an tanpa
sudah dengan lemak,
tampak tambah telur
tidak an gula Susu
tegang Makan rendah
menahan an lemak,
nyeri tinggi yogurt, dan
zat besi keju
dan TD: Minuman
110/70 kedelai
mmHg, yang
RR: diperkaya
20/Menit,
Nadi: 72
X/Menit,
Suhu:
36,5° C
A:
Masalah
teratasi
sebagian
P: Berikan
lingkungan
yang
nyaman
dan
kurangi
pengunjun
g,
pantau
skala nyeri,
kolaborasi
pemberian
analgetik,
menganjur
kan pasien
melakukan
teknik
distraksi
relaksasi.
S: Klien
mengataka
n masih
merasa
mual
0:
porsi tidak
dihabiskan
klien
makan 3
sendok
mual (+)
infuse
terpasang
RL
minum ±
250 cc/hr
Hasil lab:
SGOT:
205
SGPT: 98
A:
Masalah
belum
teratasi
P:
Lanjutkan
intervensi
1,2,4,5 dan
6
S: klien
mengataka
n sudah
mulai
mengerti
tentang
proses
penyakitny
a tapi
belum puas
O: klien
masih
sering
bertanya -
tanya
tentang
penyakitny
a
A:
Masalah
teratasi
sebagian
P:
Lanjutkan
intervensi
2 dan 4
18. Stefani Grace Mesesu (711430123022)
Nama Kasus Ilustrasi Kasus Pengkajian
Pengkajian Primer Pengkajian Sekunder Analisa Data
Stefani Asuhan Seorang pasien Airway (Jalan Nafas): Riwayat Penyakit Data Subjektif:
Grace Keperaw perempuan, usia Pasien terpasang intubasi Pasien jatuh dari sepeda, Tidak terkaji
Mesesu atan ny. 53 tahun, endotrakeal dan dihubungkan mengalami fraktur, dan telah karena pasien
R dengan didiagnosis dengan ventilator. menjalani operasi tidak dapat
diagnosa dengan Sepsis berbicara akibat
medis Berat. Pasien Breathing (Pernapasan): Nyeri intubasi.
sepsis mengalami Frekuensi napas 22x/menit Skala nyeri 5/10 pada paha kiri
Di ruang kelemahan, sesak dengan bantuan ventilator, Data Objektif:
icu napas selama 5 terdapat sputum berwarna Pemeriksaan Penunjang Tanda-tanda
central hari, serta edema putih kekuningan dengan Hasil lab menunjukkan vital
rspal pada kaki. Pasien konsistensi encer. leukosit dalam batas normal, menunjukkan
Dr. memiliki riwayat tanda vital stabil hipotensi dan
Ramelan Diabetes Melitus Circulation (Sirkulasi): anemia.
surabaya selama 5 tahun, TD 92/42 mmHg, Nadi Edema pada
serta penyakit 98x/menit, CRT >2 detik, ekstremitas
jantung dan ekstremitas mengalami bawah.
hipertensi selama edema dan akral dingin. Luka gangren
23 tahun. cruris kiri
Disability (Neurologi): dengan riwayat
GCS: E: 4, V: x, M: 5 (Total: sepsis.
9), kesadaran somnolen,
pupil isokor, refleks
fisiologis ada.
Exposure (Paparan
Lingkungan):
Pasien mengalami gangren
cruris kiri selama 1 minggu,
terdapat luka operasi pada
ekstremitas bawah kiri.
Ilustrasi Pengkajian
Kasus Pengkajian Primer Pengkajian Analisa Data
sekunder
Airway - Riwayat DS:
Pasien Tn. M, 80 Terdapat akumulasi Penyakit: Keluarga menyatakan
tahun, dengan sekret, suara napas Riwayat hipertensi pasien memiliki
diagnosis stroke ronki, dan retraksi dan stroke 1 tahun riwayat stroke dan
hemoragik dinding dada. sebelumnya. hipertensi
mengalami gangguan Breathing : - Pemeriksaan DO:
bersihan jalan napas RR 28x/menit, SpO2 Penunjang: - GCS
dan ketidakefektifan 98%. Hasil radiologi E4M3V1.
perfusi jaringan Circulation: menunjukkan infark - Akumulasi
serebral TD 112/80 mmHg, serebri dengan cairan rahasia pada
Nadi 120x/menit. ±75 cc di korteks jalan napas.
Disability : sinistra. - Suara napas
GCS E4M3V1, ronki, retraksi
kesadaran somnolen. dinding dada.
Exposure : - Pasien tidak
Suhu tubuh 38,1°C. mampu batuk
dan menelan.
- TTV : TD
112/80
mmHg, Nadi
120x/menit,
RR
28x/menit,
SpO2 98%.
Penulis:
Martina
Ekacahyanin
gtyas, Dwi
Setyarini,
Wahyu Rima
Agustin,
Noerma
Shovie
Rizqiea
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
1. Jalan napas -Mengandung Karbohidrat: 50- Santosa B, Suwarman,
pasien lebih semua zat gizi 60% dari total Pradian E. Terapi
efektif. dalam bentuk energi untuk Nutrisi Pasien Di
2. Suara napas cair, seperti susu sumber energi Intensive Care Unit
bersih tanpa formula, bubur utama. (Icu). J Komplikasi
ronki. saring, jus buah, - Protein: 1,2- Anestesi.
3. tampak lebih dan sup halus. 1,5 g/kg berat 2020;7(3):97-105.
nyaman - Diet badan/hari untuk doi:10.22146/jka.v7i
dengan Blenderized membantu 3.7480
saturasi (Makanan pemulihan jaringan. Studi menunjukkan bahwa
oksigen stabil Saring): - Lemak: 20- Pasien di ICU biasanya juga
(≥ 95%). Makanan utama 30% dari total mengalami peningkatan
4. Rahasia seperti nasi, energi, lebih metabolisme dan
produksi sayur, dan lauk banyak lemak tak katabolisme sehingga dapat
berkurang. dihaluskan jenuh untuk mengalami malnutrisi. Oleh
5. Frekuensi napas hingga mendukung karena itu, pemberian
dalam batas normal konsistensi semi- kesehatan nutrisi pasien di ICU perlu
(16-24x/menit). cair. pembuluh darah. perhatian khusus.
- Formula - Serat: Kebutuhan nutrisi pada
Enteral Khusus: Rendah untuk pasien sakit kritis
Jika diperlukan, menghindari risiko tergantung dari tingkat
dapat diberikan sumbatan pada keparahan penyakitnya, dan
susu enteral NGT. status nutrisi sebelumnya.
tinggi protein dan - Cairan: 30- Untuk mencukupi
energi 35 ml/kg berat kebutuhan nutrisi pasien di
sesuai kondisi pa badan/hari untuk ICU dapat diberikan secara
sien. menjaga hidrasi. enteral dan parenteral atau
- Vitamin & kombinasi keduanya.
Mineral: Terutama
vitamin B
kompleks, C, dan E
untuk
mendukung pemuli
han otak.
20. Adinda Gita Rani Malendes 711430123026
Ilustrasi Pengkajian
Kasus Pengkajian Pengkajian Sekunder Analisa Data
Primer
Identitas Pasien: Airway (Jalan Riwayat Penyakit: Data Subjektif:
Ny. SR, 43 tahun, Nafas): Bebas, Pasien mengalami
bekerja sebagai tidak ada nyeri hebat pada Pasien mengeluhkan
karyawan swasta, sumbatan. punggung bawah yang nyeri punggung menjalar
menikah, memiliki menjalar ke kedua ke ekstremitas bawah.
satu anak. Breathing kaki, disertai
Riwayat Penyakit: (Pernapasan): RR kesemutan dan kebas. Data Objektif:
- Pada usia 3 20x/menit, suara Pemeriksaan MRI
tahun, mengalami napas vesikuler menunjukkan adanya - TTV stabil:
keterlambatan normal. massa pada medula TD 120/80 mmHg
berjalan dan spinalis yang N 84x/menit
menjalani operasi Circulation mengindikasikan RR 20x/menit
pada tulang (Sirkulasi): TD tumor spinal intradural Suhu 36,5°C
belakang. 120/80 mmHg, N ekstramedular. - Skala nyeri 7/10.
- Sejak usia 84x/menit. -Kelemahan otot
dewasa, dapat Nyeri: Skala nyeri ekstremitas bawah
beraktivitas normal Disability 7/10 pada punggung
hingga 1 bulan (Neurologi): bawah.
sebelum masuk Kelemahan
rumah sakit. ekstremitas bawah, Pemeriksaan
- Mulai refleks tendon Penunjang: MRI
merasakan nyeri dalam menurun, menunjukkan tumor
adanya parestesia.
punggung yang.
hilang timbul, yang Exposure (Paparan spinal, TTV stabil.
awalnya dianggap Lingkungan): Pasien
sebagai kelelahan. mengalami nyeri
- Dua minggu punggung menjalar
sebelum masuk ke ekstremitas
rumah sakit, nyeri bawah.
menjalar ke kaki
kiri disertai
kesemutan dan
kebas.
- Kaki kanan
sempat mengalami
mati rasa.
- Pasien mencoba
pengobatan
alternatif seperti
terapi pijat dan
konsumsi obat
pereda nyeri, tetapi
tidak ada
perbaikan.
-Pemeriksaan dan
Diagnosa:
- Pasien masuk
IGD pada 21
November 2022
dengan keluhan
utama nyeri
punggung yang
menjalar ke kaki.
- Hasil MRI
Thorax
menunjukkan
adanya massa
intracranial extra
medulla setinggi
Th9, menyebabkan
canal stenosis
berat.
-Asuhan
Keperawatan:
- Pengkajian
dilakukan dengan
anamnesis,
pemeriksaan fisik,
dan pemeriksaan
penunjang medis.
- Diagnosa
keperawatan
meliputi nyeri akut,
gangguan mobilitas
fisik, serta resiko
tinggi cedera.
- Implementasi
melibatkan
manajemen nyeri,
latihan pergerakan,
serta pemantauan
kondisi pasien.
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
1. Pasien Diet: 1. Vitamin: 1.Intervensi
mengatakan Keseimbangan nutrisi Vitamin seperti Keperawatan
penurunan (karbohidrat, protein, vitamin C, Berbasis Bukti
skala nyeri kalori, lemak, vitamin, dan vitamin D, dan -Manajemen Nyeri:
menjadi 4/10. mineral dan kaya akan vitamin E. -Teknik non
2. Pasien dapat serat) 2. Mineral: farmakologis:
berjalan Tujuan: Mineral seperti terapi kompres
dengan 1.Mencegahmalnutrisi kalsium, fosfor, hangat, teknik
bantuan 2.Meningkatkan kekuatan dan magnesium. relaksasi, edukasi
minimal. dan fungsi otot 3. Omega-3: pasien tentang
3. Pasien bisa 3.Mencegahkomplikasi Omega-3 seperti manajemen nyeri.
BAB secara seperti infeksi dan minyak ikan dan - Kolaborasi
rutin tanpa dekubitus suplemen omega- dengan tim medis
laksatif. 4.Meningkatkan kualitas 3. untuk pemberian
4. Tidak ada hidup pasien analgesik yang
insiden jatuh Contoh: sesuai.
selama Buah apel, sayur wortel, - Latihan Mobilisas
perawatan. protein daging ayam, - Latihan rentang
karbohidrat nasi,dan lemak gerak (ROM) dan
minyak zaitun. latihan penguatan
otot sesuai tingkat
kelemahan pasien.
- Pemantauan
respons pasien
terhadap latihan
fisik.
- Dukungan
Perawatan Diri
- Edukasi dan
pendampingan
pasien dalam
menjaga kebersihan
diri.
- Penyediaan
lingkungan yang
mendukung
pemulihan dan
meningkatkan
motivasi.
- Pencegahan
Risiko Jatuh
- Penggunaan alat
bantu jalan dan
pemantauan
lingkungan untuk
mencegah
kecelakaan.
- Edukasi keluarga
tentang cara
membantu pasien.
2.Evaluasi
Keperawatan
Berbasis Bukti
-Pemantauan
perubahan skala
nyeri pasien setelah
intervensi.
-Penilaian
keberhasilan latihan
mobilisasi melalui
peningkatan
kekuatan dan
keseimbangan otot.
- Dokumentasi
perkembangan
pasien untuk
mengevaluasi
efektivitas
intervensi yang
telah diberikan.
Ilustrasi Pengkajian
Kasus Pengkajian Pengkajian Analisa data
Primer Sekunder
Pak Adi, seorang guru Anamnesis Pengkajian Berdasarkan data
berusia 35 tahun, sudah (Riwayat Sekunder pengkajian yang penulis
seminggu ini mengalami Kesehatan) Sinusitis lakukan telah
sakit kepala yang terus 1. *Keluhan dilaksanakan pada 28
menerus di bagian dahi dan utama*: Nyeri di Pengkajian februari 2023 kemudian
pipi. Awalnya, ia mengira area wajah, sekunder dari hasil analisis
hanya terkena flu biasa hidung tersumbat, sinusitis meliputi penulis menegakan
karena mengalami hidung sekret hidung evaluasi lebih diagnosa keperawatan
tersumbat dan bersin- purulen, mendalam yaitu:
bersin. Namun, gejala gangguan terhadap faktor- a.Nyeri akut
tersebut tidak kunjung penciuman faktor yang berhubungan dengan
membaik setelah beberapa 2. *Riwayat mempengaruhi adanya peradangan pada
hari. keluhan*: Onset, kondisi pasien, hidung.
durasi, faktor komplikasi yang Masalahtersebut
Hidungnya terasa pencetus, faktor mungkin terjadi, ditegakkan karena
tersumbat sepanjang hari, yang dan penilaian berdasarkan data
dan ketika berhasil memperburuk terhadap kondisi subjektif pasein
mengeluarkan ingus, atau memperbaiki sistemik pasien. mengeluh nyeri.
warnanya kuning gejala Berikut adalah P:spasmeotot
kehijauan. Pagi hari terasa 3. *Riwayat komponen Q: tertindih
paling parah, dengan rasa penyakit pengkajian R : hidung S : 4
nyeri dan tekanan di sekitar sebelumnya*: sekunder: T: hilang timbul
mata, hidung, dan pipi Riwayat infeksi b. Bersihan jalan napas
yang terasa berat. Pak Adi saluran napas Faktor Risiko tidak efektif
juga mulai merasa atas, alergi, asma, dan Predisposisi berhubungan dengan
napasnya berbau tidak polip hidung adanyasecret yang
sedap dan tenggorokannya 4. *Riwayat 1. *Faktor mengental. Masalah
terasa gatal karena cairan pengobatan*: Anatomis*: tersebut ditegakan
yang mengalir dari Penggunaan - Deviasi karena berdasarkan data
belakang hidung. antibiotik, septum objektif pasien
dekongestan, atau - Konka terpasang tampon.
