Anda di halaman 1dari 43

Eksistensi Bahasa Indonesia yang Semakin Menurun Seiring Meningkatnya

Minat Bahasa Asing di MAN 2 Kota Bogor

Disusun oleh :
Afif Fadilah
Febbi Meidawati
M. Raziv Tauhid
Zahrah Nur Najmi Laila

Kelas : XI IPA 3

MADRASAH ALIYAH NEGERI 2 KOTA BOGOR


Jalan Raya Pajajaran No. 6 Bogor 16143 Telp. 0251-321417.321740
BOGOR TIMUR
2012

Karya Ilmiah yang berjudul

Eksistensi Bahasa Indonesia yang Semakin Menurun Seiring Meningkatnya


Minat Bahasa Asing di MAN 2 Kota Bogor

Telah dibaca dan disetujui pada Maret 2012

Oleh :

Kepala MA Negeri 2 Kota Bogor,

Pembimbing,

Drs. H. Hawasi, M.Pd

Dra. Mukti Hikmah

NIP. 195903121989031001

NIP. 196902251992032002

MOTTO
Bahasa adalah jiwa bangsa

Kami persembahkan untuk :

Para pahlawan Kusuma bangsa yang telah memperjuangkan bahasa Indonesia

Ayah dan Ibu yang telah mengajarkan untuk mengucap kata pertama

Guru-guru yang telah mendidik kami

Seluruh warga negara Indonesia

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, karena atas izin-Nya, kiranya penulis dapat menyelesaikan penulisan karya ilmiah
ini yang berjudul Eksistensi Bahasa Indonesia yang Semakin Menurun Seiring Meningkatnya
Minat Bahasa Asing di MAN 2 Kota Bogor.
Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecintaan anak Indonesia
terhadap bahasanya sendiri seiring dengan perkembangan bahasa asing di Indonesia. Selain itu,
karya ilmiah ini ditulis untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia juga untuk memperluas
wawasan tentang Bahasa Indonesia. Dengan metode-metode yang cukup dapat diterima berbagai
pihak.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang
telah membantu dalam menyelesaikan penulisan karya ilmiah ini, yaitu kepada :
1. Bapak Drs. H. Hawasi, M.Pd, selaku kepala MAN 2 Kota Bogor.
2. Ibu Dra. Mukti Hikmah, selaku guru pembimbing yang telah banyak membantu
memberikan masukan dan pengarahan kepada penulis, selama penulisan karya ilmiah ini.
3. Orang tua yang telah memberikan doa, bimbingan, dorongan dan bantuan, baik secara
moral, materi, maupun spiritual.
4. Teman-teman yang telah ikut bekerja sama dalam penulisan karya ilmiah ini.
5. Dan semua pihak yang telah membantu penulisan karya ilmiah ini.
Kami menyadari, sebagai pelajar masih perlu banyak belajar dalam penulisan karya ilmiah
ini, sehingga karya ilmiah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran membangun agar karya ilmiah ini lebih baik dan berdaya guna dimasa yang akan
datang.
Harapan kami, semoga karya ilmiah ini dapat lebih berperan serta dalam pembangunan
masyarakat pada kenyataan sehari-hari dan bermanfaat khususnya bagi penulis, umumnya bagi
masyarakat.
Bogor, Maret 2012
Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
ABSTRAKSI
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Metode Penelitian
1.5 Hipotesis
1.6 Waktu dan Lokasi Penelitian
1.7 Sistematika Penulisan
BAB 2 DESKRIPSI UMUM
2.1 Keadaan Wilayah
BAB 3 PEMBAHASAN DAN HASIL PENGAMATAN
3.1 Asal Usul Bahasa Indonesia
3.2 Bahasa Asing
3.3 Penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam Kehidupan Sehari-Hari
Masyarakat Indonesia saat ini
3.4 Proses Pembentukkan Bahasa
3.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan eksistensi bahasa Indonesia saat ini
3.6 Problematika atau Tingkat Kesulitan Belajar Bahasa Indonesia
3.7 Upaya Untuk Menjaga Popularitas Dan Eksistensi Bahasa Indonesia Di Era
Globalisasi Saat Ini
3.8 Peluang Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional
3.9 Alasan Bangga terhadap Bahasa Indonesia
3.10 Hasil Pengamatan
BAB 4 PENUTUP
4.1 Kesimpulan
4.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BIODATA

ABSTRAKSI
Karya ilmiah yang berjudul Eksistensi Bahasa Indonesia yang Semakin Menurun
Seiring Meningkatnya Minat Bahasa Asing di MAN 2 Kota Bogor yang membahas tentang
semakin berkurangnya minat pelajar Indonesia untuk mempelajari bahasanya sendiri, sehingga
bahasa Indonesia menjadi asing di negaranya sendiri.
Tujuan penulisan Karya tulis ilmiah ini adalah untuk mengetahui tingkat kecintaan
pelajar pada bahasanya, faktor penyebab rendahnya kebanggaan terhadap bahasa Indonesia, dan
minat pelajar terhadap bahasa Indonesia dibanding dengan minat bahasa asing.
Metode yang digunakan adalah dengan menyebarkan angket pada seluruh peserta didik
MAN 2 Kota Bogor. Lalu, penyusun juga melakukan pengamatan tentang fenomena yang terjadi
di sekitar dan melakukan studi pustaka mengenai masalah tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar pelajar Indonesia lebih bangga
menggunakan bahasa Indonesia, dikarenakan bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu bagi
mereka.

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Apabila dilihat dari latar belakang sejarahnya, bahasa Indonesia mengalami masa-masa
yang cenderung menurun dan naik. Pada saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda, bahasa
Indonesia jarang sekali digunakan karena di pemerintahan Belanda hanya menggunakan bahasa
Belanda dan bahasa barat (bahasa Inggris). Tetapi, ketika Indonesia dijajah oleh Jepang, bahasa
Indonesia mengalami kemajuan sebab pada saat itu pemerintahan Jepang melarang keras
digunakannya bahasa-bahasa barat, dan bahasa yang boleh digunakan hanya bahasa Indonesia.
Di era proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Soekarno dan Mohamad Hatta
membacakan teks proklamasi dengan bahasa Indonesia. Berita tentang proklamasi tersebut
menyebar hampir ke seluruh penjuru tanah air. Rakyat Indonesia yang mengetahui bagaimana
menggunakan bahasa Belanda, bahasa Melayu, atau bahasa daerah lainnya menyambut dengan
gembira akan proklamsai kemerdekaan Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia lalu
berkata Indonesia merdeka.
Maka, penggunaan bahasa Indonesia saat itu hingga sekarang sudah sesuai dengan citacita proklamasi yaitu terwujudnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan orang Indonesia.
Hal ini diperkuat lagi dengan adanya Sumpah Pemuda yang mengakui bahasa Indonesia sebagai
bahasa nasional.
Namun, saat ini pemakaian bahasa Indonesia mengalami krisis identitas dan mulai
tersisih oleh semakin maraknya pemakaian bahasa asing dan bahasa campuran, baik dalam
forum formal maupun nonformal. Dewasa ini banyak terlihat aneka merek dagang, nama tempat,
nama gedung, pamflet dan kain spanduk yang menggunakan bahasa asing khususnya bahasa
Inggris. Bukan itu saja, struktur teks juga menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan adalah
bahasa Inggris. Misalnya nama hotel, seperti ABC Hotel bukan Hotel ABC. Mereka
mengasumsikan kalau merek dagang dalam bahasa asing atau bercampur dengan kata asing,
daya jualnya lebih besar dan bergengsi. Ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia lambat laun
akan menjadi bahasa nomor dua saja di Indonesia setelah bahasa asing.
Fenomena lain terlihat dengan istilah dari bahasa Inggris lebih sering dipakai dalam hal
yang menyangkut komputer dan peralatan elektronik lainnya. Istilah-istilah seperti software dan

hardware lebih sering digunakan dibanding padan katanya dalam bahasa Indonesia; piranti lunak
dan piranti keras. Istilah telepon genggam juga telah kalah populer dengan handphone. Jika kita
amati, terutama anak muda, ternyata banyak yang masih rabun membaca, gagap berbicara, dan
sulit menulis. Mereka cenderung menggampangkan urusan berbahasa Indonesia. Selain itu,
muncul anggapan bahwa apabila lihai berbahasa Inggris dianggap lebih modern dan lebih
mengikuti arus perkembangan globalisasi dibanding dengan lihai dalam berbahasa Indonesia.
Fenomena yang turut mendukung lainnya adalah kian maraknya sekolah bertaraf internasional
yang mewajibkan siswa menguasai bahasa Inggris dan menjadikan bahasa Inggris sebagai
bahasa pengantar, baik dalam proses seleksi penerimaan siswa baru hingga penyampaian materi
pelajaran sehari-hari.
Sebagai generasi muda penerus bangsa hal ini patut menjadi sebuah tugas besar bagi kita
semua untuk tetap menjaga popularitas dan eksistensi bahasa Indonesia di tengah maraknya
penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari
2.
3.
4.
5.

masyarakat Indonesia saat ini ?


Bagaimana proses suatu bahasa dibentuk dalam suatu masyarakat ?
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penurunan eksistensi bahasa Indonesia saat ini ?
Apa saja kesulitan dalam mempelajari bahasa Indonesia ?
Upaya apa yang bisa dilakukan untuk menjaga popularitas dan eksistensi bahasa Indonesia

sebagai bahasa ibu di Indonesia dalam era globalisasi saat ini ?


