Anda di halaman 1dari 82

Kelompok 4

- Ferdi Fajrian Adicandra

- Rahmatika Alfia Amiliana

- Sekar Hanun Ulwani

- Yuni Dwi Lestari


Catalytic cracking adalah perengkahan minyak bumi dengan
menggunakan bantuan katalis yang bertujuan untuk memecah
fraksi berat minyak bumi menjadi fraksi ringan.
Catalytic cracking merupakan salah satu upaya untuk
menghasilkan produk pengolahan minyak bumi yang bernilai jual
tinggi.
Proses catalytic cracking telah ada
sejak lama dan terus dikembangkan
agar mendapatkan proses yang
optimum dan hasil yang maksimal
Aplikasi utama proses catalytic
cracking adalah meningkatkan oktan
number pada gasoline.
Catalytic cracking merupakan proses perengkahan
hidrokarbon dengan rantai C (carbon) panjang menjadi
rantai C yang lebih pendek dengan bantuan katalis.
Umpan utama unit catalytic cracking dari residu distilasi
atmosferik atau distilat distilasi vakum.
Produk utama berupa hidrokarbon dengan angka oktan
yang tinggi.
Pada bensin, nilai oktan ditentukan oleh banyaknya
kandungan iso-oktan yang membuat bensin semakin bagus
baik untuk proses pembakaran
catalytic cracking merengkahkan hidrokarbon rantai panjang
menjadi rantai yang lebih pendek dengan menggunakan
bantuan katalis sehingga mampu mengarahkan reaksi untuk
menghasilkan produk hidrokarbon yang memilik angka oktan
tinggi.
Umpan masukan proses catalytic cracking harus melalui
pretreatment terlebih dahulu untuk menghilangkan ataupun
memperkecil adanya kandungan impuritis.
Selama proses perengkahan, material karbon terdeposit di
permukaan katalis sehingga menurunkan aktivitas katalis
diperlukan regenerasi katalis
Apabila dibandingkan dengan proses thermal cracking
1. Produk gasoline yang dihasilkan memiliki angka oktan
yang lebih tinggi karena banyak mengandung isoparafin
dan senyawa aromatik. Senyawa jenis ini juga lebih stabil.
2. Catalytic cracking menghasilkan gasoline dengan
kandungan sulfur lebih rendah daripada gasoline hasil
thermal cracking.
3. Catalytic cracking menghasilkan lebih sedikit heavy
residual oil atau tar.
4. Kondisi operasi tidak memerlukan temperatur yang terlalu
tinggi.
5. Proses lebih mudah untuk dikontrol
Sesuai dengan tujuannya, proses catalytic cracking berfungsi
untuk merengkah fraksi gas oil guna memperoleh produksi
gasoline yang bermutu tinggi dan pada jumlah yang optimum
dapat dihasilkan.
Reaksi yang terjadi merupakan reaksi reversibel dan
endotermis.
Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan suatu pengontrolan
kondisi operasi. Pengontrolan dilakukan melalui pengaturan
variable proses yang secara langsung mempengaruhi proses
perengkahan yang terjadi dan spesifikasi produksi yang akan
dihasilkan.
CFR ini adalah suatu angka perbandingan antara total feed
dengan fresh feed yang masuk reaktor. Dapat dirumuskan :

Dalam operasinya, CFR ini dapat bervariasi antara 1 sampai 2.


