Anda di halaman 1dari 133

PERENCANAAN TAMBANG

Maryanto, S.Si., MT.

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BUKU REFERENSI

1. Hustrulid, W.A., 2013, Open Pit Mine Planning and


Design, CRC Press.
2. Morin, M.A., 2001, Underground Hardrock Mine Design
and Planning, Canada
BAB I PENGANTAR PERENCANAAN TAMBANG

1. SASARAN KULIAH
A. Mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan kerekayasaan dan
keekonomian yang telah diperoleh ke dalam suatu perencanaan
dan perancangan tambang serta evaluasi finansial suatu tambang
yang modern
B. Mahasiswa diharapkan dapat memahami :
• Falsafah perencanaan
• Penaksiran cadangan cebakan bijih dan endapan mineral
• Pengertian cut off grade, stripping ratio dan kadar ekivalen
• Perancangan batas penambangan (final/ultimate pit limit)
• Pentahapan tambang (mine phases/pushbacks)
• Penjadwalan produksi tambang (mine production schedule)
• Pembuatan peta kemajuan tambang (mine design)
• Perancangan tempat penimbunan (waste dump design)
• Perhitungan kebutuhan alat dan tenaga kerja
• Evaluasi Ekonomi Tambang
2. DEFINISI PERENCANAAN
A. Perencanaan secara umum :
Penentuan persyaratan teknik dan urutan teknik kegiatan yang
harus dilaksanakan, untuk pencapaian tujuan dan sasaran
kegiatan
Ada berbagai macam perencanaan antara lain :
a. Perencanaan jangka panjang, yaitu suatu perencanaan kegiatan
yang jangka waktunya lebih dari 5 tahun secara berkesinambungan.
b. Perencanaan jangka menengah, yaitu suatu perencanaan kerja
untuk jangka waktu antara 1 – 5 tahun.
c. Perencanaan jangka pendek, yaitu suatu perencanaan aktivitas
untuk jangka waktu kurang dari setahun demi kelancaran
perencanaan jangka menengah dan panjang.
d. Perencanaan penyangga atau alternatif ; bagaimanapun baiknya
suatu perencanaan telah disusun, kadang-kadang terjadi hal-hal tak
terduga atau ada perubahan data atau timbul hambatan (kendala)
yang sulit diatasi, sehingga dapat menyebabkan kegagalan, maka
harus diadakan perubahan dalam perencanaannya.
B. Perencanaan Tambang :

Mencakup kegiatan-kegiatan prospeksi, eksplorasi, studi kelayakan yang


dilengkapi AMDAL, persiapan dan konstruksi sarana/prasarana tambang,
operasi penambangan, kesehatan dan keselamatan kerja (K3) serta
pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Apabila Perusahaan
melakukan kegiatan terpadu, maka mencakup pula pengolahan, peleburan,
pemurnian dan pemasaran.

 Perencanaan berhubungan dengan WAKTU


C. Perancangan Tambang :

- Bagian dari proses perencanaan tambang yang berkaitan


dengan geometrik (lereng tambang, desain tambang, desain
timbunan, terowongan)

 Perancangan tidak berhubungan dengan


WAKTU
3. GARIS BESAR PERENCANAAN TAMBANG
Tujuan dari perencanaan tambang adalah membuat suatu
rencana produksi tambang sebuah cebakan bijih atau
endapan mineral yang akan :
• Menghasilkan tonase bijih atau endapan mineral pada tingkat
produksi yang telah ditentukan dengan biaya yang semurah
mungkin
• Menghasilkan aliran kas (cash flow) yang akan memaksimalkan
beberapa kriteria ekonomik seperti Rate Of Return (ROR) dan
Net Present Value (NPV).

Perencanaan tambang dibagi menjadi tahap-tahap :


• Penentuan batas Pit (Pit limit)
• Perancangan Pushback
• Penjadwalan Produksi
• Kemajuan tambang berdasarkan urutan waktu
• Pemilihan alat
• Perhitungan ongkos-ongkos operasi dan kapital
A. PENENTUAN BATAS PIT
- Menentukan batas akhir penambangan (ultimate pit limit) dari
jebakan bijih atau endapan mineral  menentukan besarnya
cadangan bijih yang akan ditambang (tonase dan kadarnya)
 memaksimalkan NPV

B. PERANCANGAN PUSHBACK
- Merancang bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris)
untuk menambang habis cadangan mulai dari titik awal masuk
hingga batas akhir pit.
Perancangan pushback ini membagi ultimate pit menjadi unit-
unit perencanaan yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola
C. PENJADWALAN PRODUKSI
- Menambang jebakan bijih/endapan mineral & lapisan penutup
(waste) di atas kertas jenjang demi jenjang mengikuti urutan
pushback, menggunakan tabulasi tonase dan kadar untuk tiap
pushback yang diperoleh dari tahap B.
D. MEMBUAT PETA KEMAJUAN TAMBANG
- Berdasarkan sasaran jadwal produksi, maka digambar peta-
peta rencana penambangan tahunan. Peta rencana pembuang
an waste (waste dump), dibuat untuk periode tahun yang sama

E. PEMILIHAN ALAT
- Berdasarkan peta-peta rencana penambangan, maka dibuat
profil jalan angkut setiap periode waktu  Kebutuhan armada
alat angkut dan gali muat dapat dihitung setiap tahun.
Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat-alat bantu (buldozer,
grader dll.) dihitung pula.