6. Adakah peluang bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional layaknya bahasa Inggris ?
7. Mengapa kita harus bangga terhadap bahasa Indonesia ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui persentase penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat Indonesia saat ini
2. Mengetahui mekanisme penerimaan bahasa di suatu daerah
3. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penurunan eksistensi bahasa
Indonesia saat ini
4. Mencari kesulitan-kesulitan dalam mempelajari bahasa Indonesia
5. Mengetahui dan berusaha mempraktikkan berbagai upaya untuk menjaga popularitas dan
eksistensi bahasa Indonesia di era globalisasi saat ini

6. Mengetahui dan berusaha mewujudkan bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional


layaknya bahasa Inggris
7. Mengetahui alasan-alasan bangga terhadap bahasa Indonesia
1.4 Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data dan informasi yang diperlukan, kami menggunakan metodemetode sebagai berikut :
1. Metode Angket merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden, dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal
yang ia ketahui. Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa angket adalah suatu cara
pengumpulan informasi dengan menyampaikan daftar pertanyaan tentang hal-hal yang
diteliti.
2. Data sekunder adalah berupa informasi suatu permasalahan yang diperoleh langsung dari
media cetak maupun elektronik.
3. Metode Observasi ialah melakukan pengamatan langsung ke lapangan mengenai hal yang
akan diteliti untuk mendapat data yang lebih nyata.
4. Metode Studi Pustaka adalah suatu kegiatan mencari informasi dengan cara mencari
sumber dari berbagai media yang berupa bacaan.
1.5 Hipotesis
Penelitian ini dilakukan atas dasar keyakinan dan keingintahuan kami setelah cukup
melakukan pengenalan masalah. Adapun keyakinan atau hipotesis tersebut adalah semakin
rendahnya tingkat kecintaan bangsa Indonesia terhadap bahasa Indonesia akibat meningkatnya
jumlah minat bahasa asing.

1.6 Waktu dan Lokasi Penelitian

Jangka waktu penelitian adalah satu bulan, tepatnya berakhir pada bulan Maret 2012.
Penelitian dimulai dari perumusan masalah, pengumpulan data, pengolahan data, hingga
mencapai hasil penulisan penelitian.
Kami mengambil lokasi yang meliputi seluruh peserta didik MAN 2 Kota Bogor sebagai
sampel dari seluruh pelajar di Indonesia.
1.7 Sistematika Penulisan
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan Penelitian
1.4 Metode Penelitian
1.5 Hipotesis
1.6 Waktu dan Lokasi Penelitian
1.7 Sistematika Penulisan
BAB 2 Deskripsi Umum
BAB 3 Pembahasan dan Hasil Pengamatan
BAB 4 Kesimpulan dan Saran
Pada penulisan karya ilmiah ini, kami akan menjelaskan hasil penelitian di lapangan dimulai
dengan bab pertama. Bab ini mencakup latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, metode penelitian, hipotesis, waktu dan lokasi penelitian serta sistematika penulisan.
Bab kedua, penulis akan menjelaskan secara detail mengenai sejarah bahasa Indonesia,
pengertian bahasa asing, juga perbedaan bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Bab ketiga, penulis akan memaparkan data yang diperoleh dari hasil penelitian dan
membahasnya secara per poin berkaitan dengan merosotnya tingkat kecintaan bangsa terhadap
bahasa.
Bab keempat yaitu bab penutup dalam karya ilmiah ini. Pada bagian ini kami
menyimpulkan uraian sebelumnya dan memberi saran mengenai cara meningkatkan kebanggan
terhadap bahsa Indonesia.
BAB 2

DESKRIPSI UMUM
2.1 Keadaan Wilayah
MA Negeri 2 Kota Bogor adalah salah satu sekolah menengah atas yang berciri khas islam
yang kian eksis di kota Bogor. MAN 2 Kota Bogor berlokasi di Jalan Raya Pajajaran No. 6
Bogor. Lokasi ini sangat strategis karena bersebelahan dengan Masjid Raya Bogor, Terminal
Bus Baranangsiang Bogor, Kebun Raya/Istana Kepresidenan Bogor, pusat perbelanjaan, dan
terletak di ujung jalan Tol Jagorawi. Luas Tanah seluruhnya + adalah 7.500 m 2 dan telah
dimanfaatkan bangunan sebanyak + 6.000 m.

BAB 3

PEMBAHASAN DAN HASIL PENGAMATAN


3.1 Asal Usul Bahasa Indonesia
Anda

pasti

Djoeroe

mengetahui

tentang

Koentji

(dibaca:

ejaan

berikut

juru

Djagoeng

kunci)

(dibaca:

dan

jagung)

sebagainya.

Ejaan tersebut merupakan ejaan masa lampau sebelum ejaan tersebut disempurnakan dan
diresmikan pada tanggal 1 Agustus 1962. Dalam proses evolusinya, Bahasa Indonesia
mengalami berbagai macam peristiwa yang tak jarang memperkaya serta menyempurnakan
bahasa

kita,

bahasa

Indonesia.

Bahasa Indonesia merupakan bentuk dialek baku dari bahasa Melayu yang pokoknya berasal dari
bahasa Melayu Riau yang kemudian dikembangkan oleh tokoh-tokoh kebahasaan Indonesia
hingga menjadi bahasa yang kita kenal sekarang ini. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Hajar
Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah, "jang
dinamakan 'Bahasa Indonesia' jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari
'Melajoe Riaoe', akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet
keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di
seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes
dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia". Atau
seperti yang diungkapkan pada kongres Bahasai Indonesia II tahun 1954 di Medan, Sumatera
Utara, "...bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa
Melaju

jang

disesuaikan

dengan

pertumbuhannja

dalam

masjarakat

Indonesia"

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sudah dengan tegas diikrarkan oleh pemuda
Indonesia pada peristiwa sumpah pemuda. Pada kongres pemuda kedua tanggal 28 Oktober
1928, seluruh pemuda Indonesia sepakat mengikrarkan sumpah pemuda dengan isi sebagai
berikut;

PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang
Satoe, Tanah Indonesia.

KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe,
Bangsa Indonesia.

KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean,


Bahasa Indonesia.

Pada rumusan ketiga jelas disebutkan jika pemuda Indonesia menjunjung bahasa persatuan yaitu
bahasa

Indonesia.

Wujud pengamalan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan antara lain dengan menjadikan
bahasa Indonesia sebagai lambang kebanggaan bangsa serta identitas nasional. Selain itu, wujud
pengamalan lain adalah mempergunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu serta
penghubung budaya, suku, ras serta seluruh bangsa Indonesia baik yang bertempat tinggal di
Indonesia mau pun di negara lain.
Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara terkandung dalam UUD 1945 pasal 36 yang berbunyi
Bahasa

negara

ialah

Bahasa

Indonesia

Perlu juga kita sadari bahwa meski bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu namun bahasa
Indonesia telah mengalami beberapa perbaikan dan perubahan. Bahasa Indonesia kini menjadi
bahasa yang sudah jauh berbeda dari bahasa Melayu. Bisa dikatakan jika bahasa Indonesia
adalah bahasa baru yang hanya dimiliki bangsa Indonesia bukan bangsa yang lain, apalagi
bangsa Melayu. Oleh karena itu mari kita tunjukan sikap bangga serta identitas kita sebagai
warga negara Indonesia dengan menjunjung bahasa kita yang hanya ada satu-satunya di dunia,
bahasa

Indonesia.

Wujud pengamalan atas bahasa Indonesia sebagai bahasa negara antara lain dengan
menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi kenegaraan, bahasa resmi di lingkungan
pendidikan, bahasa media masa, bahasa penunjang perkembangan IPTEK di Indonesia, bahasa
pendukung sastra Indonesia, serta menggunakan bahasa Indonesia untuk melengkapi dan
memperkaya

bahasa

daerah.

Untuk poin terakhir yakni mempergunakan bahasa Indonesia sebagai pelengkap dan pemerkaya

bahasa daerah diwujudkan dengan menyisipkan bahasa Indonesia dalam percakapan-percakapan


mau pun penulisan karangan-karangan yang mana percakapan atau karangan tersebut
menggunakan bahasa daerah. Sebagai contoh adalah menyisipkan bahasa Indonesia dalam
percakapan antar masyarakat Jogja sehari-hari. Karena bahasa Jawa memiliki tingkatan bahasa
yakni ngoko (kasar-penj, yakni bahasa yang dipergunakan sebagai bahasa teman sebaya atau
bahasa dari orang yang lebih tua kepada orang yang lebih muda) dan Krama (Sopan-penj, yakni
bahasa yang dipergunakan oleh orang yang lebih muda atau lebih rendah pangkatnya kepada
orang yang lebih tua, lebih tinggi pangkatnya atau lebih terhiormat) oleh karena itu kadang
beberapa kata dalam bahasa ngoko sulit di-krama-kan, dan bahasa Indonesia dipandang lebih
sopan menggantikan kata tersebut dibanding menggunakan bahasa ngoko.
3.2 Bahasa Asing
Bahasa asing merupakan bahasa yang tidak digunakan oleh orang yang tinggal di sebuah tempat
yang tertentu: misalnya, bahasa Indonesia dianggap sebagai sebuah bahasa yang asing di
Australia.
Bahasa asing juga merupakan sebuah bahasa yang tidak digunakan di tanah air / negara asal
seseorang, misalnya; seorang penutur bahasa Indonesia yang tinggal di Australia boleh
mengatakan bahwa bahasa Inggris adalah bahasa yang asing untuk dirinya sendiri. Walau
bagaimanapun juga, kedua definisi tersebut masihlah kurang meliputi arti 'bahasa asing' secara
keseluruhan. Lagipula, istilah 'bahasa asing' kadang-kadang diterapkan dengan cara yang dapat
menyesatkan orang lain atau yang kurang tepat.
Ada anak yang sejak lahir (atau dari usia yang sangat muda) telah belajar dan piawai
berkomunikasi lebih dari satu bahasa; mereka disebut dengan istilah asing - bilingual
(keterampilan dwibahasa) atau multilingual (fasih dalam banyak bahasa).
Anak-anak seperti ini dianggap memiliki keterampilan dalam dua bahasa ibu; yang dua-duanya
bukan merupakan bahasa asing baginya, walaupun mungkin salah satu bahasa yang dikuasainya
merupakan bahasa yang asing bagi kebanyakan orang lain yang tinggal di tanah air anak
tersebut. Umpamanya, seorang anak yang belajar dan berbicara bahasa Inggris bersama ayahnya