Setelah berkonsultasi kortikosteroid hipertrofi c. Gangguan istirahat
dengan dokter, dilakukan sebelumnya - Polip hidung tidur berhubungan
pemeriksaan fisik dan - Tumor dengan adanya hidung
ditemukan nyeri tekan pada Pemeriksaan intranasal tersumbat.
sinus maksilaris (pipi) dan Fisik - Anomali Masalah tersebut
frontalis (dahi). Dokter 1. *Inspeksi*: anatomis pada ditegakan karena
mendiagnosis Pak Adi - Wajah: Edema struktur sinus berdasarkan data
menderita sinusitis akut, atau kemerahan objektif pasien dengan
yaitu peradangan pada pada area sinus 2. *Faktor susah
rongga sinus yang - Hidung: Sistemik*: tidur dengan adanya
disebabkan oleh infeksi. Sekret hidung - Kondisi terpasang tampon
Pak Adi diberi resep (warna, imunodefisiensi
antibiotik, obat konsistensi), (HIV/AIDS,
dekongestan, dan mukosa hidung penggunaan
dianjurkan untuk sering (edema, pucat, imunosupresan)
melakukan inhalasi uap air atau kemerahan) - Penyakit
hangat serta mengonsumsi granulomatosis
banyak cairan. 2. *Palpasi*: (Wegener,
- Nyeri tekan sarkoidosis)
Setelah menjalani pada area sinus: - Fibrosis
pengobatan selama 10 hari, - Sinus kistik
gejala Pak Adi berangsur- maksilaris (pipi) - Diskinesia
angsur membaik. Dokter - Sinus silia primer
mengingatkan bahwa frontalis (dahi) - Diabetes
sinusitis dapat kambuh jika - Sinus melitus
tidak diobati dengan tuntas etmoidalis (antara
dan menyarankan Pak Adi mata) 3. *Faktor
untuk menjaga kebersihan - Sinus Lingkungan*:
hidung serta menghindari sfenoidalis - Paparan iritan
faktor pemicu seperti (belakang (asap rokok,
alergen dan udara dingin. hidung) polusi)
- Alergen
3. udara
*Transiluminasi*: - Variasi cuaca
- Pengecekan dan kelembaban
transmisi cahaya
pada sinus Evaluasi
frontalis dan Komplikasi
maksilaris untuk
mendeteksi 1. *Komplikasi
adanya cairan Orbita*:
- Selulitis
4. *Pemeriksaan periorbita
rongga hidung*: - Abses orbita
- Pemeriksaan - Trombosis
dengan spekulum sinus kavernosus
hidung untuk - Gangguan
menilai kondisi penglihatan
mukosa, sekret,
dan struktur 2. *Komplikasi
anatomis Intrakranial*:
- Meningitis
Pemeriksaan - Abses otak
Penunjang - Trombosis
1. sinus venosa
*Laboratorium*: - Empiema
- Hitung darah subdural
lengkap:
Leukositosis pada 3. *Komplikasi
infeksi bakteri Lokal*:
- Kultur dan - Osteomielitis
sensitivitas sekret tulang sinus
hidung - Mukokel
- Abses
2. *Radiologi*: subperiosteal
- Foto polos
sinus paranasal: Penilaian
Mendeteksi Kualitas Hidup
penebalan
mukosa atau 1. *Gangguan
cairan Fungsi*:
- CT Scan - Gangguan
sinus: Gold tidur
standard untuk - Gangguan
diagnosis konsentrasi
sinusitis, - Produktivitas
menunjukkan kerja/sekolah
detail anatomi
dan patologi 2. *Gejala
Psikologis*:
3. *Endoskopi*: - Kelelahan
-
Nasoendoskopi: - Iritabilitas
Untuk menilai - Depresi atau
kondisi mukosa kecemasan
hidung dan Evaluasi
ostium sinus Multisistem
secara langsung
1. *Sistem
Klasifikasi Respirasi*:
Sinusitis - Hubungan
Berdasarkan dengan asma
pengkajian - Gejala
primer, sinusitis respirasi bawah
dapat - Disfungsi
diklasifikasikan paru
menjadi:
- *Sinusitis akut*: 2. *Sistem
Durasi < 4 Kardiovaskular*:
minggu - Hipertensi
- *Sinusitis - Status perfusi
subakut*: Durasi jaringan
4-12 minggu
- *Sinusitis 3. *Sistem
kronik*: Durasi > Metabolik*:
12 minggu - Kontrol
- *Sinusitis glikemik pada
rekuren*: pasien diabetes
Episode berulang - Status nutrisi
dengan interval
bebas gejala Respon
Terhadap
Pengobatan
1. *Evaluasi
Pengobatan
Sebelumnya*:
- Respon
terhadap
antibiotik
- Efek samping
pengobatan
- Pola
resistensi
antibiotik
2. *Kepatuhan
Terapi*:
- Kepatuhan
minum obat
- Penggunaan
terapi irigasi
hidung
- Penggunaan
terapi tambahan
Pemeriksaan
Tambahan
1. *Pemeriksaan
Fungsi Paru*:
- Spirometri
pada pasien
dengan gejala
asma
2. *Pemeriksaan
Imunologi*:
- Tes alergi
(skin prick test,
tes IgE spesifik)
- Evaluasi
fungsi imun
3. *Pemeriksaan
Mikrobiologi
Lanjutan*:
- Kultur jamur
- Pemeriksaan
resistensi
antibiotik
- Identifikasi
mikroorganisme
spesifik
4. *Biopsi
Mukosa*:
- Evaluasi
histopatologi
- Studi
ultrastruktur silia
1. *Hindari
Pemicu*
- Identifikasi dan
hindari alergen
(debu, serbuk sari,
bulu binatang)
- Hindari iritan
seperti asap rokok,
polusi, dan parfum
menyengat
- Hindari kolam
renang berklorin
jika memicu gejala
2. *Pengelolaan
Lingkungan*
- Gunakan
pembersih udara
dengan filter
HEPA
- Cuci seprai dan
selimut dalam air
panas setiap
minggu
- Sering
membersihkan
debu rumah
- Jaga
kelembaban rumah
optimal (40-50%)
3. *Pola Hidup
Sehat*
- Hindari atau
berhenti merokok
- Cuci tangan
secara teratur
untuk mencegah
infeksi saluran
napas
- Kelola stres
dengan teknik
relaksasi
- Konsumsi
makanan anti-
inflamasi (omega-
3, buah, sayur)
- Olahraga
teratur namun
hindari saat gejala
akut
## Kapan Harus ke
Dokter
1. *Gejala yang
Mengkhawatirkan*
- Demam tinggi
(>38.5°C)
- Nyeri wajah
berat yang tidak
respons terhadap
analgesik
- Pembengkakan
di sekitar mata
- Perubahan
penglihatan
- Sakit kepala
berat atau kaku
leher
- Perubahan
kesadaran
2. *Kondisi
Khusus*
- Gejala tidak
membaik setelah
perawatan mandiri
7-10 hari
- Gejala yang
memburuk setelah
sempat membaik
- Sinusitis
berulang (>3
episode dalam
setahun)
- Memiliki
kondisi penyerta
seperti asma,
diabetes, atau
imunosupresi
## Terapi
Komplementer
1. *Aromaterapi*
- Minyak
eucalyptus,
peppermint, atau
tea tree untuk
inhalasi uap
- Jangan telan
minyak esensial
atau aplikasikan
langsung ke
hidung
2. *Suplemen
Herbal*
- Echinacea
untuk
meningkatkan
sistem imun
- Kombinasi
elderberry dan
vitamin C untuk
mengurangi gejala
- Konsultasikan
dengan dokter
sebelum
mengonsumsi
suplemen,
terutama jika
mengonsumsi obat
lain
Ingat bahwa
penanganan harus
disesuaikan
dengan kondisi
individu.
Konsultasikan
dengan dokter
untuk
mendapatkan
penanganan yang
optimal sesuai
dengan kebutuhan
spesifik Anda.
22.Anugria Kansya Kaunang 711430123030
ASUHAN KEPERAWATAN
“MULTIPLE ORGAN DYSFUNCTION SYNDROM (MODS)”
Ilustrasi Pengkajian
Kasus
Pengkajian Primer Pengkajian sekunder Aalisan
Data
Seorang pasien laki- 1. Airway (Jalan Identitas Pasien 1. DO: Pasien
laki berusia 68 tahun, Napas) Nama : Tn. A Menggunakan
Tn. A, dirawat di Umur : 68 Tahun ventilator,
rumah sakit setelah ✅ Pasien memiliki Jenis Kelamin : Laki-laki sesak
mengalami kejang- trakeostomi Suku : Jawa napas,Kesulita
kejang dan dengansekret Agama : Islam n
menggigil. Pasien keluar,menunjukkan Alamat : Jln. Adhasa bernapas,Trak
merupakan rujukan risikoobstruksi jalan Tanggal MRS : 28-06-2023 eostomi
dari puskesmas napas✅ dengan
dengan kondisi post Menggunakanventilat Riwayat Penyakit sekretkeluar
operasi sectio or, sehingga jalan Sekarang : DS: Keluarga
caesarea (SC) disertai napas harus terus Klien merupakan rujukan Melaporkan
eklampsia. Keluarga dipantau dari puskesmas dengan Pasien
melaporkan bahwa P3A3H0 dengan post SC Mengalami
pasien mengalami ✅ Memerlukan dengan eklamsia keluarga sesak napas
sesak napas, tekanan suction untuk klien mengatakan klien 2. DO: Suhu
darah yang fluktuatif, membersihkan secret terus kejang kejang an tubuh
dan menggigil.pasien juga 38°C,trakeost
2.Breathing terlihat sesak, tekanan omi dengan
memerlukan (Pernapasan) ✅Sesak darah sekret
ventilator. Ia sempat napas dankesulitan tinggi suhu naik turun, keluar,luka
dirawat di ruang bernapas →tanda sehingga klien di rujuk ke operasi SC
Melati sebelum gangguan RSUP mataram oleh dokter
dipindahkan ke pernapasan✅ dan mendapatkan DS: Keluarga
ICU karena Menggunakanventilat perawatan MelaporkanPa
kondisinya belum or untukmendukung di ruang melati tgl 18 mei sienmengalam
stabil. Dari oksigenasi ✅ 2011 namun belum stabil i Menggigil
pemeriksaan Frekuensi napas sehingga klien di pindahkan dan demam
keperawatan, tidakstabil → ke ruang ICU tanggal 15
ditemukan perlupemantauan✅ mei 2011 dan terpasang 3.DO:Kejang-
tanda-tanda gangguan Kemungkinan terjadi ventilator. kejang,
pernapasan seperti pneumonia atau Riwayat Penyakit Dahulu: fluktuasi
adanya tindakan Keluarga Pasien tekanan darah
suction, kesulitan ARDS akibat infeksi mempunyai riwayat SC 2 DS: Keluarga
bernapas, atau penggunaan tahun lalu dan penyakit melaporkan
penggunaan ventilator yang diderita sekarang tidak Pasienmengala
ventilator, serta pernah di alami mi tekanan
adanya luka bekas 3.Circulation(Sirkul sebelumnya. darah
operasi SC dan asi tidakstabil
trakeostomi dengan
sekret yang keluar. Darah) ✅Fluktuasi
Suhu tubuh pasien tekanan darah→ bisa Riwayat Penyakit
mencapai 38°C, menjadi tanda Keluarga : Keluaraga
menandakan demam. instabilitas Pasien
hemodinamik✅ Risiko mengatakan dalam
hipertensiakibat keluarganya tidak ada yang
eklampsia atau mengalami riwayat seperti
hipotensi akibat sepsis dan sakit keturunan
syoksepsis✅ seperti asma,
hiperjensi, DM, dll.
Potensi
gangguanperfusi
akibat tekanandarah
yang tidak stabil
4.Disability
(StatusNeurologis)
✅Pasien mengalami
kejang-kejang,
kemungkinanakibat
riwayat eklampsia ✅
Perlu
pemantauanGlasgow
Coma Scale (GCS)
✅ Risiko gangguan
erfusi serebral akibat
fluktuasi tekanan
darah
5. Exposure
(Pajanan
&Infeksi
) ✅Suhu tubuh
38°C
→indikasi
infeksi
atauinflamasi✅
Luka operasi SC →
risiko infeksi
nosokomialatau sepsis
✅ Trakeostomi dan
penggunaan
ventilator→meningka
tkanrisikoinfeksi paru
6. Keluhan
Utama :Keluarga
pasienmengatakan
pasien kejang kejang
dan menggigil
5.
Pemantauan
Saturasi
Oksigen
dan Analisa
Gas
Darah
EBN:
Pemantauan
ketat saturasi
oksigen dan
analisa gas
darah (AGD)
sangat
penting
untuk menilai
efektivitas
intervensi.