Harga ini dipengaruhi oleh jumlah recycle rate yang
dikembalikan ke reaktor.
Kenaikan recycle rate akan mempertinggi konversi, tetapi
pembentukan karbon dipermukaan katalisator akan
bertambah sehingga menurunkan kerja katalis.
Crackbility adalah suatu sifat yang menunjukkan
kemampuan feed untuk direngkah.
Sifat ini tergantung pada jenis dan komposisi senyawa
hydrokarbon yang terkandung dalam bahan mentah yang
diolah. Dimana kemampuan merengkah dari masing-
masing senyawa berbeda-beda.
Secara keseluruhan, apabila komposisi persenyawaan yang
terkandung dalam feedstock diketahui, maka gambaran
mudah tidaknya reaksi perengkahan dapat juga diketahui,
sehingga pengontrolan kondisi operasi dapat disesuaikan.
Suhu direaktor mempengaruhi kecepatan reaksi. Semakin
tinggi suhu reaktor, maka semakin tinggi kecepatan reaksi.
Proses berjalan lebih hebat dan reaksi perengkahan lebih
cepat.
Pengaruh kenaikan suhu terhadap produksi adalah :
Kenaikan produksi gas
Kenaikan konversi.
Pembentukan coke bertambah
Reaktor Hold Up ialah suatu angka yang menunjukkan jumlah
katalisator yang terdapat didalam dense bed pada setiap saat.
Jumlah ini diukur dengan satuan berat (dalam ton), diatur
melalui penambahan/pengurangan katalisator didalam
sistem.
Kenaikan reaktor Hold Up akan menaikkan waktu kontak
antara umpan dan katalisator, sehingga akan menaikkan
konversi.
Dalam operasinya, jumlah reaktor hold up maksimum adalah
15 ton.
Kecepatan sirkulasi katalisator ialah jumlah (dalam berat) dari
katalisator per satuan waktu (dalam menit) yang dialirkan dari
reaktor ke regenerator dan sebaliknya.
Kenaikan sirkulasi katalisator akan menambah intensitas
perengkahan sehingga konversi akan naik.
Pengaruh lain dari kenaikan sirkulasi katalisator ini adalah :
Keseimbangan panas antara reaktor dan regenerator
makin baik.
Deaktifasi katalisator akan terlambat.
Catalyst to Oil Ratio ialah perbandingan berat (dalam lb)
katalisator yang disirkulasikan ke Reaktor dengan berat
(dalam lb) umpan yang masuk reaktor. Dapat dirumuskan
sebagai berikut :

Kenaikan C/O ratio akan menaikkan konversi.


Reactor holding time ialah waktu tinggal yang menyatakan lamanya
katalisator berada didalam reaktor, diukur dalam satuan menit. Dapat
dirumuskan sebagai berikut :

Reactor Holding Time dipengaruhi oleh besarnya C/O ratio. Makin


tinggi C/O ratio pada feed rate yang tetap, makin cepat sirkulasi
katalisator, reactor holding time akan turun, akibatnya :
Konversi akan naik.
Deaktivasi katalisator akan berjalan lambat.
Pada normal operasi, reactor holding time berkisar 2 4 menit
Space velocity ialah total feed rate (dalam lb/jam) dibagi
dengan reactor hold up. Dapat dirumuskan sebagai berikut :

Kenaikan space velocity disebabkan oleh terlalu banyaknya


total feed rate atau terlalu kecilnya reactor hold up akan
mengakibatkan penurunan konversi.
9. Catalyst Particle Size
Makin kecil partikel katalisator, makin luas permukaan
aktifnya sehingga kontak dengan umpan akan semakin
besar. Hal ini akan menaikkan konversi.

10. Tekanan Reaktor


Kenaikan tekanan reaktor akan mengakibatkan terjadinya
reaksi sekunder yang tidak dikehendaki, sehingga produksi
gasoline akan turun dan produksi gas akan naik.
Di FCCU salah satu parameter yang menunjukkan mutu
operasi adalah Konversi 430.
Konversi 430 ini adalah prosentase dari fresh feed yang
dapat direngkah menjadi produk lain yang mempunyai titik
didih dibawah 430oF. Konversi ini dapat dirumuskan dengan
:

Pada normal operasi, konversi 430 = 70 vol % on fresh feed.


Katalis yang banyak digunakan adalah hidrat aluminium
silika yang mengandung 10 -15 % Al2O3 dan 85 90 % SiO2

Katalis jenis ini menghasilkan yield produk (gasoline


dengan angka oktan tinggi) lebih besar

Rasio katalis-umpan (volume) bervariasi untuk tiap jenis


proses dan berkisar antara 5:1 sampai 30:1. Namun,
sebagian besar proses menggunakan rasio 10:1. Khusus
untuk moving-bed process, rasio yang digunakan lebih
rendah dari 10:1
Katalis yang digunakan pada proses catalytic cracking
harus memiliki beberapa spesifikasi, seperti:

Tahan terhadap thermal shock dan physical impact

Tahan terhadap keberadaan karbondioksida, udara,


senyawa nitrogen, senyawa sulfur, dan steam

Memiliki aktivitas dan selektivitas yang tinggi


Logam seperti nikel, vanadium, besi, dan tembaga yang
terkandung pada umpan proses terdeposit pada
permukaan katalis dan mempengaruhi aktivitas serta
selektivitas dari katalis