(yang dari Australia) tetapi berkomunikasi dalam bahasa Indonesia di sekolah di Indonesia. Anak
itu berbahasa Inggris dan berbahasa Indonesia, namun kedua bahasa itu tidak asing baginya.
Sesuatu yang dianggap 'asing' bagi seseorang, belum tentu akan dianggap asing bagi orang lain,
termasuk di dalamnya bahasa
Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa asing yang perkembangan penggunanya paling pesat di
dalam masyarakat Indonesia dibandingkan bahasa asing lainnya. Perkembangan penggunaan
bahasa Inggris oleh masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat di kota-kota seperti Jakarta,
Denpasar dan Yogyakarta) dapat dilihat dari maraknya informasi, berita dan pesan yang
disampaikan oleh stasiun televisi swasta, media cetak, iklan-iklan di jalan dan berbagai yang
menggunakan kata serapan berbahasa Inggris, film-film impor berbahasa Inggris, dll, sehingga
secara tidak langsung mendorong masyarakat Indonesia untuk mengetahui dan mempelajari
budaya bangsa lain.
Penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dalam pergaulan sehari-hari oleh
masyarakat Indonesia seringkali dicampur adukan dengan bahasa Indonesia, sehingga struktur
kata bahasa Indonesia tidak dipergunakan secara baik dan benar. Bahasa Indonesia kini tengah
pesatnya menyerap kata-kata serapan dari bahasa Inggris, misalnya : update, sinkronisasi,
standby, diskriminasi, dll dan hal tersebut banyak dipergunakan di kota-kota besar seperti
Jakarta. Penggunaan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya di era-globalisasi kini tidak dapat
terhindarkan oleh masyarakat Indonesia. Era globalisasi, melalui kemajuan teknologi internet, dll
telah berperan besar dalam penyebaran informasi berbahasa asing dan memaksa masyarakat
Indonesia untuk mengetahui dan memahami bahasa asing.
3.3 Penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam Kehidupan Sehari-Hari
Masyarakat Indonesia saat ini
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia
Sepotong bunyi sumpah pemuda di atas mengikrarkan penggunaan bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan. Akan tetapi, itu tahun 1928. Sekarang? Bagaimana status bahasa
Indonesia di kalangan anak muda saat ini ?

Sebagai bangsa, kita sudah sepakat memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu.
Sejak dicetuskan pada 2 Mei 1926 dalam Kongres Pemuda I, dan kemudian disumpahkan pada
28 Oktober 1928, bahasa Indonesia kemudian jatuh-bangun menjadi bahasa komunikasi di
seantero nusantara. Bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, juga bahasa pergaulan sehari-hari.
Di Jakarta orang berbahasa Indonesia, di Ternate pejabat berpidato dengan bahasa Indonesia.
Tua-muda pun berbahasa Indonesia. Oleh negara, bahasa Indonesia ini kemudian dikawal
sedemikian rupa supaya semakin merata dan memenuhi kaidah berbahasa. Ada proses
pembakuan yang sistematis digulirkan. Hasilnya berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan
Yang Disempurnakan (EYD), Tesaurus Bahasa Indonesia, dan rujukan-rujukan berbahasa
Indonesia lainnya, baik keluaran instansi pemerintah seperti Pusat Bahasa, maupun besutan
linguis partikelir. Sampai kini pun belum sempurna benar. Masih banyak cacat bahasa di sanasini yang tak kunjung dilinguisterapi (linguisterapi: terapi berbahasa). Ambil contoh soal k-p-ts yang luruh-tidaknya saat bersetubuh dengan awalan me- masih riuh bergemuruh. Ada yang
bilang seluruhnya luruh, ada yang sahut khusus serapan dari bahasa asing saja yang luruh.
Bahasa Indonesia yang oleh beberapa kalangan diperjuangkan betul kebakuannya tidak akan
membeku. Sebab, kebakuan berbahasa lewat bahasa tulis berpotensi menjauhkan kita dari
orisinalitas berpikir kreatif. Dan ujungnya, bahasa Indonesia akan menjadi momok bagi
penggunanya sendiri.
Bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa yang tidak keren dan tidak adaptif terhadap
perkembangan zaman. Pemuda dan pemudi masa kini lebih akrab menggunakan bahasa Inggris
sebagai bahasa pergaulan dan percakapan. Nginggris dianggap simbol intelektualitas dan bagian
dari globalisasi (atau ketidakpercayadirian menggunakan bahasa Indonesia). Pembelajaran
bahasa Indonesia dianggap selesai ketika berada di bangku sekolah menengah. Alasan yang
sering dikemukakan adalah sebagai orang Indonesia tentu sudah pasti mampu berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Benarkah demikian? Jika kita amati, terutama anak muda,
ternyata banyak yang masih rabun membaca, gagap berbicara, dan sulit menulis. Mereka
cenderung menggampangkan urusan berbahasa Indonesia.
Penggunan bahasa di kalangan pelajar SD justru sangat sopan dan sangat jelas tutur
katanya walaupun masih acak-acakan penempatan bahasa mungkin karena belum terpengarauh
bahasa moderenisasi. Mungkin ketika mereka beranjak kelas 5 dan kelas 6 mulai terlihat bahasa
yang aneh dan mulai memakai kata-kata yang tidak sopan misalya gue dan elu. Mungkin hal ini

disebabkan oleh pengaruh lingkungan tempat tinggal mereka, umumnya mereka menyerap
perkataan orang-orang yang dia lihat maupun mendengar perkatan di televisi karena sekarang
banyak acara-acara televisi yang memasukkan bahasa-bahasa gaul di dalamnya dan mengikuti
tren masa kini. Perkembanga bahasa dikalangan pelajar SD akan terus berkebang sesuai jaman
dan tidak pernah hilang karna zaman terus berkembang dan bahasa pun ikut perkembang. Salah
satu contohnya ada di situs di www.metrotvnews.com, dimana disana dijelaskan bahwa para
pelajar sekolah dasar Malaysia mencabut kebijakan penggunan bahasa Inggris sebagai bahasa
untuk pelajaran matematika dan sains mulai tahun 2012 yang akan datang yang ditetapkan oleh
wakil perdana mentri Malaysia merangkap menteri pendidikan Muhyiddin Yasin yang
mengumumkan kebijakan di Putrajaya pada Rabu (8/7).
Penggunaan bahasa saat ini sangat memprihatinkan, banyak bahasa yang tertinggal
padahal banyak bahasa di Indonesia yang beraneka ragam seperti bahasa Sunda, Jawa, Madura
dan lain-lain, yang kita kenal justru bahasa asing (bahasa Inggris), bahasa yang harusnya kita
kenal dan budayakan makin tertinggal atau malah sudah tidak digunakan lagi.
Fenomena yang terlihat saat ini adalah istilah dari bahasa Inggris masih kerap dipakai
dalam hal yang menyangkut komputer dan peralatan elektronik lainnya. Istilah-istilah seperti
software dan hardware lebih sering digunakan dibanding padan katanya dalam bahasa Indonesia;
piranti lunak dan piranti keras. Istilah telepon genggam juga telah kalah populer dengan
handphone. Beberapa istilah asing yang populer dalam dunia perdagangan adalah;
entrepeneurship yang menggusur kata kewirausahaan, writerpeneurship yang menggantikan
istilah kepenulisan, franchise yang menggeser padan katanya; waralaba, delivery service yang
lebih populer dibanding layanan antar, dan masih banyak contoh lainnya.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa hampir seluruh tayangan berbahasa asing selain bahasa
Inggris akan disulihsuarakan ke dalam bahasa Indonesia. Sementara mayoritas tayangan yang
menggunakan bahasa Inggris tetap ditayangkan dalam bahasa aslinya disertai dengan teks
berbahasa Indonesia. Ini menimbulkan pertanyaan di diri kita, apa keistimewaan yang dimiliki
bahasa Inggris sehingga mendapat perlakuan istimewa seperti ini? Anggapan bahwa bahasa
Inggris adalah bahasa dunia mungkin saja menjadi salah satu penyebabnya. Hanya saja ini hal ini
tampaknya ditelan mentah-mentah oleh praktisi pertelevisian. Karena akibat jangka panjangnya
adalah munculnya rasa inferior dari penonton terhadap bahasanya sendiri, bahasa Indonesia. Di