D. PERHITUNGUN ONGKOS-ONGKOS OPERASI & KAPITAL


- Berdasarkan tingkat produksi dengan peralatan yang dipilih,
dapat dihitung jumlah gilir kerja (shift operation) yang diperlukan
untuk mencapai target produksi, serta jumlah personil untuk
operasi, perawatan dan pengawasan.
Tahap
Kegiatan
Pada
Industri
Pertam-
bangan
BAB II PENAKSIRAN SUMBER DAYA
DAN CADANGAN MINERAL
TAHAP-TAHAP EKSPLORASI
SURVEY TINJAU
adalah tahap eksplorasi untuk mengindentifikasi daerah yang
berpotensi mengandung endapan mineral.
Kegiatan : pemetaan geologi regional, pemotretan udara
PROSPEKSI
adalah tahap eksplorasi untuk mempersempit daerah yang
berpotensi mengandung endapan mineral.
Kegiatan : pemetaan geologi lokal, metode geofisika
EKSPLORASI UMUM
Adalah tahap eksplorasi untuk penggambaran awal endapan
mineral yang teridentifikasi dari tahap prospeksi
Kegitan : pemetaan geologi, sampling, paritan, pemboran
EKSPLORASI RINCI
Adalah tahap eksplorasi untuk penggambaran secara rinci
endapan mineral yang telah diketahui dari tahap eksplorasi umum
Kegiatan : memperapat jarak sampling, dan titik bor
1. DEFINISI
SUMBER DAYA MINERAL (Mineral Resources) adalah endapan
mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata.

Sumber daya mineral dengan keyakinan geologi tertentu, dapat berubah


menjadi cadangan, setelah dilakukan studi kelayakan tambang
memenuhi kriteria layak tambang.

CADANGAN (Reserve) adalah endapan mineral yang telah diketahui


ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas dan kualitasnya dan yang secara
ekonomis, teknis, hukum, lingkungan dan sosial, layak ditambang pada
saat perhitungan dilakukan
KLASIFIKASI SUMBER DAYA MINERAL
Sumber daya mineral hipotetik (Hypothetical Mineral Resource)
adalah sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh
berdasarkan perkiraan pada tahap Survey Tinjau.

Sumber daya mineral tereka (Inferred Mineral Resource) adalah


sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh
berdasarkan hasil pada tahap Prospeksi.

Sumber daya mineral terunjuk (Indicated Mineral Resource) adalah


sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh
berdasarkan hasil pada tahap Eksplorasi Umum.

Sumber daya mineral terukur (Measured Mineral Resource) adalah


sumber daya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh
berdasarkan hasil pada tahap Eksplorasi Rinci.
KLASIFIKASI CADANGAN MINERAL
Cadangan Terkira (Probable Reserve) adalah sumber daya mineral
terunjuk dan sebagian sumber daya mineral terukur yang tingkat
keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi
kelayakan tambang, semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga
penambangan dapat dilakukan secara ekonomik.

Cadangan Terbukti (Proved Reserve) adalah sumber daya mineral


terukur, yang berdasarkan studi kelayakan tambang, semua faktor yang
terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara
ekonomik.
KLASIFIKASI SUMBER DAYA DAN CADANGAN MINERAL
2. DATA UTAMA PENAKSIRAN SUMBER DAYA DAN
CADANGAN MINERAL

A. Geologi
a). Hasil logging geologi dari data pengeboran
b). Percontoh yang representatif dari hasil pengeboran
c). Peta-peta geologi dari pemetaan permukaan dll.
B. Data Kadar (Assay Data)
- Sertifikat kadardari laboratorium
- Data assay biasanya digabung menjadi data komposit untuk
tinggi jenjang tertentu, untuk keperluan penaksiran kadar blok

C. Data Lokasi
- Data survey koordinat permukaan dari lubang bor
- Data survey bawah tanah dari kemiringan lubang bor

D. Peta-peta Topografi
2. METODE PENAKSIRAN SUMBER DAYA DAN
CADANGAN MINERAL

A. Metode Manual (Cross Section)

Rumus mean area :


Volume = (A1 + A2) x d
2
Rumus kerucut terpancung :

{ √ }
Volume = A1 + A2 + (A1xA2) x d
3
Keterangan :
A1 = Luas penampang 1
A2 = Luas penampang 2
d = jarak antara penampang1 & 2
3. METODE PENAKSIRAN SUMBER DAYA DAN
CADANGAN MINERAL

Rumus Obelisk :
Volume = { (S1+4M+S2)/6 } x d
M = {(a1+a2)/2} x {(b1+b2)/2}

Keterangan :
S1 = Luas penampang 1
S2 = Luas penampang 2
d = jarak antara penampang1 & 2
3. METODE PENAKSIRAN SUMBER DAYA DAN
CADANGAN MINERAL

B. Metode Poligon
Volume1 = A1 x t1
Volume3 = A3 x t3
Volume6 = A6 x t6
Volume8 = A8 x t8

Keterangan :
A1 = Luas penampang 1
A3 = Luas penampang 3
A6 = Luas penampang 6
A8 = Luas penampang 8
t1 = ketebalan pada titik 1
t3 = ketebalan pada titik 3
t6 = ketebalan pada titik 6
t8 = ketebalan pada titik 8
3. METODE PENAKSIRAN SUMBER DAYA DAN
CADANGAN MINERAL
C. Metode Blok Model (Grid)
- NNP (Neighborhood Nearest Point)
- PDW (Power Inverse Distance)
- Krigging
3. METODE PENAKSIRAN SUMBER DAYA DAN
CADANGAN MINERAL

