Anda di halaman 1dari 28

ABLASIO RETINA

REFERAT
Yoseph Elkridus Gonang, S. Ked

Pendahuluan
Retina atau selaput jala merupakan bagian mata yang
mengandung reseptor yang menerima rangsangan
cahaya
Retina manusia merupakan suatu struktur yang sangat
terorganisir, yang terdiri dari lapisan-lapisan badan sel
dan prosesus sinaptik
Ablasio retina adalah suatu keadaan terpisahnya sel
kerucut dan batang retina dari sel epitel pigmen retina.
Ablasio retina dapat menyebabkan cacat penglihatan
atau kebutaan yang menetap

Lepasnya retina atau sel kerucut


dan batang dari koroid atau sel
pigmen epitel akan mengakibatkan
gangguan nutrisi retina dari
pembuluh darah koroid yang bila
berlangsung lama akan
mengakibatkan gangguan fungsi
yang menetap.

Ablasio retina dapat terjadi melalui


3 mekanisme, yaitu penimbunan
cairan subretina, tarikan oleh
jaringan fibrotik di dalam badan
kaca, dan pendorongan retina oleh
badan kaca cair (fluid vitreous)

ISI
2.1. Anatomi Retina

Retina terdiri dari 9 lapisan, yaitu lapis fotoreseptor, membran limitan


eksterna, lapis nuklear luar, lapis pleksiform luar, lapis nukleus dalam, lapis
pleksiform dalam, lapis sel ganglion, lapis serabut syaraf, dan membran
limitan interna.

Di tengah tengah retina posterior


terdapat makula. Secara klinis makula
dapat didefinisikan sebagai daerah
pigmentasi kekuningan yang disebabkan
oleh pigmen luteal (xantofil) yang
berdiameter 1,5 mm. Secara histologis
makula merupakan bagian retina yang
lapisan ganglionnya mempunyai lebih
dari satu lapis sel. Secara klinis, makula
adalah bagian yang dibatasi oleh arkade
arkade pembuluh darah retina temporal.

Retina menerima darah dari dua sumber yaitu


khoriokapilaria yang berada tepat diluar
membrana Bruch, yang mendarahi sepertiga
luar retina termasuk lapisan pleksiformis luar
dan lapisan inti luar, fotorreceptor, dan lapisan
epitel pigmen retina serta cabang cabang
dari arteri sentralis retinae yang mendarahi
dua pertiga sebelah dalam.

2.2. Fisiologi Retina


Retina adalah jaringan paling kompleks di mata. Untuk
melihat, mata harus berfungsi sebagai suatu alat optis,
sebagai suatu reseptor kompleks, dan sebagai suatu
transducer yang efektif.
Makula bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan
yang terbaik dan untuk penglihatan warna, dan sebagian
besar selnya adalah sel kerucut.
Macula terutama digunakan untuk penglihatan sentral dan
warna (penglihatan fotopik) sedangkan bagian retina
lainnya, yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor
batang, digunakan terutama untuk penglihatan perifer dan
malam (skotopik).

2.3 Definisi
Ablasio berasal dari bahasa
Latin ablatio yang berarti
pembuangan
atau
terlepasnya
salah
satu
bagian badan. Jadi, ablasio
retina adalah suatu keadaan
terpisahnya sel kerucut dan
batang retina dari sel epitel
pigmen retina.

2.4 Epidemiologi

Penyebab paling umum di seluruh dunia yang terkait dengan


ablasio retina adalah miop, afakia, pseudofakia, dan trauma.
Sekitar 40-50% dari semua pasien dengan ablasio memiliki miop,
30-40% mengalami pengangkatan katarak, dan 10-20% telah
mengalami trauma okuli. Ablasio retina yang terjadi akibat trauma
lebih sering terjadi pada orang muda, dan miop terjadi paling
sering pada usia 25-45 tahun.
Ablasio retina pada usia kurang dari 45 tahun, 60% laki-laki dan
40% perempuan. Ablasio retina biasanya terjadi pada orang
berusia 40-70 tahun. Namun, cedera paintball pada anak-anak dan
remaja merupakan penyebab umum dari cedera mata, yang
termasuk ablasio retina traumatik

2.5 Klasifikasi
1. Ablasio Retina Primer (Ablasio Retina Regmatogenosa)

Pada ablasio retina regmatogenosa terjadi robekan pada retina


sehingga cairan masuk ke belakang antara sel pigmen epitel
dengan retina. Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair
(fluid vitreous) yang masuk melalui robekan atau lubang pada
retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan
terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.

Faktor predisposisi terjadinya ablasio retina regmatogenosa antara


lain: Usia, Jenis Kelamin, Miopia, Afakia, Trauma, Fenile Posterior
Vitreous Detachment (PVD) /terpisahnya korteks vitreus posterior
dari membran limitan interna retina, Pasca sindrom nekrosis akut
retina dan CMV, dan degenerasi retina.

