Anda di halaman 1dari 23

IDENTIFIKASI

DESENTRALISASI FISKAL,
POLITIK, DAN ADMINISTRASI
DI PROVINSI SULAWESI TENGAH

Kelompok 2

Rika Novita Sari


Febbi Meidawati
Nosiana Januarti

G14130011
G14130017
G14130031

Peta Wilayah
Profil
Sulawesi
Tengah

Luas:
68.033 km
persegi

Terdiri dari 9
kabupaten,
1 kota, 115
kecamatan,
1.411 desa,
136
kelurahan, 8
UPT

Jumlah
penduduk:
2.349.398

Desentralisasi Fiskal
Desentralisasi fiskal adalah pelimpahan wewenang
kepada daerah untuk menggali dan menggunakan
sendiri sumber-sumber penerimaan daerah sesuai
dengan potensinya masing-masing (Sidik, 2002).

Penerimaan Keuangan Daerah di


Provinsi Sulawesi Tengah

Sumber penerimaan terdiri dari: bagian


sisa lebih perhitungan anggaran tahun
lalu, bagian Pendapatan Asli Daerah
(PAD), bagian Dana Perimbangan berupa
Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak, Dana
Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi
Khusus (DAK), penerimaan lainnya yang
sah dan Pinjaman Pemerintah Daerah.

REALISASI
PENERIMAAN
tahun 2001 - 2009

Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pajak Daerah

Pajak Daerah

Sumber Dana Perimbangan

Dana Perimbangan merupakan dana


yang dialokasikan kepada daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah, khususnya
belanja pembangunan pada sektorsektor produktif, sarana publik dan
pengembangan ekonomi lokal yang
bersumber dari dana bagi hasil, yakni
Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi
Umum (DAU), dan Dana Alokasi Khusus
(DAK).

Dana Bagi Hasil (DBH)


Tahun

DBH
(dalam
milyar
rupiah)

2001
2002
2003
2004
2005
2006
2007
2008
2009

14,5
15,8
16,9
20,1
22,4
26,7
30,1
34,2
36,1

Dana Bagi Hasil (DBH) merupakan


dana yang dialokasikan kepada
daerah berdasarkan angka
persentase untuk mendanai
kebutuhan daerah yang bersumber
dari Dana Bagi Hasil Pajak (DBHP)
dan Dana Bagi Hasil bukan Pajak
(DBHBP)

Dana Alokasi Umum


(DAU)

2001

DAU
(dalam
milyar
rupiah)
126,4

2002

190,5

2003

240,7

2004

258,2

2005

277,8

2006

301,2

2007

312,6

2008

340,3

2009

366,1

Tahun

Dana Alokasi Umum (DAU)


merupakan dana yang bersumber
dari APBN yang dialokasikan dengan
tujuan pemerataan kemampuan
keuangan antar daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi.

Besar kecilnya DAU yang diterima


daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota
tergantung pada variabel besar
kecilnya alokasi dasar/rutin dan
variabel celah fiskal.

Dana Alokasi Khusus (DAK)

2001

DAK
(dalam
milyar
rupiah)
2,1

2002

3,2

2003

5,6

2004

7,4

2005

9,6

2006

10,3

2007

12,4

2008

14,6

2009

15,2

Tahun

Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah


dana yang bersumber dari APBN
yang dialokasikan kepada daerah
tertentu dengan tujuan untuk
mendanai kegiatan khusus yang
merupakan urusan daerah dan sesuai
dengan prioritas nasional.

Alokasi DAK lebih diarahkan untuk


mendanai bidang-bidang yang
menunjang pelayanan dasar
masyarakat, seperti : infrastruktur,
pendidikan, dan kesehatan.

Dana Perimbangan
Dana
perimbang
an yang
diterima di
Provinsi
Sulawesi
Tengah
setiap
tahunnya
mengalami
peningkata
n, rata-rata
setiap
tahunnya
naik
sebesar
8,2 persen.