C. Metode Blok Model (Komputer)


BAB III KADAR BATAS, NISBAH
PENGUPASAN DAN KADAR EKIVALEN

DEFINISI
Kadar adalah kandungan unsur logam (AU, Ag, CU,
Ni, Fe, Al) di dalam endapan bijih (ore deposit)
Misal : Kadar endapan bijih emas = 4 gr/ton (artinya
terdapat 4 gr AU didalam 1 ton bijih
PERHITUNGAN KADAR BATAS (CUT OF GRADE)
KADAR BATAS PULANG POKOK (BREAK EVEN CUT OFF
GRADE = BECOG) : adalah kadar bijih yang menghasilkan
pendapatan yang diperoleh sama dengan biaya yang
dikeluarkan untuk menambang dan memprosesnya

Biaya (Mine + Mill + G&A)


BECOG = -----------------------------------------------------------------------
(Harga jual – SRF) x Mill_rec x Smell_rec x Faktor

$/ton $/ton
BECOG = ------------------ = -------------------------------
$/lbs x lbs/lbs $/lbs x lbs/0,05%/ton
$/ton
BECOG = ------------------------------ = %
$/lbs x 20 lbs / % ton
INTERNAL CUT OFF GRADE :

Biaya (Mill + G&A)


ICOG = -----------------------------------------------------------------------
(Harga jual – SRF) x Mill_rec x Smell_rec x Faktor)

PROCESS CUT OFF GRADE :

Biaya Mill
PCOG = -----------------------------------------------------------------------
(Harga jual – SRF) x Mill_rec x Smell_rec x Faktor)
PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN
Bilamana dalam cebakan bijih terdapat lebih dari satu
mineral (utama dan ikutan), maka perlu dipakai konsep
dasar ekivalen untuk mengevaluasinya.
NSR (Net Smelter Return) = adalah nilai kotor dari 1 ton
bijih setelah dikurangi biaya-biaya Smelting, Refining
dan Freight (SRF)
Urutan perhitungan kadar ekivalen (Misal CU ekivalen) :
1). Hitung NSR 1 ton ore dengan kadar 1% CU
2). Hitung NSR 1 ton ore dengan kadar 1% Molly
3). Hitung Faktor ekivalensi = NSR Molly / NSR CU
4). Kadar CU ekivalen = kadar total CU + Faktor x Molly
Jika kadar total CU dan kadar Molly (emas, perak dll)
suatu blok diketahui, maka kadar CU ekivalen dari Blok
tersebut dapat dihitung.
PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN
BAB IV PERTIMBANGAN DASAR
PERENCANAAN TAMBANG

I. PERTIMBANGAN EKONOMIS

1. Cut Off Grade


a. Kadar terendah endapan mineral yang masih bisa
ditambang berdasarkan kondisi ekonomi dan
teknologi saat itu
b. Kadar rata-rata terendah endapan mineral yang
masih bisa ditambang berdasarkan kondisi
ekonomi dan teknologi saat itu
PERHITUNGAN KADAR BATAS (CUT OF GRADE)
KADAR BATAS PULANG POKOK (BREAK EVEN CUT OFF
GRADE = BECOG) : adalah kadar bijih yang menghasilkan
pendapatan yang diperoleh sama dengan biaya yang
dikeluarkan untuk menambang dan memprosesnya

Biaya (Mine + Mill + G&A)


BECOG = -----------------------------------------------------------------------
(Harga jual – SRF) x Mill_rec x Smell_rec x Faktor

$/ton $/ton
BECOG = ------------------ = -------------------------------
$/lbs x lbs/lbs $/lbs x lbs/0,05%/ton
$/ton
BECOG = ------------------------------ = %
$/lbs x 20 lbs / % ton
INTERNAL CUT OFF GRADE :

Biaya (Mill + G&A)


ICOG = -----------------------------------------------------------------------
(Harga jual – SRF) x Mill_rec x Smell_rec x Faktor)

PROCESS CUT OFF GRADE :

Biaya Mill
PCOG = -----------------------------------------------------------------------
(Harga jual – SRF) x Mill_rec x Smell_rec x Faktor)
PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN
Bilamana dalam cebakan bijih terdapat lebih dari satu
mineral (utama dan ikutan), maka perlu dipakai konsep
dasar ekivalen untuk mengevaluasinya.
NSR (Net Smelter Return) = adalah nilai kotor dari 1 ton
bijih setelah dikurangi biaya-biaya Smelting, Refining
dan Freight (SRF)
Urutan perhitungan kadar ekivalen (Misal CU ekivalen) :
1). Hitung NSR 1 ton ore dengan kadar 1% CU
2). Hitung NSR 1 ton ore dengan kadar 1% Molly
3). Hitung Faktor ekivalensi = NSR Molly / NSR CU
4). Kadar CU ekivalen = kadar total CU + Faktor x Molly
Jika kadar total CU dan kadar Molly (emas, perak dll)
suatu blok diketahui, maka kadar CU ekivalen dari Blok
tersebut dapat dihitung.
PERHITUNGAN KADAR EKIVALEN
2. Break Even Stripping Ratio (BESR)

a. BESR(1) adalah biaya penambangan bawah tanah


/ ton ore dikurangi biaya penambangan terbuka
/ ton ore dibagi biaya pengupasan / ton waste

b. BESR(2) adalah nilai perolehan / ton bijih


dikurangi biaya produksi / ton bijih dibagi biaya
pengupasan / ton waste
Biaya (Tamb. bwh tnh – Tamb. terbk ) / ton bijih
BESR(1) = -----------------------------------------------------------------
Biaya Stripping / ton waste

CONTOH :
- Biaya secara tambang bawah tanah = $2,00/ton ore
- Biaya secara tambang terbuka = $0,30/ton ore
- Biaya pengupasan tambang terbuka = $0,35/ton waste

