Anda di halaman 1dari 21

ANALISIS SPERMA

TUJUAN

Menentukan kesuburan pria


Mengukur jumlah serta kualitas semen dan
sperma
Mengetahui adanya penyakit-penyakit tertentu
pada organ reproduksi pria. (hernis skrotalis,
kriptorhidi, varikokel)
Pengontrolan fertilitas laki-laki dalam menunjang
program KB
SPERMA

Sel sperma sel (gamet) yang dihasilkan oleh


testis (alat reproduksi laki-laki) mulai saat
pubertas, berupa cairan kental keruh yang berisi
sperma.
KELENJAR PENGHASIL CAIRAN
SPERMA
a. Kelenjar testis pembentukan spermatozoa
b. Kelenjar epididymis maturasi spermatozoa
(cairan 0,3 ml)
c. kelenjar vesika seminalis sekret 2-2,5 ml
(air, mukus protein (kaogulum), dll)
d. Kelenjar prostat sekret 0,5 ml (pH asam,
spermin, enzim seminin)
e. Kelenjar-kelenjar lain bulbourethralis dan
uretralis (0,1-0,2 ml)
PEMERIKSAAN SPERMA

Makroskopis
a.Warna : normal bila tampak putih keabuan
homogen
b.Volume : 2-6 ml
c.Waktu liquifaksi : mencair dalam waktu 20-60
menit pada suhu kamar
d.Viskositas : cairan keluar dari pipet berupa tetesan
kecil, menetes dalam jangka waktu 1-2 detik
e.Bau : seperti bunga akasia (byqlin)
f. pH : 7,2-7,8
Mikroskopis
a.Pemeriksaan adanya aglutinasi
b.Pemeriksaan motilitas spermatozoa :
1. spermatozoa bergerak cepat dan lurus ke
depan
2. spermatozoa bergerak lambat atau sulit maju
lurus atau bergerak tidak lurus
3. spermatozoa bergerak memutar di tempat
4. spermatozoa bergerak ditempat (tidak maju)
5. spermatozoa tidak bergerak
c. Pemeriksaan morfologi spermatozoa : kepala dua,
kepala terlalu kecil, kepala terlalu besar kepala
amorf, kepala taper, kepala pin, kepala kkonstricted,
kepala piri, bagian tengah ada/tidak, bagian ekor
ada/tidak, bagian ekor bercabang, bagian ekor
melingkar, imature, droplet, meadpice.
d. Hitung jumlah spermatozoa : 20-250 juta/ml
e. Pemeriksaan vitalitas spermatozoa : spermatozoa
yang berwarna 20 %
f. Pemeriksaan benda-benda khusus sperma : sel
epitel, kristal, lemak, benda prostat, bakteri, protozoa.
ISTILAH UNTUK HASIL PEMERIKAAN
SPERMA
Normozoospermia konsentrasi spermatozoa 20 juta/ml;
motilitas spermatozoa (katagori 1+2) 50% atau gerak
kategori 1 25%; morfologi normal spermatozoa 30%.
Oligozoospermi motilitas sperma <20 juta/ml
Ekstrem oligozoospermia, konsentrasi spermatozoa < 5
juta/ml
Asthenozoospermia motilitas spermatozoa (kategori 1+2)
< 50% atau gerak kategori 1 < 2%
Teratozoospermia persentase morfologi normal
spermatozoa < 30%
Polizoospermia konsentrasi sperma > 250 juta/ml
Azoospermia tidak ada sel spermatozoa pada ejakulat
FRAKSI EJAKULASI SPERMA

a. Fraksi praejakulasi tidak mengandung


spermatozoa berasal dari bulbourethralis dan
urethralis.
b. Fraksi ke I tidak mengandung spermatozoa
(cairan) berasal dari kelenjar prostat.
c. Fraksi utama komponen utama (kental)
banyak mengandung spermatozoa berasal dari
vesika seminalis.
d. Fraksi terakhir kental/menggumpal yang
biasanya non motil
PEMERIKSAAN SEMEN
Prosedur Standar
1. Penampungan dan pengiriman sampel

