Anda di halaman 1dari 27

Indiv, Kolek,

Martabat
Etika Sos-Pol
Individualisme, Kolektivisme, dan
Martabat manusia.
Mahasiswa diharapkan
mengkonsentrasikan diri pada dua hal:
A. Pengertian mengapa individualisme dan
kolektivisme tidak memadai
B. Pengertian tentang makna martabat
manusia.
Dua pandangan yang tidak seimbang
Individualisme
- menurut individualisme nilai tertinggi
manusia adalah perkembangan dan
kebahagiaan individu.
- Masyarakat itu semata mata merupakan
sarana bagi individu untuk mencapai
tujuannya itu.
- Dalam bidang sosial ekonomi politik
individualisme terwujud dalam ideologi
liberalisme.
- Bagi liberalisme kebebasan individu adalah nilai
tertinggi.
- Liberalisme mengharapkan bahwa kebudayaan &
kesejahteraan masyarakat akan semakin maju
semakin bakat bakat dan tenaga tenaga
individu dibiarkan berkembang dengan bebas.
- Di bidang ekonomi liberalisme melahirkan
sistem kapitalisme yang berdasarkan pada
kebebasan untuk berusaha & bersaing
satu sama lain.
Tanggapan
- Individualisme tidak melihat bahwa
manusia secara hakiki bersifat sosial.
Dalam individualitasnya manusia hidup dari
& dalam masyarakat.
- Manusia hanya dapat mencapai tujuannya
(termasuk tujuan individualnya) apabila ia
tidak hanya mengitari diri dan
kepentingannya sendiri, melainkan
membuka diri pada masyarakat & mau
melayani sesama.
- Individualisme mengarah pada egoisme

Egoisme
- Egoisme merupakan kata bentukan dari
kata lain ego, yang berarti aku, saya.
Karena itu, egoisme adalah ajaran atau
sikap hidup yang berhubungan dengan
ego.
ada egoisme yang sehat, dan ada egoisme
yang tidak sehat. Egoisme yang sehat
adalah pandangan dan sikap hidup yang
melihat pemenuhan kebutuhan ego dan
pengharapan sebagai hal yang baik dan
perlu bagi perkembangan probadi yang
wajar.
Adapaun egoisme yang tidak sehat adalah
pandangan dan sikap hidup yang
mendewakan pemenuhan kebutuhan ego
dan pengharapan.
Bagi orang lain, egoisme membawa
dampak negatif yang tidak terperikan.
Egoisme membuat para penganutnya
menjadi kehilangan pengharapan terhadap
orang lain, tidak peka terhadap
kebutuhannya, dan membawa berbagai
kerugian baginya.
Bagi egoisme manusia tidak berharga
sebagai pribadi, tetapi sebagai barang
yang nilainya baik buruknya ditentukan
dari sudut pandang berguna tidaknya
untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Dari sudut pandang egoisme, orang lain
dinilai dari segi berdaya dan hasil gunanya.
Egoisme membuat orang menjadi terlalu
sibuk dengan diri sendiri dan
kepentingannya. Oleh karena itu, mereka
menjadi tidak peka, bahkan mungkin buta,
terhadap kebutuhan orang lain.
Melawan liberalisme perlu ditegaskan
bahwa negara tidak hanya wajib untuk
melindungi kebebasan masing-masing
anggotanya, melainkan juga untuk
mewujudkan tanggungjawab semua
anggota masyarakat satu sama lain.
Dan untuk itu negara harus membatasi
kebebasan masing masing anggotanya.
Kolektivisme
bagi individualisme individu merupakan
tujuan dan masyarakat sarananya,
sedangkan kolektivisme mengambil posisi
terbalik. (masyarakat merupakan tujuan
dan individu sarananya.)
Pokok pandangan Kolektivisme
Masyarakat merupakan tujuan pada dirinya
sendiri. Individu tidak bernilai pada dirinya
sendiri, melainkan hanya sejauh
memajukan keseluruhan.
Menurut semboyan kaum Nazi Hitler:
Engkau tidak berarti apa apa, bangsamu
adalah segala galanya.
Membenarkan bahwa individu dikorbankan
demi tujuan tujuan politik / kepentingan
ekonomi seluruh masyarakat / negara.
Dalam bidang sosial ekonomi politik,
kolektivisme terwujud dalam pelbagai
betuk totaliterisme.
Dengan totaliterisme dimaksud ideologi
(=sistem / cara berpikir) / sistem politik
yang menganggap negara / pimpinan
pemerintahan berwenang untuk menata &
menentukan semua segi kehidupan
masyarakat.
Dalam masyarakat totaliter tidak ada
kebebasan untuk hidup menurut nilai nilai
sendiri / untuk mengemukakan
pendapatnya sendiri.
Contoh: Komunisme.
Tanggapan
Melawan kolektivisme harus dikatakan
bahwa manusia merupakan tujuan pada
dirinya sendiri.
Masyarakat & negara bukan tujuan pada
dirinya sendiri melainkan bertugas untuk
memungkinkan perkembangan &
kesejahteraan masing masing
anggotanga.
Masyarakat harus melayani manusia &
tidak sebaliknya. Setiap pendewaan
terhadap masyarakat / negara harus
ditolak.
Karena setiap orang bernilai pada dirinya
sendiri tak seorang pun boleh begitu saja
dikorbankan demi kepentingan orang
banyak.
Prinsip Subsidiaritas
Cat: G.S no 25
1. Hubungan pribadi masyarakat:
Saling ketergantungan
Tekanan martabat pribadi manusia.
2. Hubungan sosial:
Kodrat: keluarga, masyarakat, negara.
Bebas: serikat & lembaga.
3. Dosa mencemarkan hubungan sosial,
dalam bentuk:
Kesombongan
Egoisme manusia.
Soal Refleksi
1. Berilah contoh konkrit praktek
individualisme dalam keluarga, kampus
dan masyarakat?
2. Berilah contoh konkrit praktek
kolektivisme dalam keluarga, kampus dan
masyarakat?
3. Apa yang dapat saudara lakukan agar
saudara tidak terkena dua paham
tersebut diatas?
Kesimpulan
Dengan demikian kita mendapat 2
pengertian dasar bagi etika sosial
politik:
1. Bahwa pandangan yang memisahkan
manusia dari masyarakat dengan menjadikan
yang satu sebagai tujuan & yang satunya
sebagai sarana perlu ditolak.
2) Kehidupan masyarakat dalam semua
dimensi harus ditata sedemikian rupa
sehingga martabat setiap orang sebagai
manusia, dan itu berarti, sebagai makhluk
yang bernilai pada dirinya sendiri, terjamin.
Kriteria dasar etika bagi penyusunan bidang
politik, hukum, ekonomi, dll adalah martabat
manusia.