( $ 2,00 - $ 0,30 )
BESR(1) = ------------------------- = 4,86
$0,35

Artinya:hanya bagian endapan mineral yang mempunyai


SR < 4,86 yang dapat ditambang secara tambang terbuka
(Pendapatan – Biaya Mine & Mill) / ton bijih
BESR(2) = ---------------------------------------------------------------
Biaya Stripping / ton waste
6:1
GRAFIK BESR

5:1

4:1
BESR

3:1

2:1

1:1

0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8


Kadar Bijih, % Cu

$ 0,25/lb Cu $ 0,30/lb Cu $ 0,35/lb Cu

TINGGI RENDAHNYA BESR DIPENGARUHI :


- Kadar logam dari bijih yang akan di tambang
- Harga logam di pasaran
II. PERTIMBANGAN TEKNIS

1. Ultimate Pit Slope


adalah batas akhir atau paling luar dari suatu
tambang terbuka yang masih diperbolehkan dan
kemiringan lereng pada batas ini dalam keadaan
stabil dan aman.

Penentuan kemiringan lereng tambang :


- aspek ekonomi  menguntungkan
- aspek teknik  stabil dan aman

Faktor yang mempengaruhi Ultimate Pit Slope


- BESR
- Stabilitas lereng tambang
2. Sistem Penirisan

a. Sistem Penirisan Langsung


adalah sistem penirisan dengan cara mengeluar-
kan (memompa) air yang sudah masuk ke dalam
tambang

- Penirisan dengan tunnel atau adit


air yang masuk ke dalam tambang dikeluarkan
dengan cara mengalirkan air dari dasar tambang
melalui terowongan (tunnel/adit)
- Penirisan dengan Open Sump
air yang masuk ke dalam tambang dikumpulkan
ke suatu sumuran (sump) yang dibuat di dasar
tambang, kemudian dipompa ke luar tambang
b. Sistem Penirisan Tak Langsung
adalah sistem penirisan dengan cara mencegah
masuknya air ke dalam tambang (preventive
drainage system), dengan cara membuat lubang
bor di bagian luar daerah penambangan atau di
jenjang, kemudian dari lubang-lubang bor
tersebut, air dipompa ke luar tambang
3. Ukuran Jenjang (Bench Dimension)
Menurut Hustrulid (Open Pit Mine Planning & Design)
PENAMPANG JENJANG KERJA

Lebar yang digali (Cut) = C


Lebar jenjang kerja = Wb
Jenjang penangkap
(Catch Bench) = Sb

FUNGSI JENJANG PENANGKAP


5 x 50
 (overall) = tan-1 = 50.4O
5 x 50
4 x 35 
tan 75 

SUDUT LERENG KESELURUHAN


SUDUT LERENG KESELURUHAN
DENGAN ADANYA RAMP
SUDUT LERENG ANTAR RAMP (INTERRAMP)
BAB V PERANCANGAN BATAS AKHIR
PENAMBANGAN
(PIT LIMIT DESIGN)

1. Perancangan tambang adalah bagian dari


perencanaan tambang yang berkaitan dengan
masalah-masalah geometrik, yaitu perancangan
batas akhir penambangan, tahapan penambangan
(pushback), penjadwalan produksi dan waste
dump.

2. Aspek perencanaan tambang yang tidak


berkaitan dengan geometrik adalah kebutuhan
alat dan tenaga kerja, perkiraan biaya kapital dan
biaya operasi.
3. Penentuan Batas Penambangan (Final Pit Limit )
Tujuan yang akan dicapai adalah menentukan
batas-batas penambangan pada suatu cebakan
bijih (yakni jumlah cadangan dan kadarnya), yang
akan memaksimalkan nilai bersih total cebakan
bijih tersebut, sebelum memasukan nilai waktu dari
uang.
1. METODE PENAMPANG 2-D
(MANUAL 2-D CROSS-SECTIONAL METHOD)
Tahap-tahap Metode Penampang 2-D
a. Pembuatan Model Blok Cadangan Bijih
b. Tentukan sudut lereng keseluruhan
c. Hitung BECOG
d. Buat tabel BESR untuk berbagai kadar batas
e. Untuk setiap penampang, tentukan batas
penambangan (trial pit limit) menggunakan
sudut lereng keseluruhan yang ditetapkan.
Tentukan posisi lereng akhir dimana BESR
kumulatip dari blok-blok bijih akan dapat
membayar pengupasan tanah penutupnya
f. Pindahkan batas penambangan dari penampang
vertikal (cross-section) ke horisontal (plan map)
2. METODE LERCHS GROSSMAN
adalah menentukan batas akhir tambang terbuka
(ultimate pit limit) dengan penjumlahan antara
biaya dan pendapatan secara kumulatif di dalam
pit limit. Biaya dinilai negatif dan pendapatan
dinilai positif