Bukti: Hasil
evaluasi
menunjukkan
bahwa setelah
suction dan
intervensi
terkait
lainnya,
terjadi
peningkatan
saturasi
oksigen
dari 96%
menjadi 99%
pada hari ke-
5.
6.
Manajemen
Jalan Napas
dan
Sekresi
Berlebih
EBN:
Suctioning
jalan napas
dapat
mengurangi
obstruksi
akibat
sekresi
berlebih
dan
meningkatkan
saturasi
oksigen.
Bukti: Pasien
dalam jurnal
mengalami
perbaikan
klinis
setelah
dilakukan
pengelolaan
jalan napas
dan
ventilasi
mekanik
untuk
mencegah
aspirasi dan
pneumonia
nosokomial.
7.
Manajemen
Ventilasi
Mekanik
EBN:
Pengaturan
ventilasi
mekanik
yang optimal
dapat
mengurangi
risiko
ventilator-
associated
pneumonia
(VAP) dan
meningkatkan
PaO₂/FiO₂
ratio.
Bukti: Pasien
yang
mendapatkan
ventilasi
mekanik
dengan mode
protektif paru
(low tidal
volume,
PEEP
yang adekuat)
menunjukkan
perbaikan
dalam
saturasi
oksigen
dan
penurunan
komplikasi.
8. Terapi
Oksigen dan
Posisi Semi-
Fowler
EBN:
Pemberian
oksigen dan
posisi semi-
Fowler/
Fowler
dapat
meningkatkan
ekspansi paru
dan
pertukaran
gas.
Bukti: Studi
kasus dalam
jurnal
menunjukkan
perbaikan
oksigenasi
setelah
posisi pasien
dioptimalkan
dan
pemberian
oksigen
dilakukan
secara
bertahap.
9.
Pencegahan
Ventilator-
Associated
Pneumonia
(VAP)
EBN: Bundle
VAP (elevasi
kepala tempat
tidur ≥30°,
suctioning
rutin,
kebersihan
mulut)
terbukti
menurunkan
risiko
pneumonia
terkait
ventilator.
Bukti: Pasien
dengan
MODS
akibat sepsis
sering
mengalami
pneumonia
nosokomial,
dan
pencegahan
infeksi adalah
faktor kunci
dalam
perbaikan
kondisi
pasien.
10. Evaluasi
Gas
Darah Arteri
(AGD) dan
Hemodinamk
EBN:
Pemantauan
rutin
pH darah,
PaO₂/FiO₂
ratio, laktat
serum, dan
saturasi
oksigen
sangat
penting
untuk
mengevaluasi
efektivitas
intervensi.
Bukti: Pasien
dalam jurnal
mengalami
perbaikan
nilai
gas darah
setelah
dilakukan
terapi
suportif,
termasuk
pemantauan
hemodinamik
agresif dan
resusitasi
cairan.
Diet
Evaluasi Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
Evaluasi dilakukan dengan A. Diet Tinggi 1.Masi 1. Prinsip Nutrisi pada
membandingkan kondisi Protein, menggunakan Pasien
pasien sebelum dan setelah Rendah ventilator : dengan Sepsis dan
intervensi dilakukan Karbohidrat, Nutrisi enteral cair MODS
selama 5 hari. Indikator dan (formula tinggi Pasien dengan
keberhasilan intervensi: Seimbang protein, sepsis
✅ Frekuensi napas Lemak rendah karbohidrat) mengalami
kembali dalam batas ✅ Kandungan Cat : Hindari hipermetabolisme
normal (12-20 x/menit) Nutrisi formula yang
✅ Saturasi oksigen Energi: 25- tinggi glukosa untuk menyebabkan
meningkat ≥95% tanpa 30 mencegah peningkatan
alat bantu atau dengan kkal/kg hiperkapnia kebutuhan energi dan
penggunaan minimal BB/hari protein.
oksigen Protein: 1,2- 2. Dalam tahap Pada fase akut
✅ PaO₂/FiO₂ ratio 2 g/kg penyapihan sepsis,
meningkat sesuai hasil BB/hari (tinggi ventilator terjadi peningkatan
analisa gas darah (AGD) protein untuk : penggunaan glukosa
✅ pH darah dalam batas memperbaiki Diet lunak, tinggi sebagai sumber energi
normal (7,35 – 7,45) jaringan dan protein utama, tetapi
✅ Sekret jalan napas sistem Cat : Tekstur lembut konsumsi
berkurang dan tidak ada imun) untuk mencegah energi yang terlalu
tanda obstruksi jalan napas Karbohidrat: aspirasi tinggi
✅ Tidak ada tanda-tanda 30- dapat memperburuk
hipoksia (warna kulit 50% dari total 3. Sudah bisa makan kondisi metabolik.
normal, tidak ada sianosis, kalori secara oral : Ketika pasien stabil,
takipnea, atau penggunaan (rendah untuk Diet tinggi protein, asupan energi harus
otot bantu napas) mengurangi rendah karbohidrat, 25-30
✅ Pasien berhasil produksi cukup lemak kkal/kg/hari, dengan
menjalani penyapihan CO₂) Cat : Batasi protein 1,2-2 g/kg/hari
ventilator dan dapat Lemak: 30- makanan untuk mencegah
bernapas dengan oksigen 40% dari tinggi gula dan kehilangan massa otot.
minimal (misalnya total kalori garam, Asupan lemak
menggunakan nasal (sumber perbanyak makanan seimbang
cannula 2-5 L/menit) energi utama, dengan omega-3 (terutama omega-3)
termasuk ✅ Makanan yang untuk
lemak Direkomendasikan mengurangi inflamasi.
omega-3 untuk Sumber Enteral Nutrition
efek protein tinggi: (EN) lebih diutamakan
antiinflamasi) Dada ayam, daripada Parenteral
Serat: ikan Nutrition (PN) karena
Cukup untuk salmon/tuna, dapat membantu
mencegah telur, tahu, menjaga
konstipasi jika tempe, yogurt fungsi usus dan
pasien tinggi protein mengurangi
mendapatkan Lemak sehat: komplikasi
nutrisi Minyak zaitun, infeksi.
enteral alpukat, 2. Rekomendasi Diet
kacang- Berbasis
B. Diet Cair kacangan, Bukti (EBN)
atau Lunak minyak ikan 1. Pemberian Nutrisi
(Jika Pasien Karbohidrat Enteral Dini
Masih di kompleks o EBN: Nutrisi enteral
Ventilator) (rendah harus dimulai dalam 4
✅ Jika pasien glukosa): jam setelah pasien
menggunakan Oatmeal, ubi, stabil untukmencegah
ventilator quinoa, nasi atrofimukosa usus.
dan belum bisa merah oBukti:Studimenunjuk
makan Buah dan kanbahwa
secara oral, sayur kaya nutrisienteral lebih
maka diet antioksidan: baikdaripada nutrisi
diberikan Bayam, Parenteral dalam
melalui nutrisi brokoli, wortel, mengurangi infeksidan
enteral dengan alpukat, pisang mortalitas.
formula yang 2. Diet Rendah
mengandung: Karbohidrat untuk
Protein MengurangiProduksi
tinggi CO₂
(whey protein, o EBN: Karbohidrat
kasein) tinggi dapat
Karbohidrat meningkatkan
kompleks produksi CO₂,
(rendah memperberat kerja
glukosa) pernapasan pada
Lemak sehat pasien dengan
(minyak ikan, gangguan
MCT pertukaran gas.
oil) o Bukti: Diet
Antioksidan rendah
(vitamin C, E, karbohidrat dan
selenium, zinc) tinggi lemak sehat
untuk (termasuk omega-
meningkatkan 3) dapat membantu
sistem imun mengurangi
✅ Jika pasien inflamasi dan
sudah dalam meningkatkan
proses oksigenasi.
penyapihan 3. Pemberian Protein
ventilator, diet yang
dapat Cukup untuk
diberikan Mencegah
dalam bentuk Kehilangan Massa
lunak, seperti: Otot
Bubur tinggi o EBN: Asupan
protein protein yang cukup
Sup ayam dapat mempercepat
dengan
sayuran lembut pemulihan pasien
Telur rebus dengan sepsis dan
atau mencegah atrofi
telur orak-arik otot akibat
Smoothie hipermetabolisme
tinggi .
protein (susu o Bukti: Penelitian
rendah laktosa menunjukkan
+ bahwa 1,2-2
pisang/avokad) g/kg/hari protein
dapat
meningkatkan
luaran klinis pasien
dengan MODS.
4. Mikronutrien
(Vitamin
dan Mineral) untuk
Menunjang Fungsi
Imun
o EBN: Sepsis
menyebabkan
penurunan kadar
vitamin C,
selenium, dan zinc,
yang berperan
dalam respon
imun.
o Bukti: Vitamin C
dosis tinggi secara
intravena terbukti
dapat
menurunkan
mortalitas pasien
sepsis, sementara
selenium dan zinc
berkontribusi
dalam pemulihan
fungsi imun
.
5. Pemantauan dan
Pencegahan Sindrom
Refeeding
o EBN: Pasien sepsis
dengan malnutrisi
berisiko tinggi
mengalami
sindrom refeeding
jika nutrisi
diberikan terlalu
cepat.
o Bukti: Refeeding
syndrome dapat
dicegah dengan
peningkatan
asupan kalori
secara bertahap
dan pemantauan
kadar elektrolit
seperti fosfat,
magnesium, dan
kalium
Abdomen
Peristaltik usus:
5x/menit
Palpasi hepar:
tidak teraba
pembesaran
Palpasi kandung
kemih: kosong
Nyeri ketuk
ginjal: negatif
Anus:
Peradangan:
tampak tidak
ada peradangan
Hemoroid:
tampak tidak
ada hemoroid
Fistula: tampak
tidak ada fistula
19. Lengan
dan tungkai
Edema: tampak
tidak ada edema
Atrofi otot:
negatif
Kaku sendi:
tidak ada
Nyeri sendi:
tidak ada
Fraktur: tidak
ada
Parese: lemah
pada tungkai
kiri
Paralisis: tidak
ada Uji
kekuatan otot
5 3
5 3
Refleks
fisiologis:
biceps triceps
dan achiles
Refleks
patologi:
Babinski kanan
dan kiri: negatif
Clubing jari-
jari: tidak
tampak
Varises tungkai:
tidak tampak
Columna
vetebralis:
Inspeksi:
lordosis
kiposis skolio
sis
Pemeriksaann
Penunjang
1) Elektrok
ardiogram:
sinus takikardi
6. Pemeriksaan
Penunjang:
Hemoglobin (Hb):
16,1 g/dL
Hematokrit (HT):
49%
Trombosit: 408
ribu/µL
Leukosit: 12,57
ribu/µL
C (Circulation /
Sirkulasi)
- TD: 85/50 mmHg
(hipotensi →
curah jantung
rendah)
- HR: 125x/menit
(takikardia
kompensasi)
- CRT: >3 detik
(perfusi perifer
buruk)
- Akral dingin,
sianosis pada
ekstremitas distal
- Edema pitting
grade 3 pada
kedua tungkai →
Kongesti sistemik
- Distensi vena
jugularis (+) →
Indikasi overload
cairan
- BNP: 1200 pg/mL
(CHF berat →
Penanda disfungsi
ventrikel)
- Auskultasi
jantung:
o Bunyi jantung
S3 (+) →
Indikasi gagal
jantung
o Bising
murmur
sistolik (+) →
Kemungkinan
regurgitasi
mitral
D (Disability /
Neurologi)
- GCS: 6
(E2V1M3) →
Tidak sadar
- Pupil:
o Isokor, refleks
cahaya lambat
o Diameter 3
mm kanan &
kiri
- Tonus otot
menurun, refleks
ekstremitas lemah
- Tidak ada kejang,
namun
kemungkinan
hipoksia serebral
tinggi
E (Exposure /
Pajanan)
- Suhu: 36,2°C
(Normal rendah,
risiko hipotermia
akibat perfusi
buruk)
- Kulit:
o Pucat,
sianosis pada
bibir dan
ekstremitas
distal
o Diaforesis
berlebih (+)
→ Tanda
distres
simpatis
- Hepatomegali (+),
distensi abdomen
ringan
- Riwayat Diabetes
Mellitus →
Risiko komplikasi
metabolic
Riwayat Hipertensi →
Perburukan fungsi
kardiovaskular
Penurunan curah Setelah dilakukan Intervensi Posisi Fowler Jam 00:00 – 02:00
jantung asuhan Keperawatan Untuk Observasi:
berhubungan keperawatan Utama: Meningkatkan - Monitor TD, HR,
dengan selama 2 × 12 jam, Manajemen Saturasi RR, SpO₂
pasien menunjukkan Sirkulasi Oksigen Pada - Pantau CRT, suhu
perubahan preload
peningkatan curah (I.02008) Pasien (CHF) ekstremitas, tanda
jantung, dengan Congestive hipoperfusi
kriteria hasil: Observasi: Heart Failure - Evaluasi distensi
1. Frekuensi - Monitor Yang vena jugularis dan
jantung dalam tekanan Mengalami edema
rentang 80– darah Sesak Nafas Terapeutik:
100x/menit (TD), - Posisikan semi-
2. Tekanan darah frekuensi Penulis: Fowler
stabil (≥90/60 jantung Dimas Agung - Berikan oksigen
mmHg) (HR), Pambudi, Sri 2–6 L/menit jika
3. Pengisian frekuensi Widodo diperlukan
kapiler ≤3 detik napas - Lakukan kompres
4. Produksi urin (RR), dan hangat pada
≥0,5 SpO₂ ekstremitas jika
mL/kgBB/jam setiap 1–2 terjadi
5. Edema jam vasokonstriksi
berkurang - Pantau Kolaborasi:
6. Distensi vena CRT - Diskusikan
jugularis (capillary dengan dokter
menurun atau refill jika ada
tidak ada time), perubahan
7. Pasien tampak suhu signifikan pada
lebih nyaman ekstremita tanda vital
s, dan - Evaluasi indikasi
tanda pemberian obat
