Anda di halaman 1dari 27

HUBUNGAN KUANTITATIF

STRUKTUR DAN AKTIVITAS


OBAT ANTIJAMUR
Kelompok 8 :
Aprila Ayu Dwi Nastiti 16013004
Feni Nurfadhilah 13010029
Ika Wahyu Pertiwi 14R10060
Toni Erfandi 16013015
Obat Antijamur

senyawa yang digunakan untuk pengobatan penyakit infeksi yang


disebabkan oleh jamur.
Jamur yang
menginfeksi
manusia
(mikosis)
mikosis
superfisial
mikosis
sistemik

mikosis
kutan
mikosis
subkutan
1. Mikosis sistemik
Mempengaruhi organ internal dan visceral, tersebar secara luas
dan melibatkan banyak jaringan yang berbeda. Mikosis sistemik
disebabkan oleh jamur saprotik ditanah melalui inhalasi spora.

Yang termasuk mikosis sistemik :


• Aspergilosis (Aspergillus fumigatus), antijamur : amfoterisin B (I.V) + 5 –
fluorositosin (oral)
• Blastomikosis (Blastomyces dermatitis), antijamur : amfoterisin B (I.V),
ketokonazol (oral)
• Kandidiasis (Candida sp), antijamur : amfoterisin B (I.V) ± 5 - fluorositosin
(oral), nistatin (oral + setempat), klotrimazol dan mikonazol (setempat) dan
ketokonazol (oral)
2. Mikosis subkutan
Disebabkan oleh jamur yang masuk ke kulit melalui pengotoran
tanah, serpih atau duri, dan cenderung terlokalisasi pada jaringan
subkutan. Biasanya terjadi pada tulang, muka, kulit dan jaringan
subkutan sehingga dapat menyebabkan kerusakan yang berat dan
kadang – kadang menimbulkan kematian.

Yang termasuk mikosis subkutan adalah :


• Kromomikosis (jamur dimorfik)
• Maduromikosis (tak kurang dari 13 spesies jamur)
• Sporotrikosis (Sporothrix schenkii)
3. Mikosis kutan dan mukokutan

Mikosis kutan Mikosis mukokutan

Hanya menginfeksi epidermis, rambut Disebabkan oleh jamur Candida sp.


dan kuku, dan disebabkan oleh jamur dan penyakitnya disebut kandidiasis.
Dermatophytes, seperti
Epidermophyton floccosum,
Microsporum sp. dan Trichophyton sp.
penyakitnya disebut dermatofitosis
atau dermatomikosis.
4. Mikosis Superfisial
Hanya menginfeksi rambut dan lapisan superfisial dari epidermis.

Yang termasuk mikosis superfisial adalah :


• Black piedra (Piedraia hortai)
• Tinea nigra (Cladosporium werneckii)
• Pitiriasis atau Tinea versicolor (Pityrosporum orbiculare)
• White piedra (Trichosporum cutaneum)
Mekanisme obat anti jamur

Mekanisme kerja obat antijamur adalah dengan


mempengaruhi sterol membrane plasma sel jamur, sintesis
asam nukleat jamur, dan dinding sel jamur yaitu kitin, β
glukan,dan mannooprotein.
HUBUNGAN STRUKTUR DAN AKTIVITAS
turunan
asam

turunan lain- turunan


lain tionokarbamat

Berdasarkan
struktur
kimianya
obat
turunan turunan
antijamur
halogen pirimidin

turunan Antibiotika
imidazole
1. Turunan Asam
• Antijamur setempat pada kulit. Mekanisme kerja antijamur
turunan ini disebabkan oleh efek kertolitiknya.

Contoh : asam salisilat, salisilanilid, asam benzoate, asam


benzoat, asam propionat, natrium krapilat dan asam
undesilenat.
Lanjutan
• Asam salisilat dan asam benzoat memiliki struktur inti
yang sama berupa benzena dan salah satu gugus
fungsinya berupa asam karboksilat.
• Memiliki aktifitas yang sama sebagai antijamur
2. Turunan Tionokarbamat
Contoh : tosiklat dan tolnaftat
Tosiklat (Tolmicen), efektif secara setempat untuk
pengobatan dermatomikosis.
Tolnaftat, mempunyai aktivitas yang tinggi terhadap
dermatomikosis
Lanjutan
• Toksiklat dan Tolnaftat memiliki struktur utama yang sama dan gugus
metilkarbamat memegang peran yang cukup penting sebagai antijamur
• Senyawa tetap aktif bila gugus tolil diganti dengan substituent α – naftol – β –
metil bila gugus metil diganti dengan substituent H, hidroksil atau metoksi.
• Aktivitas obat akan hilang bila gugus metil diganti dengan gugus halogen,
karboksilat atau nitro
3. Turunan Pirimidin