2. METODE KERUCUT MENGAMBANG 3-D


(FLOATING CONE 3-D METHOD)
adalah menentukan batas akhir tambang terbuka
(ultimate pit limit) dengan mencoba-coba me-
masukkan bentuk kerucut (bentuk pit) mengikuti
pusat dari bahan galian atau bijih (kemiringan
curam).
DATA YANG DIPERLUKAN
a. Model Blok Cadangan Bijih
b. Harga komoditas (Cu, Au, Ag, Mo, dll)
c. Biaya penambangan, pengolahan, umum &
administrasi per ton bijih
d. Biaya peleburan, pemurnian, pengangkutan
(SRF) per unit produk akhir komoditas
e. Perolehan (recovery) dari proses pengolahan,
peleburan dan pemurnian
f. Sudut lereng
g. Lebar Pit Bottom minimum
TAHAP-TAHAP METODE KERUCUT MENGAMBANG
a. Buat blok ekonomik (Blok bijih positif, Blok waste
negatif). Nilai uang ini mewakili keuntungan
bersih dari blok penambangan bersangkutan
b. Lakukan analisis terhadap Blok-blok dalam
model, dari atas ke bawah. Dasar kerucut terbalik
diletakkan di pusat blok-blok bijih (nilai positif)
c. Jumlahkan nilai uang dari blok-blok yang ada di
dalam kerucut terbalik. Jika hasilnya positif
semua blok ditambang dan tidak diperhitungkan
lagi pada analisis berikutnya
d. Kerucut terbalik digerakkan dari atas ke bawah,
sampai semua material habis ditambang
e. Dinding lereng kerucut sama dengan sudut
lereng yang ditetapkan
f. Lebar minimum pit bottom adalah 3 blok (Pit
bottom terdiri dari 9 blok)
g. Jika pusat blok berada di dalam kerucut, maka
seluruh blok tersebut dianggap masuk dalam
kerucut
h. Jika semua kerucut terbalik digabungkan, maka
akan membentuk sebuah geometri pit.

Berikut ini adalah cara mengoptimasi pit limit


dengan cara Floating Cone 3-D, dengan data nilai
ekonomik dari setiap model blok.
Nilai ekonomik Model Blok untuk Floating Cone

Keadaan setelah membuat Floating Cone 2 baris


Keadaan setelah membuat Floating Cone 3 baris

Keadaan setelah membuat Floating Cone 4 baris


Keadaan setelah membuat Floating Cone 5 baris

Keadaan setelah membuat Floating Cone 6 baris


CONTOH SOAL
Dengan menggunakan pendekatan kerucut
mengambang (floating cone), hitunglah keuntungan
bersih yang akan diperoleh dari penampang
tambang terbuka di bawah ini. Tunjukkan pula blok-
blok yang akan ditambang dan yang tidak
ditambang

1 2 45ᴼ Sudut lereng


3
Nilai Blok-1 = Rp 80 juta
Nilai Blok-2 = Rp 100 juta
Nilai Blok-3 = Rp 20 juta
Ongkos penggalian/penambangan = Rp 10 juta/blok
Catatan : Nilai Blok adalah gross income dikurangi
biaya pengolahan dan biaya tak langsung, tetapi
tidak termasuk biaya penambangan

JAWABAN :

Blok yang ditambang 1 2 45ᴼ Sudut lereng


3
Blok yang tidak ditambang
Net Profit = Nilai Blok-1 + Nilai Blok-2 –
Biaya penggalian/penambangan
= 80 juta + 100 juta – (12 x 10 juta)
= 180 juta – 120 juta
= 60 juta

Blok yang ditambang 1 2 45ᴼ Sudut lereng


3
Blok yang tidak ditambang
BAB VI PENJADWALAN PRODUKSI
1. Penjadwalan produksi tambang menyatakan,
periode waktu (tahun), ton bijih, kadar dan total
pemindahan material
2. Sasarannya menghasilkan suatu jadwal untuk
mencapai kriteria ekonomik seperti memaksimum
kan NPV atau ROR
3. Jadwal produksi untuk menentukan kebutuhan
peralatan
4. Selama proses penjadwalan, sering dilakukan
evaluasi beberapa alternatif
5. Data masukan dasar adalah tabulasi ton bijih dan
kadar per jenjang dari material yang akan
ditambang
CONTOH :
Penjadwalan produksi suatu penambangan bijih yang
dapat memberikan nilai NPV optimum.
Berdasarkan hasil interpretasi geologi dan
perencanaan tambang, diperoleh gambaran blok
penambangan bijih sebagai berikut.

W W W W W W W W W W
O O O O O O O O O O

Keterangan

W Waste

O Ore
Berdasarkan data hasil kajian kelayakan diperoleh
data bahwa :
1. Net Value tiap Blok Ore adalah US$ 2.0
2. Biaya untuk menambang waste tiap blok = US$1.0
3. Laju produksi per tahun adalah 5 Blok
4. Interest Rate diasumsikan 10% (Present Value
Factor = 1/(1+i)ᴺ )
Berdasarkan hasil perencanaan diperoleh 3 skenario
penjadwalan produksi sebagai berikut.
1. Pengupasan 5 blok waste diikuti penambangan 5
blok ore
2. Pre-stripping selama 1 thn kemudian dilanjutkan
oleh penambangan 3 blok ore/thn dan pengupasan
2 blok waste/thn
3. Pengupasan waste diupayakan lebih dulu 1 blok
dibandingkan dengan penambangan ore
Tugas kita adalah menentukan skenario penjadwalan
produksi yang mana diantara ketiga skenario di atas
yang akan diterapkan, dengan langkah-langkah
sebagai berikut.
1. Menggambarkan kemajuan penambangan blok
tiap skenario tiap tahun
2. Menghitung besarnya Net Present Value untuk tiap
skenario
3. Berdasarkan nilai Net Present Value tentukan
skenario penambangan yang akan diterapkan
SKENARIO - 1
W W W W W W W W W W Year 0
O O O O O O O O O O