sisi lain penonton juga akan terkooptasi dengan pikiran bahwa bahasa Inggris adalah bagian tak
terpisahkan dari kemajuan dan modernitas.
Fenomena tentang keironisan bahasa Indonesia juga terlihat dalam dunia pendidikan saat
ini. Mayoritas pelajar di negeri ini tidak lulus Ujian Akhir Nasional (UAN) karena mendapat
nilai rendah pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebaliknya, mereka justru mendapat nilai
tinggi untuk mata pelajaran bahasa Inggris. Ironisnya, fenomena ini terjadi di hampir seluruh
sekolah di Indonesia. Tak ayal, beberapa pihak yang terkait pun saling tuding, seakan mau lepas
tangan terhadap masalah ini. Satu hal yang nyata dan dirasakan betul oleh masyarakat adalah,
bahwa seseorang yang piawai berbahasa Indonesia tidak membuat mereka tenang dalam karir
dan pekerjaan. Sebaliknya, orang yang menguasai bahasa Inggris akan mudah dalam karirnya.
Mungkinkah ini akibat globalisasi? Tapi apakah kita harus menyerah dengan globalisasi yang
justru kemudian mengorbankan bahasa sendiri? Tentunya tidak demikian.
Pemerintah harus mencari program dan aplikasinya agar siswa yang pandai dalam
pelajaran bahasa Indonesia mendapatkan karir yang baik selepas pendidikan mereka. Jika perlu,
hendaknya pemerintah menyediakan program beasiswa khusus bagi mereka yang meraih nilai
tinggi dalam pelajaran bahasa Indonesia.
Di sisi lain, masyarakat kita sendiri justru lebih merasa bangga jika anaknya pandai dalam
pelajaran bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Banyak orangtua yang meminta anaknya
untuk kursus tambahan bahasa Inggris. Tidak hanya itu, orangtua yang mampu cenderung lebih
memilih anaknya bersekolah ke sekolah yang bertaraf internasional, salah satu tujuannya tentu
saja untuk menunjang kemampuan berbahasa Inggris anak-anak mereka.
Pemerintah bisa saja berdalih bahwa keberadaan sekolah-sekolah bertaraf internasional itu demi
meningkatkan mutu pendidikan nasional. Namun, mengapa bahasa Inggris yang justru dijadikan
unggulan. Ke mana bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa?
Masalah utamanya, adalah; siswa mempelajari bahasa Inggris di Indonesia tanpa tujuan
yang jelas. Untuk berkomunikasi? Untuk ke luar negeri? untuk nilai?
3.4 Proses Pembentukkan Bahasa
Setiap makhluk hidup memerlukan interaksi baik dengan diri sendiri, orang lain, sistem maupun
lingkungan sekitarnya. Interaksi tersebut dibangun dengan kontak dan komunikasi antar obyek

yang berbeda. Dalam hal berkomunikasi manusia membutuhkan bahasa sebagai media
berkomunikasi. Tak akan bisa kita bayangkan jika di dunia ini tidak ada yang namanya bahasa.
Bagaimana manusia hidup? Bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidupnya? Bagaimana
manusia berpikir? Karena proses berpikir pun membutuhkan bahasa, dan sebagainya.
Bahasa terbentuk akibat dari proses pembentukan dan pengembangan kebudayaan manusia.
Manusia zaman dahulu mengembangkan bahasa mulai dari bahasa paling sederhana hingga
menjadi bahasa yang kompleks atau bahasa modern dengan tambahan kosa kata yang semakin
beragam. Bahasa berkembang mulai dari isyarat-isyarat tubuh, bunyi-bunyi khusus hingga
menjadi

isyarat

dan

bunyi

yang

terstruktur.

Efek samping kebahasaan adalah budaya menulis. Kini bahasa tak hanya dipraktekan melalui
gerakan dan isyarat namun bahasa dituangkan dalam kegiatan menulis. Menulis adalah suatu
proses berkomunikasi dan berinteraksi kepada diri sendiri maupun antar individu yang
dituangkan dalam suatu media konkret yang dikarenakan oleh suatu kondisi tertentu.
Bahasa juga membantu seseorang berpikir. Ketika berpikir, manusia berbicara pada dirinya
sendiri. Ia menanyakan kepada dirinya sendiri mengenai suatu hal yang ia pikirkan. Misalnya
ketika pak Karman hendak membeli apel, maka pak Karman akan berpikir dengan cara bertanya
kepada dirinya sendiri; Di mana kios aple yang murah? Apakah saya harus membeli apel hijau
atau apel merah? Jika terpaksa apelnya habis maka apa yang akan saya lakukan selanjutnya? dan
sebagainya.
Pada masa pemerintahan orde baru penggunaan bahasa non baku sangat dibatasi. Terutama di
media-media. Pada masa itu, pemerintah hampir tidak memberikan ruang gerak bagi bahasa
daerah di televisi, ini menegaskan seakan-akan pemerintah benar-benar memperjuangkan
nasionalisme dengan salah satu cara yakni diwujudkan dengan mencintai bahasa nasional, bahasa
Indonesia. Akibatnya jelas, bahasa Indonesia hampir tak bergeser kedudukannya di masyarakat.
Kini justru dimasa reformasi dimana pembatasan berpendapat dan berekspresi sudah dihapuskan,
sedikit demi sedikit posisi bahasa Indonesia di masyarakat mulai bergeser dan digantikan bahasa

gaul yakni bahasa yang tercipta dari akulturasi bahasa Indonesia dengan bahasa prokem yang
kini tengah berkembang pesat.
Saat ini hampir semua tayangan di media televisi menggunakan bahasa prokem yang mana asal
mulanya adalah bahasa sandi kaum preman. Kalau pun ada yang menggunakan bahasa baku,
paling hanya sebatas pada program berita dan kartun impor yang dialih bahasakan. Namun
bagaimana dengan sinetron asli Indonesia? Sinetron-sinetron yang kini marak di Indonesia justru
lebih suka memilih bahasa non baku sebagai bahasa pengantar cerita. Padahal tak sedikit anakanak di bawah umur menyaksikan sinetron-sinetron tersebut. Kalau hal ini dibiarkan terusmenerus, bukan mustahil kalau anak-anak tersebut di masa depan menjadi awam dengan bahasa
nasional kita dan merasa acuh untuk melestarikannya. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya
jiwa nasionalisme sehingga berkuranglah rasa cinta bangsa kepada negara.
Selain itu kebanyakan MC atau pembawa acara program di televisi pun tak mau ketinggalan.
Dengan dalih bahwa program tersebut adalah programnya remaja, mereka kesampingkan bahasa
Indonesia. Mereka lebih suka menggunakan bahasa gaul. Bahkan tak sedikit di antara pembawa
acara tersebut yang tidak mampu sama sekali berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Pemerintah pun seakan tutup mata menyaksikan hal ini. Entah dengan dalih kebebasan
berpendapat atau berekspresi, pemerintah tak lagi ambil pusing mengenai masalah ini.
Penggunaan bahasa gaul dan bahasa prokem sudah tidak dibatasi. Bahkan kini bahasa tersebut
tak hanya berkembang di media televisi saja namun mulai meracuni dunia cyber yang kini
tengah digandrungi remaja.
Kalau sudah begini, apakah kita akan diam saja? Tentunya sebagai bangsa Indonesia sejati, kita
akan katakan tidak! Menghadapi isu pengklaiman produk budaya bahkan lambang identitas
nasional ini, pemerintah diharuskan lebih tegas dan gesit untuk menepis serangan ini. Kalau
perlu, tegur siapa saja yang berani mengusik kedaulatan dan kebudayaan Indonesia. Kemudian
patenkan seluruh produk budaya Indonesia yang ada, kalau perlu diundang-undangkan juga agar
masyarakat Indonesia lebih menghormati dan menghargai bahasanya. Jangan adalagi kasus
seperti ini yang seolah-olah menempatkan Indonesia sebagai anak bawang (baca: pecundangnya)
Asia Tenggara.

Selain itu, tidak ada salahnya mengadopsi beberapa sistem pemerintahan orde baru. Misalnya
dari sisi ketegasannya. Karena ketegasan Suharto, tidak ada bangsa lain yang berani mengusik
Indonesia pada masa itu. Kedaulatan Indonesia diakui dunia Internasional. Tidak ada intervensi
asing selain atas izin kepala negara. Dan yang terpenting tidak ada produk budaya Indonesia
yang diklaim bangsa lain.
Masyarakat Indonesia terutama pemuda Indonesia juga seharusnya tidak tinggal diam. Jangan
hanya berteriak-teriak menghujat bangsa lain yang sudah merampas produk budaya kita saja,
namun segeralah introspeksi dan lihat kepada diri sendiri apakah kita sudah menghargai budaya,
bahasa dan bangsa kita. Selain itu, tingkatkan kepedulianmu dengan cara melestarikannya. Jaga
budaya kita, jaga bahasa kita jangan dikemudian hari malah merengek-rengek memohon barang
milik kita yang diakui oleh bangsa lain padahal kita sendiri jarang menjaganya.
Selain itu, menjaga agar hubungan bilateral tetap berjalan baik juga adalah salah satu cara
menjada warisan luhur kebudayaan Indonesia. Karena tak sedikit masalah intervensi dan
penekanan-penekanan terjadi akibat hubungan bilateral yang kurang baik.
Karenanya, mari besama kita lestarikan budaya kita, kita lestarikan bahasa kita. Agar di
kemudian hari tidak ada lagi isu serupa. Segera patenkan bahasa Indonesia dan jagalah ia karena
itu merupakan cita-cita dan janji setia pemuda Indonesia sejak dulu hingga sekarang.
3.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan eksistensi bahasa Indonesia saat ini
Bahasa Indonesia telah ditetapkan oleh UUD 1945 menjadi bahasa negara. Di beberapa
negara, bahasa Indonesia telah dipelajari. Namun, tidak berarti bahwa keberadaan bahasa
Indonesia bukan tanpa masalah.
Pada 2010, kita membaca berita bahwa banyak ketidaklulusan siswa SMA/MA/SMK
dalam ujian nasional disebabkan oleh kegagalan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Fakta
itu menunjukkan bahwa mutu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia amat rendah sehingga tidak
mampu memberi kemampuan minimal untuk bisa lulus.