Treatment terhadap katalis yang sudah dikembangkan


secara komersial diantaranya adalah:

Demet menggunakan bahan kimia


Met-X menggunakan resin penukar ion
Lempung (Clay) silika-alumina
Zeolita +
yang Diolah amorphous
silika/alumina
Asam buatan
Fixed Bed Catalytic Cracking

Moving Bed Catalytic Cracking

Fluidized Catalytic Cracking


Eugene Houdry 1936 (Houdry
Fixed Bed Catalytic Cracking)
Katalis pellet sebagai bed dalam
reaktor tanpa berpindah tempat
Feed (vapor) preheated 450C P
vakum supaya konversi lebih
banyak
Regenerasi coke pembakaran
coke dan injeksi steam
Proses simultan vessel paralel
Fixed bed kurang efisien
Terdapat vessel khusus untuk regenerasi katalis (kiln)
Proses kiln adalah pembakaran terhadap coke yang menempel
di permukaan katalis
Katalis (pellet) bersirkulasi (tidak stay pada tray tertentu) dan
diregenerasi
Mengurangi coke dan deaktivasi katalis
Jenis jenis :
Airlift Thermofor Catalytic Cracking
Houdriflow Catalytic Cracking
Houdresid Catalytic Cracking
Suspensoid Catalytic Cracking
Paling banyak digunakan
Katalis butiran halus memperluas luas permukaan kontak
Katalis yang terfluidisasi dan bersirkulasi pada kolom
reaktor dan kolom regenerator
Pemindahan dilakukan dengan pengaturan kondisi operasi
oleh steam
Feed dari distilasi atmosferik dan distilasi vakum, titik didih
awal > 340oC, berat moleku 200-600
FCC Input Kondisi Operasi
Atmosferik dan vakum gas oil Suhu reaktor : 920-1020 F
(640-1050 F) Suhu regenerator : 1200-1400 F
Residual Gas oil (1050 F) Waktu kontak : 1,2 6,0 s
FCC Output Rasio katalis terhadap minyak :
Gasoline (mid oktan) 50-60% 4-10 %wt
Cracked Distilat 15-20% Tekanan reaktor : 10-35 psig
Definic LPG 20% Preheat Feed : 300-700 F
Katalis : Silica-Alumina
Proses fluidized catalytic cracking :
Fluid-Bed Catalytic Cracking
Model IV Fluid-Bed Catalytic Cracking Unit
Orthoflow Fluid-Bed Catalytic Cracking
UOP Fluid-Bed Catalytic Cracking
Shell Two Stage Fluid-Bed Catalytic Cracking

Tipe dasar unit FCC


Side by side dua vessel berbeda yang berdampingan
Orthoflow/Stacked satu vessel posisi atas bawah
Penambahan steam
Kontak dengan
Feed dipompa untuk pembakaran
katalis start up dan Reaksi dalam reaktor
dengan riser dan memutus ikatan
regenerated
rangkap

Fraksi minyak yang


Hasil masuk ke Produk ke kolom Coke dan spent
masih berat
siklon, katalis fraksinasi menjadi catalyst masuk ke
dialirkan ke feed dan
dipisahkan cracked distillate regenerator
riser

Gas pengotor Regenerated katalis


Pembakaran oleh
dibuang ke udara dialirkan lagi ke Reaksi di reaktor
steam di regenerator
berupa CO2 dalam reaktor
Reaksi Primer
Reaksi perengkahan yang pertama terjadi pada suatu
molekul dari umpan

Reaksi Sekunder
Reaksi perengkahan lanjutan dari reaksi perengkahan
primer
Katalis yang digunakan
biasanya SiO2 atau Al2O3
bauksit.
Reaksi dari perengkahan
katalitik melalui
mekanisme perengkahan
ion karbonium.
Katalis bersifat asam
menambahkan proton ke
molekul olefin atau
menarik ion hidrida dari
alkana membentuk ion
karbonium
Pemutusan ikatan karbon

Contoh : Cracking pada C40H82

40 82 3 + = 2

40 82 4 + = 2

Nilai R adalah 37 karbon


Proton dari katalis diberikan kepada rantai olefin
Ikatan rangkap yang lebih reaktif akan menjadi ikatan
tunggal
Terbentuk molekul karbonium
Pemutusan ikatan pada posisi karbon beta