W W W W W Year 1
O O O O O O O O O O V1 = -$5

Year 2
O O O O O O O O O O V2 = -$5

Year 3
O O O O O V3 = $10

Year 4
V4 = - $10

-$5 -$5 $10 $10


NPV = + + +
1 2 3
(1.10) (1.10) (1.10) (1.10)4

= -$4.55 - $4.13 + $7.51 + $6.83 = $5.66


SKENARIO - 2

-$5 $4 $4 $7
NPV = + + +
1 2 3
(1.10) (1.10) (1.10) (1.10)4

= -$4.54 + $3.31 + $3.01 + $4.78 = $6.56


SKENARIO - 3
W W W W W W W Year 1
O O O O O O O O V1 = $ 1,00

W W W W D/2 Year 2
O O O O O D/2 V2 = $ 2,00

W W Year 3
O O O V3 = $ 2,5

Year 4
V4 = $ 4

$1 $2.50 $2.50 $4
NPV = + + +
1 2 3
(1.10) (1.10) (1.10) (1.10)4

= $0.91 + $2.07 + $1.88 + $2.73 = $7.59


BAB VII PERANCANGAN PIT DAN
PUSHBACK
PARAMETER PERANCANGAN PIT

A. SUDUT LERENG
1. Geometri Jenjang : tinggi, sudut lereng dan
lebar jenjang (catch bench)
a) Tinggi Jenjang : alat muat harus mampu
mencapai bagian atas jenjang (crest)
b) Sudut lereng jenjang : alat gali mekanis di
permukaan jenjang, umumnya menghasilkan
sudut lereng antara 60-65ᴼ
c) Lebar jenjang : ditentukan berdasarkan
pertimbangan keamanan
2. Sudut lereng antara jalan (Inter-ramp) dan sudut
lereng keseluruhan (overall slope)
a) Sudut lereng antara jalan (Inter-ramp slope
angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa
jenjang diantara 2 jalan angkut
b) Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle)
adalah sudut sebenarnya dari dinding pit
keseluruhan, dengan memperhitungkan jalan
angkut, jenjang penangkap dan semua profil lain
yang ada di dinding pit (pit wall)
3. Penggambaran lereng pada peta tambang
dengan metode garis tengah (center-line
drawings)
a) Garis tinggi toe dan crest (garis penuh dan
garis putus-putus atau tebal dan tipis)
b) Garis tinggi titik tengah antara toe dan crest
B. JALAN ANGKUT

1. Letak jalan ke luar tambang


a) Akses yang baik ke lokasi pembuangan tanah
penutup (waste dump) dan peremuk bijih
(crusher)
b) Topografi relatip datar (tidak curam)

2. Lebar jalan
a) Tergantung lebar alat angkut (biasanya 4x lebar
truk), memungkinkan lalu lintas 2 arah, truk
menyusul, selokan penyaliran dan tanggul
pengaman.
b) Untuk truk tambang paling besar (240 ton), lebar
jalan antara 30-35m
3. Kemiringan jalan
1. Jalan angkut tambang dirancang 8-10%
(tambang besar 8% dan tambang kecil 10%)
2. Jalan angkut yang panjang, kemiringan
maksimum 10%

4. Rancangan Spiral dan Switchback


a) Switchback sebisa mungkin dihindari sebab :
- melambatkan lalulintas
- biaya perawatan ban lebih besar (cepat aus)
- keamanan
b) Jika ada sisi tambang yang jauh lebih rendah
dibanding dinding lainnya di sekeliling pit, maka
switchback di sisi ini lebih murah dari pada
membuat jalan angkut mengelilingi dinding pit
TAHAPAN TAMBANG (MINING PHASES / PUSHBACK

1. DEFINISI, FILOSOFIS DAN METODOLOGI

a) Pushback (phases / slices / stages) adalah bentuk-


bentuk penambangan (mineable geometries) yang
menunjukkan bagaimana suatu pit akan ditambang,
dari titik masuk awal hingga ke bentuk akhir pit.
b) Tujuan pushback adalah untuk membagi seluruh
volume yang ada di dalam pit ke dalam unit-unit
perncanaan yang lebih kecil, sehingga lebih
mudah ditangani.
c) Elemen waktu mulai diperhitungkan dalam
rangcangan pushback.
d) Pushback dirancang mengikuti urutan
penambangan dengan algoritma floating
cone untuk berbagai skenario harga
komoditas
e) Tahapan-tahapan penambangan yang
dirancang secara baik, akan memberikan
akses ke semua daerah kerja, dan
menyediakan ruang kerja yang cukup untuk
operasi peralatan yang efisien.
2. KRITERIA PERANCANGAN PUSHBACK
a) Perancangan Pushback harus cukup lebar agar
peralatan tambang dapat bekerja dengan baik
b) Paling tidak ada satu jalan angkut untuk setiap
Pushback

3. PENAMPILAN PERANCANGAN PUSHBACK


a) Peta memperlihatkan bentuk pit pada akhir tiap
phase
b) Peta menunjukan batas seluruh pushback
c) Penampang vertikal (cross-section) meunjukkan
geometri seluruh pushback
BAB VIII WASTE DUMP DAN
STOCKPILE
8.1 DEFINISI DAN KONSEPSI
1. WASTE DUMP
adalah suatu daerah operasi tambang terbuka,
yang digunakan sebagai tempat untuk membuang
material kadar rendah atau material bukan bijih
yang harus digali dari pit, untuk memperoleh bijih
kadar tinggi

2. STOCKPILE
adalah suatu daerah operasi tambang terbuka,
yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan
material yang akan digunakan pada waktu yang
akan datang, yaitu :
a) Bijih kadar rendah yang bisa diproses nanti
b) Tanah penutup atau tanah pucuk yang bisa
digunakan untuk reklamasi
Rancangan Waste Dump dan Stockpile
3. RANCANGAN WASTE DUMP SANGAT PENTING
UNTUK PERHITUNGAN EKONOMI
Lokasi dan bentuk Waste Dump dan Stockpile
berpengaruh terhadap jumlah truk dalam satu
armada, jumlah gilir dan biaya operasi