Perlu dikaji apakah hal itu terjadi karena kurikulum yang ada atau memang karena
rendahnya mutu guru. Pelajaran Bahasa Indonesia tak mendapat perhatian memadai dari siswa
dan juga guru-guru. Jarang kepala sekolah yang memperhatikan rendahnya angka siswa dalam
ujian nasional mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Salah satu faktor yang mengganggu perkembangan bahasa Indonesia ialah pengaruh
bahasa gaul. Kalau itu dilakukan dalam bahasa lisan, SMS, Twitter, atau dalam pertunjukan di
panggung dan televisi, masih bisa kita pahami. Namun, ternyata di dalam tugas mahasiswa dan
makalah juga digunakan bahasa gaul semacam itu.
Kalau praktik semacam itu terus dibiarkan, kita khawatir kemampuan berbahasa
Indonesia yang baik dan benar oleh para tamatan universitas akan menurun. Kalau hal tersebut
terus terjadi, bukan tidak mungkin suatu hari kelak kita sulit memahami laporan yang ditulis oleh
para sarjana lulusan perguruan tinggi di negeri ini.
Kebiasaan buruk lain ialah kegemaran menyerap bahasa asing, khususnya Inggris, di
dalam percakapan sehari-hari atau pidato oleh para pejabat, termasuk (maaf) oleh Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan untuk kata-kata yang sudah ada dalam perbendaharaan
bahasa Indonesia, kita juga memakai kata-kata Inggris. Misal kata klir dalam kalimat,
Masalah itu sudah klir. Bukankah kita bisa memakai kalimat, Masalah itu sudah jelas. Kita
tentu tidak bisa menghindar dari menyerap kata asing, tetapi hendaknya hal itu dilakukan jika
memang benar-benar terpaksa.
Rendahnya minat terhadap bahasa Indonesia sedikit banyak akan berpengaruh terhadap
minat baca. Studi 0rganization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2006
menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak Indonesia baru mencapai angka 392, jauh
di bawah kemampuan rata-rata negara-negara OECD yang ada di angka 492.
Banyak hal yang sebenarnya menjadi penyebab mengapa bahasa Indonesia seakan
menjadi orang asing di negeri sendiri. Pertama, citra penggunaan bahasa Inggris dianggap identik
dengan kemajuan, modernitas, kecanggihan, dan gaya hidup masa kini. Hal ini diperparah
dengan fakta bahwa sebagian besar konsumsi produk teknologi masih bergantung pada produk
luar negeri.

Karena bahasa yang umum digunakan komputer, piranti lunak, telepon genggam, serta
berbagai produk lainnya adalah bahasa inggris maka penggunaan bahasa Indonesia tak terpakai
di produk tersebut. Hal ini sudah berlangsung sangat lama. Sehingga meskipun produk teknologi
yang menggunakan bahasa Indonesia telah diluncurkan, seperti sistem operasi komputer
Windows versi bahasa Indonesia, namun produk itu kalah karena pemakaian bahasa Inggris
dibidang teknologi terlanjur melekat di hati penggunanya. Kita lihat download lebih populer
dibanding unduh dan misscall lebih populer dibanding panggilan tak terjawab.
Akhirnya berbagai pihak beramai-ramai menggunakan bahasa Inggris agar dianggap
modern, maju, canggih, dan trendi. Bahasa Inggris tak hanya diselipkan dalam percakapan baik
formal maupun informal. Melainkan juga dipakai sebagai istilah dalam dunia pendidikan,
teknologi komunikasi, dan perdagangan. Sebagian besar istilah asing tersebut tetap digunakan
kendati sudah ada padan katanya dalam bahasa Indonesia.
Kedua, kini anak-anak telah diperkenalkan bahasa asing dalam usia yang sangat dini.
Bahasa Inggris tak hanya diajarkan mulai kelas 1 SD. Di beberapa TK juga telah diajarkan
bahasa Inggris. Bahkan ada pula bahasa Mandarin dan bahasa Jerman di beberapa TK lainnya.
Akibatnya mereka kehilangan kesempatan untuk lebih dekat dengan bahasa Indonesia dan
bahasa daerahnya. Padahal di usia yang sangat dini perlu ada penanaman rasa cinta terhadap
bangsa dan negara. Dan hal itu tentu tidak bisa dilakukan tanpa pembelajaran bahasa Indonesia
secara intensif.
Faktor ketiga adalah belum adanya undang-undang yang mengatur kaidah tata bahasa
dengan jelas. Kini formalitas hukum mengenai tata bahasa nasional mutlak diperlukan. Hal itu
disebabkan perkembangan teknologi informasi yang mencapai taraf komunikasi antar bahasa dan
budaya tanpa batas ruang dan waktu. Selain itu pemaksaan globalisasi kepada seluruh negara di
dunia juga berpotensi mengancam bahasa nasional. Tanpa undang-undang kebahasaan, infiltrasi
bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia akan makin gencar dan menjadi-jadi. Bukankah
kedaulatan Indonesia sudah digempur dari segala lini? Kita sudah tak memiliki kedaulatan
pangan, kedaulatan pertahanan militer, juga kedaulatan ekonomi. Jadi bukan suatu hal yang
mustahil kelak kedaulatan bahasa akan bobol dan bahasa Indonesia punah karena tidak kita
lindungi dan lestarikan.
Pelajaran dan pengajaran bahasa dan sastra di sekolah-sekolah dan juga di universitasuniversitas harus dievaluasi ulang. Selama ini mayoritas praktek pendidikan bahasa dan sastra

hanya berkutat pada hapalan dan latihan soal saja. Peserta didik tidak diajari untuk mengenal
karya sastra, memahaminya, dan membuat karya sastranya sendiri. Selama ini peserta didik
hanya diarahkan untuk mencetak skor atau nilai dalam Rapor dan ujian-ujian. Inilah yang keliru.
Bahasa dan Sastra tidak sama dengan Matematika dan Fisika. Karenanya tidak bisa dan tidak
boleh diperlakukan sama dengan pelajaran eksakta lainnya. Hendaknya dalam hal bahasa, selain
diajarkan materi-materi bahasa, peserta didik seharusnya dilibatkan dalam banyak praktek
ataupun pengamatan langsung. Misalkan peserta didik diputarkan rekaman pidato Soekarno. Bisa
juga difasilitasi dengan pengadaan lomba-lomba terkait bahasa Indonesia, seperti lomba menulis
essei, lomba pidato, lomba debat, maupun lomba-lomba lainnya yang memotifasi peserta didik.
Sedangkan dalam hal sastra, peserta didik hendaknya dikenalkan pada karya-karya sastra
bermutu milik anak bangsa. Dikenalkan bukan berarti hanya sebatas pada melihat sekelumit
cerita dan latar belakangnya namun diajak untuk membaca secara penuh karya sastra tersebut.
3.6 Problematika atau Tingkat Kesulitan Belajar Bahasa Indonesia
Tidak lama lagi murid SMA dan SMP menghadapi ujian nasional sebagai evaluasi
pembelajaran di sekolah. Dengan segala usaha para peserta didik ini mulai meningkatkan jam
belajarnya dengan melakukan belajar privat ataupun mengikuti bimbingan belajar di luar jam
sekolah.
Ketuntasan ujian nasional menjadi tujuan akhir dalam pembelajaran di tingkat sekolah
formal. Ujian nasional menjadi area parade bagi para siswa untuk mengecap sebanyak mungkin
soal-soal dalam materi pelajarannya. Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah banyaknya
persoalan dihadapi oleh peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal latihan atau try out, di
antaranya soal-soal yang tingkat kerumitannya terlalu tinggi, bahasa yang digunakan dalam soalsoal sulit dipahami, tidak sinkronnya kunci jawaban yang ada di buku dan kasus yang ada dalam
soal, serta banyak lagi yang lainnya. Hal yang sama juga terjadi dalam materi Bahasa Indonesia.
Idiom Tak Kenal Maka Tak Sayang mungkin dapat dipakai melihat problematika
bahasa Indonesia dalam tataran sekolah formal. Banyak kritikus atau pemerhati bahasa melihat
permasalahan nilai bahasa Indonesia sebagai dampak globalisasi yang mendudukan bahasa
Indonesia di posisi inferior di bawah bahasa asing, khususnya bahasa Inggris.
Hal ini memungkinkan bahasa Indonesia mengalami degradasi nilai akhir dalam ujian
nasional dalam beberapa tahun belakangan ini. Paradigma ini sesungguhnya tidak sepenuhnya

salah, akan tetapi hal ini juga perlu dikritisi kembali. Sejatinya, polemik apa yang terjadi dalam
dunia berbahasa Indonesia saat ini?
Kemampuan penguasaan bahasa Indonesia siswa SMP dan SMA masih rendah.
Kompetensi bahasa Indonesia siswa masih kurang baik, karena yang terjadi adalah penurunan
dan bukan peningkatan dari tahun sebelumnya. Data Puspendik Nilai Rata-rata Ujian Nasional
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tahun 2006, 2007, dan 2008 yang dikutip Baedhowi
mengungkapkan kenyataan itu.
Tingkat SMP, nilai rata-rata bahasa Indonesia tahun 2006 adalah 7,46, tahun 2007 turun
menjadi 7,39, dan tahun 2008 turun 7,00. SMA Bahasa nilai rata-rata 2006, 2007, 2008 adalah
7,40; 7,08; 6,56 . SMA IPA tahun 2006 nilai rata-rata 7,90, tahun 2007 rata-rata 7,56, dan tahun
2008 rata-rata 7,60. Sedangkan SMA IPS nilai rata-rata UN bahasa Indonesia 7,26 (2006), 6,95
(2007), dan 6,95 (2008).
Menilik dari hasil nilai bahasa Indonesia pada ujian nasional sebelumnya, nilai bahasa
Indonesia dua tahun belakangan ini mengalami penurunan dibanding mata pelajaran lainnya.
Fenomena ini mendeskripsikan jika bahasa Indonesia memiliki tingkat kesulitan yang sama atau
mungkin lebih sulit dibanding matematika atau bahasa Inggris. Nilai ujian nasional pada mata
pelajaran bahasa Inggris tahun pembelajaran 2009-2011 bahkan bisa melewati perolehan nilai
bahasa Indonesia jika ditarik secara general di seluruh Indonesia. Mengapa hal ini dapat terjadi?
Pertama, penulis berpendapat jika soal-soal materi bahasa Indonesia (sengaja) dibentuk
dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Opsional pemilihan dalam soal-soal pilihan ganda
didominasi oleh opsional yang mirip antara satu opsional dengan opsional lainnya. Dengan dalil
meningkatkan kekritisan dan kecermatan siswa, tipe soal seperti ini menjadi khas dalam
pelajaran bahasa Indonesia. Hal inilah yang menciptakan kondisi yang serba membingungkan
dalam diri para siswa ketika akan menjawab soal-soal bahasa Indonesia.
Kedua, adanya paradigma bahasa itu fleksibel yang diutarakan dan disetujui oleh para
guru bahasa Indonesia membentuk wacana yang salah terhadap perkembangan pembelajaran
bahasa Indonesia itu sendiri. Paradigma ini menjadi pembenaran jika bahasa Indonesia
bergantung pada selera guru bahasa Indonesia masing-masing.