Pemutusan dari gugus karbonium dan gugus rangkap

Posisi beta adalah posisi karbon kedua setelah gugus fungsi


Menstabilkan proton pada karbon atom tersier

Membentuk bentuk lain dari molekul karbonium


Molekul karbonium menyerang molekul karbon lain
Ion atom hidrogen dan 2 pasang elektron berpindah ke
molekul karbonium
Perengkahan molekul karbon panjang menjadi produk yang
diinginkan
Molekul yang masih panjang akan mengulangi dari tahap
inisiasi
Periode Awal Kilang Pertamina (1957-
1990)

Periode Moderenisasi Kilang Pertamina


(1990-sekarang)

Optimasi Unit Catalytic Cracking


PT Permina berdiri tahun 1957, diawal berdirinya teknologi
yang dimiliki kilang-kilang saat itu cenderung sangat
sederhana.
Minyak mentah (crude) dipanaskan sampai 300 4000C.
Kemudian minyak mentah yang sudah dipanaskan tadi
terpisah dengan boiling point ranges, mulai produk dengan
boiling point paling rendah (gas, LPG), kemudian diikuti
produk lain sesuai dengan kenaikan boiling range-nya.
Oleh sebab itu kilang sederhana menghasilkan residu dalam
jumlah yang besar, khususnya bila yang diproses adalah jenis
minyak berat (heavy crude).
Transformasi kilang Indonesia yang lebih moderen dimulai
sejak Proyek Moderenisasi Exor 1 tahun 1990.
Dibangun kilang Balongan dengan kompleksitas yang tinggi.
Revitalisasi kilang-kilang lainnya menjadi kilang yang
kompleks.
Ditambahkan secondary process untuk melanjutkan produk
yang dihasilkan dari proses simple sebelumnya.
Secondary process : hydrotreating, reforming, cracking
(catalityc atau hydrocracking), dan coking.
Sumber :
Warta
Pertamina

Antara kilang sederhana dan kompleks memang akhirnya


akan membedakan produk-produk yang dihasilkannya. Complex
Refinery akan menghasilkan light product yang lebih besar
keuantitasnya.
Kilang 2010 2014
RU IV Balongan 11,9 12,5
RU II Dumai 7,5 7,5
RU IV Cilacap 4,0 5,4
RU V Balikpapan 3,3 3,3
RU III Plaju 3,1 3,1
RU VII Kasim 2,4 2,4
Kilang Singapura (Rata- 6,8 -
rata)
Kilang AS (Rata-rata) 10,7 -
Kilang Inggris (Rata- 9,0 -
rata)

Sumber: Refining Technology DIREKTORAT PENGOLAHAN Sumber: Warta Pertamina


PERTAMINA Januari 2015
KILANG CILACAP
KILANG BALONGAN Di tahun 2000 kompleksitas Kilang
Tiga unit operasi utama yaitu : Cilacap masih rendah, yaitu 4.0
CDU dengan kapasitas 125.000 barel Proyek Langit Biru Ciacap, pada
per hari proyek ini di bangun unit Residual
Atmospheric HydroDemetallization
Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang
akan meningkatkan produksi dari
Unit (ARHDM) unit dengan kapasitas
fraksi berat.
58.000 barel per hari
Residue Catalytyc Cracking Unit
(RCC) dengan kapasitas 83.000 barel
per hari
FCC (Fluid Catalytic Cracking Unit) menjadi
RFCC (Residue Fluid Catalytic Cracking Unit)
bila feed bahan Vacum Gas Oil dan Long
Residue dari Unit Crude Destilasi,
FCC menjadi RCC (Residue Catalytic
Cracking Unit) bila feednya adalah minyak
Long Residue.
KILANG BALIKPAPAN KILANG DUMAI
Primary prosessing : Konfigurasi Kilang RU II Dumai terdiri