hipoperfus inotropik atau
i (akral diuretik
dingin,
sianosis) Jam 02:00 – 04:00
- Evaluasi Observasi:
distensi - Pantau produksi
vena urin dan
jugularis keseimbangan
dan edema cairan
setiap 8 - Evaluasi pola
jam napas dan tanda
- Monitor hipoksia
intake dan Terapeutik:
output - Reposisi pasien
cairan untuk mencegah
untuk stasis darah
menilai - Dorong pasien
perfusi untuk latihan
ginjal dan pernapasan dalam
risiko jika
overload memungkinkan
cairan Kolaborasi:
- Pantau - Pastikan diet dan
pola napas pembatasan cairan
sebagai sesuai anjuran
tanda dokter
kompensas
i jantung Jam 04:00 – 06:00
Observasi:
Terapeutik: - Monitor kembali
- Posisikan TD, HR, RR,
pasien SpO₂
semi- - Cek adanya
Fowler perubahan edema
atau Terapeutik:
Fowler - Lanjutkan
tinggi pemberian
untuk oksigen jika
menguran masih diperlukan
gi beban - Batasi asupan
jantung cairan jika ada
dan tanda-tanda
meningkat overload
kan Kolaborasi:
ventilasi - Koordinasi
paru dengan dokter
- Berikan untuk evaluasi
oksigen 2– laboratorium
6 L/menit (elektrolit, gas
melalui darah)
nasal
cannula Jam 06:00 – 08:00
atau sesuai Observasi:
kebutuhan - Monitor ulang
untuk tanda vital dan
meningkat tanda perfusi
kan perifer
oksigenasi - Evaluasi output
jaringan urin
- Lakukan
kompres Terapeutik:
hangat - Lakukan
pada fisioterapi dada
ekstremita jika ada tanda
s jika kongesti paru
terjadi - Pastikan pasien
vasokonstr dalam posisi
iksi perifer nyaman
untuk Kolaborasi:
meningkat - Diskusikan
kan dengan dokter
sirkulasi hasil pemantauan
darah terakhir
- Lakukan
reposisi Jam 08:00 – 10:00
setiap 2 Observasi:
jam untuk - Cek tanda
mencegah hipovolemia atau
stasis overload cairan
darah dan Terapeutik:
risiko - Pastikan posisi
dekubitus tetap semi-Fowler
akibat - Berikan edukasi
perfusi keluarga terkait
yang kondisi pasien
buruk Kolaborasi:
- Batasi - Laporkan
asupan perkembangan ke
cairan dan tim medis dan ahli
natrium gizi
sesuai
rekomenda Jam 10:00 – 12:00
si dokter Observasi:
untuk - Evaluasi ulang
mencegah TD, HR, RR,
retensi SpO₂, produksi
cairan urin
yang Terapeutik:
memperbu - Lanjutkan reposisi
ruk dan latihan
preload pernapasan
- Dorong - Evaluasi efek
pasien terapi obat yang
untuk diberikan
latihan Kolaborasi:
pernapasa Koordinasi untuk
n dalam penyesuaian terapi
jika jika diperlukan
memungki
nkan guna
menguran
gi beban
kerja
jantung
- Evaluasi
penggunaa
n alat
bantu
pernapasa
n jika ada
tanda-
tanda
gagal
napas
Kolaborasi:
- Kolaborasi
dengan
dokter
untuk
pemberian
:
- Inotropik
(dobutami
n/dopamin
) untuk
meningkat
kan
kontraktilit
as jantung
- Vasodilato
r (nitrat)
untuk
menguran
gi beban
jantung
- Diuretik
(furosemid
) untuk
menguran
gi preload
dan edema
- Obat
antihiperte
nsi sesuai
indikasi
jika
tekanan
darah
tinggi
- Kolaborasi
dengan tim
medis
untuk
evaluasi
hasil EKG,
echocardio
grafi, dan
elektrolit
serum
- Kolaborasi
dengan
ahli gizi
untuk
pengaturan
diet rendah
garam dan
cairan
Edukasi:
- Berikan
informasi
kepada
keluarga
mengenai
kondisi
pasien dan
tanda-
tanda
perburuka
n yang
perlu
diperhatik
an
- Edukasi
keluarga
tentang
pentingnya
kepatuhan
dalam
pemberian
obat dan
kontrol
rutin
Evaluasi keperawatan diet
Diet Rekomendasi Artikel EBN
S – Subjective (Keluhan Diet rendah garam , 1. Diet Rendah Pengaruh Diet
Pasien / Keluarga) Pembatsan cairan , dan Garam (<2 Sodium dan
- Keluarga mengatakan Diet tinggi protein g/hari) Pembatasan Cairan
pasien masih tampak lemah Tujuan: Berbasis Aplikasi
dan kurang responsif. Mengurangi Android
- Keluarga mengungkapkan retensi cairan dan Terhadap
kekhawatiran tentang beban kerja Keseimbangan
kondisi jantung pasien. jantung Cairan Dan
Rekomendasi: Dyspnea Pada
O – Objective (Data Objektif) - Gunakan Pasien Gagal
Tanda vital: bumbu alami Jantung
- TD: 88/60 mmHg (bawang, jahe, Kongestif (CHF)
(masih rendah) kunyit)
- HR: 108x/menit sebagai Penulis
(takikardia) pengganti Agus Putradana,
- RR: 26x/menit garam Muh.Mardiyono ,
(dispnea) - Pilih makanan Nana Rochana
- SpO₂: 92% dengan O₂ segar (sayur,
nasal 4 L/menit buah, daging
Sirkulasi: tanpa garam
- CRT >3 detik (perfusi tambahan)
masih lemah) - Hindari
- Akral masih dingin, makanan
terdapat edema ringan olahan
pada ekstremitas bawah (makanan
- Distensi vena jugularis kaleng, saus
berkurang dibanding botolan,
sebelumnya daging olahan)
Produksi urin: 0,4
mL/kgBB/jam (masih di 2. Pembatasan
bawah normal) Cairan (≤1–1,5
Pemeriksaan paru: L/hari)
Terdengar ronki halus pada Tujuan: Mencegah
basal paru edema paru dan
overload cairan
A – Assessment (Analisis / Rekomendasi:
Kesimpulan) - Hitung cairan
Curah jantung masih dari makanan
rendah, namun ada sedikit (sup, jus, buah
perbaikan dibanding berair)
sebelumnya. - Gunakan es
Perfusi jaringan belum batu kecil
optimal, terlihat dari CRT sebagai
yang masih >3 detik dan alternatif
akral yang masih dingin. minum jika
Edema dan distensi vena merasa haus
jugularis mulai berkurang, - Hindari
tetapi produksi urin masih minuman
di bawah normal. berkafein dan
P – Plan (Rencana Tindakan soda yang bisa
Lanjutan) meningkatkan
Observasi Lanjutan: diuresis
- Monitor tanda vital
setiap 1 jam 3. Diet Tinggi
- Evaluasi kembali CRT, Protein (1,2–
edema, dan produksi 1,5
urin g/kgBB/hari)
Tujuan: Mencegah
Tindakan Keperawatan: kehilangan massa
- Pertahankan posisi otot dan
semi-Fowler untuk mendukung
mengurangi beban penyembuhan
jantung Rekomendasi:
- Lanjutkan pemberian - Pilih protein
oksigen 4 L/menit, berkualitas
sesuaikan sesuai tinggi (ikan,
saturasi oksigen ayam tanpa
- Lakukan fisioterapi kulit, putih
dada untuk membantu telur, tahu,
mengurangi kongesti tempe)
paru - Konsumsi
- Batasi asupan cairan protein nabati
lebih ketat sesuai untuk
anjuran dokter keseimbangan
Kolaborasi: nutrisi
- Kolaborasi dengan - Batasi daging
dokter untuk evaluasi merah
ulang pemberian berlemak dan
inotropik dan diuretic gorengan
- Kolaborasi dengan tim
medis untuk
pemeriksaan ulang
elektrolit serum dan
gas darah
- Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk penyesuaian
diet
27. Charly Trifena Matoneng 711430123036
E - Exposure
(Pajanan/Lingkungan)
✅ Perlu pemeriksaan
tanda-tanda infeksi
lebih lanjut (suhu
tubuh, kultur
darah/sputum).
✅ Harus dicek adanya
cedera lain akibat
kecelakaan (misalnya
fraktur, hematoma,
atau luka terbuka)
Keluhan Utama :
Pasien tidak sadar
E. Manajemen
Peningkatan 5. Manajemen
Tekanan Peningkatan Tekanan
Intrakranial Intrakranial (I.14021
(I.14021) - SIKI) – Jika TIK
Jaga Meningkat
posisi
kepala Tujuan: Mengurangi
tetap risiko edema serebral
netral yang bisa
untuk memperburuk
mencegah gangguan pernapasan.
obstruksi
aliran Implementasi:
vena. ✅ Jaga posisi kepala
Hindari 30–45° dan hindari
manuver fleksi atau rotasi kepala
yang yang berlebihan.
meningkat ✅ Hindari manuver
kan TIK, yang meningkatkan
seperti TIK, seperti suctioning
batuk berlebihan atau batuk
berlebihan keras.
atau ✅ Monitor tanda
valsava. peningkatan TIK
Evaluasi (mual, muntah, pupil
tanda- tidak reaktif, perubahan
tanda GCS).
peningkat ✅ Kolaborasi dengan
an TIK dokter untuk
(mual, pemberian obat
muntah, penurun TIK jika
pupil diperlukan.
tidak
reaktif,
penurunan
GCS).
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomenadsi Artikel EBN
✅ Jalan napas bersih, ➡ Diet Enteral 1. Diet enteral 📌 Pemberian nutrisi
pernapasan normal, (melalui NGT/PEG): (NGT/PEG) : dini sangat penting
tidak ada sesak. Formula Formula tinggi protein untuk mengurangi
✅ SpO₂ stabil di ≥ enteral tinggi & kalori, pemberian komplikasi dan
95%, tanpa tanda kalori dan bertahap, monitoring mempercepat
hipoksia. protein (1,2– residu lambung. pemulihan pasien
✅ Sekresi dapat 1,5 kkal/ml) dengan cedera otak
dikeluarkan dengan untuk berat.
mudah. mencegah 📌 Nutrisi enteral lebih
✅ Pasien dalam kondisi katabolisme. direkomendasikan
neurologis yang stabil. Pemberian 2. Diet lunak/saring dibandingkan nutrisi
secara kontinu Tekstur disesuaikan, parenteral, kecuali jika
(drip) atau posisi makan tegak, ada kontraindikasi
bolus sesuai observasi refleks seperti gangguan fungsi
toleransi menelan. usus.
gastrointestinal.
Kandungan 📌 Monitoring ketat
utama: Protein
15–20%, terhadap status gizi
karbohidrat 50– dan kebutuhan
60%, lemak 3. Diet normal tinggi metabolik pasien
20–30%. protein harus dilakukan
Cairan cukup Nutrisi lengkap, tinggi secara rutin untuk
untuk antioksidan, cukup memastikan efektivitas
mencegah cairan untuk diet yang diberikan.
dehidrasi dan mengencerkan sekret.
lendir kental di 💡 Implikasi
jalan napas. Keperawatan:
✔ Perawat harus
memastikan
➡ Diet Lunak / pemberian nutrisi
Saring: tepat waktu dan
Tekstur sesuai kebutuhan
makanan metabolik pasien.
disesuaikan ✔ Pemantauan status
(semi padat, hidrasi dan
mudah keseimbangan
dikunyah, dan elektrolit sangat
ditelan). penting untuk
Makanan mencegah komplikasi.
tinggi protein ✔ Kolaborasi dengan
dan kalori dokter gizi sangat
untuk diperlukan untuk
penyembuhan menyesuaikan formula
jaringan. diet sesuai kondisi
Batasi pasien.
makanan yang
dapat
meningkatkan
produksi
lendir (susu
full cream,
makanan tinggi
lemak jenuh).
Pemberian
makan dalam
posisi fowler
(>30°) untuk
mengurangi
risiko aspirasi.
Diet
Evaluasi Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
Nyeri Akut b/d Agen 1. Diet Rendah 1. Mengurangi Effect of massage therapy on
Pencedera Fisiologis Lemak konsumsi chest pain, anxiety, and stress
lemak jenuh among patients with acute
S: dan lemak coronary syndrome: A
P: Pasien mengatakan nyeri 2. Diet Rendah trans yang Review. Journal of
dirasakan saat bergerak Gam dapat Bionursing, 3(3), 182–194.
Q: Pasien mengatakan nyeri 3. Makan Makanan meningkatk https://doi.org/10.20884/1.bi
seperti tertusuk-tusuk Berserat Tinggi an risiko on.2021.3.3.111
R: Pasien mengatakan nyeri ateroskleros
dada sampai ulu hati 4. Hindari Makanan is dan
S: Pasien mengatakan nyeri Olahan dan Tinggi memperbur
dirasakan skala 6 Kolesterol uk kondisi
T: Pasien mengatakan jantung.
nyeridirasakan hilang timbul 2. Menghindar
O: 5. Konsumsi Omega- i makanan
- Keluhan nyeri cukup 3 tinggi
menurun natrium
- Tampak pasien untuk
meringis mengurangi
- Tampak pasien masih tekanan
gelisah darah dan
A : Masalah Nyeri Akut belum mengurangi
teratasi beban kerja
P : Lanjutkan Intervensi jantung.