Ironisnya, selera bahasa Indonesia pada tiap gurunya berbeda-beda. Hal ini berdampak pada
tidak adanya kesepahaman yang sama mengenai persoalan bahasa Indonesia antarsesama guru.
Bahasa Indonesia menjadi asing di negerinya sendiri.
Hal ini dilanggengkan dengan paradigma guru yang seolah-olah menerima dan
menyetujui jika Bahasa Indonesia bersifat relatif dan multitafsir. Hasilnya tentu saja berjalan
lurus dengan nilai ujian bahasa Indonesia yang berada di bawah bahasa Inggris.
Paradigma yang dikembangkan oleh sebagian guru bahasa Indonesia ini menciptakan
black hole yang berdampak buruk bagi pembelajaran bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia
memang memiliki fleksibilitas.
Akan tetapi, fleksiblitas di sini adalah fleksibilitas yang disesuaikan dengan konteks dan
kooteks wacana dari teks atau peristiwa bahas tersebut. Hal ini sesungguhnya tidak terjadi dalam
varian soal-soal yang dikerjakan oleh para siswa.
Adanya perbedaan asumsi terhadap sebuah soal dari guru bahasa Indonesia yang satu dan
guru bahasa Indonesia lainnya membentuk pembenaran guru tidak memiliki waktu mengkritisi
soal. Akhirnya, penggunaan kunci jawaban yang tertera pada buku-buku latihan soal dan try out
menjadi solusi yang dilakukan guru. Padahal, belum tentu kunci jawaban tersebut merupakan
jawaban yang paling relevan.
Guru bahasa Indonesia seolah-olah menjadi seragam dengan paradigma fleksibilitas
bahasa, bahwa perbedaan pendapat dalam menangani persoalan bahasa Indonesia wajar terjadi.
Para guru seperti inilah yang kerap membingungkan murid. Tanpa diberikan argumentasi yang
logis, para guru bahasa Indonesia selalu menyelesaikan soal-soal latihan dan try out ujian
nasional berdasarkan subjektivitas masing-masing.
Hal ini seolah-olah memberikan gambaran jika bahasa Indonesia tidak memiliki
objektivitas. Para siswa kerap diposisikan sebagai objek pendengar yang selalu mengamini
jawaban gurunya yang kebanyakam akan berbunyi Ini sudah mengikuti kunci jawaban yang ada
dalam buku. Sebuah pemikiran yang sesungguhnya patut dikritisi.
Jadi, paradigma fleksibilitas bahasa yang diterima para siswa di kelas akan menutup
kemungkinan murid mengkritisi soal-soal yang ada di hadapan mereka. Hal ini merupakan
dampak paradigma guru yang sering berorientasi pada kunci jawaban yang ada dalam buku tanpa
mengkritisinya dahulu. Jika salah, para guru-guru ini akan melancarkan argumentasi yang
filosofis, jika bahasa itu bersifat multitafsir.

Untuk menyikapi hal ini, perlu dilakukan sebuah pembentukan kesadaran dalam diri
guru-guru bahasa Indonesia untuk kembali membaca materi-materi bahasa Indonesia yang telah
didapat di bangku kuliah. Adanya kerendahan diri guru bahasa Indonesia untuk membaca ulang
materi, membaca kritis setiap soal-soal latihan ataupun soal-soal try out ujian nasional akan
mengikis paradigma yang selama ini telah berkembang.
Sesungguhnya, jika para guru mau kritis, soal-soal yang yang rata-rata ada dalam bukubuku Latihan Soal Menempuh UN atau try out-try out di sekolah adalah ranah bahasa
Indonesia yang hanya meliputi gramatika bahasa Indonesia saja, kecuali bidang sastra.
Tidak ada soal-soal yang bertipe analisis wacana kritis. Soal-soal bahasa Indonesia
cenderung melihat aspek-aspek bahasa Indonesia yang semuanya telah diformulasikan dalam
Tata Baku Bahasa Indonesia dan sintaksis bahasa Indonesia.
Pembelajaran bahasa Indonesia tidak selalu berorientasi pada nilai UN saja. Jika para
guru bahasa Indonesia enggan untuk membaca ulang materi dan soal-soal yang diterima oleh
para siswa, dampak terburuk bukanlah ketidaklulusan para siswa dalam UN.
Dampak terburuk dari sikap guru bahasa Indonesia yang tidak kritis dan selalu mengacu
pada kunci jawaban yang ada di buku adalah pembentukan rasa skeptis, rasa malas, dan rasa
jenuh dalam diri para siswa terhadap bahasa Indonesia. Pembentukan inilah yang membentuk
sebuah dimensi baru dalam generasi Indonesia saat ini, yaitu lebih mudah dan lebih prestise
mempelajari bahasa asing daripada bahasa Indonesia.
Jadi, tidak mengherankan jika paradigma yang terjadi saat ini adalah bahasa Indonesia
menjadi bahasa asing dalam negerinya sendiri.
3.7 Upaya Untuk Menjaga Popularitas Dan Eksistensi Bahasa Indonesia Di Era Globalisasi
Saat Ini
Dari tiga butir Sumpah Pemuda, mungkin sumpah ketiga yang tidak banyak mengandung
masalah.
Kita bertekad bahwa sebagai putra dan putri Indonesia, kita akan menjunjung tinggi bahasa
persatuan, bahasa Indonesia. Tampaknya butir ketiga dari Sumpah Pemuda itulah yang masih
tersisa dari ketiga butir Sumpah Pemuda. Memang ada sejumlah masalah dalam perkembangan
bahasa Indonesia, tetapi secara keseluruhan masih bisa dianggap baik.

Salah satu upaya menjaga eksistensi bahasa Indonesia adalah adanya undang-undang kebahasaan
yang efektif, undang-undang itu setidaknya memuat lima hal. Pertama, pengaturan mengenai
penggunaan bahasa Indonesia sesuai EYD dan koridornya. Kedua, paraturan penggunaan bahasa
Indonesia dalam media mass. Ketiga, peraturan menyangkut penempatan penggunaan bahasa
asing. Keempat, perlindungan terhadap bahasa daerah. Kelima, perlakuan khusus di bidang
kesenian.
Pengaturan penggunaan bahasa Indonesia sendiri menyangkut beberapa aspek. Pertama,
pengunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar wajib dipraktekkan dalam semua lingkungan
dan aktfitas formal. Lingkungan tersebut mencakup semua institusi pendidikan, tempat kerja,
serta fasilitas-fasilitas umum.
Kedua, pengaturan penggunaan bahasa Indonesia dalam media massa. Sebagai alat
komunikasi yang menyeluruh, media massa jelas merupakan penentu keberlangsungan suatu
bahasa. Karenanya media massa harus dirangkul, didisiplinkan, serta dijadikan instrumen
pengawal dan pelestari bahasa Indonesia. Dalam penjelasan yang lebih rinci ada beberapa hal
yang harus diterapkan pada media massa di Indonesia. Hal itu terdiri dari pengaturan bahasa
Indonesia pada semua media cetak dan acara televisi bersifat formal, pembatasan iklan berbahasa
asing, serta penghapusan sikap pengistimewaan bahasa Inggris dalam tayangan asing.
Ketiga, penempatan pendidikan bahasa asing dalam kaidah yang benar. Televisi selalu
menampilkan tayangan yang jor-joran dalam menyelipkan bahasa asing (dalam hal ini bahasa
Inggris). Namun sangat jarang atau bahkan tidak pernah menampilkan pendidikan bahasa asing
sebagai salah satu tayangannya. Akibatnya muncul banyak bahasa Inggris salah kaprah yang
disebut bahasa Inggris setengah matang dalam cergam Lagak Jakarta. Bahasa Inggris akhirnya
hanya dipakai sebagai pemoles bahasa pergaulan sehari-hari untuk menunjukkan bahwa
pembicara adalah orang yang maju meski tidak jelas maju kemana. Inilah yang harus diubah.
Tiap stasiun televisi setidaknya harus menayangkan setidaknya satu program pendidikan bahasa
asing. Dengan pendidikan yang benar, masyarakat akan mampu menguasai bahasa asing tanpa
harus selalu berbahasa asing. Ini dibuktikan dengan KH Agus Salim yang meskipun menguasai
lima bahasa tidak serta merta selalu berbahasa asing. Ia bahkan menjunjung tinggi bahasa
Indonesia.
Keempat, harus ada perlindungan khusus terhadap bahasa daerah. Jangan sampai
keanekaragaman daerah yang salah satunya berupa bahasa daerah tergerus oleh hal-hal baru yang