4. LUAS WASTE DUMP = 2 – 3 X LUAS PIT


a) Material in-situ berkembang sebesar 130-145%
menjadi material lepas (loose material)
b) Sudut kemiringan suatu Dump lebih landai dari
pada sudut lereng akhir tambang (final pit slope)
c) Tinggi timbunan material lepas lebih rendah dari
kedalaman pit
RENCANA DAN URUTAN PENAMBANGAN
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-1
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-2
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-3
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-4
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-5
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-8
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-12
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-20
PETA KEMAJUAN TAMBANG
TAHUN KE-30
8.2 JENIS WASTE DUMP DAN STOCKPILE

1. VALLEY FILL /
CREST DUMP
a) Dapat diterapkan pada daerah topografi curam.
Dumps dibangun pada lereng
b) Elevasi puncak (dump crest) ditetapkan pada awal
pembuatan dump. Truk membawa muatannya pada
elevasi ini, dan membuang ke lembah di bawahnya
c) Dump dibangun pada angle of repose
2. TERRACED DUMP
a) Dapat diterapkan pada daerah topografi yang tidak
terlalu curam
b) Dump dibangun dari bawah ke atas (lift), setiap lift
tingginya antara 15-40m
c) Dump dibangun pada angle of repose
d) Lift-lift berikutnya terletak lebih ke belakang,
sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope)
aman dan mendekati yang dibutuhkan untuk
reklamasi
8.3 PEMILIHAN LOKASI WASTE DUMP

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi :


a) Lokasi dan ukuran pit sebagai fungsi waktu
b) Topografi
c) Volume waste rock sebagai fungsi waktu dan
sumber
d) Batas KP
e) Jalur penirisan yang ada
f) Persyaratan reklamasi
g) Kondisi pondasi (lapisan dasar)
h) Peralatan penanganan material

2. Pertimbangan lokasi alternatif untuk perbandingan


faktor ekonomik
8.4 PARAMETER RANCANGAN (DESIGN)

1. Angle of Repose
a) Batuan kering run of mine umumnya mempunyai
angle of repose antara 25-35 derajat
b) Sudut ini dipengaruhi oleh tinggi dump, ketidak-
teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping
c) Dapat diukur pada suatu lereng (bongkah-bongkah
alami) yang ada di daerah tersebut

2. Faktor Pengembangan (Swell Factor)


a) Faktor pengembangan batuan keras umumnya
antara 70-80% (1 m3 insitu akan mengembang
menjadi 1,30-1,45 m3 material lepas/loose)
b) Pengukuran bobot isi loose dapat dilakukan
c) Material loose dapat dipadatkan 5-15%
3. Tinggi Lift dan Jarak Set-back
a) Tinggi lift umumnya 15-40m (hanya untuk dump
yang dibangun ke atas (dengan lift))
b) Rancangan jarak set-back sedemikian rupa,
sehingga sudut kemiringan keseluruhan rata-rata
(average overall slope) adalah 2H:1V (27 derajat)
atau 2,5H:1V (22 derajat) untuk memudahkan
reklamasi

4. Jarak dari Pit Limit


a) Jarak minimum antara pit limit dan kaki dump
(dump toe) sama atau lebih besar kedalaman pit.
b) Kestabilan lereng pit akibat dump harus
diperhitungkan
5. Rekomendasi tanjakan ke arah dump crest untuk
penirisan dan keamanan
a) Limpasan air hujan menjauhi crest
b) Truk harus menggunakan tenaga mesin untuk
menuju ke crest, dan bukan meluncur bebas
c) Mengurangi resiko alat/kendaraan yang diparkir,
meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest)
8.5 PERHITUNGAN VOLUME

1. Penampang Horisontal
a) Ukur luas daerah pada kaki (toe) dan puncak (crest)
dari setiap lift. Rata-ratanya adalah luas lift
b) Tentukan tinggi lift = elevasi crest – elevasi toe
c) Hitung volume lift = luas lift x tinggi lift
d) Volume total dump = volume total seluruh lift

4. Penampang Vertikal
a) Buat beberapa penampang melintang melalui dump
dengan jarak yang sama.
b) Hitung luas setiap penampang
c) Hitung volume antar penampang = luas rata-rata
penampang x jarak
d) Volume total dump = volume total antar penampang
8.6 REKLAMASI

1. Untuk memenuhi syarat lingkungan pada umumnya


dump akan dirancang dengan kemiringan 2H:1V (27
derajat) atau 2,5H:1V (22 derajat)
a) Stabilitas jangka panjang
b) Memudahkan penanaman kembali (revegetasi)

2. Harus ditimbun dengan top soil atau overburden

3. Harus memelihara saluran air dan kolam


pengendapan sedimen

4. Memantau air dari dump (masalah air asam


tambang)
8.7 ASPEK LAIN

1. Penempatan track-dozer pada waste dump yg aktif


a) Menjaga dump tetap bersih dan memelihara
kemiringan
b) Truk menimbun dekat crest, Dozer mendorong ke
crest
c) Membebaskan truk dan peralatan lain yang
terperangkap

2. Dump yang besar memerlukan rekayasa geoteknik


a) Analisis kestabilan lapisan dasar (pondasi)
b) Geometri waste dump (tinggi dan kemiringan)
c) Pengaruh air terhadap stabilitas waste dump
d) Masalah gempa bumi pada daerah seismic aktif
8.7 ASPEK LAIN

3. Penimbunan kembali ke daerah yang sudah habis


ditambang
a) Jarak angkut lebih pendek
b) Mengurangi dampak perubahan morfologi akibat
aktivitas penambangan