- Identifikasi lokasi, 3. Mengonsu
karakteristik, durasi,frekuensi, msi sayur,
kualitas, intensitas nyeri dan buah, dan
skala nyeri biji-bijian
- Identifikasi respon untuk
nyeri non verbal membantu
- Identifikasi faktor mengontrol
yang memperberat dan kadar
memperingan nyeri kolesterol
- Berikan teknik dan
non farmakologis memperlan
untuk car
mengurangi rasa pencernaan.
nyeri (message therapy) 4. Mengurangi
- Jelaskan penyebab, konsumsi
periode, dan pemicu nyeri daging
- Jelaskan strategi merah,
meredakan makanan
cepat saji,
serta
produk
olahan yang
mengandun
g lemak
tidak sehat
5. Mengurangi
konsumsi
daging
merah,
makanan
cepat saji,
serta
produk
olahan yang
mengandun
g lemak
tidak sehat
DS :
1. Pasien mengatakan merasa
lemah dan tidak bertenaga
2. Pasien mengatakan mudah
Lelah
DO:
1. Tampak semua aktivitas
pasien dibantu penuh oleh
perawat dan keluarga
2. Pasien tampak lesu
3. Tampak pasien lebih
banyak beristrah
IV
S:
- Pasien mengatakan merasa
lemah dan merasa tidak
bertenaga dan mudah lelah
O:
- Tampak kedua tangan pasien
edema derajat IV
- Tampak pasien lesuh dan gelisah
- Tampak semua aktivitas seperti
makan dan diminum
masih dibantu penuh oleh
keluarga dan perawat
A:
- Masalah keletihan belum teratasi
P:
- Lanjutkan intervensi manajemen
energy
28-04-2023
I
S:
- Pasien mengatakan merasa sesak
- Pasien mengatakan bengkak
pada kedua tangan
O:
- Tampak edema derajat III
- Output urine: 400 cc/8jam
- Balance cairan: +175 cc /8 jam
A:
- Hiperpolemia teratasi sebagian
P:
- Lanjutkan intervensi manajemen
hipervolemia,
manajemen hemodialisis,
pemantauan TTV
II
S:
- Pasien mengatakan merasa sesak
O:
- Frekuensi pernafasan : 24x/m
- SPO2 : 96%
- Tampak pasien terpasang simple
mask 8 liter
A:
- Pola nafas tidak efektif belum
teratasi
P:
- Lanjutkan interfensi manajemen
jalan nafas
III
S:
- pasien mengatakan mual tetapi
tidak muntah
- pasien mengatakan merasa tidak
nyaman dimulut.
O:
- pasien tampak mual
- pasien tampak lemah
A:
- Masalah nausea belum teratasi
P:
- Lanjutkan intervensi manajemen
mual
IV
S:
- Pasien mengatakan merasa
lemah dan merasa tidak
bertenaga dan mudah lelah
O:
- Tampak kedua tangan pasien
edema derajat III
- Tampak pasien lesuh dan gelisah
A:
- Masalah keletihan belum teratasi
P:
- Lanjutkan intervensi manajemen
energi
29-04-2023
I
S
- Pasien mengatakan merasa sesak
- pasien mengatakan bengkak
pada kedua tangan
O:
- Tampak edema derajat III
Output urine: 210
- Balance cairan: +365 cc /8 jam
A : Hiperpolemia teratasi
sebagian
P : Lanjutkan intervensi
manajemen hipervolemia,
manajemen hemodialisis,
pemantauan TTV
II
S:
- Pasien mengatakan merasa
nyaman
- Pasien mengatakan sesak sudahh
berkurang
O:
- Pasien tampak nyaman dengan
posis semi fowler
- Frekuensi pernapasan 22x/m
- Terpasang alat bantu napas
simple mask 8liter
- spO2 97%
A:
- Masalah pola napas tidak efektif
teratasi Sebagian
P:
- Lanjutkan intervensi manajemen
jalan napas
III
S:
- pasien mengatakan sudah tidak
merasakan mual
muntah
O:
- pasien tampak tidak pernah mual
maupun muntah
A:
- Masalah nausea teratasi
P:
- Intervensi dihentikan
IV
S:
Pasien mengatakan merasa lemah
dan merasa tidak
bertenaga dan mudah lelah
O:
Tampak kedua tangan pasien
edema derajat III
Tampak pasien lesuh dan gelisah
A:
Masalah keletihan belum teratasi
P:
Lanjutkan intervensi manajemen
energi
Ilustrasi Pengkajian
Kasus Pengkajian Primer Pengkajian Analisa Data
sekunder
Pasien datang ke 7. B1 (Breath) 6. Keluhan Utama Data/ Faktor Resiko
IGD tanggal 17 Juli Bentuk dada pasien Keluhan utama DS :
2020 pukul 22.09, normochest, tidak terkaji Tidak terkaji karena
pasien rujukan dari pergerakan dada pasien dengan pasien mengalami
Rumah Sakit Royal
Surabaya. simetris, tidak ada otot kesadaran
Berdasarkan bantu nafas, tidak somnolen GCS penurunan kesadaran
anamnesa yang terpasang alat bantu 4-X-3 GCS 4X3
diperoleh dari pernafasan, RR : 12 x/ 7. Riwayat DO :
keluarga pasien
menit, irama nafas Penyakit Pasien mempunyai
didapatkan bahwa
pasien jatuh
regular, suara nafas Sekarang riwayat Hipertensi
terbentur dinding, vesikuler, tidak ada Pasien datang ke - TD : 189/96
dan pasien tiba-tiba tarikan dinding dada, IGD tanggal 17 mmHg
tidak bisa berdiri, tidak ada ronkhi (-/- ), Juli 2020 pukul MAP : 126,3 mmHg
badan lemes sejak 1 wheezing (-/-), tidak 22.09, pasien RR : 12x/ menit
hari lalu, dan ada batuk, tidak ada rujukan dari Suhu : 36,0 oC
disertai dengan sputum, terdengar Rumah Sakit Kesadaran : somnolen
mual dan muntah suara sonor saat Royal Surabaya. GCS 4X3
sebanyak 3x. Di diperkusi, vocal Berdasarkan Refleks : refleks
IGD di dapatkan fremitus tidak dapt anamnesa yang cahaya +/+, reflek
kesadaran pasien
terkaji karena pasien diperoleh dari patologis : reflek
somnolen dengan
GCS pasien
terbaring. Terpasang keluarga pasien babinski -/-, reflek
E3V2M4 dan oksigen masker non didapatkan chaddock
terdiagnosa CVA rebreathing 6 Lpm, bahwa pasien -/-, reflek Gordon -/-,
Bleeding + IVH. SpO2 100%. jatuh terbentur reflek fisiologis :
Lalu tindakan yang Masalah Keperawatan : dinding, dan patella +/+.
diberikan selama di Tidak ada Masalah pasien tiba-tiba Pemeriksaan
IGD antara lain Keperawatan tidak bisa berdiri,
oksigen masker non badan lemes motoric
rebreathing 10 lpm, 8. B2 (Blood) sejak 1 hari lalu, didapatkan
pemberian infus NS Pada pemeriksaan sirkulasi dan disertai
dan monitol 250 cc,
didapatkan hasil dengan mual dan adanya hemiplegia.
cek laboratorium :
DL, GDA, KK, SE,
sebagai berikut : muntah sebanyak Pasien muntah
pemasangan NGT, Bunyi jantung S1 S2 3x. Di IGD di Pasien tanpak lemah
Pemasangan foley tunggal, gallop tidak dapatkan Psein memiliki riwayat
kateter no. 16, ada, murmur tidak kesadaran pasien penyakit stroke
injeksi ranitidine, ada, CRT < 2 detik, somnolen dengan Etiologi
primperan, ictus cordis tidak GCS pasien Gangguan aliran darah
dilakukan CT Scan terlihat saat inspeksi E3V2M4 dan ke otak
kepala. Pemeriksaan tapi teraba saat terdiagnosa CVA Masalah
tanda-tanda vital palpasi, tidak ada Bleeding + IVH. ResikoPerfusi
saat di IGD nyeri dada, tidak Lalu tindakan Serebral Tidak
didapatkan tekanan
terdapat pembesaran yang diberikan Efektif
selama di IGD (SDKI 2016,
darah 140/80
mmHg, nadi 79
jantung, tidak ada
D.0017 hal 51)
x/menit ,suhu 35,5 sianosis, tidak antara lain Data/Faktor Resiko
C, RR 17x/ menit. ditemukan oedema oksigen masker DS :
Pukul 02.00 ekstermitas, akral non rebreathing Tidak terkaji karena
keluarga dingin, tidak ada 10 lpm, pasien mengalami
memberikan pembesaran vena pemberian infus penurunan kesadaran
persetujuhan jungularis, tekanan NS dan monitol GCS 4X3
dilakukan operasi, darah : 187/96 mmHg, 250 cc, cek Faktor Resiko :
kemudian pasien di
bawa ke OK untuk Nadi 75 x/menit. Pada laboratorium : 1.Aneurisma serebri
melakukan operasi pemeriksaan perkusi DL, GDA, KK, 2.Hipertensi
craniotomy. pasien jantung didapatkan SE, pemasangan TD : 189/96 mmHg
didapatkan cairan batas jantung yang NGT, MAP : 126,3 mmHg
LCS kemerahan,
normal yaitu batas Pemasangan RR : 12x/ menit
tekanan 35 cmH2O, Suhu : 36,0oC
kanan atas di foley kateter no.
dilanjutkan evakuasi Gangguan aliran darah
dan eksplorasi intercostal 2 linea para 16, injeksi ke otakPK
hematom sternalis dextra, batas ranitidine, Peningkatan Tekanan
intraventikular. kanan bawah di primperan, intrakranial
Perdarahan intercostal ke-4 linea dilakukan CT (Wilkinson, 2016, hal
sebanyak 50 cc. para sternalis dextra, Scan kepala. 504)Kesadaran :
pada tanggal 18 Juli batas kiri atas di Pemeriksaan somnolen Refleks :
2016 pukul 08.00 septum intercostal ke- tanda-tanda vital refleks cahaya +/+,
pasien di pindahkan 2 linea para sternalis saat di IGD reflek patologis: reflek
ke ICU IGD. sinistra, batas kiri didapatkan babinski -/-, reflek
Dilakukan observasi chaddock
bawah di intercostal tekanan darah
tanda-tanda vital -/-, reflek Gordon -/-,
tekanan darah
ke-4 linea media 140/80 mmHg,
clavicularis sinistra. nadi 79 reflek fisiologis :
187/90 mmHg, nadi patella +/+.
75 x/menit , suhu 36 Masalah Keperawatan : x/menit ,suhu
Pemeriksaan motoric
C , RR 12 x/ menit Tidak ada Masalah 35,5 C, RR 17x/ Didapatkan adanya
dan diberikan terapi Keperawatan menit. Pukul hemiplegia
ceftriaxone 2x2 gr, 02.00 keluarga 3.Riwayat penyakit
novaldo 3x1 amp, 9. B3 (Brain) memberikan stroke
dan omz 2x1 amp. Saat persetujuhan
pengakajian kesadaran dilakukan Etiologi
pasien somnolen operasi, Gangguan aliran darah
dengan GCS E4V1M3. kemudian pasien ke otak
Pada kondisi pasien di bawa ke OK
pemeriksaan status untuk melakukan Masalah
neurologis nervus operasi PK Peningkatan
kranialis tidak semua craniotomy. Tekanan intrakranial
(Wilkinson, 2016, hal
nervus karena kondisi pasien
504)
pasien yang membuat didapatkan
pemeriksa tidak dapat cairan LCS Data/Faktor Resiko
mengkaji dan dapat kemerahan, DS :
terkaji hanya beberapa tekanan 35 Tidak terkaji karena
nervus saja yang dapat cmH2O, pasien mengalami
terkaji, yaitu : dilanjutkan penurunan
d)N IX (Glosofaringeal) evakuasi dan kesadaran GCS 4X3
dan XII (Hipoglosus) : eksplorasi DO :
terjadi kelemahan hematom - Kekuatan otot pasien
dalam kemampuan intraventikular. menurun
menelan, pasien tidak Perdarahan - ROM menurun 3333
dapat berbicara, pasien sebanyak 50 cc. 2222
3333 2222
muntah. pada tanggal 18
- Gerakan pasien
e) N VIII Juli 2016 pukul terbatas
(Vestibulokoklearis),VII 08.00 pasien di - Tangan pasien
(Fasialis), dan Vpindahkan ke terikat
(Trigesminus): tidakICU IGD. - Fisik pasien
ada masalah, karena Dilakukan tampak lemah
pasien dapatobservasi tanda-
Etiologi
mengangkat kedua tanda vital
Gangguan
alisnya, pendengaran tekanan darah Neuromuskula
pasien normal, dan 187/90 mmHg,
pasien dapat merasakan nadi 75 x/menit , Masalah
sentuhan. suhu 36 C , RR Gangguan Mobilitas
f) Sedangkan N I
12 x/ menit dan Fisik (SDKI 2016,
(Olfaktorius), II
diberikan terapi D.0054 hal 124)
(Optikus), III
ceftriaxone 2x2
(Okulomotoris, gr, novaldo 3x1 Data/Faktor Resiko
troklearis, abdusen), amp, dan omz DS : Tidak terkaji
IV (Okulomotoris, 2x1 amp. karena pasien
troklearis, abdusen),8. Riwayat penyakit mengalami penurunan
VI (Okulomotoris, Dahulu kesadaran GCS 4X3
DO :
troklearis, abdusen), X
Keluarga
- Pasien
(Vagus), dan XImengatakan Tn. mengalami
(Aksesoris) tidakS mempunyai penurunan kesadaran
dapat terkaji. Pupil riwayat stroke, - Pasien
isokor 3 mm/3 mm, hipertensi, dan mengalami
refleks cahaya +/+, diabetes mellitus penurunan dan rentang
reflek patologis : sejak 3 tahun lalu gerak
reflek babinski -/-, akan tetapi - Segala akvitas
reflek chaddock -/-, pasien jarang pasien dibantu total
reflek Gordon -/-, minum obat. oleh perawat dan
reflek fisiologis : 9. Riwayat Alergi keluarga.
patella +/+.