Ablasio retina akan


memberikan gejala
terdapatnya gangguan
penglihatan yang kadang kadang terlihat sebagai
tabir yang menutupi dan
terdapat riwayat adanya
pijaran api (fotopsia) pada
lapangan penglihatan

Ablasio retina tipe regmatogenosa, arah panah


menunjukkan horseshoe tear

2. Ablasio Retina Sekunder (Non regmatogenosa)

a. Ablasio Retina Eksudatif

Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya


penimbunan cairan eksudat di bawah retina
(subretina) dan mengangkat retina.

Penyebab Ablasio retina eksudatif dibagi menjadi dua


yaitu penyakit sistemik (Toksemia gravidarum,
hipertensi renalis, poliartritis nodosa) dan penyakit
pada mata (skleritis posterior, selulitis orbita,
perforasi bola mata pada operasi intraokuler)

Ablasio retina tipe eksudatif


akibat dari hasil metastase
karsinoma payudara

b. Ablasio retina traksi


Pada ablasio ini lepasnya
jaringan retina terjadi akibat
tarikan jaringan parut pada
korpus vitreus yang
menyebabkan penglihatan turun
tanpa rasa sakit. Pada badan
kaca terdapat jaringan fibrosis
yang dapat disebabkan diabetes
melitus proliferatif, trauma, dan
perdarahan badan kaca akibat
bedah atau infeksi.

2.6 Diagnosis
a. Anamnesis
Floaters (terlihatnya benda melayang-layang)
Photopsi/light flashes (kilatan cahaya), tanpa adanya
sumber cahaya di sekitarnya,
Penurunan tajam penglihatan
adanya riwayat trauma
riwayat pembedahan sebelumnya seperti ekstraksi katarak,
pengangkatan korpus alienum inoukler
riwayat penyakit mata sebelumnya (uveitis, perdarahan
vitreus, amblopia, galukoma, dan retinopati diabetik)
Riwayat keluarga dengan sakit mata yang sama serta
penyakit serta panyakit sistemik yang berhubungan dengan
ablasio retina (diabetes melitus, tumor, sickle cell leukemia,
eklamsia, dan prematuritas)

Regmatogenus
Riwayat penyakit

Traksi

Eksudatif

Afakia, myopia, trauma tumpul, photopsia,

Diabetes, premature,trauma

Factor-faktor sistemik seperti hipertensi

floaters, gangguan lapangan pandang yang

tembus, penyakit sel sabit, oklusi maligna, eklampsia, gagal ginjal.

progresif, dengan keadaan umum baik.

vena.

Kerusakan retina

Terjadi pada 90-95 % kasus.

Kerusakan primer tidak ada.

Tidak ada.

Perluasan ablasi

Meluas dari oral ke discus, batas dan

Tidak meluas menuju oral,

Tergantung volume dan gravitasi,

permukaan cembung tergantung gravitasi.

dapat sentral atau perifer.

perluasan menuju oral bervariasi, dapat


sentral atau perifer.

Pergerakan retina

Bergelombang atau terlipat.

Retina tegang, batas dan

Smoothly elevated bullae, biasanya tanpa

permukaan cekung, meningkat

lipatan

pada titik tarikan.


Bukti kronis

Terdapat garis pembatas, makrosis intra

Garis pembatas

Tidak ada

retinal, atropik retina


Pigmen pada vitreous

Terlihat pada 70 % kasus

Terlihat pada kasus trauma

Tidak ada

Perubahan vitreous

Sineretik, PVD, tarikan pada lapisan yang

Penarikan vitreoretinal

Tidak ada, kecuali pada uveitis

Jernih atau tidak ada

Dapat keruh dan berpindah secara cepat

perpindahan

tergantung pada perubahan posisi kepala.

robek
Cairan sub retinal

Jernih

Massa koroid

Tidak ada

Tidak ada

Bisa ada

Tekanan intraocular

Rendah

Normal

Bervariasi

Transluminasi

Normal

Normal

Transluminasi terblok apabila ditemukan


lesi pigmen koroid

Keaadan yang
menyebabkan ablasio

Robeknya retina

Retinopati diabetikum

Uveitis, metastasis tumor, melanoma

proliferative, post traumatis

maligna, retinoblastoma, hemangioma

vitreous traction

koroid, makulopati eksudatif senilis,


ablasi eksudatif post cryotherapi atau

b. Pemeriksaan oftalmoskopi

Pemeriksaan tajam penglihatan


Pemeriksaan lapangan pandang
Memeriksa apakah ada tanda-tanda trauma
Periksa reaksi pupil. Dilatasi pupil yang menetap
mengindikasikan adanya trauma.
Pemeriksaan slit lamp; anterior segmen biasanya normal,
pemeriksaan vitreous untuk mencari tanda pigmen atau
tobacco dust, ini merupakan patognomonis dari ablasio
retina pada 75 % kasus.
Periksa tekanan bola mata.
Pemeriksaan fundus dengan oftalmoskop (pupil harus
dalam keadaan berdilatasi

c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk
mengetahui adanya penyakit penyerta seperti
diabetes melitus.
Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan bila retina
tidak dapat tervisualisasi oleh karena perubahan
kornea, katarak, atau perdarahan.
Teknik pencitraan seperti foto orbita, CT scan,
atau MRI tidak diindikasikan untuk membantu
diagnosis ablasio retina tetapi dapat dibutuhkan
untuk mendeteksi benda asing intraokuli dan
tumor.