masuk dari luar. Ini bisa diterapkan dengan pengoptimalan pengajaran bahasa daerah melalui
pelajaran muatan lokal (Mulok). Wewenang pengajaran bahasa daerah melalui mulok ini
sebaiknya didesentralisasikan dengan diserahkan ke tiap kota, bukan sentralistik dengan
ditentukan oleh pusat maupun provinsi. Karena walaupun sudah berada pada provinsi yang sama,
Jawa Timur misalnya. Bahasa Jawa yang dipakai di Surabaya lain dengan bahasa Jawa yang
dipakai di Malang maupun di Blitar. Karena bentuknya mulok maka bahasa daerah ini tak perlu
diujikan dan hanya bertujuan pembelajaran agar anak didik tidak tercerabut dari budaya
daerahnya.
Kelima, harus ada pengaturan khusus untuk bidang kesenian. Kreatifitas seniman tidak
boleh dibelenggu dengan peraturan kebahasaan ini. Meski harus diakui saat ini semakin banyak
musisi yang menggunakan bahasa Inggris dalam lirik lagunya, baik hanya menyelipkan atau
menggunakan dengan penuh. Hal semacam ini cukup diarahkan dengan membentuk organisasiorganisasi kesenian yang mengarahkan seniman-seniman Indonesia. Selain itu untuk mendorong
kecintaan terhadap bahasa Indonesia, harus ada penghargaan untuk seniman-seniman (terutama
musisi karena karya-karya musisi yang sering diterima secara luas oleh masyarakat) atas
konsistensi mereka menggunakan bahasa Indonesia dan keberhasilan mereka membuat lirik yang
bagus dari bahasa Indonesia. Musisi-musisi yang pantas diganjar penghargaan ini antara lain
Efek Rumah Kaca dan Koil.
Upaya lain untuk menanamkan rasa kecintaan terhadap bahasa kebangsan itu, antara lain,
dilakukan melalui peningkatan mutu kampanye penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan
benar ke seluruh lapisan masyarakat dengan pendekatan dan metode yang sesuai dengan
perkembangan zaman. Upaya perluasan penggunaan bahasa Indonesia ke luar masyarakat
Indonesia merupakan langkah memperbaiki citra Indonesia di dunia internasional melalui
peningkatan mutu pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA), yang pada
gilirannya akan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa perhubungan luas di dunia
internasional.
3.8 Peluang Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional
Ditengah pesatnya bahasa asing yang masuk ke Indonesia, bangsa Indonesia sebenarnya
masih memiliki peluang untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang sejajar dengan
bahasa-bahasa lainnya, seperti bahasa Inggris dan bahasa Cina. Potensi tersebut dapat dilihat dari

penduduk masyarakat Indonesia yang berjumlah sekitar 230 juta jiwa. Namun potensi jumlah
penduduk Indonesia yang besar tersebut akan sia-sia bila tidak adanya kesadaran dan
kebanggaan masyarakat Indonesia untuk menggunakan, mengembangkan dan mempromosikan
bahasa Indonesia seperti apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Cina.

Bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa ASEAN

SEMARANG, KOMPAS.com--Pakar bahasa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP)


PGRI Semarang, Dr. Suwandi menilai, bahasa Indonesia potensial dijadikan sebagai bahasa
resmi ASEAN dengan segala keunggulan yang dimiliki.
"Kalau dari gramatikal, bahasa Indonesia relatif lebih mudah dipahami dibandingkan bahasa lain,
misalnya bahasa Inggris," katanya, di Semarang, Kamis, menanggapi wacana bahasa Indonesia
jadi bahasa resmi ASEAN.
Dalam bahasa Indonesia, kata dia, tidak mengenal perbedaan waktu seperti halnya bahasa Inggris
yang membedakan susunan gramatikal kata antara sesuatu yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan
belum akan terjadi.
Menurut dia, kepraktisan bahasa Indonesia itu menjadi salah satu keunggulan yang memudahkan
setiap orang untuk mempelajarinya, apalagi untuk masyarakat yang tinggal di negara-negara
kawasan ASEAN.
"Bahasa Indonesia dengan Melayu juga hampir mirip, tentunya lebih familiar bagi masyarakat
yang tinggal di kawasan ASEAN setelah bahasa Inggris," kata pengajar Fakultas Pendidikan
Bahasa dan Sastra (FPBS) IKIP PGRI Semarang itu.
Penulisan bahasa Indonesia yang menggunakan huruf Latin, kata dia, menjadikannya lebih
mudah dipelajari siapa pun dibandingkan misalnya bahasa Jepang atau Mandarin yang
menggunakan simbol dan tanda yang khas.
"Bentuk tulisan Latin relatif lebih banyak dikenal. Karena itu, untuk mempelajari bahasa
Indonesia tak perlu belajar simbol atau tanda, seperti halnya bahasa yang tidak menggunakan
penulisan Latin," katanya.

Ia mengatakan, bahasa Indonesia relatif mudah beradaptasi dengan istilah-istilah asing dengan
melakukan penyerapan, termasuk istilah Inggris yang seiring waktu kemudian diserap menjadi
bahasa Indonesia.
Persoalannya, kata dia, kesiapan bahasa menjadi bahasa resmi yang digunakan banyak negara
bergantung pada seberapa besar ketergantungan terhadap bahasa tersebut dalam berbagai aspek,
seperti ekonomi, sosial, dan budaya.
"Seberapa besar peran bahasa Indonesia dalam kegiatan perekonomian ASEAN? Misalnya
menggunakan bahasa Indonesia lebih memudahkan kegiatan perekonomian karena banyak
masyarakat yang memakainya," katanya.
Menurut dia, apabila kenyataannya kebergantungan masyarakat ASEAN terhadap penggunaan
bahasa Indonesia belum besar, maka sulit juga mewujudkan bahasa Indonesia digunakan sebagai
bahasa resmi kedua ASEAN, setelah bahasa Inggris.
Karena itu, kata Suwandi, perlu kesiapan, upaya serius, dan komitmen untuk
mewujudkan hal tersebut, tentunya dimulai dari kesadaran penggunaan bahasa Indonesia secara
baik dan benar oleh masyarakat Indonesia
3.9 Alasan Bangga terhadap Bahasa Indonesia
Bahasa menunjukkan bangsa. Setiap bangsa pasti memiliki bahasanya sendiri, dan merasa
bangga dengan bahasa mereka. Bahkan mereka berusaha keras untuk memperkenalkan bahasa
bangsanya ke forum-forum international. Meskipun mereka tahu bahwa bahasa Inggris telah
menjadi bahasa Internasional yang banyak dipakai oleh masyarakat dunia dalam berkomunikasi.
Orang Perancis sangat bangga dengan bahasa nasionalnya. Setiap turis asing yang melancong ke
negerinya akan diarahkan untuk mengenal, dan mengerti bahasa Perancis. Begitupun dengan
orang Jerman, dan Swiss. Berbeda sekali dengan negeri yang kita cintai ini. Kita justru lebih
suka berbahasa Inggris daripada bahasa sendiri. Para turis asing yang berwisata ke negeri ini
tidak kita arahkan untuk mengenal, dan mengerti bahasa Indonesia. Jarang sekali saya temui, ada
turis asing dari manca negara yang langsung diajarkan bahasa Indonesia oleh guide atau

pemandu wisata di negeri ini. Misalnya dengan kata-kata, Hai apa kabar? atau Selamat
datang di negeri impian dan negeri surgawi Indonesia.
Hal yang lebih menyakitkan lagi, para guru di sekolah RSBI diminta menyampaikan materi
pelajarannya dalam dua bahasa (Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia), dan kalau bisa bahasa
Inggrisnya lebih ditonjolkan ketimbang bahasa Indonesia, karena sekolah sudah diharuskan
untuk bertaraf internasional dengan menguasai bahasa Inggris. Padahal tidak seperti itu
seharusnya penerapan bilingual dalam pembelajaran di sekolah.
Bahasa hanya sebagai sarana saja menyampaikan pesan. Jadi, bila seorang guru ingin pesannya
sampai kepada para peserta didik, gunakanlah bahasa Indonesia dalam menyampaikan
materinya, dan bukan memakai bahasa Inggris yang terlihat keren didengar, tetapi tidak dipahami
pesannya oleh peserta didiknya. Oleh karenanya, penerapan dua bahasa (bilingual) di sekolahsekolah kita, terutama sekolah RSBI/SBI harus dievaluasi segera agar supaya generasi penerus
bangsa ini bangga dengan bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia harus terus dipakai dalam dunia pendidikan kita. Posisinya tak boleh
tergantikan dengan bahasa internasional. Bahasa Indonesia harus terus berkembang, dan
dikembangkan oleh para guru di sekolah agar kesusastraan terus bermetamorforsis mencapai
keindahannya. Bahasa Indonesia harus menjadi bahasa resmi di negeri sendiri dalam hal
berkomunikasi. Dia harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.
Sebagai sarana komunikasi, bahasa juga mampu membangun keterampilan berkomunikasi,
keterampilan menyampaikan pendapat, gagasan, dan pandangan dalam menyikapi suatu
persoalan yang dihadapi dalam kehidupan pada era global ini. Keterampilan seperti itu tentu
sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman.Tak Terkecuali, para blogger yang telah
memiliki blog sendiri di internet, dan mengelolanya secara mandiri.
Kenapa kita tak bangga dengan bahasa Indonesia? Jawabnya, karena kita tidak membiasakan diri
menulis dan membaca dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar. Oleh karena itu, peran guru
TIK sangat penting agar mampu mengarahkan para peserta didiknya untuk mampu menulis
dalam blog mereka dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Motivasi dan alasan tersebut ada lima yakni:


1. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
Fakta sejarah mengatakan jika bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau yang
mana menurut Jan Huygen Van linschoten dalam bukunya Itinerario disebutkan bahwa
bahasa Melayu terkenal sebagai bahasa yang paling sopan dan paling pas di kawasan
timur. Maka dari itu, meski bahasa Indonesia kini sudah berbeda dari bahasa melayu
dulu, namun kita harus bangga karena bahasa kita dahulu adalah bahasa mulia dan hingga
kini masih merupakan bahasa yang mulia serta selayaknya kita jaga dan tingkatkan
kemuliaannya dengan merawat dan melestarikannya
2. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah.
Bahasa Indonesia adalah bahasa yang berbeda dari bahasa lain di dunia. Bahasa
Indonesia adalah bahasa yang mudah karena bahasa ini tidak memiliki tingkatan kata atau
pun kalimat. Maksudnya walau pun kejadian tersebut terjadi kemarin, sekarang atau pun
besok, kata yang dipergunakan tetap sama.
Contoh:
Kemarin : Ayah membeli jeruk kemarin sore
Sekarang: Ayah membeli jeruk saat ini.