Pasien tidak ada
Pemeriksaan motoric riwayat alergi Etiologi
Gangguan
didapatkan adanya terhadap obat
neuromuskular
hemiplegia. terbukti saat
Masalah Keperawatan menjalani skin Masalah
: Resiko Perfusitest ceftriaxone Defisit Perawatan Diri
Serebral Tidak tidak ada (SDKI 2016, D.0109
efektif , Penurunan kemerahan atau hal 240)
Kapasitas Adaptif ruam pada kulit
Intrakranial, Risikodaerah skin test. Data/Faktor Resiko
Aspirasi Keluarga DS :
mengatakan Tn. Tidak terkaji karena
10. B4 (Bladder) S tidak memiliki pasien mengalami
Pada pemeriksaan alergi makanan. penurunan kesadaran
perkemihan 10. Keadaan GCS 4X3
didapatkan inspeksi Umum
Faktor Resiko :
pasien terpasang Pada pasien 1. Pasien
folley kateter sejak didapatkan mengalami
tanggal 17 Juli 2020 Keadaan umum penurunan mobilitas
di ruang IGD RSPAL pasien lemah 2. Pasien sedang
Dr. Ramelan GCS 4-X-3 dalam bed rest total
Surabaya. Produksi dengan dan hanya berbaring
saja beresiko
urine 2000 ml dalam 6 kesadaran
mengalami penekanan
jam, tidak ada retensi somnolen, pada daerah belakang
ataupun inkontinensia dimana mata atau punggung pasien
urine, warna urin pasien terbuka 3. Tangan pasien
kuning jernih, aliran secara spontan terikat beresiko
lancar. Saat palpasi saat dipanggil, mengalami gesekan
tidak teraba adanya tetapi itu hanya
distensi kandung dan berlangsung Etiologi
tidak ada nyeri tekan. beberapa detik -
Masalah Keperawatan saja, lalu mata
: Tidak Ada Masalah pasien kembali Masalah
Keperawatan menutup. Vital Risiko Gangguan
11. B5 (Bowel) Sign : TD : Integritas Kulit/
jaringan (SDKI 2016,
Pada saat inspeksi 187/96 mmHg,
D.0139 hal 300)
didapatkan mukosa Nadi 75 x/menit,
bibir kering, mulut RR 12 x/menit ,
kotor, nafas bau, Suhu 36^0 C
badan lembab dan bau
tidak sedap, tidak ada
perdarahan pada
mulut dan gusi.
Bentuk abdomen
pasien datar dan tidak
ada pembesaran
abdomen/ asites.
Pasien terpasang
NGT, pasien
mendapatkan diet
nutrisi MLP 6x 100
cc. Saat auskultasi
didapatkan bising usus
12x/menit dan saat
diperkusi terdengar
suara timpani. Saat
palpasi tidak ada nyeri
tekan, tidak ada
hematomegali, atau
spleenomegali.
Masalah Keperawatan
: Defisit Perawatan
Diri.
12. B6 (Bone)
Pada pemeriksaan
muskuluskeletal
didapatkan kekuatan
otot ekstermitas atas
3333/ 2222, dan
ekstermitas bawah
3333/ 2222. Karena
pasien mengalami
hemiplegia atau
kelemahan. Pada
pemeriksaan kulit
tidak terdapat luka
combustion, dan juga
luka decubitus. Pada
saat inspeksi tidak
terlihat adanya
benjolan dan lesi pada
area kulit, pasien
bedrest total. Saat
dilakukan palpasi
didapatkan turgor kulit
elastis, tidak ada
edema. Pasien
terbaring di tempat
tidur, kedua tangan
diikat di tempat tidur.
Masalah Keperawatan
: Gangguan Mobilitas
Fisik, Resiko
Gangguan Integritas
Kulit/ Jaringan
Tgl: 20-7-2020
Operan dengan sift
Pagi
-Memonitoring Tanda
– Tanda Vital
Tekanan Darah :
145/70 mmHg, Nadi :
72x/menit, RR :
18x/Menit Suhu : 36,5
OC
-Memonitoring status
pernafasan dan
tanda-tanda PTIK
-Memonitoring
kesadaran pasien cairan
serebrospinal
-Monitoring MAP
-Memberikan pasien
posisi head up bed 15o
-Mengubah posisi
pasien miring kiri dan
menilai ROM pasien
3333 2222
3333 2222
-Mengukur intake dan
output pasien
-Mengukur kesadaran
pasien GCS 4X3
-Mengukur tanda-tanda
vital pasien
Tekanan Darah :
130/80 mmHg, Nadi :
82x/menit, RR :
25x/Menit Suhu : 36
OC
-Memberikan makanan
pasien enteral MLP
1x100
-Timbang terima
dengan dinas malam
Catatan
Perkembangan:
-Memonitoring Tanda
– Tanda Vital
Tekanan Darah :
145/70 mmHg, Nadi :
72x/menit, RR :
18x/Menit Suhu : 36,5
OC
-Memonitoring status
pernafasan dan
tanda-tanda PTIK
Ͷanda Ͷanda
20-7-2020
20.30 Diagnosa
Keperawatan 1
S:-
O:
-kesadaran pasien
somnolen
-GCS 4X3
-SpO2 98 %
-Frekuensi Nafas
15x/menit
-Nadi 72x/menit
-Suhu : 36 OC
-Pola nafas reguler
-Refleks neurologis
baik
A : Masalah teratasi
sebagian
P : Intervensi
dilanjutkan :
-Monitor MAP
-Monitor gelombang
ICP
-Monitor status
pernapasan
-Monitor intake dan
output cairan
-Monitor cairan serebro
spinalis
-Berikan posisi head up
bed 30o
-Hindari valsava
manuver
-Cegah terjadinya
kejang
-Hindari penggunaan
PEEP
-Hindari pemberian
cairan IV hipotonik
-Pertahankan suhu
tubuh normal
-Kolaborasi
pemberian anti
konvulsan
-Kolaborasi pemberian
diuretik osmosis
Tgl: 21-7-2020
Operan Dengan Sift
Malam
Tindakan:
-Memonitoring Tanda
– Tanda Vital
Tekanan Darah :
140/80 mmHg, Nadi :
88x/menit, RR :
18x/Menit Suhu : 36,4
C
-Memonitoring status
pernafasan dan
tanda-tanda PTIK
-Memonitoring
kesadaran pasien cairan
serebrospinal
-Monitoring MAP
-Memberikan pasien
posisi head up bed 15o
-Mengubah posisi
pasien miring kanan
dan menilai ROM
pasien
3333 2222
3333 2222
-Mengukur intake dan
output pasien
-Mengukur kesadaran
pasien GCS 4X3
-Mengukur tanda-tanda
vital pasien
Tekanan Darah :
140/80 mmHg, Nadi :
88x/menit, RR :
18x/Menit Suhu : 36,4
C
Catatan
perkembangan:
S:-
O:
-Kesadaran pasien
strupor
-GCS 3X3
-SpO2 98 %
-Frekuensi Nafas
18x/menit
-Nadi 82x/menit
-Suhu : 36 OC
-Pola nafas reguler
-Refleks neurologis
baik A : Masalah
belum teratasi
P : Intervensi
dilanjutkan :
-Monitor MAP
-Monitor gelombang
ICP
-Monitor status
pernapasan
-Monitor intake dan
output cairan
-Monitor cairan serebro
spinalis
-Hindari valsava
manuver
-Cegah terjadinya
kejang
-Hindari penggunaan
PEEP
-Hindari pemberian
cairan IV hipotonik
-Pertahankan suhu
tubuh normal
-Kolaborasi
pemberian anti
konvulsan
-Kolaborasi pemberian
diuretik osmosis
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
Evalua 1. Pasien mendapatkan Makanan Bergizi
si diet nutrisi MLP (6 kali Seimbang https://repository.stikeshangtuah-
keperawa sehari dengan porsi 100 sby.ac.id/id/eprint/
tan cc per kali makan Konsumsi sayur, 765/1/1930058_NANDA
2. Pasien diberikan buah, dan %20DEVI_KIA%20CVA
setelah
nutrisi melalui NGT ikansebagai sumber %20Bleeding.pdf
dilakukan (Na sekarang
asuhan 3. Asupan nutrisi juga Hindari makanan
keperawa diberikan secara tinggi garam, gula,
tan parenteral melalui infus dan lemak , karena
selama 4. Tujuan diet ini adalah d
3x24 jam mempertahankan energi .
perfusi dan nutrisi yang adekua Pola Makan Pasien
serebral dengan Gangguan
pasien Menelan
meningka
Pasien stroke
t dengan
sering mengalami
tingkat gangguan menelan
kesadaran ( disfagia ),bantuan
meningka alat seperti NGT
t GCS (nasogastric
4X3, nilai tube)tidak
MAP .
membaik Pemberian
100 makanan dilakukan
mmHg, dalam porsi kecil
tekanan tetapi sering (
Jenis Nutrisi yang
darah
Disarankan
sistolik
membaik Diet MLP
140 (Makanan Lunak
mmHg, Peroral) :
tekanan Pemberian Nutrisi
darah Parenteral : Jinfus
diastolik atau NGT .
membaik Hidrasi yang
80 Cukup
mmHg.
Pastikan pasien
Masalah
mendapat asupan
teratasi cairan yang cukup
sebagian
pada
tanggal
21 Juli
2020,
pasien
menunjuk
kan
perubaha
n GCS
menjadi
4X3.
Intervensi
yang
akan
tetap
dilanjutka
n (a)
identifika
si
penyebab
peningkat
an TIK
untuk
mengetah
ui
penyebab
utama
dan
mengatas
i masalah
utama
tersebut
(b)
monitor
tanda
gejala
PTIK
untuk
mengetah
ui
prognosis
penyakit
(c)
monitor
MAP
untuk
mengetah
ui
bagaiman
kondisi
jantung
dalam
memomp
a darah
ke
seleruh
tubuh
termasuk
otak (d)
monitor
gemlomb
ang ICP
untuk
mengetah
ui
aktivitas
tekanan
pada otak
(e)
monitor
status
pernafasa
n untuk
mengobs
ervasi
tanda-
tanda
trias
cushing
pada
PTIK
yakni
bradipnea
(f)
monitor
intake
dan
output
cairan
pasien
untuk
menguku
r balance
cairan
pasien (g)
monitor
CPP
untuk
mengetah
ui
tercapai
atau
tidaknya
perfusi
otak
begitu
juga
oksigenas
i ke otak
(h)
monitor
cairan
serebro
spinalis
untuk
mrngetah
ui cairan
yang ada
dalam
otak (i)
berikan
posisi
head up
bed 30o
untuk
menguran
gi
tekanan
dan nyeri
kepala (j)
mencega
h
terjadinya
kejang
untuk
megetahu
i tanda
aliran
darah
yang baik
atau
buruj ke
otak (k)
memperta
hankan
suhu
normal
rasionaln
ya suhu
tubuh
tinggi
dapat
memicu
demam
(l)
kolaboras
i
pemberia
n diuretik
osmosis
untuk
menguran
gi edema
otak
karena
cairan
atau
darah (m)
kolaboras
i pelunak
tinja bila
perlu
untuk
menghind
ari pasien
mengejan
.
Evaluasi:
TD stabil, akral
hangat, CRT <3 detik.
Luka menunjukkan
penyembuhan (tidak
ada pus, bau
berkurang).
GDS terkendali.
Nyeri berkurang.
Pasien lebih nyaman dan
mendekati kemandirian dalam
perawatan diri.
-Pemeriksaan
Laboratorium:
Hemoglobin:
13,7 g/dl
(normal)
Leukosit: 12
(sedikit tinggi)
Hematokrit:
40%
Cholesterol:
259 mg/dl
(tinggi)
Trigliserid:
228 mg/dl
(tinggi)
Natrium: 131
mmol/L
(rendah)
Kalium: 3,8
mmol/L
(normal)
CKMB: 85 U/I
(tinggi,
menunjukkan
kerusakan
miokard)
-Respon
Terhadap
Aktivitas:
Saturasi O₂
turun hingga
89% saat
disuapi.
Pasien makan
hanya
beberapa
sendok dan
muntah.
Analisis
Masalah
Keperawatan
1. Gangguan
Pertukaran Gas
b.d Iskemi
jaringan
sekunder
terhadap
sumbatan
arteri
Gejala: Sesak
napas,
sianosis,
saturasi
oksigen
rendah.
Intervensi:
Terapi oksigen
binasal 3
liter/menit,
pantau saturasi
oksigen, posisi
semifowler.
2. Intoleransi
Aktivitas b.d
gangguan
transport
oksigen
sekunder
akibat infark
miokard
Gejala: Lemas,
nadi lemah,
saturasi
menurun saat
aktivitas.
Intervensi:
Pantau respon
klien terhadap
aktivitas, bantu
aktivitas
ringan, beri
istirahat yang
cukup.
3. Risiko
Perubahan
Nutrisi Kurang
dari
Kebutuhan
Tubuh b.d
anoreksia
Gejala: Tidak
nafsu makan,
muntah,
mukosa bibir
kering.
Intervensi:
Berikan
makanan
hangat dan
lembut, makan
dalam porsi
kecil tetapi
sering, bantu
aktivitas
makan, dan
libatkan
keluarga.