2.7 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada ablasio retina adalah


pembedahan. Prinsip bedah pada ablasio retina
yaitu :(7)
Menemukan semua bagian yang terlepas.
Membuat iritasi korioretinal pada sepanjang
masing-masing daerah retina yang terlepas.
Menguhubungkan koroid dan retina dalam waktu
yang cukup untuk menghasilkan adhesi dinding
korioretinal yang permanen pada daerah
subretinal.

1. Scleral buckling
Prosedur meliputi lokalisasi
posisi robekan retina,
menangani robekan dengan
cryoprobe, dan selanjutnya
dengan scleral buckle (sabuk).
Pertama-tama dilakukan
cryoprobe atau laser untuk
memperkuat perlengketan
antara retina sekitar dan epitel
pigmen retina. Sabuk dijahit
mengelilingi sklera agar ada
tekanan pada robekan retina
sehingga terjadi penutupan
pada robekan tersebut.

Spons silikon dijahit pada bola mata untuk


menekan sklera di atas robekan retina
setelah drainase cairan sub retina dan
dilakukan crioterapi

2. Retinopeksi pneumatik
Retinopeksi pneumatik
merupakan metode yang juga
sering digunakan pada ablasio
retina regmatogenosa
terutama jika terdapat
robekan tunggal pada bagian
superior retina
Teknik pelaksanaan prosedur
ini adalah dengan
menyuntikkan gelembung gas
ke dalam rongga vitreus.
Gelembung gas ini akan
menutupi robekan retina dan
mencegah pasase cairan lebih
lanjut melalui robekan.

Setelah pengangkatan gel vitreus pada


drainase cairan sub retina, gas fluorokarbon
inert disuntikan ke dalam rongga vitreus

3. Vitrektomi
Merupakan cara yang paling
banyak digunakan pada
ablasio akibat diabetes, dan
juga pada ablasio
regmatogenosa yang disertai
traksi vitreus atau perdarahan
vitreus
Teknik dan instrumen yang
digunakan tergantung tipe
dan penyebab ablasio. Lebih
dari 90% lepasnya retina
dapat direkatkan kembali
dengan teknik-teknik bedah
mata modern, meskipun
kadang- kadang diperlukan
lebih dari satu kali operasi.

2.8 Pencegahan
Cara pencegahan yang terbaik adalah
mengontrol diabetes dan tekanan darah
tinggi. Penderita diabetes sebaiknya menjalani
pemeriksaan mata secara rutin (1 kali/tahun),
yang dimulai pada tahun ke 5 setelah
terdiagnosis menderita diabetes.

2.9 Prognosis
Prognosis dari penyakit ini berdasarkan pada keadaan
makula sebelum dan sesudah operasi serta ketajaman
visualnya. Jika, keadaannya sudah melibatkan makula
maka akan sulit menghasilkan hasil operasi yang baik,
tetapi dari data yang ada sekitar 87 % dari operasi yang
melibatkan makula dapat mengembalikan fungsi visual
sekitar 20/50 lebih kasus dimana makula yang terlibat
hanya sepertiga atau setengah dari makula tersebut.

Pasien dengan ablasio retina yang melibatkan makula


dan perlangsungannya kurang dari 1 minggu, memiliki
kemungkinan sembuh post operasi sekitar 75 %
sedangkan yang perlangsungannya 1-8 minggu
memiliki kemungkinan 50 %.

Dalam 10-15 % kasus yang dilakukan pembedahan


dengan ablasio retina yang melibatkan makula,
kemampuan visualnya tidak akan kembali sampai level
sebelumnya dilakukannya operasi. Hal ini disebabkan
adanya beberapa faktor seperti irreguler astigmat akibat
pergeseran pada saat operasi, katarak progresif, dan
edema makula. Komplikasi dari pembedahan misalnya
adanya perdarahan dapat menyebabkan kemampuan
visual lebih menurun.

Daftar Pustaka

Ilyas, H. Sidarta. 2010. Ilmu Penyakit Mata-Ablasi Retina. Edisi ke-3. Jakarta : Badan
Penerbit FKUI; 183-186.
Artini, Widya. 2011. Pemeriksaan Dasar Mata. Edisi pertama. Jakarta: Badan
Penerbit FKUI.
Vaughan, Daniel G. Asbury, Taylor. 2000. Oftalmologi umum (General
ophthalmology) edisi 17. EGC: Jakarta. p. 12-199
Sundaram venki. Training in Ophthalmology. 2009. Oxford university press: New
York. P.118-119
Larkin, L. Gregory. Retinal Detachment.[serial online] 8th septembe 2010 [cited 24th
January 2012]. Available from : http//emedicine.medscape.com/article/1226426
Bruce James, Chris Chew,Anthony Bron, Lecture Notes On Oftalmology , edisi
kesembilan , Blackwell Science Ltd :Penerbit Erlangga
Khurana. Diseases of retina in comprehensive ophthalmology 4th edition. New Age
International Limited Publisher: India. p. 249- 279.

TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai