Anda di halaman 1dari 35

SEJARAH PERKEMBANGAN DAN TERMINOLOGI

KULTUR JARINGAN TANAMAN

Risky Ridha, SP., MP

Prodi Agroteknologi
FP Unsam
2016
Apa Itu Kultur Jaringan ????
Pendahuluan ....

Cultur In Vitro, arti lebih luas termasuk kultur jaringan


Culture Budidaya
In Vitro Dalam Botol

Kultur jaringan yaitu budi daya in vitro yang


menggunakan jaringan sebagai bahan tanamnya.
Pengertian ....

Kultur jaringan merupakan cara memperbanyak


tanaman dengan mengisolasi bagian tanaman serta
menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang
mengandung zat pengatur tumbuh tanaman pada
kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat
memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman
sempurna kembali
Eksplan ???
Teknik kultur jaringan

A. Eksplan D. Planlet
B. Eksplan dalam media agar E. Aklimatisasi panlet
C. Kalus
Prinsip Dasar Kultur Jaringan
Dasar yang digunakan adalah Teori Sel (Matthias
Schleiden dan Theodor Schwann, 1838).
Sel dari suatu organisme multiseluler di manapun
letaknya, sebenarnya sama dengan sel zigot karena
berasal dari satu sel tersebut.
Setiap sel tanaman mempunyai kemampuan
Totipotensi Sel yaitu Setiap sel tanaman dilengkapi
dengan informasi genetik dan perangkat fisiologis
yang lengkap untuk tumbuh dan berkembang
menjadi tanaman utuh.
Sejarah Perkembangan Kultur Jaringan
Percobaan pendahuluan membuktikan teori sel dan
totipotensi sel (Matthias Schleiden dan Theodor
Schwann, 1838)

Haberland
Haberlandt (1902) yang menyatakan bahwa sel tanaman yang
diisolasi dan dikondisikan dalam lingkungan yang sesuai akan
tumbuh dan berkembang menjadi tanaman yang lengkap
(ada kegagalan karena hormon dan nutrisi belum diketahui)
Sejarah ...........
White (1934) melaporkan keberhasilan aplikasi teknik
kultur jaringan pertama kali, yakni melalui kultur akar
tomat.
Gautheret, Nobecourt, dan white (1939), berhasil
menumbuhkan kalus tembakau dan wortel secara
in vitro.

Pada awalnya, perkembangan teknik kultur jaringan


belum begitu berkembang, disebabkan lambatnya
penemuan hormon tanaman (zat pengatur tumbuh).
Sejarah ...........
Penemuan ZPT dan Formulasi media membuka peluang
besar bagi kemajuan kultur jaringan.
Kgl dan Haagen-Smith (1934) menemukan auksin IAA.
Carlos Miller (1955) menemukan kinetin (sitokinin).
Skoog dan Miller (1957) menyatakan hubungan antara
sitokinin dan auksin dalam mengontrol pembentukan akar
dan tunas dalam kultur jaringan.
Skoog dan Miller (1957) Penelitian kedua pada tanaman
tembakau mengungkapkan bahwa rasio yang tinggi
antara auksin terhadap sitokinin akan menginduksi
morfogenesis akar, sedangkan rasio yang rendah akan
menginduksi morfogenesis pucuk.
Moral (1960) menemukan prosedur perbanyakan secara
in vitro pada tanaman anggrek Cymbidium,
Sejarah ...........
Murashige dan Skoog (1962) diformulasikannya komposisi
medium dengan konsentrasi garam mineral yang tinggi
(media MS), semakin meningkatkan perkembangan aplikasi
teknik kultur jaringan pada berbagai spesies tanaman.
Komposisi media Murashige dan Skoog (MS), media yang
sampai sekarang digunakan untuk berbagai macam
tanaman dan berbagai tujuan kultur di seluruh dunia

Murashige Skoog
Jenis Kultur Jaringan
1. Kultur biji (seed culture), kultur yang bahan tanamnya
menggunakan biji atau seedling.
2. Kultur organ (organ culture), merupakan kultur yang
diinisasi dari bagian tanaman/organ (ujung akar, pucuk
aksilar, daun, bunga, buah muda, anther, meristem, embrio,
dan ovul) kadang menjadi nama kultur tersebut
Kultur Meristem
3. Kultur kalus (callus culture) merupakan kultur yg
menggunakan jaringan (sekumpulan sel) biasanya
bbrapa jaringan parenkim sebagai bahan eksplannya.

Faktor pendorong
yang berperan dalam
pembentukan kalus
adalah hormon auksin
dan sitokinin.
Dengan menggunakan
teknik kultur jaringan,
kalus dapat dibentuk
oleh jaringan tanaman
yang biasanya tidak
mampu membentuk
kalus.
4. Kultur haploid adalah kultur yang berasal dari
bagian reproduktif tanaman, yakni: kepalasari/ anther
(kultur anther/kultur mikrospora), tepungsari/ pollen
(kutur pollen), sehingga dapat dihasilkan tanaman
haploid.
Kultur Jaringan Tanaman Pisang
Kultur anter dan regenerasi
tanaman haploid
(a) Anter pada awal kultur;
(b) Anter setelah enam hari
dalam kultur;
(c-d) Embrio yang muncul dari
anter setelah 30 hari dalam
kultur, menunjukkan akar (c)
dan tunas (d);
(e-f) Planlet dengan kotiledon (e)
dan dengan daun (f);
(g) Subkultur di media tumbuh;
(h) Umur 80 hari regenerasi
tanaman haploid dari kultur
anter (sisi kiri) dan kontrol
diploid pada usia yang sama
(sisi kanan).
Mengapa Kultur Jaringan ???
Manfaat Kultur Jaringan
1. Mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak
dalam waktu singkat
2. Keseragaman genetik
3. Memperoleh tanaman baru yang bersifat unggul
4. Produksi tanaman sepanjang tahun
5. Bermanfaat di bidang farmasi menghasilkan metabolit
sekunder
6. Perbanyakan vegetatif untuk spesies yang sulit
diperbanyak secara normal
7. Produksi tanaman bebas patogen
8. Pelestarian plasma nutfah
Keuntungan Kultur Jaringan
1. Tidak tergantung keterbatasan nutrisi dan iklim.
2. Tidak memerlukan daerah pembibitan yang luas.
3. Produk masal dalam jumlah besar
4. Menggunakan bagian kecil tanaman
5. Dapat untuk beberapa jenis tanaman yang
sukar/sangat lambat diperbanyak secara
konvensional
6. Bibit yang dihasilkan lebih sehat
Kelemahan Kultur Jaringan
1. Investasi awal relatif tinggi, lab dan bahan kimia
2. Memiliki keterampilan, ketekunan dan
pengetahuan biologi
3. Keahlian khusus
4. Langkah yang dilalui untuk memperoleh tanaman
sempurna sangat banyak
5. Penyimpangan genetis sangat tinggi
6. Aklimatisasi atau adaptasi sukar.
Istilah-Istilah (terminologi) Dalam
Kultur Jaringan
Istilah .......
Istilah .......
Istilah .......
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Eksplant
Genotipe
Bagian tanaman yang dijadikan eksplan
Komposisi media dan zat pengatur tumbuh yang digunakan
Lingkungan tumbuh
Siapkan :
Entris Durian
Plastik Es Lilin
Plastik Es Batu
Tali Rafia

TunasTerminal