Kolaborasi:
1. Kolaborasi dengan
dokter untuk
pemberian terapi
obat seperti
Dobutamin untuk
meningkatkan
curah jantung
2. Kolaborasi dengan
tim gizi untuk
memastikan asupan
nutrisi yang
mendukung
pemulihan
Implementasi
Keperawatan
1. Memberikan
oksigen binasal 3
liter/menit
2. Memposisikan
pasien dalam posisi
semifowler
3. Memantau saturasi
oksigen, nadi, dan
tekanan darah
secara berkala
4. Mengkaji adanya
sianosis dan
perubahan warna
kulit
5. Memberikan
lingkungan yang
tenang dan nyaman
untuk mengurangi
kecemasan pasien
Evaluasi (SOAP)
S (Subjektif): Klien
mengatakan sesak
napas masih terasa
O (Objektif): RR:
26x/menit, SpO2:
95%, Tampak sianosis
ringan
A (Assessment):
Masalah belum teratasi
P (Planning):
Lanjutkan intervensi
dan kolaborasi dengan
tim medis
Saturasi oksigen
meningkat > 95%
Pernapasan lebih
teratur dan frekuensi
dalam batas normal
sebelum
kejadian.
2. Pemeriksaan Fisik
� Sistem Pernafasan:
RR 24x/menit,
penggunaan otot
bantu napas (+),
terdengar
ronchi.
� Sistem
Kardiovaskular:
TD 90/60
mmHg, Nadi
105x/menit, CRT
>3 detik, akral
dingin.
� Sistem Pencernaan:
Perut datar,
bising usus
8x/menit.
� Sistem Saraf:
Kesadaran
somnolen,
refleks cahaya
normal, tidak
ada defisit
neurologis.
� Sistem Ekskresi:
BAK 5-7x/hari,
pasien
mengeluh nyeri
saat BAK →
kemungkinan
infeksi saluran
kemih.
� Sistem Integumen:
otak.
GCS: 4-5-6
(E4V5M6) →
pasien masih
bisa
memberikan
respons tetapi
lambat.
Pupillari
reflex:
Normal.
E - Exposure
(Paparan &
Pemeriksaan
Lengkap)
Suhu tubuh:
37°C
(berpotensi
meningkat →
risiko
hipertermi
akibat
infeksi).
Lesi kulit:
Tidak
ditemukan
tanda infeksi
lokal atau
luka terbuka.
Turgor kulit:
Baik, hidrasi
cukup.
3) Dada
a) Inspeksi:
bentuk dada
simetris,
tidak ada
lesi.
b) Palpasi:
tidak
terdapat
nyeri tekan,
massa dan
peradangan,
ekspansi
dada
simetris.
c) Perkusi:
paru-paru
kanan
resonan pada
interkosta 1-
5 dan
interkosta 1-
d) Auskultasi:
suara paru-
paru
vesikuler.
Jantung: S1
dan S2
murni
tunggal,
tidak ada
suara
jantung
tambahan
(S3 dan S4
murmur).
4) Abdomen
a) Inspeksi:
terdapat luka
operasi
tertutup
kasa, tidak
rembes,
terdapat
drain di
kuadran
kanan bawah
perut klien
dan dibalut
kassa.
b) Palpasi:
terdapat
nyeri tekan
di kuadran
atas tengah
abdomen
(bekas
operasi
laparatomi
bagian atas).
c) Perkusi:
suara
timpani pada
semua
kuadran
abdomen.
d) Auskultasi:
peristaltic
usus
13x/menit.
5) Ekstremitas:
a) Atas:
Terpasang
infus CVP
RL 30pm.
Jari-jari
tangan klien
lengkap,
tidak ada
cacat dan
luka.
b) Bawah:
Tidak ada
edema, jari
kaki
lengkap,
tidak ada
cacat dan
luka.
6) Genetalia:
Terpasang DC
sejak 18 Oktober
2021.
7) Anus: -
Melakukan
kolaborasi
pemberian obat
analgesik.
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
S: - 1. Tinggi 1. Tahapan Diet Pasca
O: protein: Operasi urnal: Nutritional
- Klien Meningkatkan Fase Akut (Hari 1- Support in Critically
tampak terbaring di penyembuhan 2) Ill Surgical Patients
tempat tidur. luka dan - Pasien dalam (Clinical Nutrition,
- Terdapat pemulihan kondisi tidak 2022).
luka jahitan pos jaringan sadar dan Bukti:
laparatomi di (sumber: ikan, menggunakan Nutrisi
abdomen klien ayam, telur, ventilator, parenteral total
dengan panjang susu, tahu, sehingga tidak (NPT) diberikan
luka 20 cm lebar 2 tempe). bisa pada pasien yang
cm. 2. Tinggi kalori: mengonsumsi tidak bisa makan
- Klien Menjaga makanan secara oral untuk
dilakukan ganti energi tubuh oral. memenuhi
perban. selama - Nutrisi kebutuhan energi
- Luka klien pemulihan diberikan dan mencegah
tampak mulai (sumber: nasi, melalui nutrisi malnutrisi.
kering. kentang, roti, parenteral total Jika fungsi
- Klien buah-buahan). (NPT) seperti gastrointestinal
diberikan 3. Cukup cairan: Kabiven 1200 membaik,
metronidazole Mencegah cc IV yang transisi ke nutrisi
3x500 mg. dehidrasi dan mengandung enteral melalui
- Klien memperlancar protein, lemak, NGT lebih
diberikan peredaran dan karbohidrat dianjurkan
Meropenem 3x1 gr. darah. untuk dibandingkan
TD: 110/84 mmHg 4. Rendah serat memenuhi NPT karena
RR: 20x/menit sementara kebutuhan mempertahankan
N: 101x/menit waktu: energi. integritas usus.
S: 36°C Mengurangi - Pemberian Diet pasca
A: Masalah teratasi kerja usus cairan intravena operasi harus
sebagian hingga seperti RL 500 bertahap,
P: kondisi benar- cc IV untuk dimulai dari diet
lanjutkan intervensi benar pulih. menjaga cair jernih, cair
Hindari makanan keseimbangan penuh, diet
berlemak dan cairan dan lunak, hingga
pedas: elektrolit diet tinggi
Mengurangi Fase Pemulihan protein dan
risiko gangguan Awal (Hari 3-5) tinggi kalori
pencernaan dan - Jika kondisi untuk
peradangan. pasien penyembuhan
membaik dan luka.
fungsi Implementasi
gastrointestinal dalam kasus:
mulai pulih, Hari 1-2:
dapat Nutrisi
diberikan parenteral
nutrisi enteral total
melalui NGT (Kabiven
(Nasogastric 1200 cc IV).
Tube). Hari 3-5:
- Diet cair jernih Diet cair
seperti air melalui
putih, kaldu NGT.
bening, teh, Hari 6 ke
dan jus yang atas: Diet
disaring untuk lunak,
menghindari kemudian
iritasi saluran diet normal
cerna. tinggi
- Peningkatan protein dan
bertahap ke kalori.
diet cair
penuh,
termasuk susu
rendah lemak,
sup krim, dan
bubur saring.
Fase Pemulihan
Lanjut (Hari 6 ke
atas)
- Jika
peristaltik
usus sudah
kembali
normal
(ditandai
dengan
adanya flatus
dan BAB),
pasien dapat
diberikan diet
lunak, seperti
bubur, nasi
tim, sayuran
rebus, dan
protein dari
ikan atau
ayam yang
dihaluskan.
Selanjutnya, pasien dapat
beralih ke diet biasa tinggi
protein dan tinggi kalori
untuk mempercepat
penyembuhan luka dan
mencegah malnutrisi
Ilustrasi Pengkajian
Kasus Pengkajian Pengkajian sekunder Analisa Data
Primer
Tn. R, seorang pria 1. Airway 1. Pemeriksaan Fisik Ds : pasien mengatakan
berusia 71 tahun, Tidak terdapat Keadaan sesak nafas
datang ke IGD lendir atau Umum :Lemah Do: TD :100/75 mmHg
RSUD dr. H.M. sputum pada Kesadaran : Nadi: 83X/menit
Rabain Muara Enim jalan napas Composmentis RR: 27 x/ menit
dengan keluhan pasien, tidak GCS 15 = E 4 M 6 V5 S : 37°C
utama sesak napas ada bunyi napas Tanda-tanda vital: SpO2: 99%
yang memburuk tambahan. Td :100/75 mmHg -Terpasang 02 3
dalam dua jam Dx: - Nadi: 83X/ menit liter/menit
terakhir. Ia RR: 27 x/ menit -Ada otot bantu
memiliki riwayat 2. Breathing S : 37°C pernapasan
kardiomiopati Menggunakan SpO2:99% -Pola nafas tidak efektif
dilatasi dan baru otot tambahan, Kepala : Mesosephal, -Kedalaman pola napas
saja dirawat RR 27 x/menit, rambut hitam, tidak Dangkal
seminggu napas tidak ada rontok dan bersih\ -Ada
sebelumnya. Saat cuping hidung, Mata : cekung, bunyi tambahan ronkhi
tiba di IGD, tanda terpasang O2 konjungtiva tidak
vitalnya adalah: nasal kanule 3 anemis, sclera tidak Ds : Pasien mengatakan
Tekanan liter/menit, ikterik sesak nafas
darah (TD): pernapasan Hidung : Bersih, tidak Do: -Pasien mampu duduk
90/50 dispneu, ada discharge, tak ada TD :100/75 mmHg
mmHg kedalaman nafas cuping hidung. Nadi: 83X/ menit
Nadi (HR): napas dangkal, Mulut : Bersih RR: 27 x/ menit
60 x/menit tidak terpasang mukosa bibir kering, S : 37°C
Frekuensi ventilator. tidak ada sianosis. SpO2: 99%
napas (RR): Dx: Telinga : Simetris,
28 x/menit ketidakefektifan bersih, tidak ada Ds:-Pasien mengatakan
Suhu tubuh pola napas serumen. sesak
(S): 36,1°C Dada : Simetris, ada Nafas
SpO2: 99% 3. Circulation retraksi otot dada, -Pasien mengatakan lemah
dengan Tidak ada pengembangan dada Do :-Pasien tampak
oksigen sianosis, akral simetris. keletihan/lemah
nasal 3 kulit hangat, CRT Jantung : -Pasien tampak tirah
liter/menit 3 detik. TD: I : Ictus baring ditempat tidur
100/75 mmHg, kordis tak -Terpasang 02 3
Karena kondisinya N: 72 x/menit, tampak liter/menit
memburuk, pasien RR: 27 x/menit, Pa : ictus TD :100/75 mmHg
dipindahkan ke S: 37 °C., tidak kordis teraba Nadi: 83X/menit
Ruang ICU pada 02 terdapat di SIC IV& V RR: 27 x/ menit
Maret 2018 perdarahan. mid klavikula S : 37°C
dengan diagnosis Dx: - Pe : Pekak, tak SpO2:99%
Congestive Heart ada
Failure (CHF) e.c. 4. Disability pembesaran
Dilated Tingkat jantung
Cardiomyopathy kesadaran A : Bunyi
(DCM) dan Composmentis, jantung murni
Hipertensi GCS 15 E4 M6 BJ I-II
Hipertrofik (HHD), V5, Pupil isokor,
serta mengalami diameter pupil 2 Paru:
syok kardiogenik mm kanan dan I : Ada otot
kiri, ekstremitas bantu
bawah lemah, pernpasan
nilai kekuatan Pa : Vocal
otot premitus
kanan dan kiri
sama
Pe : Sonor di
Dx: - seluruh lapang
paru
5. Eksposure A : Ronkhi.
Tidak ada cedera
leher, tidak ada Abdomen:
jejas, tidak I : Perut
ada fraktur tampak datar,
Dx:- simetris
Au : Bising
usus 11
x/menit
Pa : tidak ada
distensi, tak
ada
pembesaran
hati dan limfa.
Pe : timpani
Genetalia : Tidak
terpasang kateter
(riwayat BPH)
Ektremitas : Normal,
tidak sianosis, kapilery
refill time < 3 detik,
tidak ada oedem,
ekstremitas bawah
mengalami kelemahan
Kulit : kulit
tampak sedikit kering,
sawo matang dan,
turgor kulit baik.
Sumber:
Judul artikel:
PENERAPAN POSISI
SEMI FOWLER
TERHADAP
KETIDAKEFEKTIFAN
POLA NAFAS
PADA PASIEN
CONGESTIVE
HEART FAILURE (CH
F)
https://
www.jurnal.spp.ac.
id/index.php/nsj/
article/view/16/5
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
Dx 2 Tujuan: Rekomendasi Diet: Bukti Ilmiah
S : Klien Diet Rendah Batasi konsumsi natrium
mengatakan Natrium ≤2 gram/hari Studi oleh Ahmad
sesak nafas 1. Mengurangi Hindari makanan tinggi Muzaki & Yuli Ani
berkurang retensi cairan natrium seperti (2020) menunjukkan
O: Klien dan edema makanan olahan, bahwa konsumsi
tampak rileks, 2. Menurunkan makanan cepat saji, dan natrium yang tinggi
RR 21 x/menit. tekanan darah makanan kalengan meningkatkan risiko
TD 172/73 dan beban kerja Gunakan bumbu alami edema dan
mmHg.. jantung seperti bawang putih, hipertensi pada
HR 82 x/menit 3. Mencegah jahe, dan lada pasien CHF.
SpO2 99% dekompensasi sebagai pengganti garam Pembatasan natrium
O2 3 lpm. jantung akibat ≤2 gram per hari
A: Masalah kelebihan terbukti efektif
teratasi natrium dalam mengurangi
sebagian 4. Mengurangi beban kerja jantung
Sesak nafas risiko perawatan dan mengontrol
berkurang ulang di rumah tekanan darah,
P: Lanjutkan sakit sehingga membantu
intervensi meningkatkan
Pemberian O2 Prinsip Diet kualitas hidup pasien.