Sebaiknya subyek dibekali dengan lembaran instruksi tertulis


yang jelas berhubungan dengan cara koleksi dan transportasi
semen.
a. Sebaiknya sampel dikeluarkan dan
ditampung setelah abstinensi seksual
(puasa berhubungan suami istri)
sedikitnya 48 jam dan paling lama 7 hari.
b. Untuk evaluasi awal sedikitnya
diperlukan dua kali pemeriksaan
c. Sebaiknya sampel dikumpulkan diruang
khusus didekat laboratorium
d. Sampel didapat dengan cara masturbasi
e. Kondom yang terdapat dipasaran tidak boleh
digunakan karena dapat menyebabkan
kematian spermatozoa (berisi spermisid)
f. Sample harus dilindungi terhadap perubahan
temperatur yang ekstrim (kurang dari 200C
atau lebih dari 400C)
g. Botol harus diberi label nama, tanggal dan
waktu p engeluaran, serta lama abstinensi
h. Sampel harus diperiksa kurang dari satu jam
dari waktu dikeluarkan
2. Keamanan dalam penanganan sampel
Teknisi laboratorium harus hati hati terhadap sampel semen
yang mungkin mengandung virus virus yang berbahaya (HIV,
Hepatitis dan Herpes)
TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Masturbasi/onani
Koitus interuptus (senggama terputus)
Koitus kondomatus
Pijatan prostat
Refluks pasca senggama
Pemeriksaan Makroskopis
Pemeriksaan awal melalui pengamatan fisik sampel
Pengamatan dilakukan pada suhu kamar, dimana
dinilai warna, bau, koagulasi dan likuefaksi,
volume, konsistensi dan pH
1. Warna Sperma
Warna sperma yang normal (mengandung
spermatozoa) adalah putih keabuan/ putih
mutiara
Pada keadaan Azoospermia atau ekstrim
olipozoospermia akan berwarna putih jernih
2. Bau Sperma
Khas, seperti bunga akasia.
Bau bau lain seperti amis, busuk dapat dicurigai adanya
lokosit (infeksi) atau sebab sebab lain (parasit)
3. Koagulasi dan Likuifaksi
Setelah dikeluarkan, semen akan mengalami proses
koagulasi (terbentuknya koagulum yang disebabkan
oleh protein protein yang dihasilkan oleh kelenjar
vesika seminalis
Selanjutnya akan mengalami pencairan (likuefaksi),
menjadi homogen dalam waktu 60 menit
4. Volume
Data diukur dengan gelas ukur atau dengan pipet
khusus
5. Konsistensi
Dulu digunakan istilah Viskositas
Pengukuran konsistensi dikerjakan dengan menekan
keluar sampel lewat Jarum 21G
Observasi bentuk yang keluar, berupa tetesan, atau
benang yang keluar dari ujung jarum.
Cara pengukuran konsistensi :
Semen dihisap sampai tanda 0,1 ml, ujung B
ditutup dengan jari telunju, dipegang tegak lurus.
Tangan kiri memegang stopwatch. Bersamaan
dengan dibukanya tutup ujung jari, stopwatch
ditekan.
HItung waktu jatuhnya tetesan pertama, normal 2
detik

Cara lain dengan menggunakan batang pengaduk


gelas
Celupkan batang pengaduk kedalam semen, angkat
dan perhatikan tetesan/ benang cairan yang terjadi
Normal tetesan/ benang yang terjadi tidak melebihi
2 cm
6. pH sperma
Teteskan 1 tetes semen keatas kertas pH ( 6,4
8,0).
Setelah 30 detik bandingkan dengan warna
standar
pH harus diperiksa dalam waktu 1 jam setelah
semen dikeluarkan
Nilai normal : >7.2 (WHO 92;7.2 -8.0) (WHO
87 :7.2 -7-8)
Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis semen dilakukan dengan preparat
basah dan preparat hapus.
Pada pemeriksaan preparat basah, penilaian meliputi :
motilitas spermatozoa perkiraan konsentrasi (memperkirakan
jumlah spermatozoa per lapang pandang besar (400 x),
adanya sel sel lain (epitel, sel bulat, parasit, bakteri, kristal
dan sebagainya dan ada/ tidaknya aglutinasi

1. Perkiraan Konsentrasi Spermatozoa


Perkiraan konsentrasi spermatozoa secara kasar ini
dilakukan dengan memperkirakan/ menghitung
jumlah rata rata spermatozoa pada beberapa lapang
pandang (400x) dan hasilnya dikalikan dengan
105
Misalnya didapatkan jumlah rata rata spermatozoa
40/LPB, maka perkiraan konsentrasi : 40 x 105 =
4.106/ml
2. Pemeriksaan Motilitas Spermatoza
Persiapan
Satu tetes semen (10 15 L) diteteskan dengan
mikropipet atau melalui jarum 21G pada kaca objek
dan ditutup dengan kaca penutup ukuran 22 c22 mm
Preparat diperiksadibawah mikroskop pada
pembesaran 400 x
Penilaian
Pemeriksaan perlu dilakukan pada beberapa lapang
pandang ( 4 -6 LPB). Pergerakan spermatozoa dapat
diklasifikasikan dalam 4 golongan : a, b, c dan d
a : gerak spermatozoa maju kedepan, cepat dan
lurus
b : gerak spermatozoa maju, lambat atau berkelok
c : tidak ada gerak maju kedepan, bergetar
ditempat, gerak melingkar
d : tidak bergerak sama sekali
Perhitungan gerak spermatozoa dinyatakan
dalam persentase
a = ..%
b = ..%
c = ..% dan
d = ..%

Pemeriksaan Vitalis Spermatozoa


1.Pewarnaan vital

a. Pada sel yang mati akan terjadi kerusakan


membran plasma dan selanjtunya akan menyerap zat
warna
b. Sedikit dihitung 100 spermatozoa yang
menyerap zat warna (mati) dan yang tidak
menyerap warna (hiduo)
c. Teknik ini dapat dibedakan berapa persen
spermatozoa i mmotil yang hidup dan mati
b. Uji Pembengkakan hipoosmotik (UPHO)
Dasar dari UPHO ini adala membran yang semi permiabel
pada sel akan menyerap air dan menyebabkan terjadinya
pembengkakan sel (drevius & Eriksson, 1966)
UPHO pertama kali diperkenalkan oleh Jeyendran dkk (1984)
Spermatozoa yang utuh (hidup) dalam cairan hipoosmotik
akan mengalami pembengakan dan ini jelas terlihat pada
ekornya
Pembengkan ini menyebabkan ekor berbentuk koil

2. Penghitungan jumlah spermatozoa


Konsentrasi spermatozoa (jumlah spermatozoa
(ml), ditentukan dengan menggunakan
hemositometer.
Sampel harus trecampur merata sebelum dilakukan
penghitungan.
Pengenceran dapat dilakukan 1/10, 1/20/, 1/100,
1/200 tergantung dari jumlah spermatozoa pada
pemeriksaan awal
3. Pemeriksaan Morfologi Spermatozoa
a. Klasifikasi morfologi spermatozoa manusia
b. Kategori kelainan yang perlu dihitung
1. Kepala
2. Leher dan Midpiece
3. Kelainan ekor