Bandingkan dengan bahasa Inggris berikut dan lihat tulisan yang bercetak tebal,
Kemarin : Yesterday my father bought some oranges.
Sekarang: My father buy some oranges.
Selain itu jumlah benda pun tak mempengaruhi kata yang diterangkan.
Contoh :
satu apel --> an apple
dua apel --> two apples

3. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik.


Meski bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu namun bahasa Indonesia kini telah
berbeda dari bahasa Melayu, baik dari susunan kata atau fungsi kata. Contohnya adalah
pada kasus Manohara yang tengah hangat akhir-akhir ini. Jika Anda simak dialog antara
warga Negara Indonesia dengan warga Negara Malaysia di televisi, maka akan Anda
temukan beberapa penggunaan kata yang berbeda seperti kata boleh, bisa dan
sebagainya. Dengan kata lain, bahasa Indonesia adalah bahasa yang hanya ada satusatunya di dunia. Satu-satunya bahasa yang menjadi identitas warga Negara Indonesia.
4. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kaya.
Pada mulanya bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu dan bahasa Melayu pada mulanya
adalah bahasa pasar. Bahasa pasar tercipta dari gabungan bahasa-bahasa pedagang dari
seluruh penjuru dunia yang dulu singgah di Melayu. Kemudian bahasa tersebut
berkembang pesat kosa katanya dan pada akhirnya terbentuk bahasa yang paling terkenal
dari

wilayah

timur

yaitu

bahasa

Melayu.

Oleh bangsa Indonesia, bahasa melayu kemudian dijadikan pondasi awal untuk
membentuk bahasa baru dengan proses yang tidak sebentar. Proses tersebut di antaranya
adalah penambahan kosakata baru baik diserap dari bahasa asing maupun dari bahasa
daerah. Hingga pada akhirnya ejaannya disempurnakan. Namun proses penyerapan kata
tidak

terputus

hingga

sekarang

ini.

Karena pada awalnya bahasa Indonesia adalah bentukan dari bahasa pedagang dari
seluruh penjuru dunia, maka bahasa Indonesia memiliki ribuan kata yang diserap dari
bahasa beberapa bangsa di dunia. Proses tersebut menjadikan bahasa Indonesia menjadi
bahasa yang kaya. Bahasa Indonesia mulai dipelajari bangsa lain.

3.10 Hasil Pengamatan


Dari hasil pengamatan kelompok kami terhadap peserta didik MAN 2 Kota Bogor
mengenai EKSISTENSI BAHASA INDONESIA YANG KIAN MENURUN SEIRING
MENINGKATNYA MINAT BAHASA ASING DI MAN 2 KOTA BOGOR
1. Menurut teman-teman lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing ?

A (Bahasa Indonesia)

B (Bahasa asing)

C (Netral)

D (Tidak keduanya)

50%

17%

33%

0%

2. Teman-teman lebih bangga mendapatkan nilai 100 di pelajaran bahasa Indonesia atau
mendapat nilai 100 di pelajaran bahasa asing ?
A (Bahasa Indonesia)

B (Bahasa asing)

C (Netral)

D (Tidak keduanya)

22%

33%

40%

5%

3. Menurut anda, lebih sulit mempelajari bahasa Indonesia atau bahasa asing ?
A (Bahasa Indonesia)

B (Bahasa asing)

C (Netral)

D (Tidak keduanya)

22%

62%

11%

5%

4. Jika warga Negaranya lebih bangga menggunakan bahasa asing, apakah bisa
mempengaruhi perkembangan bahasa di negerinya sendiri ?
A (Bisa)

B (Tidak bisa)

C (Biasa saja)

D (Tidak tahu)

52%

0%

33%

15%

5. Setujukah kalian jika bahasa Indonesia dijadikan bahasa terpenting kedua setelah bahasa
asing ?
A (Setuju)

B (Tidak setuju)

C (Biasa saja)

D (Tidak tahu)

52%

26%

22%

0%

BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Dari uraian di atas, dapat Kami simpulkan bahwa :

Bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa Internasional

Sebagian besar pelajar Indonesia masih bangga berbahasa Indonesia

Minat terhadap bahasa Indonesia menurun karena bahasa asing (contoh : bahasa Inggris)
lebih populer di tanah air dibanding bahasa Indonesia, contoh dalam pengiklanan atau
bahasa komputer.

Turunnya kebanggaan terhadap bahasa Indonesia diakibatkan oleh mutu guru mata
pelajaran, pengaruh bahasa lain, atau kegemaran menyerap kata-kata dari bahasa asing

Kesiapan dan peran nyata bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara memerlukan pemantapan rasa kecintaan dan rasa kebanggaan memiliki
bahasa Indonesia

4.2 Saran

Harus dilaksanakan peningkatan peran dan fungsi bahasa Indonesia, yaitu :


1) Meningkatkan fungsinya sebagai lambang kebanggaan dan lambang harga diri bangsa
Indonesia.
2) Meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa yang akan
menampakkan ciri khas sekaligus membedakan bangsa Indonesia dari bangsa-bangsa lain
di dunia.
3) Meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana pemersatu bangsa.
4) Sarana perhubungan antardaerah dan antarbudaya.
5) Meningkatkan rasa kebanggaan memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia dalam
berbagai keperluan dan kemanfaatannya.
6) Menghindari penggunaan bahasa asing secara berlebihan atau di luar garis ketentuan dan
kebijakan yang telah ditentukan.

7) Meningkatkan frekuensi pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia dalam segenap


kesempatan dan aktivitas, baik resmi maupun tidak resmi.

Pertahankan dan lestarikan bahasa kebanggaan bangsa dan negara ini hingga akhir dunia.
Jangan jadikan berbagai kondisi sebagai alasan bagi kita untuk meninggalkan bahasa yang
hanya ada satu-satunya di dunia ini.

DAFTAR PUSTAKA
Soejipto, kosasi, Raflis. 2007. Profesi Keguruan. Jakarta: rineka cipta.
Danim, Sudarman. Khairil. 2010. Profesi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

www.google.com
www.wikipedia.com
www.kompas.com

BIODATA
Nama

: Afif Fadillah

Tempat tanggal lahir : Bogor, 19 Juni 1995


Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Kebon Pedes RT 02/04 No. 3

e-mail

: afif.fadillah@gmail.com

Hobbi

: Bermain billiard

Status

: Pelajar

Umur

: 16 tahun

Cita-cita

Pendidikan

Motto

: Ingin membahagiakan orang tua

Nama

: Febbi Meidawati

Tempat tanggal lahir : Bogor, 10 Mei 1995


Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Kp. Teluk pinang RT 03/01 No. 50 Ciawi-Bogor

e-mail

: moeshe_febby@yahoo.co.id

Hobbi

: Membaca novel

Status

: Pelajar

Umur

: 16 tahun

Cita-cita

: Menjadi penulis, psikolog dan guru

Pendidikan

: SDN Teluk pinang 01


SMP N 2 CIAWI
Sedang melanjutkan di MAN 2 Kota Bogor

Motto

: Dengan tekad, segalanya tak ada yang mustahil

Nama

: M. Raziv Tauhid

Tempat tanggal lahir : Bogor, 4 April 1995


Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Industri Kp. Bojong Rt. 02/04 Desa Tarikolot Kec. Citeureup Kab.
Bogor

e-mail

: vengeanceraziv@yahoo.co.id

Hobbi

: Olahraga

Status

: Pelajar

Umur

: 16 tahun

Cita-cita

: Dokter

Pendidikan

: SDN Tarikolot 03
Mts. Ash-shoheh
Sedang melanjutkan di MAN 2 Kota Bogor

Motto

: Memajukan bangsa Indonesia

Nama

: Zahrah Nur Najmi Laila

Tempat tanggal lahir : Bogor, 26 Oktober 1995


Jenis kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Jln. Ceremai ujung bantar jati lebak Rt 03/01 No.01

e-mail

: najmizahrah@yahoo.com

Hobbi

: Membaca novel, membaca buku ilmu psikologi

Status

: Pelajar

Umur

: 16 tahun

Cita-cita

: Dokter, psikolog

Pendidikan

: SDN GENTRA MASEKDAS SEMPUR KALER


Mts. AL-HAMIDIYAH ISLAMIC BOARDING SCHOOL
Sedang melanjutkan di MAN 2 Kota Bogor

Motto

: Man jadda wajada