Tahun

DBH

DAU

DAK

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

2009

14,5

15,8

16,9

20,1

22,4

26,7

30,1

34,2

36,1

126,4

190,5

240,7

258,2

277,8

301,2

312,6

340,3

366,1

2,1

3,2

5,6

7,4

9,6

10,3

12,4

14,6

15,2

Dana
Perimbang
an
143,0

209,5

263,0

285,7

309,8

338,2

355,1

389,1

417,4

(persen)

46,50

25,54

8,63

8,44

9,17

4,99

9,57

7,27

Pengeluaran Daerah

Desentralisasi Politik
Desentralisasi Politik merupakan Pelimpahan
kewenangan yang lebih besar kepada daerah yang
menyangkut aspek pengambilan keputusan,
termasuk penetapan standard dan berbagai
peraturan.

Desentralisasi Politik di Sulawesi


Tengah
Pemerintah membuat beberapa local wisdom
atau kearifan lokal untuk menggelorakan
spirit pembangunan. Seperti:
Sistem Politik di Luwuk sudah mengenal
konsep Basalo Sangkep yang
menghendaki agar kekuasaan tidak berada
pada satu lembaga atau kelompok. Basalo
merupakan lembaga yang mengangkat
sekaligus sebagai pengawas raja dalam
melaksanakan tugasnya.

Desentralisasi Politik di Sulawesi


Tengah

Di Kulawi, Kabupaten Sigi atau di sekitar


dataran tinggi Sulawesi Tengah dikenal
konsep Bantaya yang mungkin
memiliki kemiripan dengan meritokrasi
seperti yang dikehendaki Aristoteles
yakni dengan memberikan penghargaan
lebih kepada mereka yang berprestasi
atau berkemampuan untuk menjadi
pemimpin,tidak berdasar padapopuler
voteatauone man one vote one value.

Desentralisasi Politik di Sulawesi


Tengah

Kota Palu dengan Nosarara


Nosabatutu atau lebih
lengkapnyaPolibu Ntodea Nosarara
Nosabatutuyaitu suatu rangkaian
dalam pengambilan keputusan yang
melibatkan orang banyak atau seluruh
komponen masyarakat kota Palu untuk
merajut ikatan kekeluargaan sebagai
dasar bangunan sosial politik yang kuat.

Desentralisasi Politik di Sulawesi


Tengah

Suku Pamona dengan Sintuwu Maroso yang dijadikan


sebagai perekat sosial jika terjadi konflik.
Etnis Lore dan Buol dengan Pakaroho Pohintuvu
Saluan dengan Imbo Momposaanggu Lima
MombangunTano
Suku Balantak dengan Rumpun Pitu Bense Pokok
Bondolong
Suku Lauje dengan Sombo, Ponombo, Sinombo
Suku Mori dengan Koa Luwu Mepae Kompo
Suku Bungku dengan Tepeasa Moroso
Toli-Toli dengan konsep Motongolipu Motimpedes
Magau
Suku Banggai dengan Montolutusa

Desentralisasi
Administratif
Desentralisasi Administratif yaitu pelimpahan
wewenang yang dimaksudkan untuk
mendistribusikan kewenangan, tanggung jawab,
dan sumber-sumber keuangan untuk menyediakan
pelayanan publik.

Desentralisasi Administratif di
Sulawesi Tengah

Salah satu prioritas kebijakan yang diambil


adalah reformasi birokrasi dan tata kelola.
Selain itu, peningkatan kualitas pelayanan
publik dan peningkatan partisipasi
masyarakat dalam penyelenggaraan
pembangunan menjadi arah kebijakan
pemerintah Sulawesi Tengah.
Strategi pengembangan yang dilakukan untuk
mencapai tujuan tersebut dilakukan dengan
diadakannya Program Dukungan Manajemen
dan Pelaksanaan Tugas Teknis lainnya.

Terima kasih