CDU dengan total kapasitas 260 atas kilang lama dan Kilang baru.
MBSD Kompleks kilang lama terdiri Adapun
2 unit HVU dengan kapasitas 106
kilang baru terdiri atas High Vacuum
MBSD. Unit (kapasitas saat ini 106 MBSD),
HCU, dan Delayed Coker Unit/DCU.
Untuk secondary processing :
Tidak terdapat unit catalytic cracking
2 unit HCU dengan kapasitas total
55 MBSD KILANG PLAJU
Unit catalytic cracking dengan
unit NHT-Platforming dengan
kapasitas 20 MBSD. kapasitas 20,500 bpd.
Proyek revitalisasi kilang Plaju
Tidak terdapat unit catalytic
cracking dibatalkan karena dianggap tidak
ekonomis.
KILANG KASIM
Tidak terdapat unit catalytic cracking
Sumber: Refining
Technology
DIREKTORAT
PENGOLAHAN
PERTAMINA Januari
2015
Sumber:
http://www.slide
share.net/Rangga
ArisMunandar1/k
p-
58901468?qid=6
bd3536d-3390-
4ef7-8742-
1aa65664e8f5&v
=&b=&from_sear
ch=3
(Laporan Kerja
Praktek)
Perkembangan pesat dunia industri yang menggunakan crude
oil sebagai bahan bakar dan sumber bahan baku petrokimia,
menyebabkan makin lama harga crude oil makin mahal.
Proyek Langit Biru, revamping RFCC dari kapasitas 62.000
bph menjadi 81.000 bph.
Feed : atmospheric residue.
Produk : Unsaturated Gas, Cracked LPG, Unstabilized
Gasoline, Cracked Distillate (LCO), dan Bottom Oil.
Optimasi Catalytic cracking dilakukan untuk mendapatkan proses
benar-benar kontinyu dengan cara memisahkan tempat reaksi dan
regenerasi.
FCC unit Model No. 1 tahun 1942
Perkembangan selanjutnya adalah perbaikan-perbaikan maka lahir
beberapa model yaitu: 2 dan 3 dan lahir terakhir model 4 dibangun
pertama pada tahun 1949.
Maskapai yang mempunyai patent sendiri didalam fluid unit adalah
UOP dan ESSO. Paten ESSO yang paling banyak digunakan dikilang
seluruh dunia.
Pertamina memiliki catalitic cracking unit (FCCU model 4) juga
patent dari ESSO.
Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dari segi
kuantitas maupun kualitas jenis umpan memegang
peranan penting. Untuk mendapatkan hal tersebut
persyaratan umpan Catalytic Cracking sebagai berikut :
1. Gravity oAPI : 28 - 30
2. Boilling range 600 - 1100oF
3. Conradsion carbon residue weight = 0,5 % max
4. Water content 0,05 % max
Sumber: UOP RFCC
Innovation Techology
Formulasi Katalis :

Katalis untuk mereduksi olefin pada gasoline

Katalis untuk mencapai efisiensi konversi yang tinggi

Katalis untuk produksi propana yang tinggi


Sumber : Residue
Fluid Catalytic
Cracking
Technology and
Catalysts in CNPC
.
Contoh aditif :
ZSM-5 untuk catalytic cracking olefin pada LPG, berfungsi
sebagai SOx transfer agent dan promoter reaksi pembakaran.

Sumber : Residue Fluid


Catalytic Cracking
Technology and Catalysts in
CNPC
Capacity
Refinery Unit
No Unit Province thousand
(RU)
bopd

1 RU II Dumai Riau 127

2 RU III Plaju (Musi) South Sumatra 127

3 RU IV Cilacap West Java 348

East
4 RU V Balikpapan 260
Kalimantan

5 RU VI Balongan West Java 125

6 RU VII Kasim/Sorong West Papua 10

Total 997
Terdapat 3 tahapan penting dalam proses catalytic cracking di
RU Plaju yaitu :

Light Ends and


FCC Reaction Fractionation Gas Compression
Section Section Section
Umpan
dilakukan Riser Regenerator
Preheating
Kolom Kolom
Fractional I Fractional II
Primary Sponge
Stripper
Absorber Absorber

Debutanizer Stabilizer
Tahapan Proses

Proses Reaksi Proses


dan Regenerasi Pemisahan
Cyclone Fractionation
Preheater Regenerator
Reactor Section
Proses pemisahan dilakukan di dalam kolom fraksionasi 15-C-101
untuk memisahkan hidrokarbon menjadi Overhead vapor, LCO, dan
DCO berdasarkan titik didihnya. Overhead vapor kemudian dialirkan
ke unit 16 (unsaturated gas plant) untuk pemisahan lebih lanjut.
Produk LCO akan diolah kembali di LCO Hydrotreater Unit (unit 21)
dan produk DCO akan dikirim ke blending fuel atau disimpan di
dalam tangki untuk selanjutnya diekspor karena sudah merupakan
produk akhir.
Modifikasi Catalytic cracking untuk menurunkan olefin
pada gasoline.
Dengan menambahkan reaktor terpisah
untuk memodifikasi produk berupa
catalytic cracked gasoline. Reaktor
tambahan berfungsi untuk menurunkan
jumlah olefin yang terkandung dalam
gasoline. Reaktor tambahan
dikombinasikan dengan bed conveying
dan turbulent bed. Olefin dapat
berkurang sampai kurang dari 20v%,
sesuai dengan standar emisi. Selain itu
oktan number gasoline yang dihasilkan
juga mengalami peningkatan.

