Anda di halaman 1dari 20

DISUSUN OLEH : A.A Made Berastia Anis Savitri, S.Ked I Gusti Agung Ngurah Rai J, S.

Ked

08700158 08700295

Definisi
GINA mendefinisikan asma sebagai gangguan INFLAMASI kronis saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast, eosinofil, dan limfosit T. Pada orang yang rentan, inflamasi tersebut menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan, dan batuk, khususnya pada MALAM atau DINI HARI. Gejala tersebut biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan napas yang luas namun bervariasi, yang paling tidak sebagian bersifat REVERSIBEL baik secara spontan maupun dengan pengobatan. Inflamasi tersebut juga berhubungan dengan HIPERAKTIVITAS jalan nafas terhadap berbagai rangsangan.

Etiologi
BELUM jelas. Diduga yang memegang peranan utama ialah reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus (hipereaktivitas bronkus) karena ada hambatan pada sebagian system adrenergic, kurangnya enzim adenilsiklase dan meningginya tonus system parasimpatik. Bila tonus system parasimpatik berlebihan, maka bila mendapat rangsang akan terjadi spasme bronkus. Asma disebut penyakit multifaktorial yang turut menentukan derajat reaktivitas tersebut. Factor genetic, biokimiawi, saraf otonom, imunologis, infeksi, endokrin, psikologis, dan lingkungan dapat turut serta dalam proses terjadinya manifestasi asma.. Alergi (atopi) salah satu pencetus asma juga diturunkan secara genetic, hanya belum diketahui pasti bagaimana caranya.

Penderita asma ekstrinsik imunologis atau alergik, eksaserbasi terjadi karena pemaparan terhadap fantor lingkungan seperti debu rumah, tepung sari dan ketombe. Asma alergik berhubungan riwayat pribadi dan atau keluarga mengenai penyakit alergi seperti rhinitis, urtikaria dan eczema. Penderita asma intrinsic imunologis tidak ada bukti keterlibatan IgE walaupun mempunyai gambaran klinik yang serupa. Bentuk asma ini yang sering ditemukan pada usia 2 tahun pertama dan pada orang dewasa. Agen virus dapat bekerja mencetuskan asma melalui rangsangan reseptor aferen vagus dari system kolinergik di jalan nafas.

Patofisiologi Asma
Mediator kimia Bronkokontriksi, edema mukosa, sekresi berlebihan mukus Penyumbatan Jalan nafas Ventilasi tidak seragam Hiperinflasi

Atelektasis

Ketidakseimbangan Ventilasi & perfusi


hipoventilasi alveolar

Kelenturan berkurang
Kerja pernafasan bertambah

Surfaktan berkurang

Vasokontriksi pulmonal

Asidosis
PCO2 PO2

(GINA)

Proses inflamasi dan remodelling pada asma

Klasifikasi Asma

Manifestasi Klinik
batuk, yang nonproduktif pada awal serangan, mengi, takipnea, dan dispnea dengan ekspirasi panjang serta penggunaaan otot-otot bantu pernafasan, sianosis, hiperinfasi dada, takikardi, dan pulsus paradoksus Batuk tanpa mengi atau mengi tanpa batuk, dan juga dapat dijumpai takipnea tanpa mengi Pada penderita distress nafas yang berat, tanda-tanda asma berupa mengi yang tidak mencolok, kesukaran berjalan atau bahkan berbicara, bersikap seperti duduk membungkuk, duduk seperti tripod, nyeri abdomen, hati dan limpa teraba, keringat banyak, kelelahan, deformitas dada seperti berbentuk tong (Barrell chest)

Stadium Asma
Stadium I Edema dinding bronkus, batuk paroksismal dan batuk kering, sputum yang kental dan mengumpul. Stadium II Sekresi mucus banyak dan batuk berdahak yang jernih dan berbusa, sesak dan usaha bernafas dalam, ekspirasi memanjang dan bunyi mengi, otot bantu pernafasan bekerja, retraksi suprasternal dan interkostal, senang duduk dan membungkuk, gelisah, pucat dan sianosis sekitar mulut, thorax bungkuk ke depan dan lebih bulat, pernafasan abdominal pada anak kecil. Stadium III Obstruksi atau spasme otot polos bronkus lebih berat, nafas hampir tidak terdengar, terdengar batuk seperti ditekan, pernafasan yang dangkal, tidak teratur dan frekuensi yang mendadak meninggi.

Status Asmatikus
Adalah keadaan darurat medic paru berupa serangan asma yang berat atau bertambah berat yang bersifat refrakter (perbaikan) sementara terhadap pengobatan yang lazim diberikan. Gambaran klinis Status Asmatikus Penderita tampak sakit berat dan sianosis Sesak nafas sehingga bicara terputus-putus Banyak berkeringat, bila kulit kering menunjukkan kegawatan sebab penderita sudah jatuh dalam dehidrasi berat Pada keadaan awal kesadaran penderita mungkin masuh cukup baik, tetapi lambat laun dapat memburuk yang diawali dengan rasa cemas, gelisah kemudian jatuh ke dalam koma

Anamnesa
Anak datang dengan keluhan : sesak nafas, mengi, dada terasa berat atau tertekan, batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh atau batuk pada malam hari, keluhan bersifat episodic dan reversible, riwayat keluarga dengan asma atau alergi

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Anak tampak gelisah dan sesak nafas, Anak lebih nyaman dalam posisi tripod Dada : Dinding thorax tampak mengembang, Diafragma terdorong ke bawah, Retraksi, Penggunaan otot-otot bantu pernafasan Paru : Perkusi didapatkan hipersonor pada seluruh permukaan paru, Auskultasi terdengar wheezing Jantung : Pekak jantung mengecil, Takikardi

Pemeriksaan Laboratorium
Darah rutin : peningkatan eusinofil dan IgE Sputum : eusinofil, spiral Crushman, Kristal Charcot Leyden Foto thorax : normal di luar serangan, hiperinflasi saat serangan akut dan asma kronik, corakan paru meningkat Faal paru (spirometri / peak flow meter) menilai derajat serangan asma, berat obstruksi, reversibilitas, variabilitas. Uji provokasi bronkus dilakukan dengan menggunakan histamine, metakolin atau beban lari Analisis gas darah

Diagnosa

Different Diagnosa
Bronkiolitis Bronkitis kronik Edema paru kardiogenik akut Emfisema paru Aspirasi Benda Asing

Komplikasi
Pneumothorax Pneumomediastinum dan Emfisema subcutis Atelektasis Gagal nafas

Tatalaksana

Prognosis
Prognosis jangka panjang asma pada anak umumnya BAIK. Faktor yang dapat mempengaruhi prognosis anak adalah : Umur ketika serangan timbul, seringnya serangan asma, berat-ringannya serangan asma, terutama pada 2 tahun sejak mendapat serangan asma Faktor atopi pada diri anak dan keluarganya Lamanya minum ASI Usaha pengobatan dan penanggulangannya Apakah ibu/bapak atau teman sekamar atau serumah. Polusi udara yang lain di rumah atau di luar rumah juga dapat mempengaruhi Penghindaran alergen yang dimakan sejak hamil dan pada waktu meneteki Jenis kelamin kelainan hormonal