Contoh : 5 – fluorositosin (flusitosin) dan heksetidin


Lanjutan
5–fluorositosin
Mekanisme kerja
Mula – mula flusitosin mengalami metabolism di dalam sel jamur, menjadi 5-
fluorourasil, suatu anti metabolit pirimidin. Metabolic antagonis tersebut
kemudian bergabung dengan asam ribonukleat dan kemudian menghambat
sintesis asam nukleat dan protein jamur. Efek antijamur flusitosin meningkat
bila dikombinasi dengan amfoterisin B atau turunan imidazol.
4. Turunan Antibiotika
Contoh : griseofulvin dan antibiotika turunan polien, seperti
nistatin, amfoterisin B dan kandisidin.
Lanjutan
Griseofulvin
• Senyawa akan tetap aktif bila atom Cl diganti dengan atom F, tetapi
aktivitasnya menurun bila diganti dengan atom Br atau H.
• Penggantian substituen metoksi pada cincin sikloheksan dengan gugus
propoksi atau butoksi akan meningkatkan aktivitas secara in vitro karena
dapat meningkatkan kelarutan dalam lemak sehingga penembusan ke dalam
membran bakteri lebih baik. Substitusi dengan asam amino justru
menghilangkan aktivitas biologis.
Lanjutan
Antibiotika turunan polien
• Aktivitas antijamur antibiotika turunan polien disebabkan oleh afinitas obat
yang sangat besar terhadap ergosterol, dan sistem ikatan rangkap
terkonjugasi kurang lebih sama dengan molekul ergosterol. Bila kedua
molekul diatas bertemu pada membran sel jamur, terjadi interaksi hidrofob
dengan sistem ikatan rangkap akan mengganti interaksi fosfolipid. Kompleks
polien – ergosterol yang terjadi dapat membentuk suatu pori pada jamur
sehingga menghambat pertumbuhan jamur
5. Turunan imidazole
Contoh : kotrimoxazole, ketoconazole, bufonazole,
ekonazole nitrat, oxykonazole nitrat, miconazole nitrat,
isokonazole nitrat, fluconazole nitrat, tiokonazole, dan
itrakonazole .
Lanjutan
• Ketoconazole (micoral, nizoral), diabsorpsi dengan baik oleh saluran cerna
meskipun tidak sempurna dibandingkan kotrimazole
Lanjutan
6. Turunan halogen
Haloprogin
• Mekanisme kerja
Turunan halogen dapat berinteraksi membentuk ikatan covalent dengan gugus-
gugus fungsional dari sel jamur, seperti gugus tio, yang terdapat pada
coenzyme A, sistein, glutation, asam lipoat dan tiamin, gugus amino yang
terdapat pada asparagine atau glutamin, serta gugus karboksil dan hidroksil.
Interaksi obat tersebut dapat melalu reaksi oksidasi, adisi konjugat atau
eliminasi klorin. Ikanan covalent yang kuat menyebabkan masa kerja obat
menjadi panjang.
• Reaksi haloprogin dengan gugus tio dijelaskan sebagai
berikut :
7. Turunan lain-lain
• Contoh : naftifin Hcl, siklopiroksolamin, gentian violet,
demifen bromide, dipition, selenium sulfide dan
oktopiroks.
Lanjutan
• Terbinafin (lamisin), merupan analog dari naftifin, dapat digunakan secara
peroral maupun topical. Bekerja sebagai antijamur dengat menghambat
skualen epoksidase. Enzyme yang mengkatalis tahap penting pada
biosintesis sterol jamur. Terbinafin adalah anti jamur dengan spectrum
aktivitas yang luas.
Lanjutan
• Dipirition dan selenium sulfide (selsun) adalah senyawa turunan tiol yang
mempunyai efek antijamur, digunakan sebagai antiketombe dan pengobatan
infeksi tinea versicolor pada kulit kepala.