3 1pm Rendah Natrium
Posisikan klien 1. Asupan Sumber:
semifowler natrium dikontrol Asuhan Keperawatan
Pantau TTV secara ketat (≤2 Pasien Gagal Jantung
gram/hari) Kongestif: Studi
Dx 1 2. Hindari Kasus oleh Ahmad
S: Klien makanan tinggi Muzaki dan
mengatakan natrium seperti Yuli Ani (2020):
sesaknya makanan
berkurang kalengan,
O: Tidak ada makanan cepat
sianosis, RR 21 saji, dan
x/menit makanan olahan
TD 172/73 3. Gunakan
mmHg bumbu alami
HR 82 (bawang putih,
x/menit jahe, lada)
SpO2 99% sebagai
CRT <3 pengganti garam
A: Masalah 4. Baca label
teratasi makanan untuk
sebagian memastikan
P: Lanjutkan kandungan
intervensi natrium tidak
Pantau TTV berlebihan
Pantau warna 5. Batasi
kulit konsumsi
Posisikan makanan asin
semifowler seperti keripik,
Dx 3 saus kemasan,
S: Klien dan camilan
mengatakan tinggi garam
bisa
beraktivitas Dengan
sedikit demi menerapkan diet
sedikit rendah natrium,
O: Klien pasien CHF dapat
tampak makan menurunkan
sendiri risiko retensi
A: Masalah cairan,
teratasi hipertensi, dan
sebagian gagal jantung
Peningkatan yang memburuk.
toleransi Jika ada
aktivitas tambahan yang
P: Lanjutkan diperlukan,
intervensi silakan beri tahu!
Pantau TTV
Peningkatan
aktivitas di
tempat tidur
Batasi gerakan
yang berlebih
37. Gloria Angel Tampongangoy 711430123050
Intra Cerebral Hematom (ICH)
Ilustrasi Pengkajian
Kasus Pengkajian Primer Pengkajian Analisa Data
sekunder
Seorang pria, Tn. A (ABCDE) Approach Riwayat Kesehatan DS:
(58 tahun), Riwayat Penyakit: 1. Keluarga
ditemukan tidak A (Airway) 1. Hipertensi pasien
sadar di tempat kerja 1. Jalan napas tidak melaporkan
dan segera dibawa ke terbuka terkontrol
bahwa pasien
IGD. Keluarga namun pasien
melaporkan riwayat menggunakan Riwayat Obat: mengalami
hipertensi tidak ventilator 1. Tidak rutin penurunan
terkontrol. Pasien mengonsumsi kesadaran
tiba dengan GCS 6 B (Breathing) antihipertensi mendadak
(E1V1M4), tekanan 1. RR 10x/menit saat bekerja.
darah 210/110 2. Pola Riwayat Gizi: 2. Riwayat
mmHg, pernapasan pernapasan 1. Tidak ada
hipertensi
tidak teratur (pola Cheyne- asupan sejak
Cheyne-Stokes), dan Stokes tidak sadar tidak
pupil anisokor 3. Penggunaan 2. Resiko terkontrol.
(kanan 5 mm tidak otot bantu malnutrisi 3. Keluarga
bereaksi, kiri 3 mm napas menyebut
dengan reaksi 2. Pemeriksaan Fisik
pasien tidak
lambat). CT scan C (Circulation) Sistem Pernapasan:
menunjukkan 1. TD: 210/110 1. RR memiliki
hematoma mmHg 10x/menit, riwayat
intraserebral lobus (hipertensi 2. Penggunaan trauma kepala
frontal kanan ±60 cc berat) otot bantu sebelumnya.
dengan edema 2. Nadi: napas 4. Pasien tidak
perilesi. 50x/menit 3. Pola responsif
(bradikardia) pernapasan
terhadap
Pasien dirawat di 3. CRT: >3 detik Cheyne-
ICU dengan ventilasi Stokes panggilan dan
mekanik dan D (Disability) sentuhan
monitoring ketat (Neorologis) Sistem menurut
tekanan intrakranial. 1. GCS: 6 Kardiovaskular: keluarga.
Terapi mannitol, (E1V1M4) 1. TD 210/10
hipertonik saline, dan 2. Pupil anisokor mmHg
antihipertensi (kanan 5mm 2. CRT >3 DO:
diberikan untuk tidak bereaksi, 1. GCS: 6
mengontrol TIK. kiri 3mm Sistem Saraf 2. Pupil anisokor
Nutrisi diberikan lambat) 1. Kesadaran 3. RR 10x/menit
melalui nasogastric sopor dengan pola
tube (NGT) karena E (Exposure) 2. Pupil anisokor Cheyne-
pasien mengalami 1. Suhu: 37,2°c Stokes
gangguan kesadaran 2. Kulit agak Sistem Integumen: 4. TIK
dan risiko disfagia. pucat 1. Kulit agak meningkat
3. Turgor kurang pucat 5. NGT
elastis 2. Turgor kurang terpasang
elastis
Etiologi:
3. Pemeriksaan Hematoma
Penunjang intraserebral
1. CT Scan menyebabkan
Kepala: peningkatan tekanan
Hematoma intracranial (TIK) dan
ICH ±60 cc perfusi serebral
dengan edema menurun
perilesi.
2. Darah Masalah
Lengkap: Keperawatan:
Leukositosis, Ketidakefektifan
Hb 13 g/dL, perfusi jaringan
elektrolit serebral
dalam batas berhubungan dengan
normal. peningkatan TIK
3. Gas Darah akibat hematoma
Arteri: PaCO₂ intraserebral
meningkat,
hipoksemia
ringan
4. Terapi yang
Diberikan:
1. Terapi
mannitol,
hipertonik
saline, dan
antihipertensi
diberikan
untuk
mengontrol
TIK.
Nutrisi diberikan
melalui nasogastric
tube (NGT) karena
pasien mengalami
gangguan kesadaran
dan risiko disfagia.
Evaluasi Diet
Keperawatan Diet Rekomendasi Artikel EBN
Setelah 72 jam Tujuan Diet: Jenis Diet dan 1. EBN: Nutrisi
pemberian intervensi Diet bertujuan Pemberian Nutrisi: Enteral Dini
didapatkan evaluasi: memenuhi kebutuhan Karena pasien tidak pada Pasien
1. GCS meningkat nutrisi, mencegah sadar (GCS ≤ 8) dan dengan Cedera
menjadi 10 malnutrisi, menjaga berisiko aspirasi, Otak:
(E3V2M5) keseimbangan nutrisi diberikan Nutrisi enteral
dalam 72 jam elektrolit dan cairan, melalui NGT dengan yang dimulai
2. Pupil mulai serta mendukung formula cair tinggi lebih awal dapat
reaktif terhadap perbaikan jaringan protein dan rendah mencegah
cahaya otak. natrium seperti malnutrisi dan
3. Tekanan darah Peptamen, Isocal, mempercepat
menurun Prinsip Diet: atau Nutren Renal. pemulihan
menjadi 150/90 Pasien memerlukan Pemberian dilakukan neurologis
mmHg 25-30 secara tetesan lambat
Tidak ada tanda kkal/kgBB/hari, (30-50 mL/jam) Sumber:
peningkatan tekanan 1. Protein 1,2- dengan evaluasi Judul Artikel:
intracranial yang 2,0 residu lambung ” Nursing
mengarah ke herniasi g/kgBB/hari setiap 4 jam. Practice Based
otak 2. Lemak sehat on Evidence-
25-30% dari Jika kesadaran Based Concepts
total kalori membaik (GCS ≥ 9), to Prevent
3. Karbohidrat pasien dapat beralih Enteral Nutrition
kompleks 50- ke diet lunak enteral, Complications
60% dari total seperti bubur halus for Critically Ill
kalori. dan sup kental. Neurosurgical
4. Pembatasan Ketika pasien dapat Patients”
natrium ≤2 menelan dengan baik
g/hari (GCS ≥ 13), Penulis:
diperlukan diberikan diet lunak Jia Jiao et al
untuk per oral berupa nasi
mencegah tim, ikan kukus, dan Tahun terbit:
edema sayur lembut. Setelah 2022
serebral dan kondisi stabil, pasien
mengontrol dapat mengonsumsi 2. EBN:
tekanan diet biasa modifikasi Manajemen
darah. dengan protein tinggi Disfagia pada
5. Cairan dan pembatasan PAsien Stroke
diberikan 30- garam. Hemoragik
40 Pasien dengan
mL/kgBB/har Contoh Menu Diet ICH memiliki
i dengan Enteral via NGT: resiko tinggi
pemantauan Pemberian nutrisi disfagia,
ketat untuk dilakukan 6 kali sehingga
menghindari sehari, setiap kali 250 pemberian
overhidrasi. mL, terdiri dari susu nutrisi harus
tinggi protein, bubur berbasis
blender tinggi asesmen disfagia
protein, jus tanpa oleh terapis
gula, dan sup kental wicara
bergizi.
Sumber:
Judul Artikel:
“Early
Intervention To
Promote Oral
Feeding In
Patients With
Intracerebral
Hemorrhage: A
Retrospective
Cohort Study”
Penulis:
Hideaki
Takahata,
Keisuke
Tsutsumi,
Hiroshi Baba,
Izumi Nagata,
Masahiro
Yonekura
Tahun terbit:
19 Januari 2011
08 Mei 2024
14:00
Monitor TTV
Hasil:
- TD: 121/62
mmHg
- Suhu: 36,6°C
- HR: 86 x/mnt
14:10
Memonitor pola napas
Hasil : 17x/mnt
15:00
Memonitor bunyi napas
tambahan
Hasil : bunyi napas vesi
Evaluasi Diet kuler (normal)
Keperawatan 15:45
06 Mei 2024 diet Rekomendasi Artikel
Memberikan
EBN posisi sem
Pola Napas Tid Diet Tinggi Kalori - TKTP i fowler
Preventing
ak Efektif berh Tinggi Protein biasa → Hasil : tampak pasien n
Aspiration
ubungan denga Jika yaman dengan
Pneumonia Amongposisi ya
n Hambatan U pasien the ng diberikan
Elderly: A
paya Napas bisa 16:30
Review Focused on
S:- makan Momonitor
the Impact of sputum
the
O: sendiri. Consistency of Foodsputum
Hasil : tampak
- Tampak - TKTP berwarna bening
Substances
pasien m enteral 17:00
asih sesa (via Memberikan oksigen
k NGT) → Hasil : tampak pasien m
- Tampak Jika enggunakan nasal kanul
pasien ba pasien 5L/mnt
tuk deng sulit 18:05
an sputu makan. Memonitor saturasi oksi
m berwar gen
na kunin - Kompos Hasil : setelah pemberia
g kehijau n posisi semi fowler sat
isi Diet:
an urasi oksigen menjadi 1
- Energi:
- Tampak 00%
35–40
pasien m 20:10
kkal/kgB
engguna Melakukan kolaborasi p
B/hari
kan NR emberian bronkodilator
- Protein:
M 12 L/ (combivent 1 tube/8 ja
1,5–2 m/inhalasi), antipiretik
mnt g/kgBB/
- Tampak (pct 1 gr/12 jam/IV), an
hari tibiotik (anbacim 1gr/12
pasien m Cairan:
engguna jam/IV, cefoperazone 1
30–35 gr/12 jam/IV)
kan otot mL/kgB
bantu na Hasil :
B/hari
pas retra - Setelah diberika
- Vitamin
ksi interk n bronkodilator t
& ampak sesak pas
ostal Mineral:
- Terdenga ien mulai berkur
Tinggi ang.
r bunyi n vitamin
apas tam Setelah diberikan antipi
C, D, retik, demam pasien mu
bahan ro zinc, dan
nkhi lai menurun
antioksid
- P : 24 x/ an
mnt
- SpO2 : 9 - Contoh
8% Menu:
A : Pola napas b - Pagi:
elum membaik Nasi
P : Intervensi dil lembek +
anjutkan telur
- Manajem dadar
an jalan keju +
39. Jemina Prisilia Makangiras (711430123053)
Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Anak Mengalami Epilepsi Pada Masa Pandemi
Covid 19 Di Kecamatan Dawarblandong Kabupaten Mojokerto
Ilustrasi Kasus Pengkajian
Disability (Neurologi):
GCS 15 (E4V5M6), namun
setelah kejang anak mengalami
kebingungan dan kelemahan
ekstremitas sementara.
Exposure (Paparan
Lingkungan):
Anak mengalami luka lecet di
siku akibat benturan saat kejang
terjadi.
1. Keluarga mampu menjelaskan Diet: - Asupan lemak tinggi untuk Penelitian menunjukkan
kembali definisi, penyebab, tanda, mendukung kondisi ketosis bahwa diet ketogenik
Ketogenik, tinggi lemak,
dan gejala epilepsi. yang dapat mengurangi dapat membantu
rendah karbohidrat, dan
aktivitas kejang. mengurangi frekuensi
cukup protein.
kejang pada anak
2. Keluarga memahami dan dapat dengan epilepsi yang
menyebutkan faktor pemicu - Asupan protein yang cukup resisten terhadap obat.
Tujuan:
kejang. untuk pertumbuhan dan Diet ini bekerja dengan
Membantu mengurangi perkembangan anak. menciptakan kondisi
frekuensi kejang dan ketosis, di mana tubuh
3. Keluarga mampu melakukan mendukung fungsi otak menggunakan lemak
tindakan pertolongan pertama optimal pada anak dengan - Pembatasan karbohidrat sebagai sumber energi
dengan tepat saat anak mengalami epilepsi. untuk mengoptimalkan efek utama, yang telah
kejang. diet ketogenik. terbukti efektif dalam
mengendalikan aktivitas
listrik otak yang
Contoh Makanan:
berlebihan
4. Keluarga lebih percaya diri - Cukup cairan untuk
- Alpukat
dalam menangani kondisi anak mencegah dehidrasi dan
dan lebih aktif dalam melakukan - Telur mendukung metabolisme
kontrol kesehatan. tubuh.
- Ikan berlemak (salmon,
tuna)
- Kacang-kacangan
- Sayuran hijau rendah
karbohidrat