4. Menjadwalkan penimbunan material pada waste


dump sesuai dengan penjadwalan produksi
CONTOH PERHITUNGAN
EFISIENSI KERJA (E)
Dari pengoperasian sebuah power shovel dalam
sebulan dapat dicatat data sebagai berikut :

>Jumlah jam kerja (working hours) =W = 300


>Jumlah jam untuk perbaikan (repair hours) = R = 100
>Jumlah jam siap tunggu (hours on standby) = S = 200
>Jumlah jam yang dijadwalkan (schedule
hours or Total hours) =T = 600

Maka :
Efisiensi Kerja = E= W/(W+R+S) = W/T = 300/600 = 50%
CONTOH PERHITUNGAN
CASH FLOW UNTUK TAMBANG BIJIH

Suatu konsultan tambang diminta untuk mengkaji kelayakan


suatu endapan porfiri gold-copper. Berdasarkan hasil studi
kelayakan awal (pre-feasibility study) telah diperoleh data
sebagai berikut :
A. Data produksi
Dengan mempertimbangkan tingkat produksi dan
topografi daerah penambangan maka diputuskan untuk
melakukan penambangan secara tambang terbuka,
dengan data-data :
- ore : 3500 Kton/tahun
- gold grade : 0.0207 oz/ton
- copper grade : 0.6 %
- perbandingan waste to ore : 5.5 (tahun 1-3);
4.0 (tahun 4); dan 3.0 (tahun 5)
- umur tambang : 5 tahun
Catatan: Pada tahun ke-0 hanya memproduksi waste
sebesar 15.000 Ktons
B. Data Pengolahan
Dengan mempertimbangkan karakteristik mineral yang ada
maka diputuskan bahwa metoda pengolahan yang
digunakan adalah dengan metoda flotasi, dengan data :
- mill recovery of gold : 80%
- mill recovery of copper : 92%
C. Data Ekonomi
Dengan mempertimbangkan supply-demand pasar logam,
teknologi penambangan dan pengolahan serta kondisi
makro ekonomi maka data-data dasar yang digunakan
untuk analisis ekonomi adalah :
- Mining cost : US$ 0.55 per tonne
- Milling cost : US$ 1.8 per tonne
- General & Administration cost : US$ 0.5 per tonne
- Copper price : US$ 1.0 per pound
- Gold price : US$ 400 per troy ounce
- Smelter recovery of copper : 96%
- Smelter recovery of gold : 98%
- SRF per pound payable copper : US$ 0.345
- Plant and infrastructure capital : US$ 20.000.000
- Akusisi lahan : US$ 10.000.000
- Discount rate: 15%
- Present value factor : 1/(1+i)n
- Pajak perusahaan : 20%
- Royalti : 2% dari revenue
Tugas kita sebagai mining engineer yang bekerja pada
konsultan tersebut adalah menghitung kelayakan
penambangan dengan menyusun langkah perhitungan
sebagai berikut :
1. Menghitung (untuk tahun 1) :
a. Break Even Cut off Grade for Copper
b. Internal Cut off Grade for Copper
c. Copper Equivalent
2. Menghitung Net Present Value (NPV) selama umur
tambang setelah pajak.

Berdasarkan hasil perhitungan yang kita lakukan tentukan


apakah skenario penambangan yang telah disusun layak
untuk diterapkan atau tidak ?
Catatan : 1 ton = 2000 pound ; 1 ounce = 0.9114 troy
ounce
DATA EKONOMIK AWAL UNTUK ENDAPAN BIJIH (DALAM US$)

Mining cost per tonne Total US$ 0.55


material
Milling cost per tonne Ore US$ 1.8
General & Administration cost per US$ 0.5
tonne ore
Mill recovery of gold 80%
Mill recovery of copper 92%
SRF per pound payable copper US$ 0.345
Smelter Recovery of copper 96%
Smelter Recovery of gold 98%
Copper price per pound US$ 1.0
Gold price per troy ounce (per US$ 400
gram) ($12.86)
Breakeven Cut off Grade for copper ?
Internal Cut off Grade for Copper ?
Copper Equivalent ?
JAWABAN :

1.a. BECOG =

1.b. ICOG =

1.c. Copper Equivalent =

DATA PENGOLAHAN BIJIH


Copper Gold
Price $ 1.00/lb $ 12.86/gr
Mill Rec 98% 80%
Smelter Rec 96% 98%
SRF $0.345 -
1). Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan
kadar 1 % Cu.
($1.00/lb - $0.345/lb) x (1%) x 0.92 x 0.96 x 20 lb/% = $ 11.57

2). Hitung nilai NSR (Net Smelter Return) dari 1 ton bijih dengan
kadar 1 gr/ton Au.
($ 12.86/gr) x 1 gr x (0.80) x (0.98) = $ 10.08
Faktor ekivalen = $ 10.08 / $ 11.57 = 0,871

3). Copper Equivalent = total CU + 0,871 x AU


Discount rate : 15%
Gold price : 400 US$/tr oz
Copper price : 1 US$/lb
Process Rec of Gold : 80%
Process Rec of Copper : 92%
Present Value Factors at 15 % interest

Year 0 1 2 3 4 5

Factor 1.000 0.870 0.756 0.658 0.572 0.497

Year 0 1 2 3 4 5

Waste : 5.5 5.5 5.5 4 3


ore
CONTOH PETA TOPOGRAFI
CONTOH PETA TOPOGRAFI
CONTOH PETA TOPOGRAFI
CONTOH PETA TOPOGRAFI
CONTOH PETA TOPOGRAFI