Sumber : Residue Fluid Catalytic Cracking


Technology and Catalysts China National
Petroleum Corporation (CNPC)
Teknologi ini menggunakan dua reaktor riser
terpisah yang berfungsi untuk mencegah over
cracking, menghasilkan yield coke yang
rendah, meningkatkan kualitas dan yield dari
light oil. Pada reaktor pertama digunakan
untuk mencrack fresh feed. Sedangkan
reaktor kedua berfungsi untuk meng-crack
minyak yang di sirkulasi dari tahap pertama.
Kedua reaktor tersebut di kontakan dengan
katalis aktif dari unit regenerasi. Tujuan
pemisahan adalah untuk distribusi produk
yang tidak menguntungkan akibat terlalu
lama dalam reaktor sehingga terjadi
kompetisi antara fresh feed dan cycle oil pada
Sumber : Residue Fluid Catalytic Cracking reaktor yang sama.
Technology and Catalysts China National
Petroleum Corporation (CNPC)
Dengan meningkatnya kebutuhan propane maka berkembang
Residue Fluid Catalytic Cracking Technology for Higher
Propene Production.

Sumber : Residue Fluid Catalytic Cracking


Technology and Catalysts China National
Petroleum Corporation (CNPC)
Kombinasi teknologi two stage riser dan
multiple zona reaksi untuk
menghasilkan kondisi reaksi ideal dari
feedstock yang terintegrasi, C/O yang
tinggi dalam temperatur rendah,
residence time yang sesua dan
meminimalisir terbentukanya dry gas.
Dengan menggunakan conveying bed
reaktor. Total coke dan dry gas yang
dihasilkan kurang dari 15%wt. Yield
propana lebih dari 20%wt, RON Gasoline
diatas 93. Biasa digunakan untuk
cracking unit jenis crude paraffin untuk
dapat memaksimalkan produksi
propana.

Sumber : Residue Fluid Catalytic Cracking


Technology and Catalysts China National
Petroleum Corporation (CNPC)
Sumber: FCC
product
Flexsibility
with FlexEne
Sumber: FCC
product
Flexsibility with
FlexEne
Proses Catalytic Cracking menghasilkan produk yang
bervariasi, termasuk produk ringan.
Salah satu produk ringan adalah gas kilang (Refinery
Gasses).
Pada beberapa Kilang, gas kilang biasanya dibakar atau
dibuang langsung melalui flare.
Gas Kilang dapat dimanfaatkan lebih lanjut:
Untuk bahan baku proses lain
Digunakan sebagai bahan bakar
Sumber:
http://www.joh
nzink.com/prod
ucts/flare-gas-
recovery/proces
s-diagram/
Pemanfaatan Produk Bawah Catalytic Cracking
Slurry ditarik dari dasar, dipompakan ke tangki
penyimpanan pengolahan lanjut :
1. Disirkulasikan kembali sebagai feed FCC
2. Selain itu slurry juga dapat digunakan untuk bahan
campuran beton.
Merupakan salah satu kilang Ada 2 tempat operasi
minyak terbesar di dunia Jurong 302.000
Dapat memproses lebih dari barel/hari
20 jenis minyak mentah Pulau Ayer Chawan
290.000 barel/hari
Terkenal dengan teknologi
pada unit Steam Cracker
dan Aromatic Plant
Produk utama berupa bahan
bakar, pelumas, dan
senyawa aromatik
Kapasitas Catalytic Cracking

Pada umumnya memakai


katalis silika-alumina
Kecepatan sirkulasi
padatan katalis 20
metrik ton /menit dari
reaktor ke regenerator dan
sebaliknya.
Produk yang dihasilkan
masih lebih kecil daripada
produk hasil catalytic
cracking di Indonesia